Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 Januari 2015

Terimakasih Pak BW

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk membaca broadcash yang dikirim teman kerja di grup WA Sabtu, 24 Januari 2015 bersamaan dengan menunggu rapat dibuka. Karena dari apa yang dikirim teman itu adalah sebuah butiran hikmah yang terhampar dan nyangkut dalam alat komunikasi saya. Dan dengan itulah maka saya berkesempatan untuk menyelesaikan bacaan sebelum rapat benar-benar dimulai.

Hamparan hikmah kehidupan yang selesai saya baca itu tidak lain adalah tentang apa yang dialami oleh Pak BW sepanjang hari Jumat, 23 Januari 2015, sejak pagi hari hingga dini hari di hari Sabtu, 24 Januari 2015. Namun bukan sisi hukum yang sungguh berhasil menghentak kesadaran saya sebagai warga negara, tetapi pada sisi saya sebagai muslim yang berprofesi sebagai guru.

Ucapan terimakasih saya ini karena dengan adanya kasus Pak BW itu, justru membentangkan butiran pelajaran hidup bagi saya. Tidak saja tentang sosok Pak BW yang kemudian mejadi bahan kajian dan laporan media sehingga itu menjadi sampai kepada saya. Tetapi juga sisi atau materi berita lainnya yang terkait dengan apa yang sedang dialami oleh Pak BW. Dari sana saya belajar tentang bagaimana suksesnya seorang anak muda. Bagaimana sebuah kasus hukum dapat berlarut-larut dan atau beranak pinak, yang membuat saya yang berlatar belakang guru dapat banyak belajar.

Namun pelajaran utama dari peristiwa tersebut tidak lain adalah pelajaran dan hikmah dari sosok seorang ayah yang kebetulan sebagai pejabat negara. 

Pertama, tetap sempat mengantar anak-anaknya untuk berangkat sekolah dan kuliah sebelum ke kantor di pagi hari,  meski Pak BW bukan orang biasa. Ini kebiasaan yang tidak banyak dilakukan oleh seorang ayah yang sudah berada di posisi jabatan tinggi di negeri ini. Ini adalah bentuk komitmen kuat dari seorang ayah, seorang bapak, pada sebuah visinya dalam membangun sebuah keluarga.

Dan ini membanggakan. Karena saya di sekolah masih sering menemukan fakta akan sulitnya mengundang seorang ayah yang 'sibuk' untuk hadir ke sekolah guna mendiskusikan anandanya yang membutuhkan bantuan.

Kedua, saya belajar bagaimana mempersiapkan diri dan seluruh anggota keluarganya secara fisik dan mental  sebagai akibat dari posisi dan profesinya. Ini karena media mengabarkan kepada kami semua bagaimana ungkapan rasa dari Istri dan anaknya manakala Pak BW masih berada di kantor Polisi. Tidak ada raut muka akan kekhawatiran dan melankolis. Bahkan dalam siaran tersebut, kami mengetahui akan adanya kosa kata; "Kereeeeen Umi.".

Ketiga,  saya belajar bagaimana Pak BW begitu mencintai keluarganya. Sebagaimana media menyuguhkan gambar di ruang tamu saya setibanya Pak BW di rumah pada Sabtu, 24 Januari 2015. Beliau sampai di rumah dengan sambutan istri dan anak-anaknya. Sebuah perwujudan akan kehangatan keluarga sebagai tim, kasih sayang, dan kehangatan akan sebuah ikatan yang bernama keluarga. Sungguh menggugah hati.

Maka tidak ada kata yang layak saya sampaikan dalam catatan ini selain berterimakasih kepada Pak BW. Dan ini karena Pak BW harus 'diajak' Pak Polisi untuk pemberkasan di hari Jumat, 23 Januari 2015 itu. Terimakasih Pak BW. Semoga Allah melimpahkan istiqomah dan keberkahan kepada Pak BW dan keluarga. Amin.

Jakarta, 24 Januari 2015.

Tidak ada komentar: