Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Januari 2015

Kantin Sekolah #2; Tentang Pola Makan

Bagaimana saya harus mengatakan berulang kali berkenaan dengan pola makan kepada anak-anak peserta didik kami di sekolah. Tetapi nampak sekali bahwa ini belum berimplikasi baik. Bahkan tidak hanya saya sendirian yang memprovokasi cara menentukan apa yang harus kita santap ketika berada di luar rumah, termasuk ketika berada di sekolah. Seperti beberapa guru yang dengan penuh konsen mengulang-ulang. Namun tidak mengapa, karena memang pada usia yang masih remaja, diusia masih duduk di bangku kelas empat hingga kelas sembilan, nafsu untuk melahap hidangan makanan, sebagian besar dari mereka, sedang tumbuh di atas rata-rata.

Seperti misalnya juga saya sampaikan kepada petugas kantin untuk membuat tambahan makanan yang merupakan diluar paket yang telah mereka tawarkan, berupa sayuran, tetap tidak ada yang ingin menyentuhnya. Alhasil, saya mendapat bagian yang super ketika berada di kantin. Justru nasi yang benar-benar minimalis.

Tanpa Sayur dan Porsi Karbohidrat

Apa yang saya catat dalam catatan ini tidak lain adalah prosentasi anak-anak didik kami yang selalu ada lebih kurang empat atau lima anak di setiap kelas yang dapat kami kategorikan sebagai 'kelebihan berat badan'. Hal ini menjadi kekawatiran mengingat kelebihan unsur-unsur dari asupan makanan yang mereka konsumsi tersebut menjadi tugas salah satu dari bagian tubuhnya untuk ditimbun dalam bentuk lemak. Dan jika tugas ini telah menjadi beban bagi bagian tubuh tersebut sejak anak duduk di bangku kelas empat SD?

Kenyataan ini akan diperparah bila kedua orangtua dari anak tersebut tidak teredukasi dengan baik sehingga berkomitmen menjaga asupan yang sesuai dengan kebutuhan dari tubuh dan aktivitas hidupnya. Itulah yang menjadi perhatian utama kami di sekolah. 

Lalu apa usaha kami yang lain? Tidak akan berhenti untuk menyampaikan kepada mereka agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi kandungan makanan yang pada akhirnya menjadi timbunan di dalam badannya. Termasuk di dalamnya kandungan zat yang tidak terlalu tubuh butuhkan di dalam minuman yang sekarang ini menjamur dan mudah didapat di lngkungan anak.

Itulah mengapa agar anak-anak di sekolah tidak melahap makanan berat seperti makanan yang banyak mengandung karbohidrat pada istirahat pertama dan juga di istirahat kedua di kantin sekolah. Juga agar ayam bakar atau goreng dengan sambal yang mereka konsumsi sedikit ditambah sayur. Memang tidak suka karena tidak biasa sejak mereka kecil, tetapi edukasi tentang ini kami tidak akan merasa lelah dan bosan. Semoga.

Jakarta, 19 Januari 2015.

Tidak ada komentar: