Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Februari 2014

Menjadi Petani?

Apa yang patut dibanggakan di negeri agraris ini untuk menjadi atau memilih profesi petani? Atau jangan-jangan memang tidak ada profesi yang bernama petani? Setidaknya inilah yang pernah diungkap oleh Mas Slamet, ketua komunitas petani organik Brenjonk, Trawas, Mojokerto, pertengahan November 2013 lalu.

Seperti lelucon bila seorang dari generasi muda, meski ia berasal dari daerah pedesaan untuk mencita-citakan masa depannya sebagai petani dan bukan pegawai. Apalagi jika mereka adalah generasi yang menuntut ilmu di kota-kota atau bahkan di metropolitan, Dan dengan itu kemudian ia mendapatkan gelar kesarjanaan di bidang yang wah dari perguruan tinggi negeri wah pula? Pasti tidak menjadi hal yang patut dibanggakan. Karena itu adalah mimpi yang tidak patut diangankan.

Bahkan seorang petani pun tidak mengangan-angankan anak keturunannya menjadi seorang petani guna mengolah lahan yang dimilikinya atau meneruskan perjuangannya. Pun juga kelakar anggota dewan yang tenar lewat istilahnya yang cerdas; "ngeri-ngeri sedap.", beberapa waktu itu saat dirinya santer disebut-sebut menjadi bagian dari masalah yang sedang di tangani KPK. Dimana si anggota dewan berkalakar kalau hidup aman-aman saja, tanpa menanggung resiko, maka jadilah petani!

Namun dalam catatan saya ini, saya justru akan uraikan keinginan saya untuk menjadi seorang petani. Ya, menjadi seorang petani. Tentunya kondisi yang sekarang ini saya miliki. Dimana lahan dan waktu yang saya miliki terbatas. Juga dengan lokasi yang kurang mendukung. Namun mimpi itulah yang begitu kuat mengakar pada diri saya menjelang hari-hari belakangan ini.

Tidak Keren

Padi dalam pot percobaan. Saya butuh 40 pot jika hasil padinya untuk konsumsi sendiri.
Itulah paradogsal yang benar-benar menjadi sebuah realita yang ironi di sebuah wilayah negara agraris tersebut. Menjadi petani sebagai cita-cita adalah sebuah keganjilan. Keanehan atau bahkan membingungkan. Apalagi jika itu  lahir sebagai tekad dari anak muda.

Dan karena itu pulalah yang justru menguatkan niat saya untuk benar-benar menjadi petani. Sebuah mimpi yang masih dalam tataran konsep. Namun harus tetap saya perjuangkan. Setidaknya sebagai bagian usaha untuk memberikan keyakinan kepada siapapun yang berada di lingkungan terdekat saya.

Ini penting, karena ketika saya deklarasikan mimpi tersebut, maka lingkungan terdekat saya langsung berpikir tentang pendapatan bulanan. Dan ini memang menjadi masalah. Oleh karena itulah untuk tahap awal saya akan memilih jalur menjadi petani secara part timer.

Petani di wilayah Malang yang adalah seorang pensiunan. Menyewa lahan di perumahan untuk bertanam sayuran. 
Ini, sekali lagi, bukan olok-olok saya. Tahap pertama sebagai goal-nya adalah kemandirian sayuran untuk keluarga. Dan ini akan menjadi pijakan pertama dalam rangka swasembada pangan bagi keluarga kami. Beras, kangkung, bayam, cabe, bawang,  terong, kacang-kacangan, atau sayuran yang dapat tumbuh di atap rumah.

Lalu bagaimana langkah berikut yang saya lakukan? Saya masih menunggu benih-benih percobaan saya itu tumbuh dan memberikan harapan. 

Jakarta, 24 Februari 2014.

Tidak ada komentar: