Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 Februari 2014

Memelihara Akal

Menonton tayangan tv tentang seorang pasien RS yang dibuang di daerah Lampung pada Selasa, 11 Februari 2014 mlam kemarin, saya dihadapkan lagi kepada fenomena untuk memelihara akal saya dalam menjalani kerja penalaran. Ini menjadi penting saya jadikan catatan, mengingat kenyataan bahwa kejadian ini memang benar-benar mengganggu kestabilan bernalar bagi akal semua manusia.

Seperti dalam tayangan itu, bagaimana kasus yang hanya ada di Indonesia itu dilakukan oleh sebuah RS yang konon pernah mendapatkan prestasi di tahun sebelumnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh pemandu acaranya, Pak Karni Ilyas; "Kalau rumah sakit yang terbaik saja membuang pasien , bagaimana dengan rumah sakit terburuk?"

Penuh Resiko

Apa yang dilakukan oleh RS tersebut adalah sebuah tindakan yang amat sangat serampangan. Mereka barangkali berfikir ketidakterlacakan apa yang dilakukan.Tetapi benarkah asumsi itu? Nalar saya berkata tidak. Karena semua apa yang sudah terjadi, selalu meninggalkan jejak.

Apakah tindakan itu dilakukan untuk mengurangi kerepotan, yang mungkin saja menjadi pembengkakan biaya? Akal yang normal tentu akan memilih cara-cara normal untuk mengurangi pengeluaran anggaran yang lebih banyak. Efisiensi tidak mungkin dapat dilakukan dengan cara-cara yang tidak normatif.

Maka dengan alasan yang saya sampaikan di atas, saatnya sekarang ini menjadikannya sebagai bahan bagi saya untuk menghindarkan diri kepada hal-hal yang dapat merusak akal saya sebagai media fikir yang normatif. Itulah yang saya anggap sebagai momentum bagi pemeliharaan akal.

Jakarta, 12.02.2014

Tidak ada komentar: