Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Juni 2013

"Saya Bisa Perkarakan"

Tidak sempurna. Itulah barangkali yang membuat kami selalu memiliki sisi yang salah dan keliru. Meski dalam sebuah kegiatan yang seharusnya memang dibuat untu memberikan kebahagiaan bagi semua. Namun demikian, itulah kenyataannya. Ketidak sempurnaan itu juga menjadi tampak manakala sebuah fakta hanya dilihat sebagai fakta yang berdiri sendiri tanpa harus melihat kronologi dan argumentasi yang melatarbelakanginya.

Tikungan, seperti proses merespon fakta. Tidak hanya lurus, tetapi juga harus ada analisa, refleksi, pengendapan.
Seperti kalau dalam sebuah drama, maka apakah kita hanya melihat bahwa seorang aktor itu menjadi begitu negatif, hanya karena kita semua melihatnya dalam sebuah daftar pelaku? Tentunya ketika kita menerima buku oanduang sebelum masuk gedung pertunjukkan dan kemudian dengan serta merta menjatuhkan penilaian akhir padahal dramapun belum berjalan dan belum kita saksikan apalagi jalan cerita yang runutnya? Bukankah kita masih berada di luar gedung pertunujakkan?

Inilah barangkali yang menjadi catatan saya pada hari ini berkenaan dengan banyaknya manusia Indonesia yang berbicara dan berwacana pada tataran dan ranah hukum tanpa mengendapkan terlebih dahulu  persepsinya tentang sebuah kesan yang belum tentu menjadikannya pada posisi yang ada di kepalanya.

Ironi bukan? 

Karena ironinya itulah maka saya perlu belajar atas apa yang terjadi di sebuah kejadian dari seorang kawan yang begitu mudah keluar kalimat dari kepalanya; "Saya bisa perkarakan!". Pelajaran ini harus menjadi jati diri agar orang menilai bobot tidak hanya pada kalimat pertama apa yang keluar dari pikiran kita!

Semoga.

Jakarta, 17 Juni 2013.

Tidak ada komentar: