Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Juni 2013

Mengalah Saja

Mengalah. Itulah pilihan yang diambil teman ketika harus menerima kalimat tidak baik, dan tentunya tidak enak untuk dicerna dalam benak dan pikiran, ketika berlangsung diskusi di  dalam sebuah forum rapat. Kalimat yang tersusunnya tetap dengan kata-kata yang santun. Namun pada makna tersiratnya benar-benar menohok, memerosokkan, bahkan sekaligus menghunjam, merendahkan, atau bisa jadi menyelekan. 

Kalimat yang sengaja disusun untuk mengandung dan memiliki sayap merendahkan. Oleh karenanya tidak salah bila saya yang ikut serta mendengarnya kalimat itu, memang memberikan tekanan pada kerarki kepandaian, herarki sosial,  yang ingin dilahirkan pada anggota dan peserta rapat. Memberi kesan bahwa teman yang menjadi sasaran atas alimat itu untuk tidak menjadi pemenang. Sebuah isyarat, yang saya sebagai bagian dari perseteruan horisontal itupun turut merasakan. Amboi, cerdik nian!

Itulah kesan dari apa yang saya dengar langsung. Namun demikian, saya sebagai salah satu peserta rapat, melihat kecepatan penyampaian kalimat yang bertendensi itu justru melihatnya terbalik. 

Bahwa sesungguhnya ketika beliau mengatakan kalimat yang bermaksud untuk merendahkan kawan yang ada di dalam forum rapat tersebut, justru berbalik kepada dirinya sendiri. Artinya, kalimat-kalimat itu bukan membuat forum menjadi mahfum bahwa korban adalah lebih rendah, dalam hal immaterial, dari si pelontar kalimat, tetapi justru sebaliknya. Ini kesan ini, anehnya, menjadi kesepakatan para peserta rapat tanpa harus perlu membulatkan kesepakatan. Kesepakatan bawah sadar!

Entah dari mana untuk memberikan alasan atau argumentasi atas apa yang saya tangkap dari kalimatnya. Namun itulah aaura yang saya tangkap. Apalagi  sahabat saya yang menjadi sasaran dari kalimat yang merendahkan itu, justru tidak memberikan reaksi apapun.

Ia hanya terdiam ketika penjelsannya tentang sesuatu yang berkenaan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah nanti, langsung dipotong dengan kalimat santun tapi pedas tadi. Kalimat yang menohok itu. Sungguh sebuah atraksi dialog yang menakjubkan akal dan prrilaku.

Itulah sebuah fragmen intelektual, yang menurut saya benar-benar berhasil memberikan gambaran riil tentang suatu ranah intelektualisme yang bermartabat. Bahwa kalimat merendahkan itu keluar dari sosok yang sangat mahir dalam memperbincangkan suatu hal, atau dari seorang yang berhasil memperoleh sertifikat pasca sarjana dari sebuah universitas ternama, namun dengan sekonyong-konyong, seketika habis sekaligus ludes hanya karena satu kalimatnya yang bertujuan untuk merendahkan orang. Itulah realitas yang saya tangkap.

Itu pulalah barangkali yang sungguh telah dirumuskan oleh pepatah Jawa yang berbunyi; Ajining diri ono ing lathi. Bahwa harga dari seseorang, kita, ada pada tutur bahasa. Dari susunan kata dan kalimatnya.

Ini jugalah yang saya catat ketika kepada saya disodori satu draft buku yahg berisi kumpulan 19 cerita pendek anak-anak. Cerita yang berisi tentang perilaku manusia, yang ternyata ditulis dengan begitu lancar dan fasihnya oleh anak didik di sekolah kami...

Jakarta, 14-15 Juni 2013.

Tidak ada komentar: