Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Juni 2013

"Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi"

Kalimat; "Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi",  yang keluar dari beberapa orangtua siswa ketika kami terlibat pembicaraan tentang cara dan kondisi hidup dulu masa mereka menjadi anak-anak, dengan sekarang ketika mereka adalah para orangtua dan siswa kami adalah para anak-anaknya saya dengar. Kalimat yang bermaksud baik sebagai proteksi kepada anaknya. Tetapi sering yang saya lihat di sekolah adalah model anak-anak yang pada akhirnya karena lingkungannya, maka yang terjadi adalah justru berbalik dengan apa yang menjadi tujuan proteksi orangtua.

Itulah etos hidup yag sangat terlihat dari beberapa siswa didik saya di sekolah. Sebuah etos yang sesungguhnya membahayakan masa depan bagi anak-anak itu sendiri. Masa depan yang terlalu teracuni dengan pola hidup mudah, senang, nikmat, tanpa harus memiliki daya juang yang tangguh, ulet, dan pekerja keras.

Mengapa? Karena dengan kondisi semacam itu, anak justru melahirkan karakter untuk berperilaku merasa mudah soal apapun pada diri seorang anak. Anak, dengan kondisi seperti itu pada ujungnya tidak hanya barang dan fasilitas hidup yang dia anggap dan yakini mudah untuk didapatkan.

Seperti misalnya tentang apa yang kami alami ketika kami di sekolah, misalnya beberapa banyak barang-barang anak murid,  yang tertinggal di sekolah, termasuk diantaranya, pernah saya sampaikan dalam catatan saya terdahulu, kaca mata minus merek terkenal. Yang kalau dilihat dari harganya, meski tidak tertera, pastilah tidak murah. Namun kacamata itu terus berada di pos Satpam sekolah tanpa seorang pemilik pun yang mengakuinya. Juga barang lain seperti baju seragam sekolah, kaos olah raga, tempat minum, bahkan hingga kaos kaki. Betul memang semua barang sulit kami menemukan pemiliknya karena semua barang itu tidak diberi nama.

Namun juga merembet pada persoalan yang berkait dengan belajar di sekolah. Anak-anak dengan etos hidup yang terlanjur mudah, senang, nikmat, dan bahkan mewah, maka anak-anak kehilangan semangat untuk berjuang. Meski berjuang untuk memperoleh hasil ulangan sesuai dengan KKM yang ditentukan oleh guru. Komitmen terhadap tugas sekolah yang dituntut guru menjadi ikut rendah.

Akibatnya, dengan bujukan dan dorongan serta supporting guru, maka anak-anak itu akan lolos keluar dari gerbang institusi sekolah. Lulus. Jika itu barada pada posisi di Sekolah Menengah Pertama,  maka perjuangan guru dan lingkungan sekolahnya akan menjadi lebih berat lagi ketika anak-anak itu berada di tingkat pendidikan SMA. Ujungnya?  Dari empiri yag ada adalah home schooling sebagai pilihannya.

Apakah pilihan ini jelek? Tidak juga menurut saya. Namun hal penting sekali yang harus menjadi perhatian kita adalah ketiadaan semangat untuk berjuang dalam mengarungi hidup, adalah sebuah kekalahan besar bagi  anak-anak itu dalam memenangkan masa depannya. tentunya, jika soko guru kehidupannya telah tiada. Bila pencetus etos hidup, penopang kehidupannya telah meninggal menghadap sang penciptanya.

Catatan saya ini bukan merupakan pandangan pesimisme terhadap sebuah cara hidup dan model pendidikan di rumah, tetapi sekedar cara melihat dari sebuah anekdot yang ada di sekolah, yang secara kebetulan saya menghirup udaranya.

Jakarta, 17 Juni 2013.

Tidak ada komentar: