Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 June 2012

Adakah Praktek Kotor?, UN SMP 2012 #5

Kamis, 31 Mei 2012, adalah hari dimana seluruh pemangku sekolah untuk tingkat SMP di Indonesia memperoleh hasil UN SMP tahun 2012. Hasil ini merupakan hasil yang akan dan harus diumumkan oleh sekolah kepada para peserta didiknya yang menjadi peserta UN SMP tahun 2012 pada Sabtu, 02 Juni 2012. Alhamdulillah, bahwa 100% peserta UN di sekolah kami lulus.

Namun sebagaimana yang pernah saya tulis dalam blog ini sebelumnya, http://www.aguslistiyono.blogspot.com/2012/04/hasil-un-dari-contekan-itu-sungguh.html, ada semacam ketidak tulusan kami, para pendidik, ketika melihat lembaran hasil UN yang ada tersebut, meski hasilnya berkualifikasi A dalam UN tahun lalu. Ketidaktulusan ini bukan berarti kami tidak mensyukuri atas semua hasil UN para peserta didik kami, tetapi kami masih menemukan beberapa anak yang memperoleh hasil UN yang janggal. Padahal di awal pelaksanaan UN, kami sudah mewanti-wanti anak-anak untuk pasrah dengan ikhtiar jujur yang telah secara keras mereka perjuangkan dengan tanpa melirik iming-iming untuk memperoleh kunci jawaban. Namun dengan melihat kenyataan bahwa beberapa anak kami masih memperoleh nilai aneh, maka kesyukuran kami menjadi tidak sepenuhnya tulus.

Ikut Campur Siapa?

Dan apa yang terjadi tahun lalu dengan kerja keras serta bertahap kami coba usahakan. Untuk meningkatkan diri siswa akan kemampuannya mengerjakan UN dengan harapan hasil yang maksimal, kami lakukan dengan program intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi kami jalani dengan secara lebih cermat dan fokus kepada SKL UN yang menjadi patokannya. Dari titik ini kami mencoba berusaha dengan prinsip kerja keras dan kerja cerdas. Sedang pada ranah ekstensifikasi, kami lakukan pemadatan dan pengayaan terhadap materi-materi yang menjadi bagian dari SKL UN yang ditentukan Depdikbud.

Sedang untuk peningkatan aspek percaya diri selain dengan kedua program sukses UN tersebut, kami juga membekali anak-anak dengan membangun konsep berpikir positif melalui kajian dan pelatihan, yang kami kemas secara manarik, rileks, dan mencerahkan. Di bagian ini kami juga menagajak seluruh siswa untuk mempertahankan dan memperjuangkan kejujuran dalam mengerjakan LJUN. Meski, bisa jadi, ada oknum yang menawarkannya pertolongan bagi jawaban.

Dan pada aspek ini pula, saya tidak kurang mengajak para orangtua untuk benar-benar mengontrol keuangan anak-anak mereka. Mngontrol dalam bentuk selalu berhati-hati jika anak mereka meminta budget atau dana di luar dana yang dibutuhkan secara normal. Karena takutnya, uang yang diberikannya itu ternyata untuk budget pembelian atau transaksi kunci jawaban UN. Saya mengingatkan pada bagian ini bahwa kalau saja anak telah membelanjakan uang pemberian orangtuanya untuk maksud tersebut, dan ternyata kunci jawaban UN yang dibelinya benar-benar berkintribusi kepada hasil UN, maka mulai dari situlah royalti ketidakjujuran mulai dihitung.

Oleh karenanya, saya dan teman-teman kembali tercengang dengan kemampuan anak yang relatif perlu dorongan di saat pembelajaran sehari-hari tetapi dalam lembaran hasil UN yang kami unduh darih ttp://www.simdik.info/ tersebut justru berada di urutan lima besar atau paling tidak ada di dalam kelompok sepuluh besar perolehan hasil UN. Bahkan ada diantaranya yang memperoleh angka sempurna. Sebuah realita yang kami meragukan kebenarannya. Tetapi hasil itu benar-benar tertera sebagai hasil UN anak kami.
  • Apalagi yang harus kita lakukan untuk membendung kecurigaan kita atas praktek kotor ini? Kata saya kepada teman-teman di ruang guru ketika kami ngeriung membahas hasil UN pada Jumat, 01 Juni 2012 lalu.
  • Yang pasti kita harus bekerja ekstra keras lagi Pak. Jawab seorang teman.
Kami semua diam. Dan saya meninggalkan ruangan itu.  Dalam perjalanan menuju ruangan bersama, saya berpikir tentang bagaimana strategi menyampaikan dan melaporkan hasil UN yang demikian kepada atasan kami? Meski kami yakini, dari pembahasan kami tadi bahwa hanya ada dua atau tiga dari siswa kami yang memperoleh nilai aneh sehingga melahirkan dugaan kami akan adanya praktek kotor diluar sepengathuan kami sebagai pendidik di sekolah?

Jakarta, 02 Juni 2012.

No comments: