Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 September 2009

Penilaian dan Pengembangan Diri


Self assessment atau penilaian diri, menjadi bagian penting dalam rangka pengembangan diri atau pengembangan lembaga sekolah. Termasuk pula dalam proses akreditasi sekolah, penilaian diri adalah prasyarat sebelum visitasi dilakukan oleh asesor.

Namun penilaian diri yang dilakukan diri sendiri seringkali membuat diri kita kurang berkata apa adanya. Tentu tidak sampai pada titik tidak apa adanya. Padahal jika penilaian diri itu berkait dengan pengembangan diri atau pengembangan sekolah berikutnya, maka penilaian diri adalah acuan kemana kita akan bergerak tumbuh.

Maksudnya, dalam kerangka pengembangan diri atau lembaga yang didahului dengan self assessment, maka temuan dari penilaian diri itu adalah bahan masukan bagi arah pengembangan berikutnya. Semakin jujur kita dalam melakukan, memberikan dan membuat penilaian diri, maka semakin valid dan reliabel data yang dibutuhkan bagi arah pengembangan berikutnya. Demikian pula sebaliknya.

Oleh karenanya, seberapa tuluskah kita ketika berhadapan dengan penilaian diri dalam semua kebutuhan baik yag menyangkut diri atau lembaga?

Tulisan ini memberikan satu bentuk perilaku yang kadang menjadi hambatan bagi langkah pengembangan diri atau lembaga. Paling tidak seperti apa yang pernah saya alami di beberapa lembaga yang selama ini menjadi sahabat saya dalam menumbuhkan diri. Hambatan itu bermuara pada tingkat ketulusan untuk berkata apa adanya. Motivasi utamanya bagi kita untuk tidak mengemukakan apa adanya tentang diri kita adalah karena harga diri.

Kadang, dalam sebuah proses penilaian diri, ada dalam benak sebagian kita yang mendorong kita untuk tidak terlalu vulgar. Tidak terlalu apa yang ada ya itu yang ditulis atau dikemukakan. Hal ini mengingat kerahasiaan diri atau lembaga. Karena jika dalam komponen dan aspek pinilaian diri tersebut saya menuliskan apa adanya tentang saya, tentang lembaga dimana saya berada, bukankah itu merupakah hasil penilaian saya? Yang berarti bahwa atasan atau lembaga penilai akan mengetahui siapa saya? Siapa kita? Dan jika pengetahuan ini dimiliki bukankah ini justru akan berimplikasi pada citra tidak baik tentang saya? Tentang kita?

Maka untuk alasan pengembangan diri atau pengembangan lembaga sekalipun, yang membutuhkan data valid tentang saya atau tentang kita hari ini, saya atau kita perlu berlaku sedikit menjaga harga diri dengan tidak serta merta mengatakan saya atau kita seperti apa adanya.

Padahal sekali lagi, bagi sebuah pengembangan ke arah yang lebih maju, kejujuran dalam mengatakan dan mengetahui telah sejauh mana saya atau kita berjalan adalah unsur yang paling utama. Dan tanpa kejujuran serta ketuluan pada unsur ini, pengembangan akan selalu menjauhkan kita dengan realita yang ada.

Oleh karenanya, perlu kita semua sadari bahwa, penyakit ini lebih sering terjadi pada kita yang telah terlanjut establis. Dan inilah saat dimana kita harus selalu menakar diri dengan satu kalimat tanya: Berada dimanakah zona aman kita? Bagimanakah dengan apa yang ada pada kita sekarang ini?
Mintalah sahabat memberikan jawaban. Atau lihatlah bagaimana lingkungan memberikan tanda-tanda pada diri kita. Meski itu juga perlu sebuah perjuangan untuk jujur dan tulus...


Jakarta, 24 September 2009/5Syawal 1430H.

No comments: