Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

08 September 2009

Guru yang Beda

Ada pengalaman menarik yang membuat saya saat itu, Maret 1996 lalu, terperangah. Yaitu saat diajak keliling, Pak Joni, sekretaris di sekolah tersebut, yang mengajak dan mendampingi saya untuk berkeliling, menyebut apa yang sedang kami jalani dengan kata touring untuk melihat kelas-kelas yang ada sebelum saya akhirnya saya di interview untuk posisi menjadi guru di sekolah tersebut.
Terperangah, karena baru kali pertama saya melihat sebuah sekolah yang setiap dinding kelas, dinding koridor sekolah, dan seluruh wilayah yang terbuka diberi papan pajangan yang dipenuhi oleh tempelan karya siswa. Banyak sekali papan pajangan itu menggugah saya dan mengajak saya berpikir; Bagaimana para guru mengajar dan melakukan ini semua di sekolah ini? Sebuah pertanyaan lugu yang apa adanya.
Lugu karena saya sendiri guru yang berada dalam ranah yang berbeda dengan apa yang ada dihadapan saya kala itu. Saya kemukakan pertanyaan lugu saya itu, dan diberikan gambaran bahwa guru di sekolah ini mengajar dengan pendekatan dan metode yang berbeda.
Jawaban yang mestinya memberikan sedikit gambaran tersebut masih tetap belum memberikan penjelasan. Harap Anda maklum, bahwa saat touring tersebut saya sudah didewasakan selama 11 tahun sebagai guru kelas di tingkat sekolah dasar. Maka gambaran pendekatan dan metode yang berbeda, belum memberikan gambaran konkrit seperti apa berbedanya.
Dan selama 11 tahun tersebut, saya di kelas dengan 40 siswa, akan memberikan penjelasan terhadap materi pelajaran dan diakhir sesi siswa akan saya berikan soal latihan. Demikian pula jika materi pelajaran yang ada dalam satu bab telah selesai, maka saya akan membuat soal ulangan untuk mereka. Begitulah rutinitas saya mengajar sebagai guru kelas.
Tentang pajangan? Di kelas saya memiliki gambar Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden serta Pahlawan Nasional. Gambar-gambar itu hampir tidak berganti sepanjang tahun atau bahkan lebih dari itu. Dan sekarang? Seluruh dinding pajangan dipenuhi karya siswa.
Bagaimana pendapat Bapak tentang sekolah kami? Tanya Pak Carl di ruang interview. Saya menjawab jujur; Luar biasa!
Jawaban jujur saya tersebut, harap dimaklumi mengingat pada tahun 1996 kala itu, sekolah itu adalah bentuk sekolah yang total berbeda dengan apa yang sudah kami jalani sebagai guru. Dimana kami juga mengikuti pelatihan tentang bagaimana membuat tema, bagaimana belajar dengan CBSA, juga bagaimana Bapak dan Ibu guru membelajarkan siswanya di SD N di Cianjur yang menerapkan CBSA tersebut, namun semua itu belum mampu memberikan kompetensi dan keterampilan bagi saya untuk merealisasikan pengetahuan tersebut ke dalam interaksi saya dengan siswa di kelas.

Maka disinilah awal saya belajar menjadi guru yang beda.

Dan untuk menjadi guru yang beda, adalah bukan suatu hal yang tanpa pengorbanan. Dan pengorbanan terbesar yang saya harus berikan, adalah pengorbanan bahwa saya harus melupakan kalau saya pernah menjadi guru selama 11 tahun sebelumnya.
Slipi Jakarta, 8 September 2009.

2 comments:

Anonymous said...

Wawan Wonosobo: Memang, menjadi guru yang berda itu suatu keharusan. Setiap guru punya talenta berbeda yang harus dikembangkan, bukan untuk dipendam.
Tantangan yang paling berat untuk menjadi beda adalah mengubah paradigma lama menjadi paradigma baru. Dengan demikian kita harus berani terbuka dan rendah hati.

mayatugasku said...

Seringkali beberapa teman sesama guru musik memberikan motivasi negativ untuk hanya mengajar anak-anak yang berminat dan berbakat musik saja....memang mengajar meniup suling pada 6 bulan pertama bukan hal yang mudah...sering saya mengelus dada ( secara sembunyi2)..mendengar komentar mereka, juga mendengar bunyi-bunyian yang dihasilkan dari suling mereka....alhamdulillah saya mencoba untuk tidak surut semangat dan kesabaran...terus terang ada satu dua guru muda yang kesabarannya...subhanalloh...dan itu menjadi inspirasi bagi saya untuk sabar..sehingga tidak perlu mengelus dada secara sembunyi-sembunyi lagi...itu usaha saya untuk menjadi guru yang SEDIKIT BERBEDA...saya masih dalam proses belajar pak....