Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 March 2009

Polusi

Cerita ini berasal dari salah seorang dari calon orangtua murid yang berkeinginan mendaftarkan putrinya. Selama ini putrinya bersekolah di kelas tiga salah satu sekolah dasar swasta yang tergolong favorit di kawasan paling elit di bilangan Jakarta Selatan.

Katika saya tanya mengapa ibu memindahkan putrinya dari sekolah yang tergolong bagus? Ibu menceritakannya bahwa keputusan pindah sekolah bukan hanya menjadi keputusannya saja, tetapi juga menjaii keputusan anaknya sendiri. Mengapa putrinya juga turut andil dalam pengambilan keputusan pindah sekolah? Hal ini tidak lain karena menurut sang putri, ia tidak merasa nyaman lagi untuk pergi ke sekolah guna menuntut ilmu.

Ketidaknyamanan tersebut berawal dari jawaban sebuah soal yang diberikan putrinya dalam suatu tes atau yang mereka sering sebut ulangan harian. Jawaban putri salah menurut bu guru, padahal menurut sang putri, dan juga menurut dirinya serta akal sehat memang benar. Ulangan dalam topik polusi tersebut, guru menemukan jawaban putrinya, sampah untuk pertanyaan; Apakah penyebab polusi udara?

Menurut sang putri jawaban sampah untuk soal penyebab polusi adalah benar. Hal ini didasari kenyataan bahwa tumpukan sampah dipojok jalan dekat rumahnya sering menyebarkan bau tak sedap ketika ia melewatinya. Bau tak sedap tersebutlah yang dimaksud sebagai polusi udara.

Keesokan harinya Ibu tersebut mencoba memberanikan diri untuk mengkonfirmasikan jawaban yang disalahkan guru padahal menurut putrinya benar. Namun alangkah kecewanya sang ibu dengan jawaban guru. Jawaban putrinya salah. Karena ketika latihan, guru telah menjelaskan pada siswa bahwa penyebab polusi udara adalah debu. Jika jawabannya sampah, maka salah. Tidak sesuai dengan apa yang telah dilatihkan dalam latihan soal tempo hari. Luar biasa.

Jadi ibu positif memindahkan putrinya di sekolah ini? Ibu itupun mantap menjawabnya. Padahal ia itu tahu bahwa sekolah saya adalah bukan sekolah yang memiliki prestasi segudang sebagaimana yang dimiliki sekolah-sekolah lain seperti juara nilai ujian akhir sekolah/nasional. Di tingkat kebupaten sekalipun!

Renungan Kita

Sebagai orang yang berprofesi sebagai guru, kasus yang dialami oleh seorang siswa tersebut, sudah seharusnyalah menjadi pelajaran bagi kita untuk melihat apa yang telah kita lakukan di dalam kelas. Karena hanya dengan cara inilah kita akan menjadi baik hari demi hari. Pernahkah kita mengalami hal demikian?

Sesungguhnya semua jawaban siswa yang berasal dari proses berpikirnya adalah benar. Hal ini jika kita mau bersabar untuk mendengarkan alasan yang akan dia kemukakan. Artinya jika menemukan jawaban yang berbeda dengan apa yang telah kita ajarkan dan berbeda dari buku yang menjadi pegangan siswa, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tetapi cobalah mengajukan pertanyaan untuk menggali mengapa dia menjawabnya demikian. Dengan cara demikian maka si anak tetap merasa dihargai atas jawaban yang diberikan dan guru juga tidak salah dalam mengambil keputusan.

Jawaban yang guru sampaikan sebagaimana cerita di atas sesungguhnya telah membuat akan didiknya menjadi putus asa karena sama sekali tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana yang diharapkan. Bukankah sampah organik dalam jumlah tertentu yang membusuk memang membuat polusi udara?

Slipi, 7 September 2003

5 comments:

Anonymous said...

wah ayah kurang kereeeeeen, faza

Anonymous said...

Dear All,

wah masukan yang bagus sekali, sering saya lihat guru di negeri ini kurang mau mengembangkan dirinya hanya terpaku pada text book. Sehingga jelas akhirnya banyak murid kecewa dan mencari jalan keluarnya sendiri itu kalau mereka mampu. Tetapi anak-anak yang tidak mampu ketidak pauasan itu akan lari pada agresifitas. Itu yang bisa kita lihat sekilas.

Disisi lain lebih parah lagi guru yang sekarang sudah dianggap sebagai tenaga profesional, bila terjadi seperti ini, takut sekali saya juga....lah tenaga profesional kan tidak seperti itu......... ..seorang profesional tidak boleh bertahan pada hal2 simpel apalagi sampai bisa menyalahkan jawaban yang sebenarnya betul juga lebih baik ddibanding hanya debu tok! Dimana qualitas tenaga profesional ini, tanggung jawab terhadap bangsanya mana???

Bagaimana ini bisa terjadi..... siapa yang bisa kita salahkan...gurukah, pejabat Diknas mungkin, makanya guru berbuat seperti itu karena takut???

Ya rasa takut....mengapa kita harus takut pada pejabat Diknas...sepengetah uan saya, bila kita sanggup menjelaskan secara ilmiah mereka maka akan segera berterimakasih pada kita. Tenaga profesional diharapkan bisa mengatasi hal ini.

Kesimpulan saya, untuk guru bisa menjadi tenaga Profesional sebaiknya disaring dulu kemampuannya. ...tidak mungkin kita secara massal memprofesionalkan semua tenaga guru! Tenaga profesional harus mempunyai Quality!

Salam peduli Anak bangsa,

Ratih Gandasetiawan

Anonymous said...

Ri Danyanya: Betul Pak.

Anonymous said...

Ya mudah2an saat ini metoda pengajaran di sekolah sudah berubah menjadi lebih baik.......membuat anak menjadi Robot sangat tidak baik......makasih juga atas masuk2an seperti ini sehingga guru bisa lebih mawas diri. Karena kewajiban kita meningkatkan kemampuan anak, buka membatasi.

Salam, Ratih Gds

Anonymous said...

PS: Sewaktu saya masih lebih muda dulu. hihihi saya pernah menulis di milis
> CFBE tulisan sejenis. Mudah-mudahan bisa jadi masukan bagi teman-teman
> guru.
>
> Ini tulisannya:
> *Pengen cerita sesuatu... Mudah-mudahan ga kejadian lagi hal2x semacam ini.
> Jadi pas itu ceritanya ada seorang anak yang sama gurunya ditugaskan
> menggambarkan rasi bintang. Seperti yang kita tahu, rasi bintang kan ada
> macem2x yah, ada orion, leo, taurus, gubug penceng, de el el..
>
> Tahu ga yang dilakuin anak ini buat ngerjain tugasnya?
> Dia bergadang semaleman untuk ngeliatin langit dan dia gambarin bintangnya
> satu2x di atas selembar kertas.
>
> Dan besokannya ternyata gurunya langsung mencoret tugasnnya.. dan menyatakan
> bahwa yang dya kerjakan itu salah. Sedangkan teman2xnya yang rasi bintangny
> mirip dengan yang ada di buku ( orion, leo, dll itu.. ) dibenerin tugasnya..
>
> Yah kalo orang dewasa mungkin bisa langsung berargumentasi kali yah bahwa
> yang dia kerjakan benar. Cuma bayangin dong. Kalo anak2x, pasti udah sedih
> duluan kali yah..
>----------- --------- --------- --------- --------- --------- --
++ Keponakanku lebih lucu dan polos lho Mbak....

Ada tiga pertanyaan:

1. Pesawat mendarat di lapangan ....
2. Bus berhenti di ....
3. Bahan bakar pesawat adalah ....

Jawaban keponakan saya :

1. Lapangan Dukuhturi (nama lapangan sepak bola dekat rumahnya). Kok begitu? Ya karena dia tidak pernah melihat lapangan udara. Kalaupun melihat ya dari televisi.

2. Pertigaan Butak (nama pertigaan dekat sekolahnya). Kok begitu? Ya, karena dia sering melihat Bus berhenti di tempat itu. Dia tidak pernah melihat terminal kecuali di televisi.

3. Minyak tanah. Mengapa? Dia hanya tahu minyak tanah untuk bahan bakar kompor. Dia tidak pernah melihat pesawat, apalagi bahan bakarnya.

Manthep to ....