Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 November 2011

Ujian Akhir (Sekolah/Nasional), Dulu dan Kini


Di luar pagar, kita masih mendengar cerita yang tidak sedap tentang bagaiamana pelaksanaan ujian nasional tahun 2011 lalu itu. Cerita tidak sedap itu misalnya adanya SMS Kepada peserta ujian untuk tngkat SMP dan SMA/SMK, sejauh yang saya dengar, sebelum masuk ke ruang ujian. Meski pemerintah telah membuat ketentuan paket-paket ujian yqng beragam untuk satu ruang ujiannya, dan juga skenario pengamanan bagi soal dan jawaban ujian, namun kenyataannya masih terjadi di sekolah siswa yang kasak-kusuk saat sebelum UN berlangsung dan kemudian memperoleh nilai yang relatif baik dibandingkan dengan kemampuan riilnya sehari-hari. Nilai bagus tersebut kadang malampaui nilai bagi anak-anak yang sehari-harinya berkompetensi diatas rata-rata.
Walau hampir setiap tahun pula, bau tidak sedap itu sangat sedikit yang masuk dalam ranah hukum sehingga kita semua tahu siapa pelakunya, bagaimana tahap atau proses melakukannya, dan apakah para pelaku adalah mereka yang saling bekerjasama dan membentuk sebuah jaringan? Namun yang jelas kejadian-kejadian itu menjadi cerita umum. Baik di kalangan orangtua, masyarakat, dan juga siswa.
Tap dalam asumsi saya, semua skenario, usaha, ikhtiar, dan kesepakatan itu merupakan bagian dari desain besar kita untuk memperoleh hasil Ujian Nasional yang bagus. Sayangnya, kita sering lebih senang dan terperangkap untuk mencapai hasil bagus dan optimal Ujian Nasional itu bukan dengan jalan bersiap jauh hari dengan berusaha keras. Namun dengan jalan instan. Semangat instan yang dengan sempurna dimanfaatkan oleh beberapa oknum tidak bertanggungjawab melalui sms jawaban soal Ujian Nasional.

Dulu dan Sekarang

Bagaimana fenomena mendongkrak nilai ujian saat dulu, saya masih duduk di bangku sekolah dengan sekarang, ketika saya menjadi guru? Mungkin inilah ceritanya;

Ujian Gaya Dulu
 
Dulu saat saya sekolah di sekolah menengah, pagi hari menjelang ujian berlangsung, saya dan beberapa teman akan mendiskusikan, atau tepatnya bergantian tanya jawab dengan menggunakan contoh-contoh soal ujian terdahulu. Kami akan lebih bahagia lagi kalau soal itu adalah soal bocoran. Meski soal bocoran itu kadang-kadang hanya isu semata, karena ternyata hanyalah soal ujian tahun yang telah lalu. Dan meski juga, pada saat menyelesaikan soal-soal tersebut, kami belum tentu tahu benar atau salah atas jawaban kami. Tapi pada saat itu kami memperoleh bayangan tentang soal-soal ujian yang mungkin akan kami hadapi.

Saya sering protes kepada kawan, mengapa contoh-contah soal yang kami dapatkan itu baru kami terima hanya menjelang satu jam sebelum ujian dimulai? Tapi memang itulah ketidakberuntungan generasi saya dan semoga tidak termasuk Anda. Karena menjadikan soal ujian tahun-tahun sebelumnya sebagai bagian dari suksesnya ujian, pada kala itu adalah sebuah kemewahan. Beruntung dengan saya, ketika menjelang ujian, saya sempat membeli buku latihan soal sebuah toko buku kecil di kota Purworejo. Namun buku itu cukup memperkaya pengetahuan saya dibanding kawan yang lain. Karena buku itu dilengkapi juga dengan kunci jawaban, sehingga saya belajar soal sekaligus jawabannya. Selain itu, soal-soal yang terdapat di buku itu, nampaknya mengambil sumber belajar dari buku yang berbeda dengan buku yang menjadi sumber kami belajar di kelas. Jadinya saya dapat lebih banyak tahu daripada kawan di kelas. Walau kami harus kecewa setelah ujian berakhir. Sedikit sekali soal-soal yang ada di ujian tersebut, yang sebelumnya kami pelajari. Alhasil, kami semua pasrah.

Ujian Gaya Sekarang

Bagaimana dengan ujian yang dilaksanakan sekarang? Minimal tiga bulan sebelum ujian berlangsung, maka guru akan menerima standar kelulusan (SKL) atau kisi-kisi. Yaitu batasan kompetensi, dan tergambar sekaligus materi dari ujian yang akan diujikan. Dengan SKL atai kisi-kisi tersebut, guru akan mengetahui materi yang akan diujikan. Pengetahuan guru tersebut pasti akan ditransfer kepada siswa dan kadang kepada orangtua agar ujian yang mereka ikuti dapat benar-benar optimal hasilnya.

Dengan model seperti ini, maka belajar untuk menghadapi ujian adalah mempelajari materi ujiannya. Juga berbagai ragam kemungkinan soal ujian yang akan keluar. Dan buku yang berkenaan dengan hal itu, sagat beragam tersedia di toko buku. Bimbingan belajar juga menjadi fenomena yang fenomental di saat ini.

Namun entah bagaimana, justru kemudahan ini menjadikan bau tak sedap di setiap tahun pelaksanaan ujian nasional di Indonesia masih kita cium. Baik yang kasat mata, yang disaksikan oleh teman-teman guru yang menjadi pengawas ujian, baik dari cerita laporan pandangan mata anak dan keponakan, melihat berita di tv, atau membaca di surat kabar. Dan ini mengsumsikan bahwa meski jalan yang akan kita lalui diberikan panduan peta yang jelas dan terang, namun kita ada diantara kita yang masih percaya dengan kiriman SMS. Ini adalah bentuk moralitas yang rendah. Lebih rendah lagi bila SMS yang anak-anak kita terima itu terdapat kontribusi orangtuanya dalam bentuk memberikan donasi dana kepada para pengirim SMS kunci jawaban ujian nasional yang gentanyangan disetiap menjelang UN. Sungguh mengenaskan menurut saya. Semoga juga menurut Anda.

Palembang, 10 Juli-Jakarta, 29 Nopember 2011.

Tidak ada komentar: