Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 November 2011

Piring Kotor di Kantin Sekolah

Ada sebuah kebiasaan baik yang terjadi di sekolah saya dulu. Yaitu kebiasaan siapa saja yang selesai makan di kantin dan harus membereskan sisa atau bungkus makanan serta piring kotornya di tempat yang telah disediakan. Untuk sampah tentunya di buang langsung ke tempat sampah yang tersedia di lokasi itu. Dan untuk piring kotornya diletakkan di salah satu meja yang telah ditentukan, yang biasanya di tulis di meja tersebut; piring kotor. Dengan begitu maka meja kantin akan selalu bersih tanpa ada piring kotor. Kabiasaan yang bagus bukan? Kebiasaan ini tentu bertolak belakang dengan apa yang terjadi di warung makan atau restoran. Sejauh pengamatan saya, semua sisa makanan dan segala piring kotornya akan ditinggalkan begitu saja di meja makan setelah pengunjung selesai makan makanannya di kantin sekolah saya. Mungkin juga di sekolah Anda? Saya kira bukan di sekolah Anda, tetapi hanya di sekolah saya. Dan ini menjadi tantangan untuk saya dan teman-teman guru untuk melakukan pembenahan dan sekaligus pengenalan budaya baru tentang tatakrama berbelanja dan makan di kantin sekolah.

Selayaknya kita makan di warung makan atau restoran, maka semua yang sisa makanan atau sampah, dan piring kotor tersebut menjadi tanggung jawab dari pegawai mereka. Di beberapa restoran, malah barang kotor itu akan segera diambil oleh pegawai restoran tatkala terlihat kosong. Tentunya setelah mendapat izin dari pengunjungnya.
Dan ini budaya yang terjadi di dunia warung makan di tempat publik dan rupanya menjalar dan teraplikasi dengan bagus di kantin sekolah. Menilik perilaku pengunjungnya, apa yang terjadi di kantin sekolah dan warung makan tersebut, maka kenyataan itu adalah bentuk kebiasaan yang hidup dan ada. Artinya, siswa belum dibelajarkan bagaimana memiliki rasa tanggung jawab terhadap piring kotor dan pembungkus makanan dari kegiatan makannya. Mereka akan meninggalkan meja makannya dengan segala bentuknya ketika merasa makannya telah selesai.

Berdiskusi Standar Perilaku di Kantin

Langkah pertama untuk perubahan budaya tersebut adalah mengajak pemangku siswa untuk mendiskusikan keadaan piring kotor yang berserak di kantin tersebut. Saya menampilkan kondisi aktual tersebut fdalam bentuk visual. Gambar saya ambil pagi hari ketika selesai jam istirahat pagi dan istirahat makan siang. Tampilan gambar tersebut sebagai bahan diskusi. Saya mengajukan pertanyaan kepada teman-teman guru: Apakah kondisi seperti ini cocok untuk sebuah pembelajaran karakter? Mungkinkah siswa kita ajak untuk menjaga kebersihan kantin sebelum dan sesudah mereka jajan di kantin? Apakah ada yang ingin menggambarkan kondisi kantin yang ideal dari sisi kebersihannya? Bagaimana cara atau langkah apa yang dapat kita lakukan untuk menuju kantin bersih?

Diskusi berlangsung seru. Namun sebelum diskusi berlangsung, saya membagi mereka dalam kelompok-kelompok yang terdiri 4 atau 5 guru setiap kelompoknya. Dan setiap kelompok harus mempresentasikan hasil diskusi tersebut.

Di akhir sesi, kami menyepakati untuk melakukan langkah-langkah edukasi terhadap kebersihan kantin kami. Diantaranya adalah membuat kesepakatan dengan semua guru, pemberitahuan kepada siswa tentang kondisi kantin yang baik dan bersih, pemberitahuan kepada siswa tentang bagaimana memperlakukan piring kotor dan bungkus makanan, menyampaikan program kantin bersih tersebut kepada para pegawai kantin, pengontrolan di lapangan, dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi bersama di saat rapat guru.

Inilah lahan pembelajaran kami pada pekan ini. 

Jakarta, 21 Oktober-17 Nopember 2011.

Tidak ada komentar: