Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 November 2011

Buah Jatuh ke Pangkalnya

Dalam buku 1000 Peribahasa Indonesia yang ditulis oleh Abdullah dan Muh. Rasjid, yang diterbitkan oleh CV Amin, Surabaya, tahun 1981, saya menemukan peribahasa ini. Dalam buku itu; peribahasa buah jatuh ke pangkalnya dimaknai sebagai; tabiat orang tua turun kepada anaknya juga. Hari ini, saya merasakan ada sesuatu yang menarik dari peribahasa itu. Tentu korelasinya denganprofesi saya sebagai guru.

Lalu, apa menariknya dari peribahasa itu? Saya paham jika tidak semua kita tertarik kepada makna dan arti dari peribahasa tersebut. Namun saya lain. Ini karena mungkin saya guru yang juga harus berkomunikasi tidak saja akademik tetapi juga emosi kepada siswa saya di sekolah, dan juga kadang kala sering dengan para orangtua siswanya. Dan inilah pangkal ketertarikan saya kepada apa yang tersirat dan tersurat dalam peribahasa tersebut.

Melihat secara Kontekstual

Dalam keseharian saya di sekolah sebagai guru, peribahasa itu menarik saya untuk mencoba melihat bagaiamana kontekstualitasnya di dalam kelas dan sekolah. Hal ini penting bagi saya apakah peribahasa tersebut memberikan petunjuk kepada saya tentang kebenaran darinya. Ini pulalah yang juga membuat saya bertanya-tanya ketika suatu saat mendapat siswa yang 'berbeda' dengan kondisi umum yang terlihat pada siswa yang lainnya. Tentu saya tidak melihat 'berbeda' tersebut dalam hal genetik, fisik, atau perbedaan lain dalam bentuk yang permanen. Saya justru tertarik dalam hal berbeda secara psikis yang temporal. Tentu dalam hal perilaku.

Berbeda perilaku ini menjadi bagian penting bagi saya dan teman-teman, sehingga dari padanya lahirlah semangat untuk menemukan inti dari masalah tersebut, mengelaborasi alternatif jalan keluarnya, dan sekaligus mengajak siswa dan kedua orangtuanya untuk keluar dari situasi berbeda tersebut menuju ke arah optimalisasi potensi. Dan alhamdulillah, Allah memberikan jalan keluar bagi kami untuk menapaki jalan menuju optimalisasi tersebut. Walaupun Allah memberikan jalan yang berbeda-beda pula untuk jalan yang harus kami laluinya pada setiap siswa yang kami tangani. Tetapi inilah yang justru membuat kami sebagai guru semakin berkeyakinan tentang kebermaknaan atas keberadaan kami di dalam interaksi orangtua dan anak. Kebermaknaan yang amat sulit dapat kami lukiskan secara gamblang. Kebermaknaan yang menjadi bibit kebahagiaan kami sebagai guru.

Pola Asuh Merupakan Korelasi antara Buah dan Pangkal Pohon

Dalam peribahasa itu hubungan antara orangtua dengan anak disimbolkan dengan hubungan antara buah dengan pohonnya. Secara spesifik dan jelas, hubungan tersebut berkaitan dengan hubungan perilaku. Bahwa perilaku anak itu berkorelasi dengan apa yang diperbuat oleh orangtua. Namun dalam konteks ini, saya melihatnya dengan sedikit berbeda. Dimana, menurut saya, perilaku anak berkorelasi sangat dekat sekali dengan bagaimana pola asuh orangtua tersebut kepada anaknya. inilah barangkali seperti yang saya tulis dalam artikel lain di blog ini dengan judul Dari HPnya, Saya Melihat Sosok yang Diteladaninya yang terbit pada 13 Mei 2011.

Salah satu contoh pola asuh itu misalnya prinsip yang berbeda antara anak dan orangtua dalam hal daya juang. Dimana ada seorang anak yang rendah sekali daya juangnya untuk mendapatkan prestasi yang optimal. Prestasi yang saya maksudkan misalnya adalah sikap mandiri. Untuk anak usia SD, mandiri yang saya maksudkan misalnya saja adalah, mandiri dalam memelihara barang. Banyak barang-barang tertinggal di sekolah yang tidak diketahui tuannya atau pemiliknya. Lebih-lebih bila selesai kegiatan Pramuka.

Kadang, pembantu anak itu datang ke sekolah guna melacak barang atau alat belajarnya yang tertinggal. Dan diketemukan barang yang dimaksud. Padahal barang tersebut telah diusahakan untuk dibawa keliling kelas dan diingatkan oleh guru setiap pagi agar siswa mengecek barang bawaannya yang tertinggal di sekolah, namun tetap tidak ada yang mengaku memilikinya.

Atau juga lahirnya sikap borju anak-anak dalam bentuk menggunakan alat komunikasi yang smart. Yang kalau diukur-ukur, belum ada keperluannya seorang anak menggunakan alat komunikasi smart seperti itu. Anak-anak usia di bawah 17 tahun itu mungkin masih cukup kalau menggunakan hand phone biasa. Tapi bisakah kita, orang dewasa mencegahnya?

Mengapa kemandirian, rasa tangung jawab terhadap barang yang dimilikinya, lahirnya sikap dan perilaku sederhana dalam menggunakan alat komunikasi itu tidak atau belum lahir pada generasi siswa saya? Salah satu penyebabnya, menurut hemat, asumsi, dan pengalaman saya adalah karena pola orangtua dengannya di rumah.

Bagaimana mungkin lahir perilaku sederhana bila di rumah, ayah, ibu, dan anak yang dibahas adalah alat komunikasi smart yang terbaru? Atau bagaimana logikanya lahir anak yang berdaya juang tinggi bila orangtuanya berprinsip: anak saya jangan susah lagi, cukup saya yang pernah hidup susah dulu (?).

Dengan fakta itu dan fakta-fakta lain yang tidak saya ungkap disini itulah maka saya menjadi semakin jelas akan makna kontekstual dari peribahasa: buah jatuh ke pangkalnya.

Jakarta, 23 Nopember 2011.

Tidak ada komentar: