Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Juli 2011

Jemuran Baju di Minggu Pagi

Sore ini, saya pulang kantor dan terhambat macet di seputar taman kota yang ada di pangkal jalan Thamrin, Jakarta. Namun bukan jalanan yang penuh sesak oleh kendaraan yang menjadi perhatian saya kali itu, bukan sama sekali. Saya jauh lebih tertarik untuk memperhatikan bagaimana derasnya air memancar dari penyiram taman otomatis bergerak secara teratur ke arah kanan dan kiri dengan irama yang tetap. Dengannya, maka tanah yang ada pada lebih kurang radius empat (4) meter menjadi basah. Tampak sekali bahwa tanah basah itu telah membuat tanaman yang ada begitu hijau, sehat, dan segar. Menumbuhkan rasa sejuk ketika para penduduk kota, seperti saya, menatap dan berada di sekitar taman kota itu.

Keberadaan penyiram otomatis yang memancarkan air secara terus menerus dalam tempo yang relatif lama itu membangkitkan pengalaman buruk yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya. Ketika saya ikut tinggal bersama keluarga Australia yang tinggal di kota Adelide, South Australia. Pengalaman buruk yang pada akhirnya menjadi kenangan lucu buat saya pribadi. Kelucuan itu justru lahir saat saya menghubungkannya dengan perilaku ndeso yang tetap menjadi trade mark saya.

Beginilah lebih kurangnya cerita saya itu:

Pagi hari, pada sebuah hari Minggu, seingat saya itu adalah hari Minggu yang ketiga setelah saya tinggal di rumah keluarga tersebut, saya bangun paling padi di rumah itu. Maklum, selain harus menunaikan solat, saya kebetulan kedingingan dengan suhu yang ada. Meski sepanjang tidur, kasur yang kebetulan ada penghangatnya selalu saya posisikan on. Tapi tetap saja kedinginan. Dan ini mungkin juga bagian dari ke-ndeso-an saya yang lain.

Karena sudah minggu ke tiga, pasti terbayang berapa stel pakaian yang mesti saya cuci. Meski saya berprinsip berpakaian tidak boros. Tapi tetap saja hari itu jadwal harus saya adalah mencuci. Dan karena siang keluarga itu akan mengajak saya jogging di sekitar rumah yang kebetulan tidak jauh dari pantai, maka pagi adalah waktu yang peling tepat bagi saya untuk mencuci.

Beruntung, sehari sebelumnya Ibu yang saya tinggali telah memberikan kursus singkat kepada saya tentang bagaimana mencuci pakaian dengan mesin cuci yang dimilikinya. Oleh karenanya, sembari saya mengingat-ingat instruksi yang telah diberikan kemarin, pagi itu saya masukkan seluruh pakaian kotor saya ke dalam mesin cuci. Semua lancar saya kerjakan. Pakaian saya jemur di halaman belakang rumah yang berupa taman rumput. Tentu dengan menggunakan hangar yang tersedia di jemuran.

Beres mencuci dan menjemur pakaian, saya kembali ke kamar yang persis ada di samping halaman dimana saya menjemur pakaian tadi. Saya membuka kembali buku catatan dan meneruskan membaca novel yang saya bawa dari Jakarta. Hingga saya dikagetkan oleh suara air yang memancar keras dari arah taman di belakang kamar saya. Saya beri tanda berhenti membaca pada halaman buku yang sedang saya baca dan menengok keluar rumah melalui jendela kamar.

Dan saya terkejut luar biasa. Rupanya di halaman taman rumah itu terdapat penyiram tanaman otomatis yang tiba-tiba memancarkan air secara deras dan kencang. Dan air itu antara lain menyiram seluruh pakaian yang baru saja saya jemur. Alamak... pikir saya.

Reflek, saya segera keluar kamar dan mencoba menyelamatkan jemuran saya. Namun apa hendak dikata, sebelum saya berhasil menyelamatkan jemuran saya dari semprotan otomatis tersebut, semprotan itu telah kembali mengarah pada pakaian. Alhasil, saya pun tersiram. Maka saat itu juga saya tertawa sendirian di halaman belakang rumah sembari meninggalkan jemuran yang telah basah kuyup lagi. Termasuk pakaian yang saya kenakan.

Saya segera beranjak masuk rumah sebelum penghuni rumah yang lain memergoki kekonyolan saya di Minggu pagi itu.

2011-2000-2011.


Tidak ada komentar: