Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2011

Catatan Perjalanan, Angklung Mang Udjo


Berkunjung ke saung angklung Mang Udjo, menjadi bagian utama bagi perjalanan kami ketika ke Bandung pada Juli tahun 2010 yang lalu. Dengan uang masuk lima puluh ribu rupiah, kami ikut sesi pertama pertunjukkan, yaitu jam 10.00 pagi. Pengalaman pertama bagi saya berkunjung dan ikut bermain angklung di Padasuka itu.

Seperti tampak pada gambar, adalah salah satu atraksi dari serangkaian pertunjukkan yang disajikan kepada pononton, yang terdiri dari pengunjung lokal, seperti saya, dan juga para pengunjung asing. Anak-anak adalah bagian dari pertunjukkan itu.

Pertunjukkan yang menampilkan beragam generasi dalam menguasai dan menikmati alat musik dari bambu itu, juga dalam berbagai ragam irama. Mereka semua memainkannya dengan penuh rasa dan bangga. Persis seperti kami yang menjadi penonton. Tidak lupa pula, sebelum acar selesai, kami semua diberikan alat musik bambu itu masing-masing satu buah. Menghafal nada masing-masing dan memainkannya pada saat tanda dari dirijen meminta nada kita untuk dimainkan.

Sebuah alat musik yang juga membuat para pelatih pentas kesenian dari TK dimana saya sekarang ikut serta memegang amanah, tertarik dan memesannya langsung dari Bandung untuk kemudian dimainkan oleh para siswa kelas TK B dalam dua lagu secara apik dan penuh gaung keindahan. Luar biasa.

Dari Tradisi ke Modernisasi

Alat musik tradisi ini secara jelas memberikan gambaran kepada kita tentang jati diri kita di era modern seperti sekarang ini. Musik tradisi yang membangkitkan rasa nasionalisme dan persatuan yang teramat sangat kental. Ia menjadi pengikat kebersamaan kita yang berbeda-beda, bersama semua kekayaan tradisi kita yang kita miliki. Seperti bagaimana rasanya pengalaman yang pernah menghampiri manakala sebuah kagiatan akbar di sekolah menampilkan anak-anak usia lima hingga enam tahun memainkan lagu Tanah Air dengan instrumental angklung.

Apakah itu yang dinamakan cinta tanah air? Mungkin itu kurang lebihnya. Perasaan untuk mensyukuri tentang bagaimana rasa senang dan bahagianya tinggal bersama di sebuah wilayah Indonesia.

Musik tradisi itu jugalah yang anak-anak dan generasi muda Indonesia bawa ke seluruh penjuru dunia untuk mengabarkan betapa harmoni dan indahnya sebuah negara yang bernama Indonesia dalam berbagai bentuk misi keseniannya.

Dari sini pula saya berasumsi bahwa penguasaan tradisi yang kita miliki adalah juga kapital dalam menapakkan diri pada jati diri dalam kehidupan modern seperti saat ini.

Jakarta-Bandung-Jakarta, Juli 2010- Juli 2011.

Tidak ada komentar: