Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2011

Catatan Perjalanan, Ada Sandal...


Sekadar catatan perjalanan saya ketika saya diundang oleh kawan di Kayuagung, awal Juli 2011. Meski sesungguhnya kali itu adalah kali ketiga, saya berkunjung di kota ini.

Namun tampaknya, kunjungan ketiga itu memberikan kesan yang berbeda bagi saya. Mungkin karena kunjungan yang ketiga itu saya tidak 'dititipkan' di penginapan yang ada di kota itu, tapi bersama teman tinggal dan menginap di rumahnya. Ini yang membuat saya justru banyak melihat secara lebih dekat tentang beberapa hal yang akan menjadi catatan saya ini.

Seperti tampak pada gambar yang saya lampirkan di artikel ini, inilah masjid raya di kota Kayuagung. Sebuah masjid yang terawat baik, yang berada di tepian sungai Komering. Kebetulan saya berjamaah di sini bersama dengan beberapa orang yang berasal dari berbagai daerah. Antara lain dari Makassar, yang sempat saya ajak ngobrol seusai salat saat kami ada di pendopo tepian sungai.

Beberapa orang daerah tersebut berada di Kayuagung untuk menunaikan salat karena bertepatan yang bersangkutan sebagai anggota kontingen Pramuka yang kebetulan sedang mengikuti Jamnas. Jambore Nasional, yang tempat pelaksanaannya di Teluk Gelam, lebih kurang 20 km dari Kayuagung. Para anggota Pramuka itu mungkin sedang mencari udara yang berbeda di 'kota', yang kebetulan paling dekat adalah kota Kayuagung itu. 

Selain pertemuan saya dengan anggota Pramuka dari Makassar itu, saya sempat kaget saat pertama sekali memasuki masjid. Saat kumandang azan bergema melalui pengeras suara masjid. Yaitu saat baru saja saya berada di pintu masuk masjid. Karena di sebelah kanan dan kiri pintu masuk masjid, orang meletakkan sandalnya tanpa pembungkus atau dibungkus. Satu hal yang pasti tidak akan saya temui di tempat lain. Karena di tempat lain, selalu ada tulisan 'batas suci' di anak tangga paling bawah pintu masuk masjid. Selain sandal, saya juga melihat adanya tempat sampah kecil yang berdampingan dengan kotak amal. 

Apakah keberadaan sandal itu hanya terjadi di masjid yang saya kunjungi bersama teman dari Makassar itu? Pertanyaan inilah yang akhirnya terjawab oleh saya. Yaitu saat saya salat jamaah di masjid dekat rumah tinggal teman saya. Yaitu saat salat Magrib dan Isyak. Saya menemukan hal yang sama. Bahkan ada beberapa hal yang jauh lebih dari itu. Satu hal yang mungkin harus saya kemukakan kepada sahabat yang mengundang saya ke Kayuagung. 

Mungkinkah budaya seperti itu dapat menjadi koreksi di kelak kemudian hari? Pasti. Saya yakin sekali.

Kayuagung-Jakarta, Juli 2011.

Tidak ada komentar: