Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh pembaca semua,
Terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Harapan saya, semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

22 Oktober 2010

Berpikir Tingkat Tinggi, Higher-order Thinking



Berbasis kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher-order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta.
Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking.

Bagaimana proses belajar yang terjadi di dalam kelas yang dapat mendorong siswa atau peserta didik memilki kemampuan berpikir dalam taraf higher-order thinking tersebut? Dalam Buku A Guide to...Productive Pedagogies, Classroom Reflection Manual yang diterbitkan oleh Curriculum Implemantation Unit, Teaching and Learning Branch, Education Queensland, dicontohkan tentang pembelajaran dalam Mata Pelajaran Matematika dengan topik bahasan mengelompokkan benda. (Secara lengkap dapat di baca dalam foto yang saya lampirkan. Yang saya ambil dalam buku tersebut di halaman 1).


Apa yang menjadi contoh dalam buku tersebut tentang bagaimana guru memberlajarkan siswanya untuk mampu berpikir kritis, adalah sesuatu yang sangat mungkin kita lakukan. Benda yang dimaksud dalam contoh, yang nantinya dapat dikelompokkan, adalah benda yang ada di sekitar ita juga. Hulahub, dapat pula kita ganti dengan benda lain seperti tali rafia. Namun pelaksanaan pembelajaran seperti dalam contoh adalah bukan sekedar urusan sumber daya belajar, tetapi lebih kepada paradigma kita tentang belajar.

Bila tujuan belajarnya adalah pengelompokan, mudah bagi kita di kelas meminta siswa mengelompokan benda-benda yang ada berdasarkan pada ketentuan yang telah kita sebutkan. Sehingga siswa hanya belajar tentang benda ini masuk dalam kelompok mana berdasarkan kriteria yang telah guru buat. Memasukkan benda dalam kelompok yang sesuai dengan kriteria yang ada, tentu berbeda sekali jika siswa harus terlebih dahulu membuat kriteria pengelompokan.
Disitulah letak terjelas dari konsep Lower-order thinking dan higher-order thinking.

Ketika siswa hanya tinggal mengelompokkan berdasarkan kriteria yang telah disiapkan, itu berarti kita hanya menuntut siswa untuk faham. Dan faham masuk dalam aspek memahami. Yang juga bagian dari lower-order thinking. Namun ketika siswa harun menentukan terlebih dahulu kriteria mana yang menjadi dasar bagi pengelompokkan benda, berarti siswa dituntun untuk mencipta dan kemudian menganalisa. Yang juga berarti masuk dalam proses higher-order thinking.

Itulah sekelumit yang kebetulan saya lihat dari buku pemberian teman. Mungkin berguna untuk Anda dan kelas Anda?

Jakarta, 22 Oktober 2010.

5 komentar:

SAMRITIN mengatakan...

Uraian anda sangat menarik. saya butuh buku yang anda baca. mohon informasi. Trimaksih sebelumnya. Email saya: samritin75@gmail.com

Doni Aris Yudono mengatakan...

singkat, sederhana, namun sangat berguna.
terima kasih...

Arifin Riadi mengatakan...

mohon informasi tentang buku yang anda baca terkait Higher Order Thinking dalam pembelajaran matematika, email saya arifinriadi19@gmail.com.
Terima Kasih.

Titi Murnie mengatakan...

trimakasih kakak...

Azzana mengatakan...

Email sy meyta_gya_zuq@yahoo.com