Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Oktober 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #35; Menentukan Guru Kelas

Hal penting menjelang akhir tahun pelajaran, paling terlambat, atau menginjak di awal atau palin terlambat pada  akhir semester II, adalah sekenario penentuan guru kelas. Utamanya yang menjadi bagian amat penting di lembaga sekolah formal yang saya ikut serta berada di dalamnya adalah untuk tigkat KB/TK dan SD. Penting karena guru kelas adalah guru yang memang berdomisili nyaris sepanjang hari di kelas tersebut. Hal ini karena untuk unit sekolah KB/TK dan SD guru mengampu mata pelajaran inti yang ada unit tersebut. Berbeda untuk tingkat sekolah lanjutan, dimana guru wali kelas bertanggungjawab edukasi dan administrasi di kelas tersebut dengan tetap mengampu mata pelajarannya sendiri.

Lalu apa yang membuatnya penting posisi guru kelas? Karena beliau-beliau adalah representasi unit dan sekaligus lembaga pendidikannya. Khusus di sekolah sawasta, keberadaan beliau dengan kualifikasi yang memuaskan atau bahkan yang out standing, adalah harapan bagi semua pihak yang menjadi stake holder di kelasnya tersebut. Baik yang menjadi peserta didiknya di dalam kelas, bagi kepala sekolahnya, bagi rekan pararelnya, dan utamanya bagi masyarakat yang menjadi orangtua dari peserta didiknya.

Lalu bagaimana jika kualifikasi yang dianggap penting bagi Bapak dan Ibu Guru di posisi guru kelas tersebut justru memiliki kualifikasi yang kurang? Maka inilah masalah yang akan saya saya catat dalam 'cerita perjalanan' saya ini. Karena teman-teman yang seperti ini yang benar-benar membutuhan bantuan,  sokongan, atau bahkan pemahaman bagi lingkungannya. Bantuan dan sokongan terutama dari teman pararel dan pimpinan di unit sekolahnya, juga pengertian bagi teman-temannya.

Lalu bagaimana kita sebagai bagian dari unit sekolah, seperti pimpinan sekolah, mengetahui berada di mana teman-teman kita yang berada pada posisi guru kelas tersebut berkualifikasi? Tidak lain dan tidak bukan, terutama yang saya alami di sekolah swasta, adalah masukan dari lingkungannya. Ya dari teman koleganya, dari siswanya, dan utamanya dari orangtua peserta didiknya.

Akan tetapi, semua bentuk bantuan, sokongan, dan pengertian itu menjadi tidak relevan lagi manakala teman tersebut justru memberikan resistensi terhadap apa yang disampaikan oleh lingungannya. Meski, sekalilagi, bahwa informasi atas kekuranganya telah bertebaran di grup WA dari orangtua peserta didiknya.

Namun dengan mengambil pekajaran dan masukan yang ada, saya selalu menyarankan kepada para impinan sekolah agar menentukan guru-gurunya untuk menempati posisi guru kelas dengan pertimbangan yang utama adalah kemampuan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didiknya. Dan ini dapat dilihat dari rekam jejak sebelumnya. Dengan memegang teguh prinsip utama ialah, tidak ingin direpotkan dengan komplain pada perjalanan pembelajaran di kemudian hari. Meski guru yang bersangkutan adalah guru yang telah memiliki jam terbang tinggi atau meski guru itu adalah guru yang telah tersertifikasi sebagai Guru Profesional dari pemerintah. Sekalipun!

Jakarta, 29 Oktober 2016.

Tidak ada komentar: