Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Juli 2016

Mudik 2016 #15; Buka Tutup dan Contra Flow!

Sebagai sesama pemudik di Idul Fitri 2016 ini, saya ingin menyampaikan berbelasungkawa bagi pemudik yang telah kehilangan orang-orang tercintanya pada saat melakukan perjalanan mudiknya. Kepada yang ditinggalkan semoga selalu dilimpahi kesabaran dan ketabahan dari Allah Swt. Juga rasa bangga atas ketabahan dan daya tahan yang sungguh luar biasa, yang telah dibuktikan di sepanjang rute mudik atas perjalanan yang tidak sepenuhnya sesuai harapan. 

Meski pada akhirnya para pemangku kepentingan bersilang pendapat berkenaan dengan kemacetan tersebut, saya sebagai warga negara tidak membutuhkan sama sekali terhadap apa yang diomongkan. Bahkan saling melempar tanggungjawab, sebuah situasi yang seharusnya sekarang ini merekalah yang temukan solusinya.


Buka Tutup dan Contra Flow!

Maka ketika berita parahnya jalur yang berada di Brebes oleh kendaraan para pemudik, hingga hampir-hampir kondisi demikian melupakan dan menanggalkan perilaku gotong royong sebagai bagian dari revolusi mental, dengan berlaku kreatif yang pada ujungnya adalah kepada pengerukan keuntungan dari para pemudik yang terjepit. Para pemudik yang memang benar-benar tidak ada pilihan selain menerima dan membeli. Tidak ada belas dan kasihan kepada pemudik yang terlanjur terjebak.

Hal ini terlihat sekali bagaimana misalnya, nasi bungkus dengan lauk telor dihargai Rp 30,000 per bungkus, atau toilet dadakan dengan terpal biru ala kadarnya di sekitar jalur mudik, atau premiun 1 liter dengan kisaran harga dua puluh ribu hingga 90,000! Semua itu menjadi bentuk bagaimana para pemudik harus melakukan transaksi. Tidak peduli bahwa diantara pemudik itu adalah mereka yang mengendari kendaraan dengan patungan untuk menyewa mobil demi keperluan mudiknya. Semua ikhtiar itu tidak lain hanya untuk bergerak maju, berjuang untuk keluar dari Brebes!

Bersyukur, bahwa dalam kondisi demikian menjadi pelajaran bagi saya dan teman-teman yang lain untuk memilih rute perjalanan yang lebih kondusif. Maka pada situasi seperti inilah saya dengan penuh ketulusan menyampaikan penghargaan kepada petugas kepolisian di wilayah lain, yang telah bekerja begitu sungguh-sungguh, begitu cekatan, dalam memperlakukan pemudik yang lain, yaitu pemudik yang mendapatkan kesempatan merasai rekayasa lalu lintas yang selama ini kami alami ketika Sabtu dan Minggu kami menuju ke Puncak, Bogor.

Yaitu dengan model buka tutup dan bahkan contra flow. Sebuah rekayasa lalu lintas yang saya menilainya sebagai peningkatan kesungguhan dan kecerdasan mereka dalam melayani kami dalam situasi yang memang padat kendaraan. Karena kebijakan seperti ini, selama ini Pak Polisi menjalankannya jauh lokasi arus mudik, yaitu di daerah Puncak, Bogor.

Sebagaimana yang saya dapat rasakan ketika pada Kamis, 7.07.2016 pukul 09.00 di wilayah Ciawi menuju Banjar, Jawa Barat. Dan juga ketika kami berada di Kadipaten-Malangbong menuju Nagrek dan lanjut Cicalengka ketika jam telah menujukkan pukul 00.00 pada Kamis, 14.07.2016, arus lalu lintas tiba-tiba bergerak lancar. Dan saya melihat Bapak-Bapak Polisi begitu sigap dan trengginas mengaturnya meski dengan sepeda motor metik milik pribadi.

Hal yang jauh berbeda ketika kami melihat para pengatur lalu lintas tersebut berada di pos jaganya menunggui lampu lalu lintas yang tetap mengatur kami seperti biasanya, di waktu arus lalin normal, di dua perempatan lingkar luar di daerah Kebumen. Butuh waktu tidak kurang 60 menit untuk lolos dari daerah itu. Padahal akan berbeda jauh jika lampu lalin itu 'direkayasa' untuk kepentingan pemudik dengan berbagi dengan penduduk setempat. Hanya, usaha 'rekayasa' lalin memang membutuhkan usaha dan tingkat kepedulian yang jauh lebih tinggi dari yang menunggui lampu lalin.

Harapan saya sebagai pemudik, semoga musim mudik yang akan datang, kami tidak diuji lagi untuk sabar menanti kondisi parkir di jalanan, termasuk di jalan tol, karena jalanan padat oleh mereka yang mudik memang benar-benar DAPAT DIPREDIKSI. Sehingga memang dapat diantisipasi.

Jakarta, 19.07.2016.

Tidak ada komentar: