Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

06 September 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #31; Harus Berkoordinat

Ini adalah hasil diskusi saya dengan beberapa teman yang menjabat sebagai pemimpin di unit sekolahnya masing-masing. Ada yang sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah dan wakil lebih dari lima tahun, ada yang baru menjabat sebagai Kepala Sekolah, ada pula yang baru menjabat jabatannya beberapa bulan. Karena baru diangkat pada awal Juli 2016 lalu. Maka pada saat pertemuan dengan mereka beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan dialog dengan mereka secara terbuka dan menyenangkan. Paling tidak buat saya sendiri yang telah lama tidak berkecimpung dengan kepemimpinan di sekolah secara struktural. 

"Pak Agus, ada diantara kami yang hari ini masih sering tersengal-sengal napasnya ketika dapat tamu." kata salah satu teman di tengah-tengah waktu diskusi sedang berlangsung. Lalu kami semua berpaling kepadanya untuk mendapatkan rangkaian cerita yang sedikit utuh.

"Terutama ketika tamunya adalah teman sendiri yang menjadi seniornya di sekolah, yang menjadi bagian dari tanggungjawabnya." Lanjut teman itu dengan nada yang serius. Lalu kami sembari tersenyum-senyum ketika ungkapannya selesai dan saling pandang. Mimik tersebut seolah memberikan isyarat kepada saya bahwa beberapa teman masih menyimpan rasa sungkan ketika menunaikan tugasnya di lapangan. Dan rasa sungkan ini yang membuat teman itu harus mengatur nafas ketika menghadapi seniornya.

"Saya faham. Karena memang begitu lumrahnya. Namun jangan terlalu lama di atur oleh perasaan yang bernama sungkan. Jadi cara yang paling pas dalam menghadapinya adalah melawan perasaan itu sendiri. Tidak ada cara lain yang paling mujarab untuk menghilangkannya."  Kata saya memberikan pendapat dalam diskusi itu. Semua mencoba mencerna apa yang saya maksudkan. Saya juga menyadari bahwa pengalaman saya sendiri sangat mungkin tidak cocok menjadi jalan keluar dari teman tersebut. Namun saya ingin memberikan pemahaman bahwa sebagai pemimpin, meski perlu waktu, dan meski hanya sebagai pemimpin di unit sekolah, harus memberikan sinyal berkenaan dengan koordinat sikapnya kepada teman-teman yang dipimpinnya. Dan melawan sungkan, menurut saya adalah bagian penting dalam memberikan sinyal kepada 'masyarakat' yang dipimpinnya, adalah bentuk dari sinyal berkenaan dengan koordinat yang saya maksudkan.

Misalnya dalam hal masukan yang datang dari teman-teman senior terhadap sebuah keputusan yang sudah menjadi kesepakatan dan sudah juga tersosialisasikan dalam bentuk surat, maka masukan tentunya tetap diterima, namun tidak untuk mengubah keputusan yang sudah diambil. Maka ini juga akan menjadi bagian dari refleksi dari koordinat kepribadian sebagai pemimpin. 

Jakarta, 5-6.09.2016.

Tidak ada komentar: