Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 Oktober 2011

Teman Saya yang Guru, Golongan Ekonomi Lemah?

  • Sekarang golonganmu sudah 2 C Mas? Tanyaku di boncengan motor kepada teman saya yang mengendarai kendaraannya ketika kami melaju di jalan raya di desa Clapar, Bagelen, menuju kota Purworejo. Ini pertanyaan penasaran yang saya ajukan, yang mungkin kurang cocok dengan suasana hatinya pada saat itu. Tetapi dengan pertimbangan bahwa kami adalah sahabat lama yang boleh dibilang dekat, maka saya menganggapnya itu sebagai pertanyaan yang lumrah. Pertanyaan yang biasa.
  • Ya... golongan ekonomi lemah Gus. Jawab sahabat saya dengan nada bergurau tentunya. Saya di boncengan motornya tersenyum. Pintar juga kawan saya ini menemukan kosa kata untuk menggambarkan kondisinya. Dia begitu pas memilih kata yang cocok dengan kondisinya.
Golongan 2 B

Percakapan itu akhirnya membuka tabir bahwa ia sekarang ini baru berada pada posisi golongan 2 B, yang sedang diusulkan untuk meningkat ke golongan 2C. Golongan kepegawaiannya, tergolong sangat rendah bilamana dibandingkan dengan usianya yang telah 47 tahun. betapa tidak, ia lulus Sekolah Pendidikan Guru tahun 1985. Dan semenjak itu ia mengabdi sebagai guru sokwan di sekolah negeri yang dekat dengan tempat tinggalnya, namun baru diangkat sebagai PNS secara resmi pada tahun 2008!

Mengapa ia tidak melanjutkan kuliah sembari menunggu pengangkatan sebagai guru PNS? Jawabannya sederhana: tidak ada biaya. Untuk biaya hidup sepanjang waktu penantian itu saja penuh perjuangan dan pengorbanan. Apalagi dengan beban melanjutkan kuliah. Alhasil, Ijazah SPGnya, plus pengalaman mengajar selama ini, ia langsung masuk dalam golongan 2B dan tidak 2A. Dan itu, sangat ia syukuri.

SK dengan Salah Nama

Sesungguhnya, ia pernah sedikit beruntung saat tahun 1998, berarti sepuluh tahun sebelum SK PNSnya keluar secara resmi tahun 2008 lalu. Namun SK itu terdapat sedikit kesalahan pada namanya. Namanya di SK tahun 1998 itu tidak sama dengan nama yang menjadi identitasnya sebagai guru honor. Namun identitas lainnya sama persis dengan apa yang dimilikinya.

Dan atas saran teman, saudara, dan atasannya, ia mengembalikan SK itu kepada yang berwenang untuk dibuatkan perbaikan. Tapi apa hendak dikata, perbaikan SK yang dimaksudkan tidak pernah kunjung datang meski ia telah berulang kali menyampaikan pertanyaan. Dan gajinyapun tidak pernah keluar.

Hingga akhirnya berujung pula panantiannya untuk mendapatkan SK tahun 2008 itu. Maka sekali lagi, jawabannya atas pertanyaan saya sebagaimana saya kutip dalam awal artikel saya ini benar-benar memberikan gambaran yang jelas dan tegas.

Karena ketika saya berkunjung dan bertamu ke teman saya yang lain, yang terlebih dulu diangkat sebagai guru PNS, baik yang di Jawa atau yang di Sumatera, mereka sudah tidak lagi masuk dalam golongan ekonomi lemah sebagai apa yang dimaksud sahabat saya yang sore ini bersama saya akan berkunjung ke Purworejo untuk sebuah pertemuan temu kangen.

Sebersit tampak menyedihkan. Namun rasa syukur yang dipancarkan sepanjang pertemuan kami itu, justru membuahkan inspirasi tersendiri buat saya yang tinggal di Jakarta sebagai karyawan swasta.

Terima kasih sahabat.

Jakarta, 12 Oktober 2011.

Tidak ada komentar: