Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Oktober 2011

Mengerjakan Tugas = Belajar

Saya menemukan pemaknaan yang sederhana sekali dari kata belajar. Kesederhanaan itu tentunya saya temukan bukan dari presentasi dari sebuah penelitian yang dihasilkan oleh seorang akademisi. Tetapi justru dari cara pandang yang secara tidak saya sengaja terpotret dalam dialog informal saya dengan komunitas sekolah. Dialog berkenaan dengan aktivitas atau kegiatan yang dilaksanakan sekolah dalam kemasan even spesial.

Even Spesial

Kegiatan ini selalu menjadi bagian integral dalam kegiatan belajar efektif siswa di sekolah. Berlangsung hanya dalam durasi satu pekan, yang juga selalu terjadi di tengah-tengah semester. Dalam even spesial kali itu, kami mengambil tema besarnya sebagai pusat eksplorasi adalah makanan. Oleh karenanya kami memberikan judul kegiatan Pekan Makanan.

Karena spesial, maka dalam satu pekan tersebut, seluruh kegiatan belajar dintegrasikan dalam tema yang sama. Dan guru, jauh hari telah merancangnya. Misalnya di TK B, guru dan siswa telah melakukan perjalanan outing yang kami sebut sebagai field trip, ke sebuah usaha perkebunan yang ada di Parung, Jawa Barat. Di perkebunan itu siswa belajar tentang cara bertanam tanaman yang biasa mereka konsumsi sehari-hari, seperti tanaman kangkung, bayam, dan buah-buahan. Juga cara merawat tanaman, dan tentu saja bagaimana tanaman itu dapat menjadi makanan. Untuk itu, sebelum anak-anak meninggalkan perkebunan tersebut, makan siangnya mereka disuguhi makanan yang berasal dari kebun yang baru saja mereka kunjungi.

Di sekolah, dua pekan setelah field trip itu, ketika even spesial itu berlangsung, siswa kembali belajar tentang makanan yang merupakan hasil olahan dari tanaman. Termasuk kegiatan membuat display kelas dan juga mempertunjukkan hasil belajar tersebut dalam bentuk aksi panggung, yang kami sebut sebagai assembly.

Mengerjakan Tugas = Belajar

Nah pada saat beraktivitas belajar seperti itulah, saya bertanya kepada berbagai pihak yang ada di sekolah tentang tanggapannya terhadap apa yang dilakukannya di kelas atau di sekolah. Tujuan pertanyaan ini tidak lain adalah untuk menemukan apakah kegiatan yang dirancang tersebut cukup memberikan makna bagi mereka. Kepada siswa saya tanyakan bagaimana menurutnya kegiatan spesial yang mereka lakukan. Dengan spontan anak itu menjawab:
  • Asyik Pak. Senang. Kan ngak ada pekerjaan rumah. Belajarnya bermain terus. Coba even spesial terus. Kata siswa saya. Saya tercenung dengan jawaban itu. Ketika saya melihat di kelas, tampak guru memberikan intstruksi tentang apa, mengapa, dan bagaimana mereka harus membuat laporan apresiasi setelah bersama-sama nonton acara 'memasak' di tv yang merupakan hasil rekaman. Rupanya kegiatan ini menarik siswa. Dan memang, selama pekan itu, guru tidak memberikan pekerjaan rumah dari buku paket atau buku pegangangan siswa. Pekerjaan rumah di berikan dalam bentuk berdiskusi dengan orangtua tentang makanan favorit keluarga, membuat susunan menunya, dan mencoba membuatnya, serta menuliskan pengalaman tersebut.
  • Senang Pak Agus, soalnya ngak ada pelajaran. Jadi saya juga ngak repot. Jawab salah satu orangtua siswa atas pertanyaan yang sama.
Dengan dua jawaban tersebut, saya membuat asumsi bahwa yang dimaknai belajar oleh sebagian kita adalah kalau mengerjaan pekerjaan dari buku paket siswa saja. Semua aktivitas di luar itu, kita tidak memaknainya sebagai belajar. Jadi ketika anak membaca buku fiksi, menonton serial di televisi, main game di komputer, ngobrol on line dengan teman, adalah bentuk kegiatan yang bukan belajar. Pemberiartian seperti ini, bagi saya, menyedihkan. Karena arti belajar tersebut adalah arti yang amat sangat dangkal.

Dengan artikel singkat saya ini, saya bermaksud mengajak kita semua untuk berefleksi tentang keyakinan kita masing-masing terhadap apa dan bagaimana belajar itu semestinya dan seharusnya. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari pencapaian tujuan ikhtiar kita di sekolah menjadi salah alamat! Semoga. Amin.

Jakarta, 20 Oktober 2011.

Tidak ada komentar: