Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Oktober 2011

Satu Nusa Satu Bangsa

Pagi hari itu, saya kembali mendengar lagu nasional berjudul Satu Nusa Satu Bangsa, dari barisan siswa kelas dua di Sekolah Dasar. Lagu itu terasa menggugah rasa nasionalisme saya. Setidaknya karena lagu itu, saya menjadi teringat atau terkoneksi dengan kasus hangat hari ini, yaitu sebuah wilayah yang bernama Camar Bulan di Kalimantan Barat. Sebuah isu yang oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, disebut sebagai: Kita tetap bersyukur, anggaplah isu-isu tersebut sebagai kado ulang tahun ke-66 Tentara Nasional Indonesia." Disaat rapat dengar pendapat dengan Komisi I di DPR, Jumat (14/10/2011). (ttp://nasional.kompas.com/read/2011/10/14/).

Apa Kaitan Camar Bulan dan Lagu Wajib itu?

Kaitan persisnya saya tidak paham dan pakar dalam hal ini. Namun sebagai guru di sekolah, saya hanya tergelitik dengan dua fakta yang ada pada diri saya pada saat itu. Fakta pertama adalah nyanyian lagu itu yang saya dengar dan saksikan langsung, yang ditampilkan oleh siswa SD sebagai salah satu penampilan mereka di pertunjukkan kelas, yang disaksikan seluruh warga sekolah plus orang tua siswa mereka.

Sedang fakta keduanya adalah sedang hebohnya kasus perbatasan, yang sesungguhnya bukan merupakan kasus kali pertama yang saya dengar atau saya baca di berita. Nah, dari dua fakta itulah saya merasakan betapa sesungguhnya kita semua harus terus menerus memupuk rasa nasionalisme, rasa bela negara. Dan itu hanya dapat kita bangun melalai pendidikan. Dan disinilah letak kaitan itu. Yaitu menjadi bagian dari tugas sayalah untuk menanamkan itu dalam dada siswa yang menjadi amanah saya.

Cinta Tanah Air?

Saya menjadi teringat salah satu dari episode John Pantau di sebuah acara televisi. Sebuah acara yang saya rasakan sebagai pencerah bagi paradoksal perilaku dan cara pikir kita. Dalam episod yang saya masih ingat, dan kebetulan pas dengan apa yang saya tulis dalam artikel ini adalah tentang nasionalisme terhadap cinta produk Indonesia.

Celekanya, John sedang berada di gedung parlemen di Senayan. Dalam tayangan yang saya sendiri lupa kapan disiarkannya itu, John menemui dua tokoh nasional yang menjadi anggota dewan. Kepada dua tokoh tersebut, ia bertanya tentang cinta tanah air. Dan pasti dijawab dengan lancar. Kalau harus diponten, mungkin semuanya akan mendapat nilai istimewa dari gurunya. Tapi giliran John meminta keduanya membuka sepatu, ikat pinggang, dan mengeluarkan dompetnya, baru kelihatan kalau apa yang diponten bagus tadi tidak klop dengan apa yang mereka miliki. Karena ternyata sepatu, dompet, dan ikat pinggang mereka bukan buatan asli Indonesia. Jadi cinta tanah air itu baru sampai pada tahap kata-kata dan belum mendaging dalam hidup. Itulah paradoksal.

Satu Nusa Satu Bangsa

Kembali ke lagu wajib yang dinyanyikan siswa itu, saya tergugah dan bersemangat kembali untuk membelajarkan lagu-lagu wajib nasional yang selama ini kurang berkumandang di atmosfer sekolah. Meski kadang terbersit ragu, apakah siswa dapat memahami apa makna di balik syair lagu-lagu itu? Seperti misalnya arti kosa kata nusa? Apa arti nusa di benak seorang siswa usia 7 atau 8 tahun?

Namun saya harus berani menepis rasa ragu itu dengan terus berkomitmen menyanyikan lagu wajib dengan siswa di sekolah. Dan tentang bagaimana nanti siswa saya menemukan makna di balik syair lagu-lagu yang kami hafalkan, saya percaya proses yang akan membawa mereka pada muara kefahaman. Bukankah anggota parlemen yang ditemui John Pantau di acaranya itu juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa antara hafal dan paham juga masih perlu aplikasi dari sebuah makna yang telah dipahaminya?

Dari situlah optimisme saya selalu lahir. Dan tanpa menunggu lahirnya sebuah generasi yang mencintai tanah air, saya di rumahpun mengajak dan membawa tiga buah hati saya untuk terwujudnya sebuah anak bangsa yang cinta akan tanah tumpah darahnya. Dalam kondisi beruntung atau dalam situasi yang prihatin. Semoga.

Jakarta, 20 Oktober 2011.

Tidak ada komentar: