Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

01 Juni 2011

Terserang Penyakit Berhenti Menulis


Saya beberapa waktu kemarin tiba-tiba merasa terserang penyakit berhenti menulis. Terutama sejak pertengan bula Mei hingga hari ini, Senin, 30 Mei 2011. Penyakit yang benar-benar menyerang jiwa dan raga saya dengan parah. Dengannya, saya dibuat tidak berkutik sama sekali. Jadilah selama waktu itu saya tidak membuat refleksi tertulis di ‘buku’ saya yang manapun. Buku harian, blog, catatan, dan juga halaman tercinta ini. Semua saya biarkan kosong. Tidak tercermin darinya suasana apa yang sedang saya rasakan.

Apakah karena tidak ada kejadian yang pantas saya buat tulisan selama waktu itu? Tidak juga. Ada. Bahkan terlalu banyak jika saya menyebutnya satu persatu. Baik yang berkait dengan apa yang ada dalam diri saya atau juga yang ada di luar diri saya.

Apakah malas yang menjadi virus dari penyakit berhenti menulis itu? Tidak juga. Saya dengan tekad bulat sudah menyingkirkan sejauh yang dapat saya lakukan keberadaan virus malas itu. Walau kadang memang masih datang menghampiri saya, tapi hasil terapi yang saya jalani telah mampu menyingkirkan dan mengkarantinakan virus malas itu.

Lalu apa penyebab terserangnya diri saya ini oleh penyakit berhenti menulis itu? Tidak lain adalah data yang dapat saya percayai bahwa saya menulis hanya menghasilkan bunyi sunyi, katarsis yang tanpa memberikan resonansi pada dunia di sekeliling saya. Data inilah yang meyakinkan pada diri saya untuk tidak perlu lagi menulis. Apapun bentuk tulisan itu.

Tapi hari ini, saya mencoba untuk berpikir yang berbeda. Saya harus membuang jauh motivasi menulis saya. Saya tidak memperdulikan apakah ada atau terjadinya resonansi di sekitar saya dengan tulisan saya itu? Saya mencoba untuk tidak merasa besar atau merasa penting. Tidak juga merasa pintar, merasa lihai, atau juga marasa diperlukan dengan atau dari tulisan saya itu. Saya harus merasa biasa saja.

Saya harus merasa cukup bila ketika berhasil menulis adalah berarti saya telah beroleh pikiran yang akan melahirkan kebugaran dalam ranah kejiwaan. Sehat jiwa inilah tujuan akhir yang harus saya gapai dari kegiatan yang selama ini saya lakuan.  Itulah tujuan baru dari kegiatan saya menulis ini. Bukan untuk yang lain.

Semoga bermanfaat.

Jakarta, 30 Mei - 1 Juni 2011

Tidak ada komentar: