Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

01 Juni 2011

Di Manakah Jujur Berada?


Dimanakah jujur itu berada dalam khasanah hidup kita sekarang ini? Apakah masih berada dalam hati kita masing-masing sehingga masing-masing kita tidak mampu untuk saling mengintip? Apakah berada dalam buku catatan kita masing-masing. Apakah ada di dalam nilai ujian kita sehingga darinya akan tercermin dengan jelas pada angka-angka nilai ujian tersebut? Atau adakah jujur itu hanya tersimpan dengan apik di halaman kamus besar kita? Dimana? Bukankah jujur itu berada dalam ranah operasional kehidupan kita yang bernama amal?

Ini harus saya tanyakan karena saya merasa frustasi ketika menjadikan dan meyakini bahwa jujur adalah modal utama untuk mencapai kehebatan paripurna di kehidupan kita ke depan. Tapi dalam kenyataan hidup, jujur menjadi barang yang asing. Dimanapun di ranah hidup kita, hidup Anda, dan pastinya hidup saya. Jujur menjadi sulit kita jumpai tanpa terkontaminasi ketidakjujuran. Ia seperti menjadi satu.

Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya, belum selesai saya membaca halaman pertama dalam surat kabar, saya seperti mencium gelagat tidak jujur. Demikian juga dalam halaman-halaman berikutnya. Jikalau berita dalam koran atau surat kabar tersebut mempu bersaksi secara ‘live’ di hadapan kita, pasti gelagat itu akan menjadi semakin mudah saya tangkap. Dan kita semua menjadi pasti untuk memberikan ponten kepada pelakuknya.

Bahkan bukan saja ketidakjujuran itu hanya merambah di ranah politik, namun juga telah menghunjam dengan sangat dalam dan membekas dalam ranah kehidupan sekolah. Seperti juga proses pelaksanaan yang menggunakan dana atau bahkan untuk penilaian sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Pendek kata, jujur, menjadi barang yang sangat langka. Dan oleh karenanya, tidak perlu kita mengharap kebaikan bagi generasi penerus kita akan menjadi lebih baik, karena sekarang saja kita telah melihat betapa tidak jujur menjadi salah satu jalan atau indikator tersembunyi dari sebuah nilai di rapot dan atau ijazah keberhasilan anak-anak kita. Sikap seperti ini bukan berarti saya pesimis melihat masa depan, tapi inilah refleksi kengerian saya terhadap apa yang  dilakukan oleh sebagian dari kita. Betapa kita telah mengharapkan sesuatu yang baik dimasa depan namun kita upayakan hari ini dengan sesuatu usaha dan jalan yang tidak baik?

Sulit, karena ketikapun kita telah bertekad untuk melaksanakan proses jujur itu selama mempersiapkan anak-anak kita tumbuh, masih ada penetrasi ketidakjujuran itu dari pihak luar kita yang  juga, sangat sulit bagi kita memproteksinya. Apakah perlu di masa mendatang kita menyita seluruh seluler siswa menjelang dan hingga akhir pelaksanaan ujian nasional?

Tapi haruskah begitu protektifnya kita untuk supaya proses jujur itu dapat berlangsung dengan baik?

Jakarta, 30 Mei-1 Juni  2011.

Tidak ada komentar: