Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

08 Mei 2011

Saya Merasa Hebat, Refleksi Diri atas Realitas Sosial


Sungguh, perasaan bahwa saaya hebat, telah benar-benar merasuki kepala saya dan bahkan keyakinan itu mengendap begitu mendasar dalam batin saya.  Dan bukan tanpa alas an mengapa saya menjadi berkeyakinan seperti ini. Itu semua karena berulangnya perjalanan hidup yang membuat tesis saya semakin mendekati anomaly kebenaran bahwa saya hebat. Setidaknya itulah rekam jejak yang telah menjadi sejarah hidup saya sehingga sekarang ini.
Bagaimana tidak hebat jika saya mampu menjadi salah satu dari yang sedikit diantara generasi saya yang mampu keluar sebagai lulusan mumtaz di sebuah perguruan tinggi paling bergengsi di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika setelah itupun saya mampu masuk sebagai bagian dari staf pegawai di sebuah lembaga yang bonafid di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika sayapun, setelah menjadi salah satu pegawai, masih pula mampu menyelesaikan studi magister juga dengan nilai yang istimewa di sebuah lembaga pendidikan yang juga paling sulit dimasuki oleh calon mahasiswa tidak benar-benar pintar? Bagaimana tidak hebat jika saya juga akhirnya mampu mendepak orang yang sebelumnya diyakini sebagai pendiri dari lembaga yang semula menampung saya hanya sebagai staf dan kemudian mendapat amanah untuk memimpin lembaga tersebut?

Itulah deretan kehebatan saya sejauh perjalan hidup yang telah saya lalui ini. Kehebatan yang akhirnya menjadi kemantapan saya untuk mampu  menerima tantang di sebuah tempat yang sesungguhnya saya tidak atau belum mengetahui secara detil.

Rasa hebat itulah yang pada ujungnya menjadi kesulitan saya. Meski saya yakin benar bahwa apa yang saya lakukan untuk lembaga baru saya itu sebagai sebuah ikhtiar dalam menuju lembaga yang lebih modern, dinamis, dan eksis. Sebuah keyakinan hebat yang begitu berkobar, dan ternyata justru menjadikan halangan terbesar bagi saya untuk tidak mendapatkan predikat hebat selanjutnya?

Sebelum saya lanjutkan uraian ini, saya memohon kepada pembaca untuk tidak tidak menarik kesimpulan buruk tentang saya. Meski telah saya uraikan cukup jelas bahwa rekam jejak saya yang hebat di atas tersebut. Karena refleksi ini sangat boleh jadi akan menjadi peta sukses kita dalam menuju tujuan di masa depan yang jauh lebih bercahaya.

Hebat Paripurna

Pada akhirnya, setelah melalui etape refleksi diri yang jujur, saya menyadari bahwa kegagalan saya dalam menunaikan tugas sebagai komandan di sebuah lembaga tersebut, justru  berawal sekali dari keyakinan saya sendiri tentang betapa hebatnya saya. Itulah yang akhirnya menyadarkan diri saya untuk membuat keyakinan baru bahwa, hebatnya saya adalah sebuah kapital dan potensi. Namun bagaimana saya untuk mampu mengelaborasi lingkungan sekitar saya dalam menggapai mimpi lembaga yang diamanahkan kepada saya, adalah kehebatan yang saya anggap sebagai hebat yang sesungguhnya. Hebat yang paripurna.

Kehebatan pada tahap saya memperoleh ijazah dan sertifikat di dunia pendidikan atau dunia kerja, adalah hebat yang berada pada tahap dasar. Hebat yang dapat memojokkan kita pada rasa percaya diri tidak berkesudahan. Hebat yang justru menjerumuskan kita kepada watak angkuh. Sedang hebat paripurna adalah hebat ketika kehebatan itu justru memasukkan kita ke lokasi kerendahan hati.

Jakarta, 8 Mei 2011.

Tidak ada komentar: