Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 Maret 2017

Kinerja #18; Kinerja dan Implikasi pada Esksitensi

Ketika penilaian kinerja bagi guru dan karyawan setiap tahun kami coba untuk menjadikan tolok ukur bagi kualitas kerja teman-teman secara adil, transparan, dan memang mengukur apa yang seharusnya diukur dalam sebuah kinerja, maka lahir pertanyaan berikutnya kepada kami, para kepala unit kerja di lembaga kami, yaitu; apakah implikasi dari kinerja guru dan karyawan yang bagus bagi keberlangsungan lembaga kami?

Pertanyaan ini lahir setelah beberapa saat yang lalu saya menerima pesan melalui telepon seluler dari teman, yang kebetulan juga adalah anggota dari Pembina di sebuah yayasan pendidikan yang, kebetulan juga, saya ikut terlibat di dalamnya. Pertanyaan yang sederhana tetapi membutuhkan refleksi untuk merumuskan jawabannya. Dan dari pesan singkat itu, saya mencoba melihat dan menengok kebelakang tentang apa saja parameter yang telah kemi miliki untuk menjaga agar teman-teman guru dan karyawan terus menerus terlibat aktif dalam menegakkan reputasi sekolah, baik di mata para peserta didiknya atau juga kepada para orangtua siswanya.

Kepada para peserta didiknya, teman-teman terus menerus melakukan upaya dan ikhtiar bagi keberhasilan mereka dalam mengejar apa yang menjadi cita-citanya, dengan berbagai program tidak saja kepada ranah akademik yang memungkinkan anak-anak memperoleh prestasi yang baik dan juga mampu melanjutkan ke sekolah berikut yang menjadi impiannya, tetapi juga kepada ranah afektif dan psikomotorik.

Tetapi kenyataan dan fakta yang ada di lapangan tidak dapat dipungkiri, bahwa menjelang tahun pelajaran baru, beberapa unit sekolah selalu menunjukkan perkembangan yang kurang memberikan korelasi atas tingkat kinerja guru dan karyawan dengan keberadaan siswa baru. Inilah yang menjadi pemikiran hangat antara saya dan teman-teman di manajemen lembaga yang menjadi amanat untuk kami.

Walaupun kami juga telah mengalami bahwa beberapa sekolah juga mengalami apa yang sedang kami alami. Misalnya sekolah top yang 'harus' menelpon kembali para calon peserta didik yang telah ikut tes di sekolahnya dan ternyata tidak diterima; Apakah Bapak atau Ibu masih berminat untuk menyekolahkan putra/putranya di sekolah kami? Kalau masih kami masih memberikan peluang putra/putri Bapak/Ibu untuk bisa masuk, meski pada hasil tes yang lalu putra/putri Bapak/Ibu tidak kami terima?

Jakarta, 7 Maret 2017.

Tidak ada komentar: