Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 January 2017

Debat Kursi Panjang Depan Warung


Bangku panjang yang ada di warung kelontong depan rumah Pak RT, malam itu, juga sebenarnya malam-malam sebelumnya, nyaris tengah malam, selalu menjadi ajang bagi tetangga untuk berdiskusi, bercengkrama, juga berdebat. Diantara tema yang ada adalah tentang pilihan 15 Februari 2017, Pilkada.

A: Tidak perlu menyanggah saya. Saya tahu persis yang paling benar dan paling mampu serta jujur dari tiga nomor kandidat yang ada. Saya kenal dengan orang-orang yang ada di lingkaran dalam pada semua kandidat tersebut.

Ungkap A dengan semangat. Profesinya memang tukang ojeq di perempatan jalan protokol dekat gedung DPR yang selalu ramai kendaraan dan penumpang bus serta mikrolet. Tapi merasa telah menguasai secara tuntas peta kekuatan Pilkada DKI dari koran pagi yang selalu dibacanya sebelum dan sesudah mengantar pelanggan. Atas kompetensinya itu, ia menjadi satu-satunya peserta diskusi atau bahkan debat yang selalu mampu memaksakan pendapatnya. Seperti debat malam itu.

B: Saya paham. Tapi tidak mau menerima argumentasi agar ikut serta memilih nomormu, atau menjadi bagianmu.

C: Saya hanya ingin menyarankan kepada kita semua untuk menyampaikan profil dan idialisme masing-masing kandidat. Bukan memaksa atau bahkan provokasi. Apalagi memojokkan. Persuasi boleh. Logika bahwa yang jujur dan benar hanya nomormu, katanya kepada A, bisa menjadi sesat.

A: Ngak mungkin salah pendapat saya. Ini argumen yang dibangun dari fakta.

B, yang adalah seorang pegawai kantoran, sejak awal sudah kurang menunjukkan gairah berada dalam forum debat kursi panjang depan warung itu. Untuk itu, tanpa basa basi ia ngeloyor pergi setelah menerima kembalian uang kopi dari Mas tukang warung.

C: Kalau mau membujuk agar saya ikut memilih pilihanmu  dengan kalimat yang seperti kamu sampaikan, tampaknya saya juga tidak berminat.

Katanya. Sementara dia bangkit dari duduk. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

A: Kamu boleh tidak setuju dengan nomor urutku. Tetapi aku berpendapat bahwa yang jujur dan mampu hanyalah dia. Karena aku yakin dari apa yang sudah aku ketahui dari ketiga kandidat yang ada. Kalau kalian, dari mana fakta yang dapat menjadi penarik dari calon-calon kalian.

Meski tinggal berdua, forum debat politik di bangku panjang depan warung kelontong itu tetap seru. Mas tukang warung hanya menjadi saksi. Mungkin ia punya pendapat, tapi karena tidak dalam forum sejak awal, posisinya hanya sebagai pendengar.

C: Kalau sebagai simpatisan saja kalimat dan pilihan katamu untuk membela dan menyuguhkan kandidatmu pada kami seperti itu, saya kasih tahu kamu kalau; Saya pasti tidak akan tertarik dan percaya dengan apa yang kamu omong, dan tidak akan ada yang mau dengar apa yang kamu omong. Itu saja!

Dan tanpa berpamitan, C langsung meninggalkan forum debat itu. Begitu juga dengan Mas warung yang segera bergegas untuk menarik rolling door dan tutup!


Jakarta, 5 Januari 2016.

No comments: