Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 Oktober 2015

Waktunya Ekspor

Banyak kritik dan pendapat serta dukungan, tentunya, tentang kondisi ekonomi Indonesia hari ini. Terus terang, saya yang berak di dunia praksis pendidikan tidak melihat pengaruh signifikan situasi dan kondisi tersebut. Karena masukan dan pengeluaran yang ada di budget sekolah selalu dalam rupiah. Tentu berbeda jika di sekolah pendapatannya dalam IDR tetapi pengeluaran sebagiannya dalam USD seperti sekolah-sekolah yang mempekerjakan tenaga pendidik ahli dari asing yang sebagiannya harus dalam USD. Pasti terasa.

Di sekolah swasta seperti dimana saya berada, paling mungkin adalah beberapa kasus yang terjadi di orangtua siswa yang tiba-tiba harus terdampak pada pekerjaannya sehingga berimpas kepada pembayaran uang sekolah. Namun itu pun hanya kasus yang tidak lebih dari 1 persen dari jumlah orangtua siswa yang ada. Alhasil, dampak itu masih tidak terasa.

Dan karena itu, akal saya justru ketonjok ketika ada lontaran pikiran dari pejabat yang berupa komentar untuk menanggapi kondisi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika.

A : Nilai tukar USD semakin menguat hari ini terhadap mata uang kita. Tanggapan Bapak?
B : Ini sentimen sementara saja. Fundamental ekonomi kita kuat.
A : Apa langkah instansi Bapak atas situasi ini?
B : Saya kira ini saat yang tepat untuk kita melakukan kegiatan ekspor.

Otak saya langsung ketonjok;

1. Memang komuditas apa saja selama ini yang menjadi ekspor andalan kita?
2. Bukankah untuk makan tempe dan tahu saja kita masih menggunakan bahan baku impor? 
3. Mungkin ngak asap kebakaran lahan dan hutan kita jadi komuditas ekspor?

Jakarta, 7 Oktober 2015.

Tidak ada komentar: