Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

05 Agustus 2011

Catatan Perjalanan, Pantai Baron dan Kukup


Lama saya mendengar indah dan memesonanya pantai-pantai di wilayah Gunung Kidul ini. Terutama Baron dan Kukup. Terakhir, anak saya sendiri yang merekomendasikan agar pulang kampung berikut agar menyempatkan waktu dan tenaga untuk mampir dan mengunjunginya. Kami menyetujuinya karena kebetulan sekali kami akan ada acara keluarga di wilayah Prambanan, yang berdekatan dengan wilayah Piyungan. Pertigaan lampu merah terakhir dari kota Yogyakarta sebelum memasuki wilayah Patuk.

Maka Juli 2011 lalu saya dan keluarga baru benar-benar menjejakkan kaki di hamparan pasir putih yang diantaranya berkarang serta ditumbuhi rumput laut. Pagi hari karang-karang pantai yang ditumbuhi rumput laut itu digenangi oleh air laut yang pasang. Yang kemudian berangsur surut dan menampakkan batu karang mulai waktu dhuha hingga menjelang Ashar.


Setelah semua urusan kami dengan keluarga di Jakal beres sekitar pukul 13.00, saya sudah berada di RM Seger Waras yang berlokasi di Patuk. Kami berhenti kembali ketika berada di jalan Baron, setelah beberapa menit meninggalkan kota Wonosari, yaitu pada saat menemukan penginapan disisi kiri jalan yang kami lalui. Bermaksud untuk memesan kamar, namun harus kami tunda dahulu hingga kami sampai di Pantai Baron.

Dengan maksud untuk mencari penginapan yang masih tersedia kamar. Sekitar pukul 16.00, kami sampai di bibir pantai. Inilah saat kali pertama kami dapat merasakan deburan ombak Baron dan menghirup aroma teri setengah kering yang menyengat.
Setelah mencoba mencari kamar di penginapan Kampoeng Baron dan Baron Sari tidak kami dapatkan, saya langsung menuju Pantai Kukup yang berdampingan dengan Baron.

Tidak lebih sepuluh menit kami telah menemukan penginapan yang berupa vila dengan dua kamar tidur.
Malam itu, kami bermalam dalam sunyinya malam pantai Kukup dan dengan hanya ditemani deburan ombak yang tidak terlalu kami dengar, karena antara kami dengan bibir pantai dibatasi oleh bukit karst. Dari pengalaman ini, saya merekomendasikan bagi Anda yang bermaksud bermalam di pantai agar benar-benar bersiap diri untuk sunyi dan terasing dari pengunjung yang lain. Atau bahkan dari penjaga penginapan sekalipun, karena sebagain mereka telah meninggalkan kami sejak pukul 22.00. Ini sebuah pengalaman kedua setelah sebelumnya kami pernah menginap di pantai Glagah yang Ada di daerah Kulon Progo.

Esok hari, ketika ombak malam masih tersisa, kami telah berada di pantai. Tak lupa menyambangi menara pengawas yang berada di puncak karst yang menjorok ke laut lepas dan membentuk semacam pulau karang.
Kami meninggalkan pantai Kukup Dan Baron setelah terlebih dahulu menyambangi pantai Sepanjang dan Pantai Krakal yang berada di sebelah timur dari pantai Kukup.

Inilah pengalaman yang patut Anda rasakan sendiri. Merasakan indah dan pesonanya pantai karst yang berpasir putih.

Palembang-Jakarta, Juli-Agustus 2011.

Tidak ada komentar: