Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

10 April 2017

Mudik Hari Kejepit

Ketika ada hari kerja yang kejepit hari libur, seperti pada Senin, 27 Maret 2017 lalu, saya dan keluarga memanfaatkannya sebagai hari libur dengan menggunakan fasilitas cuti tahunan, untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Dan untuk mengantisipasi macet yang akan terjadi, maka cuti yang saya ambil adalah 3 hari kerja. Kami merencanakan perjalanan sebelum week end dan kembali ke Jakarta Selasa, 28 Maret 2017. 

Selain hari perjalanan yang telah kami rencanakan, sekali lagi untuk menghindari macet atau setidaknya bertumpuknya kendaraan sesama pengguna jalan yang memanfaatkan hari kejepit tersebut, kami juga mengambil rute perjalanan dan jam keberangkatan yang tidak umum.

Maka ketika Jumat, 24 Maret 2017, menjelang waktu Subuh, saya telah meluncur dari Jakarta menuju arah Yogyakarta. Alhamdulillah, meski harus menggunakan satu lajur saya di sepanjang Tol Bekasi Barat hingga Cikarang karena lajur 1 dan 2 yang dipenuhi truk dan kendaraan besar lainnya, laju kendaraan kami masuk di kecepatan 70-80 km/jam. Dan selepas itu hingga jalan Tol habis di Brebes, dapat kami tempuh dalam 3 jam perjalanan.
 
Jalur Brebes-Slawi-Radudongkal-Belik-Purbalingga. Jalur ini memungkinkan kita untuk memandang hijau, hijau, dan hijau. Sementara sebelah kiri bawah jalan terbentang waduk Cacaban.
Di pintu Tol Brebes, yang pernah menjadi simpul kemacetan di Idul Fitri 2016, pagi itu lengang.  Kendaraan dapat melaju dengan normal tanpa halangan. Ini sesuai sekali dengan harapan kami ketika kami harus mengambil cuti di hari kerja, untuk mengawali keberangkatan, se-awal awalnya. 



Jalur selanjutnya adalah menuju Slawi untuk kemudian masuk Pemalang. Tepatnya di Radudongkal, Belik, hingga masuk Kota Purbalingga. 

Jalur Purbalingga-Gombong, kami dibantu Google melalui Klampok- Waduk Sempor-Selokerto (Gombong/Kebumen).

"Kita cepat sekali sampai di kampung." Demikian komentar Instri dan Sulung saya setalah perjalanan berakhir untuk transit di kampung halaman saya, di ujung Kabupaten Purworejo. Dan memang, kami semua merasakan hal yang sama. Perjalanan kami lalui dengan berkendaran menggunakan kecepatan yang santai. Plus dengan 5 kali istirahat, atau setara dengan 2 jam.

Foto bersama di tanggul Waduk Sempor, di Kabupaten Kebumen.

"Ini juga menjadi perjalanan paling mudah dan paling berkesan untuk ayah sendiri." Jawab saya. Meski, kami tetap membutuhkan waktu perjalanan selama 12 jam. Tetapi untuk saya, yang berprinsip bahwa; perjalanan mudik adalah sama dengan perjalanan wisata, waktu tempuh 12 jam adalah sebuah anugerah yang sungguh menggebirakan. Alhamdulillah.

Jakarta, 10 April 2017.

Tidak ada komentar: