Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

22 July 2013

Mudik 2013 #2; Menyosong Mudik

Menyosong waktu mudik, bagi saya khususnya, adalah sesuatu sekali. Ini karena pulang mudik bertepatan hari raya Idul Fitri menjadi yang paling istimewa, selain pulang kampung atau mudik di luar waktu itu. Padahal kalau mau dilihat kenikmatan dari sisi perjalanan, mudk di kala Idul Fitri membutuhkan upaya yang lebih dibanding mudik pada hari normal. Tetapi itulah realitasya.

Ini mungkin karena mudik selama hari raya Idul Fitri menjadi hajat banyak orang. Oleh karenanya di waktu itu, saya dan sekian banyak orang yang masih mudik di Idul Fitri, akan berbondong-bondong pada waktu dan bahkan ada lokasi yang sama. Untuk itu jangan heran bila selama perayaan hari raya Idul Fitri ruas jalanan yang ada d hampir seluruh  Pulau Jawa, yang menjadi lokasi saya mudik, akan begitu meriah dan sumringah.

Itulah kegembiraan saya dan semua yang memiliki hajat mudik, suasana mudik pada hari raya Idul Fitri menjadi begitu istimewa. Tidak akan pernah tergantikan!

Karena alasan itu jugalah, maka saya sudah mencari informasi rute jalan yang menjadi kemungkinan menjadi pilihan. Utamanya rute jalan ketika menuju ke Jawa Tengah bagian selatan. Ini untuk mengantisipasi agar tidak terjebak secara berlarut di satu jalur mudik yang pasti  tidak akan mengenakkan. Moga-moga.

Seperti misalnya mendengarkan liputan Radio Elshinta dalam program Jelang Mudik Lebaran. Yang akan memantau rute jalan yang akan digunakan pemudik sepanjang Idul Fitri di Pulau Jawa. Informasi ini mengntngkan saya sebagai pemudik. Atau juga mencari tahu kepada orang yang kebetulan baru saja melalui jalur mudik. Sehingga di beberapa titik yang menjadi langganan macet di beberapa waktu yang lalu, dapat saya ketahui sebelum keputusan rute mudik saya ambil.

Rute terpenting bagi saya utamanya saat menuju ke Jawa Tengah. Karena waktu yang saya ambil adalah H+1. Meski dari pilihan waktu sudah relatif aman, tetapi persiapan dan strategi juga membuat perjalanan kami akan menjadi lebih menyenangkan.

Bagaimana Kembali ke Jakarta?

Rute kembali ke Jakarta menjadi kurang begitu penting bagi saya. Ini karena saya akan menempuh jarak Jawa Tengah - Jakarta dengan lebih kurang 2 atau 3 hari. Karena saat kembali ke Jakarta, saya akan menyisakan waktu guna bermalam di lokasi wisata, yang tidak terlalu jauh dari rute yang saya ambil. Misalnya Pekalongan, atau Purwokerto, atau Pangandaran, atau Cirebon, atau Kuningan. Dan tentang lokasi mana yang akan kami singgahi, pasti akan menjadi topik bagus untuk kami sekeluarga.

Selain untuk melepas lelah dan sedikit mencicipi lokasi wisata yang ada, setidaknya saya bisa menunda sampi Jakarta lebih lama. Ini strategi saya juga, ketika kemalasan mendera karena  harus kembali ke Jakarta. Maka dengan menunda satu atau dua hari, lega terasa dalam batin saya. Karena, bagi saya, Jakarta adalah lokasi untuk bertarung dalam mengejar pemenuhan hidup keluarga dengan memperoleh riski halal dari Allah.

Untuk alasan itu jugalah, maka untuk sampai ke Jakarta, saya butuh energi yang cukup. Dan energi yang cukup itu, bisa saya dapatkan dengan berjalan menikmati hamparan keindahanNya di sepanjang jalan dari udik dimana tujuan mudik saya menuju Jakarta. Semoga.

Jakarta, 22 Juli 2013.

18 July 2013

Mudik 2013 #1; 75 % Penduduk DKI Mudik

Itulah berita yang saya baru saja buka dan baca, yang  dimuat Kompas, Kamis, 18 Juli 2013. Dijelaskan pula bahwa 5,8 juta diantaranya akan melakukan mudik dengan mengendarai kendaraan bermotor. Dahsyat bukan? Pada hari Rabu, 17 Juli 2013, di dalam rubrik Tajuk Mang Usil, pada harian yang sama, mudik dijelaskan sebagai kembali ke udik. Maka ketika saya kembali kepada angka 75% itu, dalam pikiran saya akan langsung terbayang bahwa 1 keluarga dengan 5 anggota keluarga diantaranya, adalah saya. Yang akan juga mengikuti arus mudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah.

Jangan Olok-Olok Saya

Saya bersyukur bahwa sampai detik ini, menjelang mudik Idul Fitri 2013 ini, belum ada berita miring dengan nada mempertanyakan esensi, dari kegiatan yang akan saya lakukan, mudik. Mudah-mudahan tidak ada hingga libur Idul Fitri berakhir nanti. Karena, meski diolok-olok sekalipun, dan dengan berbagai gagasan sebagai pengganti kegiatan mudik yang dilontarkan para 'pakar', pasti tidak akan saya dengar dan pertimbangkan. Karena mudik bagi saya adalah sesuatu yang paling saya rindukan. Mungkin jauh lebih menggembirakan untuk berangkat mudik sekluarga, di bandingkan saya mendapat tiket keliling Eropa gratis. Sumpah!

Untuk itu, bagi para 'pakar' yag akan mengemukakan fenomena mudik ini, untuk jangan pernah merasa pintar dengan melontarkan pendapat dan argumen yang seolah-olah mudik adalah atraksi kekonyolan. Karena Anda hanya akan kami tertawakan hanya karena Anda tidak mengetahui persoalannya. 

Untuk itulah, biarkan kami merencanakan perjalanan mudik pada tahun ini dengan lebih siap dan lebih menyenangkan.  Harapan kami adalah jalanan yang tidak rusak. Yang permukaan aspalnya membuat perjalanan kami nyaman. Jalanan yang garis markanya putih mengkilap dan bukan garis marka yang sudah lama dan tidak terjelas lagi ketika lampu kendaraan kami para pemudik menimpanya. Yang kanan-kiri jalannya ada cahaya pantul yang jelas, cahaya spot ligth yang memberi kami pejalan malam mengetahui apakah jalanan belok atau lurus.

Saya tidak membutuhkan yang banyak dari penyelenggara negara ini selain itu dan rasa aman. Karena saudara kami di sepanjang jalan yang akan kami lalui akan menyapa kami dengan penuh kerianggembira. Mereka akan tanggap dengan apa yang kami butuhkan sebagai pejalan jauh.

Itu saja. Tidak lebih.

Jakarta, 18 Juli 2013.

Tamu Istimewa di Ruangan Saya

Siang itu, setelah waktu Dhuhur, saya kedatangan delapan orang di ruangan dengan tujuan silaturahim. Sebuah kehormatan bagi saya menerima kedelapan tamu istimewa itu. Karena mereka adalah anak didik kami empat tahun yang lalu, ketika mereka semua masih duduk di bangku SMP. Dan saat itu, ketika mereka datang, mereka akan segera menginjakkan kakinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu di prguaruan tinggi. Jenjang pendidikan yang menandakan bahwa mereka semua bukan lagi sebagai anak remaja.

Banyak yang menjadi topik pembicaraan kami selama lebih kurang satu setengah jam di siang bulan Ramadhan itu. Antara lain, dan yang paling hangat adalah perguruan tinggi pilihan mereka semua. Bahwa mereka sedang berbahagia membagi cerita atas diterimanya mereka di bangku perguruan tinggi yang menjadi favoritnya selama ini. Menjadi impiannya. Dan itulah saat yang paling berkesan yang dia sampaikan kepada saya, yang adalah mantan gurunya empat tahun lalu.

Saya juga bercerita bagaimana para adik-adik kelas di kelas 7, 8, dan kelas 9, sejak tahun kemarin secara rutin dan terus menerus melaksanakan Dhuha dan tilawah Al Qur'an secara 'nasional'. Sebuah program yang waktu mereka dilakukan secara klasikal di kelas mereka masing-masing dengan bimbingan guru yang mempunyai jadwal mengajar di jam pertama. Dan karena rutinnya itu, maka saya sampaikan juga bahwa adik-adik kelas itu mampu menyelesaikan tilawahnya hingga juz 18 selama satu tahun pelajaran. Ini merupakan hasil dari bacaan tilawah yang lebih kurang 2 halaman hingga 4 halaman dalam satu hari.

Saya juga bercerita tentang bagaimana masa-masa yang akan mereka hadapi ketika nanti mereka berada di luar kota, yang berarti jauh dari ayah dan bunda mereka masing-masing, yang berarti adalah babak baru kehidupan mereka untuk menjadi anak kos. Bagaimana mereka akan menjadi anak kos di awal-awal bulan hingga enam bulan berikutnya. Juga bagaimana rasa dan kesempatan yang seolah bebas karena tidak adanya orangtua yang dapat memantau secara fisik. Juga bagaimana rasa rindu ketika masa kos sudah memasuki masa-masa normal, yang biasanya masa itu datang mulau bulan kedua, bulan ketika, atau bahkan mungkin bulan keenam. Pun ketika nanti mereka akan perlu uang untuk keperluan apapun di tanah rantau. Pendek kata, saya mencoba mengajak para lulusan kami itu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang yang mungkin akan menjadi bagian hidup mereka.

Saya tidak ketinggalan juga mengajak mereka bernostalgia. Yaitu saat mereka menjadi siswa kami di bangku SMP. Bagaimana mereka begitu sebelnya ketika harus saya larang untuk bermain futsal di halaman sekolah hanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.15. Juga bagaimana mereka begitu ngeyel dan sering tidak satu pemikiran dengan kami para pendidiknya di sekolah.

Namun lebih dari itu semua, saya merasa senang, bangga, dan bahagia ketika tamu-tamu istimewa kami itu datang menemui kami di sekolah. Saya berpikir dan mengambil kesimpuln bahwa, mereka sekarang datang kepada kami dengan cita rasa dan paradigma berpikir yang total berbeda dengan ketika mereka masih menjadi siswa kami. Tentunya berbeda pada sisi kemajuan. Itulah alasan kami mengapa kami merasa senang, bangga, dan bahagia!

Jakarta, 18 Juli 2013.

17 July 2013

Apa Beda Pak K dengan Pak B?

Apa yang membedakan antara Pak K dengan Pak B yang kebetulan dua-duanya adalah pegawai yang ada di satu lembaga? Untuk Anda yang mengenal keduanya, mungkin akan segera terbayang dua sosok pegawai satu kantor yang berbeda profesi kerjanya, namun berada di kantor yang sama. Dengan bayangan itu, segera akan menemukan keberbedaannya.

Dalam catatan ini, saya pribadi menjadikan kedua sosok itu sebagai bagian dari pelajaran hidup. Yang antara lain adalah pelajaran tentang bagaimana merefleksikan dan memaknai anugerah dan rizki yang kita dapatkan. Jadi, tentang cara mensyukuri apa yang diterima.  Setidaknya syukur dalam hal ucapan. Itulah yang saya lihat dan dengar dalam persahabatan dengan dua sosok itu.

Dalam sebuah peremuan dengan saya, beberapa waktu lampau, Pak K berujar; "Apa yang saya dapatkan dari kantor ini Pak. Dari dulu ya gini-gini saja. Tidak ada perubahan menarik. Untuk saya ikut mejadi anggota koperasi karyawan. Coba kalau tidak. Bisa miskin saya."

Sdang dengan Pak B, saat pertemuan dengan saya beberapa waktu yang lalu, juga berujar, atau bahkan memohon agar namanya tetap dimasukkan dalam staf sekolah. Mengapa? "Iya Pak Agus, alhamdulillah saya mendapatkan rezki keluarga salah satunya dari keikutsertaan saya berada dalam sekolah ini. Jadi saya mohon Pak, meski saya statusnya hanyalah honorer, tetapi jangan dihapus ya Pak."

Beda Cara Pandang

Terhadap dua teman saya di atas yang mengungkpkan kalimat yang berbeda, saya kagum dengan apa yang disampakain oleh Pak B. Dan kepadanyalah saya berguru tentang bagaimana logika rasa syukur itu.

Lebih dahsyat lagi, bahwa saya menemukan tidak ada signifikansinya antara dua pilihan kata dan kalimat dari dua model pengungkapan di atas dengan latar belakag pendidikan keduanya. Karena Pak K baru saja mendapat gelar Megister, sedang Pak B hanyalah lulusan PGA, Pendidikan Guru Agama!

Kemuadian, apa lagi? Dari peristiwa kecil itu, saya mencoba benang merah yang membedakan dua sosok sahabat saya itu. Yaitu, bahwa jenjang pendidikan, tidak selalu linier dengan pola pikir atau cara pendang terhadap kebersyukuran. Pak B yang pendidikannya belum sarjana, saya justru melihat bagaimana logika berpikirnya jalan. Berbeda bukan dengan kalimat yang disampaikan oleh Pak K?

Mungkin itu sekelumit pelajaran yang dapat saya petik dari dua sosok tersebut.

Jakarta, 17 Juli 2013.

Jangan Menahan Ijazah!

Jangan menahan ijazah siswa, meski siswa tersebut masih tercatat belum menyelesaikan kewajiban administrasinya (baca: Uang bayaran sekolahnya, yang lebih kita kenal dengan sebutan SPP), kepada sekolah. Demikianlah ucapan Mendiknas kita yang arif ini disebuah acara edukasi di Jawa Tengah pekan lalu. Sebuah himbauan untuk sekolah yang ada di Indonesia tidak ada kecuali. Himbauan ini disampaikan dengan maksud agar siswa tidak terhambat akses pendidikan berikutnya. Selain juga karena karena hambatan pembayaran uang sekolah dengan sebutan dan istilah apapun, adalah kewajiban pihak orangtua. Oleh karennyanya tidak tepat kalau jika orangtua lalai menunaikan kewajibannya, tetapi justru anak atau siswa yang menerima implikasinya.

Dalam sebuah Tajuknya, Mang Usil menyampaikan pendapatnya tentang aopa yang disampikan Mendiknas itu pada Tajuk Mang Usil di Kompas, yang terbit pada hari Senin, tanggal 1 Juli 2013. Beginilah sentilan Mang Usil itu:



Di Sekolah Swasta

Bagaimana dengan sekolah swasta? Apakah beda dengan sekolah pemerintah? Setidknya itulah yag tersurat dari apa yang tersurat di Tajuknya Mang Usil di atas. Namun sebagai orang yang berada di sekolah swasta, ini kadang menjadi dilema saya sebagai pribadi. Mengapa? Karena memang ada jenis orangtua siswa yang memilih sekolah swasta sebagai tempat sekolahnya putra-putrinya, dan memang sebagian kecilnya seret jika harus memenuhi kewajibannya sebagai orangtua. Dan anehnya, sering juga saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa setiap pagi anak-anak itu diantar orangtuanya dengan kendaraan roda empat yang harganya mendekati 1 milyar? Sekali lagi, ini memang segelintir dari orangtua yag menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. mayoritas diantaranya disiplin dalam memenuhi kewajibannya.

Dan kenyataan ini bukan menjadi pengalaman saya sendiri. Di beberapa sekolah swasta lainnya, juga relatif memiliki kasus yang sama. Bahkan ada juga pengalaman teman, kalau ia bertemu seorang temannya yang kebetulan menunggak uang sekolah. Yang menjadi tidak enak dari teman saya ini adalah ketika ia memergoki orangtua tersebut sedang minum kopi yang satu gelasnya seharga 4 liter beras berkualitas di sebuah tempat minum kopi?

Lalu? Sekali lagi, sebagai orang yang berada di sekolah swasta, kami harus bijak dengan rekam jejak para orangtua, khususnya yang memiliki masalah terhadap keuangan sekolah. Karena ada pula yag memang sedang dirundung masalah uang. Dan kepada orang seperti inilah kami layak memberikan perhatian yang berbeda. Jadi bukan gebyah uyah...

Jakarta, 17 Juli 2013.

15 July 2013

Batal Antri untuk Asinan nan Lezat

Inilah pengalaman saya untuk antri demi sebuah makanan enak khas Jakarta atau Betawi, asinan. Sebuah penganan khas yag saya telah dengar, rasakan, dan bahkan dapatkan beberapa kali sejak saya bekerja di bilangan Pulomas, Jakarta Timur. Meski berulangkali juga saya mendapatkan informasi tentang lokasi dimana asinan enak itu dapat diperoleh, namun belum sekali pun saya secara sengaja untuk menengok lokasinya. Hingga pengalaman itu datang  pada Minggu, 7 Juli 2013 yang lalu. Sebuah kesempatan yang bagus sekali, pikir saya, karena pada saat itu kebetulan sekali saya berada di lingkungan lokasi tes bontot saya untuk masuk perguruan tinggi. Jadi, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Situasi antrian di depan spanduk yang dipasang di depan rumah/warung asinan.
Itulah, maka ketika bontot saya sedang menjalani tes yang baru selesai pukul 16.00, maka beberapa lokasi menjadi sasaran saya bersama istri. Lokasi yang antara lain adalah tempat penjual asinan yang terkenal di Rawamangun itu.

Meski, sebenarnya, saya sendiri merasa ragu untuk dapat menemukan lokasi dimana penjual asinan itu berada. Hanya bermodalkan ancar-ancar dari teman-teman yang pernah datang di lokasi, dan juga bertanya sana-sini, maka sampailah saya berdiri di antrian paling belakang ketika jam telah menunjukkan sekitar pukul 15.00. 

Dan hingga 20 menit berikutnya, ternyata saya belum melihat pergerakan antrian yang signifikan, maka istri saya berinisiatif untuk mencari informasi dari orang-orang yang sudah berada pada posisi depan. Dari beberapa orang yang dianrian depan itulah kami mendapatkan informasi bahwa mereka telah berdiri di lokasi antrian sejak pukul 14.00! Mengapa demikian? Karena setiap plastik paket asinan yang dipilih dan dipesan pengunjung yang antri tersebut baru di racik dan dipaketin! Maka ketika pengantri telah sampai di depan pelayan penjualan pun harus juga bersabar untuk menunggu karena seluruh material asinan sedang disiapkan.

Pada kondisi inilah kami akhirnya memutuskan untuk balik kanan. Mengingat saya harus berada di depan sekolah dimana anak saya mengikuti tes pukul 16.00. Sedang ketika kami meninggalkan lokasi penjual asinan, waktu telah menunjukkan pukul 15.20.

Maka dalam hati sya harus berjanji untuk kembali lagi di anrian itu, entah kapan. "Atau minta tolong orang untuk membelikan Yah." Demikian usul istri saya.
 
Jakarta, 15 Juli 2013.

13 July 2013

Ketika harus Menunggui Anak

Apa yang dapat saya lakukan ketika pagi hari harus men-drop anak di lokasi ujian masuk pergurian tinggi yang akan selesai di sore harinya? Tentunya waktu yang bebas, bila saya adalah penyuka hiking di mall. Sayangnya itu adalah kegiatan yang tidak saya suka. Maka meski saya sampai juga di mall, maka ruang tunggu mall yang pertama  sekali saya tanyakan kepada penjaga pintu utama, yang berdiri  dengan gagah dan tegap di pintu mall. Sementara  orang lain lalu lalang  dengan wajah yang penuh semangat, yang memancarkan gairah untuk menjelajah. 

Sebuah atmosfer yang berbeda dengan apa yang saya idap. Dan di ruang tunggu itu, saya hanya menghabiskan detik dan menit berlalu dengan mencoba membuka head line berita yang berderet di layar twitter. Sesekali mencoba untuk lebih dalam melihat tentang berita yang ada, tetapi lebih sering hanya sekilas sambil terus menerus memutar scroll layar.

Dan tanpa disadari, waktu itu berjalan habis setelah beberapa halaman berita berhasil saya akses. Sebuah waktu yang saya merasa beruntung pada akhirnya. Beruntung bahwa anak  saya melakukan kegiatan yang mengharuskan saya menunggunya dari pagi hingga sore hari di suatu tempatyang asing seperti pengalaman padahari itu. Luar biasa bukan hikmahnya?

Paling tidak itulah pengalaman dari sebuah perjalanan waktu yang tidak buruk, yang saya dapatkan menjelang beberapa hari sebelum Ramadhan 1434 H tiba.

Jakarta, 13 Juli 2913.


02 July 2013

Di Trip Cirebon, Kami Bertemu Tulusnya Berderma!

Ini menjadi hal dan pengalaman kedua yang kami lakukan, pergi ke Cirebon bersama kawan-kawan dengan naik kereta api. Berbeda dengan kepergian kami yang pertama di bulan Maret lalu, untuk keberangkatan kami yag kedua ini dengan  60 peserta. Satu gerbong bukan? Maka suasana sejak awal hari, tepat pukul 06.00 di stasiun Gambir, menjadi meriah. Tentu dengan konferensi siber yang telah seru sejak pukul 05.00 dimana  teman-teman sedang berada di perjalanan, sebagiannya sedang melangkahkan kakinya keluar rumah tinggalnya menuju jalanan untuk tujuan yang sama, mengejar jam keberangatan.

Itulah waktu yang kami sungguh-sungguh telah tunggu bersama menjelang akhir tahun pelajaran 2012/2013 ini. Sebuah semangat yang nyaris tidak ada habisnya. Betapa tidak, kereta hanya dapat dinaiki di stasiun Gambir. Padahal ketika menuju Cirebon, kereta itu melalui stasiun Jatinegara atau bahkan Bekasi. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain selain semua kita harus pasti untuk sampai di stasiun Gambir sebelum pukul 06.00!

Alhamdulillah, tidak satu pun dari kami yang menjadi peserta trip tertinggal kereta api. Semua berangkat bersama. Bahkan sejak kereta berhenti di stasiun Gambir, kami langsung telah berada di kursi sesuai dengan nomornya masing-masing.
Wajah pelancong ketika sampai di Cirebon dan dalam bus menuju destinasi pertama, Nasi Jamblang Mang Dul.
Kegembiraan itu tetap terjaga hingga kereta sampai di stasiun Cirebon. Sebagaimana tampak dalam gambar, dimana kami telah berada di dalam bus tanggung, yang membawa kami selama kami berada di kota Cirebon lebih kurang 10 jam.


Gua Sunyaragi menjadi destinasi kedua kami. Foto bersama di depan pintu masuk pengunjung.
Nasi jamblang Mang Dul menjadi destinasi pertama. Selain ingin merasakan bagaimana nasi jamblangnya Mang Dul yang katanya pantas menjadi destinasi bagi pemburu kuliner, kamipun rata-rata belum sarapan dalam arti yang sesungguhnya. Bukankah kami harus berada di gerbong kereta di Gambir sebelum pukul 06.00?

Tujuan berikut adalah sebuah gua kerang yang juga masih berada di Cirebon. Sunyaragi, namanya. Lokasi yang menjadi tempat foto bagi sebagian rombongan kami yang muda-muda. Saking asyiknya berfoto, hingga melupakan kemana dan apa yang disampaikan oleh pramuwisata yang memang telah sepuh itu.

Lokasi ketika yang kami tuju, yang juga tidak kalah uniknya, adalah tempat kerajinan yang berasal dari kerang. Tempat wah yang merupakan milik Pak Haji Jimmy dan Ibu Nurhasanah. Tidak saja hasil kerajinan yang kecil-kecil yang berasal dari kerang, tetapi juga lampu gantung, dan bahkan perabot di ruang tamu! Gemerlap luar biasa indah!
Semua perabot yang ada dibuat dari kerang!
Dan, jangan pernah bilang pernah ke Cirebon jika belum berkunjung dan berbelanja di sentra batik yang ada di Cirebon, yaitu Trusmi! Inilah area keempat yang menjadi tujuan dari kunjungan kami.

Kami, adalah kelompok yang tetap sabar menunggu para pelancong yang seperti kesetanan berbelanja...
Di Trusmi, justru saya dan beberapa teman tetap duduk manis di sebuah tempat kongko yang disediakan di salah satu sentra batik yang ada. Sementara semua teman kami hunting batik lintang pukang. Ada yang berpindah-pindah toko dengan berjalan kaki, tapi ada juga yang berombongan menyewa becak.

Sore hari, menjelang pulang, kami tentu mencoba makan Empal Gentong, plus sate kambing muda di warung makan Haji Apud, yang lokasinya tidak jauh dari area kampung batik Trusmi.

Salah satu meja yang sedang menunggu makanan yang dipesannya. Sabar...
"Mengapa tidak menginap saja?" Begitu sapa perpisahan Ibu tuan rumah kepada kami ketika kami telah sampai di stasiun Cirebon untuk kembali ke Jakarta pada hari yang sama.

"Kami sama sekali tidak tahu kalau di Cirebon ternyata Ibu menyambut begini rupa ramahnya? Bukankah kami baru mengetahui setelah rencana kami tuntas?" Begitu kami hampur seragam membalasnya.

"Okey ya. Liburan depan semua harus menginap di rumah saya di Sangkanhurip. Harus menginap!"

Di kereta yang menuju Jakarta, kami, anggota rombongan trip Cirebon bulan Juni lalu terhenyak berpikir; masih ada hari gini orang yang setulus itu dalam berderma? Semoga keberkahan selalu melimpahinya. Amin!

Jakarta, 2 Juli 2013.

23 June 2013

Tidak Menolak Tugas Tambahan

Ini kisah teman saya yang dapat menjadi teladan, atau bahan rujukan, atau bahkan bahan refleksi untuk kita bersama. Kisah hidup yang benar-benar dapat secara gamblang mencerminkan sebuah kisah perjuangan dengan hasil yang dapat membuat kami, yang hidup berada di lingkungan pertemannya, merasa senang yang tersanjung dengan keberadaannya. Sebuah kisah yang bercerita tentang kesungguhan seorang anak desa yang nyaris tersisih dalam kehidupan Jakarta, namun justru dari sanalah ia membangun masa depannya yang sekarang ini ditapakinya.

Sebuah kisah hidup yang belakangan ini benar-benr membuat kagum, atau bahkan sebagian kecil teman juga timbul rasa iri, terutama bagi mereka yang  tidak memahami jalan perjuangan teman itu ketika masih berada di bawah. Mereka yang iri hanya melihat akan hasil yang didapatnya tanpa melihat proses yang menjadi perjuangannya.

Saya, dan beberapa teman lain yang  mengenal dekat sejak kami masih sama-sama muda dan tinggal di kos, melihat sosok kawan itu sekarang dengan semua keberhasilannya tetap sebagai bahan renungan dan belajar yang sahih. Bahwa hasil adalah konsekuensi dari sebuah proses perjuangan. Tidak ada hasil akhir yang tidak berawal dari sebuah proses. Itulah sahabat kami yang sekarang berhasil itu.

Salah satu pelajaran yang dapat saya sampaikan di sini sebagai catatan  pribadi saya. Pelajaran itu adalah bagaimana perilaku teman saya yang selalu tidak pernah menolak terhadap tugas yang diberikan. Tugas atasan kerjanya, meski tugas itu berada diluar bidang pekerjaannya. Contoh   pekerjaan itu misalnya adalah mengurus izin mendirikan bangunan, IMB, sementara bidang perkerjaannya adalah  urusan rumah tangga.

Namun pada perjalanan berikutnya, pada masa-masa berikutnya, teman saya itu tidak saja pandai  mengurus surat menyurat di wali kota saja, tetapi juga mengurus hal ihwal tentang membangus rumah! Itulah llmu yang teman miliki, yang kelak di kemudian hari menjadi bekal utamanya dalam menjalani jalan hidupnya, yang membuatnya berbeda dengan kami yang merupakan teman-temannya di kala muda. Itulah yang juga menjadi titik iri hati.

Jakarta, 23 Juni 2013.

21 June 2013

"Seru ya.... Bisa Lihat yang Sudah Terjadi?"

"Seru ya, bisa lihat apa yang telah terjadi?" Begitu pekik takjub seorang anak kepada teman yang duduk di sebelahnya di dekat saya. Persis pekikan seorang anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ketika mereka mendapatkan pengalaman yang menakjubkan! Padahal anak-anak itu adalah anak-anak yang telah duduk di kelas sembilan, kelas 3 SMP! Yang sebentar lagi mereka akan meninggalkan kami di bangku sekolah yang lebih tinggi.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Beginilah jalan ceritanya; Bahwa siang itu, dua siswa saya datang untuk minta tolong kepada kami agar sudi kiranya kami memutarkan ulang rekaman cctv untuk kamera yang menyorot dirinya beberapa saat lalu. Ini karena satu dari anak itu tiba-tiba tersadar dan merasa kehilangan. Ia kehilangan dokumen yang barun saja diambilnya dari guru kelasnya. Dan ia merasa yakin bahwa barang itu hilang karena tertinggal di suatu tempat dimana kamera cctv berada di atasnya. Atas saran dari anggota Satpam, maka datanglah dua anak itu menemui saya di ruangan.

Ketika sampai di ruangan, dua anak itu menceritakan kronologi yang ingin dilihatnya, dan permohonan kepada saya untuk memutarkan rekamannya. Tanpa harus menunggu lama, dua anak itu tampak menikmati apa yang menjadi permohonannya telah tersuguh di depannya. Maka kalimat kekaguman itulah yang keluar dari mulutnya.

Saya sendiri yang melayani apa yang menjadi keinginannya, malah merasa kagum. Bukan dengan apa yang terlihat di layar reply, tetapi karena ada anak didik kami yang begitu antusiasnya pada saat menemukan sesuatu yang membuatnya senang, bahkan terperanggah. Dan ternyata itu hanyalah pengalamannya ketika dapat melihat gambaran dirinya di dalam rekaman cctv.

Lebih kagum lagi karena dia selain menunjukkan antusiasme kepada kami setelah melihat gambaran dirinya dalam rekaman cctv, juga adalah karena sikap santunnya. "Terimakasih banyak ya Pak, saya telah punya pengalaman seru dengan melihat gambar saya sendiri dilayar cctv."

Jakarta, 20-21 Juni 2013.

19 June 2013

Menjadi Sumber Belajar

Kami mempunyai teman lama yang sekarang sudah masuk masa pensiun. Teman dalam satu pekerjaan. Dan meski berbeda posisi kerja, namun karena bertahun-tahun pernah sebagai sahabat di saat apa saja. Tman yang pada awal saya memulai karir sebagai guru, sering pula meminta jasanya untuk melakukan bantuan pekerjaan yang mungkin terlalu sulit untuk saya lakukan sendiri. Kepadanyalah saya berharap bantuan.

Dan meski teman saya itu telah lama memsuki masa purna bakti di kantor kami, masih ada saja kenangan atas dirinya yang hingga kini menjadi bekas, bahkan mengguratkan pelajaran. Sesuatu yang negatif memang, tetapi saya memaknainya sebagai pelajaran positif bagi diri saya. Ini karena dari dialah saya menjadi belajar banyak bagaimana menjalani pekerjaan di kantor dengan rasa, pikir, dan lakukan secara syukur. 

Sebenarnya, tidak ia seorang yang menginspirasi perjalanan saya dalam memegang teguh kesungguhan dalam menjalani karir. Tetapi juga banyak diantara teman-teman lain. Baik mereka yang tetap sama posisinya sbagaimana saya mengenalnya dua puluh lima tahun lalu ketika kami masih sama-sama muda dan tinggal di tempat kos dekat kami bekerja. Atau juga mereka yang sekarang telah menapaki posisi. 

Catatan ini bukan untuk mengenang dan mematri apa yang mungkin salah diakukan oleh teman itu. Tetapi saya justru ingin membalik realitas itu dengan makna yang dilihat dari sisi saya malah pada sisi yang baik. Bukankah dengan pernyataannya itu saya menjadi belajar bagaimana menjadi pegawai yang komitmen dan mensyukuri apa yang menjadi amanah buat saya?

Dan pada posisi seperti itulah saya bermaksud mengucapkan terima kasih atas apa yang telah saya dapatkan darinya. Mudah-mudahan dengan seperti ini jugalah saya mendoakan agar mereka menjadikan masa lalu sebagai sumber belajar untuk menjadi lebih baik. Semoga. Amin.

Beberapa kalimat atau statmennya yang membuat saya harus lebih banyak bersyukur antara lain adalah:

"Apa yang diberikan lembaga ini kepada saya? Puluhan tahun saya bekerja tetap saja begini."

Atau;
"Manajemen baru? Paling sama saja dengan yang sudah-sudah. Mereka semua hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk keluarganya sendiri!"

Atau;
"Rapat-rapat terus. Paling hanya ingin minta agar kita menjadi pegawai yang rajin. Buat apa rajin? Rajin atau tidak, tidak ada pengaruh dengan posisi!"

Atau;
"Dua puluh lima tahun bekerja gaji sama saja. Mestinya naik gaji itu yang besar. Mosok puluhan tahun bekerja gini-gini saja! Manajemen pada dzolim!"

Atau pernyataan lainnya yang sangat boleh jadi saya sendiri telah lupa. Namun dari pernyataan-pernyataan seperti itulah saya menjadi memiliki sikap untuk sekuat tenaga berusaha keras tidak menirunya. Bukankah ini menjadi sebuah pelajaran buat saya dan teman-teman yang lain?

Itulah maka di catatan inilah saya mendoakan agar sumber belajar saya dan sebagian teman-teman itu dapat menjalani hidup lebih baik pada akhir perjalanannya. Semoga. Amin.

Jakarta,19 Juni 2013.

17 June 2013

"Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi"

Kalimat; "Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi",  yang keluar dari beberapa orangtua siswa ketika kami terlibat pembicaraan tentang cara dan kondisi hidup dulu masa mereka menjadi anak-anak, dengan sekarang ketika mereka adalah para orangtua dan siswa kami adalah para anak-anaknya saya dengar. Kalimat yang bermaksud baik sebagai proteksi kepada anaknya. Tetapi sering yang saya lihat di sekolah adalah model anak-anak yang pada akhirnya karena lingkungannya, maka yang terjadi adalah justru berbalik dengan apa yang menjadi tujuan proteksi orangtua.

Itulah etos hidup yag sangat terlihat dari beberapa siswa didik saya di sekolah. Sebuah etos yang sesungguhnya membahayakan masa depan bagi anak-anak itu sendiri. Masa depan yang terlalu teracuni dengan pola hidup mudah, senang, nikmat, tanpa harus memiliki daya juang yang tangguh, ulet, dan pekerja keras.

Mengapa? Karena dengan kondisi semacam itu, anak justru melahirkan karakter untuk berperilaku merasa mudah soal apapun pada diri seorang anak. Anak, dengan kondisi seperti itu pada ujungnya tidak hanya barang dan fasilitas hidup yang dia anggap dan yakini mudah untuk didapatkan.

Seperti misalnya tentang apa yang kami alami ketika kami di sekolah, misalnya beberapa banyak barang-barang anak murid,  yang tertinggal di sekolah, termasuk diantaranya, pernah saya sampaikan dalam catatan saya terdahulu, kaca mata minus merek terkenal. Yang kalau dilihat dari harganya, meski tidak tertera, pastilah tidak murah. Namun kacamata itu terus berada di pos Satpam sekolah tanpa seorang pemilik pun yang mengakuinya. Juga barang lain seperti baju seragam sekolah, kaos olah raga, tempat minum, bahkan hingga kaos kaki. Betul memang semua barang sulit kami menemukan pemiliknya karena semua barang itu tidak diberi nama.

Namun juga merembet pada persoalan yang berkait dengan belajar di sekolah. Anak-anak dengan etos hidup yang terlanjur mudah, senang, nikmat, dan bahkan mewah, maka anak-anak kehilangan semangat untuk berjuang. Meski berjuang untuk memperoleh hasil ulangan sesuai dengan KKM yang ditentukan oleh guru. Komitmen terhadap tugas sekolah yang dituntut guru menjadi ikut rendah.

Akibatnya, dengan bujukan dan dorongan serta supporting guru, maka anak-anak itu akan lolos keluar dari gerbang institusi sekolah. Lulus. Jika itu barada pada posisi di Sekolah Menengah Pertama,  maka perjuangan guru dan lingkungan sekolahnya akan menjadi lebih berat lagi ketika anak-anak itu berada di tingkat pendidikan SMA. Ujungnya?  Dari empiri yag ada adalah home schooling sebagai pilihannya.

Apakah pilihan ini jelek? Tidak juga menurut saya. Namun hal penting sekali yang harus menjadi perhatian kita adalah ketiadaan semangat untuk berjuang dalam mengarungi hidup, adalah sebuah kekalahan besar bagi  anak-anak itu dalam memenangkan masa depannya. tentunya, jika soko guru kehidupannya telah tiada. Bila pencetus etos hidup, penopang kehidupannya telah meninggal menghadap sang penciptanya.

Catatan saya ini bukan merupakan pandangan pesimisme terhadap sebuah cara hidup dan model pendidikan di rumah, tetapi sekedar cara melihat dari sebuah anekdot yang ada di sekolah, yang secara kebetulan saya menghirup udaranya.

Jakarta, 17 Juni 2013.

"Saya Bisa Perkarakan"

Tidak sempurna. Itulah barangkali yang membuat kami selalu memiliki sisi yang salah dan keliru. Meski dalam sebuah kegiatan yang seharusnya memang dibuat untu memberikan kebahagiaan bagi semua. Namun demikian, itulah kenyataannya. Ketidak sempurnaan itu juga menjadi tampak manakala sebuah fakta hanya dilihat sebagai fakta yang berdiri sendiri tanpa harus melihat kronologi dan argumentasi yang melatarbelakanginya.

Tikungan, seperti proses merespon fakta. Tidak hanya lurus, tetapi juga harus ada analisa, refleksi, pengendapan.
Seperti kalau dalam sebuah drama, maka apakah kita hanya melihat bahwa seorang aktor itu menjadi begitu negatif, hanya karena kita semua melihatnya dalam sebuah daftar pelaku? Tentunya ketika kita menerima buku oanduang sebelum masuk gedung pertunjukkan dan kemudian dengan serta merta menjatuhkan penilaian akhir padahal dramapun belum berjalan dan belum kita saksikan apalagi jalan cerita yang runutnya? Bukankah kita masih berada di luar gedung pertunujakkan?

Inilah barangkali yang menjadi catatan saya pada hari ini berkenaan dengan banyaknya manusia Indonesia yang berbicara dan berwacana pada tataran dan ranah hukum tanpa mengendapkan terlebih dahulu  persepsinya tentang sebuah kesan yang belum tentu menjadikannya pada posisi yang ada di kepalanya.

Ironi bukan? 

Karena ironinya itulah maka saya perlu belajar atas apa yang terjadi di sebuah kejadian dari seorang kawan yang begitu mudah keluar kalimat dari kepalanya; "Saya bisa perkarakan!". Pelajaran ini harus menjadi jati diri agar orang menilai bobot tidak hanya pada kalimat pertama apa yang keluar dari pikiran kita!

Semoga.

Jakarta, 17 Juni 2013.

16 June 2013

Pentas Seni Sekolah

Hari itu,  Sabtu tanggal 15 Juni 2013, saya harus pontang panting mengunjungi kegiatan akbar untuk semua komunitas sekolah, yang reguler dilaksanakan pada setiap akhir tahunnya. Pontang panting karena secara kebetulan hari ini saya harus datang untuk 2 acara yang relatif sama dari dua sekolah yang menjadi bagian dari amal bakti saya. Acara di Thamrin, Jakarta Pusat, adalah acara yang menjadi bagian penting dan prioritas, yang harus saya kunjungi menjadi acara pertama saya di pagi hingga siang hari. Sedang acara berikutnya, saya harus kejar dalam waktu kurang dari satu jam, dengan jarak yang lebih kurang 12 kilometer.

Alhamdulillah, bahwa dua acara itu saya dapat datangi dengan tuntas. Sejak awal acara dimulai hingga akhir. Semua menjadi pengalaman yang luar biasa untuk sebuah penutup tahun pelajaran.

Meski sesungguhnya ada dua acara untuk dua sekolah yang berbeda tetap menjadi bagian jelek saya. Karena untuk dua acara tersebut saya tidak mungkin lagi hadir. Satu acara akhir tahun di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Dan satunya lagi di Gedung Nyi Ageng Serang di Kuningan, yang juga di Jakarta Selatan. Ini karena dua acara tersebut sama waktunya dengan yang terpaksa saya kalahkan dengan skala prioritas tadi.

Apa yang menarik dari Pentas Akhir Tahun yang saya hadiri di pagi hingga siang itu? Adalah proses kebersamaan! Kebersamaan dalam kerangka membangun sebuah komunitas pembelajar, itulah yang begitu menarik untuk saya buat catatan disini.

Itulah cita-cita kami ketika kami bersama-sama guru berdiskusi bersama tentang bagaimana mengembangkan sebuah kegiatan yang tidak monoton. Sebuah kegiatan yang selalu kami bangun dari statmen; Kita coba sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya?

Dari pernyataan itulah, kami selalu jalani masa depan dengan eksplorasi. Dan sebagai perjalanan eksplorasi, maka disana SOP yang menjadi kesepakatan kami telah kami kibarkan. Dengan semangat eksplorasi itulah kami selalu memperoleh pembelajaran baru yang akan mendatangkan kebahagiaan yang tiada kira. Kebahagiaan atas diperolehnya pengalaman baru yang seolah berujud 'penemuan baru'!

Itulah kebahagiaan dari sebuah proses pembelajaran bersama di arena Pentas Seni sekolah yang reguler kami selenggarakan sebagai penutup tahun pelajaran. Alhamdulillah.

Jakarta, 15-16 Juni 2013.

15 June 2013

K-13 #8; Bagaimana Membelajarkan Siswa?

Mungkin inilah yang menjadi pertanyaan teman-teman ketika akan mengajar anak didiknya di sekolah, manakala  kami di sekolah mendiskusikan, membicarakan tentang bagaimana teknis pelaksanaan atau penerapan Kurikulum 2013. Yaitu bukan lagi tentang konsep kurikulum itu sendiri, tetapu yang jauh lebih praktis adalah tentang bagaimana teman-teman itu ketika sedang mengajar masalah perkembangbiakan di dalam kelas?

Lalu saya sendiri segera berpikir tentang bagaimana memberikan pelatihan buat guru-guru. Pikiran ini lahir karena saya merasa bahwa disinilah lokasi tanggungjawab saya. Yaitu menemani teman-teman di sekolah dalam semua situasi dan kondisi. Termasuk didalamnya adalah membelajarkan semua atau seluruh materi pelajaran dalam kerangka Kurikulum 2013! Apa materi yang akan saya berikan dan bagaimana membelajarkannya nanti ketika saya membuat pelatihan untuk mereka? Dua hal yang sampai sekarang masih menjadi tugas yang belum mampu saya rumuskan.

Terus terang saja, inilah bagian penting yang sekarang menjadi tugas yang belum juga mampu saya pecahkan. Saya berpikir mengapa tugas seperti ini sekarang menjadi sulit bagi saya? Ini barangkali, menurut saya, karena saya telah begitu lama meninggalkan dunia mengajar secara formal di dalam kelas. Selain saya pun tidak begitu sering lagi melihat bagaimana guru-guru mengajar di kelas. Jadilah saya ini seperti apa yang saya alami sekarang ini.

Pernah ada ide lahir untuk mencoba membuat praktek mengajar di kelas dengan materi rambu-rambu lalu lintas. Atau juga pernah terlintas ide untuk mengajarkan tentang nomor kendaraan bermotor di Indonesia. Tapi kemudian ide itu buntu ketika sudah sampai kepada kegiatan belajarnya. Bagaimana kalau saya membuatkan aktivitas belajarnya dengan menggabungkannya dengan prmbelajaran geografi, yaitu dengan belajar peta?

Tapi, semalam, ketika tanda nomor kendaraan tersebut telah selesai saya buat dalam bentuk presentasi, saya kembali berpikir. Apakah tidak sebaiknya saya bagi saja teman-teman guru yang menjadi beberapa kelompok, yang adalah seluruh peserta pelatihan itu. Yang kemudian untuk setiap kelompoknya saya berikan tugas membuatkan.mulai dari perencanaan mengajar hingga model pembalajarannya serta mendramatisasikannya?

Adakah usulan dari pembaca catatan ini?

Jakarta, 15 Juni 2013.

Mengalah Saja

Mengalah. Itulah pilihan yang diambil teman ketika harus menerima kalimat tidak baik, dan tentunya tidak enak untuk dicerna dalam benak dan pikiran, ketika berlangsung diskusi di  dalam sebuah forum rapat. Kalimat yang tersusunnya tetap dengan kata-kata yang santun. Namun pada makna tersiratnya benar-benar menohok, memerosokkan, bahkan sekaligus menghunjam, merendahkan, atau bisa jadi menyelekan. 

Kalimat yang sengaja disusun untuk mengandung dan memiliki sayap merendahkan. Oleh karenanya tidak salah bila saya yang ikut serta mendengarnya kalimat itu, memang memberikan tekanan pada kerarki kepandaian, herarki sosial,  yang ingin dilahirkan pada anggota dan peserta rapat. Memberi kesan bahwa teman yang menjadi sasaran atas alimat itu untuk tidak menjadi pemenang. Sebuah isyarat, yang saya sebagai bagian dari perseteruan horisontal itupun turut merasakan. Amboi, cerdik nian!

Itulah kesan dari apa yang saya dengar langsung. Namun demikian, saya sebagai salah satu peserta rapat, melihat kecepatan penyampaian kalimat yang bertendensi itu justru melihatnya terbalik. 

Bahwa sesungguhnya ketika beliau mengatakan kalimat yang bermaksud untuk merendahkan kawan yang ada di dalam forum rapat tersebut, justru berbalik kepada dirinya sendiri. Artinya, kalimat-kalimat itu bukan membuat forum menjadi mahfum bahwa korban adalah lebih rendah, dalam hal immaterial, dari si pelontar kalimat, tetapi justru sebaliknya. Ini kesan ini, anehnya, menjadi kesepakatan para peserta rapat tanpa harus perlu membulatkan kesepakatan. Kesepakatan bawah sadar!

Entah dari mana untuk memberikan alasan atau argumentasi atas apa yang saya tangkap dari kalimatnya. Namun itulah aaura yang saya tangkap. Apalagi  sahabat saya yang menjadi sasaran dari kalimat yang merendahkan itu, justru tidak memberikan reaksi apapun.

Ia hanya terdiam ketika penjelsannya tentang sesuatu yang berkenaan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah nanti, langsung dipotong dengan kalimat santun tapi pedas tadi. Kalimat yang menohok itu. Sungguh sebuah atraksi dialog yang menakjubkan akal dan prrilaku.

Itulah sebuah fragmen intelektual, yang menurut saya benar-benar berhasil memberikan gambaran riil tentang suatu ranah intelektualisme yang bermartabat. Bahwa kalimat merendahkan itu keluar dari sosok yang sangat mahir dalam memperbincangkan suatu hal, atau dari seorang yang berhasil memperoleh sertifikat pasca sarjana dari sebuah universitas ternama, namun dengan sekonyong-konyong, seketika habis sekaligus ludes hanya karena satu kalimatnya yang bertujuan untuk merendahkan orang. Itulah realitas yang saya tangkap.

Itu pulalah barangkali yang sungguh telah dirumuskan oleh pepatah Jawa yang berbunyi; Ajining diri ono ing lathi. Bahwa harga dari seseorang, kita, ada pada tutur bahasa. Dari susunan kata dan kalimatnya.

Ini jugalah yang saya catat ketika kepada saya disodori satu draft buku yahg berisi kumpulan 19 cerita pendek anak-anak. Cerita yang berisi tentang perilaku manusia, yang ternyata ditulis dengan begitu lancar dan fasihnya oleh anak didik di sekolah kami...

Jakarta, 14-15 Juni 2013.

14 June 2013

Membaca Cerita Siswa, Mengungkap Siapa Mereka!

Siang itu, saat saya berada di ruang kantin sekolah, saya bertemu dengan guru bahasa kami, untuk diserahkan draft Buku Kumpulan Cerita Pendek anak-anak didik kami. Sembari memegang piring makanan di tangan kanan saya, bundelan buku itu saya bawa menuju ruangan guru yang ada di dekat kantin sekolah tersebut. Tentnya dengan perasaan yang sangat tidak sabar untuk segera memulai membaca. Maka dengan hati-hati, menjaga agar tangan saya benar-benar bebas dari menyak yang berasal dari makanan yang sedang saya makan agar kertas dari kumpulan cerpen in tidak ternoda oleh ulah saya, sya memulai membuka-buka lembaran-lembaran berharga itu. Itulah awal ketertarikan dan keterkesanan saya kepada apa yang dihasilkan oleh anak-anak didik kami. 

Memberi Ekspektasi

Apa yang terkumpul dalam draft buku Kumpulan Cerita Pendek ini adalah kumpulan dari ekspektasi guru terhadap kemampuan menulis kreatif. Maka di kelas enam, sebagai akhir dari tingkat pendidikan di sekolah dasar, guru menuntut anak untuk menuliskan sebuah karangan kreatif tentang apa saja yang dapat menjadi tema tulisan. Kegiatan latihan menulis yang sekaligus merupakan ekspektasi terhadap kompetensi siswa itu, berulang pada setiap akhir semesternya. Dn nampak sekali itulah yang terlihat dari apa yang ada dalam tulisan-tulisan mereka dalam draft buku itu.

Nampak sekali bagaimana anak-anak itu memiliki khasanah kosa kata yang luar biasa lengkap jika kami perbandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Bahkan ada diantaranya yang latar dan atmosfer yang dibangun dalam karangannya itu adalah sebuah situasi yang sesungguhnya asing. Misalnya tentang cerita yang berlatar tentang musim semi. Bukankah kita di Indonesia hanya memiliki musim hujan dan musim panas?

Juga mengenai ide dan gagasan cerita yang menurut saya, termasuk rumit dan ada malah yang detil. Betapa tidak anak-anak itu sepertinya fasih bercerita tentang suatu penyakit dengan sejumlah implikasinya. Atau juga malah ada yag bercerita tentang sesuatu yang memang benar-benar baru, misalnya tentang museum binatang dan tumbuhan, tetapi khusus bagi benda-benda langka atau bahkan nyaris dan sudah punah. Untuk apa? Agar para pengunjung museumnya nanti terbangun nostalgis betapa tumbuhan atau binatang itu pernah ada ketika nenek moyangnya dulu masih sehat. Bukankah pengetahuan itu semua, ketika mereka membuat tulisan, adalah pengetahuan yang memang harus terbangun dari sebuah kegiatan membaca yang intensif? Artinya? Mereka itu, anak-anak yang tulisannya ada dalam kumpulan buku itu, adalah generasi yang memang gemar membaca!

Dan saya yakin sekali bahwa keterampilan itu hanya bisa terbangun dengan kokoh bersumber dan berangkat serta berawal dari  ekspektasi guru ketika melakukan pembelajaran di dalam kelasnya!

Mengungkap Kepintaran

Dengan membaca 15 tulisan dari 19 tulisan yang terdapat dalam draft Buku Kumpulan Cerita Pendek tersebut, saya sekaligus sedang menikmati bagaimana kepintaran anak-anak itu. Tentang bagaimana ia biasa menghabiskan waktunya dengan buku-buku sebagaimana yang tergambar dalam tema-tema tulisannya yang tidak terduga karena dalam dan luasnya. Juga bagaimana ia mengungkapkan sesuatu dengan kosa kata dan bahasa yang mengalir dan runut. Juga bagaimana ia menghentak saya sebagai pembacanya, terkaget ketika tulisan itu harus berakhir. Plus, orisinalitas cerita yang mereka reka. Benar-benar megungkap siapa sebenarnya anak didik kami itu! Mereka adalam pemilik kepintaran yang bernalar! Mereka adalah generasi cerdas, dan tentunya tidak hanya pintar.


Mensyukuri Hasil Kerja

Hanya sangat berharap agar kiranya draft buku ini dapat segera menjadi sebuah buku yang nyata. Sebagai bagian dari mensyukuri jejak, tentang apa yang telah dilakukan oleh anak-anak kepada sang waktu dan sekaligus kepada masa depannya. Semoga!

Jakarta, 14 Juni 2013.

13 June 2013

Belajar Mengerti

Tentang mengerti, pada catatan ini saya sedikit mengutip apa yang saya dapat tentang mengerti sebagaimana konsepsinya Stephen R Covey, almarhum dengan 8 habitnya itu. Dimana dalam konsepsinya, mengerti dikonfrontasikan dengan dimengerti. Adalah dua konsep komunikasi yang saling menghasilkan implikasi.

Dalam konsepsi komunikasi itu, secara lebih sederhana sebagaimana yang saya pahami, mengerti adalah syarat awal, atau modal pertama dalam menjalin keberhasilan berkomunikasi seseorang terhadap orang lain, sebagai upaya agar dan untuk menjadi dimengerti. Jadi, dalam hukum komunikasi Covey, bukan meminta orang lain untuk mengerti diri kita terlebih dahulu,  yang menjadi awal dalam keberhasilan sebuah hubungan sosial. Namun justru sebaliknya, jikalau kita mampu mengerti, memahami orang lain, maka terbukalah pintu bagi kita bahwa kita akan dimengerti oleh orang lain.

Sejajar dengan pengertian mengerti di atas, maka dalam catatan ini, mengerti saya maknai sebagai ikhtiar saya dalam memberikan bobot kepada apa yang saya sedang dapat dan rasakan sekarang ini berbanding dengan bagaimana dan seperti apa yang sedang dirasa dan dilakoni oleh orang lain atau pihak lain. Tentunya dalam khasanah atau ranah yang pararel. Jadi beda bahasa pengungkapan, namun tetap satu rasa.

Makna ini saya temukan baru saja ketika saya bertemu dan berbincang dengan teman-teman yang bergerak dalam profesi yang persis sama. Dimana teman marasakan bagaimana ia merasakan sebuah tahap kehidupan profesional yang lebih menenteramkan ketika ia berhasil melihat kondisi, fakta, data, dan atmosfer yang sama dengannya namun berbeda dalam memaknainya.

Teman lain memaknai kondisi itu sebagai angka enam, sementara dari kacamata teman itu memaknainya dalam angka sembilan! Mengapa berbeda? Inilah yang menjadi pelajaran, yang berhasil disimpan oleh teman saya itu. Dan karena saya mendapatkan ceritanya, maka sayapun menjadi bagian dari pembelaaran atas cerita yang disampaikannya.

Apa misalnya? Tidak perlu jauh dan muluk-muluk. Teman saya bercerita bahwa kawannya yang jga guru tersebut, harus sudah sampai sekolah pukul 07.00, karena anak-anak didiknya akan memulai pelajaran tepat pada pukul 07.15. Dan baru dapat meninggalkan sekolah lebih kurang 20 menit setelah anak didiknya pulang sekolah seusai menjalankan Shalat Ashar, sekitar pukul 16.00!

Jadi, dengan mengerti rasa dan cita apa yang menjadi kewajiban teman-teman secara sungguh-sungguh, maka dari sana pintu pengertia itu terbuka untuk saya. Inilah pelajaran yang saya dapat dari melihat bagaimana orang menjalankan hidupnya, sebagaimana saya juga melakukannya. Semoga!

Jakarta, 13 Juni 2013.

11 June 2013

Agar tidak Merasa Paling Menderita

Dalam sebuah seminar dimana saya diminta menjadi fasilitator,  tidak jarang keluar pernyataan dari peserta yang adalah guru bahwa kondisi mereka,  ada dalam keadaan ketidakadilan. Ini  karena mereka merasa bekerja jauh lebih berat, dalam hal ini mengajar dengan tanggungjawab lebih banyak dari pada tuntutan dari sekolah, seperti misalnya  mereka harus memiliki tatap muka sebanyak 24 jam pelajaran. Alhasil, sekolah yang akan menambah kelas pararel atau rombongan belajar menjadi isu tidak menguntungkan bagi guru-guru. Ini karena dalam penambahan kelas pararel atau romobongan belajar tersebt akan berimplikasi kepada penambaan jumlah jam megajar secara menyeluruh. Ujungnya adalah penambahan jumlah jam tatap muka di dalam kelas bagi semua guru. Meski secara hitungan dengan basis struktur kurikulum yang ada, jumlah jam tatap muka teman-teman itu masih berada pada rata-rata 18 hngga 20 jam pelajaran perpekanya. Artinya, masih kurang dari 24 jam pelajaran tatap muka menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 35 ayat 2.
UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Inilah mengapa saya menyebutnya sebagai perasaan yang seolah-olah paling menderita. Merasa bahwa seolah-olah aturan yang lahir itu memag sengaja dibuat hanya khusus untuknya. Tanpa melihat dengan kacamata yang jauh lebih lebar dan terang. Bahwa 24 jam tatap muka itu adalah syarat minimal aau sekurang-kurangnya. Juga tidak melihat bahwa 24 jam tatap muka itu dilihat dari 42 jam tatap muka yang ada di kelas pada satu pekannya menurut struktur kurikulum di sekolahnya.

Akan tetapi, untuk menghormatinya, maka lebih baik saya mengajak teman itu untuk melihat jadwal pelajaran yang ada di sekolah lain, yang memang masuk kelasnya normal sebagaimana yang ada di sekolahnya, namun pulangnya jauh lebih akhir.

Itulah yang saya temukan kepada sekolah-sekolah yang teman-teman gurunya bekerja jauh lebih banyak pun dengan semangat yag jauh lebih menggelora. Gaji? Mungkin jauh lebih sedikit dari teman saya yang komplain tentang mengajar tersebut. Dan sekolah-sekolah itu saya temukan di berbagai daerah yang sempat saya tengok dan kunjungi untuk karena suatu hal dan keperluan.

Dan dari pengalaman melihat bagamana sekolah lain secara lebih seksama, saya sendiri menjadi lebih mensyukuri dengan apa yang ada dihadapan saya. Apa yang menjadi amanah kepada saya sebagai guru. Dari pengalaman itu, saya juga menjadi memiliki perasaan bahwa kondisi saya adalah kondisi yang bukan paling menderita!

Jakarta, 11 Juni 2013.

04 June 2013

Ada Usulan Siswa tentang Perbaikan Toilet

Seperti biasa, hari-hari saya diruang kerja, selalu ada beberapa siswa yang menjadi 'tamu' tetap saya yang tidak pernah saya undang kedatangannya. Meski demikian, saya pribadi tidak pernah memintanya untuk segera meningglkan ruangan, pun juga mempersilahkan. Mereka adalah beberapa anak didik kami yang memang istimewa. Letak istimewanya dari kaca mata saya, adalah keberaniannya atau rasa biasanya untuk masuk ruangan saya walau mereka itu hanya ingin bertegur sapa.

Dan dari mereka-mereka itu, saya mendapatkan banyak hal menarik yang pada ujungnya menjadi catatan perjalanan karir saya sebagai guru dan duduk di ruangan saya yang memang mudah dijangkau anak-anak istimewa tersebut. Diantara mereka ada yang tertarik dengan berbagai pajangan yang ada di rak buku saya. Dan darinya, ia banyak menyampaikan berbagai pertanyaan kepada saya. Tentang kejuarannya, tentang alasan mengapa piala itu disimpan di ruangan saya, tentang darimana cindera mata dari sekolah lain itu ada dan menjadi koleksi di lemari buku saya, tentang foto-foto yang saya letakkan di atas meja, atau tentang berbagai hal yang tidak ada batasnya. Mereka mengajkan pertanyaan tentang apa saja yang ada di depannya, yang menjadi perhatiannya.

Saya pun memberikan penjelasan tentang apa yang menjadi konsennya itu dengan sepenuh kegembiraan dan antusiasme. Dan ketika anak-anak istimewa itu datang di ruangan, maka saya akan memutar kursi saya yang semua menghadap ke keyboard komputer ke rah dimana mereka berada. Karena mereka kadang berdiri di seberang meja kerja saya, kadang berdiri di belakang saya, kadang duduk di kursi tamu.

Atau sering juga seorang anak kelas 1 SD yang harus mampir dan menngok saya ketika saya sedang bekerja atau kadang sekedar ia berpaitan untuk pulang.
"Saya pulang ya Pak Agus."
"Baik, sampai ketemu besok ya Alif. Terima kasih sudah menengok Pak Agus."
Begitulah lebih kurang dialog saya dengan salah seorang siswa, kalau anak kelas 1 SD itu berkunjung ke ruangan saya untuk berpamitan.

Perbaikan Toilet

Begitulah keseharian saya di sekolah. Seperti pada siang itu di akhir bulan Mei. Seorang anak datang dan masuk ruangan saya untuk sekedar 'berjalan-jalan'. Ini karena saya melihat teman-teman satu kelasnya sedang berlatih untuk kegiatan pentas akhir tahun pelajaran di hall utama sekolah.

Nomor 11, adalah usulan perbaikan dari siswa kami.
Dan yang menjadi perhatiannya ketika masuk ruangan saya adalah catatan perbaikan berbagai hal sepanjang liburan akhir tahun ini, yang merupakan hasil diskusi saya dengan bagian teknik di sekolah. Dari 10 agenda perbaikan yag saya tulis di papan tulis ruangan, ia memperhatkan satu persatu. Sesekali ia bertanya tentang rencana kami untuk membangun ruang musik, atau tentang yang lainnya.

"Apakah saya boleh menambahkan perbaikan yang harus dilakukan Pak?" Tanyanya.
"Silahkan. Apa lagi yang harus kami perbaiki?" Tanya saya lebih lanjut .
Tanpa memberikan jawaban kepada saya secara lisan, ia telah menuliskan tambahan agenda perbaikan. Yaitu pada poin 11. Berupa perbaikan toilet.

"Apa Pak yang harus kita perbaiki dari toilet tersebut?" Tanya pegawai bagian teknik kepada saya esok harinya ketika saya beri tahu ada tambahan agenda.
"Saya belum tahu pasti. Tapi tolong temui Alif kelas 5. Dia yang mencantumkan agenda tambahan itu!"

Jakarta, 4 Juni 2013.

01 June 2013

Ada Basar di Cipete

Jumat pagi, 31 Mei 2013, saya meneria pesan elektronik teman untuk kegiatan di sepanjang Jalan Cipete, dan sara agar masuk tempat pertemuan melalui Jalan Gaharu atau Jalan BDN. Tidak lain karena sepanjang hari Sabtu dan Minggu, 1-2 Juni 2013 seluruh jalan Cipete Raya akan digunakan perhelatan warga tahunan dengan tauk Cipete Vaganza. 

Dengan informasi itulah maka saya telah bersiap untuk mengambil jalan memutar, sebelum sampai tujuan pertemuan mingguan. Alhamdulillah semua sesuai dengan rencana rute yang telah saya rancang pada saat saya membaca surat elektronik teman tersebut. Memutar dan menjauh sebelum akhirnya sampai tujuan. 

Mungkin karena tidak ada informasi, maka kegiatan itu cukup memberikan implikasi yang membuat tidak nyaman bagi para pengguna jalan. Itulah pemandangan yang saya lihat sejak saya sampai di daerah itu pada pukul 10.00 hingga saya meninggalkan lokasi pada pukul 14.00. Khususnya di sepanjang jalan tembus yang menuju pada dua jalur jalan sibuk. Di timur adalah Jalan P Antasari, dan di wilayah barat yaitu Jalan Fatmawati. Antri hingga di mulut kedua jalan ramai itu lebih kurang sepanjang 1 kilometer.
Suasana CipeteVaganza pada Sabtu, 1 Juni 2013.
Ketika siang itu saya dan istri menyusuri sebagian dari Jalan raya, di lokasi basar tersebut, saya banyak menemukan produk dagangan, baik makanan, pakaian, atau bahkan jualan kendaraan bermotor, yang pastinya tidak semuanya bernuansa Betawi.

Namun demikian, dari seluruh yang tampak di hadapan kami dan juga yang terdengar di telinga kami, kami benar-benar menemukan atmosfer Betawi. Di beberapa sudut banyak saya menemukan penjual kerak telor yang sepertinya tidak kunjung berhenti mensangrai adonan di penggorengan. Juga suara penyanyi yang melagukan lagu-lagu Betawi di atas panggung yang berada di Taman Gajah, yang posisinya persis disisi Jalan Cipete.

CipeteVaganza ini menjadi lebih terasa nyaman, karena dukungan Restoran-Restoran yang memang sejak lama sepanjang jalan ini sebagai pusat kuliner di daerah Cipete-Cilandak, bahkan Jakarta, yang menutup usahanya. Mungkin inilah praktek toleransi!

Jakarta, 1 Juni 2013.

Siklus itu Bernama, Akhir Tahun Pelajaran 2

Masih menjadi lanjutan dari catatan saya sebelumnya, bahwa Mei dan Juni pada setia tahun pelajaran, akan menjadi masa-masa akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Dan masa-masa ini akan menjadi bagian yang paling membuat saya dan teman-teman guru sebagai waktu untuk mengakhiri sebuah perjalanan sekaligus juga dapat sebagai waktu untuk menengok kebelakang sebelum memulai perjalanan ke depan sebagai siklus ulangan berikutnya.

Dan sebagai guru di sekolah formal, saya selalu akan melihat bahwa siklus-siklus yang akan kami lalui semoga bukan sekedar siklus ulangan yang menjadi tumpukan pengalaman semata. Sebagai bagian dari pembelajaran, kami ingin menjadikan siklus-siklus tersebut adalah siklus belajar. Berulang selalu dan bertumbuh senantiasa. Itulah yang menjadi mimpi dan sekaligus visi kami. Semoga.

Seperti apa yang saya saksikan pada siang yang lalu, yang menjadi akhir dari bulan Mei, ketika saya menyaksikan seluruh siswa kelas 6 di sekolah kami dengan bimbingan dan arahan dari para gurunya sedang belajar untuk penampilan akhir mereka di satuan pendidikan sekolah dasar. Ini adalah penampilan yang berulang pada setiap akhir tahunnya. Namun dari perulangan yang kesekian kalinya sejak saya beserta teman-teman, saya selalu mencatat adanya kejutan pembaruan dari proses belajar tersebut. Inilah yang membuat saya dan teman-teman selalu optimis untuk melakukan sebuah kegiatan rutin dengan nafas dan semangat yang selalu berubah-ubah, selalu mencoba yang berbeda dan baru. Perubahan yang lahir dari sebuah keinginan untuk melakukan yang berbeda pada setiap tahunnya.

Itulah yang menjadi catatan saya dalam tulisan ini. Bahwa setiap siklus tahun pelajaran yang kami jalani, saya memperoleh semangat yang terus tumbuh membesar bersama teman-teman yang selalu memiliki daya juang dan kreatifitas yang selalu lahir tiada hentinya.

Inilah sebuah harapan bagi saya dan kami semua yang berada dalam sebuah komunitas yang eksistensinya ditopang oleh inovesi dan semangat memperbaharui diri. Ini jugalah yang membuat saya dan teman-teman yang berada di dalamnya selalu menjadikan pengabdiannya sebagai guru menjadi lebih bermakna. 

Maka tidak salah bila saya bersyukur akan apa yang saya dapatkan pada setiap akhir tahun pelajaran. Memperoleh pengalaman belajar yang selalu berubah dan berbeda, bersama teman-teman yang sumringah dalam menunaikan kewajibannya sebagai pendidik. Terima kasih.

Jakarta, 1 Juni 2013.