Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 August 2026

Menunggu Bus Jemputan

 

Sabtu, 27 Juni 2026;  Bagaimana saya harus bercerita tentang kendaraan Listrik di Beijing? Yah, saya kira populasi mereka nyaris 90 %. Baik kendaraan roda 4,  roda 3, dan roda 2.

Namun ada yang anomaly. Dimana untuk kendaraan roda 4, di negeri kita yang pertama menawarkan dengan harga yang tidak selangit di awal keberadaannya Adalah Wuling, dan di Beijing, saya tidak melihatnya sama sekali.

Aneh bukan?

Apa yang menjadi penyebabnya, Yangyang sendiri pernah menyampaikan ketika di awal-awal memandu kami. Bahwa Wuling tidak kelihatan di Beiijing. Yang banyak berseliweran Adalah BYD.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum Adalah kendaraan roda dua, yang hanya terlihat sepeda Listrik atau motor Listrik. Tiodak ada ada sepeda motor konvensional.

Sementara roda tiga, juga beberapa terlihat berseliweran di jalan raya.

 

Makan di Chinese Royal Gastronomy Museum

 

Makan

Apa sih kepentingan makan untuk saya khususnya? Supaya kenyang karena untuk memenuhi rasa lapar? Karena rasa ingin mencicipi saat panorama makanan yang menggiurkan?

Nah jika demikian, apa menjadi penting dengan apa yang saya makan? Atau dari mana asal muasal makanan yang saya santap? Bagaimana proses bahan makanan itu hingga datang di meja makan?

Juga baru saya sedikit tahu, dan memancing otak saya untuk mudeng saat badan saya tidak lagi proporsional. Meski terlambat ilmu datang. Tapi itulah nyatanya.

Saat waktu makan saya tiba, normalnya  nasi saya tuang di piring dengan lauk pauk yang tersedia diletakkan di dalamnya. Plus kuah dan sayur bila ada. Menjadi satu. Menjadi sejenis adonan. Menjadi nasi rames.  Ini sudah menjadi bagian dari hidup. Bagaimana jika nasi bungkus?

Namun di museum makan ini, nasi yang saya nanti tidak juga tiba dihidangkan. Makanan datang bertahap sembari mendengar kisah makanan yang tersaji. Bahan apa, bagaimana memasaknya, bagaimana menyajikannya, apa faedahnya, dan juga bagaimana para kaisar menyantapnya...

Wah, harus bersabar. Walau saat nasi tiba, ternyata tidak lebih dari sepertiga porsi nasi bungkus warung Padang volumenya. Sedikit... Dan itu, saat perut saya sudah tersimpan nyaris penuh...

Oh, nasib. Bahwa hanya untuk sekedar makan pun, saya harus belajar. Dan badan bentuknya sudah tidak lagi standar. Apa boleh buat,  saya memang harus belajar makan…

 

Thay Sea Food

 


Bersama seluruh rombongan, kami bekesempatan untuk makan bersama Ibu Almitra Indira Abidin, Ketua Yayasan Bina Tugasku dua kali. Foto ini saat makan malam di Thay Sea Food pada Sabtu, 27 Juni 2026. Berma teman-teman manajemen Tugasku ditemani oleh Bu Agnes, Pak Herman, Bu Joyce, dan Bu Frida.

Makan di meja dan ruangan yang berbeda dengan teman-teman yang lain, bagi saya ada suasana yang berbeda. Yaitu suasana war saat mengambil lauk yang datangnya bergelombang di meja makan kami.

Situasi yang menarik karena disain meja makan yang bagian tengahnya dapat beputar atau diputar. Dimana disana semua nasi dan berbagai jenis lauknya diletakan. Sementara yang berada di hadapan kami masing-masing Adalah perangkat makan minus sendok, garfu, gelas besar, dan air putih dingin.

Maka saat acara makan dimulai, maki masing-masing akan mengambil nasi. Dan pada bagian meja yang pada sisi tersedianya adanya lauk, maka kami harus mengambilnya sesuai jatah karena jika menunggu giliran nasi berada di sisi terdekat kami, maka lauk akan habis. Ini mungkin jumlah yang duduka di meja kami lebih banyak jumahnya di banding jumlah lauk yang tersedia. Dan itulah yang menjadi kenyataan saat makan siang dan makan malam.

Maka saya makan malam bersama Ibu Almitra, suasana itu tidak saya dapatkan. Karen kebetulan semua lauk sudah berada di meja makan, dan kami mengambilnya sembari menunggu satu sama lainnya, serta kami mekan makanan sudah secukupnya... 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akrobat

 


Begitu saja saya menyebutnya, untuk mendeskripsikan permainan yang baru saya lihat di dekade ini. Pertunjukkan dari sebuah kecerdasan, keberanian, keterampilan, persistensi, dan pasti teknologi. Kok bisa? Ini yang mendasari kekaguman saya. Kok bisa?

Jauh hari sebelumnya, di akhir abad 20, di kampung halaman, saya harus menaiki tangga kayu yang sudah tua meski tidak lapuk, untuk kemudian berdiri di balkon kayu bulat serupa tong. Melongokkan ke dalam tong yang berdiameter 8 meter untuk menyaksikan atraksi motor tua, yang sepertinya nunggak pajak, dengan suara yang sudah normal lagi. Menyaksikan aksi berani penunggangnya dalam mengitari dinding tong itu. Seru bukan kepalang...

Disini, hari ini, saya menemukan penampilan yang sangat berbeda. Sebuah aksi panggung dengan balutan kewirausahaan.  Memberikan pengalaman yang jauh sekali berbedanya. Saya benar-benar diajari tentang kepintaran dan kreativitas. Belajar tentang bagaimana sebuah upaya menjadikannya berada pada level super duper. Ekstraordinari...

Nah benerkan, kok bisa? Kok kepikiran? Kok terealisasi? Jadi, terhibur bukan karena lucu atau senang. Saya merasakan rasa puas karena kagumnya pada apa yang disajikan.

Benar-benar merubah paradigma tentang permainan, tentang hiburan...

 

Tembok Besar China #2


Ada antusiasme begitu bus rombongan parkir di lokasi pendakian ini. Yaitu tekad untuk berada pada bantaran landai yang menjadi puncak dari Tembok Besara China ini. Terutama ketika paspor saya, yang adalah anggota rombongan paling senior di Bus 1, sebagai password di  gerbang tiket masuk.

Saya menyempatkan untuk melihat sekeliling saat berdiri di halaman yang luas dan tinggi. Dengan bersandar pada pagar kokoh sebagai pembatas tebing yang dalam. Hanya hijau yang terhampar di bawah langit yang membiru bersih dari polusi. Hebat bukan main.

Setelah selesai foto bersama di tanggal awal, saya segera menginjakkan kaki di tangga demi  tangga, saya pada pos tertentu selalu, lagi-dan lagi, menyempatkan diri untuk memutar kepala guna melihat lanskap pemandangan yang hijau, dengan udara panas yang menyisakan panasnya di trey tangga yang berfungsi sebagai pegangan.

Pada titik Dimana posisi sudah tinggi, terpikir untuk tidak meneruskan hingga ke puncak. Saya mencoba mengukur diri, taku bila harus menemui hambatan dikala tidak ada teman yang di dekat. Juga menghitung waktu yang dibutuhkan untuk berkumpul.

 


Tembok Besar China



Yang menjadi ganjalan jika ke negara yang mayoritasnya bukan Islam memang soal makanan. Shalat juga, namun dengan keringanan sebagai mushafir, semua menjadi bisa direncanakan dengan lebih baik dan hamper tidak ada kendala yang berarti.

Namun dengan perkembangan teknologi, makanan yang tersedia  masih dapat kita seleksi sendiri selain kita berkomunikasi dengan pemandu atau yang paling Merdeka jika trip kita rombongan, jauh lebih mudah.

Seperti itu juga yang kami dan rombongan alami. Semua, alhamdulillah dapat berjalan lancar dan baik-baik saja.

Pagi saat di hotel, saya akan memilih jagung rebus, kacang tanah rebus, telur rebus, jika tersedia saya ambil juga ubi dan atau labu kukus. Sementara untuk protein, saya paling suka memilih telur rebus, dan tentu dengan tambahan buah.

Dan untuk makan siang dan malam, pihak travel sudah Menyusun sesuai dengan apa yang sudah kami komunikasikan kepada mereka. Sehingga hal yang tidak kita inginkan bisa terjadi. Seperti misalnya salah pilih makanan.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Serba Wah...

 


Pernah kamu sampaikan kepada saya tempo hari berkenaan filosofi arah mata angin di suatu forum resmi. Bahwa pondasi dan semua yang ada diatasnya menjadi titik pusar, mulai dari utara bagian bumi tertinggi dan selatannya Samudera Indonesia, sebagai titik mdpl.

Saya ingat, itu saat topik yang kami bicarakan tentang zona bangunan sekolah…

Saat ini, dimana saya berada, yang harus diawali dengan mengejar waktu karena beberapa menit kedepan gerbang tiket segera tutup, yang artinya 1 destinasi harus gagal kami temui, dengan keringat yang benar-benar membasahi seluruh properti, saya kembali ternganga, terkagum.

Tidak saya temui sesuatu yang ukurannya ada dalam pikiran. Semuanya diluar daya hitung saya. Luasnya, besarnya, banyaknya, dan jangan bertanya bersih dan terawatnya.  Bebatuan yang saya injak tidak tertutup pasir pantai namun tetap bebas debu apalagi lumut.

Apik terawat dan layak menjadi bagian utama catatan perjalanan hidup.

Dan, kiriman fotomu dalam grup, harus saya aku betapa agung titik-titik ikonik yang diabadikan.  Pada kondisi ini, saya melihat dari sisi paling indah yang ada. Tidak ada yang kurang. Semua menerbitkan rasa yang semakin percaya, bahwa yang ada hanya di luar nalar normal.

Terimakasih,  perjalanan ini membuat saya lahir kembali, menyadari bahwa keterbatasan impian yang selama ini saya punya, seperti katak dalam tempurung.

Bahwa lingkup besar, luas, agung, ikonik, yang saya punyai masih ada dalam nalar...

 

Kota Terlarang (Museum 9.999 Kamar)


Hari kedua di Beijing, Jumat, 26 Juni 2026, yang antara lain berburu destinasi ke Masjid, Nan Dou Ya, untuk melaksanakan Shalat Jama’ Dhzuhur dan Ashar, Makan siang, Forbiddin City, Belanja, dan Makan Malam dengan kostum biru.

Wah seru. Berkunjung ke Masjid di negeri yang selama ini umat muslimnya minoritas. Ada rasa ingin tahu sekali. Terlebih di hari Jumat di waktu Dzuhur.

Benar saja, kami bertemu dengan beberapa umat Islam penduduk asli yang menjadi penunggu masjid, yang menemani kami dan memberi petunjuk  saat  saya berada di ruang wudhu. Subahanallah.

Demikian pula saat kami menyelesaikan shalat dzuhur, ada beberapa jamaah yang datang, dan ternyata tidak bergelombang kedatangannya karena jumlah mereka tidak lebih dari 10 jamaah saja.

***

Perjalanan berikutnya yang tidak kalah seru setelah makan siang adalah menuju Kota Terlarang. Ini juga menjadi pemicu adrenalin, mengingat keterbatasan waktu yang ada. Dimana kami harus berkejaran dengan waktu tutupnya loket masuk.

Jadilah tergopoh-gopoh mengekor dua pemandu yang gesitnya luar biasa. Ditinggalkanlah kami dibelakang untuk mengekornya dengan jalan yang cepat. Alhamdulilah, rombongan tdak ada yang tertinggal jauh. Semua bisa bersamaan antri di loket pintu masuk. Hebat sekali.

Hanya satu teman yang terkendala dan akhirnya gagal masuk Kota Terlarang,bukan karena tertinggal karena jalannya pelan, namun karena paspornya yang tidak terbaca di loket.

 

Serba Lekas, Meski Berjalan Kaki...





Mengejar Waktu

Ribuan Langkah harus selalu kami jalani dengan ritme hampir-hampir berlari.  Atau setidaknya berjalan dengan amat cepat. Alhamdulillah.

Setiap kali dan setiap mengejar destinasi yang menjadi agenda untuk dikunjungi. Selalu mepet.

Tempo hanya melambat saat kami harus berkumpul di satu titik sebelum bus rombongan menjemput kami. Ini karena tidak semua lokasi yang kami kunjungi tersedia parkir kendaraan besar. Alhasil, bus akan menurunkan kami dan pergi entah kemana.

Hebatnya, menurut pemandu kami yang gesit dan cantik, Yangyang, tim pemandu beberapa hari sebelumnya  sudah mendapat kiriman gambar dari CCTV Kota, kalau bus kami telah melanggar ketentuan lalu lintas, dengan parkir di badan jalan. Maka dari pengalaman itu kami selalu bersiap dan menyiapkan diri di trotoar untuk dijemput bus.

Pengalaman mengejar waktu agar destinasi yang telah dijadwalkan tercapai sepenuhnya, hanya satu caranya, yaitu berjelan setengah berlari. Tak mengherankan bila hari-hari kami selama berada di Beijing, dari tanggal 25 siang hingga tanggal  30 Juni 2026, lebih kurang mencapai 15.000 langkah.

Khusus saya, yang tidak banyak tahu bagaimana mengambil foto yang bagus selain sekedar untuk mendokumentasiokan momentum yang ada, maka mempunyai banyak waktu untuk menunggu teman-teman rombongan yang sibuk menikmati hasil pengambilan gambar da video.

 


 

Summer Palace


Kagum...

Bukan hanya gedung agung ini saja yang membuatku percaya akan kemegahan sebuah karya yang, ikoniknya abadi.

Setidaknya sudah ratusan tahun lebih perjalanannya berlalu dan tetap ia yang ter. Belum ada yang akan dapat membuat bagunan yang begitu besar untuk sebuah keluarga.

Bangunan yang  luasnya sulit dibanding dengan yang saya kenal selama ini, bahannya yang tersusun rumit jauh dari yang pernah dilihat,  bentuknya juga tidak selalu pada bentuk persegi sebagaimana umumnya.

Kok bisa?

Kok mampu?

Kok terpikirkan?

Kok ngotot hingga berwujud?

Di hadapan bangunan yang atasnya bersusun tiga, juga pelatarannya tempat orang mengambil gambar, masih lega dan lebar. Luas seluas hatinya…

Ya, memang menjadi kagum. Tidak seperti saya mendatanginya dan baru punya asumsi tentang semuanya. Benar-benar memalukan saya ini. Telah menilai sebelum semua sisi saya mengetahui dan dimengerti...

 

Masjid Nan Dou Ya

 


Jumat, 26 Juni 2026, pukul 10.30 kami di Masjid ini. Tidak untuk shalat Jumat. Untuk silaturahim dan melihat dari dekat bagaimana salah satu  masjid yang ada di kota Beijing.

Bangunannya  didominasi bangunan lama dari kayu dengan karpet dan ornament kaligrafi khas China. Takjub saya dibuatnya. Tidak saja pada bangunan yang didominasi warna merah, tetapi juga pada eksistensi masjidnya itu sendiri.

Menjelang pukul 12.30, waktu shalat Dzuhur di Beijing, kami bersiap untuk melaksanakan.

Masuk ruang wudhu di bangunan bagian depan masjid, kami disuguhi tempat wudhu yang unik. Tradisional namun tetap bersih dan menerapkan prinsip penggunaan air yang hemat. Keren.

Yang membuat saya iri adalah, bagaimana muslim berada di tempat yang tidak subur,  menjadi minoritas.