Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label PESERTA DIDIK. Show all posts
Showing posts with label PESERTA DIDIK. Show all posts

07 August 2025

Penampil Baru

Hari ini, saat istirahat pagi, di kantin sekolah saya yang selalu riuh oleh anak-anak remaja yang keluar kelas untuk istirahat makan, ada yang berani tampil di panggung yang memang sengaja dibuat di kantin, untuk menyanyikan lagu pop. Tidak ditunjuk, tetapi dengan keiinginan sendiri untuk menyanyi dengan di diiringi oleh Pak Guru musik. 

Semua yang mem[erhatikan ini bersorak dan bertepuk tangan untuk memberikan semangat pada si pemberani ini. Hebat.

Beberapa saat kemudian, benarlah si pemberani ini mengumandangkan suara merdunya. Teman-teman lainnya yang duduk di meja makan dengan santapannya masing-masing menyimak syair kata dalam lagu yang bagus itu. Termasuk diantaranya saya sendiri yang menyempatkan untuk mengambil vedio.

Bagi saya, ini menjadi momentum penting untuk sebuah proses pembelajaran. Mengungat ini adalah awal semester, dan remaja itu telah menunjukkan diri untuk berani tampil. Terlebih lagi, dia adalah satu dari sekian siswa yang baru duduk di kelas 7.

Dan suaranya yang lumayan itu, yang sudah berhasil saya rekam di seluler saya, segera saya distribusikan kepada teman-teman manajemen sekolah untuk menjadi bukti betapa potensi seorang anak baru saja terbit.

Dalam kondisi seperti ini, saya ingin juga memberikan bukti kepada teman-teman guru untuk memacu murid-muridnya guna berani menunjukkan dirinya meski pasti dalam suasana hati yang kekik dan malu.

Dan keberanian, atau tekad untuk nekad tampil, menurut saya akan menjadi bagian paling pokok untuk unjuk gigi ke depannya.

Jakarta, 7 Agustus 2025.

19 November 2018

Ada Happy Camp di TK


Jumat, 16 November 2018, ada yang berubah di tempat kerja saya. Hall dan lapangan sekolah yang biasa untuk lokasi anak-anak berolahraga atau bermain saat istirahat, pada hari itu menjadi lokasi bermain, outbond, dan berkemah. Lay out dan properti di lolasi itu menjadi seperti lokasi perkemahan. Tentu ini menjadi pemandangan aneh sekaligus menari untuk anak-anak ketika pagi hari mereka datang ke sekolah. Dan karena terdorong oleh rasa penasarannya, maka tidak sedikit anak-anak yang memasuki area dimana 'perkemahan' akan digelar.


Ini tidak lain karena siswa di TK melaksanakan kegiatan belajar luar kelas yang berupa HAPPY CAMP 2018. Acara dimulai dari pembukaan dengan berbalas pantun selayaknya upacara buka palang pintu di adat Jakarta. Kemudian berlanjut dengan kegiatan senam bersama di hall, dan masuk pada kegiatan inti berupa outbond, bermain angklung, dan yang tak kalah istimewanya adalah belajar memasak dari orangtua siswa.


Khusus untuk kegiatan anak-anak di kelompok TK B ada aktivitas anak TK yang berkolaborasi dengan anak-anak OSIS di SMP, dimana kakak-kakak OSIS menjadi mentor dalam belajar kemandirian kepada adik-adik TK. Anak TK dibagi dalam enam kelompok, anak-anak akan belajar secara bergantian tentang merapikan tempat tidur, membuat omelet dan roti panggang, melipat pakaian dan meletakkannya di lemari pakaian, membersihkan kaca jendela, menyeduh teh manis, serta bernyanyi. Ketika kegiatan merapikan tempat tidur kakak OSIS memandu adik-adiknya untuk; memasang sarung bantal, merapikan sprei, dan melipat selimut tidur. Juga ketika menyeduh teh manis, kakak OSIS memandu adik-adiknya untuk menuangkan air panas dan gula serta teh celup sebelum teh dihidangkan.
Kegiatan yang sederhana ini memungkinkan anak-anak di TK belajar berbagai hal kemandirian sehari-hari. Sementara untuk kakak OSIS SMP, aktivitas menjadi tutor bagi adik TK juga menjadi wahana bagi mereka belajar. Esok harinya masih ada kegiatan olah raga yang menggunakan lokasi parkir di Jakarta International Equestrian Park, Pulomas. Yaitu olahraga lari dan senam.

Jakarta, 19 November 2018.

16 November 2018

Membuat Wadah untuk Penumbuhan

Saya ingin menggunakan kosa kata yang pernah digunakan oleh Pak Anies Baswedan ketika beliau menjadi Menteri di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ketika berbicara tentang karakter. Yaitu menumbuhkan karakter baik dan bukan menanamkan. Jadi saya menggunakan kata penumbuhan dan bukan penanaman untuk sebuah sikap dan perilaku yang diinginkan dari seorang peserta didik. Lalu apa yang saya maksudkan dengan wadah? Yaitu tempat, lokasi, area. 



Maka ketika saya mengatakan betapa pentingnya sebuah wadah atau area bagi penumbuhan mental berprestasi, maksudnya tidak lain adalah perlunya kebutuhan sebuah lokasi dan arena bagi penumbuhan sebuah kebiasaan yang positif.



Inilah yang terjadi di sekolahan dimana saya berada pada sore ini, Jumat, 16 November 2018, dimana guru-guru merancang kegiatan kolaborasi antara Taman Kanak-kanak dengan siswa kelas VIII yang tergabung dalam Organisasi Intra Sekolah atau OSIS.



Jakarta, 16 November 2018.

Menilai Paparan Infografis Hasil Survey Siswa

Selama dua hari di pekan ini, Tepatnya pada Selasa, tanggal 13 dan Rabu, tanggal 14 November 2018, saya mendapat tugas tambahan dari Guru di SMP untuk mendampinginya memberikan panilaian kegiatan akhir dari LIVE in yang telah berlangsung pada Selasa, 30 Oktober hingga Kamis, 1 November 2018. Kegiatan penutupnya merupakan kegiatan presentasi hasil survey yang dilakukan anak-anak peserta LIVE in di Desa Pulosari, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Ini mejadi tugas yang menantang dari guru. Dan setelah mendengarkan, menyimak, mempertanyakan, dan juga menanyakan kepada seluruh siswa yang mempresentasikan hasil survey mereka dalam kelompok melalui infografis yang dibuatnya, saya menjadi semakin kagum atas kompetensi yang mereka punyai. Sekaligus mensyukuri bahwa anak-anak rata-rata memiliki kemampuan berkomunikasi dan juga penyelesaian masalah. Dan untuk itulah, saya merasa senang sekaligus bangga.



Misalnya, ketika saya bertanya kepada salah satu anggota tentang cara membuat infografis hasil surveynya. Misalnya tentang aplikasi yang digunakan untuk membuat infografis mereka. Ada yang menggunakan program komputer yang memang sering kita pakai sehari-hari. Tetapi juga ada kelompok yang membuatnya dengan telepon selularnya. Dijelaskan bahwa mereka bertanya via google untuk membuat presentasi dalam bentuk grafik di smart phone-nya. Dengan bekal informasi tersebut, diunduhlah aplikasi yang dimaksud untuk kemudian digunakannya sebagai proses menyelesaikan tugas akhirnya. Hebat. 

Juga beberapa jawaban yang orisinil saya dengar dari mereka. Baik yang berupa kesan ketika hidup bersama orang di kampung di Desa Pulosari, atau juga filosofi bersyukur. Alhamdulillah.

Jakarta, 16 November 2018

15 November 2018

Ke Pengalengan

Pada Selasa, 30 Oktober hingga Kamis, 1 November 2018, siswa saya yang duduk di bangku SMP pergi untuk melaksanakan kegiatan live in yang ke-5 kalinya, yang lokasinya tetap  di Kecamatan Pengalengan, Bandung.  Dan tahun ini mereka dipilihkan lokasi baru, yaitu di Kampung Kiara Sanding, Desa Pulosari, Kecamatan Pengalengan, Bandung, Jawa Barat.

Ini adalah kegiatan mereka keluar untuk tujuan hidup bersama punduduk di kampung tersebut, yang saya sendiri brhalangan menyertainya. Satu hal yang membuat saya sendiri sedikit kurang senang. Karena biasanya, jika saya menyertai mereka, maka akan banyak yang saya dapat peroleh ketika bermalam dan bercengkerama dengan penduduk di kampung tersebut. Dan tahun ini, pengalaman tersebut tidak saya peroleh.

Selain bekerja dan bermain bersama orang yangtinggal di kampung tersebut, anak-anak melakukan kegiatan yang antara lain adalah; menerima upacara  penyambutan dengan musik hadroh yang dimainkan oleh siswa SDN Mulyasari, Pulosari, Pengalengan. Alat musik hadroh tersebut merupakan sumbangan peserta LIVE in yang langsung digunakan sebagai alat musik penyambutan. Sedang pada waktu yang hampir bersamaan, melakukan pelatihan guru yang  diperuntukkan untuk guru TPS Al Hasanah, yang berlokasi di Kampung oleh Pak Haris Nuur Hakim. Siswa hidup bersama orangtua asuh mereka masing-masing. Beraktivitas sebagaimana profesi orangtua mereka. Antara lain ada yang berangkat ke lahan pertanian untuk bertani, ke warung untuk berjualan, atau membuat plaka untuk tempat buah atau sayuran, atau kegiatan yang lainnya. Pengobatan gratis, Posyandu,  penyerahan sembako, dan bakti sosial kepada masyarakat setempat yang dilakukan oleh para orangtua POMG SMP. 

Jakarta, 15 November 2018

15 September 2018

7 Penulis

Kamis, 13 September 2018, saya menerima dua eksemplar buku kumpulan cerita pendek, ynag terdiri 61 cerita pendek. Buku itu merupakan buku kumpulan cerita pendek yang ke-13 dan ke-14, yang diterbitklan oleh Penerbit Bestari. Cerita-cerita pendek tersebut merupakan karya dari anak-anak sekolah dasar di Jakarta, Tangerang, dan Depok, yang ikut serta dalam program menuisnya Kak Lala Elmira, One Day to Write. Dimana Kak Lala secara rutin memberikan bimbingan kepada anak-anak untuk menulis cerita. Dan dari sekian anak yang menjadi peserta menulisnya, 61 anak tersebut yang tulisannya masuk dalam dua buku yang ada di tangan saya.
Dan bersamaan dengan berlangsungnya IIBF, International Indonesia Book Fair, di Jakarta, pada 12-23 September 2018, maka Rabu, 12 September 2018, 7 (tujuh) siswa dari SD dimna saya berada, terpilih menjadi penulis berbakat dalam launching buku berjudul Dunia Senyum dan Serbuk Waktu yang diterbitkan oleh penerbit buku Bestari Jakarta.

Tujuh penulis dari peserta didik di sekolah dmna saya ada adalah; 
  1. Aisyah Nur Zahiyah, dengan cerita berjudul Aku Bisa Menari.
  2. Andi Alyssha Aurelia, dengan cerita berjudul Misteri Pintu ke-2000.
  3. Chaerannisa Syahira F, dengan cerita berjudul Antara Dia dan Aku.
  4. Dayanara Ardanari, dengan cerita berjudul Kuda Impian.
  5. Fadhila Zahra Laksanadewi, dengan cerita berjudul Dhildul: Si Ngak Bisa Diam.
  6. M Alif Fatif Ferdiansyah, dengan cerita berjudul Petualangan di Pulau Misterius.
  7. Nada Kirana Raseesha, dengan cerita berjudul Toko Buku Ajaib.

Atas prestasi menulisnya sehingga tulisannya berhasil dimuat dan terbit dalam buku Dunia Senyum dan Serbuk Waktu, kita sampaikan ucapan selamat kepada tujuh peserta didik tersebut. Dan ini menjadi buku ke-13 dan buku ke-14.
Jakarta, 15 September 2018.

14 August 2018

Menikmati Kegiatan

Pada pekan yang lalu, atau persisnya hari umat, 10 Agustus 2018, saya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Taman Kanak-kanak dimana saya terlibat di dalamnya, kegiatan yang luamayan spartan tetapi menyenangkan sekaligus memberikan rasa bangga. Ini karena kegiatan yang melibatkan anak-anak pra sekolah dasar tersebut dibuat bersambung. Berikut adalah kegiatan yang saya maksudkan.

Kegiatan pertama adalah kegiatan parade kebangsaan yang diikuti oleh semua siswa yag ada di Kelompok Bermain dan TK. Rutenya adalah sejak keluar dari kelas mereka menuju hall sekolah sebagai lokasi upacara bendera. Berikut adalah penampakan kegiatan parade tersebut;


Kedua adalah kegiatan upacara bendera. Kegiatan upacara bendera anak TK untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun. Menarik sekali karena pemimpin upacara, Kenzi, dan semua petugasnya terdiri dari anak-anak yang masih duduk di kelompok TK B. Demikian pula dengan para peserta upacara. Membangkitkan rasa kagum. Selain peserta upacaranya adalah anak-anak, ada juga tamu undangan yang menjadi peserta kehormatan. Mereka adalah dua asesor dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi DKI Jakarta, yaitu Ibu Kristiana Wuryani, M.Pd. dan Ibu Eva Yasmin Abas, SE. Juga anggota TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur dibawah Komandan Ramill, Kapten Elba.
Kegiatan upacara bendera anak TK untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun. Menarik sekali karena pemimpin upacara, Kenzi, dan semua petugasnya terdiri dari anak-anak yang masih duduk di kelompok TK B. Demikian pula dengan para peserta upacara. Membangkitkan rasa kagum.
Kegiatan ketiganya adalah menonton kegiatan baris berbaris yang didemokan oleh Bapak-Bapak TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur. 
Kegiatan ketiganya adalah menonton kegiatan baris berbaris yang didemokan oleh Bapak-Bapak TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur. 
Kegiatan keempat adalah menghadiri kegiatan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi DKI Jakarta untuk unit TK, dengan asesornya adalah Ibu Kristiana Wuryani, M.Pd. dan Ibu Eva Yasmin Abas, SE. 


Jakarta, 14 Agustus 2018.

06 August 2018

Buku Cerita Siswa

Ini menjadi hadiah bagi saya di pekan-pekan awal tahun pelajaran baru, 2018/2019. Yaitu undangan untuk menghadiri kegiatan launching buku kumpulan cerita yang antara lain ditulis oleh tujuh siswa saya yang telah duduk di bangku SMP. Ini menjadi buku pertama dan buku kedua bagi mereka dan jga bagi SMP saya yang benar-benar dibukukan dan dijual di toko buku. Saya bersyukur dengan ikhtiar yang telah mereka lakukan bersama guru dan penerbit.

Berikut adalah penampilan buku tersebut; 




Jakarta, 6 Agustus 2018.

Baju Baru Pak?

Seperti biasanya, bahwa setiap pagi, sebelum teman-teman guru siap menyambut siswa di hlaman sekolah, maka saya terlebih dahulu mengawali berada di sana untuk bertemu para peserta didik yang berdatangan secara bergelombang. Seperti pagi itu. Saya sudah berada di lokasi ketika anak-anak berdatangan dengan semangat paginya yang mengesankan. Dengan berbagai model suka yang ditampilkan pada raut wajah mereka masing-masing yag ceria.

Saya, seperti biasa memanggil nama-nama mereka yang telah saya ingat. Ini juga sebagai usaha bagi saya untuk terus dapat mengingat nama-nama mereka. Ada nama-nama yang tetap melekat dalam ingatan saya. Dan bahkan beberapa nama yang lebetulan bersaudara diantara mereka, saya merasa begitu mudah ingat nama mereka beserta urutannya. Namun ada pula yang menjadi lupa. Maka mengucapkan satu persatu nama-nama ketika bertemu mereka di pagi hari adalah menjadi sarana bagi saya untuk terus ingat mereka.

Juga terhadap seorang peserta didik saya yang sekarang telah duduk di bangku kelas lima SD. Beberapa kali saya telah menemukan namanya dalam lembaran ingatan saya. Namun sampai sekarang saya masih belum dapat menyimpan ingatan tersebut dengan rapi. Inilah yang membuat saya sepertinya berhutang dengannya. Ini tidak lain karena pada pagi itu iyalah siswa saya satu-satunya yang mengingatkan saya akan baju baru yang saya kenakan pada hari tersebut.

"Baju baru ya Pak Agus?" Demikian tiba-tiba ia katakan sesuatu yang saya sama sekali tidak menyangkanya. Ia katakan ketika akan bersalaman dengan saya di hall sekolah.

Benar bahwa saya memang mengenakan baju yang meski bukan baru sekali, namun saya memang baru mengenakan baju itu untuk ketiga kalinya. Dan kata-kata baju baru yang [peserta didik saya sampaikan itu menjadi perhatian yang menakjubkan saya. Terimakasih...

Jakarta, 6 Agustus 2018

30 May 2018

Membaca Buku Kumpulan Cerpen Siswa

Berlokasi di MPR sekolah lantai 3, pada Senin, 28 Mei 2018, SD Islam Tugasku meluncurkan buku kumpulan cerita pendek siswa yang merupakan buku ke-10 dan ke-11 mereka. Buku kumpulan cerpen kesepuluh berjudul Lisan Sebuah Batu yang berisi 15 cerita pendek siswa. Sedang buku kesebelas berjudul Tikus Kecil dan Penebang Pohon yang berisi 27 cerita pendek.Kegiatan menulis ini merupakan program one day to write yang diinisiasi oleh Kak Lala Elmira.


Membaca dua buku cerita pendek anak-anak dan cerita pendek anak dan bunda yang merupakan hasil dari kegiatan one day to write itu, memberikan kepada saya banyak kesan. Semua kesan menyenangkan dan membanggakan. Karena dengan cerita pendek yang dibuat memberikan wahana belajar baru bagi saya. Cerita pendek mereka memberikan kepada saya untuk bisa melihat dunia imajinasi yang telah diuraikan dalam plot ceritanya masing-masing.

Lisan Sebuah Batu, cerita pendek yang menjadi judul buku kumpulan cerpen tersebut, merupakan kisah tentang seorang anak yang selalu abai dengan nasehat baik hingga harus menemui kejadian yang tidak menguntungkan. Hingga pada suatu peristiwa ia menyadari bahwa apa yang ia abaikan selama ini adalah karena sikap kepala batu untuk menerima nasehat. 

Sedang buku Tikus Kecil dan Penebang Pohon, cerpen yang menjadi judul buku kumpulan cerita pendek kolaborasi anak dan bunda, bertutur tentang perilaku penduduk dalam memanfaatkan lingkungan dengan tidak terkontrol yang mengakibatkan kepada kerusakan lingkungan. Penebang pohon harus mengalami sebuah peristiwa dimana penolongnya justru tikus yang pada masa lalunya harus terusir dari rumahnya yang ada di pohon yang ia tebang.

Jika buku Lisan Sebuah Batu merupakan hasil karya siswa yang menjadi peserta ekskul menulis, maka buku Tikus Kecil dan Penebang Pohon merupakan buku kumpulan cerita pendek kolaborasi Ibu dan anak. Dimana anak akan bersama-sama dengan bundanya membuat satu cerita. Ini menjadi sesuatu yang unik dalam sebuah kegiatan di sekolah.


Saya mensyukuri bahwa ada event seperti ini yang diinisiasi oleh ekskul menulis. Sebuah ide cermerlang. Memberikan kesempatan dan peluang untuk bunda dapat bersama dengan buah hatinya bercengkerama tentang hal yang monumental secara bersama dan kolaboratif. Sebagai sarana untuk saling berbagi, saling menerima, saling memahami, berdialog, dan bersama mengambil keputusan. 

Dari 27 cerita yang ada di dalam buku Tikus Kecil dan Tukang Kayu, memberikan kepada saya tren imajinasi yang ada. Diantaranya adalah tentang ke-ajaiban. Seperti keajaiban pada sepasang sepatu. Keajaiban serangkaian kereta api. Keajaiban pintu. Dimana dalam keajaiban yang disampaikan akan menghantarkan kepada dunia lain. Dunia petualangan yang penuh kepahlawanan dan kegembiraan. Menghibur.

Jakarta, 30 Mei 2018

28 May 2018

Ada yang Mau Ngadem

Beberapa kali saya kedatangan tamu kecil saya. Mereka ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau juga yang sudah di bangku SMP. Tamu saya datang bukan untuk kepentingan dinas tentunya. Karena mereka masuk ke ruangan saya tanpa agenda yang harus menjadi bahasan diskusi. Juga tidak pernah formal. Saya juga menerima mereka dengan biasa saja. Meski demikian selalu saya tanya apa kepentingannya. 

Kadang sering juga mereka datang dengan terlebih dulu ngintip ke dalam ruangan. Ini karena tinggi badan mereka yang belum sampai untuk melihat ke dalam ruangan melalui kaca tengah yang memang sengaja untuk melihat. Kadang juga mereka membuka pintu ruangan dan mendapati saya sedang rapat.

"Siapa Pak Agus?" Kata teman rapat saya ketika ada diantara tamu informal saya itu tiba-tiba membuka pintu ruangan.

"Fulan. Apakah ada perlu dengan Pak Agus?" Begitu saya biasa menegur tamu itu ketika pintu ruangan terbuka. Dan tamu itu kembali dia tutup setelah mengetahui bahwa saya sedang ada pertemuan.

"Maaf Pak Agus. Saya pikir Bapak sedang tidak rapat." Begitu keramahan peserta didik saya pada waktu-waktu kerja saya di ruangan. 

"Mengapa anak-anak itu datang ke sini Pak Agus?" Tanya rekan rapat saya keheranan. Saya memahami karena selama ini teman saya bekerja di ranah perkantoran yang mengurusi dokumen. Berbeda dengan saya yang sepanjang hari bertemankan para siswa yang ada di lembaga pendidikan ini.

"Tidak apa-apa. Biasanya mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Sesuatu yang mereka anggap penting. Tetapi lebih seringnya yang mereka inginkan ketika sampai ke ruangan saya adalah ngadem setelah mereka berkeringat main bola di lapangan..." kata saya.

Jakarta, 27 Mei 2018

25 May 2018

Siswa Talaqi

Sepanjang tahun pelajaran 2017/2018 ini saya mendapat lima siswa talaqi, dan mereka semua adalah siswa kelas IX. Yang berarti mereka akan meninggalkan jenjang pendidikan menengah pertamanya. Artinya bagi saya dengan kelimanya adalah usainya waktu bertemu bersama mereka di saat selesai shalat Dhuha, berbaris kebelakang dan maju bergantian untuk membacakan kepada saya satu, dua, bahkan empat halaman Al Qur'an.

Itu juga dapat saya artikan bahwa kedepan saya sudah sedikit sekali kemungkinan  mendengar mereka tilawah dengan mushafnya, memberikan masukan jika dibutuhkan, dan memberikan dorongan. Juga sudah tidak akan lagi bersama mereka seperti ketika sesekali saya meminta mereka untuk membuka kembali Al Qur'an-nya dan memperdengarkan terjemahan ayat-ayat. Tahun depan, di tahun pelajaran 2018/2019, saya akan mendapat siswa baru yang pasti berbeda keunikannya dibanding tahun ini. Inilah yang menjadi waktu sekarang ini, sebagai waktu akhir tahun pelajaran, menjadi waktu pembatas buat saya untuk mengakhiri yang lalu dan bersiap menyambut sesuatu yang baru di pertengahan Juli nanti sebagai awal tahun pelajaran baru.

Ini menjadi penting untuk saya buat catatan agar saya dapat mengingat selalu dengan pengalaman bersama lima peserta didik saya dalam talaqi Al Qur'an. Bahwa kelimanya dari mereka memiliki keunikan yang luar biasa berkesan dalam diri saya. Kelimanya juga d\menjadi cermin untuk saya sendiri dalam hal kebisaan dan kebiasaan saya dalam membaca Al Qur'an.

Ada yang sejak awal tahun pelajaran ketika tilawah Al Qur'an dapat saya ibaratkan sebagai kemampuan berlari begitu kencangnya, faham sekali kapan istrirahat, pelan sementara, dan kemudian melakukan sprint. Yang dari Senin hingga Kamis ia telah menyajikan bacaannya di hadapan saya tidak kurang dari 20 halaman atau 10 lembar, atau satu juz. Sehingga dalam kurun waktu tahun pelajaran kemarin ia berhasil khatam satu kali dan yang berikutnya sudah masuk di juz ke-10. 

Ada juga yang tidak berlari tetapi berjalan begitu cepat degan alunan merdu suaranya yang benar-benar keren, dan saya selalu memberinya kesempatan untuk menyelesaikan dua halaman sekali pertemuan. Juga ada tiga siswa saya lainnya yang meski baru berjalan tetapi langkahnya langkah tegap teratur. Yang ketika awal pertemuan di awal tahun pelajaran kadang masih tersendat. Dan kepada mereka menyajikan bacaan satu halaman setiap harinya. Mereka semua, kelimanya, memberikan warna tersendiri kepada saya. Sungguh!

Jakarta, 25 Mei 2018

23 May 2018

Menghafal Siswa

Pagi itu, setelah saya merasa cukup keberadaan beberapa guru yang menyambut siswa di halaman sekolah, saya meminta izin kepada teman yang ada di lapangan sekolah untuk berpindah lokasi ke arah pintu masuk Taman Kanak-kanak. Tujuannya tetap sama, yaitu melihat keadaan dan situasi di jalur masuk yang khusus untuk anak-anak yang ada di TK kami. Selain juga beberapa siswa dan staf guru.

Pagi hari menyambut kedatangan siswa bagi saya adalah membuka halaman demi halaman buku. Yang setiap halamannya itu bertahap satu demi satu saya mencoba menghafalkannya. Agar setiap halaman yang ada di buku dalam benak saya itu lebih bermakna bagi perjalanan saya.

Ada beberapa nama berhasil saya rekam dengan baik dan saya lekatkan pada halaman yang tersedia. Bahkan hingga lima, empat, tiga, dua, atau tunggal yang ada di dalam keluarga saya belajar mengingatnya. Ada mereka yang sudah di kelas IX dengan adik di kelas lima. Ada yang di kelas IX dengan adik di kelas VI dan juga kelas Kelompok B. Atau ada kakak yang kembar di kelas VI dan adiknya yang juga kembar. Alhamdulillah.

Dan terus terang, jika ada UKK-nya, atau Ulangannya, maka kemampuan saya untuk dalam mengahafal nama-nama saya yang ada di Kelompok Bermain hingga kelas IX SMP, masih terhitung sedikit. Dan iji menjadi ukuran saya bahwa saya harus lebih bekerja keras keliling ke kelas dan lorong sekolah, termasuk di kantin, agar waktu perjumpaan saya dengan peserta didik saya lebih panjang. Sehingga jumlah siswa yang namanya mampu saya ingat lebih baik.

Jakarta, 22 Mei 2018

22 May 2018

Ijazah di Atas Kulkas

Pada saat 'perjalanan' saya sampai di pendopo sekolah yang difungsikan sebagai shelter bagi penjemput di sekolahan masuk ke suasana sepi karena libur sekolah menjelang Ramadhan di hari Jumat, 18 Mei 2018 lalu, sekedar menyempatkan diri untuk mengecek barang apa saja yang masih ada dan mungkin perlu dibereskan sebelum sekolah benar-benar libur akhir tahun pelajaran ini, saya menemukan hal yang sangat mengagetkan. Karena ada map sekolah yang terletak di atas kulkas, yang  setelah saya cek isinya ijazah sekolah asli dan foto kopi-nya! Bagi saya, ini adalah penemuan terbesar! Karenanya wajar bila saya kaget.

"Pak, Ini sudah berapa lama kira-kira barang ini tertinggal atau diletakkan disini?" Kata saya kepada salah seorang anggota security sekolah yang berada di lokasi tersebut. Tentu ia tidak dapat memberikan jawaban atau informasi. Sementara kepada penjaga pendopo, yaitu orang yang sehari-hari berada di situ, memasuki Ramadhan ini mereka telah pulang ke kampung halamannya. Meski demikian, saya tetap bersyukur bahwa ijazah yang ada di dalam map tersebut semua masih utuh dan tetap terjaga dengan baik.

Atas penemuan tersebut maka saya menemui beberapa orang yang berkepentingan baik di SD atau di SMP. Karena si pemilik ijazah tersebut kini sudah duduk di bangku kelas XI SMA! Kepada guru SMP yang informasikan temuan tersebut dan menyampaikan bahwa si empunya ijazah pada saat itu kebingungan dan mencarinya di SMP tetapi tidak ditemukan. Juga ketika di SD, maka orang di SD juga pernah didatangi pemilik ijazah tersebut dan memang tidak menyimpannya setelah bukti kelulusan tersebut di serah terimakan. 

Atas penemuan tersebut, saya sampaikan kepada sekretaris sekolah untuk segera mencari nomor kontak orangtua pemilik ijazah tersebut dan sesegera mungkin menghubunginya guna diambil. Sampaikan kronologi penemuannya jika yang bersangkutan membutuhkan informasinya.

Jakarta, 22 Mei 2018.

Biji Bunga

Peserta didik saya ini luar biasa perhatiannya dengan lingkungan sekitarnya. Baik dengan teman atau guru yang ada di sekitarnya, juga dengan benda yang dalam jangkauan perhatiannya. Seperti yang saya temui ketika itu.

Pagi hari. Jam masuk sekolah belum.dimulai. Dan tas sekolahnya masih ada di punggungnya. Saya bertemu setelah berputar-putar di lingkungan sekolah sebagaimana aktivitas pagi saya sembari menyapa semua yang ada di sekolahan sebelum memulai hari. Beberapa peserta didik yang di SD bersama barisan kelasnya sudah mulai menuju hall sekolah untuk kegiatan pertama mereka, ikrar pagi dan affirmasi.

Dan pada saat perjalanan pagi saya sampai di plasa SD, saya menjumpai seorang siswa sedang berjongkok mengahadap tanaman yang ada di delat pagar samping belakang sekolah. Atas apa yang saya lihat itu, saya mencoba untuk mengetahui kegiatan apa yang siswa saya sedang lakukan tersebut sehingga ia begitu asyik sendirian.

Beberapa saat kemudian baru saya mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah mengumpulkan benang sari bunga di telapak tangan kananya. Sementara jemari tangan kirinya mengurut mulai dari pangkal bunga hingga ujungnya. Saya tetap ada di kejauhan jarak tiga meter darinya sebelum akhirnya ia menyadari akan keberadaan saya.

"Asyik sekali. Sedang apa gerangan siswa Pak Agus sehingga berhenti disini sebelum masuk kelas?" Kata saya memulai percakapan dan pingin tahu.

"Aku sedang mengumpulkan biji bunga Pak.Agus." katanya sembari menunjukkan hasil kumpulan biji bunga di telapak tangannya di hadapan saya. Saya melihat bubuk-bubuk putih sari bunga di telapak tangannya yang dia sebut sebagai biji bunga.

"Oh iya... benar. Tapi itu bukan biji bunga. Itu sari bunga." Kata saya mengiringi perjalanan anak didik saya itu menuju kelasnya yang ada di lantai II.

Saya bersyukur bisa berjumpa dengan siswa saya itu di awal hari. Alhamdulillah.

Jakarta, 22 Mei 2018

21 May 2018

Salah Jadwal Masuk

Rupanya ada peserta didik saya yang salah jadwal masuk. Dan karena salah jadwal masuk sekolah itulah, saya memiliki kesempatan untuk bercengkerama dengannya beberapa saat di ruang kerja. Inilah cerita saya berkah dari salah jadwal masuk sekolah.

Dan untuk mengisi waktu sampai dengan kedatangan teman-temannya, ia datang ke ruangan saya dan meminta saya meminjami buku bacaan yang bisa dia gunakan untuk mengisi waktu tunggu. Saya memintanya untuk memilih buku-buku yang ada di rak buku samping meja kerja. Dan dipilihlah buku Peta Indonesia. Sebelumnya saya menawarinya untuk tilawah Al Qur'an sebagaimana hari-hari normal anak-anak peserta didik saya yang duduk di bangku SMP setiap Senin-Kamis barang satu halaman, dia setuju tetapi akhirnya lebih memilih membaca peta.

Pada saat yang sama saya kembali ke meja komputer untuk menyelesaikan dua atau tiga halaman surat yang harus saya baca ulang sebelum diterbitkan. Lalu ketika waktu berlalu, kami terlibat tentang kegiatan kami masing-masing seusai Ujian Nasional berakhir, dan menjelang bulan Ramadhan.

"Lokasi rapat Pak Agus berarti dekat sama warung steak yang ada di Cipete Raya itu dong?" Katanya menimpali kalimat saya bahwa saya sore ini perjalanan baru berakhir setelah bertemu teman-teman di daerah Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan.

"Loh, kamu faham daerah itu? Apa ada family-mu yang tinggal di daerah itu sehingga kamu tahu wilayah selatan Jakarta?" Kata saya heran. Di usianya yang masih remaja, pengetahuan geografi wilayah yang berbeda membuat saya kagum.

"Ia Pak. Saya sering ke daerah selatan Pak. Saya pernah makan bakso di daerah Senopati Pak. Atau juga pernah ke Pasar Santa untuk minum air panas. Kalau ke Cipete saya naik flyover (maksudnya adalah jalan layang non tol Antasari, yang menghubungkan dari Blok M ke arah Cilandak) ke arah Kemang terus dan turun di daerah Cipete. Saya juga pernah ke rumah makan Se*****k Pak. Kan disitu ada kopi yang pernah dikunjungi Pak Jokowi..." katanya.

Tentang apa yang menjadi pengetahuannya mengenai daerah lain secara detil, saya salut. Mengingat di usia dia, maka gerakkannya masih terbatas. Tetapi dia sudah bisa memberikan deakripsi mengenai wilayah yang membutuhkan daya ingat fotografi. Cerdas spasial. Untuk itulah saya kagum.

"Terus terang Pak Agus kagum akan kemampuanmu mengingat lokasi yang pernah kamu kunjungi secara detil. Apa yang kamu miliki itu luar biasa untuk ukuran remaja seusiamu." Kata saya memberikan apresiasi atas apa yang dia sampaikan kepada saya pagi itu.

Terhadap anak tersebut, saya menjadi teringat siswa saya yang sekarang sudah duduk di semester III Universitas di Pondok Labu, yang sering saya panggil dengan Guru besar Transformasi Jakarta 2035. Karena anak tersebut begitu hafal hal ihwal yang berkenaan dengan jaringan kendaraan umum yang ada di Jakarta...

Jakarta, 21 Mei 2018.

18 May 2018

Jangan Cerita ya Pak

Satu hari sebelum kegiatan perpisahan anak berlangsung, saya kaget mendapat pesan dari seorang peserta didik saya, yang disampaikannya ke saya di halaman sekolah di jam pulang sekolah. Anak tersebut berada di sekumpulan anak-anak yang kompakkan menunggu jemputan mereka masing-masing di lokasi yang saya tahu sekali, baru kali itu mereka menempatinya.

"Bapak, apakah besok Bapak ikutan ke acara kami?" tanyanya kepada saya dengan suara yang seperti biasanya tegas, melengking dan sekaligus lantang. Suara khasnya. Maka tidak salah kalau dia di grup teater selalu pas memerankan karakter yang menjadi bagiannya. Dia selalu mendapat peran yang dominan di pentas teater sekolah. Apakah pentas untuk perlombaan atau dalam pentas sekolah. Percaya dirinya dan suaranya yang selalu berada pada volume yang meyakinkan membuat sutradara akan memilihnya sebagai pemeran kunci.

"Kebetulan Pak Agus mendapat undangan dari ketua panitia, dan sepertinya tidaka ada acara lain yang membuat Pak Agus tidak dapat mengikutinya. Jadi insyaAllah Pak Agus turut hadir di acara kalian nanti."

"Iya Pak. Tapi saya pesan sekali ya Pak Agus... Kalau nanti Bapak memberikan sambutan saya pesan sekali supaya Bapak tidak bercerita. Karena terus terang Pak... Saya bosan mendengar cerita Pak Agus."

"Loh kan asyik kalau Pak Agus bercerita."

"Iya benar enak kan ceritanya tentang sejarah Islam..."

"Saya ngak suka kalau Pak Agus cerita. Pak Agus ngak tahu kalau saya pernah tertidur mendengar cerita Pak Agus..."

Saya tersenyum degan apa yang mereka sampaikan. Khususnya tentang larangan agar saya tidak menyampaikan cerita sebagaimana yang selama ini saya sampaikan kepada mereka. Yaitu cerita apa yang kebetulan saya membaca dari buku. Yang kadang bukunya itu saya bawa untuk kemudian ditengah-tengah bercerita tersebut saya bacakan bagian dari buku yang saya bawa tersebut bagian yang sudah saya tandai.

Yang beberapa diantara anak-anak peserta didik saya memamerkan buku yang baru saja mereka beli setelah melihat buku apa yang saya baca. Tetapi atas usulan anak tersebut,  menjadi masukan buat saya. Mengapa?

Jakarta, 18 Mei 2018.

28 March 2018

Pak Agus, Saya Tutup Pintunya ya...

Pagi ini, beberapa siswa dari kelas Bahasa Inggris datang ke ruangan saya untuk memberikan interviu berkenaan dengan perasaan saya hari ini dengan memberikan alasan. Tentunya dalam Bahasa Inggris karena mereka memang sedang dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dengan Bapak Gurunya yang mondar-mandir mengiuti pergerakan para siswa dan siswinya di sepanjang koridor kelas lantai 1.

Juga ada beberapa anak yang kelasnya sedang menjalani pelajaran olahraga. Satu kelas ada di halaman luar sekolah yang pada pagi ini cerah dengan matahari yang tegas sehingga cepat membuat badan mereka berkeringat. Dan yang satu kelas lagi sedang melakukan aktivitas olah raga di hall sekolah yang ada di dalam gedung. Namun dua-duanya memberikan aura semangat kepada saya yang hanya dapat memantau mereka semua lewat CCTV yang layarnya saya pasang di salah satu meja saya.

Dan diantara situasi yang seperti itulah ada tiga anak laki-laki yang mengenakan seragam olah raga dengan memegangi bola muncul di pintu ruangan kerja  saya. Saya semula berpikir bahwa anak ini akan masuk mendekati saya yang sedang mengetik di depan komputer untuk meminta waktu guna mengetahui aspirasi saya melalui wawancara. tetapi setelah saya benar-benar dapat mengenali siswa saya yang datang dan berdiri di pintu masuk ruangan, dia segera mengemukakan maksud dan tujuannya mengapa ia berada di depan pintu ruangan saya tersebut.

"Pak Agus, bolehkah pintunya saya tutup?" Katanya dengan santun. Membuat saya senang dan bahagia sebelum akhirnya saya sampaikan:

"Boleh Nak. Boleh ditutup pintu Pak Agus. Terimakasih banyak ya."

Jakarta, 28 Maret 2018.

21 March 2018

Geng Mabotik

Beberapa peserta didik saya bermain bola anak-anak TK, yang kecil warna-warni yang peruntukannya untuk mandi bola, di plasa atau di hall sekolah pada waktu sepulang sekolah. Dan ini telah menjadi perhatian kami semua agar mereka berhenti bermain bola dan mengembalikan bola tersebut ke lokasi dimana mereka ambil bola itu. Dan usaha ini memang terus menerus kami lakukan. Oleh siapa saja yang kebetulan pada hari itu bertugas sebagai guru piket. Anehnya, temuan kami tersebut memang terus menerus berulang terjadi. Dan para pemainnya, adalah mereka-mereka saja. 

Karenanya, pada suatu waktu, ketika saya menemukan mereka sedang bermain di plasa SD yang ada di bagian belakang sekolah, saya sampaikan kepada lima orang diantara mereka yang memang sebagai pemain tetap, yang selalu saya tegur pada hari-hari sebelumnya. 

"Kok kalian lagi kalian lagi yang menjadi pemain bola TK? Apakah bahasa Pak Agus ini sangat sulit dipahami oleh kalian atau mungkin bahasa kita berbeda sehingga apa yang telah Pak Agus sampaikan memang tidak dapat kalian mengerti?" Kata saya kala itu. Dan anak-anak itu tidak ada satupun yang mengomentari atas apa yang saya sampaikan selain tersenyum dan saling berpandangan diantara mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Mereka selalu saja bermain ketika kami benar-benar sedang fokus hanya mengawasi hall dan lapangan luar. Mereka akan bermain di Plasa SD atau Plasa TK atau pendopo kantin lantai dua. Lokasi terakhir adalah lokasi yang paling kami tidak duga. Tetapi jika ada penjemput siswa yang adalah satu diantara mereka dan ami telah berkeliling tempat bermain yang ada dan belum juga ketemu, maka lokasi pendopo kantin menjadi lokasi akhir pencaraian kami.

Dan karena reputasinya itulah, maka kami semua, yang memiliki jam piket antara pukul 15.00-15.45, hafal akan aktivitas mereka. Hingga akhirnya kami berdialog dengan mereka ketika mereka terperangkap sedang bermain bola TK di Plasa TK. Akhirnya mereka mengaku bahwa mereka memang megelompokkan diri sebagai kelompok mabotik. Mabotik merupakan kependekan dari main bola TK!

Jakarta, 21 Maret 2018.

22 February 2018

Sabar Pak Agus...

Pada saat saya menemani siswa yang sedang bersiap-siap bermain futsal di lapangan sekolah, saya sedikit meminta kepada anak-anak untuk sepakat membuat tim futsal. Dengan anggota yang tidak terlalu banyak, saya meminta supaya anak-anak cukup membuat tiga tim, yang akhirnya nanti akan bermain. Tim yang memang anak memperoleh kesempatan untuk bermain dua kali.

Semula saya yang membuat tim dengan berdasarkan pada asal kelas mereka. Tetapi mereka meminta agar diberikan kesempatan membentuk tim masing-masing. Dan usulam itu saya setujui. Hanya yang menjadi patokan untuk pembuatan tim adalah terbentuknya tiga tim. Namun setelah ditunggu beberapa menit, nampaknya anak-anak tidak mudah menemukan kata sepakat. Dengan berbagai dalih dan argumennya masing-masing, akhirnya kesepakatan malah memakan waktu. Saya masih memberikan waktu kepada mereka. Hanya mengingatkan bahwa waktu bermain mereka dibatasi hingga pukul 15.30. Artinya, waktu bermain mereka akan terpotong oleh waktu yang mereka butuhkan untuk menyepakati tiga tim yang menjadi acuannya.

"Baik, Pak Agus harus segera menentukan para anggota untuk tiga tim yang kita inginkan ya. Karena cukup memakan waktu ketika anggota tim diserahkan kepada kalian." Kata saya menengahi silang pendapat yang terjadi pada anak-anak tersebut di pinggir lapangan. Saya berpikir harus melakukan pembentukan tim agar waktu bermain tidak terbuang begitu saja. Dan itu akan menjadi pengaruh berikutnya jika waktu bermain mereka terpotong. Seperti misalnya mereka akan tetap meminta masing-masing tim bertanding selama waktu normal sehingga kepulangan mereka menjadi terlambat. Dan ketika kepulangan mereka molor, maka penjemput yang akan gusar. Mengingat anak-anak tersebut beberapanya masing memiliki agenda kegiatan di luar lapangan setelah permainan ini selesai.

"Tidak Pak Agus. Beri kami waktu sedikit lagi. Bapak harus sabar menghadapi tugas Bapak." Tiba-tiba ada seorang anak yang nampak tidak terlibat atau dilibatkan dalam diskusi penentuan tim itu keluar dari serombongan anak-anak dan mendekati saya sembari mendorong-dorong tangan saya dengan mengemukakan kata-kata tersebut.

Saya akhirnya memberikan kesempatan dan toleransi bagi anak-anak untuk terus melanjutkan diskusi mereka. Tetapi anak yang meminta saya sabar tetap berada di dekat saya dengan terus menyampaikan kata-kata. Mungkin maksudnya adalah agar saya tidak terlalu ambil pusing dengan waktu yang dibutuhkan anak-anak ketika menyepakati kesepakatan mereka. 

"Mengapa Pak Agus harus bersabar dengan waktu yang kalian butuhkan untuk berdiskusi tentang tim?" Kata saya di depan anak tersebut. Ia memang anak yang saya kenal karakternya. Anak bontot dari tiga bersaudara yang ketiganya ada di sekolah kami.

"Karena sabar akan di sayang Allah. Jadi Pak Agus memang harus bersabar. Pak Agus tidak perlu terburu-buru. Nanti mereka pasti bisa menemukan kesepakatan. Jadi Sabar ya Pak Agus..."

Jakarta, 22 Februari 2018