Kembali membuka narasi Abu Hasan Ali An Nadwi tentang ketimpangan fikiran dari pujaan intelektual yang terlanjur paten mengendap di jiwa. Dan kisah dibukanya itu, telah memberikan bagaimana terlihat jelasnya ketimpangan dan sesatnya pola menyimpulkan.
Oh, kurang sopannya luar biasa. Terlihat cerdas tanpa ada cela sedikitpun. Bahkan cemerlangnya bintang dan terangnya cahaya bulan telah membuat kami semua terkesima.
Tapi di halaman depan uraian buku itu, disampaikan bukti betapa buah bernalarnya dibumbui perilaku bangga pada ras bangsanya tanpa malu-malu.
Seperti dinding-dinding tembok yang megah itu, yang terlihat halus cantik permukaannya. Tanpa ada yang terlihat tidak sempurna.
Namun ketika dipandang tajam cermat. Ada yang terasa kurang ditemukan.
Benar-benar tidak seperti mukamu...



No comments:
Post a Comment