Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label GURU. Show all posts
Showing posts with label GURU. Show all posts

08 August 2025

Ngomongin Guru dan Kompetisi Sekolah


Siang ini kambali saya akan bicara dengan guru-guru terbaik saya tentang masa depan sekolah. Ini menjadi hal yang penting agar akhir pekan ini tidak terlalu dihantui pikiran negatif tentang egoisme. 

Ya benar, tentang egoisme. Pengakuan diri yang berlebihan. Sehingga beberapa guru yang saya kenal bagus ter[eleset dengan ke akuannya. Merasakan bahwa aku nya berkompetensi. Aku nya memiliki kemampuan bagus untuk menggantikan seniornya sebagai pimpinan atau leader. Aku nya yang merasa mampu bukan mampu merasa.

Oleh karenanya, saya akan menyampaikan bahwa sebagai bagian dalam sebuah sekolah formal swasta Islam, maka harus menjadi paradigma dasar kita adalah, bahwa kita adalah bagian inheren dari sebuah fenomena sosial berikut ini;

1. Kita sebagai bagian dari Sekolah Umum

2. Kita sebagai bagian dari Sekolah Swasta

3. Kita sebagai bagian dari Sekolah Islam,

Yang dengan demikian maka keberadaan kita sebagai bagian dari koordinat tersebut, dan sekaligus juga kita sesungguhnya sedang dalam kompetisi. 

Sebagaimana kita yakini bersama bahwa jika dalam sebuah kompetisi, maka hakekatnya kita adalah dengan sekolah lain sama-sama sebagai kompetitor. Dan dalam ranah ini, eksistensi kita tetap berlanjut bila menjadi pemenangnya. Berbeda jika pasarnya gemuk, maka kita akan tetap bisa menjadi pemenang bersama-sama. 

Lalu apa yang menjadi tahapan berikut setelah kita memahami paradigma dasar tentang Sekolah Swasta Islam? Tidak lain adalah apa yang menjadi etalase kita sebagai sekolah. Yang antara lain adalah;

1. Fisik Sekolah

2. Fasilitas Sekolah,

3. SDMnya.

Yang dalam ketiga sisi yang ada tersebut, akan saling kait dan saling memberikan pengaruhnya. Bangunan fisik selain kokoh dan indah, juga adalah pemeliharaannya. Terpeliharanya fisiknya, bagusnya, bersihnya, dan kecemerlangan sebuah gudungnya. Demikian pula dengan keberadaan fasilitas sekolah yang ada.

Selain fungsi dari fasilitas yang tersedia, juga adalah keakraban warga sekolah dalam memanfaatkan fasilitas yang dimilikinya. Untuk itu, maka tingkat kesibukan fasilitas sekolah harus menjadi prioritas agar fasilitas tidak sekedar sebagai pemanis penampilan.

Sedangkan SDM, akan menjadi soko guru bagi keberlangsungan sekolah. Mengingat Guru atau pendidik dan tenaga kependidikan yang akan memberikan ruh bagi tumbuhnya dan derasnya cerita baik dari murid yang ada didalamnya kepada orang-orang terdekatnya di rumah.

Yang dari cerita baik tersebut akan memberikan efek dengung positif di atmosfir persaingan.

Jakarta, 8 Agustus 2025

04 November 2020

Ke Istiqlal secara Virtual

Saya belajar kembali dengan melihat dan ikut serta dalam prosesi piknik vitual di SD ke Masjid Istiqlal pada Senin, 2 November 2020. Ya, hari itu rupanya menjadi prosesi kegiatan virtual ke Istiqlal dengan bahan hasil kunjungan guru sepakan sebelumnya, yaitu pada hari Jumat, 23 Oktober 2020. Dan beberapa skenario yang saya sendiri benar-benar tidak menduga akan berbentuk seperti apa. Jadi peristiwa pada Senin pagi itu membuat saya menabak-nebak bagaimana dan seperti apa yang akan terjadi.

Ini tidak lain karena keguiatan virtual yang selama ini kami lakukan adalah live dari lokasi trip yang menjadi tujuannya. sedangkan pada Senin itu, kami semua berada di sekolahan. Walau saya faham kalau semua gambar dan video tentang Istiqlal sudah ada di dalam komputer. Karena rencana kegiatan pembelajaran hari itwas itu, ananda akan tersambung secara daring via ZOOM, dan kemudian akan di siar langsungkan via You Tube.

Maka persiapan saya adalah apa yang bisa saya sampaikan kepada semua ananda di dalam Zoom tentang kegaiatan fieldtrip virtual ke Masjid Istiqlal. Sekaligus memandu ananda untuk mengawali kegiatan. Inilah yang saya siapkan pagi itu.

Dan inilah yang antara lain dapat tergambarkan dari kolase foto pada saat kegiatan di hari Senin itu;






Jakarta, 4 November 2020.

31 October 2020

Kunjungan ke Masjid Istiqlal

 Hari Jumat, 23 Oktober 2020, seyogyanya saya dijadwalkan ikut serta bersama guru-guru untuk menjadi tamu istimewa ke Masjid Istiqlal. Seyogyanya, karena qadarullah, saya harus membatalkan keikutsertaan saya karen pertimbangan badan kurang fit. Saya khawatir ketika kunjungan justru akan merepotkan anggota yang berkunjung dari SD Islam Tugasku. Tamu istimewa, karena ini murni sebagai langkah untuk merealisasikan ide, alangkah bagusnya kalau anak-anak di kelas dapat belajar tentang masjid terbesar di ASEAN, meski semuanya dalam bentuk pembelajaran secara virtual, dan meski kegiatan Masjid Istiqlal sendiri belum dibuka untuk umum. Pasti akan menjadi pengalaman dan interaksi menyenangkan. 

Jadi, atas diperolehnya izin kunjungan kami ke Masjid yang baru saja selesai di restorasi ini memang benar-benar kami rasakan sebagai kesempatan yang istimewa. Dan untuk itulah, saya ikut bangga juga atas kehadiran teman-teman guru bertemu para pengurus Masjid yang megah dan sekaligus modern.

Dan berhasillah teman-teman guru memperoleh informasi tentang Masjid Istiqlal itu sendiri, sekaligus juga beberapa bagian yang direstorasi sehingga Masjid ini memang benar-benar melahirkan bangga dan bahagia.

Dan selain informasi, tentu saja Bapak dan Ibu guru yang menjadi perwakilan kami, merekam seluruh fakta yang ada di lokasi dengan sertakan gambar serta video, yang kesemuanya itu akan menjadi bahan istimewa buat kami sajikan kepada seluruh siswa di sekolah Senin, 2 November 2020.

Sebagai gambaran saja, disini saya akan menyertakan gambar yang saya dapatkan sebagai oleh-oleh;







Jakarta, 31 Oktober 2020.

Menemani Fieldtrip (Virtual)

Awal pekan lalu, tepatnya Senin, 26 Oktober 2020, saya berkesempatan menemani guru mengajar virtual. Kelas yang saya ikuti adalah kelompok TK A. Dan kelas yang saya minta diikutsertakan adalah kelas virtual dalam bentuk laporan secara langsung dari kandang kerbau yang ada di lokasi peternakan, kebun, dan tanaman hias Kuntum Farmfield, yang ada di Tajur, Bogor, Jawa Barat.

Memang, di KB dan TK, pekan terakhir bulan Oktober 2020 diselenggarakan kegiatan fieldtrip secara virtual. Ini, sekali lagi, adalah ide guru-guru hebat di Tugasku dalam membuat layanan edukasi yang bertujuan untuk memberikan rasa dan nuansa berbeda dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh. Agar ananda yang ada di rumah tetap bahagia dan sekaligus juga memberikan kenangan belajar sesuai tema yang mereka sedang kerjakan. Maka jadilah kegiatan Field trip dilaksanakan secara virtual.

Dimana saya dan guru-guru berada di lokasi fieldtrip yang telah ditentukan. Sebagaimana jatah saya adalah ikut di rombongan trip ke Kuntum, Bogor. Dan khususnya saya sendiri, berada di kandang kerbau yang ada di Kuntum tersebut. Yang ketika pembelajaran berlangsung, saya akan terkoneksi dengan Zoom kelas, untuk kemudian menyampaikan informasi secara langsung  tentang berbagai hal yang harus ananda ketahui tentang kerbau.

Saya mengarahkan kamera saya ke kandang kerbau yang terdiri dari 18 ekor kerbau dewasa dan anakan. Menginformasikan juga apa yang menjadi kebiasaan kerbau ketika berada di kandang, tempat jemur, dan juga ketika harus berendam di dalam air ketika badan mereka kepanasan. Juga ketika para kerbau itu sedang makan.

Apakah saya hanya sendirian di area Kuntum yang menjadi lokasi fieldtrip TKA kali ini? Tidak, seperti apa yang saya sanpaikan di awal, saya hanyalah menemani guru-guru Kelompok TK A, yang ada 4 guru. Jadi sebelum dan setelah saya melaporkan kegiatan kerbau dari kandangnya, ada dua guru yang sedang berada di lokasi atau spot Kuntum yang lain sementara dua guru lagi berada di depan laptop untukmenjadi admin dan sekaligus moderator. 

Sementara anak-anak, tetap berada di rumah mereka masing-masing dengan keluarganya. Mengaspa dengan keluarga? Karena anak-anak telah dikirimi perangkat atau properti fieldtrip yang mereka bisa jadikan sebagai penanda spot trip sebagaimana yang ada di Kuntum. Jadi, ketika saya sedang ada di kandang kerbau, anak-anak juga berada di lokasi di rumahnya yang diberi tanda kandang kerbau. Kerbaunya? Anak-anak bisa menempelkan gambar hewan kerbau di spot yang dipilihnya di lingkungan rumahnya.

Model kegiatan belajar ini agar anak-anak tetap senang menjalani pembelajarannya merki tetap berada di rumah dengan cara daring. Anak-anak juga tetap mendapatkan asupan edukasi baik pada ranah kognitif ataupun psikomotorik dan juga afeksi. Semoga.





Jakarta, 31 Oktober 2020.

11 October 2020

Para Penulis Skenario

Dalam setiap kegiatan pembelajaran jarak jauh, yang sudah berlangsung sejak Senin, 16 Maret 2020 hingga hari ini, Minggu, 11 Oktober 2020, maka seluruh kompetensi guru saya benar-benar dapat meresapi. Dan entah hingga kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Saya sendiri memperediksi bahwa seluruh kegiatan di tahun pelajaran 2020/2021 berlangsung secara virtual. Hal yang sebelumnya baru kami  prediksi hanya semester 1, 2020/2021. Namun hingga hari ini, tanda-tanda penularan Covid-19 tetap tinggi. Menjadi harapan kita semua juga semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dari tertular penyakit ini. Amin ya Rabbal’alamin.

Hal itu karena saya selalu ingin tahu, yang kemudian justru membuahkan hasil bahwa setiap saya tahu maka berarti saya semakin menambah ilmu danpengetahuan tentang operasional pembelajaran yang mereka rancang dan kemudian lakukan. Juga saya menjadi semakin kagum terhadap fleksibilitas mereka dalam menjalani kehidupan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, yang justru lebih menantang dari pada pembelajaran tatap muka di masa normal.

Termasuk diantaranya bahwa kebiasaan di masanormal bahwa teman-teman guru selalu membuat round down dari semua aktivitas yang akan mereka jalani dimasa normal, maka pada masa pandemi covod-19 dimana pembelajaran harus berlangsung secara virtual, kebiasaan itu semakin menjadi-jadi. Itulah yang kemudian saya sebut sebagai para penulis skenario dalam tulisan ini.


Ini juga yang membuat saya berkesimpulan bahwa teman-teman guru sudah mampu membayangkan rencana kegiatan pembelajaran atau event lainnya bersama peserta didiknya, secara opersional di atas kertas konsep kegiatan. Dan ini sangat bagus sebagai bagian dari mengukur ketertarikan peserta didiknya dalam mengikuti aktivitasnya.  Hal ini tidak lain karena memang teman-tema guru terbiasa dalam membuat skenario dimasa normal. Seperti  pada saat mereka akan melaksanakan kegiatan Pentas Seni atau pensi sekolah, kemudian juga dalam setiap assembly kelasnya, serta dalam kegiatan yang terprogram dalam unit sekolah. Dalam kebiasaan inilah yang  memberikan dampak memudahkan dalam seluruh rancangan kegiatan atau event yang dilakukan secara PJJ.

Dalam setiap kegiatan yang akan dijalani, sekecilapapun event yang akan mereka lakukan, maka skenario sangat membantu dalam alur yang harus dijalani di kegiatan apapun di dalam rancangannya. Bagaimana cerita yang akan disajikan, siapa yang harus melakukan, alat apa saja yang dibutuhkan, bagaimana jalannya kegiatan dari menit awal hingga menit terakhir.

Dengan keterampilan dalam membuat skenario kegiatan tersebut, maka guru dan tim benar-benar terbantu dan sekaligus tergambar akan seperti apa kegiatan tersebut berlangsung. Bahkan untuk melakukan kegiatan yang konkrit, teman-teman guru harus membuat yakin bersama, dengan cara melakukan kegiatan latihan dalam bentuk kegiatan kecil yang dijalani secara persis seperti apa yang akan mereka lakukan dengan momen kegiatan yang lebih besar.

Dan bagi saya sendiri, ini benar-benar menjadi momentum dan sekaligus cara serta strategi yang bagus dalam hal berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan. Kembali lagi, keleluasaan untuk saling berbagi ilmu menjadi bagian penting dalam memintarkan diri.

Jakarta, 11 Oktober 2020.

10 October 2020

Guru-Guru Mandiri

Dalam perjalanan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan secara virtual sejak Senin, 16 Maret 2020 hingga hari ini, Sabtu, 10 Oktober 2020, banyak sekali momen dan keterampilan yang membuatnya tetap eksis dengan model pembelajaran yang terus menerus berinovasi sehingga peserta didik yang berada di rumahnya masing-masing tetap stay cune. Dan inilah antara lain yang daya dorong para peserta didik tersebut dan tentunya orangtua siswanya yang duduk di Kelompok Bermain, untuk juga bertahan berada di kelasnya. Alhamdulillah tidak ada satu pun peserta didik dari mereka yang memutuskan untuk tidak mengikuti kelas dan memilih tidak Bersekolah. 

Sebagaimana yang terjadi di beberapa sekolah KB/TK yang harus kehilangan beberapa siswanya karena menarik diri untuik tidak bersekolah di masa pandemi ini. Hal ini karena anak-anak di usia awal, akan membutuhkan banyak bantuan dari rumah baik pada saat keiatan virtual atau kegiatan tambahannya sehingga orangtua berfikir akan menjadi kurang efektif. Selain juga karena bahwa jenjang pendidikan Kelompok Bermain atau Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan Pra sekolah.



Dan seluruh ketahanan dan Keterampilan yang guru-guru itu punyai tidak lain karena rasa harga dirinya untuk tetap survive memberikan layanan terbaiknya di kelasnya masing-masing. Dengan support paradigma untuk menjadi pribadi terbaik secara mandiri, maka terbangun rasa ingin tahu mereka terhadap sarana belajar yang jauh berbeda di masa pandemi Covid-19 ini. Mereka semangat unt uk menguasai dan menaklukannya. Dan bahkan semangat untuk menguasainya!

Sekali lagi, pada posisi dan keadaan inilah saya tidak lupa untuk mengucapkan rasa syukur saya dan mengucapkan alhamdulillah. Bahwa rasa mandiri teman-teman guru tersebut, sudah menjadikan pribadi mereka untuk tidak menuntut tentang apa yang harus diberikan kepadanya, tetapi selalu berupaya bagaimana mereka untuk tetap menjadi yang terbaik. Dan inilah yang membuat saya bahagia untuk tetap bersama mereka. Guru yang berpribadi pembelajar!

Dan sebagai bagian dari perilaku mandiri tersebut, maka dalam semua event sekolah, yang menjadi program kegiatan sekolah yang tercantum dalam program kegiatan sekolah, kami lakukan tanpa ada dana orangtua siswa atau yayasan untuk event organizer. Semua, alhamdulillah berlangsung dengan meninggalkan rasa kagum yang mengesankan, yang semuanya dirancang, dilakukan, dan juga disiarkan secara LIVE oleh teman-teman guru. Sendiri!

Semua pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan piranti pembelajaran jarak jauh atau virtual, didapat melalui perjuangan otodidak, membangun komunikasi sesama teman guru, bertanya kepada teman media, berdiskusi dan saling berbagi ilmu, secara bertahap. Termasuk diantaranya adalah event yang juga LIVE di You Tube. Semua sendiri, yang kalau bingung, kami akan konsultasi dengan orangtua siswa yang kami yakini dapat sharing ilmu, dan juga berdiskusi dengan sesama kami. Kunci uatama dari tahapan ini adalah rasa ingin tahu dan kemauan untuk mempunyai keterampilan.

Sebagai bagian dari komuniatas yang memiliki budaya seperti ini, bagi saya  melahirkan rasa bangga akan kemampuan yang kami miliki, dan juga kemauan untuk mencoba keterampilan tersebut pada event-event unik PJJ menarik. Dari titik inilah saya berterimakasih kepada teman-teman guru itu. Dan saya iri atas apa yang telah mereka capai dalam meningkatkan kompetensi diri. Keren!

Jakarta, 10 Oktober 2020

06 October 2020

Mendampingi Guru Mengajar di Kelas

Menyenangkan sekali ketika saya mendpat tugas untuk bersama guru masuk kelas. Tentunya untuk menyampaikan cerita atau membacakan buku. Dan ketika masa normal, saya tanpa permintaan sudah mempersiapkan diri untuk melakukan apa kepada anak-anak. Dan saya memilihnya di waktu ketika usai ikrar pagi dan Dhuha dan Talaqy di unit SMP. Atau juga di siang hari menjelang Shalat Dzuhur Berjamaan di Musholah di unit SD. Dan itu menjadi momentum yang menarik tidak hanya kepada peserta didik, tetapi justru pada diri saya sendiri.

Dan ketika masa pandemi Covid-19 sejak 16 Maret 2020, dimana aktivitas kegiatan diluar jaringan atau luring, berganti dengan kegiatan dalam jaringan, daring atau virtual menjadi aktivitas persekolahan, saya meminta waktu kepada teman-teman untuk dapat ikut serta bertemu dalam kelasnya. Dan bersyukur, beberapa waktu saya dilibatnya mendampingi mereka di dalam kelas. Termasuk kegiatan yang saya lakukan pada hari Jumat, 2 Oktober 2020, dalam rangka kegiatan Hari Batik Nasional di kelas 2 SD.

Alhamdulillah, dalam memperingati Hari Batik itu dengan penuh rasa syukur.saya menyampaikan cerita dalam pertemuan virtual via Zoom tentang batik. Cerita tentang bagaimana saya mengunjungi lokasi yang menjadi sentra batik baik di Ceribon, di Pekalongan, di Jogjakarta, di Solo, dan juga di kampung halaman saya, Purworejo.

Semoga dengan mengenal batik sebagai kebanggaan bangsa, juga semakin menambah kecintaan kita pada batik, sebagai hasil karya bangsa Indonesia, dan turut memberi kontribusi dukungan pada para pengrajin batik dengan langkah nyata. 

Dalam penyampaian cerita tentang batik di kelas itu, saya tidak lupa untuk mengajak dan membujuk Bapak dan Ibu guru untuk membeli batik, merancang pakaian dan berbagai lebutuhan diri berbasis batik, mengenakan batik di semua acara dan kegiatan, dan piknik ke sentra batik di berbagai tempat di nusantara. Juga jangan lupa untuk dapat ikut serta belajar membatik. Karena inilah hasil karya anak bangsa yang telah menjadi warisan dunia. 

Jakarta, 6 Oktober 2020

04 October 2020

Bagaimana Pelaksanaannya?

Beberapa kali Bapak atau Ibu Guru atau juga Kepala Sekolah menyampaikan ide tentang suatu kegiatan kap[ada saya dengan maksd mensosialisasi atau sedekar pemberitahuan, baik yang memang tercantum dalam kalender kegiatan sekolah atau tidak, saya hampir selalu menerima program itu. Dan selsalu juga senelum saya menyatakan setuju, maka selalu satu yang menjadi pertanyaan saya ke[ada mereka. Yaitu pertanyaan standar; bagaimana nanti pelaksanaan kegiatan tersebut?

Hanya itu saja yang akan menjadi konsen saya. Karena sesungguhnya saya ingin memastikan bahwa secara operasional sudah guru pikirkan. Sehingga tidak saja kepada konsep kegiatannya, tetapi juga bagaimana operasionalisasi kegiatannya?

Dan dari pertanyaan itulah kami saling bertukar pendapat dan diskusi lebih lanjut mendalam dan luas. Yang kemudian akan melahirkan kajian yang lebih detil dari konsep kegiatan yang semula didesain guru. Termasuk bagaiaman nanti para peserta didiknya kan menjalani kegiatannya. Dari kacamata peserta didik ini, juga nanti kami dan dapat mempertajam kegiatan menjadi lebih menarik, dan yang paling utama, memberikan peluang kepada peserta didik untuk dapat memahami suatu hal secara mendalam dan luas. Serta meninggalkan kesan yang menggembirakan.



Juga pada saat saya bertanya; Apa nanti yang akan dilakukan oleh anak-anak? Apakah anak-anak nanti dapat mengerjakan dengan senang karena tugas yang dilakukan adalah suatu hal yang menantang kompetensinya?

Bagaimana kalau konsep yang Bapak atau Ibu buat nanti bentuk kegiatannya seperti ini? Dengan demikian maka anak-anak dapat melakukan kegiatannya bisa berkolaborasi dengan orang yang ada di rumah? Yang demikian maka yang akan terlibat pembelajaran virtual dengan tema yang Bapak atau Ibu pilih tidak saja peserta didik Bapak atau Ibu, tetapi juga dengan anggota keluarga yang lain?

Dan sebainya, dan sebagainya. Prinsip pertanaan saya memang hanya untuk memastikan bahwa sebuah konsep kegiatan yang dibuat guru, telah mempertimbangkan semua sisi. Sehingga konsep itu tidak hanya sebuah bentuk kegiatan yang sebelum dilaksanakan pun, kita sudah melihat hasilnya akan seperti apa.

Jakarta, 4 Oktober 2020

03 October 2020

PJJ di Awal Pandemi

Pada saat pemerintah mengumumkan adanya pandemi Covid-19 di Indonesia, pada pertengan Maret 2020, maka sejak Senin, 16 Maret itu seluruh aktivitas sekolah berlangsung tidak lagi secara tatap muka, tetapu secara virtual atau offline, atau yang kemudian nge-hits dengan istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dan proses belajar ini menjadi sesuai yang baru bagi teman-teman saya di sekolah. Karenanya tidak semua teman saya siap secara kompetensi IT menjadi gagap, kaget, atau tidak siap. Dan ini tidak saja menjadi masalah saya sendiri, di sekolah saya sendiri, tetapi juga apa yang dirasakan oleh teman-teman saya yang berada di lembaga pendidikan yang lain.

Bagi saya, ini harus segera mendapat penanganan agar kedepan tidak menjadi masalah. Karena saya berada di lembaga pendidikan swasta, yang seluruh sumber pendanaan dari masyarakat sekolah sendiri. Maka keberadaan mereka adalah utama. Dan menjadikan pelayanan di sekolah yang disampaikan oleh teman-teman pendidik menjadi prioritas. saya rasa ini sudah standar. Sebagaimana yang dihadapi oleh teman di sekolah swasta yang lain.

Beberapa hal yang menjadi tema disksi kami berkenaan kesiapan pendidik di awal memasuki masa pandemi covid-19 ini antara lain adalah; Pertama, belum meratanya kompetensi komputer guru dalam melaksanakan PJJ. Padahal komputer, adalah alat utama bagi kenyamanan pelaksanaan PJJ.

Kedua, pararel dengan kompetensi penggunaan perangkat komputer, adalah juga, menggunakan fungsi-fungsi smart phone yang menjadi pegangan mereka sehari-hari. Harus diakui bahwa sebagian penggunaan smart phone masih terbatas kepada penggunaan fitur pada sarana si]osialnya, dan bukan kepada peruntukan untuk menunjang pekerjaan. Dan ini menjadi sebuah kenyataan yang memang harus dipecahkan. Seperti, misalnya, penggunaan email, Google Drive, dan lain-lain.

Ketiga, sebuah kenyataan juga bahwa selain pada kompetensi dan pemahaman terhadap aplikasi dalam smart phone yang dapat menjadi alat penunjang belajar, harus disadari pula bahwa kapasitas smart phonenya juga berbeda-beda. Secara berkelakar, kami menyampaikan bahwa kapasitas gadget bergantung kepada usia pendidiknya. Pendidik dengan usia kepala empat keatas kapasitas, baik RAM atau memori, berbeda dengan gadget yang dimiliki oleh teman-teman pendidik yang berada di kelompok usia kepala dua atau tiga. Lebih kurang beginilah kenyataan yang harus dihadapi.

Dan kapasitas tersebut, berpengaruh kepada daya dukung smart phone yang ada kepada pekerjaan pendidik yang diembannya.

Keempat, Meskipun teman-teman pendidik tersebut memiliki perangkat lunak, seperti smasrt phone atau juga komputer dengan kapasitas yang jauh memadai, tetapi masih ada kendala yang juga fital, yang memungkinkan kegiatan PJJ terhambat. Inilah yang terjadi di awal-awal pelaksanaan pembelajaran virtual di masa pandemi. Yaitu masalah kuota dan jaringan internet.

Itulah diantara masalah pembelajaran virtual di masa awal pandemi. Masalah yang secara bertahap kami selesaikan dengan melakukan pilihan solusi sesuai dengan masalah yang ada. Alhmadulillah, bahwa dengan etos kerja dan kebanggan diri untuk tetap menjadi yang terbaik, teman-teman pendidik dapat mengejar dan menguasai apa yang menjadi kompetensi pendidik di masa pandemi ini dengan cepat.

Jakarta, 3 Oktober 2020

Menikmati Pengejawantahan Ide Guru

Ketika pandemi Civid-19 masih melingkupi kehidupan kita, maka seluruh kegiatan pembelajaran normal di sekolah berpindah ke virtual, termasuk diantaranya adalah kegiatan perpisahan untuk peserta didik yang lulus tahun pelajaran 2019/2020. Dan untuk kepentingan itulah berbagai penda[at, masukan, gagasan tentang bagaimana kegiatan itu tetap berlangsung, aman, patuhi protokol kesehatan, dan tentunya membawa kesan yang menyenangkan. Jika memungkinkan tidak terlupakan.

Gagasan untuk menyewa gedung, langsung gugur. Ada pula menyewa koridor pertokoan, yang memungkinkan guru mendapatkan akses untuk penyewaannya meski dengan waktu terbatas dan tertentu, juga gagal. Drive thru? Masih memungkinkan untuk menjadi alternatif pelaksanaan. Dan akhirnya dipilihlah lokasi keren, terbuka, luas, dan dekat dengan lokasi sekolah. Itulah parkiran Jakarta International Equestrian Park yang berada di area Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur.

Dan, di halaman parkir Jakarta International Equestrian Park (JIEP), Pulomas, Jakarta Timur, pada Sabtu tanggal 4 Juli 2020, berlangsunglah kegiatan yang diidamkan oleh peserta didik dan guru, yaitu acara graduation dan penyerahan dokumen kelulusan untuk 50 lulusan terbaik angkatan 15 tahun pelajaran 2019/2020. 

Acara yang luar biasa. Lahir dari ide guru yang juga luar biasa. Dan saya menebutnya sebagai sedikit miring. Tetapi berhasil memberikan kenangan yang mengesankan bagi ananda para lulusan, Bapak dan Ibu Guru, juga bagi para orangtua siswa. Sebuah event yang semoga menjadi kenangan manis untuk semuanya, perpisahan dalam masa pandemi.

Dan sekaligus menjadi hal yang pertama di Indonesia, bahwa awal acara ini, yang berupa seremonial, dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dari kendaraan orangtua masing- masing. Yang kadang untuk berkomunikasinya antara panggung dan para siswa serta orangtua di dalam kendaraan menggunakan bunyi klakson. Kemudian pada saat pemberian dokumen dan plakat kenangan, ananda di perkenankan secara bergilir ke panggung untuk menerimanya dengan tetap menggunakan masker dan jaga jarak.

Alhamdulillah bahwa acara ini menjadi acara yang berlangsung dengan baik dan menggembirakan. Dn berikut adalah link untuk berita kegiatan tersebut yang disiarkan dalam Program Berita i-News TV; https://youtu.be/emBHxC3Q8EU


Ditulis kembali di blog, sebagian dari www.tugasku.sch.id

Jakarta, 3 Oktober 2020.

Manasik Haji Virtual?

Bagaimana melaksanakan kegiatan manasik haji secara virtual? Inilah yang menjadi diskusi awal kami, teman-teman di KB dan TK Islam Tugasku, dimana saya menjadi bagian dari penjaga gawangnya. Diskusi berlangsung lebih kurang satu bulan sebelum tanggal pelaksanaan manasik haji.

Diskusi ini juga sebagai penyemaan persepsi bahwa agenda kegiatan sekolah pada saat normal apakah memungkinkan dilaksanakan juga di masa pandemi Covid-19 ini? Kalau harus dilaknasanakn, dimana pelaksanaannya melalui virtual, bagaimana sisw a di rumah bisa ikut serta aktivitas guru melalui Zoom Meeting? Apakah peserta didik di rumah akan menyimak tahapan manasik haji yang dilakukan guru dengan duduk saja di depan ganged nya masing-masing?

Semua pertanyaan inilah yang menjadi bahan dasar diskusi kami tentang kegiatan manasik haji. Termasuk juga diantaranya, kalau masa normal, maka manasik haji di Tugasku akan mengajak serta 40 siswa dari TK yang tergolong tidak mampu yang berlokasi di dekan Tugasku secara gratis, bahkan ketika pulang nanti akan diberikan goody back.

Dan AHA... ide itu kahirnya berhasil kita elaborasi, yang menurut kami gagasan bagus yang memungkinkan kegiatan akan menjadi menarik dan tidak membosankan. Bahkan sangat boleh jadi, nantinya anak-anak di rumah mereka masing-masing bersama pendampingnyamasing-masing juga, kan menjalani tahapan manasik haji dengan penuh keriaangan.

Maka pada Kamis, 30 Juli 2020 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijah 1441 Hijriah, di hall sekolah telah bersiap Bapak dan Ibu Guru KB/TK untuk memandu pelaksanaan Manasik Haji yang pada masa pandemi ini dilakukan secara virtual. Untuk itu, ini menjadi pelaksanaan manasik yang paling istimewa bagi ananda di tahun pelajaran 2020/2021  yang diikuti oleh 130 siswa. Bapak dan Ibu guru berbagi tugas. Ada yang menjadi pemeran dalam manasik haji, yang tentunya diambil alih oleh Pak guru agama dengan dibantu dua guru lainnya. Ada juga yang befrtugas sebagai pemegang kamera, meski kamera yang digunakan adalah kamera hand phone. Ada pula yang bertugas sebagai pengendali online, yaitu yang menjadi host untuk media Zoom  dan ada pula yang mensinkronisasi aktivitas Zoom untuk tayang live di You Tube. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Sementara dari rumah masing-masing, ananda dari Kelompok Bermain dan TK juga sudah bersiap dengan 'perjalanan' manasik haji yang akan dijalani dengan rute haji yang sama dengan Bapak dan Ibu Guru yang ada di sekolah, namun dengan wujud dan penanda lokasi yang berbeda-beda. 

Jadi meski hanya tersambung dengan Zoom, antara sekolah dengan rumah, maka Pak Haris pada saat mengawali manasik di Masjid Bir Ali, ananda di rumahpun juga berada di Masjid Bir Ali-nya masing-masing. Juga pada saat Pak.Haris di sekolah sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah, maka ananda di rumah juga berada di Padang Arafah-nya masing-masing. Demikian pula ketika Pak Haris melakukan Sa'i antara Bukit Saffa ke Bukit Marwa atau sebaliknya, ananda di rumah juga melakukan hal yang sama yang mereka buat di rumahnya masing-masing.

Dan begitu juga ketika Pak Haris melakukan Thawaf di Ka'bah sebanyak tujuh kali, melaksanakan jumroh, dan juga Tahallul. Alhamdulillah. 

Kita tetap berstukur bahwa Manasik Haji di masa pandemi tahun 2020 ini dapat terlaksana dengan baik dan penuh kesan. 

Penghargaan dan terimakasih kepada Bapak dan Ibu Guru, kepada Ayah dan Bunda yang telah menjadi pendamping ananda di rumah dalam pelaksanaan ritual Manasil Haji tahun ini. Semoga Allah Swt selalu memberikan kepada kita semua sehat. Amin

Jakarta, 3 Oktober 2020

Sumber diantaranya dari http//tugasku.sch.id

Menemani Guru, Memintarkan Diri

Pandemi Covid 19, sejak pertengahan Maret 2020 hingga hari ini, Sabtu, 3 Oktober 2020, telah membentuk teman-teman pendidik di lembaga pendidikan formal dimana saya menjadi bagiannya, etos kerja baru, etos kerja virtual. Karena selama pandemi, maka seluruh aktivitas pendidikan harus berlangsung secara virtual. Suatu hal yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh saya, teman-teman pendidik, dan kita semua. Pandemi yang datangnya tiba-tiba mengharuskan kita semua belajar cepat untuk tidak saja menjadi bisa, tetapi harus mahir. Mahir melaksanakan PJJ secara menarik dan memenuhi esensi pendidikan. PJJ yang tidak membebani peserta didik dan orangtua di rumah, tetapi proses belajarn yang solutif. Memenuhi semua aspek dalam interaksi pendidikan.

Saya, yang bertugas sebagai penjaga gawang, kalau saya analogikan sekolah sebagai permainan sepak bola, dari sebuah lembaga pendidikan swasta, menemani guru ketika mereka menelurkan ide kegiatan pembelajaran bersama tim mengajarnya, melihat bagaimana mereka merealisasikan dan mengoperasionalkan konsep dan rencana mengajar, turut serta dan berkontribusi bersama mereka, benar-benar menjadi momentum bagi saya untuk memintarkan diri saya sendiri. Alhamdulillah.  Setidaknya inilah yang memang saya dapatkan dari pertemanan saya dengan para pendidik itu.

Namun beberapa hal yang saya dapat nikmati dan rasakan dari perjalanan PJJ di sekolah antara lain adalah sebagai berikut; 

Pertama, bahwa kegiatan dan proses berlangsungnya PJJ yang datangnya tiba-tiba, dan menharuskan kita melakukan semua aktivitasnya secara virtual, justru menjadi dan memberikan peluang bagi teman-teman guru untuk unjuk gigi dan tertantang dalam melakukan kegiatan PJJ tetap semenarik sebagaimana kegiatan pembelajaran normal, pembelajaran luring. Memon PJJ sepertinnya sebagai tantangan bagi guru untuk menaklukkan. Dan ini menjadi hal baik dan positif serta menguntungkan bagi saya untuk tetap menunggui mereka berkiprah dalam dunia virtualnya di kelas.


Kedua, momen PJJ, justru menjadi masa yang tetap memungkinkan pendidik dan peserta didik untuk sama-sama mengeksplorasi diri, sehingga penumbuhan kreativitas, inovasi, dan upaya mencoba sesuatu yang baru dalam interaksi kelas. Karena kalau apa yang dilakukan hari ini sebagaimana yang kita lakukan seperti pekan lalu atau bulan lalu, maka hal ini akan membawa situasi yang membosankan. Sehingga memicu peserta didik untuk enggan bergabung dalam Zoom Meeting yang dilakukan gurunya. Maka adrenalin kreativitas akan memicu guru untuk menggali kemungkinan-kemungkinan kegiatan yang menarik.

Ketiga, bahwa kegiatan dsan proses pembelajaran jarak jauh tetap mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara luring di zaman normal. Dengan keyakinan seperti ini, maka peserta didik tetap dapat membangun rasa percaya diri.

Keempat, pembelajaran jarak jauh atau daring atau virtuial, juga memberikan ruangbagi teman-teman guru untuk tetap melahirkan ide-ide cemerlang dalam merancang kegiatan pembelajarannya. Baik dalam bentuk proyek, eksplorasi mandiri dan bahkan pengembangan keterampilan menulis laporan kegiatan yang terstruktur. Dan gagasan yang diluar kebiasaan juga masih dan tetap mungkin dijalani meski formatnya virtual. Hal yang tetap mampu melahirkan kegiatan yang ‘membahana’.

Kelima, bahwa kegiatan dan proses pembelajaran jarak jauh atau virtual juga memungkinkan bagi sekolah, atau bahkan saya pribadi, juga semoga peserta didik dan orangtuanya, untuk bangga dan bersyukur atas apa yang telah ditunaikan Bapak dan Ibu Guru.

Jakarta, 3 Oktober 2020.

Ikhtiar untuk Tetap Unggul

Berbagai ikhtiar komunitas dan warga sekolah dalam mengantisipasi atas kekhawatiran-kekhawatiran atas Ketidak berhasilan dalam pelaksanaan PJJ, seperti misalnya pembelaaran online yang akan cenderung menjadi kering kerontang ketika secara periodik mendapat informasi bahwa pandemi terus berlangsung hingga hari ini (3 Oktober 2020), adalah;

Pertama, Mengajak Bapak dan Ibu Guru untuk mengeksplorasi berbagai sarana belajar online yang lazim terdengar dan memulai menjamahnya begitu awal pandemi diumumkan pemerintah. Dimana bahwa mulai Senin, 16 Maret 2020, seluruh aktivitas pembalajaran harus menggunakan virtual, jarak jauh, home learning, atau on line. Tidak ada lagi kegiatan luring atau tatap muka.

Dari sinilah bapak dan ibu guru bersama-sama belajar bagaimana memberdayakan Google Form, Google Drive, Google Classroom, hangout. Tahap demi tahap membuat soal latihan di Google Form yangtentunya dari tahapan yang paling sederhana. Dan bila telah memulai serta biasa, maka meningkat untuk mengeksplorasi yang lebih kompleks. Sema dilalui hingga kami benar-benar merasa senang karena bisa, dan membagi pengalamannya kepa teman yang lain untuk ikut serta mencoba. Dan inilah lahan bersama kami dalam belajar bersama, hingga suatu saat kami juga bersama menemukan momen AHA!

Teman-teman guru yang berada dalam pararel kelas, atau di dalam rumpun pelajaran sejenis, dapat dan dengan murah hati menceritakan apa yang telah didapatnya dalam proses pembelajaran jarak jauhnya. Tentunya hal-hal yang menjadi temuan barunya. Juga memulai mencoba sarana belajar baru seperti dengan meggunakan video call, yang kemudian atas kepraktisan dan fungsinya yang keren, digunakannya aplikasi berbayar Zoom. Walau di awal penggunaannya banyak yang meributkan. Tetapi pertimbangan fugsi yang kebutuhan, aplikasi ini yang layak kami gunakan secara resmi. Pada tahapan ikhtiar ini, saya sendiri dibuat kagum oleh apa yag telah berhasil dilalui teman-teman dalam membuat terobosa tentang sarana yang digunakan, memaksimalkan pertemuan virtual mereka. Membuktikan bahwa, keberanian teman-teman dlam melakukan sesuatu hal yang baru dan mengambil resiko, layak mendapat apresiasi. Dan ini semuanya, benar-benar di luar ekspektasi kami.

Kedua, Yang menjadi lagkah berikutnya setalah lahan eksplorasi berasni dijelajahi teman-teman, adalah memberikan sarana mengajar selain perngkat Zoom berbayar. Yaitu standarisasi penampilan dalam ruang kelas virtualnya. Ini menjadi penting agar penampilan kami di hadapan anak-anak adalah juga penampilan kami dalam interaksi pembelajaran seayaknya di dunia normal atau offlie, atau luring. Dan lagi-lagi, justru dengan modal sendiri, teman-teman memasang layar di belakang keberadaanya saat Zoom Class dengan background virtual, yang mereka ganti sendiri-sendiri.


Ketiga, Membuat nextcloud yang berbasis pada server sendiri, yang memungkinkan 
ketersediaan storage pada memori seluler guru. Dimana tidak terpikirkan oleh kami sebagai 
pendidik yang berkecimpung jauh dari nuansa teknologi informatika. Namun atas bantuan 
bagian IT, ide pembuatan nextcloud, menjadi jalan keluar yang mulus. Dan ini memungkinkan 
guru untuk menyimpan segala rupa dengan kuota 4 terra!

Keempat, Membuat kompilasi foto dan video dengan aplikasi dan watermark, sebelum 
hasilnya kreasinya itu masuk dan tayang di media sosial unit sekolah dan storage di 
nextcloud. Hasil dari  karya pendidik dapat dengan mudah saya melihatnya, baik yang 
mereka up load di media sosialnya, atau juga saya membukanya di nextcloud. Dan dari sini, 
saya dapat melihat bagaimana proses PJJ berlangsung. Baikkah, memuaskankah, apakah 
peserta didiknya merasa kenyamanan atas proses PJJ yang berlangsung?
Kelima, Melakukan komunikasi pekanan terhadap semua komunitas pendidik dan tenaga 
kepandidikan yang ada.


Jakarta, 3 Oktober 2020

02 October 2020

6 Hal Kekhawatiran Ide-Ide Kreatif Guru Mandeg

Selama pelaksanaan PJJ, pada pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak 14 Maret 2020 hingga hari ini (Jumat, 2 Oktober 2020), maka pembalajaran dilakukan secara jarak jauh, online. Mengawali kegiatan PJJ, ada beberapa hal pertimbangan kami untuk terus berjuang menjadi nomor satu. Dan semua berawal dari kekhawatiran, kalau;

Pertama, bahwa PJJ yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru dari rumah masing-masing dan dalam jangka waktu yang belum tahu lamanya, akan mengubah etos kerja guru. Dimana guru tanpa adanya pantauan secara fisik oleh teman kerja atau atasannya, itulah yang kemudian melahirkan model kerja gaya baru, yang merupakan penurunan dari etos kerja dan kinerjanya selama ini. Kinerja yang turun akan melahirkan ketidak puasan dari orangtua siswa. Ini pulalah yang selalu memotivasi sekolah dalam menemani guru untuk tetap dan selalu menjadi dedikasi dan garis perjuangannya.



Kedua, Implikasi dari hal yang pertama diatas, adalah lahirnya asumsi dan pendapat dari

teman-teman pendidik di sekolah tentang pemahaman kalau waktu layanan guru sekedar 

saat waktu kontak dengan peserta didiknya saja dalam Zoom Meeting. Maka untuk inilah 

kami kembali mengajak diskusi agar layanan dalam PJJ berdurasi sama dengan ketika 

pembalajaran secara offline. Kecuali dalam hal-hal tertentu.


Ketiga, Bahwa pelaksanaan PJJ akan monoton dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi bilamana 

teman-teman merasa kekeringan dalam menggagas suatu kegiatan pembelajaran yang 

mungkin dapat dilakukan, meski hal ini membutuhkan usaha dan ikhtiar yang lebih.

PJJ akan terlampau menekankan pada mastery learning an sich.


Keempat, dalam hal filling arsip PJJ dikhawatirkan jika teman-teman guru hanya terpaku 

kepada resource yang dimiliki, berupa Google Drive dan memori smart phone nya. Karena 

harus diakui jika hanya bertumpu kepada dua hal tersebut tanpa memiliki kreativitas, maka 

wadah. Tersebut akan benar-benar menjadi masalah pada proses PJJ berikutnya.


Kelima, Keterbatasan dalam mengolah hasil atau proses PJJ sebagai filling belajar dan 

sekaligus sebagai laporan kepada orangtua siswa. Jika ini berlanjut dan beruntun, 

dikhawatirkan bahwa layanan yang dilakukan oleh guru dapat dipandang tidak maksimal. 

Atau malah dilihat sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Oleh karena itu, maka proses PJJ 

yang berlangsung ter-cover dalam foto kegiatan, video, dan arsip dokumentasi, yang dapat 

dilihat atau diakses oleh peserta didik dan orangtua. Tentunya selain oleh atasannya.


Keenam, Daya tahan guru untuk melahirkan ide-ide kreatif dan yang inovatif. Hal ini juga 

berkorelasi dengan kekhawatiran ketiga, yaitu tentang pelaksanaan PJJ yang menoton. Oleh 

karenanya memontum dan kesempatan serta keberanian bagi lahirnya ide-ide dan gagasan-

gagasan baru harus selalu dibukakan pintu gerbang ‘mungkin’ yang seluas-luasnya. Motivasi 

ini yang juga memungkinkan lahirnya semangat mencoba tanpa ketakutan untuk menjadi 

lebih repot atau menjadi lebih kepayahan.


Sekali lagi harus dipahami bersama bahwa kekhawatiran ini lahir dari rasa untuk tetap dan 

terus memegang prestise keunggulan dalam konstelasi persaingan sebagai bagian dari 

sekolah swasta.


Jakarta, 2 Oktober 2020

Menemani Guru

Menemani guru, memang menjadi bagian dari pekerjaan saya di lembaga pendidikan formal yang diamanahkan kepada saya. Tidak hanya ketika saya harus menjaga gawang untuk beberapa unit sekolah yang ada di sebuah lembaga pendidikan, tetapi ketika saya masih menjagai gawangnya sebuah unit sekolah pun, model bekerja dengan menemani guru ini selalu menjadi strategi saya agar gawang yang saya jaga tidak kemasukan gol dari pemain lawan.

Pekerjaan saya sebagai penjaga gawang dan gawangnya itu sendiri adalah metapora yang saya buat untuk memberikan gambaran seperti apa peran dan fungsi saya, jika ada di lapangan sepak bola. Bahwa lapangan permainan sepak bola adalah gambaran area pekerjaan saya. Sedang gawang adalah hasil kerja saya. Maka kalau saya berkeinginan agar gaw ang saya selalu aman terhadap serangan dari pemain lawan, ini menggambarkan tentang ketahanan sekolah yang menjadi tangguan saya terhadap tantangan dari masyarakat atau juga masyarakat pengguna. Dan supaya gawang tetap aman dan menjadi pemenang dalam persaiangan, sebagai sekolah swastya, maka saya meminta para pemain belakang, tengah dan penyerangnya handal dalam bermain, militan dalam menjaga stabilitas areanya, bahkan mampu melakukan penetrasi terhadap area lawan. Itulah lebih kurang gambaran dan metapora terhadap tugas saya sebagai penjaga gawang di sekolah.

Menemani guru yang saya maksudkan adalah bersama guru untuk melakukan pelayan kepada peserta didik dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, melakukan upaya maksimal agar peserta didik benar-benar mendapatkan layanan dan dorongan prima untuk maju dalam menemukan sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun bagi masa depannya. Supaya peserta didik benar-benar mencintai dan menghargai setiap pertemuan dan interaksi antara guru dan siswa, baik zaman masih normal, secara off line, maupun zaman pandemi seperti sekarang ini, dimana interaksi hanya bisa dilakukan secara online?

Menemani guru agar selalu lahir ide kreatif dan inovatif, yang meski menhatruskannya melakukan upaya lebih maksimal dan lebih beragam, sehingga upaya tersebut akan menuntut lebih kepadanya, tetapi spirit bahagianya akan menepis hambatan dan halangan tersebut. Sehingga upaya guru memang benar-benar memberikan warna belajar yang mampu melahirkan ciarasa sumringah penuh energi keingintahuan. 

Menemani guru, karena tidak semua guru berada pada level atau koordinat yang sama atau setidaknya setara, yang memungkinkan kita semua dalam energi eksploratifnya, namun tidak sedikit pula masih ada diantara mereka yang memang melakuakn pembelajaran atau interaksi dengan siswa sebagaimana yang pernah ia jalani di tahun-tahun sebelumnya tanpa beranjak baik pada tataran semangat, ide, daya juang bereksplorasi. Dan kepada merekalah saya sering bercengkerama tentang apa saja, meski itu hanya sebagai upaya untuk mengajak melihat realita yang sama dengan kacamata yang berbeda. Harapannya agar memahami dimana posisinya, dimana ia sedang berada, di sebelah mana ia sedang berdiam diri?

Menemani guru dengan harapan ujungnya adalah agar semua guru yang ada di lembga dimana saya ada, memiliki pola dan standar pelayanan yang sama. Yang dengan demikian, maka bola-bola akan selalu berada di tengah lapangan atau bahkan di area lawan, tanpa saya sebagai penjaga gawangnya, harus memunut bola yang berada di gawang kami...

Jakarta, 2 Oktober 2020.

Persiapan di Awal PJJ

 Persis, pada Senin, 16 Maret 2020, sebagai awal sekolah benar-benar tidak masuk dan pembelajaran beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ atau daring, maka selama dua pekan awal menjadi pekan yang benar-benar gamang dalam proses PJJ yang seequifalen dengan pembalajaran luring atau oflne. Dan kembali lagi, sebagai sekolah swasta, maka kami berfikir bagaimana layanan yang. Kami berikan untuk tetap merupakan layanan prima, layanan yang tidak membebani orangtua atau rumah dimana ananda selama pelaksanaan PJJ tetap berada di dalam rumah, juga meminimalisir kontribusi orangtua terhadap berlangsungnya PJJ.

Dan alhamdulillah, semua teman-teman manajemen dan juga guru-guru, selelu memahami apa yang dimaksud dengan PJJ, perubahan pola dan strategi pembelajaran on line tersebut. Termasuk diantaranya hal-hal yang berada di luar tugas-tugas pembelajaran. Yang ini justru sering masih menjadi gangguan.


Seperti memahami bahwa PJJ, dimana guru dan karyawan bekerja di rumah adalah bukan merupakan libur, tetapi tetap dalam posisi bekerja. Hal yang di awal masa PJJ menjadi kendala yang harus difahamkan dan bahkan hingga harus ditertibkan. Beberapa hal yang ringan seperti berpakaian ketika berhadapan dengan siswa, memberikan tugas yang meteri tugasnya mengharuskan siswa pergi ke luar rumah untuk berbelanja, penugasan sangat bertumpu kepada penguasaan materi pelajaran saja, atau beberapa hal yang serupa.

Bahkan ada yang di jam pembelajaran justru mengantar istrinya pergi ke pasar meski berargumentasi bahwa pada jam tersebut tidak sedang dalam mengajar. Juga ada yang tiba-tiba tanpa sepengetahuan manajemen ternyata telah berada di kampung halaman.

Beberapa hal itulah yang diawal pelaksanaan PJJ menjadi perhatian kami. Dan selalu kami sadarkan kepada semua unsur sekolah bahwa, PJJ sama artinya kita melakukan pembelajaran di waktu dan jam kerja yang seperti normalnya. Juga kami sampaikan konsekuensi jika pelaksanaan PJJ tidak memenuhi ekspektasi siswa dan orangtua yang akhirnya melahirkan masalah baru.

Alhamdulillah, mamasuki pertengahan April 2020 lalu, pelasksanaan PJJ telah memasuki area baru yang penuh harapan. Semua sarana telah seragam dengan adanya pengadaan lap top baru. Zoom meeting dapat dilakukan sesuai dengan pola yang telah kami sepakati selayaknya jadwal pembelajaran normal dan dengan durasi yang panjang. Keterampilan membuat sarana belajar online guru benar-benar menggembirakan, kompilasi proses belajar yang berlangsung di online dibuat dengan standar film maker yang, lagi-lagi, alhamdulillah, guru-guru sangat cepat memiliki kemahiran tersebut. Dan juga sarana cloud sebagai wadah penyimpanan dokumen selain yang ada di media sosialyang juga benar-benar on going well. Sekali lagi alhamdulillah.

Jakarta, 2 Oktober 2020

24 September 2020

Guru di Masa PJJ

Resminya, Senin, 16 Maret 2020, di tahun pelajaran 2019/2020, kami semua harus tinggal di rumah sebagai bagian dari ikhtiar pemerintah dan kita semua untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, yang menjadi pandemi. Tidak terkecuali, sekolah. seluruh aktivitasnya harus berhenti secara tatap muka atau luring dan berubah melalui virtual atau daring. Semua kegiatan terhenti, termasuk interaksi langsung guru dengan siswa. Semua menjadi virtual. Maka dunia pembelajaran menjadi benar-benar mendadak sontak baru. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi teman-teman guru. 

Bersama teman-teman guru, saya menyadari bahwa pandemi akan berlangsung lama. Bukan lagi 14 hari kedepan dunia akan kembali normal. Setidaknya inilah yang tergambar pada kehidupan dunia yang juga kita berada di dalamnya. Maka waktupanjang dalam virtual, sebagai sekolah swasta bisa menjadi hal yang mengkhawatirkan. 

Bersyukur bahwa teman-teman guru bergerak cepat untuk menggunakan perangkat virtual. Semua berkontribusi dalam mengembangkan diri menjadi mahir. Tidak sekedar tahu dan bisa saja, tetapi mahir dan berlanjut mengeksplorasi diri. Dalam bentuk merancang belajar online, aktivitas yang dirindukan siswa, tuntutan belajar yang menantang siswa, interaksi yang tetap hangat sesama mereka, hingga kegiatan belajar virtual menjadi daya saing.

Alat dan sarana memang penting, tetapi visi dan semangat diri yang membuat teman-teman terus berjuang dalam dunia baru mereka. Media sosial menjadi ajang promosi dan harga diri. Maka semua ikhtiar selalu optimal dituangkan dalam meningkatkan kualitas hasil kompilasi atau video yang akhirnya bersarang di media sosial yang akan dikonsumsi publik. Alhamdulillah.

Jakarta, 24 September 2020

18 October 2017

Jadilah Supporter

Suporter, dalam pengertian saya disini adalah seseorang yang dalam konstelasi sosialnya selalu memberikan uluran tangan untuk memberikan bantuan. Baik dalam pemikiran, baik dalam berpendapat, dan dalam bentuk nyata adalah bantuan atau dorongan yang berbentuk tindakan. Suatu bentuk perilaku yang tidak semua person mampu dan mau memberikannya tanpa pamrih. Ini dalam ranah atau tataran konstelasi sosial.

Hal ini jugalah yang saya sampaikan kepada teman-teman yang ada di lapangan, yang berkiprah dalam keterkaitannya saya di lembaga pendidikan formal yang bernama sekolah. Dimana untuk menemukan titik temu dari satu unsur dengan unsur yang lainnya, membutuhkan jalur komunikasi. Dan salah satu salurannya adalah berdialog dalam sebuah farum.

Namun dalam dialog itupun tidak jarang, meski juga tidak berarti sering, ada sedikit kemacetan yang menjadi sumbatan komunikasi, sehingga ada person yang paling berbeda dibanding dengan yang lainnya. Dan sekali lagi, kemunculannya kadag tidak memalui jalur yang telah kami sediakan, tetapi justru melalui jalur khusus, seperti japri!

Dan karena semangat kami sebagai pemangku manajemen, tidak bisa tidak salain visi adalah solusi. Maka dalam semua jalur yang ada atau juga jalur yang tidak menjadi kesepakatan, bendera solusi yang selalu kami kedepankan. Dan solusi juga mengahendaki pengerbanan dari semua pihak.

Termasuk diantaranya ketika ada pihak yang langsung menggunakan bendera pokoknya! Kami akan selalu menerima dan selalu akan mendengar hingga semua yang terdapat dalam ember benar-benar telah menjadi kosong. Dan setelah kosong itulah kami bersiap untuk mengisinya dengan sesuatu yang baru yang bernama solusi.

Maka pada tataran inilah saya dan teman-teman selalu bermimpi jika semua kawan yang ada di dalam lingkungan kami adalah orang-orang yang menjadi supporter. Yang selalu menyampaikan apa yang memang sehrusnya disampaikan sebagai pribadi yang menjadi bagian dari sebuah sistem yang dimasukinya. Semoga!

Jakarta, 18 Oktober 2017.

15 October 2017

Tentang Rencana Budget

Bersyukur bahwa ketika diberikan amanah disuatu tempat di sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah, saya sekaligus juga memperoleh pengetahuan tentang bagaimana tentang budget sebuah lembaga. Ini menjadi pengalaman berharga buat saya yang berangkat sebagai seorang guru, yang sejak awalnya tidak ada pengetahuan tentang bagaimana per-budget-an. Sebagai seorang guru, maka sejak awal pendidikan di lembaga pendidikan guru, kuliah di jurusan guru, hingga masuk di dalam sekolah, pengetahuan bagaimana membuat budget, menggunakan budget, hingga membuat laporan dari budget yang telah selesai digunakan, menjadi sesuatu yang gelap.

Bahkan yang lebih sederhana dari itu, tentang standar dari kuitansi pembelajaannya, sama sekali tidak ada pengetahuannya. Maka ketika mendapatkan kesempatan untuk duduk bersama dengan pihak sekolah yang bertanggungjawab tentang keuangan sekolah, benar-benar menjadi anugerah tersendiri buat saya. Seperti merasa salah masuk ruang kuliah. 

Sekarang, setelah beberapa tahun berada dalam ranah budget, sedikit memahami apa yang harus menjadi esensi dari budget itu sendiri dalam perannya di operasional sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sebagaimana yang menjadi tanggung jawab saya sekarang ini.

Juga ketika berada di dalam lembaga pendidikan yang berbeda, saya menjadi lebih tahu lagi tentang bagaimana pengelolaan dan sudut pandang masing-masing tentang fakta dari budget lembaga. Itulah yang menjadi rasa syukur saya tentang apa yang selama ini saya alami.

Pengetahuan dan pemahaman tersebut, membawa saya kepada kesadaran akan pentingnya sebuah perencanaan yang detil hingga kepada tahapan operasionalnya, kepada pelaksanaan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya, dan pembuatan laporan yang sahih.

Namun bagaimana pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tersebut saya sampaikan dan alihkan kepada teman-teman saya yang sekarang mereka masih berusia muda dan pada posisi guru di lembaga yang diamanahkan kepada saya tersebut? Inilah yang menjadi proses berikutnya yang sedang berjalan di lingkungan terdekat saya.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

05 October 2017

Sadar Budget

Di sekolah swasta, pengetahuan akan budget sekolah, atau lebih jauh lagi sadar akan budget, kadang masih menjadi milik manajemen sekolah. Bagian manajemen sekolah yang terdiri dari Bapak dan Ibu Kepala Sekolah dan para pengelola Yayasan memiliki cara pandang tentang belanja berbasiskan budget yang telah disusun dan disepakati. Memang tidak semuanya, namun pada level itu, memiliki kesadaran dan aplikasi tentang penggunaan anggaran yang sesuai budget, bahkan lebih dari itu, prinsip efektif dan efisien menjadi keterampilan yang telah inheren dalam pelaksanaan tugasnya.

Sebagaimana yang telah saya catat pada beberapa lalu bahkan masih ada bagian manajemen yang selalu berpikir kepada ketersediaan anggara karena di awal tahun sebelumnya alokasinya telah disiapkan. Pemahaman akan adanya hal ini tidak menghiraukan kalau ada bagian lain dari operasional  lembaga lembaga yang akhirnya tidak memungkinkan untuk dilakukan penambahan anggaran karena anggaran telah diserap pada alokasi yang lain. Padahal jika pengertiannya akan efektif dan efisien, maka ia sesungguhnya masih dapat melakukan beberapa revisi di anggaran tahun berikutnya sehingga prinsip efektif dan efisien benar-benar mencapai sasarannya.

Pada tataran guru dan karyawan, kesadaran akan budget menjadi minim. Pengetahuan untuk memahami bagaimana sekolah atau lembaga mendapatkan pemasukan dan mengalokasikan anggaran yang ada pada setiap tahunnya adalah sesuatu yang tidak memiliki kausalitas dan seolah mengalir sebagaimana aliran sungai yang ada. Pendek kata, tidak ada gambaran yang memadai akan operasional sebuah lembaga dari sisi pemasukan dan belanja. Dan jika telah sampai pada titik ini, tidak salah bila akhirnya lahir pendapat atau bahkan pendapat yang begitu melenceng tentang anggaran lembaga.

Sebagaimana dengan apa yang saya alami beberapa tahun yang lalu akan usulan budget untuk kebutuhan akan kertas A 4 oleh seorang staf. Namun karena kurangnya informasi tentang bagaimana menganggarkan, maka ketika di rapat anggaran yang dimunculkan adalah banyaknya rim kertas yang diusulkan untuk didapatnya di tahun pelajaran depan.

"Benar Bapak akan membutuhkan kertas sepanjang tahun pelajaran depan 20 rim?" tanya saya kepada seorang bawahan.

"Benar Pak. Saya membutuhkan kertas sebanyak itu untuk keperluan administrasi yang saya butuhkan di tahun pelajaran depan." Jelasnya dengan penuh keyakinan. Lalu saya mengajaknya untuk melihat secara detil apa arti kertas 40 rim itu, dan kebutuhannya sebagai staf kurikulum di sekolah saya.

Bahwa 40 rim itu sama artinya dengan 40 kali 500 lembar, yang artinya 20.000 lembar kertas A4. Maka jika dalam satu tahun pelajaran ada 250 hari kerja/hari belajar, maka ia akan menggunakan kertas tersebut dalam satu harinya sebanyak 80 lembar. Apakah kertas sebanyak itu benar-benar yang menjadi kebutuhannya?

Alih-alih apa yang saya sampaikan itu dimengertinya, justru ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap saya berkenaan dengan anggaran sekolah. Yaitu pelit.

Jakarta, 5 Oktober 2017.