Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label KEHIDUPAN. Show all posts
Showing posts with label KEHIDUPAN. Show all posts

06 August 2025

Jalan Lingkar Ambarawa

Menyusuri jalan lingkar yang satu ini menjadi rutinitas bagi saya dan keluarga saat kami harus mengunjungi keluarga yang ada di Purworejo atau juga di Sleman, Yogyakarta. Jalur ini saya pilih untuk berbagi dengan warga yang ada dan sedang di Pasar Ambarawa itu. Sehingga perjalanan saya akan lebih lancar dan relatif cepat meski harus memutar dan menambah jarak tempuh.

Saat saya kembali ke Jakarta, maka Gunung Merapi di sebelah kanan saya akan selalu terlihat disaat cuaca cerah di siang hari itu ketika melintas jalan lingkar luar kota Ambarawa (Sabtu,05 April 2025 pukul 08.30).

Berada diseberang yang jauh dari Rawa Pening. Sementara di seberang jalan yang saya lintasi ada benteng peninggalan perang.

Apakah ada hubungan dengan keberadaan kereta api yang stasiunnya menjadi Museum Kereta Api Ambarawa? Pertanyaan ini menjadi penting saat saya teringat dengan teks sejarah di buku yang saya baca.

Seperti yang ditulis Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Islam Jilid 1 halaman 224; "Kereta api menurut teori daratan dari MC Kinder, tidak hanya berfungsi sebagai alat transformasi ekonomi, melainkan lebih difungsikan sebagai Benteng Stelsel. Artinya fungsi utamanya sebagai penunjang mobilitas gerakan operasi serdadu Belanda dalam upaya mempersempit ruang gerak perlawanan Ulama dan Santri."

Itulah kenangan yang ada dalam benak saya manakala melintas di Jalan Lingkar Ambarawa...

Menanam

Ada yang sebelum melakoni dibuatkan road maps detail dan terukur hasil akhirnya. Menjulang tinggi mengangkasa laksana bintang. Divisualisasi dalam setiap jengkal perjalanan tanpa boleh ada celah dan cela. Wah hebat. Angan² memang harus menjadi catatan. Meski masih angan². 

Sepertinya itu yang telah mengakar pada sanubari saya. Namun bersyukur, mendapati gambaran nyata didepan mata yang sayang untuk tidak menjadi catatan tambahan. Harapannya bisa menjadi pemicu adrenalin. Jantung menjadi lebih berdenyut kencang dari normalnya.

Bahwa realita bisa dan selalu ada pada timbangan kebaikan dan sisi keburukannya. Karena persfektif bisa berangkat dari mana yang diinginkan. Begitulah kenyataan nya. 

Bahwa lingkungan begitu berlimpah memberikan panorama pada kita semua. Semua kita tanpa pilih kasih. Harapannya semoga anugerah radar kefitrahan menempel erat selalu. Agar persfektif kebaikan menjadi koordinat dalam melihat dan merenung.

Tidaklah harus selalu menghitung untung atau buntung. Jalani saja terus sesuai titik yang sdh di tentukan. Semua proses perjalanan pasti ada perhitungannya. Jangan ragu akan salah pencatatan. Semua alat ukur nya sdh terkalibrasi. Tidak akan mungkin bisa diakali. 

Bahwa yang ada di depan mata adalah sumber inspirasi.  Maka ajari selalu untuk bisa teliti dan bukan menguliti. Agar supaya setiap momen menjadi manifestasi kenangan. 

Sungguh, saya sadari bahwa, setiap yang di depan mata sesungguhnya anugerah sebagai sumber belajar.

Jadi menanam saja terus. Merawatnya dikemudian. Tidak harus menanti akan seperti apa nantinya. 

Jakarta, 07.10.2024

17 September 2021

Masih Ada

Hari ini, saya harus mengatakan bahwa masih ada yang harus dan dapat saya tulis di halaman buku harian virtual saya. Ini menjadi bagian penting karena setelah sekian lama tidak membuka lembaran buku yang telah menjadi teman saya selama ini. Dan untuk itulah saya ingin menyampaikan kepada waktu, bahwa saya masih ada.

Ketidak aktifan saya selama ini karena saya berfikir bahwa tidak cukup kuat pesan dan kenangan yang harus saya buat dalam perjalanan waktu yang telah saya lalui selama ini. Dengan alasan itulah maka saya merasa kurang waktu jika harus merangkai angan dan gagasan dalam bentuk tulisan. Saya lebih asyik mengisi waktu-waktu yang ada pada saya untuk kegiatan lain, seperti membaca dan menandai halaman-halaman buku yang telah saya eja. Setidaknya itu cukup bagi masa yang akan datang sebagai bukti bahwa saya telah menjamahnya.

Terakhir yang telah saya buka adalah lembaran yang ada di Syiar A'lam An Nubala, karangan Imam Adz Dzahabi, pada buku Jilid 34. Yang menguraikan biografi dari tokoh-tokoh generasi ke 32 dan 33, yang berada di sekitar tahun 550 Hijriah. Yang salah satu tokohnya adalah seorang yang cerdas. Ini kesimpulan saya karena tokoh yang hidup di masa Khalifah Ya'qub di Andalusia tersebut adalah seorang yang menguasai ilmu pengetahuan dari berbagai cabang ilmu. Ia dalam sejarah mempunyai nama yang masyhur. Baik dalam bidang Kedokteran, Bidang Fiqih sehingga beliau menyandang juga sebagai ulama, Bidang Sastra, serta juga bidang Filsafat yang dalam buku tersebut lebih sering disebut seorang ahli kalam atau filosof.

Uraian buku yang ditulisnya tidak terkira membuat saya terkesima. Ditulis dalam satu paragraf oleh pengarangnya dalam satu halaman penuh. Menakjubkan. Buku-bukunya tersebut terdiri dari berbagai ragam ilmu yang dikuasainya. Ada buku tentang Kedokteran, Buku Filsafat, Buku Syarah terhadap Kitab ulama lain, Juga buku penjelasan tentang manthiq, Aristoteles, dan lain-lain. Boleh kalau saya katakan kompleks. Inilah yang kemudian saya simpulkan sebagai sosok yang amat sangat cerdas!

Halaman demi halaman yang mencoba untuk menelaah sejarah perjalanan hidupnya dengan keterbatasan daya tangkap yang saya miliki. Hingga akhirnya sampai pada kalimat terakhir dalam kisah tokoh ini, yang tentunya merupakan pendapat dari sang penulis buku, yaitu Imam Adz Dzahabi. Lebih kurangnya ditulis; Jangan mengambil riwayat dari tokoh ini.

Dan diujung kalimat penutup itu ada catatan kaki, sepertinya catatan kaki dari penerjemah buku. Yang lebih kurang berbunyi; Imam Adz Dzahabi benar-benar tidak mau mengambil ilmu agama dari seorang ahli kalam...

Jakarta, 17 September 2021

02 October 2020

Donasi di Masa Pandemi

Ada upaya mulia yang dilakukan POMG Sekolah Islam Tugasku, diwakili Ibu Fitria dan Ibu Esni dari POMG SD serta Ibu Ranty dari POMG SMP. Yaitu penggalangan donasi untuk para pekerja yang bukan karyawan sekolah. Yaotu mereka yang pada masa sekolah berjalan normal memilik peran dan bagian yang penting. Namun pada pandemi ini, mereka harus terputus rizekinya dari lingkungan Tugasku.

Mereka ada Bapak dan Ibu yang berkiprah di bagian antar jemput siswa

, pedangang di kantin sekolah, tukang parkir di jalan depan sekolah, tukang bajaj langganan guru Tugasku, pengangkut sampah sekolah, dan guru-guru ekskul. 

Pada Selasa, 15 September 2020, ibu-ibu POMG tersebut telah menyalurkan donasi untuk 30 tim support Tugasku tersebut sebesar Rp. 81.702.000. Alhamdulillah. Semoga atas kebaikan yang telah ditunaikan, Allah Swt balas dengan mencukupkan kebutuhan Ibu-Ibu semua baik di dunia atau pun di akhirat. Semoga membawa keberkahan. Amin ya Rabbal'alamin.

Jakarta, 2 Oktober 2020

16 January 2020

Minyak Klenthik

Salah satu kegiatan yang saya lakukan ketika mudik ke kampung halaman adalah membuat minyak klenthik. Yaitu minyak yang saya buat dari santan kelapa. Dimana santan tersebut saya masak menggunakan penggorengan hingga mendidih. Ketika santan tersebut mengental, maka akan menghasilkan dua hal. yang cair itulah yang kami sebut sebagai minyak klenthik atau original coconut oil, atau mijyak kelapa asli. Sementara ampasnya, yang padat dan memiliki warna sedikit kecoklatan dengan rasa manis, kami menyebutnya dengan blondo.

Anda bisa melihat video berikut untuk mengecek bagaimana saya membuat minyak kelapa asli. Minyak yang menyehatkan dan beraroma harus sekali;



Jakarta, 17 Janusri 2020

Sepedaku

Penampakan sepedaku ketika selesai me"restorasi".
Ini menjadi lat transportasi satu-satu yang ada pada saya ketika saya berada di kampung halaman. Sepeda tua, yang memungkinkan saya 'berjalan' lebih cepat ketika pergi ke warung yang ada di pinggir jalan raya. Juga ke tujuan-tujuan pendek lain, yang ada di sekitar kampung halaman. Sepeda yang sudah menemani saya sepuluh tahun belakangan ini.

Sebagaimana perlu diketahui bersama bahwa, bahwa saya meluangkan waktu di akhir pekan untuk berkunjung ke kampung halaman guna menemani mamak saya yang tetap betah berada di urmahnya di kampung. Sesuatu hal yang normal. Maka untuk mendengar cerita-ceritanya, saya menyempatkan diri sepanjang haris Sabtu berada di kampung. Dan untuk mempermudah mobilitas saya, maka sepeda akan membantu saya sepenuhnya.

Sepeda ini tidak selalu siap menhantarkan saya ketika beberapa pekan saya tinggal berkumpul dengan keluarga saya sendiri di Jakarta. Saya harus mengganti karet pentil bannya dan mengisi penuh dengan angin. Ini karena sepanjang sepeda berada jauh dari saya, maka dia akan nganggur.

Seperti bulan-bulan ini. Saya akan kembali lagi menggunakannya dalam sepuluh pekan kedepan. Ini tidak lain karena Mamak saya di akhir Desember lalu berkenan ikut kami, anandanya ke Jakarta guna melupakan sejenak rutinitasnya di kampung. Semoga.

Jakarta, 16 Januari 2020

13 January 2020

Membuat Glodogan

Ini keisengan saya beberapa bulan lalu. Sebagai langkah untuk memanfaatkan potongan-potongan pohon kelapa di kantor untuk glodogan. Glodogan adalah tempat untuk memelihara lebah liar.

Saya kerjakan pada awal Agustus 2019 lalu. meski telah saya pasang glodogan itu, hngga sekarang, 13 Januari 2020, belum mendatangkan kawnan lebah untuk menetap di godokan yang saya pasang.

Jakarta, 13 Januari 2020.

12 August 2019

Menebang Pohon Kelapa

Pohon kelapa yang ada disisi belakang sekolah, telah menjulang lumayan tinggi. Pucuk daun kelapa itu telah sampai di atap, yang menjadikan logo serta sign board sekolah tertutup. Tidak memungkinkan bagi kita untuk dapat melihat, jika kita berada di seberang sekolah. Kasihan bagi orang-orang yang sedang mencari alamat dan sulit menemukan sign board tersebut. Dan dengan alasan tersebut, saya meminta kepada tukang tanaman untuk menebang pohon tersebut dan rencana menggantikannya dengan pohon nangka.


Selain alasan tersebut, sebenarnya masih ada alasan lagi yang kadang membuat saya kurang happy. Ini masih terkait dengan penebangan pohon kelapa dimaksud. Yaitu bahwa beberapa kali saya menemukan buah kelapa yang hingga tua dan bahkan sampai kulit buahnya kering. Sebagai orang kampung, yang di kala mudanya adalah pemetik buah kelapa, maka saya meminta dan bahkan mewanti-wanti kepada para pegurus taman untuk mengawasi buah-buah kelapa, jangan sampai mengering yang membuat buah tersebut dapat jatuh dengan sendirinya.

Jangan sampai. Karena hal itu dapat membuat kami celaka jika yang berada di bawah adalah kendaraan yang sedang parkir atau diantara kami yang sedang berdiri. Namun anehnya, para pegawai taman sering kurang menjadikan hal itu sebagai prioritas.

Pernah suatu kali saya menceritakan bagaimana pegawai hotel harus membersihkan bunga-bunga kelapa yang ada di halaman atau taman hotel hingga pohon kelapa tersebut tidak berbuah. Dengan demikian maka pengawasan terhadap buah kelapa tidak menjadi pekerjaan berikutnya. Ini sudah menjadi budaya di hotel tersebut. Dan ketika itu akan menjadi terapan di lokasi kerja sendiri, maka teman-teman masih belum dapat melihatnya sebagai prioritas.

Jakarta, 12 Agustus 2019.

06 August 2019

Glodogan

Semasa kanak di kampung, Bapak selalu memanfaatkan glugu-glugu, batang pohon kelapa, yang paling ujung atas dan tidak menjadi bagian dari bahan bangunan, untuk beliau belah dan kemudian dibuat menjadi glodogan. Glodogan ini nantinya akan dipajang di dekan kandang kambing atau belakang pawon, rumah bagian belakang yang berfungsi sebagai tempat memasak atau dapur, untuk kemudian tawon lebah akan menghuninya. Lebah-lebah ini akan kami panen madunya secara rutin per satu setengah bulannya.



Dan untuk megenang itulah, saya membuat glodogan juga di kantor dengan memanfaatkan glugu-glugu, batang pohon kelapa yang telah menjulang tinggi, yang kami tebang. Maka beginilah penamakannya...

Jakarta, 6 Agustus 2019

08 May 2019

Masih di Jogja!

Ini kegiatan saya berikutnya pada kunjungan saya ke Jogja di awal bulan Maret 2019 lalu, yang memang masih ada di Jogja dan bersama Abqari! Sekaligus sebagai hiburan dan pengisi kegiatan selama saya ada di Jogjakarta, serta memberikan pengalaman kepada Abqari tentang dunia binatang. Dan Gembiraloka menjadi destinasi  yang kami tuju.

Alhamdulillah, kami dapat mencapainya dan berkeliling di dalamnya dengan penuh suasana senang. Ini tidak saja karena cuaca yang begitu sejuk, serta pengunjung yang belum melimpah. Dengan situasi tersebut, kami dapat berjalan dan berkeliling guna melihat koleksi kebun binatang punya.

Jakarta, 8 Mei 2019

Dari Wijilan

Ini adalah salah satu perjalanan kami ketika bersama Abqari. Meski di penginapan sudah mendapatkan sarapan, maka kami ajak Abqari untuk naik becak motor yang ada di Jogjakarta ini, yang kondisinya berbeda dengan becak motornya orang Gorontalo. Tapi itulah yang tersedia dan kami anggap relatif nyaman untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh namun juga tiodak terlalu dekat. Kami menyusuri Jalan Malioboro Jogjakarta untuk kemudian masuk ke gerbang atau benteng keraton di Jalan Wijilan. Dimana mejadi pusat makanan khas Jogja, gudeg.

Jakarta, 8 Mei 2019

Edisi Momong Abqari


Salah satu kegiatan ketika kami mengunjungi Abqari, yang kebetulan tinggal di luar kota, adalah mengajaknya berkeliling sejauh yang kami mampu melakukannya. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah dengan mangajaknya menemukan dan mendapatkan pengalaman untuk naik sedan tradisional di Malioboro, yaitu dokar.

Dan inilah yag saya lakukan beberapa waktu lalu di awal Maret 2019.

Jakarta, 8 Mei 2019

23 November 2018

Dari Gorontalo

Rabu, 21 November 2018, pukul 15.00, kami kedatangan tamu dari manajemen Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Terpadu Al Islah, Gorontalo. Mereka datang ke Jakarta setelah sebelumnya selama satu pekan mengikuti perkemahan Pramuka di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.
Ada 4 tamu yang dipimpin oleh Ustadzah Ulin Ibrahim, yang kedatangannya ke sekolah kami tidak lain adalah untuk menyambung persahabatan keguruan. Juga berdiskusi dan bertukar pengalaman serta berfoto.


Tidak lupa tamu saya membawakan oleh-oleh khas Gorontalo, dan yang saya pajang di halaman ini, adalah kopi mereka. Kopi Robustanya Gorontalo! Terimakasih saya untuk kedatangannya dan juga oleh-olehnya.

Jakarta, 23 November 2018

21 November 2018

Ke JIEP

Sabtu, 17 November 2018, saya mendapat kesempatan untuk datang dan berkunjung serta sekedar berfoto di Jakarta International Equestrian Park Pulomas. Ini adalah nama baru dari Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur. Yang kebetulan juga lokasintya tidak jauh dari tempat saya bekerja. Belum sampai 2 kilomater untuk perjalanan pergi dan pulang. Jadi nyaman untuk berjalan kaki selain juga dengan trotoar yang aman bagi pejalan kaki.



Lalu, apa keperluan saya datang ke Gedung JIEP yang menjadi venue Asian Games 2018 lalu itu? Tidak lain adalah menemani siswa saya yang masih duduk di kelompok B, TK. Mereka sedang ada kegiatan bermalam di sekolah yang pagi harinya sebelum kepulangan mereka, anak-anak anak-anak itu kita ajak keliling sekolah dan berolah raga pagi.




Jadi, kantor yang berdekatan dengan fasilitas olahraga yang wah, menjadi keberuntungan bagi saya. Juga trotoar yang dibangun baru dengan spek yang berbeda dengan trotoar sebelumnya, lebih membuat kami, saya dan teman-teman, menyukurinya. Kami gunakan untuk berjalan kaki tidak kurang 20 menit untuk sekedar mengeluarkan keringat dari badan.



Lalu, tidak ada kata yang tepat saya sampaikan disini selain berteimakasih atas diperbolehkannya kami sekali-sekali berkunjung untuk berjalan-jelan kaki ketika gedung itu sedang kosong dari event. Terimakasih.

Jakarta, 21 November 2018.

16 November 2018

Ingat Pantai Tanjung Karang


Ketika melihat foto ini, saya teringat ketika pada Kamis, 3 Juli 2008, dengan tidak membawa perlengkapan apapu untuk menerima tawaran snorkling di wilayah konservasi di pantai Tanjung Karang Donggala. Ini artinya setelah 10 tahun yang lalu.

Ketika dari Palu diajak untuk piknik menuju Donggala dengan kendaraan sewa yang benar-benar masih gres. Baru. dengan kilometer yang tertera di dashbord belum genap 1000 km. Dan karena kendala tertentu, maka justru saya yang ada di belakang kemudi membawa teman-teman yang akan mengantarkan saya piknik!

Saya berharap apa yang telah menimpa saudara-saudara yang tinggal di wilayah Donggala dan Palu pada gempa Palu beberapa waktu llalu, diberikan kekuatan untuk segera bangkit kembali, menapaki jalan yag lebih terang. Amin.

Jakarta, 16 November 2018

13 October 2018

Menengok Teman

"Nanti meginapnya jangan di hotel. Langsung kasih tahu saja kapan dan jam berapa sampai, saya segera meluncur untuk menjemputmu. Jangan pernah sungkan." Begitu tawarannya kepada saya di awal bulan lalu ketika saya menyampaikan jadwal untuk 'manggung' di kotanya. Maka ketika tawaran 'manggung' itu sudah pasti dan saya telah memesan tiket untuk perjalanan berangat dan kembali, serta surat cuti juga telah saya ajukan, saya mencoba mengabari teman di saat muda tersebut.

"Jangan panggiil saya Mas karena sya ngak akan memanggilmu Mas. Pnggil saja masing-masing kita dengan nama seperti ketika kitamasih sama-sama sekolah dulu." Katanya suatu ketika ketika kami baru saja mendapat nomor kontak. Maklum, setelah tahun 1984 lalu, belum pernah satu kalipun kami bertemu tatap muka. Maka ketika pertemuan nanti, akan menjadi pertemuan kami pertama kali setelah 34 tahun kami berpisah.

Itulah yang menjadi motivasi utama saya untuk benar-benar dapat berkunjung ke kotanya. Meski sebenarnya antara kota yang benar-benar saya tuju bukanlah kota yang langusng menjadi tempat tinggalya. Karena jarak lokasi dmana saya diundang untuk memberikan cerita dengan tempat tinggalnya masih membutuhkan waktu perjalanan darat 8 jam. Tapi saya tidak secara terbuka menyampaikan itu kepada sahabat saya tersebut apa adanya.

Dan saya pasti akan datang ke kotanya. Kota yang ditinggalinya bersama keluarganya setelah ia akhirnya keluar kerja dan masuk dalam dunia baru sebagai supir angkot dan kemudian sebagai driver armada on line.

Jakarta, 13 Oktober 2018

13 September 2018

Di Pekarangan Rumah

Dalam kegiatan mudik saya yang hanya empat hari tiga malam bersama bontot, selain bertemu teman-teman di kala muda, kegiatan saya lainnya adalah menyusuri setiap jengkal tanah pekarangan di sekitar rumah orangtua. Saya mencoba menemukan beberapa tanaman yang telah saya tanam pada mudik sebelumnya dan melihat perkembangannya. Ada dua pohon durian cabang tiga yang pada saat mudik sebelumnya telah berhasil tumbuh kala itu saya temukan telah kering, mati karena kekeringan tidak ada suplai air. Juga ada beberapa tanaman saya lainnya saya temukan tidak dalam kondisi yang tumbuh segar. Saya masih bersyukur bahwa dua pohon cengkih dan pohon gaharu yang masih tumbuh dengan tunas-tunas muda yang hijau muda mengkilat. Maka pada saat berada di kampung itulah saya menggelontorkan suplai air kepada tanaman-tanaman masa depan itu dan juga sekaligus membuat delapan lubang baru untuk menjadi lokasi penanaman kecombrang yang saya bawa serta dari Jakarta.

Sebagai gambaran saja, bahwa pekarangan rumah yang ada di kampung halaman saya tersedia pohon kelapa sebagai pohon utama. Ini karena ketika kami masih kecil dan membutuhkan biaya untuk bersekolah, maka pohon kepala itulah yang menjadi tulang punggung keberlangsungan keluarga kami.

Dan ketika waktu berjalan maju, maka diantara pohon-pohon kepala kami tanami berbagai tanaman keras jangka panjang seperti mahoni, jati, dan pastinya sengon. Tiga jenis pohon inilah yang menjadi tabungan jangka panjang keluarga kami ketika harus ada dana yang dikeluarkan.



Dan sekarang, tanaman-tanaman baru yang kami tanam selain tiga jenis pohon keras tersebut, adalah berbagai pohon buah. Dan ketika harga buah kelapa tidak lagi bisa menjadi tumpuan penda[patan karena harganya tidak lagi menarik, kelapa-kelapa kering yang tersisa dan ada di rumah mejadi tunas. Dan ini selalu saya tamui ketika saya sedang mudik. Jadilah kelapa tunas itu saya pecah untuk diambil kentosnya, dan buah kelapanya untuk kami jadikan minyak kelapa.

Jakarta, 13 September 2018.

12 September 2018

Mudik Idul Adha 1439H

Setelah saya mematikan bahwa anak bontot sepakat untuk mengabil cuti kerja diantara Idul Adha 1439 H yang jatuh pada hari Rabu, 22 Agustus 2018 dan week end, maka segera pula saya memesan tiket kereta api untuk pergi dan pulang ke kampung halaman, alias mudik. Ya kami hanya berdua ke kampung, mengingat di Jakarta sedang ada tamu istimewa kami yang selama ini mereka tinggal di perantauan. Maka keuarga kami terbagi dalam dua kelompok. Dan saya dengan bontot yang memiliki acara keluar kota tersebut.


Tampaknya memesan tiket perjalanan untuk waktu yang tidak lama sebelum keberangkatan membuat sediitnya pilihan. Pilihan untuk mendapat jadwal keberangkatan yang pas di hari kerja, dan juga kesempatan untuk mendapatkan harga tiket yang miring serta terjangkau. Dan dengan keterbatasan itulah akhirnya kami memilih kereta yang jadwal di stasiun kedatangannya kurang pas. Ini karena memang sulit meminta bantuan kepada adik yang ada di kampung halaman mengingat kami berdua dari Jakarta.

Hingga akhirnya teman yang menawarkan untuk menjemput di stasiun dan kemudian memberikan pinjam kendaraannya kepada saya hingga kegiatan di kampung halaman saya kelar. sebuah kemuliaan hati sahabat. Dan dengan kendaraan itulah kami melakukan mobilitas yang tinggi  selama emat hari tiga malam di kampung halaman. Terimakasih sahabatku.

Jakarta, 12 September 2018.

Lemari Mobil Mainan Abqari

Beberapa waktu lalu, saya telah membawa pulang ke rumah, lemari mainan Abqari, yang berupa mobil-mobilan dari berbagai ukuran, yang panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Jadi mobil-mobilan yang mungkin setipe dengan modelnya.

Lemari ini saya pesan dari pegawai kantor yang tangannya kriting untuk megerjakan hal ihwal yang berkenaan dengan kayu dan kertas. Jadilah saya mencoba untuk memberikan spesifikasi 'lemari' pajangan. Dan itu dia imajinasikan dengan bentuk dan berbagai warna yang sebelumnya saya kurang begitu mengetahuinya sampai kemudian menjadi bentuknya.

Sedang mobil-mobilan yang sudah dimiliki Abqari semakin hari semakin bertambah. Ini karena keinginannya untuk memiliki mobil-mobilan yang dipanajng di warung tetangga begitu menggebu. Juga ada beberapa yang dibelikan oleh Pakde atau Budenya sebagai oleh-oleh kagetan.



Dan alhamdulillah lemari pajangan itu benar-benar telah digunakan untuk memajang dan memarkir mobil mainan Abqari.

Jakarta, 12 September 2018.

17 May 2018

Menanam Pohon

Akan menjadi bagian kegiatan yang rutin saya lakukan ketika kembali berkunjung ke kampung halaman, selain akan menengok sungai yang jaraknya tidak sampai 500 meter dari pekarangan rumah saya, maka saya akan melihat-lihat tanaman yang belum lama ini saya tanam. Ini seperti ada magnit yang mengharauskan saya kembali dengan mengulang kegiatan seperti itu dari waktu ke waktu. Kegiatan yang bakalan tidak membuat saya bosan atau bahkan malas. Saya selalu bersemangat menjalani kegiatan itu begitu sampai di kampung halaman.

Durian Musang King yang saya tanam di depan rumah pada akhir bulan Desember 2017. Bibit ini saya dapatkan via on line. Penegtahuan tentang durian ini terinspirasi oleh rasa durian yang benar-benar maknyus di Jalan Alor, yang saya beli dengan harga 240 ribu rupiah.

Sebagaimana dengan kepulangan saya di akhir April lalu, begitu pagi menjelang, saya langsung mengambil sandal dan arit, alat pertanian semacam golok yang ukurannya lebih kecil dari golok, dan berputar-putar di sekitar rumah. Menengok tanaman-tanaman yang saya tanam sebelumnya. Atau juga membersihkan tanaman-tanaman perdu yang mengganggu pertumbuhan dari tanaman yang penuh harapan.

Sebagaimana kala itu, saya menanam dua jenis pohon. Pada tahap yang pertama saya menanam dua batang pohon durian, dan yang kedua menanam sepuluh pohon gaharu yang bibitnya saya dapatkan memalui teman saya yang rajin berjualan di Purworejo.  Harapan dengan menanam pohon adalah harapan tentang masa depan selain kerindangan.

Pohon gaharu yang saya tanam pada awal Maret 2018. Bertepatan dengan waktu musim durian lokal di daerah Somangari. Dimana saya sempat hunting ke desa Somongari, Kaligesing ditemani beberapa teman yang tinggal di daerah Purworejo.
Meski hanya merupakan kegiatan menanam phon di pekarangan, saya merasakan kenikmatan. Dan entah sampai kapan saya akan menjadi bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja di saat-saat tiba di kampung halaman. 

Jakarta, 17 Mei 2018