Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label ORANG TUA. Show all posts
Showing posts with label ORANG TUA. Show all posts

19 December 2014

Terjerembab pada 'Tampilan Luar'

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari amanah yang saya harus pikul ini. Pelajaran hidup tentunya. Dan itu datang tidak saja dari buku-buku perpustakaan yang menarik untuk saya bawa pulang dan baca, tetapi juga datang dari semua teman yang berinteraksi dengan saya selama ini, dari peserta didik kami di sekolah, termasuk diantaranya dari orangtua siswanya. Semua menjadi bagian paling berharga dalam lembaran-lembaran pelajaran hidup itu.

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menuliskan satu cerita saja, yang saya dapat dari orangtua siswa. Tidak lain yang berkain dengan tampilan luar atau kalau tukang bajaj yang saya naiki ketika saya kembali dari Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan seusai menghadiri pernikahan dari putri teman ketika di SPG menuju sekolah dimana saya harus mengemban amanah. Dimana kami terlibat percakapan dari sebab bajaj yang saya tumpangi jalannya diserobot oleh kendaraan roda empat yang tergolong mewah.

"Banyak orang bilang kalau bajaj yang merusak tatanan perilaku berlalu lintas yang benar, tapi Bapak melihat langsung kan? Betapa kendaraan di depan kita itu tadi menyerobot jalur kita ketika macet? Jadi sebenarnya sekarang ini semua kendaraan sama saja Pak. Yang mewah dan yang bajaj beda kesing saja." Begitu komentar tukang bajaj pada saat itu. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak. Tepi dari fakta yang baru kami alami, saya hanya tersenyum. Tidak saja pada ulah mobil seharga 400-an juta yang menyodok jalur kami itu, tetapi juga karena kekaguman saya pada kecerdasan analisa dan pernyataan si tukang bajaj.

Lalu apa hubungannya antara kisah saya dengan tukang bajaj itu dengan apa yang menjadi catatan saya ini? Nah, dengan logika dan  pernyataan Pak Tukang Bajaj itulah saya mencoba merangkai logika tampilan luar itu dengan apa yang saya alami di sekolahan.

Yaitu ketika saya disodori oleh bagian keuangan tentang daftar tagihan atas tunggakan uang sekolah. Data itu menakjubkan di hadapan saya. Terbayang nama-nama yang masuk daftar tersebut dengan tampilan sehari-hari mereka ketika datang ke sekolah dengan segala aktivitasnya. Saya yang melihat itu jadi malu. Sungguh!

Dalam sejarahnya, ada tidak kurang sekitar 20 orang yang nyaris masuk daftar tunggakan setidaknya tiga bulan uang sekolah. Dan saya cukup tercengang bahwa ada diantaranya mereka itu datang ke sekolah di pagi hari untuk mengantar putri atau putranya dengan menunggang kendaraan seharga nyaris 700 juta! Bahkan ada yang lebih. Dahsyat bukan?

Dan yang terakhir kali saya melihat daftar uang sekolah yang masih belum lunas hingga menjelang penerimaan rapot adalah beberapa waktu lalu menjelang keberangkatan tim dari siswa kami keluar negeri. Karena ternyata ada dua dari mereka yang memiliki tanggungan uang sekolah yang sejak bulan April 2014!

Kok tega ya? Ya itulah kenyataannya. 'penampilan luar' jauh lebih penting. 

Orang-orang model seperti ini menjadikan penampilan luar sebagai prioritas pertama. Karena penampilan luar itu langsung dapat dilihat oleh tetangga atau koleganya. Penampilan luar menjadi standarnya untuk dinilai sebagai 'orang berada' meski dalemanya ditambali dengan tagihan uang sekolah. Remeh temeh bukan? Dan ini menjadi pelajaran untuk saya. Sungguh!

Jakarta, 19 Desember 2015

18 December 2014

Pamer Kehangatan Relasi...

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh para siswa, utamanya ketika siswa harus mengikuti kegiatan itu ke luar negeri seperti kegiatan home stay, Misi Budaya, atau ikut serta dalam sebuah turnamen internasional, maka kepada teman guru yang mendampingi akan memiliki tugas tambahan, yaitu sebagai admin untuk sebuah grup di media sosial. Tugasnya sebagai admin tidak lain adalah memberikan kabar reguler tentang kegiatan grup dari hari per hari. Memang tidak ada yang sulit jika seluruh informasi yang ada dimiliki oleh guru. Namun yang menjadi masalah adalah karena ternyata pekerjaan 'tambahan' itu relatif memakan waktu.

Dan saya, sebagai bagian yang menjadi tukang catat dan pendokumentasian seluruh kegiatan sekolah yang diujungnya saya harus membuatkan artikel serta laporan gambar untuk kebutuhan komunikasi di sekolah, tidak terkecuali menjadi anggota grup yang hanya pasif keanggotaannya. Dari sinilah saya memiliki  kesan mendalam tentang betapa para anggota keluarga di rumah begitu rindu ketika anak-anak mereka sedang dalam perjalanan ke luar negeri itu.

Mereka menuliskan nama-nama panggilan kesayangan terhadap anak-anak mereka di halaman grup kami. Mengungkapkan betapa kerinduannya terhadap anak-anaknya itu luar biasa setelah ditinggal. Dan selalu meminta up date kegatan apa saja yang sedang berlangsung. Dan teman saya yang menjadi admin grup, yang juga adalah pendamping bagi kpergian anak-anak itu, mengirimkan beberapa gambar kegiatan yang anak-anak lakukan secara reguler.

Dan ketika beberapa jam kemudian progres kegiatan belum dikirim, maka akan muncul kata-kata atau ungkapan yang bernada penasaran sampai dengan kekawatiran tentang apa yang sedang berlangsung. Sehingga saya menangkap kesan bahwa halaman grup sesungguhnya menjadi bagian dari pamer kehangatan hubungan para orangtua dengan buah hatinya. Dan ini sesuatu yang sah-sah saja.

Tetapi suasana menjadi jauh berbeda sekali ketika rombongan anak-anak itu baru saja mendarat di bandara tanah air. teman kami yang menjadi ketua rombongan menyampaikan berita bahwa mereka telah berada di terminal kedatangan dan sedang proses pengambilan bagasi. Namun di halaman grup berbegai ungkapan penyesalan karena tidak bisa menjemput sendiri anaknya karena ada kesibukan.

"Maaf ya Mbak *i** aku titip **m*. Aku nanti langsung ke rumah Mbak *i**. Masih ada sedikit kerjaan di kantor." Begitu tulis seorang dari anggota grup. Dan seketika itu juga saya merasa mual. 

Jakarta, 17-18 Desember 2014.

16 October 2014

Bagaimana Seharusnya?

Siang kemarin, saya harus mengurungkan niat untuk menuju ke ruang admission yang berada di seberang hall sekolah. Niat itu saya urungkan ketika ada dua orangtua siswa yang sedang asyik bercengkerama setelah mereka usai melakukan pertemuan di lantai 3 sekolah. Bukan karena saya tidak ingin bertegur sapa dengan mereka, ini karena saya sendiri malu ati untuk melintas dihadapan keduanya.

Bagaimana saya mengurungkan niat untuk tidak jadi melintas? Tidak lain adalah balik kanan dan kemudian masuk ke salah satu ruang kelas yang tidak jauh dari ruangan saya. Hal ini tidak lain karena sungkan saya jika harus melintasi kedua orangtua itu. betapa tidak, karena ketika melintas maka mau tidak mau saya harus menegur salah satunya untuk membetulkan posisi duduknya yang tidak patut.

Dan ini menjadi pekerjaan saya yang paling tidak saya suka. Mengingat pekerjaan itu sudah lebih dari satu kali saya lakukan meski kepada orang tua atau teman yang berbeda. Dan sungkan itu semakin tebal manakala yang melakukan justru tamu kami. Karena lumrah saya mengingatkan teman kami yang duduk dengan posisi yang tidak sepatutnya seperti itu. Apakah itu teman-tean dari support services atau Pramubakti atau bahkan teman guru. Tetapi dengan orangtua siswa? 

"Kenapa Pak kok tumben?" Begitu sapa Pak Fikri yang mengajar bahasa Inggris di kelas yang saya masuki. Dia bersama dua teman guru lainnya sedang asyik menikmati makan siangnya masing-masing. Mereka yang berasal dari kelas yang berbeda berkumpul dalam satu ruangan untuk menghemat lampu dan pendingin udara.

"Saya ingin minta tolong Bapak atau Ibu disini memberian komentar dari foto-foto yang tekah saya terima untuk dicetak di buletin sekolah. Tidak perlu panjang, cukup singkat dan padat." Kata saya membuka percakapan dengan masalah yang berbeda dengan apa yang baru saja saya alami ketika melihat pemandangan tidak enak di ruang bersama.

"Hanya satu halaman Pak?" Tanya teman itu.

"Untuk kelas ini satu halaman saja. Yang ini untuk kelas lain. Tetapi harus saya tunda karena jalan menuju ke sana terhambat oleh pemandangan tidak enak." Jelas saya.

"Apa yang terjadi Pak?" Tanya teman saya itu penuh rasa ingin tahu. Kepo, kata anak-anak.

"Ada yang sedang asyik mengobrol tetapi salah seorangnya dengan duduk yang tidak sepatutnya?" Kata saya tanpa memberikan pejelasan lebih jelas lagi.

"Bagaimana seharusnya Pak?" Kejar teman saya lagi.

"Mungkin seharusnya apa yang pantas ditiru anak, itulah yang pantas. Dan kebalikannya, kalau anaknya meniru akan jelek menurut norma berarti itu tidak sepatutnya." Begitu penjelasanan saya. Semoga teman saya itu mengerti apa yang saya maksudkan...

Jakarta, 16 Oktober 2014.

11 November 2013

Ada Kutu di Kepala Siswa

Beberapa waktu lalu, saat saya melihat data kesehatan peserta didik yang disimpan di ruang UKS,  saya mendapati data isian kesehatan yang yang telah diarsipkan oleh suster UKS dengan rapi. Dari data-data yang saya lihat, saya menemukan hasil yang baik. Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari data yang terkumpul dari sebuah isian tersebut. Isian yang dikirim sekolah dan kemudian dikembalikan ke sekolah itu telah tersusun berdsarkan kelas. 


"Semua hasilnya baik suster. Bagus ini." Komentar saya ketika mencoba secara acak membuka-buka lembran isian kesehatan tersebut.


"Tapi bagaimana dengan realitas yang ada? Apakah suster dan guru juga melakukan cek fisik terhadap anak-anak ini? Maksudnya apakah data ini saja yang kemudian menjadi data kesehatan anak-anak untuk kemudian dikirim ke Puskesmas, ataukah suster juga melakukan cek lapangan untuk mengetahui secara fisik kebenaran dari data ini?" Tanya saya selanjutnya.



"Itu yang masalah Pak. Ternyata tidak semua data yang ada di daftar isian tersebut memberikan gambaran nyata tentang kesehatan anak." Jelas suster UKS kami.

"Kondisi kesehatan yang mana yang paling tidak sinkron antara kondisi badan dengan isian yang mereka kumpulkan?" Tanya saya lebih lanjut.

"Mayoritas adalah kondisi kesehatan rambut dan telinga." Jelas suster.

Kuesioner kesehatan yang terkumpul di ruang UKS.
"Bagaimana dengan kondisi rambut dan kondisi telinga yang menjadi temuan suster di lapangan setelah mengecak kondisi nyata dari anak-anak itu?" Tanya saya.

"Untuk rambut, banyak kita temukan rambut anak-anak yang kutuan. Banyak diantara mereka bahkan dengan telur kutu. Ini untuk siswa atau juga yang terutama siswi. Demikian juga dengan kesehatan telinga,  kondisi yang kurang baik pada bagian telinga adalah kotor pada lubang telinganya dan juga pada daun telinganya." Kata suster kami.

Bagaimana Orangtua tidak Tahu?

Di ruangan, saya merenungi data-data yang disampaikan oleh suster sekolah kami. Bagaimana mungkin anak-anak yang cakep dan cakap itu seperti tidak terurus oleh lingkungan keluarganya. Ataukah memang begitu sibuknya orang-orang yang ada di rumahnya sehingga kondisi kesehatan pada diri anak-anak itu menjadi terabaikan. Apakah ayah dan ibu dari anak-anak yang kutuan itu tidak pernah memeluk anak-anak mereka sehingga mereka tidak 'mencium' sesuatu yang tidak beres pada tubuh putra atau putrinya?

Lalu mengapa juga harus ada perbedaan antara apa yang terdapat  pada daftar isian dengan kondisi lapangan? Apakah para orangtua anak-anak itu memberikan kewenangan putra-putrinya untuk mengisi daftar isisan itu degan 'yang baik-baik saja'?

Dalam catatan ini tidak ada keinginan saya selain menyampaikan apa yang saya lihat. Dan saya yakin kalau kondisi ini bukan monopoli di sekolah saya...

Jakarta, 11 Nopember 2013.

30 October 2013

Melihat Tidak Liniernya Belajar Karakter



Dalam renungan saya ini, saya mencoba menuliskan tentang fenomena belajar, usaha belajar, hasil belajar, dan tentunya apresiasi terhadapnya, dilihat dari sebuah garis lurus. Sebuah fenomena yang sebelumnya sebagai bahan bincang kami, para teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan di sekolah, yang sama-sama tertegun jika fakta-fakta ini kami kemukakan. Karena dari garis merah yang kami temukan, ada ketidak 'benaran' bila kita menariknya sebagai garis lurus. Inilah sebuah kegiatan belajar formal di sekolah yang harus menjadi renungan kita, para teman-teman guru.

Meski perlu pula saya sampaikan disini bahwa, fenomena ini terbentuk dari beberapa bagian yang tidak sepenuhnya melibatkan seluruh bagian dari pelaku pembelajaran. Masih menjadi bagian-bagian, yang kalau di sekolah kami sendiri bagian itu masih minoritas. Itu pun bedasarkan pengakuan beberapa pelaku kepada kami, para gurunya.




Untuk membuat lebih jelas tentang apa sesungguhnya fenomena yang saya sampaiakan tersebut, ada baiknya jika saya memulainya dengan pembahasan SKL atau Kisi-Kisi Ujian Nasional, yang kalau di sekolah menjadi rujukan bagi ketercapaian target hasil belajar yang bagus.

SKL dan Kisi-Kisi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sekolah dan seluruh komponen pendidikan menjadikan SKL, standar kelulusan, atau kisi-kisi sebagai acuan dalam menentukan keberhasilan ujian yang akan dihadapi.  Oleh karenanya tidak ada kecuali bagi seluruh komponen di sekolah untuk  belajar dan menguasai materi pembelajaran dengan panduan tersebut. Karena dari SKL atau Kisi-Kisilah soal-soal ujian dikembangkan.

Oleh karenanya, beberapa sekolah berjuang keras untuk mewujudkan ketuntasan para siswanya dalam menguasai SKL atau Kisi-Kisi yang ada. Keberhasilan belajarnya itu diupayakan antaralain dengan menambahkan waktu belajar kepada kelas yang akan menghadapi ujian. Dengan istilah yang antaralain adalah Pendalaman Materi. Atau juga mengintensifkan waktu belajar anak-anak tersebut. Bahkan beberapa sekolah, atas desakan dan persetujuan orangtua siswa untuk bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar. Semua usaha ini, kalau saya klasifikasikan sebagai usaha keras dan juga sekaligus usaha cerdas bilamana usaha kerasnya tersebut dibarengi dengan membuat analisa SKLnya.

Bahkan tidak cukup sampai dengan usaha keras yag mereka rencanakan dan ikhtiarkan, semua komponen sekolah juga akan melakukan doa bersama menjelang ujian berlangsung. Tentu semua usaha tersebut dilakukan sebagai rangkaian mendapatkan hasil ujian yang optimal.

Adanya Penyimpangan

Namun demikian, ada beberapa penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh beberapa pelaku pembelajaran tersebut. Penyimpangan itu berupa upaya dan usaha untuk berpatungan uang dalam sejumlah tertentu, agar disaat ujian berlangsung nanti, ada kiriman kunci jawaban dalam bentuk SMS atau BBM. Dan dari cerita selentingan yang beredar, bahwa pihak yang memberikan tawaran untuk adanya kiriman SMS atau BBM tersebut adalah pihak-pihak yang masih berdekatan profesinya dengan pendidikan.
Bocoran kunci jawaban UN SMA tahun 2013, yang ditemukan seorang guru yang menjadi pengawas UN dan dipubikasikannya melalui facebook.


Lalu bagaimana pula agar siswa yang menjadi pihak pelau ujian tersebut dapat menerima, membaca, atau bahkan menganalisa kunci yang mana yang benar dari 20 paket kunci jawaban soal yang ada? Tentunya adalah dengan memegang alat komunikasi mereka di dalam kelas. Dan tentang bagaimana anak-anak didik itu masih memungkin memegang HP, itulah yang pada setiap tahunnya berganti modus.

Bagaimana pula jika hasil ujian telah diumumkan kemudian beberapa anak yang terindikasi menggunakan kunci jawaban memperoleh hasil yang relatif baik? Dari pengamatan saya, mereka juga ikut serta merayakan keberhasilannya itu.

Pada titik itulah saya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman semuanya bahwa, ternyata, ada garis yang tidak linier dalam mengembangkan karakter kepada generasi penerus kita. Dan tanpa hasru menuding siapa yang seharusnya memikul beban ketidaklinieran garis tersebut, saya akan ikut serta mengambil peran itu. Semoga!

Jakarta, 29 Oktober 2013.

18 October 2013

Mengobservasi Makam

Sore itu, sepulang kami dari acara, ada kegiatan yang aneh yang harus menjadi acara berikut sebelum kami menuju ke rumah. Padahal waktu tidak lagi siang. Karena dari lokasi acara keluarga, kami tempuh hingga lepas waktu Magrib untuk sampai di sebuah lokasi acar terakhir kami itu. Yaitu kegiatan observasi di sebuah lokasi yang semestinya meyeramkan untuk sebuah aktivitas menjelang malam. Karena memang lokasi yang kami harus observasi itu tidak lain adalah sebuah makam.

Di makam itulah saya menemani anak untuk melakukan sebuah pengataman sebagai bagian dari mata kuliahnya.  Lalu kegiatan apa saja yang dapat diamati dari sebuah tempat makam umum yang ada di bagian Jakarta itu pada saat waktu menjelang malam hari?

Bagi saya yang memang asing mendatangi tempat makam umum di saat malam akan datang, adalah kegiatan-kegiatan yang lumrah terjadi sebagaimana siang. Orang datang untuk mmanjatkan doa di makam yang tampaknya mereka, para pengunjug itu telah hafal lokasinya. Juga para penjual kembang dan minuman serta beberapa tukang pemanjat doa. Hanya karena waktunya tidak siang lagi, maka orang yang datang pun relatif sedikit. Kalau tidak dikatakan sepi.

Seperti pada malam itu, hanya ada tidak lebih dari 3 kendaraan yang parkir di halaman parkir yang terang benderang. Kalau pun ada yang datang, maka selalu ada yang pulang. Demkian bergantian.

"Lalu apa harapan dari guru yang menjadikan makam sebagai lokasi untuk diobservasi?" kata saya kepada anak.

"Melihat apakah fungsi makam menjadi bertambah sebagai lokasi pemujaan atau sebagai tempat melenceng yang lainnya." Jawab anak.

Saya pun hanya mengajaknya berjlan diantara batu nisan yang berjajar rapi dengan diterangi lampu jalanan setapak yang ada di makam itu.

"Tidak apa-apa kalau memang di tempat makam ini tidak kita temukan sesuatu yang menyimpang. etapi saya sudah tahu apa yang seharusnya saya laporkan dari pengamatan ini" Begitu anak saya menyimpulkan. Kamipun segera meninggalkan tempat makam umum itu.

Jakarta, 18 Oktober 2013.

16 October 2013

Dari Mana Melihat Sekolah Mahal

Dalam sebuah kesempatan saya untuk berkunjung ke sebuah sekolah yang pada tahun 2003 lalu, untuk pertama kalinya saya mengenalnya, adalah sebuah kesempatan yang sungguh menyenangkan. Pertemuan tersebut tentunya menjadi sebuah rieuni bagi saya. Meski pertemuan untuk kali kedua ini hanya ada tiga guru yang masih mengenal saya sepuluh tahun yang lalu.

Karena pertemuan tahun 2003 lalu, yang merupakan pertemuan kali pertama, sekolah yang berada di sebuah lokasi di kota Medan itu datang ke pelatihan guru yang saya selenggarakan di Jakarta, sekolah ini dipipin langsung oleh Pembina Yayasannya, yaitu Ibu Profesor Mundiyah Mochtar. Maka tidak ada kata lain bagi saya saat bisa datang langsung ke Medan untuk bersilaturahmi dengan semua komponen sekolah itu.

Meski tidak lama kami berada di sekolah itu, tetapi saya mendapatkan kesan yang dalam tentang ruh yang mengawali pada saat sekolah ini didirikan  oleh almarhumah pendirinya, tentang bagaimana semangat membara yang menjadikannya sekolah ini tetap eksis, juga tentang bagaimana sang putra menjunjung tinggi semangat itu bersama guru-guru yang ada untuk menjadi lebih tumbuh lagi, dan tentunya bagaimana berkembangnya sekolah itu.

Semua yang saya lihat dan dengar langsung pada saat itu, menjadi bagian pembelajaran bagi saya. Belajar untuk menjadi pemikir yang lebih koprehensif. Berpikir divergen. Belajar untuk dapat meilihat sebuah obyek dengan laca mata jauh lebih lebar. Inilah pelajaran berharga. Karena selain sebaai pegawai yang ada di sekolah, pastilah saya menjadi bagian masyarakat pada umumnya.

Melihat infrastruktur sekolah, yang terdiri dari akses, lahan, gedung sekolah, dan fasilitas sekolah lainnya, saya sungguh mengaguminya. Tampaknya perkembangan yang sudah ada ini masih akan terus berkembang. Mengingat tingkat pendidikan yang ada baru pada tingkat SMP. 

Melihat teman-teman gurunya yang antusias dan semangatnya, saya menjadi iri dengan apa yang menjadi visi teman-teman itu dalam berbakti kepada bangsa dan saudaranya melalui wahana lembaga itu. Ini mungkin yang menjadi salah satu kunci bagi perkembangan sekolah ini kedepannya. Teman-teman guru menampakkan bahwa bekerja sebagai pembimbing bagi para anak didiknya tidak hanya berhenti pada mengumpulkan uang sebagai imbalan. 

Bagaimana tidak merasa kagum dengan mereka, mereka telah memulai berinteraksi dengan para anak didiknya sejak pukul 07.00, pada saat anak didiknya itu hadir di sekolahan, dan baru selesai pada saat siswanya pulang pada pukul 16.00!

Melihat dari semangat para pengelolanya, saya bertambah iri atas apa yang menjadi ketulusan mereka dalam memperjuangkan pelayanan dan mensejahterakan. Sungguh mereka adalah sosok-sosok yang luasan keiklhasannya tiada terkira. Karena inilah bagian penting dari sebuah sikap bagi para pengelola lembaga usaha sosial untuk terus tidak mudah putus asa dalam memegang teguh rasa ikhlas.

Sekolah Mahal

"Apakah masih ada orangtua yang menyampaikan bahwa sekolah ini mahal?" Begitu pertanyaan saya kepada teman-teman itu. Pertanyaan ini tentunya menggelitik saya. Karena rentang waktu anak-anak berada di sekolah lumayan panjang. Demikian juga dengan jatah makanan kecil yang dua kali dalam sehari plus dengan makan siangnya. Lalu berapa uang sekolah yang harus dibayar oleh peserta didik? Untuk rentang waktu belajar dan semua makan yang disediakan itu, orangtua siswa membayarnya dengan Rp 550,000.

Dengan penjelasan yang disampaikan, saya memastikan bahwa dengan iuran bulanan sebesar itu, maka harus dibutuhkan  kemampuan para pengelola sekolah untuk lebih canggih dalam mengalokasikan dana bulanan tersebut. Mengapa? Kalau sekali makan dan dua kali makanan kecil tersebut dikalkulasi Rp. 15,00 per hari per anak didik, maka dalam 22 hari sekolah setiap anak didik membutuhkan uang konsumsi yang diambil dari uang iuran bulanan tersebut adalah Rp. 15,000 x 22=  Rp.330,00. Artinya, sisa uang iuran yang dapat dialokasikan sebagai biaya operasional adalah Rp. 550,0000 - Rp. 330,000=Rp.  220,00. Jika dengan rasio jumlah guru berbanding siswa adalah 1:12, maka disitulah kepandaian para pengelola sangat dibutuhkan.

Dengan kondisi seperti itulah, maka dana APBN yang bernama BOS, menjadi begitu bermaknanya terhadap operasional sekolah. Sedang untuk para gurunya, mereka juga harus menjadi perhatian utama bagi perkembangan kualitas sekolah di masa yang akan datang. Karena berbasis kepada teman-teman guru yang militan saja keberadaan anak didik sejak pagi hingga setelah waktu Ashar dapat dilaksanakan dengan penuh dedikasi.

Sedang dari sisi pihak orangtua, yang menghantarkan putra-putrinya pagi ke sekolah dan mengambilnya sore setelah jam kantor usai, benar-benar mendapatkan manfaat yang sesuai dengan keinginannya. Maka dalam kondisi seperti itu, apakah layak saya katakan bahwa sekolah itu mahal?

Jika demikian halnya, maka dari manakah saya dapat menyebutkan bahwa sekolah itu masuk dalam golongan sebagai seklah mahal?

Jakarta, 16 Oktober 2013.

30 September 2013

Ada Ibu yang Heran atas Kemampuan Anaknya

Benar itulah yang terjadi pada saat seklah menyelenggarakan kegiatan yang mengharuskan siswa bermalam. Karenanya maka seluruh peserta yang ikut wajib mempersiapkan diri dan tentunya perbekalannya. Termasuk di dalamnya adalah pakaian ganti yang diperuntukkan sepanjang dua hari satu malam saja itu.

Dan dalam durasi yang pendek itu, kami menerima kunjungan seorang Ibu dari salah seorang siswa kami yang kalau melihat fisiknya, maka sudah masuk dalam katagori seorang gadis. Meski usianya masih akan masuk ke-14 tahun. Belum dewasa memang, tetapi usia yang sudah harus mampu untuk mempersiapkan diri secara mandiri jika akan mengikuti sebuah kegiatan sekolah.

Namun itulah yang menjadi cerita saya dalam catatan kali ini. Karena ketika ada seorang Ibu yang mengunjungi putrinya di lokasi kegiatan, kami mendapat bahwa Ibu tersebut heran kepada apa yang kami informasikan. Bahwa pada sesi terakhir di malam itu, kami informasikan bahwa ananda telah berada di ruang kegiatan seperti teman-teman lainnya.

"Apakah sudah berganti pakaian Pak." tanya Ibu kepada kami.

"Maksud Ibu pakaian untuk kegiatan malam ini? Saya melihat semua peserta telah berganti pakaian Bu. Malam ini mereka mengenakan pakaian kasual. Sudah tidak ada yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah." Jelas kami kepada Ibu yang membawa serta mbak yang biasa mengasuh si putri sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tentunya dengan driver yang menunggu di halaman parkir yang ada di lokasi kegiatan tersebut.

"Apakah kamu yang menyiapkan semua pakaian gantinya?" tanya Ibu tersebut kepada Mbak yang ada tidak jauh darinya.

"Tidak Bu. Sepertinya pagi hari tadi putri berangkat dengan tas sekolah biasanya. Saya malah tidak tahu kalau semua perlengkapannya berda di dalam tas itu." jawab si Mbak.

"Saya heran Pak Guru, mengapa putri saya biasa melakukan itu semua tanpa sepengatahuan kami. Apakah saya tetap bisa mengecek kebenaran dari informasi Bapak?" tanya ibu itu kepada kami. Tentnya apa yang disampaikan sang Ibu kepada kami, dan percakapannya kepada si Mbak yang memang kami dengar, justru membuat kami terheran-heran. 

Mengapa? Bagi kami, usia anak di bangku SMP, bukankah sudah layak untuk bisa melakukan apa yang memang seharusnya dilakukannya sebagaimana apa yang kisahkan di atas? Layak bkan jika kami malah yang terheran-heran atas keheranan Ibunda tersebut. Yang heran karena kamampuan putrinya yang mampu mempersiapkan segala rupa akan kegiatan sekolah yang diikutinya?

Jakarta, 30 September 2013.

27 September 2013

Mogok Sekolah

Saya mendapat telepon dari salah seorang dari sekian orangtua siswa kami, orang yang memang saya sudah kenal sebelumnya. Dan ketika saya angkat teleponnya itu, ia menceritakan tentang keponakannya yang sudah mogok ke sekolah untuk sekian pekan.

"Dia baru masuk sekolah selama dua minggu Pak di tahun pelajaran ini, dan sampai sekarang belum juga mau sekolah. Jumat lalu saya bawa ke sekolah anak-anak dengan tujuan agar dapat ngobrol-ngobrol dengan Bapak. Tetapi kebetulan Bapak tidak hadir. Terus terang saya ikut-ikut pusing juga Pak dengan tingkah polah keponakan itu." Demikian  Bapak yang ada di seberang telepon itu bercerita.

Bertemu

Tidak puas berkomunikasi dengan telepon untuk mencoba mencari dan menemukan strategi pengobatan bagi si keponakan, maka pada saat Bapak itu menjemput anandanya ke sekolah kami, bertemulah dengan saya untuk kemudian kita terlibat diskusi yang lumayan menyenangkan. Dan ini sebuah kesempatan bagi saya untuk belajar dengan melihat sebuah kisah. Itulah kisah seorang siswa yang harus mogok untuk tidak mau berangkat ke sekolah. Meski anak itu adalah keponakan dari seorang Bapak yang kebetulan adalah orangtua siswa di sekolah kami.

"Untuk pekan-pekan pertama disaat dia masuk sekolah, maka ayah atau ibunya akan secara bergantian menunggui anak itu di sekolah. Maka ayah atau ibunya itu bergantian cuti atau bahkan izin. Hingga akhirnya mereka berdua yang bekerja sudah terlalu malu jika harus meminta izin di kantor." Kata si Bapak di saat pertemuan di ruangan saya.

"Itulah maka saya harus membantu adik saya itu. Ada masukan dari Pak Agus? Saya sendiri setelah hampir dua bulan ini belum berhasil membujuk keponakan itu kembali ke sekolah, pusing dan buntu juga Pak." lanjutnya. Saya sendiri dengan mendengar kisah itu, ragu-ragu untuk memberikan pendapat, apalagi masukan. Padahal ketika Bapak itu menyampaikan kisahnya, tidak henti-henti juga saya memutar pikiran agar dapat memberikan sedikit bantuan meski itu hanya sebuah ide. 

"Bagaimana kalau Bapak bertemu dengan psikolog sekolah? Mungkin dia dapat memberikan bantuan atau setidaknya strategi sebagai jalan keluarnya Pak?" kata saya ketika diskusi berjalan lumayan panjang.

'Melihat Dunia' 

Pada tahapan berikut sdetelah diskusi itu, maka Bapak itu mengajak keponakannya untuk berdiskusi. Anak usia 6 tahun berdiskusi? Tapi itulah yang terjadi. Beberapa pertanyaan sebalagai jalan keluar bagi si mogok itu diajukan sang Pakde kepada keponakannya. Antaralain tentang; Bagaimana kalau ngak masuk-masuk sekolah? Apakah tahun pelajaran depan harus mengulang di kelas 1 SD lagi? Apakah kalau sekian lama tidak masuk sekolah nanti dapat langsung masuk kelas 2? Bagaimana kalau masuk sekolah di sekolah lain alias pindah sekolah? Tapi bagaimana kalau di sekolah yang sudah direncakan itu ternyata kelasnya sudah penuh sehingga tidak bisa lagi menerima siswa baru? Bagaimana kalau kembali memulai sekolah di sekolah yang lama?

Semua pertanyaan yang disampaikan oleh Pakde itu mendapat respon baik dari sang keponakan. Maka pada saat yang ditetapkan, berangkatlah Pakde bersama si keponakan menuju sekolah baru. Mereka bersama menghadap kepala sekolah. Berdialog bersama dengan penuh spontanitas tanpa rekayasa.

Juga menghadap kepala sekolah di sekolah lamanya untuk sekedar beraudiensi. Termasuk juga dengan guru kelasnya yang hampir setengah bulan anak itu berada di dalam kelasnya. Semua ikhtiar itu Bapak tersebut lakukan demi si keponakan yang mogok sekolah.

Siasat Anak Pintar

"Pasti ada sesuatu yang menjadi motivasi mengapa keponakan Bapak itu mogok sekolah." kata saya ketika pertama kali bertemu dengan Bapak yang juga orangtua siswa kami di sekolah itu.

"Dan sebagai anak pintar, maka dia akan berusaha agar motivasinya itu rapi tersimpan dalam album kecerdasannya. Nah, disinilah letak ujian bagi kepintaran kita sebagai orangtua yang ada di sekitarnya untuk menggali dan menemukannya. Mungkin dengan pengetahuan itulah kati dapat memasuki labirin bagi penyembuhan penyakit mogok sekolahnya." kata saya. Allahu a'lam bishawab...

Jakarta, 27 September 2013

25 September 2013

Sekolah yang Membuat Jalanan Bertambah Macet

"Mbok ya orang tua yang jemput anaknya jangan nunggu satu sampai dua jam. Kan bisa tunggu 15 menit dengan sistem drop off, pas anak pulang langsung jalan," tandasnya. Demikianlah pernyataan dari Kasudinhub Jakarta Timur, Mirza Aryadi, Selasa (24/9/2013), yang saya baca di http://news.detik.com/read/2013/09/25/014411/2368454/10/banyak-kendaraan-penjemput-yang-ngetem-kasudinhub-jaktim-surati-sekolah?991101mainnews.

Sekolah dan Macet 

Apa yang disampaikan oleh petugas dari Dinas Perhubungan tersebut di atas adalah sebuah pernyataan yang disampaikan kepada sekolah-sekolah yang kebetulan karena terbatasan lahan parkir, sehinga para penjemput akan menggunakan badan jalan sebagai lahan parkir tambahan. Dan itu berimbas kepada kemacetan jalan yang benar-benar mengganggu bagi pengguna jalan yang kebetulan tidak berkepentingan.

Dan pernyataan yang bersifat himbauan itulah juga yang telah dilakukan oleh pihak sekolah secara berulang-ulang agar kiranya para orangtua siswa atau penjemput tidak memarkirkan kendaraanya secara berlama-lama di badan jalan. Bahkan banyak diantaranya yang memarkir kendaraannya itu dari sejak mengantar anak di pagi hari hingga anak pulang di sore hari.  Sulit himbauan itu menjadi terwujud dengan baik.

Entah apa yang akan terjadi jika kendaraan yang parkir di badan jalan itu, yang berada di tanda larangan parkir, benar-benar dilakukan tindakan pengempesan ban sebagaimana yang sekarang sedang digalakkan di Jakarta. Karena sebelumnya telah terjadi beberapa kendaraan yang parkir di tempat-tempat terlarang itu digembok. Namun belum memberikan impliksi yang positif terhadap ketertiban dan kedisiplinan.

Parkir Menjadi Masalah Kompleks

Keberadaan parkir di jalanan besar yang ada ada di ruas jalan-jalan protokol berkenaan dengan keberadaan sekolah sesungguhnya menjadi masalah yang tidak sederhana. Ini menjadi masalah yang sangat kompleks. Setidaknya kalau saya sebagai bagian dari sekolah ingin melihatnya dari beberapa sisi yang berkepentingan.  

Pertama dari sisi Orangtua siswa. Bila kita melihat bahwa parkir di sekolah menjadi begitu banyak karena adanya kendaraan yang ngetem di sekolah, ini tidak lain karena orangtua memang memiliki resources untuk itu.  Dan di samping kendaraan yang parkir tersebut, juga disertakan driver, dan atau nanny nya anak-anaknya. Ini sesungguhnya selain menjadi masalah parkir bagi sekolah yang hanya memiliki lahan parkir sempit, juga adalah problem sosial.

Problem sosial ini lahir manakala keberadaan driver dan para nanny di waktu sekolah sepanjang hari tersebut, jika bersama-sama maka akan lahirlah sebuah komunitas yang tidak hanya melahirkan hal positif saja. Tetapi juga pada hal-hal yang negatif. Diantara orang-orang tersebut akan saling bertukar cerita tentang apa saja. Mulai dari tentang upah hingga curhatan pribadi. Maka sesungguhnya keberadaan mereka di lingkungan sekolah sungguh bukan menjadi hal yang melahirkan masalah parkir semata.

Kedua dari sisi lowongan pekerjaan. Harus diakui bahwa ketika sekolah-sekolah tersebut menjadi lokasi berkumpulnya banyak kendaraan dan artinya juga banyak orang, maka peluang untuk sebuah lapangan pekerjaan menjadi bertambah. Misalnya peluang untuk bertransaksi, jual-beli bahan makanan atau keperluan lainnya, juga jasa pengamanan, dan tentunya para penarik iuran parkir.

Ketiga dari sisi kepentingan umum. Inilah yang menjadi bagian paling penting bagi pihak perhubungan dan pemerintah daerah. Karena dengan keberadaan parkir di badan jalan, ini merupakan tambahan bagi penghambat arus kendaraan. Yang berarti menambah masalah kemacetan yang ada di Ibu Kota ini. Dan inilah sisi yang dibela oleh pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan.

Jakarta, 25 September 2013.

12 September 2013

Apakah ini Bangga yang Salah?

Fenomena anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor belakangan ini, kembali menjadi sorotan semua pihak. Mendikbud, beberapa waktu lalu meminta kepada sekolah untuk melarang siswa-siswinya yang mengendarai kendaraan bermotor yang belum memiliki SIM. Demikian juga pihak Kepolisisan yang belakangan giat melakukan razia, utamanya pada jam kepulangan siswa.

Sementara itu, saya sendiri, setelah mendengar cerita dari teman-teman yang tinggalnya berada  di luar kompleks perumahan, atau juga melihat sendiri, justru berpikir; Benarkah bahwa fenomena anak di bawah umur dan belum memiliki SIM megendarai kendaraan bermotor di jalan-jalan umum itu sebagai kebanggaan kita yang salah?

Berawal dari Rumah

Pertanyaan saya itu berangkat dari apa yang  tampak di depan mata kita. Bahwa anak-anak itu mengendarai kendaraan bermotor atas restu orangtuanya. Betapa tidak? Tetangga saya, yang tinggal di sebuah kampung di Jakarta, anak seusia SD telah keluar masuk gang dekat rumah dengan memboncengkan temannya? Atau sebuah mobil yang terparkir di hlaman sekolah saya beberapa waktu lalu dengan nomor Polisi yang merupakan tanggal lahir dan inisial nama salah seorang siswa kami?

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah orangtua tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka mengendari kendaraan bermotor? Bukankah kendaraan itu dibeli oleh para orangtuanya? Apakah tidak naif jika tersedia kendaraan di rumah dan para orangtua yakin bahwa anak-anak mereka tidak berminat untuk mengendarainya? Bukankah kendaraan itu sebagai hadiah buat anak-anak mereka?

"Mungkin Bapaknya bangga jika anaknya sudah pintar naik kendaraan sendiri." Begitu komentar tetangga saya ketika dihadapan kami melintas bocah SD mengendarai motor.

Jadi, bisa jadi memang sudah menjadi kebanggaan bagi para orangtua dewasa ini jika putra-putrinya sudah pintar mengendarai kendaraan bermotor, baik sepeda motor atau mobil, sejak dini? Dimana usia emosi dan administrasi belum juga sampai?

Bisa jadi. Dan kalau ini memang yang terjadi, saya prihatin (?). Karena saya salah satu orangtua yang tidak masuk dalam tren gendeng ini.

Jakarta, 12 September 2013.

09 September 2013

Siswa Mengendarai Kendaraan Bermotor ke Sekolah

Kabar tentang seorang anak usia 13 tahun mengendarai kendaraan bermotor, yang kemudian mengalami kecelakaan di jalan Tol Jagorawi pada Minggu, 7 September 2013 dini hari kemarin menjadi liputan berita yang luas. Baik di media cetak, on line, dan media layar kaca.  Liputan yang luas itu tidak saja karena salah satu pengemudinya masih anak di bawah umur, juga karena kecelakaan itu menelan korban yang tidak sedikit. Baik korban meninggal dunia dan korban luka. Kita semua berharap semoga peristiwa itu segera dapat selesai dengan kesabaran, ketabahan, kelapangan hati, kesembuhan, dan tentunya menjadi hikmah bagi kita semua.

Dalam catatan saya ini, saya akan menyampaikan berenaan dengan anak-anak  yang masih belum genap berusia 17 tahun, atau sudah memiliki SIM telah mengemudikan kendaraan bermotor, baik roda dua atau roda empat. Diantaranya adalah mengendari kendaraan bermotor itu untuk ke sekolah. Ini juga menjadi pelangalaman saya di sekolah. Dan itu tidak hanya sekali atau dua kali kejadian menemukan anak didik kami yang masih duduk di bangku SMP itu mengendari kendaraan bermotor. Namun selalu berulang-ulang di setiap tahun pelajarannya, dengan anak didik yang berbeda-beda.

Motor

Beberapa waktu yang lalu, misalnya, saya harus menegur seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP, yang datang ke sekolah dengan mengendari sepeda motor. Ini penangkapan basah yang kebetulan. Karena saat pagi hari itu, dimana saya kebetulan sedang  berada di halaman depan sekolah. Persis di pintu keluar sekolah, dimana ada pengemudi sepeda motor yang hendak memarkirkan sepeda motornya di depan kantin luar sekolah. Sebuah lokasi parkir  mobil, seharusnya. 

Karena ada yang aneh, maka saya menunggu siapa gerangan pengendara sepeda motor yang mengenakan helm full face itu. Terlalu sulit bagi saya unuk mengenali siapa gerangan orang tersebut ketika hanya garis mata dan mulut yang tampak terbuka pada saat kaca helm dibuka. Dan betapa kagetnya ketika pengendara itu telah melepas helmnya di depan saya.

"Sejak kapan kamu datang ke sekolah dengan bermotor?" tanya saya ketika saya mengenali anak didik saya yang menjadi pengendara motor tersebut. 

"Baru kali ini Pak. Karena di rumah tidak ada supir Pak. Supirku belum datang. Jadi dari pada saya ke sekolah datang terlambat, maka saya naik motor saja. Orangtua saya dua-duanya tahu kalau saya naik motor Pak." Jelasnya. 

Saya tidak lama terlibat percakapan dengan anak itu. Karena meski bermotor, anak itu tergolong santun. Karena ketika saya memintanya untuk parkir motor di tempat yang tersedia dan memintanya untuk menyerakan kunci motor kepada saya sebelum masuk ke dalam kelas, anak itu melakukannya sesuai dengan  apa yang sudah kami tentukan. 

Mobil

Demikian juga halnya ketika saya menemukan mobil yang terparkir di halaman sekolah dengan nomor tanda kendaraan bermotornya menunjukkan inisial salah satu anak didik kami. Mobil warna putih itu tampak masih baru. Maka untuk mengetahui siapa pemiliknya, saya mencoba membuka rekaman CCTV yang mengarah dimana mobil baru itu diparkir. 

"Sudah berapa kali kamu mengendarai mobil ke sekolah?" tanya saya ketika kami menemukan siapa anak yang turun dari mobil tersebut.

"Baru sekali Pak." jawab anak itu kepada saya yang ditemani oleh seorang gurunya.
"Apakah kamu sudah berhak untuk mengemudikan mobil?" saya melanjutkan pertanyaan.

"Belum Pak. Tapi itu mobil saya sendiri Pak. Bukan mobil orangtua saya. Dan lagian, orangtua saya mengizinkan kalau saya membawa mobil ke sekolah." jelasnya seolah dengan kalimatnya itu ia sah untuk membela diri.

"Tidak ada yang membolehkan kalian semua untuk mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah. Jika ada diantara kalian yang mengendarai motor atau mobil atas sepengatahuan dan izin orangtua kalian di rumah sekalipun, sekolah tetap melarang kalian datang dan pulang ke sekolah dengan mengendari motor atau mobil sendiri. Dan untuk kalian yang hari ini membawa motor dan mobil, kunci saya berikan ke Kepala Sekolah agar orangtua kalian yang mengambil kunci tersebut." Kata saya di ruang serba guna kepada seluruh siswa SMP dan tentunya guru.

Jakarta, 9 September 2013

17 July 2013

Jangan Menahan Ijazah!

Jangan menahan ijazah siswa, meski siswa tersebut masih tercatat belum menyelesaikan kewajiban administrasinya (baca: Uang bayaran sekolahnya, yang lebih kita kenal dengan sebutan SPP), kepada sekolah. Demikianlah ucapan Mendiknas kita yang arif ini disebuah acara edukasi di Jawa Tengah pekan lalu. Sebuah himbauan untuk sekolah yang ada di Indonesia tidak ada kecuali. Himbauan ini disampaikan dengan maksud agar siswa tidak terhambat akses pendidikan berikutnya. Selain juga karena karena hambatan pembayaran uang sekolah dengan sebutan dan istilah apapun, adalah kewajiban pihak orangtua. Oleh karennyanya tidak tepat kalau jika orangtua lalai menunaikan kewajibannya, tetapi justru anak atau siswa yang menerima implikasinya.

Dalam sebuah Tajuknya, Mang Usil menyampaikan pendapatnya tentang aopa yang disampikan Mendiknas itu pada Tajuk Mang Usil di Kompas, yang terbit pada hari Senin, tanggal 1 Juli 2013. Beginilah sentilan Mang Usil itu:



Di Sekolah Swasta

Bagaimana dengan sekolah swasta? Apakah beda dengan sekolah pemerintah? Setidknya itulah yag tersurat dari apa yang tersurat di Tajuknya Mang Usil di atas. Namun sebagai orang yang berada di sekolah swasta, ini kadang menjadi dilema saya sebagai pribadi. Mengapa? Karena memang ada jenis orangtua siswa yang memilih sekolah swasta sebagai tempat sekolahnya putra-putrinya, dan memang sebagian kecilnya seret jika harus memenuhi kewajibannya sebagai orangtua. Dan anehnya, sering juga saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa setiap pagi anak-anak itu diantar orangtuanya dengan kendaraan roda empat yang harganya mendekati 1 milyar? Sekali lagi, ini memang segelintir dari orangtua yag menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. mayoritas diantaranya disiplin dalam memenuhi kewajibannya.

Dan kenyataan ini bukan menjadi pengalaman saya sendiri. Di beberapa sekolah swasta lainnya, juga relatif memiliki kasus yang sama. Bahkan ada juga pengalaman teman, kalau ia bertemu seorang temannya yang kebetulan menunggak uang sekolah. Yang menjadi tidak enak dari teman saya ini adalah ketika ia memergoki orangtua tersebut sedang minum kopi yang satu gelasnya seharga 4 liter beras berkualitas di sebuah tempat minum kopi?

Lalu? Sekali lagi, sebagai orang yang berada di sekolah swasta, kami harus bijak dengan rekam jejak para orangtua, khususnya yang memiliki masalah terhadap keuangan sekolah. Karena ada pula yag memang sedang dirundung masalah uang. Dan kepada orang seperti inilah kami layak memberikan perhatian yang berbeda. Jadi bukan gebyah uyah...

Jakarta, 17 Juli 2013.

07 May 2013

UN 2013; TIPs Anak tidak Stres Ikut UN

Ini mungkin catatan saya yang dapat menjadi cermin bagi para orangtua yang putra-putrinya akan menjalani UN di tahun-tahun depan. Karena memang hari ini adalah hari kedua pelaksanaan UN di tingkat SD dan sederajat. Maka agak terlambat apa yang akan saya sampaikan ini. Catatan ini juga merupakan pengalaman yang kebetulan saya dapatkan selama pelaksanaan UN, baik SMA, SMP, dan SD sederajat. Pengalama yang saya dapatkan dari cerita anak-anak, teman, dan tentunya apa yang saya lihat sendiri. Tentunya juga tidak hanya dalam pelaksanaan UN, karena sebelum UN berlangsung, pemerintah dan sekolah sama-sama membuat jadwal try out sebagai persiapan UN.

Catatan ini saya buat karena adanya beberapa oranttua siswa, terutama bagi mereka yang putra-putrinya sedang menghadapi UN SD. Mungkin ini adalah peristiwa kai pertama bagi mereka. Sehingga mereka begitu khawatir dengan apa yang akan dilakukan putra-putrinya. Namun dengan sikap khawatir tersebutlah sebenarnya yang sering beresonansi kepada sang anak. Sehingga sang anakpun menjadi terjangkiti sakit was-was.

Untuk itulah, saya mencoba merumuskannya dalam bentuk Tips agar selama pelaksanaan UN atau ujian, anak-anakkita dapat melakukannya dengan perasaan rileks dan percaya diri. Tips itu antara lain adalah; Satu, yakin akan persiapan yang dilakukan. Dua, Yakin pada kemampuan anak. Ketiga, berprasangka baik terhadap kemampuan anak. Keempat, cermat dalam melihat jadwal pelaksanaan ujian.

Yakin akan Persiapan

Harus benar-benar kita yakin akan persiapan yang sudah dijalani oleh anak kita. Proses peguasaan materi yang akan keluar dalam UN dengan panduan utamanya adalah kisi-kisi UN atau Standar Kelulusan atau SKL. Dengan panduan itu, maka kita dapat benar-benar memstikan tidak ada satu Kompetensipun yang anak kita belum phami secara penuh. Tentu dengan cara pemahaman yang berproses, bertahap, dan bukan dengan model sistem kebut semalam. Dengan model belajar seperti ini, dibarengi kesungguhan belajar, maka kita sedang melakukan persiapan UN dengan cerdas dan sekaligus sungguh-sungguh.

Yakin Mampu

Setelah mengikuti atau menemani anak belajar dalam rangka mempersiapkan UN sebagaimana yang saya kemukakan di atas, maka kita akan dapat menarik kesimpulan seberapa jauh tau juga seberapa dalam potensi anak yang telah kita persiapkan? Tolok ukurnya apa? Menurut saya SKL atau kisi-kisi tersebut, selain mungkin sebagai gambaran kita adalah hasil-hasil TO atau try out yang telah dijalani ananda.

Berprasangka Baik

Langkah berikutnya setelah ikhtiar dan kerja keras kita lakoni bersama, maka keyakinan kita terhadap kemampuan anak harus mebar-benar mampu memberikan dan melahirkan prasangka yang baik serta positif terhadap kemampuan ananda dalam melaksanakan UN dengan sebik-baiknya. Prasangka ini harus tetap dilihat oleh kita dari kaca mata ananda sendiri. Dan jangan tergoda untuk membandingkannya dengan siapapun.

Cermat dengan Jadwal

Tips terakhir ini adalah yang sering terjadi dari pihak orangtua. Kadang karena mungkin kesibukan, kita tidak mengetahui jadwal deyil dalam pelaksanaan UN itu sendiri. Misalnya yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Dimana seorang anak yang sensitif harus datang terlambat masuk ketika UN hari pertama dimulai. Bayangkan, anak datang pukul 07.30 dinama pada jam itulah UN dimulai!

Itulah barangkali catatan saya. Semoga menjadi catatan kita bersama.

Jakarta, 7 Mei 2013.

07 March 2013

Pelajar yang Berkendaraan

Beberapa kali saya sebagai bagian dari para pelajar, berkesempatan membaca himbauan dari Bapak-Bapak Polisi yang mengingatkan agar sekolah berkontribusi dalam mencegah para pelajarnya mengendarai kendaraan. Terutama bagi mereka yang belum cukup umur atau yang tidak memiliki SIM. Meski hal yang disampikan ini adalah sesuatu yang normatif, akan tetapi di lapangan banyak sekali para pelajar yang membawa kendaraan ke sekolah dengan rute jalan-jalan besar.

Seperti yang saya alami dengan saya sendiri di sekolah. Sudah beberapa kali saya memergoki anak-anak didik saya datang ke sekolah dengan mengendarai kendaraan. Baik roda empat atau roda dua. Dan semua itu karena saya kebetulan sedang berpatroli. Belum pernah sekalipun dari kejadian yang terjadi itu karena atas laporan dari anggota keamanan sekolah atau teman guru yang lain.

Dan atas kenyataan itulah saya sungguh merasa prihatin. Bukan karena anak-anak itu belum cukup usia dan belum juga memiliki SIM untuk mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, tetapi lebih kepada pola pendidikan dan karakter yang diinginkan dan dicitakan oleh kita semua. Oleh sekolah, oleh para orangtua, dan oleh para petugas keamanan sekolah yang kadang tahu tetapi tanpa kepedulian seperti misalnya dengan memberikan laporan kepada kepala sekolahnya.

Karena saya selalu yakin bahwa, karakter anak-anak itu adalah implikasi dari apa yang dilihat dan dilakukan oleh lingkungannya. 

Kacamata Sekolah

Apa yang terjadi dalam beberapa pengalaman saya ketika bertemu dan 'menangkap basah' anak-anak siswa SMP yang mengendarai kendaraan bermotor ketika ke sekolah, adalah rasa kekawatiran kami, yang ada di sekolah sebagai guru, karena itu adalah perilaku yang melanggar hukum. Maka ketika kami memberikan toleransi terhadap perilaku seperti itu, resiko yang akan kami hadapi adalah sebuah sikap pembenaran dan tolerasi akan tumbuhnya sikap melanggar.

Dan jika itu sudah terjadi pembiaran dalam durasi yang lama, perilaku tersebut akan meningkat menjadi budaya yang tidak saja dilakukan oleh anak-anak tertentu, tetapi mungkin menjadi jamak. 

Apa yang menjadi sudut pandang saya ini hanyalah bagian kecil saja tentang sebuah fenomena melanggar. Banyak sekali sisi-sisi yang akan menjadi titik buruk dari pembiaran akan sikap melanggar seperti itu. Itulah yang menjadikan kami berkomitmen untuk mencegahnya. Tentu kepada anak-anak yang  melanggar dan 'tertangkap'. Kunci akan kami minta dan simpan, untuk kemudian memberitahukan orangtua atas sikap keliru tersebut, dan untuk selanjutnya agar pihak rumah mengambil kunci tersebut di guru.

Kacamata Rumah

Meski anak telah mahir megendarai kendaraan bermotor walau tanpa memiliki izin mengendarai dari kepolisian, tidak jarang anak-anak itu pergi dari rumah dengan restu dari rumah. Walau tidak semua yang berkendaraan bermotor secara ilegal di mata hukum tersebut atas sepengatahuan orangtuanya.

Bagi orangtua yang memberikan izin anak-anaknya mengendarai kendaraan bermotor ketika berangkat dan pulang sekolah atau dalam kegiatan apapun meski belum berizin, mereka merasa terbantu. Anak-anak itu dirasakannya mandiri dan tidak mengganggu aktivitasnya.

Para orangtua tidak berpikir bahwa dengan kendaran bermotor itu anak-anaknya akan memiliki mobilitas yang jauh lebih tinggi. Dan ketika mobilitas tinggi, maka akan menjadi lebih rumit mereka memantau keberadaan anak-anaknya. Belum lagi jika terjadi musibah terhadap anak-anaknya, maka berpulang kepadanyalah tanggung jawab atas musibah tersebut. Ini karena anak-anaknya masih berada di bawah umur.

Butuh komitmen dari kita semua untuk benar-benar menanamkan karakter atau [erilaku kepada anak-anak kita ini. Sebuah  warisan yang paling [enting bagi mereka ketika kita, para orangtuanya dikemudian hari, tidak mampu lagi mendampingi nak-anak itu dalam menjalani kehidupannya.

Tentunya karakter positif yang lahir bukan karena pembiaran kita atas terjadinya sikap melanggar sebuah aturan. Semoga.

Jakarta, 7 Maret 2013.