Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 February 2018

Tas Terbawa Ayah

Beberapa waktu yang lalu, juga seperti hari-hari sebelumnya dimana saya sedang touring di sekolahan sekedar untuk melihat-lihat sisi sekolahan pada hari itu, bertemu dengan seorang driver siswa di pintu keluar sekolah. Dan setelah kami bertegur sapa, maka driver tersebut menyampaikan berita kepada saya bahwa ananda yang diantar jemputnya yang sudah di bangku SD hari ini tidak masuk sekolah. Sehingga dia hari ini hanya mengantar dan menunggui serta menjemput adiknya. Karena hanya adik yang diantar jemput, maka  jam kepulangannya tidak akan terlalu siang. 

Beberapa kali saya sempat bercengkerama dengan Bapak Driver tersebut sekedar bertukar pengalaman. Dan dari cerita-cerita tersebut saya mengenalnya lebih dari sebagai sosok driver peserta didik saya. Saya mengenal beberapa sisi hidupnya yang bisa menjadi bagian yang saya sendiri harus mengangkat topi dan mengapresiasinya. 

"Sakit apa Pak kok sampai tidak masuk sekolah?" Kata saya kepadanya. Karena nananda yang diantarnya adalah ananda yang sangat enerjik. Menyimpan banyak sekali tenaga untuk bergerak. Maka ketika mendengar beritanya tidak masuk sekolah saya mencoba mencari tahu sakit apa gerangan?

"Tidak sakit Pak. Dia kecewa sekali dengan tas sekolahnya yang tidak ada di rumah." Jelasnya. Yang justru membuat saya menjadi bingung. Betapa tidak, bukankah anak-anak tidak hanya punya satu tas?

"Jadi tas sekolah yang biasa dia bawa, tadi pagi terbawa oleh ayahnya ke kantor. Ini karena tas sekolahnya ketika sampai rumah kemarin tidak langsung diturunkan. Saya sendiri benar-benar lupa ketika sampai rumah tidak langsung menurunkan tas sekolahnya. Maka dia ngambek dan tidak mau ke sekolah." Jelas Pak Driver tersebut. Saya mangggut-manggut mendengar penjelasan tersebut.

Wah, saya jadi mendapat ilmu baru dengan cerita tersebut. Bahwa tas sekolah juga bisa menjadi pemicu anak didik saya memutuskan diri untuk tidak masuk sekolah...

Jakarta, 20 Februari 2018.

19 February 2018

Tempat Sembunyi Favorit

Saya sedang berdiskusi dengan bagian security ketika seorang guru memanggil-manggil nama peserta didik kami yang ketika jam itu, telah lebih dari 60 menit berada di sekolah dari jadwal kepulangannya. Ini berarti, pemanggilan yang melibatkan guru tersebut menjadi jalan paling terakhir. Karena biasanya penjemput cukup meminta salah seorang dari anggota security yang ada di depan, baik di pintu masuk atau pintu keluar sekolah untuk kemudian anggota security tersebut  memberikan pesan berantai kepada anggota security yang lain via HT.

Dan pada saat itu, posisi saya sedang berada di lantai basement sekolahan tempat dimana kendaraan guru dan karyawan parkir. Maka saya segera beranjak dari lokasi diskusi tersebut menuju ke ruangan guna berkoordinasi dengan guru yang mencari. Dalam benak saya, segera tervisualisasi beberapa lokasi favoritnya untuk bersembunyi.

Peserta didik saya ini adalah ia yang pernah saya temukan ketika kami memintanya menuju ke penjemputnya yang telah menunggu di pintu hall sekolah. Tetapi saat itu ia bukan segera bertemu penjemputnya dengan membawa tas untuk pulang ke rumah, justru sembunyi di lokasi yang sebelumnya tidak saya duga. Maka ketika hari ini guru disibukkan dengan persoalan yang sama, saya segera memvisualisasikan lokasi-lokasi favorit untuk sembunyinya.

Benar saja. Alhamdulillah. Beberapa langkah saya beranjak dari lokasi disuksi, saya berpapasan dengan anak tersebut ketika ia sedang berlari untuk mencari lokasi sembunyi yang baru. Saya ajak dia bertanya jawab. Termasuk memintanya memberikan alasan mengapa tidak segera menemui penjemputnya. Dan melalui HT, saya informasikan kepada anggota security lainnya guna datang di lokasi dimana saya dan siswa saya berada.

Penemuan itu, sekaligus mengakhiri petualangannya untuk mencari lokasi sembunyi yang baru di sekolah, untuk menunda kepulangannya. Alhamdulillah.

Jakarta, 19 Februari  2018.

15 February 2018

Berebut Koran Pagi

Seperti hari-hari sebelumnya di waktu sekolah, pagi ini bersamaan dengan waktu istirahat pertama sekolah, kami bertemu dengan siswa kami di Perpustakaan sekolah untuk bergantian membaca koran pagi. Bergantian karena kebetulan saya datang lebih kurang sepuluh menit terlebih dahulu. Oleh karenanya ketika dia datang, saya telah menyelesaikan membaca judul-judul berita yang tersaji pada hari itu. Siswa saya datang di pertengahan waktu istirahatnya. Ini karena ia datang seusai melakukan latihan sinkronisasi Ujian Nasional Berbasis Komputer, atau UNBK. 

"Apa berita besar hari ini Pak Agus?" Kata murid saya mendekati meja dimana koran baru saja saya lipat.

"Masih sama dengan hari kemarin. Tapi mungkin kami lebih tertarik dengan berita-berita yang ada di bagian dalam? Silahkan dinikmati ya." Kata saya sembari menggeser koran yang telah saya lipat mendekat ke meja bagian dimana dia duduk.

Saya dan dua teman yang berada di Perpustakaan selalu berkoordinasi untuk sesegera mungkin mengambil koran pagi yang oleh agen dikirim ke sekolah dengan meletakkannya di Pos Satpam sekolah, dan membawanya ke ruang baca di Perpustakaan. Ini kami lakukan untuk menghindari koran pagi tidak sampai ke lokasi membaca.

Dan ketika koran pagi terlambat sampai di ruang baca yang ada di Perpustakaan, maka kami mencarinya kalau tidak di meja guru piket SMP lantai dua, yang di ruang bersama dimana semua siswa SMP akan melakukan Dhuha terl;ebih dahulu. Dan kalau ini yang terjadi, maka koran telah terlebih dahulu diambil oleh ananda siswa saya tersebut...

Jakarta, 15 Februari 2018.

Ruangan Saya

Pada saat beberapa siswa datang secara bergilir ke ruangan saya untuk tujuan bertemu saya dan mewawancarai, saya menemukan berbagai aneka karakter anak. Ada beberapa diantaranya menggunakan bahasa yang lurus-lurus saja ketika memulai wawancara atau etika mengajukan pertanyaan- pertanyaan. Ada yang begitu lurus dan amat sangat santun dalam tutur katanya. Tertata begitu rapi kata dan klimat yang dikemukakannya seperti tulisan karangan yang enak dibaca. Ada pula yang begitu cair, santai, dan tetap fokus kepada apa yang harus didapatnya.

Pendek kata, peserta didik saya itu adalah generasi yang memiliki visi bagus dan berada di atas rata-rata kalau saya melihatnya dari tutur kata dan bahasa yang mereka gunakan. Saya memperoleh indikasi adanya pola berbicara dengan orang lain yang terlebih dahulu mereka pelajari. Semoga ini dapat menjadi bagian penting dalam menumbuhkan potensi mereka yang unggul dan baik sebagai investasi suksesnya di masa depan. Amin.

Dan beberapa diantara mereka yang tetap cair misalnya ketika ada diantara mereka yang mengemukakan tentang ruangan saya seperti apa. Ada yang berkomentar karena suhu ruangan-nya yang adem. Ada pula yang mengomentari layar cctv yang tetap menyala sepanjang wawancara berlangsung. Ada juga yang berkomentar tentang pulpen saya yang unik dan antik. Dan berbagai komentar lainnya.

"Saya baru kali ini dapat masuk ke ruangan Pak Agus. Beneran Pak. Padahal setiap hari saya liat ruangan Pak Agus." Komentar seorang siswa saya ketika wawancara telah selesai. Ia bersama temannya yang juga berkomentar sama; "Kalau saya ini pengalaman yang ke kali ke sini. Yang pertama dulu waktu saya masih di kelas satu. Saya mendapat pertolongan Pak Agus saat itu." Timpal temannya.

Saya apa yang mereka kemukakan, saya melihat keduanya sembari mengucap syukur di dalam batin saya. Bersyukur bahwa saya mendapat kesempatan yang begitu berharga dan menarik bagi pertumbuhan batin saya. Alhamdulillah.

Jakarta, 15 Februari 2018.

14 February 2018

Pinjam Pulpen Saya

Beberapa siswa saya, baik yang duduk di SD atau yang di SMP, yang kebetulan menyaksikan saya menggunakan pena saya ketika menulis, maka mereka akan berkomentar yang nadanya adalah keheranan.

"Ballpoint-nya aneh."
"Pulpen-nya lucu."
"Pulpen-nya seperti punya nenek saya Pak Agus."

Dan berbagai macam yang lain. Pendek kata, semua melihat apa yang saya gunakan untuk menulis sehari-hari itu adalah alat tulis aneh.

Bahkan ada di SMP, ketika saya sedang beraktivitas mengajar kelas pagi dengan lima siswa saya, ada seorang diantaranya yang meminjam pulpen saya itu untuk menulis namanya di buku barunya. Dan ketika saya berikan kepadanya ballpoint biru yang ada di tangan saya, dia menunjuk untuk menggunakan pulpen yang ada di kantong saya.

"Kamu nanti kesulitan menggunakan pulpen Pak Agus ini." Kata saya memberikan alasan mengapa bukan pulpen yang di kantong yang saya akan berikan pinjam kepadanya. Tetapi ballpoint yang memang ada di tangan saya.

"Tidak mungkin Pak Agus. Saya akan coba." Kata anak itu. Dan benar saja, ia harus menggerakkan beberapa kali ujung pulpen saya ke atas kertas di  halaman depan bukunya yang baru dengan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Maka teman-teman yang ada di sekitar kami tertawa.

Jakarta, 14 Februari 2018.

12 February 2018

Klakson

Kita semua maklum kalau pabrik selalu membekali klakson di kendaraannya yang dilepas di pasar. Tidak hanya untuk kendaraan roda 4, tetapi semua jenis kendaraan bermotor dibekali alat tersebut. Juga seperti lampu sign. Dan dalam buku manualnya juga juga disampaikan bagaimana klakson dinyalakan. Sedang penggunaannya di jalan raya, umumnya digunakan untuk memberikan tanda keberadaannya. Sehingga pengguna jalan yang lain yang ada di depan atau di sampingnya menyadari dan dapat memberikan jalan jika memang akan mendahului.

Tetapi ada yang kurang jika kita menengok apa yang terjadi di jalanan kita sekarang ini. Sulit bagi kita untuk tidak mendengarkan klakson jika kita berada di jalan raya. Klakson sekarang berfungsi todak saja pada memberikan tanda atas keberadaan kendaraannya atau pemberitahuan kalau akan mendahului, klakson juga adalah alat untuk menyampaikan amarah.

Jakarta, 12 Februari 2018.

09 February 2018

'Buku Lama' Siswa Saya

Usai kegiatan rutin pagi di ruang bersama di lantai 3, anak-anak akan melanjutkan dengan membaca tenang atau silent reading. Hari itu, Kamis, 7 Februari 2018. Saya berada di antara anak-anak karena kebetulan saya mendapat tugas untuk mendengarkan 5 peserta didik saya membaca Al Qur'an. 

Dan pada saat kegiatan silent reading tersebut saya mendapati seorang anak yang sedang tekun membaca buku yang relatif tebal dengan  hard cover warna biru kusam. Tidak tahu, mengapa saya begitu tertarik untuk memperhatikan buku yang sedang dibaca oleh anak didik saya tersebut. Mungkin karena tampilan bukunya yang tidak biasa. Karena anak-anak yang lain semua membaca buku dengan sampul buku yang mengkilap bergambar menarik.

Setelah sekian lama saya memperhatikan tampilan buku yang sungguh tidak biasa itu, maka saya sampaikan pertanyaan saya kepadanya;

"Buku apa yang sedang kamu baca itu?" kata saya begitu kegiatan membaca berakhir. Nampaknya pertanyaan ini menjadi daya tarik bagi beberapa anak yang duduk berdampingan dengan anak tersebut. Dan mereka juga memiliki rasa penasaran yang sama dengan saya atas penampilan buku kuno tersebut.

"Buku saya Pak Agus. Baru saja saya beli di on line shop." Jelasnya. Dan ketika saya mendekatinya, jelas bahwa buku tersebut memang buku lama. Buku yang pernah saya kutip dalam cerita saya kepada anak-anak beberapa waktu lalu. Dan nampaknya anak tersebut penasaran untuk juga memiliki bukunya. Buku yang judulnya adalah Dunia Baru Islam yang ditulis oleh L Stoddart. Edisi Indonesia-nya di terbitkan atas instruksi Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

"Ini bukunya orisinil nak. Di dalamnya ada surat perintah dari Presiden Soekarno." Jelas saya. 
"Surat tersebut ada di halaman buku bagian depan." Lanjut saya lagi.

"Betul Pak Agus. Tapi suratnya saya lepas. Saya simpan. Karena kemarin sudah robek. Dan supaya tidak hilang maka saya melepasnya dan menyimpannya." Jelasnya lebih lanjut.

Saya senang sekali bahwa ada anak peserta didik saya yang membeli buku yang menjadi referensi dari apa yang pernah saya ceritakan kepada mereka. Bahagia sekali.

Jakarta, 8 Februari 2018.

07 February 2018

Bermain Bola TK

Saya selalu mendapati beberapa kali bola-bola milik anak-anak Taman Kanak-kanak digunakan untuk bermain futsal anak-anak kelas III SD yang kebetulan sedang menunggu penjemputnya datang. Mereka mengambil bola itu di tempat bermain TK yang ruangannya menyatu dalam satu gedung dengan SD. Meski ukuran bola itu hanya sebesar bola kasti atau bola tenis, tetapi selalu menarik bagi kakak-kakak SD kelas III mengambilnya sebagai pengganti bola futsal mereka. Dan mereka bermain dengan bola-bola yang diambilnya itu di sembarang lokasi, dimana yang menurut mereka memungkinkan. Kadang di hall sekolah, kadang di plasa SD, atau kadang di plasa TK. Namun beberapa waktu lalu kami sempat kelabakan mencari anak-anak yang penjemputnya sudah datang namun menemukan anaknya tidak ditemukan. Alhamdulillah, setelah kami kehilangan akal akan lokasi yang memungkinkan untuk bermain, maka masih ada satu lokasi bermain futsal, yaitu di ruang katarsis lantai II, yang bersebelahan dengan kantin sekolah.

Mengapa kami menyebutnya sebagai ruang katarsis? Karena dengan argumentasi sempit dan terbatasnya ruang bermain siswa, maka kami 'menciptakan ruangan sebelah kantin sebagai ruangan untuk anak-anak remaja kami mengeluarkan keringat. Mereka bida melakukan kegiatan futsal, tenis meja, bahkan kami sediakan pula sangsak. Itulah maka kami menyebutnya ruangan itu sebagai ruang katarsis.

Kembali ke anak-anak yang bermain bola TK. Jadi setelah saya selesai rapat kepala sekolah, saya bermaksud melanjutkan rapat saya dengan bagian lain untuk mendiskusikan jalan keluar bagi staf kami yang kesehatannya sedang tidak fit. Saya meminta pertemuan dilakukan di tempat makan anak-anak TK. Namun ketika saya sampai di lokasi tersebut, ada dua anak kelas III SD yang sedang asyik bermain futsal dengan menggunakan biola milik TK. Melihat kehadiran saya, dua anak tersebut sedang memperagakan dua gerakan yang berbeda. 

Anak pertama begitu melihat saya langsung melakukan joget baby shark. Sedang anak kedua begitu melihat saya langsung tertelungkup dan melakukan push up. Tentunya sembari tertawa-tertawa dengan pandangan mata ke arah saya.

Pertama saya melihat anak-anak itu dengan memperagakan dua gerakan tersebut, tidak ada dalam benak saya selain anak itu melucu untuk sispa ya? Namun ketika saya melihat sekitar bahwa tidak ada orang lain selaun mereka kecuali saya, dan mereka berada diantara 3 bola kecil milik dik-adik TK, lahir kesimpulan saya bahwa dua anak tersebut sedang mengalihkan perhatian saya tidak lagi bermain futsal dengan menggunakan bola milik TK, tetapi dengan dua gerakan mereka yang berbeda tersebut.

Cerdas. Pikir saya. 

Jakarta, 7 Februari 2018

06 February 2018

Kelas Pagi saya

Setiap pukul 07.30 hingga pukul 08.00, di ruang bersama saya mendapat jatah mengajar bersama dengan 5 siswa di tahun pelajaran  ini. Ini merupakan tahun ketiga saya mendapat kesempatan berkontribusi di pagi hari. Teman-teman yang lain, rata-rata mendapat 6 atau 7 siswa. Anak-anak itu sila berbaris dihadapan kami dan secara  bergantian membaca Al Qur'an sesuai dengan targetnya masing-masing. Seperti pada tahun pelajaran ini, kelima siswa saya ada yang telah khatam membaca dan sekarang mengulang dari awal dan telah berada di surat 7 Al Qur'an, surat Al A'raf. Sementara yang lain ada yang telah sampai di akhir surat Al Imran (QS, 7),  Ibrahim (QS, 14), An Nahl (QS, 16), dan Al Anbiya (QS, 21).

Adapun peserta didik saya hingga hari ini masih berada di akhir surat Ali Imron, karena dia adalah siswa baru yang baru masuk ke sekolah kami awal tahun pelajaran 2017/2018 ini. Dan kesempatan mendengarkan bacaannya setiap hari Senin sampai dengan hari Kamis, yang setiap harinya dengan target 1 halaman, alhamdulillah telah masuk di juz -4. 

Juga bukan untuk membaca secara cepat-cepat yang kami lakukan bersama anak-anak itu, tetapi sesuai dengan kemahiran dan kecepatannya masing-masing. Dan karena kegiatan ini rutin berlangsung, maka lambat laut kami mendapati bacaan Al Qur'an anak-anak peserta didik kami relatif lancar.

Selain kegiatan itu, beberapa waktu saya menyempatkan diri untuk mengulang cerita tentang perkembangan dunia Islam. Cerita yang saya sampaikan setelah saya sendiri membaca khasanah Islam yang alhamdulillah mendukung kedahagaan saya tentang masa lalu Islam yang megah dan menggairahkan. 

Harapannya tidak lain agar saya sendiri serta anak-anak mengetahui dan kemudian memahami, serta kemudian dapat memberikan semangat untuk belajar bersama tentang dunia ke-Islaman yang luar biasa. 

Jakarta, 6 Februari 2018.

Perbincangan di Kantin

Di kantin sekolah, saya terlibat perbincangan dengan anak-anak kelas IX yang baru saja melaksanakan kegiatan try out ujian, dan mereka beristirahat makan. Ada diantaranya hanya makan makan kecil yang dibekalkan oleh orangua dari rumah. ada juga yang sedang makan nasi dengan ayam bakar dan tempe goreng tipis-tipis. Saya duduk diantara mereka. Pertama adalah untuk menghilangkan jenuh jika saya berada di depan desk top terus menerus. Kedua adalah memantau kegiatan istirahat siswa di kantin yang kebetulan pas istirahatnya anak-anak yang duduk di bangku SD.

Kami berbincang di seputar PTN, Perguruan Tinggi Negeri dan jurusan-jurusan serta pekerjaan yang akan menjadi muara dari lepas perkuliahan nantinya. Jadi bukan sekolah menengah atas yang akan menjadi tujuan paling dekat mereka selepas dari bangku SMP nantinya. Saya mencoba memberikan jurusan-jurusan yang ada di perguruan tinggi dan juga alternatif pekerjaan jika telah lulus dari jurusan yang dipilihnya di perguruan tinggi. Dan semua yang ada di meja makan dimana saya menjadi bagiannya, tidak akan melanjutkan di perguruan tinggi.

Ada diantara mereka yang akan masuk akademi militer, ada yang akan memilih jalur untuk menjadi penerbang, atau juga ada pula yang akan menjadi pelaut, serta ada yang memang harus memilih menjadi dokter karena dia adalah dari keluarga besar dokter. Semua nimbrung dalam perbincangan bebas di kantin tersebut.

Prinsip dari perbincangan tersebut adalah dunia visi yang sudah menjadi bayangan peserta didik saya yang lima bulan lagi akan benar-benar lepas dari lembaga kami dan menuju ke anak tangga impian mereka masing-masing.

Saya senang berada diantara mereka dengan tidak terlalu banyak memberikan komentar atau tanggapan atas apa yang mereka ungkapkan. Saya mendapatkan sesuatu yang baru jika kesempatan seperti itu berulang. Dan saya benar-benar menikmati atas pengalaman bercengkerama dengan mereka. Sesekali komentar dan tanggapan saya berikan utamanya ketika mereka meminta pendapat dari saya.. Dan sebagian besar perbincangan menjadi percakapan diantara mereka.

Saya ikut bangga, bahwa keluarga mereka tidak menjadi hambatan utama bagi keberlanjutan studi yang akan menjadi perjalanan hidupnya di masa mendatang. Mengingat semua mereka berasal dari keluarga yang relatif mapan. Sangat berbeda dengan apa yang saya dan teman-teman saya alami ketika kami berada di desa tahun 1980-an. 

Dan saya berharap semoga perbincangan semacam itu menjadi topik sehari-harinya dibandingkan tema perbincangan yang lain. Semoga.

Jakarta, 6 Februari 2018.

01 February 2018

Menularkan Kompetisi

Menjadi penjaga gawang di lembaga sekolah swasta, maka rasa berkompetisi, menjadi bagian penting agar apa yang menjadi amanah lembaga dapat terus mengalir sebagaimana yang direncanakan. Keberadaannya tidak saja ada, tetapi juga menjadi bagian penting dalam denyut nadi masyarakat yang menjadi stakeholder lembaga. Khususnya adalah masyarakat yang menjadi partner lembaga.

Karena ranah saya adalah pendidikan, maka menjadi fokus kami di lembaga untuk selalu mengupayakan agar kami menjadi bagian penting dari pemegang amanah edukasi putra-putrinya. Dengan ini maka upaya memperteguh visi dan merenovasi jalan dalam memberikan pelayanan edukasi maksimal sebagai bagian in-heren upaya kami. Dan ini, guru sebagai bagian utama dalam merealisasikan ikhtiar tersebut menjadi bagian utama kami. Kepada merekalah kami secara terus menerus mengajak tumbuh. Dan agar pertumbuhannya menjadi semakin baik, kami mengajak mereka untuk memahami kompetisi (agar menjadi kompetitif), melihat bagaimana orang lain bersama lembaga mereka berkembang, dan menjadikan budaya mulia sebagai bagian dari kehidupan kami.

Untuk kepentingan tersebutlah dalam sebuah sesi kami sengaja men-disain. Satu hari penuh saya mengajak anggota lembaga untuk membuat lembaga pendidikan impiannya masing-masing lengkap dengan konsep pendidikan yang menjadi kebutuhan masyarakat serta hitungan keuangannya secara sederhana. Ini tidak lain agar teman-teman di dalam kelompok terlibat langsung mengenai unsur-unsur yang terdapat di dalam lembaga yang bernama sekolah. Selain juga mengajak agar teman-teman menyadari perbedaan antara lembaga pendidikan swasta dengan lembaga pendidikan pemerintah. 

Tentunya ada satu sesi tambahan sebelum sesi tersebut berlangsung, sya memberikan gambaran akan unsur dan indikator yang nantinya dapat dijadikan sebagai tamplate teman-teman di dalam kelompok pada saat berdiskusi. Ini juga berguna agar semua teman mendapat gambaran yang sama sebelum konsep dan perencanaan lembaga mereka di-disain.

Sesi berikutnya setelah perencanaan kelmpok mereka selesai, setiap kelompok mendapat kesempatan untuk mempresentasikan lembaga sekolah mereka yang keren-keren. Ada kelompok yang ketika membuat konsep dan rencana sekolahnya begitu realistis dan menjanjikan secara operasional. Ada kelompok yang membuatnya penuh impian sehingga terasa tidak berpijak di bumi. Ada juga kelompok yang belum mengakar, baik secara konseptual atau juga secara hitungan angka anggaran sekolahnya. Tetapi semua dapat menjadi bagian penting dari diskusi kami selanjutnya.

Yaitu diskusi akhir setelah teman-teman di dalam kelompoknya masing-masing memiliki bentuk sekolah dan perencanaannya. Ketika saya menyampaikan pertanyaan sebagai bahan diskusi lanjutan. Bahwa sekolah-sekolah tersebut berada di dalam satu wilayah, dengan angkat usia sekolah yang ada adalah sekian. Maka kemana saja distribusi anak-anak usia sekolah tersebut di wilayah yang terdapat sekolah-sekolah yang teman-teman punya?

Diskusi lanjutan ini menjadi inti sesi saya, yang  tujuannya adalah menumbuhkan rasa kompetisi pada diri teman-teman semua. Semoga.

Jakarta, 1 Februari 2018.

Masih Pakai PIN Juga Pak?

"Bapak kan sudah tua, mengapa Bapak masih mengenakan PIN Disiplin juga? Kan murid saja yang perlu memakai. Kalau Bapak tidak perlu disiplin lagi bukan?" Pertanyaan seorang siswa kepada saya ketika kami berpapasan di koridor sekolah dekat ruangan saya. Anak tersebut bertanya dengan spontan dan tidak basa-basi. Namun pertanyaannya itu menggugah sisi lain sebuah pemikiran yang unik, yang saya sendiri kagum dibuatnya.

PIN sendiri saya kenakan sebagai bagian dari promosi karakter di sekolah. Dimana setiap kami harus mengenakan PIN yang setiap bulannya akan berbeda-beda. Kebetulan PIN yang saya kenakan tentang disiplin pada bulan tersebut.

Promosi dengan mengenakan PIN karakter tersebut bermaksud menggalakkan pengetahuan dan pengertian serta pemahaman kami terhadap karakter sekolah yang kami bangun. Sehingga dengan pengetahuan, pengertian, dan pemahaman tersebut menjadi pondasi bagi kami dalam menjadikan karakter sekolah pilihan kami sebagai kebiasaan hidup kami sehari-hari. Semoga.

Pertanyaan seorang anak, peserta didik saya itu tentunya berbeda dengan pernyataan-pertanyaan anak-anak yang lainnya. Maka itulah saya sedikit terasa terperanggah dan sekaligus kagum atas tanya itu.

Yaitu; keheranan saya mengapa anak tersebut mempunyai pertanyaan yang unik? Mengapa anak tersebut masih memiliki pemikiran bahwa disiplin memang ranahnya anak dan siswa serta bukan menjadi bagian dari guru?

Jakarta, 1 Februari 2018.

31 January 2018

Mudik; Tidak Pernah Was-Was

"Saya terus terang kurang percaya diri jika mudik harus melewati jalan-jalan yang tidak umum. Takut dan was-was kalau nanti di perjalanan harus melakukan sesuatu yang tidak saya harapkan. Sementara lokasinya sama sekali tidak saya kenal. Oleh karenanya selalu melalui jalan yang bias saja Pak." Kata seorang teman yang kendaraannya model paling anyar dengan cc 3000. Sebuah jaminan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan saya yang ber-CC hanya 1500 dengan tahun yang luamayan sepuh.



Obrolan itu berlangsung ketika saya sedang berdiskusi dengan anak sulung tentang rute jalan yang akan kami ambil ketika mudik akhir tahun lalu. Dimana kami sedang berpikir jalan mana yang akan menjadi pilihannya nanti setelah keluar dari Jalan Tol Palikanci. Apakah kami akan mengambil jalan Pemalang-Bobotsari-Purbalingga untuk kemudian sampai Gombong dengan keluar tol di Brebes Timur. Atau setelah keluar dari Brebes Timur kemudian lanjut hingga Pekalongan-Kajen-Dieng-Wonosobo-Kretek-Mranti lanjut Jogjakarta. Atau jalan biasa dengan keluar tol di Pejagan-Ketanggungan-Prupuk-Bumiayu?

Alhasil, diskusi dengan anak sulung tersebut akhirnya menyepakati bahwa jalan yang akan kami ambil nantinya melihat situasi jalan Jakarta-Pejagan. Dimana kalau volumenya terpantau luamayan padat maka kami akan mengambil jalur yang tidak biasa. Tetapi jika seanjang jalur yang kami lalui hingga Pejagan terhitung lengang, maka kami akan mengambil jalur normal dengan keluar di GT Pejagan. Ini juga sekaligus sebagai napak tilas setelah sejak mudik Idul Fitri tahun 2014 lalu kami melupakan jalur ini.

"Kalau Pak Agus bagaimana dengan mengambil  jalur tidak biasa pada saat keluar kota?"

"Alhamdulillah Pak. Saya yang ketika berkendaraan tidak pernah punya prinsip cepat sampai. Jadi hal terpenting yang menjadi visi berkendara saya adalah menikmati jalan. Untuk itu, melalui jalur yang mana saja saya selalu menikmati. Rasa was-was kalau-kalau, tidak pernah muncul di benak saya. Saya selalu percaya bahwa Allah selalu memberikan terbaik buat saya."

Jakarta, 31 Januari 2018.

30 January 2018

Husnul Khatimah

Saya baru saja ditinggal teman istimewa untuk selamanya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu duduk di kursi roda karena kondisi fisiknya yang lemah oleh penyakit. Semoga ia diberi husnul khatimah. Dianugerahi Allah Swt sebuah akhir yang baik.

Berteman di kerjaan saat ia lulus dari Universitas di Jogja pada tahun 1987. Persis pada awal pertumbuhan jiwa saya yang baru berusoa 21 tahun. Dan kemudian menjadi tempat saya bertanya soal agama. Dan dari apa yang dimilikinya, saya memperoleh gambaran keilmuan pada agama. Darinya saya mengenal khasanah ilmuwan yang dapat dijadikan rujukan untuk tumbuh. Dan dialah yang memerikan arah tumbuh itu. Dalam pergaulan kami selama itu. 

Termasuk diskusi hidup sembari makan tongseng keliling di Jalan Anggur, Cilandak, Jakarta Selatan, di dekat rumah kosnya. Atau di Jalan BDN yang sekarang lokasinya telah berubah menjadi lahan apartemen. Semua menjadi bagian dari kebaikannya dalam persahabatan dengan saya. 

Juga ketika saya memutuskan menikah terlebih dahulu dari dia di tahun 1989, dialah yang waktu itu berdasi dan berjas krem muda menjadi mc di rumah Ibu Mertua di Slipi, Palmerah, Jakarta Barat.

Juga ketika beliau memantapkan diri sebagai PNS yang khidmatnya pada penelitian. Sebuah lahan yang benar-benar cocok baginya. Cocok dalam semua sisinya. Yang menjadikannya keliling daerah untuk mengumpulkan informasi untuk kemudian diolahnya menjadi kesimpulan. Ranah yang benar-benar jiwanya. 

Dan Allah masih berikan kami berada dalam satu wadah kembali dalam.durasi 5 tahun, ketika kami sama-sama berada di sebuah yayasan. Alhamdulillah bahwa persahabatan kami tumbuh kembali dalam ikatan issu yang sama. Hinggal akhirnya Allah ambil dia.

Selamat jalan sahabat. Semoga kebaikanmu kepadaku selama di dunia ini, menjadi amal solehmu. Amin yaRabbal'alamin.

Jakarta, 30 Januari 2018.

25 January 2018

Senang Mudik?

Kalau ada yang bertanya kepada saya; Apa nikmatnya mudik Pak Agus?
Tentu jawaban standar saya adalah; Kangen kampung halaman? 
Terus apa yang dikangeni?

Asmosfer kampung. Yang membangkitkan aura kehidupan masa kecil yang membahagiakan walau sebenarnya jauh dari makna bahagia jika kita ukur dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi masa kecil dengan keluasan lahan berfikir, nampaknya begitu membekas dalam jiwa saya. Melintasi suasana sawah tadah hujan ketika pulang atau berangkat ke sekolah, yang jika musim penghujan sawah akan menjadi kirip penampungan air yang dikala menjelang waktu Magrib akan berterbangan kunang-kunang. Atau jika dimusim kemarau maka air dalam selokan akan selalu mengalir jernih, khas air dari mata air gunung, yang kalau ingin saya akan masuk ke selokan itu untuk kemudian mengorek dinding selokan dengan jari telunjuk untuk menangkap kepiting kecil atau udang. Dan jika mau nakal sedikit maka saya dan teman akan melempar mata pancing di keramba terbuka tetangga? 



Terbayang asyik bukan? Dan meski itu sekarang tinggal menjadi cerita karena hamparan sawah pada akhirnya kami minta  kepada Kepala Desa untuk dijadikan lapangan ketika usia kami menginjak remaja, ketika kami masuk di bangku SMA. 

Tetapi inilah yang membuat saya selalu senang menemukan kembali situasi dan kondisi kampung halman. Tentunya juga bertemua dengan sanak handaitolan. Utamanya ketika waktu hari Jumat. Dimana saya dapat berjumpa degan hampir seluruh aki-laki yang ada di desa kami di dalam Masjid desa. 

Jakarta, 25 Januari 2018.

22 January 2018

Reuni 30 Desember 2017

Bertemu teman sekolah pada saat reuni menjadi momen yang menyenangkan. Ini karena pertemanan kala masih muda banyak menyimpan berbagai warna. Apalagi diantara kami ada yang terpisah begitu kami meninggalkan bangku sekolah di SPG Bruderan Purworejo dan baru bertemu dengan teman yang hanya ingat nama serta berubah rupa. Maka ketika pertama kami jumpa, kami sama-sama menebak dengan nama mereka masing-masing.

Itulah yang kami alami ketika hari pertemuan itu berlangsung. Teman-teman yang dari Purworejo berangkat bersama dengan menggunakan 2 bus besar menuju lokasi pertemuan di Gunungsimping, Cilacap pada Sabtu, 30 Desember 2017. Mereka berangkat dari lokasi berkumpul di Purworejo tepat pukul 07.00. Sementara kami yang datang dari berbagai lokasi telah terlebih dahulu menginap di Cilacap.



Jakarta, 22 Januari 2018.

Pentas Drama Anak SMP

Pentas Drama dan Musik anak-anak SMPI Tugasku tahun pelajaran 2017/2018 berjudul The Lost History alhamdulilah telah berlangsung dengan sangat menarik dan memuaskan. Pentas itu berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, yang ada di daerah Pasar Baru, Jakarta,  pada hari Sabtu, 13 Januari 2018. Pentas ini menjadi kerja borongan guru-guru dan seluruh siswa yang ada. Guru bertanggungjawab kepada skenario dan seluruh kegiatan pementasan. Sementara anak-anak menjadi para pelaku dari cerita yang dibuat oleh guru.

Cerita The Lost History, adalah cerita fiksi. Cerita berawal dari tugas sekolah kepada 5 siswa untuk belajar di Perpustakaan dari para guru mereka. Tugas yang kemudian diprotes oleh para orangtua siswa yang kemudian datang ke sekolah untuk berjumpa dengan kepala sekolah dan guru guna menyampaikan keberatannya. Kehadiran lima sekawan tersebut diterima oleh penjaga museum, yang mengajak mereka untuk mengetahui para penemu Muslim yang merupakan cikal bakal bagi pengembangan teknologi yang kita nikmati hari ini.



Para ilmuwan itu adalah; Al Farabi, sebagai penemu not balok musik yang diperankan oleh kelas VIII A, Al Zahrawi sebagai penemu alat bedah operasi di rumah sakit yang diperankan oleh kelas VII B, Al Jazari sebagai penemu dasar pembuatan  mesin yang diperankan oleh kelas VIII B,  dan Sinan sebagai ahli arsitektur yang diperankan oleh kelas VII A.



Kegiatan berkunjung ke perpustakaan tersebut akhirnya mampu memberikan pencerahan kepada anak-anak tentang penemu Muslim di abad kegelapan, yang diramu dalam cerita penuh rasa kemanusiaan, dengan dibalut perebutan kekuasaan antara dua kerajaan, serta tentang ketundukan manusia kepada  Allah Swt semata.



Jakarta, 22 Januari 2018.

Benteng dan Pantai di Nusakambangan

Saya tidak terlalu paham dengan sejarah benteng Belanda yang ada di Nusakambangan. Tetapi penampakannya, sungguh fungsional di masa perang dahulu. Setidaknya, pihak yang bertahan di Nusakambangan, dapat dengan jelas melihat keberadaan musuh yang datang dari laut lepas, Samudera Hindia. Ini karena ketika kami datang dan berkunjung ke Teluk Penyu yang ada di daratan Cilacap, tukang perahu menawarkan kepada kami untuk menyeberang dan melihat benteng serta pantai putih yang ada di bagian timur Pulau Nusakambangan. Wilayah yang bebas dikunjungi.

Maka ketika kami sudah berada di pantai Nusakambangan, masih membutuhkan perjalanan kaki melalui jalan setapak menuju benteng dan pantai pasir putih yang bernama Pantai Karang Pandan melalui jalan setapak yang tidak beraspal. Maka dengan sandal gunung, saya merasa beruntung dibanding pengunjung lain yang bersandal jepit.

Inilah perjalanan menuju benteng dan pantai;



Dan setelah menempuh waktu berjalan lebih kurang 15 menit melalui jalan berliku yang sebelah kanan dan kiri jalannya dipenuhi lebatnya pohon-pohon khas hutan termasuk batang-batang pohon rotan yang bergelantungan di pohon yang lebih besar, sampailah saya ke pintu gerbang benteng yang ada di Nusakambangan itu. Tampak gagah penampakan dari gerbang benteng Belanda tersebut meski amat tidak terawat.

Sampai di gerbang benteng tersebut, terdapat pilihan untuk menuju benteng pendem atau Pantai Karang Pandan. 

Jakarta, 22 Januari 2018.

21 January 2018

Bermain di Stasiun

Entah energi apa yang membuat sya sendiri begitu senang dengan hal-hal yang sebenarnya biasa dan tidak istimewa. Seperti apa yang saya lakukan ketika saya pulang ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu. Yaitu bermain ke stasiun meski sekedar untuk melihat sisi-sisi yang ada di stasiun tersebut. Dan ini bisa jadi kebalikan dari apa yang menjadi minat Anda. Tetapi saya benar-benar menikmati kegiatan tersebut. Bahkan saya mencoba untuk membuat dokumentasinya.

Termsuk bercengkerama dengan petugas stasiun yang waktu itu bertugas. Bertanya berbagai hal yang berkenaan dengan peralatan stasiun termasuk wesel atau sinyal yang dulu, saat saya masih kanak-kanak,  masih menggunakan tangkai besar dan harus menggunakan tenaga ketika petugas stasiun akan memberi sinyal kepada kereta yang akan lewat. Dan sekarang ala tersebut telah lenyap dan diganti dengan panel-panel elektrik.

Dan inilah salah satu penampakan stasiun kecil yang sekarang  tidak menjadi tempat singgah kereta.



Jakarta, 21 Januari 2018

Nusakambangan dari Tenggara

Pergi ke Cilacap pada November dan Desember 2017 lalu, saya selalu menyempatkan diri untuk menerima tawaran abang perahu untuk menyeberang di bagian timur Pula Nusakambangan yang bebas dikunjungi. Meski selalu salah waktu, karena saya selalu sore hari baru sampai di pantai yang enjadi lokasi pendaratan oleh abang perahu, yang kalau saya harus pergi menuju Pantai Karang Pandan dan kembali lagi ke lokasi dimana kami diantar, maka kami akan kembali akan lebih sore hari. Dimana waktu sore ,enjelang waktu Magrib, maka monyet-monyet yang berdomisili di Nusakambangan akan berada di atas jalur kami kembali. Dan ini saat yang kurang tepat untuk saya yang ngeri ketika harus berpapasan dengan gerombolan mereka. Tapi mau diapa, karena bersama teman-teman datang ke Nusakambangan yang meminta waktu untuk istirahat sejenak setelah kami tiba di hotel pukul 13.00.

Alhamdulillah, pada perjalanan kami yang terakhir di hari Jumat, 29 Desember 2017, di perjalanan kami kembali menuju pantai dimana kami diantar oleh abang perahu, begitu kami sampai di benteng Belanda yang ada di wilayah timur Pulau Nusakambangan, abang perahu yang lain menawari kami untuk melihat sisi wilayah tenggara Pulau Nusakambangan dari arah laut.

Abang perahu berjanji setelah berputar di wilayah tenggara pulau dari arah laut, nanti kami akan diatanra ke pantai diana kami pertama kali datang ke Nusakambangan. Semua ongkos yang harus kami keluarkan adalah dua belas ribu rupiah. Dan inilah penampakan sisi pantai bagian timur Pulau Nusakambangan dari arah laut;



Jakarta, 21 Januari 2018.

19 January 2018

Pantai Karang Pandan

Orang-orang yang datang ke Nusakambangan di wilayah yang boleh dan bebas dikunjungi, yaitu di bagian timur pulau, maka Pantai Karang Pandan yang menjadi tujuan utamanya. Lokasinya, jika merujuk ke peta, berada di bawah Pantai Teluk Penyu atau Benteng Pendem yang berada di dataran Cilacap.
Ini adalah salah satu penampakan karang yang ada di Pantai Karang Pandan yang memiliki hamparan pasir putih menawan.

Untuk mencapai lokasi itu, kita cukup ikut naik perahu yang ada di pinggiran pantai Teluk Penyu. Para tukang perahu akan menawarkan kepada setiap pengunjung untuk pergi ke Pantai Pasir Putih, nama lain dari Pantai Karang Pandan, dengan biaya tiga puluh ribu rupiah untuk berangkat dan pulang.

Dan ketika kita telah sampai di lokasi pendaratan yang menjadi lokasi pengantaran tukang perahu, kita masih perlu melakukan perjalanan di jalan setapak yang ada di dalam Pulau Nusakambangan untuk menuju Pantai Karang Pandan tersebut. Perjalanan membutuhkan waktu lebih kurang lima belas menit. 



Sebelum sampai pantai yang saya sebutkan itu, kita akan terlebih dahulu menemui gerbang besar dari benteng Belanda yang terdapat pada sisi timur Pulau Nusakambangan. Benteng tersebut sekarang tampak kurang perawatan. Ruang-ruang yang ada pada benteng tersebut kotor dan berlumut. Ini adalah link video perjalanan kami di Pulau Nusakambangan;



Jakarta, 19 Januari 2018.

Ke Nusakambangan (Lagi...)

Perjalanan saya mudik selain bertemu dengan keluarga yang tinggal di Purworejo, bertemu teman-teman di kala muda, juga adalah bersilaturahim dengan teman-teman sekolah di Cilacap. Pertemuan tersebut sengaja dirancang enam bulan sebelumnya. Yaitu setelah pertemuan Idul Fitri dengan teman-teman sekolah di Wonosobo. Dan disepakati pertemuan berikut di Cilacap, tepatnya di Gunungsimping, pada akhir tahun. Yaitu Sabtu, 30 Desember 2017.

Dan untuk persiapan Desember tersebut, pada hari Minggu tanggal 12 November, satu bulan sebelumnya, ada tim kecil yang bertemu. Yaitu tim dari Purworejo dengan tuan rumah, untuk memastikan persiapan pertemuan akhir Desember tersebut. Ini suasana pertemuan di bulan November tersebut;




Dan untuk lebih mempersiapkan perjalanan ketika kembali ke Jakarta, maka Cilacap menjadi transit saya. Dan karena itu, saya bermaksud selain transit adalah menikmati lebih dekat lagi Cilacap. Yang antara lain adalah menyeberang ke Nusakambangan dan menyusuri pantai Pasir Putih di Karang Pandan. Yang pastinya berbeda lokasi dengan wilayah yang untuk memasukinya perlu izin dari pemerintah.
Inilah perjalanan kami di kapal menuju Nusakambangan
Dan inilah perjalanan kami yang pertama di bulan November 2017 yang lalu; 

Jakarta, 19 Januari 2018.

18 January 2018

Bertemu Teman Lama #1

Ini pertemuan kecil yang kami lakukan di sore hari. Salah seorang teman kami yang mudik dari Sumatera mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya yang lokasinya masih dalam satu kecamatan dengan saya. Kabar ini pun baru dapat kami akses setelah delay beberapa saat. Ini terjadi karena nomer seluler saya kurang terjangkau oleh sinyal provider. Sehingga berita yang saya kirim atau yang saya terima selalu membutuhkan waktu.
Kiri ke kanan teman kami; Eling, Agustina, Sutomo. Pujiono, dan Heri Pranoto.


Dan yang lebih memprovokasi agar kami datang ke rumahnya adalah dirimkannya gambar durian yang terlihat mulus dan tampaknya matang pohon. Maka dengan motivasi ingin makan durian yang terbalut rindu, saya bersama anak datang ke lokasi yang dikirimkan kepada kami sekitar waktu Ashar.

Pertemuan dari ngobrol utara selatan itu hingga selepas Magrib. Kami bercengkerama seputar kehidupan kami masing-masing, serta diskusi berkenaan dengan rencana pertemuan degan teman-teman lama yang akan berlangsung di Gunungsimping, Cilacap, awa Tengah pada Sabtu, 30 Desember 2017.

Dan seusai ngobrol, kami pulang sebelum terlebih dahulu mengitari kota Purworejo, dimana masa muda saya ada di kota ini; 



Jakarta, 18 Januari 2018.

Manggrove di Gedangan, Purworejo

Salah satu tujuan perjalanan kami di kampung saat mudik adalah melihat bagaimana tetangga desa memberdayakan diri dengan mengeksplorasi lingkungannya untuk semua orang. Yaitu membuat tempat rekreasi dan edukasi mangrove. 
Kontribusi untuk kas desa.
Lokasinya ada di desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Bisa dilihat pada halaman ini;

Desa Gedangan adalah desa yang dilintasi oleh berbagai kendaraan, yaitu lintas Jalan Selatan-Selatan. Atau sering orang setempat menyebutnya sebagai jalan Daendels.

Jakarta, 18 Januari 2018.

Perjalanan Mudik Akhir 2017

Agak terlambat saya membuat catatan disini tentang mudik saya bersama anak. Hanya berdua kami melakukan perjalanan Jakarta-Purworejo dan kembali lagi ke Jakarta. Karena memang yang paling memungkinkan kami berdua untuk melakukan perjalanan mudik. Meski demikian, kami menikmati saja.

Pertama kali kami memilih waktu yang pas untuk mudik. Mengingat waktu yang tersedia bagi kami adalah pekan terakhir di Bulan Desember 2017. Dimana terdapat dua hari Senin yang libur umum. Yaitu Senin tanggal 25 Desember dan Senin tanggal 1 Januari. Maka diantara waktu itulah kami memilih.

Dan alhamdulillah waktu yang kami pilih menjadi waktu yang sangat tepat dalam melakukan perjalanan. Sepanjang menuju Jawa Tengah, atau saat kembali ke Jakarta, kami tidak menemukan kemacetan atau antri karena volume kendaraan atau karena lampu lalu lintas sekalipun. Jalanan benar-benar pas untuk berkendara secara maksimal yang mampu saya lakukan.
Istirahat kami yag terakhir untuk rute Jakarta-Purworejo adalah di rest area Mang Engking yang terletak di Kecamatan Rowokele, Gombong. 

Meski demikian, kami tetap menggunakan pakem jalan yang sama di kegiatan mudik kami sebelum-sebelumnya. Yaitu menikmati jalanan. Untuk jarak tempuh sejauh itu, kami mengambil lima (5) kali istirahat yang masing-masingnya berdurasi 30 menit. Jadi total waktu yang kami butuhkan untuk istirahat berkisar satu setengah jam.

Bisa di cek disini; 



Jakarta, 18 Januari 2018.

12 December 2017

Foto Sekolah Terbaik

Ini adalah foto sekolah yang paling baik yang saya dapatkan dari guru, yang kebetulan bertugas sebagai bagian dari penanggungjawab Buku Tahunan di unit sekolahnya. Foto yang diambil dari udara dengan bantuan drone, menampakkan sekolah dari sisi depan atas secara utuh bentuk sekolah yang ada. Ini foto paling keren selama saya bekerja di sekolah saya ini. Alhamdulillah.

Pertama saya mendapatkan foto ini via email yang kemudian saya dowload. Dari situ foto tersebut saya sebar kepada teman-teman untuk dapat dijadikan sebagaimana yang mereka inginkan, terutama untuk hal-hal yang berkenaan dengan sekolahan. Dan dengan foto ini, sekolah kami begitu megah.

Jakarta, 12.12.2017.

07 December 2017

Kemana Lagi?

Dalam perjalanan terakhir kami ke Pekalongan dua pekan lalu,  serta pengalaman di kota Cilacap sebelumnya, nampaknya membuat adrenalin saya untuk menuju lokasi yang dengan jarak tempuh kendaraan umum empat jaman dari lokasi tinggal saya, menjadi sesuatu yang menarik-narik keinginan untuk mencoba lokasi lain. Ini karena anak-anak sudah relatif dewasa, sehingga dengan demikian dapat pula dengan mudah menjadi bagian dari perjalanan kami.

"Kemana lagi kita akan memilih kota tujuan?" Demikian kira-kira kalimat pertanyaan dalam hati saya untuk memilih kota mana yang bagus untuk menjadi lokasi jelajah di waktu waktu akhir pekan bersama pasangan. Pertanyaan ini setelah saya konfirmasikan kepada pasangan juga sepakat kalau tujuan yang akan kita eksplorasi berlokasi tidak kurang dari 4 jam perjalanan. Baik perjalanan darat atau moda transportasi lainnya. Kotanya yang relatif besar sehingga memungkinkan bagi kami untuk mondar-mandir di lokasi dalam kota. Dan untuk memudahkan pergerakan kami, maka kendaraan online yang jauh lebih memudahkan kami sebagai konsumen juga telah beroperasi dengan baik di kota tersebut.

Pilihan transportasi ini berkaitan dengan biaya yang harus kami keluarkan serta memberikan kemudahan. Seperti ketika kami mencoba untuk memesan kendaraan sewa sepanjang 12 jam dengan tarif yang disampaikan, membuat kami tetap memilih pilihan kendaraan yang independen. Kapan saja kami ingin pergunakan, sekalipun setelah waktu subuh dimana toko-toko pasti belum ada yang buka kecuali beberapa tukang atau kios bubur. Juga dimana saja posisi kami berada, maka kami tidak perlu menuju jalan besar untuk mencegat kendaraan yang bisa membawa kami ke tujuan kami.

Kota mana?

Pilihan-pilihan sudah kami kumpulkan untuk kemudian menentukan waktu pas buat kami bisa jalan menuju lokasi. Dengan tentunya, mencari informasi berkenaan dengan kota tujuan. Baik via googling atau juga melalui you tube. Ini sebagai bagian saya untuk kemudian saya dapat sampaikan kepada pasangan. Termasuk juga memperhitungkan biaya yang harus kami keluarkan nanti.

Atau mungkin ada yang mempunyai ide kemana lokasi yang masuk dalam daftar pilihan sebagaimana kriteria yang telah saya sebutkan?

Jakarta, 7 Desember 2017.
Jakarta, 07.12.2017

05 December 2017

Wisata Bahari PPNP, Pekalongan

Pagi itu, Minggu, 26 November 2017, pukul 05.00. Meski masih pagi, Matahari November sudah menerangi alam tropis, termasuk di Wisata Bahari Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) kota Pekalongan. Saya datang di pagi itu bersama istri dengan diantar oleh dirver on line yang masih muda. Yang ketika saya order dari kamar hotel, posisi kendaraannya ada di jalan yang sama dimana kami menginap.

Tujuan awal saya adalah Pantai Pasir Kencana sebagaimana yang direkomendasikan oleh peta wisata Pekalongan yang ada di hotel. Tetapi ketika saya sampai di lokasi, lokasi wisata yang bernama Pantai Pasir Kencana masih dalam kedaan tertutup. Jadilah saya memilih lokasi wisata pantai yang ada di sebelah, yang ternyata Satpam jaga malamnya memberikan akses untuk masuk dengan membayar tiket resmi dan mendapatkan tiket masuk.
Tampak icon wisata bahari/pantai. PPNP singkatan dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. 
Lokasinya berada berdampingan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pekalongan. 

Pemecah ombak Laut Jawa yang merupakan batu kali dengan ukuran yang relatif besar-besar. Di sebelah kanan gambar, yang merupakan teluk buatan, adalah akses masuk kapal ikan nelayan untuk sandar di Dermaga Pekalongan. Dermaga tersebut langsung menjadi Tempat Pelelangan Ikan atau TPI Pekalongan. Sayang, kondisi TPI sekarang sudah tidak seramai beberapa tahun silam. Banjir rob menjadi salah satu dari menurunnya daya tarik di wilayah tersebut.
Meski pantai masih tertutup, namun beberapa orang ternyata sudah ada di tepi pantai. Yaitu mereka yang sedang memancing ikan.

Jakarta, 5 Desember 2017