Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 October 2020

Menikmati Pengejawantahan Ide Guru

Ketika pandemi Civid-19 masih melingkupi kehidupan kita, maka seluruh kegiatan pembelajaran normal di sekolah berpindah ke virtual, termasuk diantaranya adalah kegiatan perpisahan untuk peserta didik yang lulus tahun pelajaran 2019/2020. Dan untuk kepentingan itulah berbagai penda[at, masukan, gagasan tentang bagaimana kegiatan itu tetap berlangsung, aman, patuhi protokol kesehatan, dan tentunya membawa kesan yang menyenangkan. Jika memungkinkan tidak terlupakan.

Gagasan untuk menyewa gedung, langsung gugur. Ada pula menyewa koridor pertokoan, yang memungkinkan guru mendapatkan akses untuk penyewaannya meski dengan waktu terbatas dan tertentu, juga gagal. Drive thru? Masih memungkinkan untuk menjadi alternatif pelaksanaan. Dan akhirnya dipilihlah lokasi keren, terbuka, luas, dan dekat dengan lokasi sekolah. Itulah parkiran Jakarta International Equestrian Park yang berada di area Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur.

Dan, di halaman parkir Jakarta International Equestrian Park (JIEP), Pulomas, Jakarta Timur, pada Sabtu tanggal 4 Juli 2020, berlangsunglah kegiatan yang diidamkan oleh peserta didik dan guru, yaitu acara graduation dan penyerahan dokumen kelulusan untuk 50 lulusan terbaik angkatan 15 tahun pelajaran 2019/2020. 

Acara yang luar biasa. Lahir dari ide guru yang juga luar biasa. Dan saya menebutnya sebagai sedikit miring. Tetapi berhasil memberikan kenangan yang mengesankan bagi ananda para lulusan, Bapak dan Ibu Guru, juga bagi para orangtua siswa. Sebuah event yang semoga menjadi kenangan manis untuk semuanya, perpisahan dalam masa pandemi.

Dan sekaligus menjadi hal yang pertama di Indonesia, bahwa awal acara ini, yang berupa seremonial, dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dari kendaraan orangtua masing- masing. Yang kadang untuk berkomunikasinya antara panggung dan para siswa serta orangtua di dalam kendaraan menggunakan bunyi klakson. Kemudian pada saat pemberian dokumen dan plakat kenangan, ananda di perkenankan secara bergilir ke panggung untuk menerimanya dengan tetap menggunakan masker dan jaga jarak.

Alhamdulillah bahwa acara ini menjadi acara yang berlangsung dengan baik dan menggembirakan. Dn berikut adalah link untuk berita kegiatan tersebut yang disiarkan dalam Program Berita i-News TV; https://youtu.be/emBHxC3Q8EU


Ditulis kembali di blog, sebagian dari www.tugasku.sch.id

Jakarta, 3 Oktober 2020.

Manasik Haji Virtual?

Bagaimana melaksanakan kegiatan manasik haji secara virtual? Inilah yang menjadi diskusi awal kami, teman-teman di KB dan TK Islam Tugasku, dimana saya menjadi bagian dari penjaga gawangnya. Diskusi berlangsung lebih kurang satu bulan sebelum tanggal pelaksanaan manasik haji.

Diskusi ini juga sebagai penyemaan persepsi bahwa agenda kegiatan sekolah pada saat normal apakah memungkinkan dilaksanakan juga di masa pandemi Covid-19 ini? Kalau harus dilaknasanakn, dimana pelaksanaannya melalui virtual, bagaimana sisw a di rumah bisa ikut serta aktivitas guru melalui Zoom Meeting? Apakah peserta didik di rumah akan menyimak tahapan manasik haji yang dilakukan guru dengan duduk saja di depan ganged nya masing-masing?

Semua pertanyaan inilah yang menjadi bahan dasar diskusi kami tentang kegiatan manasik haji. Termasuk juga diantaranya, kalau masa normal, maka manasik haji di Tugasku akan mengajak serta 40 siswa dari TK yang tergolong tidak mampu yang berlokasi di dekan Tugasku secara gratis, bahkan ketika pulang nanti akan diberikan goody back.

Dan AHA... ide itu kahirnya berhasil kita elaborasi, yang menurut kami gagasan bagus yang memungkinkan kegiatan akan menjadi menarik dan tidak membosankan. Bahkan sangat boleh jadi, nantinya anak-anak di rumah mereka masing-masing bersama pendampingnyamasing-masing juga, kan menjalani tahapan manasik haji dengan penuh keriaangan.

Maka pada Kamis, 30 Juli 2020 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijah 1441 Hijriah, di hall sekolah telah bersiap Bapak dan Ibu Guru KB/TK untuk memandu pelaksanaan Manasik Haji yang pada masa pandemi ini dilakukan secara virtual. Untuk itu, ini menjadi pelaksanaan manasik yang paling istimewa bagi ananda di tahun pelajaran 2020/2021  yang diikuti oleh 130 siswa. Bapak dan Ibu guru berbagi tugas. Ada yang menjadi pemeran dalam manasik haji, yang tentunya diambil alih oleh Pak guru agama dengan dibantu dua guru lainnya. Ada juga yang befrtugas sebagai pemegang kamera, meski kamera yang digunakan adalah kamera hand phone. Ada pula yang bertugas sebagai pengendali online, yaitu yang menjadi host untuk media Zoom  dan ada pula yang mensinkronisasi aktivitas Zoom untuk tayang live di You Tube. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Sementara dari rumah masing-masing, ananda dari Kelompok Bermain dan TK juga sudah bersiap dengan 'perjalanan' manasik haji yang akan dijalani dengan rute haji yang sama dengan Bapak dan Ibu Guru yang ada di sekolah, namun dengan wujud dan penanda lokasi yang berbeda-beda. 

Jadi meski hanya tersambung dengan Zoom, antara sekolah dengan rumah, maka Pak Haris pada saat mengawali manasik di Masjid Bir Ali, ananda di rumahpun juga berada di Masjid Bir Ali-nya masing-masing. Juga pada saat Pak.Haris di sekolah sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah, maka ananda di rumah juga berada di Padang Arafah-nya masing-masing. Demikian pula ketika Pak Haris melakukan Sa'i antara Bukit Saffa ke Bukit Marwa atau sebaliknya, ananda di rumah juga melakukan hal yang sama yang mereka buat di rumahnya masing-masing.

Dan begitu juga ketika Pak Haris melakukan Thawaf di Ka'bah sebanyak tujuh kali, melaksanakan jumroh, dan juga Tahallul. Alhamdulillah. 

Kita tetap berstukur bahwa Manasik Haji di masa pandemi tahun 2020 ini dapat terlaksana dengan baik dan penuh kesan. 

Penghargaan dan terimakasih kepada Bapak dan Ibu Guru, kepada Ayah dan Bunda yang telah menjadi pendamping ananda di rumah dalam pelaksanaan ritual Manasil Haji tahun ini. Semoga Allah Swt selalu memberikan kepada kita semua sehat. Amin

Jakarta, 3 Oktober 2020

Sumber diantaranya dari http//tugasku.sch.id

Menemani Guru, Memintarkan Diri

Pandemi Covid 19, sejak pertengahan Maret 2020 hingga hari ini, Sabtu, 3 Oktober 2020, telah membentuk teman-teman pendidik di lembaga pendidikan formal dimana saya menjadi bagiannya, etos kerja baru, etos kerja virtual. Karena selama pandemi, maka seluruh aktivitas pendidikan harus berlangsung secara virtual. Suatu hal yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh saya, teman-teman pendidik, dan kita semua. Pandemi yang datangnya tiba-tiba mengharuskan kita semua belajar cepat untuk tidak saja menjadi bisa, tetapi harus mahir. Mahir melaksanakan PJJ secara menarik dan memenuhi esensi pendidikan. PJJ yang tidak membebani peserta didik dan orangtua di rumah, tetapi proses belajarn yang solutif. Memenuhi semua aspek dalam interaksi pendidikan.

Saya, yang bertugas sebagai penjaga gawang, kalau saya analogikan sekolah sebagai permainan sepak bola, dari sebuah lembaga pendidikan swasta, menemani guru ketika mereka menelurkan ide kegiatan pembelajaran bersama tim mengajarnya, melihat bagaimana mereka merealisasikan dan mengoperasionalkan konsep dan rencana mengajar, turut serta dan berkontribusi bersama mereka, benar-benar menjadi momentum bagi saya untuk memintarkan diri saya sendiri. Alhamdulillah.  Setidaknya inilah yang memang saya dapatkan dari pertemanan saya dengan para pendidik itu.

Namun beberapa hal yang saya dapat nikmati dan rasakan dari perjalanan PJJ di sekolah antara lain adalah sebagai berikut; 

Pertama, bahwa kegiatan dan proses berlangsungnya PJJ yang datangnya tiba-tiba, dan menharuskan kita melakukan semua aktivitasnya secara virtual, justru menjadi dan memberikan peluang bagi teman-teman guru untuk unjuk gigi dan tertantang dalam melakukan kegiatan PJJ tetap semenarik sebagaimana kegiatan pembelajaran normal, pembelajaran luring. Memon PJJ sepertinnya sebagai tantangan bagi guru untuk menaklukkan. Dan ini menjadi hal baik dan positif serta menguntungkan bagi saya untuk tetap menunggui mereka berkiprah dalam dunia virtualnya di kelas.


Kedua, momen PJJ, justru menjadi masa yang tetap memungkinkan pendidik dan peserta didik untuk sama-sama mengeksplorasi diri, sehingga penumbuhan kreativitas, inovasi, dan upaya mencoba sesuatu yang baru dalam interaksi kelas. Karena kalau apa yang dilakukan hari ini sebagaimana yang kita lakukan seperti pekan lalu atau bulan lalu, maka hal ini akan membawa situasi yang membosankan. Sehingga memicu peserta didik untuk enggan bergabung dalam Zoom Meeting yang dilakukan gurunya. Maka adrenalin kreativitas akan memicu guru untuk menggali kemungkinan-kemungkinan kegiatan yang menarik.

Ketiga, bahwa kegiatan dsan proses pembelajaran jarak jauh tetap mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara luring di zaman normal. Dengan keyakinan seperti ini, maka peserta didik tetap dapat membangun rasa percaya diri.

Keempat, pembelajaran jarak jauh atau daring atau virtuial, juga memberikan ruangbagi teman-teman guru untuk tetap melahirkan ide-ide cemerlang dalam merancang kegiatan pembelajarannya. Baik dalam bentuk proyek, eksplorasi mandiri dan bahkan pengembangan keterampilan menulis laporan kegiatan yang terstruktur. Dan gagasan yang diluar kebiasaan juga masih dan tetap mungkin dijalani meski formatnya virtual. Hal yang tetap mampu melahirkan kegiatan yang ‘membahana’.

Kelima, bahwa kegiatan dan proses pembelajaran jarak jauh atau virtual juga memungkinkan bagi sekolah, atau bahkan saya pribadi, juga semoga peserta didik dan orangtuanya, untuk bangga dan bersyukur atas apa yang telah ditunaikan Bapak dan Ibu Guru.

Jakarta, 3 Oktober 2020.

Ikhtiar untuk Tetap Unggul

Berbagai ikhtiar komunitas dan warga sekolah dalam mengantisipasi atas kekhawatiran-kekhawatiran atas Ketidak berhasilan dalam pelaksanaan PJJ, seperti misalnya pembelaaran online yang akan cenderung menjadi kering kerontang ketika secara periodik mendapat informasi bahwa pandemi terus berlangsung hingga hari ini (3 Oktober 2020), adalah;

Pertama, Mengajak Bapak dan Ibu Guru untuk mengeksplorasi berbagai sarana belajar online yang lazim terdengar dan memulai menjamahnya begitu awal pandemi diumumkan pemerintah. Dimana bahwa mulai Senin, 16 Maret 2020, seluruh aktivitas pembalajaran harus menggunakan virtual, jarak jauh, home learning, atau on line. Tidak ada lagi kegiatan luring atau tatap muka.

Dari sinilah bapak dan ibu guru bersama-sama belajar bagaimana memberdayakan Google Form, Google Drive, Google Classroom, hangout. Tahap demi tahap membuat soal latihan di Google Form yangtentunya dari tahapan yang paling sederhana. Dan bila telah memulai serta biasa, maka meningkat untuk mengeksplorasi yang lebih kompleks. Sema dilalui hingga kami benar-benar merasa senang karena bisa, dan membagi pengalamannya kepa teman yang lain untuk ikut serta mencoba. Dan inilah lahan bersama kami dalam belajar bersama, hingga suatu saat kami juga bersama menemukan momen AHA!

Teman-teman guru yang berada dalam pararel kelas, atau di dalam rumpun pelajaran sejenis, dapat dan dengan murah hati menceritakan apa yang telah didapatnya dalam proses pembelajaran jarak jauhnya. Tentunya hal-hal yang menjadi temuan barunya. Juga memulai mencoba sarana belajar baru seperti dengan meggunakan video call, yang kemudian atas kepraktisan dan fungsinya yang keren, digunakannya aplikasi berbayar Zoom. Walau di awal penggunaannya banyak yang meributkan. Tetapi pertimbangan fugsi yang kebutuhan, aplikasi ini yang layak kami gunakan secara resmi. Pada tahapan ikhtiar ini, saya sendiri dibuat kagum oleh apa yag telah berhasil dilalui teman-teman dalam membuat terobosa tentang sarana yang digunakan, memaksimalkan pertemuan virtual mereka. Membuktikan bahwa, keberanian teman-teman dlam melakukan sesuatu hal yang baru dan mengambil resiko, layak mendapat apresiasi. Dan ini semuanya, benar-benar di luar ekspektasi kami.

Kedua, Yang menjadi lagkah berikutnya setalah lahan eksplorasi berasni dijelajahi teman-teman, adalah memberikan sarana mengajar selain perngkat Zoom berbayar. Yaitu standarisasi penampilan dalam ruang kelas virtualnya. Ini menjadi penting agar penampilan kami di hadapan anak-anak adalah juga penampilan kami dalam interaksi pembelajaran seayaknya di dunia normal atau offlie, atau luring. Dan lagi-lagi, justru dengan modal sendiri, teman-teman memasang layar di belakang keberadaanya saat Zoom Class dengan background virtual, yang mereka ganti sendiri-sendiri.


Ketiga, Membuat nextcloud yang berbasis pada server sendiri, yang memungkinkan 
ketersediaan storage pada memori seluler guru. Dimana tidak terpikirkan oleh kami sebagai 
pendidik yang berkecimpung jauh dari nuansa teknologi informatika. Namun atas bantuan 
bagian IT, ide pembuatan nextcloud, menjadi jalan keluar yang mulus. Dan ini memungkinkan 
guru untuk menyimpan segala rupa dengan kuota 4 terra!

Keempat, Membuat kompilasi foto dan video dengan aplikasi dan watermark, sebelum 
hasilnya kreasinya itu masuk dan tayang di media sosial unit sekolah dan storage di 
nextcloud. Hasil dari  karya pendidik dapat dengan mudah saya melihatnya, baik yang 
mereka up load di media sosialnya, atau juga saya membukanya di nextcloud. Dan dari sini, 
saya dapat melihat bagaimana proses PJJ berlangsung. Baikkah, memuaskankah, apakah 
peserta didiknya merasa kenyamanan atas proses PJJ yang berlangsung?
Kelima, Melakukan komunikasi pekanan terhadap semua komunitas pendidik dan tenaga 
kepandidikan yang ada.


Jakarta, 3 Oktober 2020

02 October 2020

6 Hal Kekhawatiran Ide-Ide Kreatif Guru Mandeg

Selama pelaksanaan PJJ, pada pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak 14 Maret 2020 hingga hari ini (Jumat, 2 Oktober 2020), maka pembalajaran dilakukan secara jarak jauh, online. Mengawali kegiatan PJJ, ada beberapa hal pertimbangan kami untuk terus berjuang menjadi nomor satu. Dan semua berawal dari kekhawatiran, kalau;

Pertama, bahwa PJJ yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru dari rumah masing-masing dan dalam jangka waktu yang belum tahu lamanya, akan mengubah etos kerja guru. Dimana guru tanpa adanya pantauan secara fisik oleh teman kerja atau atasannya, itulah yang kemudian melahirkan model kerja gaya baru, yang merupakan penurunan dari etos kerja dan kinerjanya selama ini. Kinerja yang turun akan melahirkan ketidak puasan dari orangtua siswa. Ini pulalah yang selalu memotivasi sekolah dalam menemani guru untuk tetap dan selalu menjadi dedikasi dan garis perjuangannya.



Kedua, Implikasi dari hal yang pertama diatas, adalah lahirnya asumsi dan pendapat dari

teman-teman pendidik di sekolah tentang pemahaman kalau waktu layanan guru sekedar 

saat waktu kontak dengan peserta didiknya saja dalam Zoom Meeting. Maka untuk inilah 

kami kembali mengajak diskusi agar layanan dalam PJJ berdurasi sama dengan ketika 

pembalajaran secara offline. Kecuali dalam hal-hal tertentu.


Ketiga, Bahwa pelaksanaan PJJ akan monoton dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi bilamana 

teman-teman merasa kekeringan dalam menggagas suatu kegiatan pembelajaran yang 

mungkin dapat dilakukan, meski hal ini membutuhkan usaha dan ikhtiar yang lebih.

PJJ akan terlampau menekankan pada mastery learning an sich.


Keempat, dalam hal filling arsip PJJ dikhawatirkan jika teman-teman guru hanya terpaku 

kepada resource yang dimiliki, berupa Google Drive dan memori smart phone nya. Karena 

harus diakui jika hanya bertumpu kepada dua hal tersebut tanpa memiliki kreativitas, maka 

wadah. Tersebut akan benar-benar menjadi masalah pada proses PJJ berikutnya.


Kelima, Keterbatasan dalam mengolah hasil atau proses PJJ sebagai filling belajar dan 

sekaligus sebagai laporan kepada orangtua siswa. Jika ini berlanjut dan beruntun, 

dikhawatirkan bahwa layanan yang dilakukan oleh guru dapat dipandang tidak maksimal. 

Atau malah dilihat sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Oleh karena itu, maka proses PJJ 

yang berlangsung ter-cover dalam foto kegiatan, video, dan arsip dokumentasi, yang dapat 

dilihat atau diakses oleh peserta didik dan orangtua. Tentunya selain oleh atasannya.


Keenam, Daya tahan guru untuk melahirkan ide-ide kreatif dan yang inovatif. Hal ini juga 

berkorelasi dengan kekhawatiran ketiga, yaitu tentang pelaksanaan PJJ yang menoton. Oleh 

karenanya memontum dan kesempatan serta keberanian bagi lahirnya ide-ide dan gagasan-

gagasan baru harus selalu dibukakan pintu gerbang ‘mungkin’ yang seluas-luasnya. Motivasi 

ini yang juga memungkinkan lahirnya semangat mencoba tanpa ketakutan untuk menjadi 

lebih repot atau menjadi lebih kepayahan.


Sekali lagi harus dipahami bersama bahwa kekhawatiran ini lahir dari rasa untuk tetap dan 

terus memegang prestise keunggulan dalam konstelasi persaingan sebagai bagian dari 

sekolah swasta.


Jakarta, 2 Oktober 2020

Siswa Menulis

Berikut ini adalah kata pengantar saya untuk tulisan anak-anak, terhadap tugasku membuat laporan mereka tentang dampak Covid-19 dalam kehoidupan masyarakat. Dan ini memang sebatas tugas. Namun demikian sayang jika tulisan-tulisan itu tertumpuk dalam arsip penilaian. Maka atas prakarsa pustakawan sekolah, artikel yang berasal dari tugas peserta didik terhimpun dalam satu dokumen yang kemudian akan menjadi bagian sebagai penghuni perpustakaan sekolah. Dan berikut ini adalah pengantar saya;

Pengantar Pak Agus dalam Kumpulan Hasil Belajar ananda SMP Tentang Corona, Agustus 2020;

 

Dari Pak Agus,

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas karunia iman, sehat dan keberkahan yang telah dilimpahkan kepada kita. Shalawat dan salam untuk nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, semoga kita menjadi bagian dari pengikut setianya. Amin.

 

Alhamdulillah, bahwa saya memperoleh kesempatan untuk membaca karangan-karangan ringan dari siswa SMP tahun 2020 yang bertema Corona, yang menjadi bagian hidup kita di Jakarta, sejak Maret 2020. Yang membuat kita semua harus banyak beraktivitas di dalam rumah, termasuk juga di dalamnmya adalah kegiatan pembelajaran. Ruang kelas dengan semua properti yang ada, teman, suasana kantin pada saat istirahat sekolah, pelajaran olah raga, upacara bendera di halaman sekolah, Bapak atau Ibu Guru ketika mengajar di kelas, dan seluruh denyutnya, berhenti, dan semua beralih secara virtual.

 

Ini semua sebagai implikasi dari Corona, wabah penyakit baru yang penyebarannya sangat cepat. Maka regulasi pemerintah guna mencegah penyebaranya semakin cepat dan meluas, adalah melakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Harapan kita semua semoga pandemi Covid 19 yang melanda seluruh bangsa di dunia ini segera berakhir, yang memungkinkan kita semua kembali beraktivitas normal seperti sedia kala.

 

Dan dalam situasi seperti itulah, Ibu Salma, pustakawan Tugasku, mengumpulkan tulisa-tulisan anak-anak SMP yang bertemakan pandemi ini. Dan dari sinilah saya mendpat kesempatan menikmati tulisa-tulisan itu.

 

Ada tulisan yang memberikan data dampak Virus Corona ini dengan disertai sumber tuisannya, yang berupa kerugian dan akibat buruknya penyakit ini pada seluruh kehidupan manusia. Mulai dari dampak ekonomi, sosial, serta kesetannya. Menyeluruh, detil dan apik. Yang membuat saya berkesimpulan bahwa penulisnya menuliskannya dengan penuh kesungguhan dan tidak sekedar menyelesaikan tugas belajar.

 

Ada pula tulisan dengan tema yang sama, Covid 19, tetapi dalam ragam tulisan fiksi. Ini juga menarik. Selain ini menunjukikan kecenderungan penulisnya yang pandai, ini juga menjadi inspirasi bagi semua kita bahwa, tuisan fiksi berakar antara lain dari fakta-fakta kehidupan yang sama-sama kita alami bersama. Menarik sekali.

 

Dan pendokumentasian dari tulisan dalam buku ini, semoga menjadi kenangan abadi bagi anak-anak, dan juga sebagai ‘peninggalan’ kalian pada saat menuntut ilmu di bangku Sekolah Islam Tugasku. Jadi Pak Agus sampaikan ucapan selamat dan terimakasih.

 

Billahit Taufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Jakarta, 31 Agustus 2020

 

Agus Listiyono

Menemani Guru

Menemani guru, memang menjadi bagian dari pekerjaan saya di lembaga pendidikan formal yang diamanahkan kepada saya. Tidak hanya ketika saya harus menjaga gawang untuk beberapa unit sekolah yang ada di sebuah lembaga pendidikan, tetapi ketika saya masih menjagai gawangnya sebuah unit sekolah pun, model bekerja dengan menemani guru ini selalu menjadi strategi saya agar gawang yang saya jaga tidak kemasukan gol dari pemain lawan.

Pekerjaan saya sebagai penjaga gawang dan gawangnya itu sendiri adalah metapora yang saya buat untuk memberikan gambaran seperti apa peran dan fungsi saya, jika ada di lapangan sepak bola. Bahwa lapangan permainan sepak bola adalah gambaran area pekerjaan saya. Sedang gawang adalah hasil kerja saya. Maka kalau saya berkeinginan agar gaw ang saya selalu aman terhadap serangan dari pemain lawan, ini menggambarkan tentang ketahanan sekolah yang menjadi tangguan saya terhadap tantangan dari masyarakat atau juga masyarakat pengguna. Dan supaya gawang tetap aman dan menjadi pemenang dalam persaiangan, sebagai sekolah swastya, maka saya meminta para pemain belakang, tengah dan penyerangnya handal dalam bermain, militan dalam menjaga stabilitas areanya, bahkan mampu melakukan penetrasi terhadap area lawan. Itulah lebih kurang gambaran dan metapora terhadap tugas saya sebagai penjaga gawang di sekolah.

Menemani guru yang saya maksudkan adalah bersama guru untuk melakukan pelayan kepada peserta didik dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, melakukan upaya maksimal agar peserta didik benar-benar mendapatkan layanan dan dorongan prima untuk maju dalam menemukan sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun bagi masa depannya. Supaya peserta didik benar-benar mencintai dan menghargai setiap pertemuan dan interaksi antara guru dan siswa, baik zaman masih normal, secara off line, maupun zaman pandemi seperti sekarang ini, dimana interaksi hanya bisa dilakukan secara online?

Menemani guru agar selalu lahir ide kreatif dan inovatif, yang meski menhatruskannya melakukan upaya lebih maksimal dan lebih beragam, sehingga upaya tersebut akan menuntut lebih kepadanya, tetapi spirit bahagianya akan menepis hambatan dan halangan tersebut. Sehingga upaya guru memang benar-benar memberikan warna belajar yang mampu melahirkan ciarasa sumringah penuh energi keingintahuan. 

Menemani guru, karena tidak semua guru berada pada level atau koordinat yang sama atau setidaknya setara, yang memungkinkan kita semua dalam energi eksploratifnya, namun tidak sedikit pula masih ada diantara mereka yang memang melakuakn pembelajaran atau interaksi dengan siswa sebagaimana yang pernah ia jalani di tahun-tahun sebelumnya tanpa beranjak baik pada tataran semangat, ide, daya juang bereksplorasi. Dan kepada merekalah saya sering bercengkerama tentang apa saja, meski itu hanya sebagai upaya untuk mengajak melihat realita yang sama dengan kacamata yang berbeda. Harapannya agar memahami dimana posisinya, dimana ia sedang berada, di sebelah mana ia sedang berdiam diri?

Menemani guru dengan harapan ujungnya adalah agar semua guru yang ada di lembga dimana saya ada, memiliki pola dan standar pelayanan yang sama. Yang dengan demikian, maka bola-bola akan selalu berada di tengah lapangan atau bahkan di area lawan, tanpa saya sebagai penjaga gawangnya, harus memunut bola yang berada di gawang kami...

Jakarta, 2 Oktober 2020.

Donasi di Masa Pandemi

Ada upaya mulia yang dilakukan POMG Sekolah Islam Tugasku, diwakili Ibu Fitria dan Ibu Esni dari POMG SD serta Ibu Ranty dari POMG SMP. Yaitu penggalangan donasi untuk para pekerja yang bukan karyawan sekolah. Yaotu mereka yang pada masa sekolah berjalan normal memilik peran dan bagian yang penting. Namun pada pandemi ini, mereka harus terputus rizekinya dari lingkungan Tugasku.

Mereka ada Bapak dan Ibu yang berkiprah di bagian antar jemput siswa

, pedangang di kantin sekolah, tukang parkir di jalan depan sekolah, tukang bajaj langganan guru Tugasku, pengangkut sampah sekolah, dan guru-guru ekskul. 

Pada Selasa, 15 September 2020, ibu-ibu POMG tersebut telah menyalurkan donasi untuk 30 tim support Tugasku tersebut sebesar Rp. 81.702.000. Alhamdulillah. Semoga atas kebaikan yang telah ditunaikan, Allah Swt balas dengan mencukupkan kebutuhan Ibu-Ibu semua baik di dunia atau pun di akhirat. Semoga membawa keberkahan. Amin ya Rabbal'alamin.

Jakarta, 2 Oktober 2020

Persiapan di Awal PJJ

 Persis, pada Senin, 16 Maret 2020, sebagai awal sekolah benar-benar tidak masuk dan pembelajaran beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ atau daring, maka selama dua pekan awal menjadi pekan yang benar-benar gamang dalam proses PJJ yang seequifalen dengan pembalajaran luring atau oflne. Dan kembali lagi, sebagai sekolah swasta, maka kami berfikir bagaimana layanan yang. Kami berikan untuk tetap merupakan layanan prima, layanan yang tidak membebani orangtua atau rumah dimana ananda selama pelaksanaan PJJ tetap berada di dalam rumah, juga meminimalisir kontribusi orangtua terhadap berlangsungnya PJJ.

Dan alhamdulillah, semua teman-teman manajemen dan juga guru-guru, selelu memahami apa yang dimaksud dengan PJJ, perubahan pola dan strategi pembelajaran on line tersebut. Termasuk diantaranya hal-hal yang berada di luar tugas-tugas pembelajaran. Yang ini justru sering masih menjadi gangguan.


Seperti memahami bahwa PJJ, dimana guru dan karyawan bekerja di rumah adalah bukan merupakan libur, tetapi tetap dalam posisi bekerja. Hal yang di awal masa PJJ menjadi kendala yang harus difahamkan dan bahkan hingga harus ditertibkan. Beberapa hal yang ringan seperti berpakaian ketika berhadapan dengan siswa, memberikan tugas yang meteri tugasnya mengharuskan siswa pergi ke luar rumah untuk berbelanja, penugasan sangat bertumpu kepada penguasaan materi pelajaran saja, atau beberapa hal yang serupa.

Bahkan ada yang di jam pembelajaran justru mengantar istrinya pergi ke pasar meski berargumentasi bahwa pada jam tersebut tidak sedang dalam mengajar. Juga ada yang tiba-tiba tanpa sepengetahuan manajemen ternyata telah berada di kampung halaman.

Beberapa hal itulah yang diawal pelaksanaan PJJ menjadi perhatian kami. Dan selalu kami sadarkan kepada semua unsur sekolah bahwa, PJJ sama artinya kita melakukan pembelajaran di waktu dan jam kerja yang seperti normalnya. Juga kami sampaikan konsekuensi jika pelaksanaan PJJ tidak memenuhi ekspektasi siswa dan orangtua yang akhirnya melahirkan masalah baru.

Alhamdulillah, mamasuki pertengahan April 2020 lalu, pelasksanaan PJJ telah memasuki area baru yang penuh harapan. Semua sarana telah seragam dengan adanya pengadaan lap top baru. Zoom meeting dapat dilakukan sesuai dengan pola yang telah kami sepakati selayaknya jadwal pembelajaran normal dan dengan durasi yang panjang. Keterampilan membuat sarana belajar online guru benar-benar menggembirakan, kompilasi proses belajar yang berlangsung di online dibuat dengan standar film maker yang, lagi-lagi, alhamdulillah, guru-guru sangat cepat memiliki kemahiran tersebut. Dan juga sarana cloud sebagai wadah penyimpanan dokumen selain yang ada di media sosialyang juga benar-benar on going well. Sekali lagi alhamdulillah.

Jakarta, 2 Oktober 2020

24 September 2020

Guru di Masa PJJ

Resminya, Senin, 16 Maret 2020, di tahun pelajaran 2019/2020, kami semua harus tinggal di rumah sebagai bagian dari ikhtiar pemerintah dan kita semua untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, yang menjadi pandemi. Tidak terkecuali, sekolah. seluruh aktivitasnya harus berhenti secara tatap muka atau luring dan berubah melalui virtual atau daring. Semua kegiatan terhenti, termasuk interaksi langsung guru dengan siswa. Semua menjadi virtual. Maka dunia pembelajaran menjadi benar-benar mendadak sontak baru. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi teman-teman guru. 

Bersama teman-teman guru, saya menyadari bahwa pandemi akan berlangsung lama. Bukan lagi 14 hari kedepan dunia akan kembali normal. Setidaknya inilah yang tergambar pada kehidupan dunia yang juga kita berada di dalamnya. Maka waktupanjang dalam virtual, sebagai sekolah swasta bisa menjadi hal yang mengkhawatirkan. 

Bersyukur bahwa teman-teman guru bergerak cepat untuk menggunakan perangkat virtual. Semua berkontribusi dalam mengembangkan diri menjadi mahir. Tidak sekedar tahu dan bisa saja, tetapi mahir dan berlanjut mengeksplorasi diri. Dalam bentuk merancang belajar online, aktivitas yang dirindukan siswa, tuntutan belajar yang menantang siswa, interaksi yang tetap hangat sesama mereka, hingga kegiatan belajar virtual menjadi daya saing.

Alat dan sarana memang penting, tetapi visi dan semangat diri yang membuat teman-teman terus berjuang dalam dunia baru mereka. Media sosial menjadi ajang promosi dan harga diri. Maka semua ikhtiar selalu optimal dituangkan dalam meningkatkan kualitas hasil kompilasi atau video yang akhirnya bersarang di media sosial yang akan dikonsumsi publik. Alhamdulillah.

Jakarta, 24 September 2020

Nostalgia ke Eva Resto, Ungaran

Lama sekali draf tulisan ini tersimpan dalam folder blog. Saya sendiri telah melupakan keberadaannya. Bahkan, untuk masuk blog sendiri, nyaris terlupakan anak kunci yang mana yang harus saya masukkan ke lubangnya. Alhamdulillah, niat baik terlaksanana dengan baik.

Ini adalah pengalaman untuk kesekian kali saya bisa mampir ke resto yang berlokasi di puncak bukitnda buat saya setelah pertama sekali melihatnya dari kaca mata seorang pembonceng CB 100 di tahun 1980an. Betapa tidak, abak kampung miskin harus menatap sebuah resto yang bagus di lokasi yang super dingin di tahun tersebut. Sebuah momentum ketika saya berlibur ke rumah paman di Ambarawa dan juga paman di Candi, Semarang.

Lalu, ketika kesempatan berikutnya saya melintasi resto ini pada tahun 2009, saat istri paman saya yang di Ambarawa meninggal dunia. Di waktu lewat tengah malammani adik, kembali menum teh panas. Dan tahu pong. Namun, udara di tahun 2009 itu, di lewat tengah malam, sudah jauh berbeda. Saya tidak harus mengenakan kaos panjang untuk menahan dinginnya udara. Sudah berubah seperti suhu udara di Pakem, Slemen, Yogayakarta.

Dan terakhir kali, sebelum dunia di landa pandemi Covid-19, Desember 2019, sepulangnya dari perjalanan saya ke kampung halaman, mampir untuk santap siang di resto ini. Tidak dingin lagi suhu udaranya, tetapi jauh lebih sejuk dari pada kampung saya di pantai selatan Jawa Tengah.

Dan di akhir tahun, zaman normal tersebut, saya ditemani oleh istri dan anak bungsu. Selalu sama selain menyantap santapan siang, yaitu teh manis panas dan tentunya, tahu pong. Inilah yang menjadi kenangan terakhir saya sebelum pandemi yang mengharuskan saya tidak ke kampung halaman terselebih dahulu.

Jakarta, 24 September 2020

22 January 2020

Mie Ongklok

Pertama sekali mendengar kata ini disebut oleh pihak travel, saya terus terang hanya menebak-nebak sepeti apa gerangan. Dan yang tergambar dalam benak saya adalah sejenis mie nyemek yang biasa saya pesan di Warung Pakde Sutik, di Wojo. Tetapi ketika saya sebutkan gambaran saya itu, segera mendapat penjelasan yang ustru membuat saya tidak lebih jelas. Makanya, sepanjang perjalanan hingga saya barada di dapur Ibu Umi, penjual mie ongklok di Wonosobo, yang lokasinya berdampingan dengan Masjid dengan bangunan kokoh dan kuno di Wonosobo.

Sore itu, selepas Magrib, kami sudah berada di dalam warung Ibu Umi untuk menyantap mie ongklok. Dan dari sinilah, saya benar-benar kehilangan rasa penasarannya. Mie ongklok Ibu Umi kami santap plus dengan sate daging sapi yang membuat hidangan mie tersebut menjadi lebih yahud.

Jakarta, 22 Januari 2020.

16 January 2020

Minyak Klenthik

Salah satu kegiatan yang saya lakukan ketika mudik ke kampung halaman adalah membuat minyak klenthik. Yaitu minyak yang saya buat dari santan kelapa. Dimana santan tersebut saya masak menggunakan penggorengan hingga mendidih. Ketika santan tersebut mengental, maka akan menghasilkan dua hal. yang cair itulah yang kami sebut sebagai minyak klenthik atau original coconut oil, atau mijyak kelapa asli. Sementara ampasnya, yang padat dan memiliki warna sedikit kecoklatan dengan rasa manis, kami menyebutnya dengan blondo.

Anda bisa melihat video berikut untuk mengecek bagaimana saya membuat minyak kelapa asli. Minyak yang menyehatkan dan beraroma harus sekali;



Jakarta, 17 Janusri 2020

Sepedaku

Penampakan sepedaku ketika selesai me"restorasi".
Ini menjadi lat transportasi satu-satu yang ada pada saya ketika saya berada di kampung halaman. Sepeda tua, yang memungkinkan saya 'berjalan' lebih cepat ketika pergi ke warung yang ada di pinggir jalan raya. Juga ke tujuan-tujuan pendek lain, yang ada di sekitar kampung halaman. Sepeda yang sudah menemani saya sepuluh tahun belakangan ini.

Sebagaimana perlu diketahui bersama bahwa, bahwa saya meluangkan waktu di akhir pekan untuk berkunjung ke kampung halaman guna menemani mamak saya yang tetap betah berada di urmahnya di kampung. Sesuatu hal yang normal. Maka untuk mendengar cerita-ceritanya, saya menyempatkan diri sepanjang haris Sabtu berada di kampung. Dan untuk mempermudah mobilitas saya, maka sepeda akan membantu saya sepenuhnya.

Sepeda ini tidak selalu siap menhantarkan saya ketika beberapa pekan saya tinggal berkumpul dengan keluarga saya sendiri di Jakarta. Saya harus mengganti karet pentil bannya dan mengisi penuh dengan angin. Ini karena sepanjang sepeda berada jauh dari saya, maka dia akan nganggur.

Seperti bulan-bulan ini. Saya akan kembali lagi menggunakannya dalam sepuluh pekan kedepan. Ini tidak lain karena Mamak saya di akhir Desember lalu berkenan ikut kami, anandanya ke Jakarta guna melupakan sejenak rutinitasnya di kampung. Semoga.

Jakarta, 16 Januari 2020

15 January 2020

Maeklong Railway Market

Ini lokasi wisata di Bngkok, Thailand. Namanya Maeklong Rail Way Market. Destinasi yang kalau boleh saya sebut adalah super unik. Bukan pemandangan yang indah. Bukan lokasi belanja yang mewah atau yang murah, buka juga air terjun atau pertunjukkan gajah pintar, juga deretan barang antik atau kereta antik. Ini adalah destinasi yang mempertontonkan bagaimana uniknya wisata.

Terlihat begitu berjubelnya saya bersama dengan pengunjung yang terlebih dulu berada di tengah-tengah rel kereta api. Ini karena saya harus ke toilet terlebih dahulu sebelum hadir disini. Saya terlambat datang.
Unik, karena mungkin hanya di lokasi itu saja kita dapat melihat bagaimana kita menonton kereta api yang lewat di perlintasan kereta sebidang yang juga membelah pasar. Sebagai orang Indonesia, saya sering melihat situasi yang mirip-mirip seperti ini 15 tahun yang lalu.

Ini adalah penampakan kereta api yang kami tunggu-tunggu. Ternyata kereta api ini berpenumpang juga.
Yang membedakan? Kereta yang melewati pasar rel di Maeklong ini berjalan amat sangat lambat ketika harus membelah pasar yang kalau dia tidak ada maka di atas relnya akan tertutup rapat-rapat oleh tenda pedagang. Sementara dua (2) meter di depannya ada kerumunan orang yang semuanya sibuk dengan kamera mereka masing-masing. Toleran sekali.

Semua sabar menunggu. Kereta seperti apa yang sebenarnya akan muncul...

Beda di Indonesia, dimana beberapa perlintasan sebidang, maka kita diperdengarkan UU Perkeretaapian, bahwa perjalanan kereta harus didahulukan.

Anda bisa cek video saya ini;


Jakarta, 15 Januari 2020

14 January 2020

Dieng, Wonosobo


Ini perjkalanan singkat kami, berempatbelas mengendari mobil Jakarta-Dieng-Jakarta. Perjalanan singkat karena kami harus merangkat Jumat sore dan juga harus kembali lagi sampai Jakarta pada hari Minggu malam.

Namun ada prinsip yang bersama-sama kami pegang sebagai traveler, bahwa destinasi wisata bukan menjadi tujuan utama kami. Sehingga destinasi yang telah kami sepakati tidak harus semuanya kami kunjungi. Semua tergantung dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun kebersamaanlah yang menjadikan tujuan utama dari setiap perjalanan bersama kami.

Ini pulalah yang terjadi dengan perjalanan pada awal November 2019 lalu kami, menuju ke Dieng. Dan meski destinasi Sikunir belum berhasil kami datangi, karena faktor kelelahan perjalanan yang terimbas macet 4 jam di jalan bebas hambatan Cawang-Cikampek. Namun sejuk dan indahnya Dieng, sudah mampu kami jejaki.

Mudah-mudahan kali lain kami benar-benar bisa menuntaskan distinasi yang ada di Dieng. InsyaAllah.

Jakarta, 14 Januari 2020

Yogyakarta International Airport


Saya bersyukur, bahwa bandara baru Yogyakarta, yang bernama Yogyakarta International Airport atau YIA, sekarang sudah beroperasi, meski belum sepenuhnya, lokasinya berada di tetangga kampung. Berjarak tidak lebih dari sepuluh menit dengan berkendara motor. Desa saya posisinya berada di sebelah desa dimana lokasi bandara berada. Dekat bukan?

Dan keberadaan ini menjadikan eporia di sekitar kami. Tanah-tanah pekarangan tiba-tiba di jual dengan taksiran penawaran harga yang jauh berbeda dari NJOP. Rumah-rumah kosong menjadi laku untuk disewakan kepada rombongan pekerja. Tananh-tanah gunung sebagai bahan untuk meguruk lahan bandara pada awal pembangunannya bercceran di jalan besar yang ada di kampung kami. Juga stasiun kereta api yang direvitalisasi untuk menjadi lokasi transit penumpang pesawat yang tidak menginginkan kendaraan bermotor menuju kota Yogyakarta.

Juga kata-kata promosi untuk penjualan apapun. Terutama properti, baik tanah atau juga rumah. Di jual... Lokasi dekat Bandara baru Yigyakarta... Demikian lebih kurang kata-kata yang dijadikan pemikat dari barang jualannya. Semua menjadikan bandara baru sebagai daya pikat.

Warung makan yang sebelumnya telah luamayan besar, juga dibuat menjadi lebih besar lagi dengan memperluas tidak saja ruangan untuk makannya, juga parkiran, mushala, dan toiletnya. Semua bergerak menyambut kehadiran keramaian baru di tetangga desa kami, bandara!

Tentu ini menjadi hal positif bagi semua warga yang ada di sekitar bandara tersebut. Kampung kami yag sebeklumnya adem ayem karena sedikitnya manusia bermobilisasi, sekarang mulai bergeliat meski belum hilir mudik. Stasiun kereta yang ada di desa kami, yang sebelumnya hanya untuk perlintasan kereta yang lewat, sekarang sudah ada 20 pemberentian kereta.

Pendeknya, saya, kami, layak mensyukuri ini.

Jakarta, 14 Januari 2020.

13 January 2020

Kemana Saja ke Bangkok?


Minggu, 22 Desember hingga Rabu, 25 Desember 2019, 75 orang dari Yayasan, guru dan karyawan Tugasku melakukan trip ke Bangkok-Pattaya. Ini menjadi ghatering heboh buat kami. Pergi jauh bersama-sama.
Banyak destinasi yang kami berhasil datangi. Berhasil, karena ada beberapa lokasi yang karena waktu, maka lokasi yang ada di itenary terpaksa kami skip.
Distinasi yang kami dapat nikmati bersama adalah;


1. Gems Gallery di Bangkok;


2. Chatuchak;


3. Nang Nooch Vilage;



4. Madu di Thep Prasit Honey:


5. Mae Klang Rail Way Market;

6. Damnoen Sanduak Floating Market;


6. Chao Phraya;


Jakarta, 13 Januari 2020.

Maeklong Rail Way Market, BANGKOK


Minggu, 22 Desember hingga Rabu, 25 Desember 2019, 75 orang dari Yayasan, guru dan karyawan Tugasku melakukan trip ke Bangkok-Pattaya. Ini menjadi ghatering heboh buat kami. Pergi jauh bersama-sama.
Banyak destinasi yang kami berhasil datangi. Berhasil, karena ada beberapa lokasi yang karena waktu, maka lokasi yang ada di itenary terpaksa kami skip.
Distinasi yang kami dapat nikmati bersama adalah; gems gallery di Bangkok, Chatuchak, pasar malam, Nang Nooch Vilage, Pattaya, Herbal, Madu, perlintasan kereta unik yang berlokasi di Mae Klang Rail Way Market, pasar apung tertua di Thailand yaitu Damnoen Sanduak Floating Market, Chao Phraya dan beberapa lokasi disekitarnya.


Dalam liputan ini, adalah tentang destinasi wisata paling unik yang pernah nyangkut dalam hidup saya. Betapa tidak, wisatawan akan antri, berdesak-desakan dan ambil video atau foto 'hanya' untuk sebuah momen kereta kuno yang lewat. Dahsyat bukan. Ini terjadi di Thailand, dengan nama daerahnya adalah Maeklong Rail Way Market. Ini, bagi saya, sesuatu yang fenomental.


Yang dilihat? Kereta api melintasi pasar tradisional dg kecepatan super pelan. Semua tenda pedagang akan dilipat untuk kereta itu lewat. Dan tertutup kembali ketika kereta telah berlalu.
Dan yang lebih unik lagi, wisatawan berjubel di sepanjang pasar pinghi rel itu, hingga di pintu rel sebidang yang dekat pasar untuk ambil gambar!
Saya berkunjung ke sini pada Selasa, 24 Desember 2019.

Membuat Glodogan

Ini keisengan saya beberapa bulan lalu. Sebagai langkah untuk memanfaatkan potongan-potongan pohon kelapa di kantor untuk glodogan. Glodogan adalah tempat untuk memelihara lebah liar.

Saya kerjakan pada awal Agustus 2019 lalu. meski telah saya pasang glodogan itu, hngga sekarang, 13 Januari 2020, belum mendatangkan kawnan lebah untuk menetap di godokan yang saya pasang.

Jakarta, 13 Januari 2020.

12 August 2019

Menebang Pohon Kelapa

Pohon kelapa yang ada disisi belakang sekolah, telah menjulang lumayan tinggi. Pucuk daun kelapa itu telah sampai di atap, yang menjadikan logo serta sign board sekolah tertutup. Tidak memungkinkan bagi kita untuk dapat melihat, jika kita berada di seberang sekolah. Kasihan bagi orang-orang yang sedang mencari alamat dan sulit menemukan sign board tersebut. Dan dengan alasan tersebut, saya meminta kepada tukang tanaman untuk menebang pohon tersebut dan rencana menggantikannya dengan pohon nangka.


Selain alasan tersebut, sebenarnya masih ada alasan lagi yang kadang membuat saya kurang happy. Ini masih terkait dengan penebangan pohon kelapa dimaksud. Yaitu bahwa beberapa kali saya menemukan buah kelapa yang hingga tua dan bahkan sampai kulit buahnya kering. Sebagai orang kampung, yang di kala mudanya adalah pemetik buah kelapa, maka saya meminta dan bahkan mewanti-wanti kepada para pegurus taman untuk mengawasi buah-buah kelapa, jangan sampai mengering yang membuat buah tersebut dapat jatuh dengan sendirinya.

Jangan sampai. Karena hal itu dapat membuat kami celaka jika yang berada di bawah adalah kendaraan yang sedang parkir atau diantara kami yang sedang berdiri. Namun anehnya, para pegawai taman sering kurang menjadikan hal itu sebagai prioritas.

Pernah suatu kali saya menceritakan bagaimana pegawai hotel harus membersihkan bunga-bunga kelapa yang ada di halaman atau taman hotel hingga pohon kelapa tersebut tidak berbuah. Dengan demikian maka pengawasan terhadap buah kelapa tidak menjadi pekerjaan berikutnya. Ini sudah menjadi budaya di hotel tersebut. Dan ketika itu akan menjadi terapan di lokasi kerja sendiri, maka teman-teman masih belum dapat melihatnya sebagai prioritas.

Jakarta, 12 Agustus 2019.

09 August 2019

Jeep Merapi

Awal Mei 2019 lalu, saya berkesempatan untuk naik Jeep di Merapi, Yogyakarta. Ini acara ketika saya berada bersama dengan anak-anak SMP yang melakukan kegiatan akhir tingkat, perpisahan. Dan salah satunya adalah trip untuk naik jeep. Maka yang menjadi salah satu rutenya adalah bermain air di Kali Gendol yang kala itu masih dalam kondisi kemarau.


Saya se-jeep bersama tiga guru lainnya untuk menempuh rute dengan tujuan beberapa tempat wisata di wilayah Cangkringan, Yogyakarta tersebut. Di beberapa lokasi yang dituju, semua rombongan merasakan kegembiraan bermain bersama sembari berfoto. Tidak terkecuali ketika rombongan berada di posisi kali tersebut. Meski airnya tidak berlimpah, namun memberikn kesempatan kepada anak-anak untuk membasahi kostumnya dengan cara meminta driver jeep menrjang air yang ada di kali tersebut.

Saya sendiri, puas dengan mengamati beberapa kegiatan yang menjadi favorit anak-anak tersebut, dari bibir kali yang berada di ketinggian.

Jakarta, 9 Agustus 2019.

08 August 2019

Perpisahan

Ini acara saya bersama lembaga di Jakarta, yang kemungkinkan menjadi acara saya terakhir. Sebagai acara jalan-jalan. Acara piknik dan wisata. Utamanya untuk acara luar ruang. Karena setelahnya saya masih diikutsertakan dengan acara lain dalam bentuk pelatihan.


Karena pada April 2019 lalu, saya memang telah meminta untuk mundur terlibat secara formal di lembaga tersebut. Satu tahun menjelang usia pensiun saya. Alhamdulillah, sebagai upaya bagi saya untuk dapat lebih fokus kepada topoksi utama saya sendiri dan juga menyisihkan waktu untk mamak saya yang ada di luar kota, kampung haaman saya.

Jakarta, 8.08.2019

Kopi Ambal

Di beberapa media, saya menemukan Kopi Ambal ini. Semula yang saya dapatkan adalah informasi berkenaan dengan si pemilik Yuam Coffee Roasted, yang bernama Mas Yudi Dullah. Namun setelah berita tersebut saya baca lengkap, maka penasaranlah kalau saya hanya membacanya. Maka saya mencoba untuk dapat memesannya dari Ambal, Kebumen, Jawa Tengah. Saya memesannya 8 paket sekaligus. Yang selain untuk sya sendiri sebagai pembuktian atas apa yang ada dalam berita juga untuk saya berikan kepada teman-teman saya yang hobi ngopi.


Maka jadilah kopi pesanan saya itu sampai. Dan segera saja saya kembali kirimkan kepada teman, saudara, juga kolega di kantor. 

"Kopinya enak sekali Pak Agus. Itu pasti kopi mahal." Kata teman saya setelah menyedunya sendiri. Semula menggunakan drip bambu ciptaan Mas Yuri. Tetapi dia mengaku tidak sabar untuk menum kopi yang disaring dengan drip bambu yang memakan waktu. Jadilah, ceritanya, ia menyedu kopinya dengan tubruk.

"Bukan mahal Mas. Itu kopi standar. Kopi tenan. Bukan kopi saset." Kata saya.

Jakarta, 8.08.2019

07 August 2019

Prigen

Pertama sekali mendapt kabar bahwa kami akan menginap di sebuah hotel bagus, di lokasi yang bagus juga, di daerah Prigen, Pasuruan, sebuah daerah yang bersuhu dingin dan alam yang indah, saya benar-benar merasa penasaran. Seumur-umur saya belum pernah pergi ke lokasi yang bernama Prigen. Meski dalam pelajaran geografi saya sudah mengenalnya, namun belum terbayang seperti apa daerahnya dan dimana lokasi persisnya.

Maka tidak salah jika saya mencoba menuliskan nama hotel di aplikasi peta di layar seluler saya. Dari sini saya mendapat gambaran secara geografis tentang posisi Prigen di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Termasuk juga tentang foto-foto hotelnya, tempat kami menginap nantinya, saya dapatkan di dalam google.



Dan ketika kami mendarat di Surabaya, persisnya di Sidoarjo, beberapa saat kemudian gambaran tentang enaknya suasana dan bangunan hotel, airnya yang asli pegunungan, serta lanskap pegununganya, serta jarak pandang yang memungkinkan kami melihat ke bawah ke arah kota dimana lampu-lampu tampak berbaris bila malam tiba dan juga gunung-gunung yang berkilau diterpa matahari pagi, saya benar-benar mengaguminya. Bersyukur atas kesempatan untuk dapat berada di Hotel Royal Senyiur yang ada di Prigen itu.

Jakarta, 7 Agustus 2019.

Selekta

Salah satu lokasi yang saya kunjungi ketika diajak ke Malang, adalah tempat wisata yang merupakan destinasi wisata sejak zaman beluela. Karena, dalam sejarahnya, Taman Bungan Selekta ini sudah ada dan eksis di zaman Pak Soekarno. Meski begitu, saya baru mengunjunginya kali itu ketika mengikuti rombongan sekolah tman yang sedang berkunjung. Jadi, sekali lagi, saya merasa beruntung sekali bisa datang dan mengunjunginya langsung. Dan kunjungan itu, menjadikan saya memiliki gambaran baru tentang Selekta, sekaligus merubah persepsi saya tentang destinasi wisata yang berupa taman.


Saya benar-benar takjub dengan kondisi dan lanskap taman yang ada di Selekta. Meski tidak semua spot yang ada di dalamnya saya datangi, juga wahana mainan yang saya jajal. Saya hanya mencoba masuk ke taman dengan tabian permukaannya saja untuk kemudian kembali ke arah pintu keluar.

Beberapa kali saya pergi ke Malang untuk tujuan wisata, sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk mengunjungi Selekta. Ini karena, sekali lagi, karena persepsi yang telah terbangun di kepala saya tentang taman bunga. Namun setelah kunjungan kali itu, saya sepertinya harus mengajak handaitaulan untuk menemukan kesegaran sebuah taman bunga di Selekta.


Jakarta, 7 Agustus 2019