Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 November 2009

Berjasa?


Pada waktu membicarakan pengembangan lembaga, kami dibenturkan pada kenyataan bahwa beberapa diantara kami yang berpotensi menjadi hambatan bagi pengembangan. Hambatan tersebut lahir atas kenyataan bahwa kurang dipenuhinya persyaratan standar minimal akademis. Dimana sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen, maka guru untuk tingkat pendidikan Pra Sekolah hingga Sekolah Menengah, harus strata 1 atau Sarjana. 

Dan setiap langkah kami akan mulai dengan mendiskusikan alternatif serta solusi bagi pengembangan, fakta akademis yang ada diantara kami ini terus saja menghantui kami.

Beberapa teman sempat mengingatkan kami agar melihat bahwa orang-orang yang menjadi sasaran bidik kami itu adalah orang-orang yang memiliki jasa atas besarnya lembaga kami. Dimana mereka, ketika awal sekolah kami berdiri, direkrut dengan tidak perlu menjadi seorang sarjana.

Juga komentar dari mereka sendiri bahwa, mereka datang ke lembaga kami ketika lembaga ini halamannya masih belum sebaik dan serapi sebagaimana sekarang.

Esensi dari apa yang mereka sampaikan adalah, jangan mentang-mentang lembaga ini sudah besar sehingga melupakan jasa mereka. Sehingga manakala tuntutan akademis harus menjadi prasyarat bagi pengembangan sekolah, dan mereka menganggapnya hal ini justru sebagai hambatan karena ketidakmauan atau mungkin ketidaktahuan dan kesungkanan mereka untuk memulai malanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, maka kami membuat tuntutan yang diangapnya sebagai bentuk tidak menghargai jasa yang telah mereka kontribusikan.

Jasa?

Dan ketika kami bersama manajemen lain yang memegang amanah dari lembaga sedang sibuk untuk menemukan jalan bagaimana mengajak teman tersebut memenuhi syarat akademis dengan cara melanjutkan pendidikan, benak saya berbicara lain.

Bisakah berjasa jika dalam setiap bulannya lembaga telah membayar tunai ikhtiar dan kerja kita sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama dalam bentuk kesepakatan kerja sebelumnya? Pikir saya. Bisakah saya mengatakan bahwa saya berjasa di lembaga saya ini jika lembaga telah tunai membayar saya sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian kerja?

Saya tidak menemukan jawaban. Namun saya mencoba untuk berlogika bahwa, jika dalam saya bekerja saya juga menyertakan nilai transendental, maka saya tidak akan pernah satu kalipun mengatakan bahwa saya telah berjasa. Biarlah Allah yang menilai apakah saya berjasa atau tidak dikelak kemudian hari.

Karena dengan apa yang telah saya ikhtiarkan kepada lembaga dimana saya mengabdikan kompetensi saya, dan lembaga telah memberikan apa yang tertulis dalam kontrak kerja yang telah saya sepakati sebelum saya menunaikan perkerjaan yang menjadi tugas saya di lembaga ini, bukanlah ini berkorelasi sama dengan? Bukan lebih besar atau lebih kecil?
Allahu'alam bishawab.
Jakarta, 23 November 2009.

21 November 2009

Apakah Saya Sibuk?


Sedang sibuk Pak? Suara telepon di seberang. Pagi, masih pukul 10.00 di hari kerja.
Apakah mengganggu saya menelepon Bapak?
Saya menjawab beberapa pertanyaan basa-basinya sembari berpikir siapa gerangan pemilik suara tersebut. Dan ketika identitas penelepon dapat ditemukan dalam memori, saya segera menanggapi dengan penuh semangat.

Kami saling bertanya dan bercerita tentang pekerjaan, tentang kondisi kerja masing-masing, dan perbincangan kami tutup dengan pertanyaan kapan waktu yang bisa dirancang untuk bertemu dan berdiskusi lebih leluasa, komunikasi kami via telepon selesai.

Ia begitu bersemangat menjelaskan tugas barunya untuk mengelola sebuah sekolah dengan jumlah siswa lebih kurang 1.500 siswa. Sebuah tugas berat. Dan ia ingin sekali membagi berat bebannya itu kepada saya dengan mengajak saya berdiskusi.

Meski telepon selesai, saya terus saja berpikir tentang pertanyaannya kepada saya di awal telepon tersebut. Yaitu apakah saya sibuk?

Teman saya mungkin berpikir bahwa dengan amanah yang saya pikul sekarang ini tentu menuntut kesibukan yang lebih. Oleh karenanya dia mencoba untuk membatasi diri dalam menyampaikan cerita yang sedang dialami dan menjadi agenda penyelesaiannya.

Pertanyaan sibuk itu justru menjadi pertanyaan saya pada diri saya sendiri. Sibuk? Karena jujur saja, saya terima telepon teman tadi ketika sedang berada di atap sekolah. Ditemani teknisi sipil kami, saya sedang melihat keberadan dan kondisi tangki air yang ada di atap. Ini saya lakukan setelah beberapa staf kami menyampaikan kabar bahwa air flush kadang tidak keluar sebagaimana mestinya. Kecil dan lambat. Langkah berikut setelah kami melihat tangki air tersebut adalah memutuskan apakah kami masih memerlukan tambahan tangki air lagi.

Dan kembali kepada pertanyaan teman: Sibuk?
Dalam mengemban amanah, saya terinspirasi apa yang menjadi prinsip kawan saya yang lain, yang menjadi executive principal di sebuah lembaga pendidikan. Dimana ia selalu berada dimana guru dan teman kerjanya sedang memerlukan. Ini dilakukannya manakala dalam agendanya tidak ada janji atau rapat yang harus dilakukannya. Dan jika ia sedang tidak ada di dalam ruangan, pintu ruangannya selalu terbuka lebar.

Kadang guru bertemu dia di koridor sekolah lalu terjadi diskusi kecil di tempat tersebut. Kadang ia masuk toilet siswa dan memanggil petugas cleaner untuk diberitahukan sesuatu. Sering juga ia masuk ke dalam kelas untuk kemudian berbicara dan diskusi dengan siswa dan gurunya. Kadang ia ada di lapangan atau di gym untuk melihat aktivitas olah raga.

Suatu kali saya berdiskusi dengan teman kolega tentang kebiasaan executive principal tersebut. Teman saya hanya menyimpulkan bahwa dia adalah pemimpin yang moderator. Meski demikian bukan berarti ia bukan administrator. Imbuh teman ini. Karena, lanjutnya, semua data sekolah ia miliki dan menjadi bahan analisanya bagi pengembangan secara terus menerus.

Dan sebagai junior, saya sedang belajar untuk seperti executive principal tersebut. Namun dengan pertanyaan teman di telepon apakah saya sibuk tersebut, menjadikan saya termenung.

Catatan Refleksi SGJ, Juli 1996-19 Desember 2009.
Jakarta, 21 November 2009.

08 November 2009

Observasi Peran Serta

Sebagai guru baru di sebuah lembaga, di tahun 1996, meski sebelumnya telah mengajar sejak Oktober 1984, saya harus mengubah paradigma tentang mengajar yang telah saya miliki. Saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang.

Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa, melakukan sesuatu yang beda dari apa yang telah menjadi bagian hidup saya tentang membelajarkan siswa di kelas adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Misalnya, kebiasaan saya sebagai guru di lembaga sebelumnya yang telah menjadi rutinitas; membuat soal latihan atau soal ulangan harian, membuat foto kopinya, menjelaskan materi di depan kelas dengan meminta siswa membuka buku cetak yang menjadi rujukan sekolah, memberikan soal latihan tersebut untuk dikerjakan, memeriksa hasil kerja siswa, memberi ponten, dan seterusnya, hingga di akhir catur wulan menulis laporan hasil ulangan.

Perubahan dan pengembangan paradigma dan kebiasaan membelajarkan siswa di kelas yang saya alami tersebut tidak sampai membuat saya sakit hati dan akhirnya menyerah kalah. Karena sejak sejak awal saya memasuki gerbang sekolah yang yang baru tersebut sudah tertanam dalam sanubari saya untuk menjadi guru yang berbeda.

Dan oleh karenanya, saya mendapat ‘siraman rohani’ dalam hal pembelajaran itu antara lain melalui observasi kelas yang dilakukan oleh guru expart dan kepala sekolah. Selain juga dari diskusi dan share pengalaman dengan teman pararel saya.

Dalam observasi kelas, mereka secara bertubi-tubi masuk kelas sejak bulan ketiga saya mengajar. Dan bulan kedua mereka memberikan jadwal kepada saya dan menawarkan kepada saya kapan mereka boleh masuk di kelas. dan saya tentu memilihkan kapan jam pelajaran yang menurut saya enak.

Untuk bulan pertama, saya dibiarkan mengembangkan apa yang telah saya dapat dalam pembekalan sebelum sekolah dimulai. Pada satu bulan ini, setelah saya menjadi bagian sebagai guru kelas V, saya seperti tidak mendapat perhatian dari atasan saya langsung, yaitu kepala sekolah. Tetapi teman pararel dan patner saya mengingatkan agar saya selalu siap secara materi atau aktivitas yang menarik dari kacamata siswa sepanjang pembelajaran.

Bagaimana saya belajar menjadi guru profesional dalam kerangka observasi ini? Saya belajar dari masukan yang diberikan oleh atasan dan teman pararel saya setelah mereka ‘menemani’ saya di kelas. mereka akan mencari dan menemui saya di kala saya tidak sedang mengajar. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan kami akhirnya berdiskusi.

Beberapa hal yang baik akan mereka kemukakan. Mereka juga bertanya: Darimana saya mendapatkan ide pembelajaran seperti itu? Dan yang kurangpun juga ia kemukakan dengan menyampaikan ide mereka: Mungkin kali lain akan lebih baik kalau Bapak menggunakan strategi ini atau strategi itu?

Pendek kata, observasi kelas yang pernah saya alami adalah observasi peran serta. Dimana observer tidak saja memberikan nilai pada saya tetapi juga cara pandang, pengetahuan, pemahaman dan kultur menjadi guru.

Bagaimana dengan Anda?

Jakarta, 8 November 2009.

07 November 2009

Punya Handy Cam


Ini memang cerita konyol. Tapi justru dari cerita inilah saya memperoleh sesuatu kejutan yang, sepanjang karir saya sebagai guru atau orang yang bekerja di lembaga pendidikan, kejutan yang mengesankan. Cerita berawal dengan mimpi saya untuk memiliki alat perekan Handy Cam. Alat ini saya impikan karena dengan alat ini saya akan lebih memberikan gambaran visual kepada audiens tentang apa yang saya maksudkan ketika memberikan presentasi. Oleh karenanya, alat ini menjadi daftar kebutuhan yang harus saya punyai.

Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya orang yang tidak mudah menyembunyikan apa yang ada dalam benak saya. Alhasil, keinginan ini terungkap juga saat saya berbincang-bincang ringan dengan teman. Meski bukan dengan semua teman. Paling tidak, keinginan ini sudah tidak menjadi rahasia lagi dikalangan beberapa teman saya di kantor.

Dan sekitar Desember 2003, saat saya masih berada di jalur TOL JORR RS Fatmawati-RC Veteran yang masih sepenggal (keluar masih di RC Veteran dan kita akan masuk lagi jalur TOL BSD setelah Masjid Bintaro Sektor 3), telepon saya berdering. Seseorang di seberang, saya mengira posisi teman ini masih dalam mobil jemputan sekolah, mungkin berada di wilayah Pondok Jagung, Pondok Aren, Tangerang, menanyakan kepada saya: Apakah saya masih berminat untuk memiliki handy cam? Saya jawab masih. Maka diberikanlah spesifikasi alat impian tersebut beserta harga yang diinginkan.

Diceritakan bahwa handy cam tersebut dimiliki seorang pilot yang nyaris tak terpakai lagi. Namun kondisinya masih sangat bagus. Demikian teman saya mempromosikan. Dan karena ini penawaran langka, maka tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan. Bahkan saya tanyakan kepada teman saya itu, kapan alat tersebut ada pada saya. Nanti saya hubungi lagi. Tapi Pak Agus mau tidak dengan harga satu juta rupiah?

Sekitar pukul 12.00, saat waktu makan, saya mengantar teman saya di kantor yang lain menuju ATM yang ada di Bundaran Golf Bintaro Sektor 7. Teman saya yang ini menawarkan pinjaman tanpa agunan dan tanpa bunga kepada saya sebagai pembayaran dari pembelian handy camp yang ditawarkan itu. Gembira hati saya. Cita-cita untuk merekam proses, sebentar lagi akan saya dapatkan. Pikir saya.

Sekitar pukul 14.00, teman saya yang lain, guru IT di sekolah kami, pemilik dari http://gurukreatif.wordpress.com/ bertanya kepada saya apakah handy cam-nya sudah didapat? Pertanyaan ini melahirkan sedikit ketidak senangan saya. Lho kok masalah handy camp menjadi bahan yang tidak rahasia lagi? Dari mana Pak Agus tahu saya beli handy cam?

Satu atau dua hari setelah peristiwa tersebut, dengan handy cam yang belum ada di tangan saya meski satu juta rupiah uang pinjaman telah saya sampaikan, tepatnya Jumat tanggal 19 Desember 2003 pukul 09.50 saya ada diantara komunitas sekolah kami dalam assembly. Ini adalah assembly paling terakhir saya sebagai salah satu bagian dari sekolah ini. Dan karenanya, saya diminta untuk berdiri di panggung sebagai perpisahan.

Sebelum Shalat jumat, teman sebelah ruangan saya, yang punya jabatan Junior Primary Principal, meminta saya untuk membuka bingkisan perpisahan disanksikan beberapa teman yang telah berkumpul diruang kantor kami. Mungkin ada sekitar 4 atau 5 orang.

Dan ketika bingkisan saya buka: Handy Cam! Tentu saya girang. Tapi saya masih berpikir beda, lho saya bakal punya dua handy cam? Buru-buru teman sebelah ruangan meminta saya membaca 'surat' yang ditempel di kardus handy cam impian itu (Lihat lampiran yang saya scan).

Terima kasih semua teman di SGJ hingga Desember 2003. Nama Anda terukir indah dalam perjalanan hidup saya. Perintiwa handy cam ini, merupakan drama rekayasa yang sangat dahsyat bagi saya. Terima kasih.

Jakarta, 7 November 2009.

Pensiun?

Sebagai manusia biasa, rasa bosan kadang menghinggapi diri saya. Yaitu perasaan untuk melakukan sesuatu dalam situasi dan kondisi yang rutin dalam rentang waktu tertentu. Dan kebosanan itu sering pula menimpa tidak saja pada suatu kegiatan yang menjadi hobi, tetapi juga dalam menapaki dan menunaikan amanah yang saya jalani dan menjadi profesi yang saya pilih.

Padahal 100 % saya menyadari bahwa, kebosanan ini memiliki implikasi yang tidak sedikit. Misalnya saja soal pendapatan yang menjadi penopang untuk hidup bersama keluarga. Dan alhamdulillah dengan menjadikan poin ini sebagai bahan pertimbangan ketika bosan menjangkiti saya, saya menjadi lebih kuat bertahan. Bertahan menjalani hari-hari yang telah Allah anugerahkan pada saya, yang juga berarti bertahan untuk terus memperoleh rizky-Nya.

Meski demikian, lahan pengabdian baru yang lebih membahagiakan jiwa dan nurani selalu saja menjadi bagian dari masa depan yang harus saya perjuangkan. Bagaimanapun bentuknya itu. Kadang terpikir untuk menerima tawaran sebagaimana yang telah menjadi anugerah Allah di lembaga yang berbeda. Tetapi apa yang saya cari? Dan kadang terpikir juga bagaimana saya mampu membuat sesuatu yang menjadikan orang lain yang ada di sekitar saya sebagai bagiannya. Tetapi keraguan akan kemampuan justru menjadi penghalang untuk melangkahkan kaki memulainya.

Hingga, beberapa waktu lalu SMS dari sahabat yang memberikan balasan atas SMS saya sebelumnya, yang mengabarkan bahwa ia telah 'pensiun' menjadi guru. Ini agak mengagetkan saya. Karena sejak lulus SPG tahun 1984 ia langsung menjadi guru di sekolah favorit di perumahan paling elit di Jakarta Selatan. Bahkan, sejujurnya pada tahun 1985 itu, iri hati sempat bergelayut pada diri saya melihat laju kehidupan yang telah diraih teman saya itu.

Lebih kaget lagi bahwa, teman saya ini juga sedang sibuk mencari pengacara untuk urusan 'pensiun'nya itu. Maka sebagai sahabat saya mencoba untuk menuliskan kalimat empati dan dorongan untuknya.

Mengapa pensiun?


Ya, mengapa pensiun? Kata saya kepada teman saya. Ia menjawab bahwa: Ia menolak untuk menjadi bagian dari lembaganya, yang telah menjadi bagian dari pengamalan ilmunya sebagai guru sejak lulus SPG tahun 1984 hingga Juni 2009 lalu.

Mengapa tidak senang? Karena sebagai guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas harus ia tanggalkan untuk kemudian menjadi sebagai pustakawan. Dan sebagai protes, ia memilih mengundurkan diri.

Saya termenung dengan kisah sahabat tersebut. Beberapa hikmah yang mampu saya cerna dari kisahnya itu antara lain: Pertama, Saya harus belajar untuk tidak mudah menjadi bosan dalam mengemban sebuah amanah. Karena mengemban amanah bagi saya adalah bekerja. Dan bekerja adalah beramal saleh dan menafkahi keluarga. Sahabat saya memang tidak bosan menjadi guru, tetapi ladang amal salehnya sebagai guru sudah pensiun (terputus). Juga nafkah keluarga melalui pengabdiannya selama ini.

Kedua, Saya harus melihat apa yang ingin Allah sampaikan kepada saya melalui seluruh aktivitas dalam setiap kehidupan ini. Dan protes sebagai reaksi dari apa yang sahabat saya lakukan adalah bentuk mengingkari hikmah yang ada di balik menjadi pustakawan. Meski hikmah itu sulit dan kadang pahit.

Ketiga, Semoga saya selalu menyadari siapa saya dalam konstelasi sosial. Baik konstelasi sosial yang bernama sekolah khususnya atau dalam bentuk dan ranah yang lain. Karena hanya dengan pemahaman diri seperti inilah menurut saya yang akan menyelamatkan masa depan kita.

Saya berpikir, jika sahabat saya ini memiliki pemikiran jujur tentang siapa dirinya dalam era yang ada di lembaganya sehingga ia harus menjadi pustakawan, maka ia akan jauh memiliki sifat dan karakter waspada dalam menumbuhkan jiwa dan kompetensi profesionalismenya di bidang yang telah menjadi bagian hidupnya.

Jakarta, 19 November 2009.

05 November 2009

Merasa Paling Benar


Pada sebuah permainan pengisi waktu luang bersama teman-teman satu komplek kontrakan saat masih muda dulu, ada teman kami yang mengemukakan beberapa ketentuan cara bermain sebelum kita memulai permainan tersebut. Misalnya tentang cara menilai, cara menentukan siapa yang menjadi pemenang setelah permainan selesai dan lain sebagainya yang ada di seputar itu (saya sendiri lupa apa yang persis dikemukakan waktu itu).

Namun masalah bukan terletak pada apa yang dikemukakan teman tersebut. Tetapi pada tidak diperkenankannya orang lain untuk juga mengemukakan pendapat. Dengan demikian maka, kami diajak bermain dengan tata cara yang selama ini telah hidup dan melekat pada diri teman saya itu.

Kami menolak. Teman lain meminta dan mengusulkan agar kami melakukan kompromi dalam menentuan aturan mainnya sebelum permainan dimainkan. Yang lain setuju usulan ini. Namun teman saya yang satu ini ngotot untuk menggunakan aturan main sebagaimana selama ini ia main dengan teman-temannya.

Karena dalam kamus teman saya ini, apa yang ada dalam dirinya adalah sebuah kebenaran. Padahal bagi kami, teman saya ini merupakan sosok yang merasa paling benar. Dan merasa paling benar tentu berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Wah!

Dan untuk sebuah permainan kali itu, kami mengalami staknasi.

Cerita di atas adalah ilustrasi betapa masih ada diantara kita yang kadang menutup telinga ketika ada teman yang lain bermaksud memberikan kontribusi pada sebuah pekerjaan bersama. Seperti karakter yang teman saya tersebut lakukan.

Bagaimana dengan situasi dan kondisi dimana sekarang ini kita berada? Apakah masih ada teman, saudara, kolega, yang masih memelihara karakter sebagaimana teman saya tersebut miliki? Dalam kadar yang berbeda, saya meyakini karakter merasa paling benar akan selalu ada dan tumbuh dimanapun dan kapanpun, sepanjang kita hanya menggunaan tata nilai dengan cara pandang ego sentris.

Cara pandang dengan konsep ego ini, akan menghapus eksistensi dan atau kompetensi orang diluar dari diri kita dari peta konstelasi sosial. Ia menghapus kesadaran dan kecerdasan sosial kita. Dan inilah awal mula bagi diri kita dalam menuai ketidakberhasilan. Karena, menurut pendapat saya, catatan sebuah nilai itu dipandang berhasil atau tidak berhasil atau kurang berhasil berada dalam ranah sosial.

Semoga ini menjadi bekal bagi saya pribadi untuk menjadi pribadi yang tidak merasa paling benar.

Jakarta, 5 November 2009.

26 October 2009

Merasa Pintar atau Pintar Merasa?

Dalam sebuah pelatihan yang menghadirkan seluruh guru di sebuah sekolah yang berdiri sejak tahun 1980-an, saya diteror pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan yang justru ingin mempertanyakan esensi dari pelatihan yang diselenggarakan secara in house tersebut. Saya yang kebetulan saat itu berdiri sebagai pembimbing mereka harus berpikir tidak saja apa jawaban yang baik untuk pernyataan dan pertanyaannya tersebut. Tetapi sering justru berpikir; Kemana arah pertanyaan atau pernyataannya itu. Haruskah saya berikan jawaban?

Misalnya ketika kita sedang mendiskusikan tentang model pembelajaran yang lebih mementingkan cara pandang dan cara pikir siswa sehingga siswa menjadi lebih terlibat dalam aktifitas di kelas, mereka justru angkat tangan dan berkata; Apakah kita harus lupakan cara belajar ceramah yang selama ini telah terbukti efektif?
Atau ketika saya berbicara tentang bagaimana melihat sekolah lain maju dan bergerak agresif, oleh karenanya kita sebagai bagian dari sekolah swasta tidak boleh lengah menangkap perubahan dan mengikutinya atau jika memungkinkan menjadi pemulanya, karena itu berarti kita sedang membuat kemungkinan hidup sekolah lebih oanjang dan baik, mereka berkata dengan kalimat yang mantap: Sepertinya kita bukan sekolah yang kekurangan siswa. Sekolah kita jauh lebih kompetitif. Atau jika personal, kata-katanya begini: Saya kayaknya ngak ketinggalan amat.

Maka dalam sesi-sesi berikutnya, hampir semua pertanyaan dan penyataannya, meski tidak semua rekan sejawatnya sepakat, saya mencoba untuk bersabar. Dengan tidak selalu terpancing oleh selakan yang dilontarkan.

Saya justru mencoba memahami apa yang ada dalam benaknya ketika kata-kata pertanyaan, selakan atau pernyataannya itu terlontar. Saya mencoba untuk melihat ke dalam diri saya apakah pernah saya rasakan apa yang mereka rasakan saat ini? Dan menduga bahwa teman kita ini sebenarnya memiliki tolok ukur yang berbeda dengan apa yang sedang saya kemukakan. Karenanya, ia merasa tolok ukur saya tidak mengakomodasi apa yang telah dia miliki, apa yang telah berhasil ia capai. Dan kapasitasnya, profesionalismenya serta juga integritasnya sebagai seorang guru.

Dia mungkin berpikir bahwa parameter yang saya kemukakan tentang model belajar siswa, bagamana guru yang profesional dan bagaimana sekolah yang progresif atau yang lainnya, seolah-oleh tidak meletakkan dirinya, sekolahnya pada bagian yang semestinya. Bahwa ajakan saya untuk ayo maju, seolah tidak melihat bahwa ia atau sekolahnya telah maju. Kita tidak sama dalam melihat parameter dan tolok ukur maju itu.

Inilah yang oleh teman saya yang lain disebut dalam sebuah pernyataan bagus. Yaitu merasa pintar. Dan bukan pintar merasa. Saya tidak sempat bertanya apa yang dia maksud dengan istilahnya itu. Tetapi dalam pemahaman saya, penyakit merasa pintar akan berjangkit bilamana kita selalu fokus pada diri sendiri. Fokus yang begitu berlebihan akan menumbuhkan rasa percaya diri yang berlebihan. Dalam situasi seperti ini kita menjadi mudah melupakan keberadaan teman yang ada di sekitar kita dengan kelebihan dan kekurangannya.

Kapan kita keluar dari zona ini? Manakala kita berani jujur melihat siapa kita dalam koordinat sosial yang ada dan dengan parameter yang orang lain punya. Menjadi jujur dalam konteks atau dalam konstelasi sosial bukanlah perkara mudah. Setidaknya ini seperti apa yang sering sara rasakan dan jalani. Karena dalam posisi ini berarti kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Atau bisa jadi justru kita lebih baik menjadi rendah hati dengan memberikan penghormatan setulusnya kepada lingkungan sosial sekitar dimana kita berinteraksi.

Dengan cara inilah kita menjadi pintar merasa. Dan bukan merasa pintar! Semoga penyakit ini dijauhkan dari dalam hati kita. Amien.

Jakarta, 26 Oktober 2009

24 October 2009

'Kali Cilik' dan Fenomena Alam


Ini adalah gambaran sungai kecil atau dalam Bahasa Jawa Kali Cilik, yang terletak tidak lebih 100 mater dari pekarangan rumah orantua saya di Bagelen adalah salah satu saksi perkembangan kehidupan yang agda disekitarnya. Ia mencatat banyak hal ihwal yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya.

Sungai yang ketika Senin, 19 Oktober 2009 lalu saya singgahi untuk kemudian saya abadikan sebagai tanda pengingat.

Sungai yang mengering ketika musim kemarau panjang seperti sekarang ini dan akan meluap ketika hujan deras datang. Sehingga akan membuat alurnya tidak seperti dulu lagi. Ia akan menemukan jalan baru saat air datang secara deras. Benturan air yang datang dari gunung di sebelah utaranya akan sanggup membawa bongkahan rumpun bambu atau menumbangkan dan menghanyutnya pohon kepala yang ada di bagian tepinya.

Dan di musim kemarau seperti sekarang ini, ketika air mengering, akan menyisakan air dan seluruh isi yang ada didalamnya pada bagian sungai yang membentuk cekungan. Semakin dalam cekungan yang dimiliki maka semakin banyak volume air yang ditinggalkan di sungai yang mengering, yang tentunya semakin banyak penghuni di dalamnya yang terjebak. Ada berbagai jenis ikan tawar di dalamnya. Juga ada kepeting yang mampu bersembunyi di balik lubang yang mereka buat.

Sungai inilah yang membuat kami ketika maih diusia kanak hingga remaja kampung, mampu berenang. Tentu ketika air pasang pada musim hujan. Ini dimungkinkan karena sungai kecil ini, pada batas kampung kami akan bertemu dengan Sungai Bogowonto yang berhulu di Kabupaten Wonosobo dan Magelang dan bermuara di Pantai Congot yang jauhnya lebih kurang 4 kilometer dari kampung kami. Ketika volume Bogowonto pasang naik, maka Kali Cilik yang memiliki arus lebih kecil akan membentuk semacam bendungan. Bendungan temporer ini bisa selebar dan sepanjang sungai dengan kedalaman mencapai 4-6 meter. Bendungan yang membuat kami semua aman berenang.

Tapi dengan perubahan waktu, kami sulit menemukan kembali situasi seperti itu. Ketika kemarau datang seperti saat ini, kita bisa melihat wajah Sungai Kecil kami sepert dalam gambar di atas. Dan ketika hujan sedang berada dalam musimnya, air datang titepi tidak untuk jangka panjang. Hujan deras di wilayah hulu sungai ini mungkin hanya bertahan satu pekan air mengaliri dengan volume cukup. Namun setelah itu, air akan mudah hilang seperti ditelan bumi.

Apakah pegunungan yang ada di hulu sungai kami dibiarkan gundul? Tidak juga. Idul Fitri 2007 lalu, saya dan keluarga sengaja mengisi liburan kami dengan mendaki gunung itu. Dan di dalamnya mendapati pohon mahoni, pohon jati dan albasiah yang berusia 5-7 tahun tumbuh dengan suburnya.

Namun ini fenomena Sungai Kecil yang menjadi tetangga rumah oragtua kami di kampung...

Jakarta, 24 Oktober 2009.

Merawat Jenazah

Merawat jenazah adalah sebagian dari akhir dari sebuah kehidupan. Dan menjadi kewajiban bagi kita untuk memahami secara detil sesuai dengan tuntunan Islam. Meski dalam penyelenggaraan perawatan dan pemakaman tidak menjadi kewajiban seluruh muslim, tetapi pemahaman terhadap pengurusan jenazah seyogyanya menjadiu prioritas kita.

Dari semangat inilah saya membeli buku Merawat Jenazah beberapa tahun sebelum ada diantara anggota keluarga kami yang diambil oleh Sang Pemilik Yang Maha Agung. Buku ini pertama sekali saya lihat saat berkunjung di toko buku Dewan Dakwah yang ada di Jalan Kramat Raya.

Secara sekilas, buku yang saya beli ini sudah saya scanning. Dan saya menemukan perbedaan dengan buku yang pertama kali saya pegang di Kramat Raya. Namun saya mencoba memahami secara garis besarnya. Meski, detil tata caranya saya belum menguasainya dengan baik. Penjelasan yang sama saya juga temukan dalam Ringkasan Hadis Bukhari pada bab Jenazah.

Dan sebelum buku yang menjelaskan seluruh tata krama dan tata cara sesuai syariat yang seharusnya tersebut saya kuasai, Ibu Mertua dan Ayahanda saya lebih dahulu dipanggil Illahi Rabbi. Inna lillahi wa inna illaihi raji'un...

Semoga Allah mengampuni kelemahan saya dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan yang diberikan-Nya. Amien.

Jakarta, 24 Oktober 2009.

22 October 2009

Bapak Tidak Ada

Ya. Bapak berpulang kerahmatullah Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul 20.30 setelah sepekan sebelumnya, Jumat, 9 Oktober 2009, saya dan adik-adik yang dari Jakarta berkumpul di samping pembaringannya di Kuwojo Bagelen Purworejo. Bapak menyampaikan permohonan maafnya kepada kami. Padahal bagi kami sendiri, tidak terbersit sedikitpun akan adanya kesalahan Bapak kepada kami.

Dari sanubari yang paling tulus saya mendoakannya semoga Allah Swt mengampuni kesalahan dan kekhilafannya. Semoga Allah memberikan pengampunan dosanya. Semoga Allah melapangkan kuburnya. Semoga Allah memberikan tempat yang baik di akherat kelak. Amien ya Rabbal 'alamin. Dan semoga kami yang ditinggalkan mendapat ketabahan hati dan pelajaran berharga untuk hidup yang lebih beriman dimasa mendatang. Amien.

Bapak tidak ada tepat 4 hari setelah Ibu Mertua saya berpulang lebih dahulu. Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 05.55 di Jakarta.

Nyaris tidak percaya ketika berita dari kerabat sampai di telinga saya. Meski seyakin-yakinnya bahwa itu pasti terjadi. Dan kala pertama menerima kabar, saya meyakinkan diri saya sendiri: Apa langkah berikutnya yang harus saya ambil?

Itu pulalah pada saat kabar pertama datang dari Adik bahwa kondisi Bapak menurun drastis, saya bertanya kepada adik apa saja yang sedang dilakukan? Maklum ini pertanyaan untuk membuat saya yakin bahwa kondisi terkendali. Mengingat Bapak ada di Purworejo, sedang saya dan dua saudara lainnya berada di Jakarta.

Adik segera meminta tenaga medis yang ada di kampung kami untuk datang dan memberikan pendapat tentang keadaan Bapak saat itu. Seperti biasa, sejak lebih kurang 2-3 tahun belakangan ini kami menyediakan oksigen di rumah. Dan hampir satu bulan terakhir, Bapak menggunakan oksigen tersbut nyaris tanpa henti. Dan Pak Mantri yang ada di kampung kami memberikan beberapa tanda-tanda yang mungkin akan terjadi. Adik bungsu saya menyimak dengan seksama.

Dari Jakarta, saya meminta tolong agar supaya Mamak dan Adik untuk tidak meninggalkan Bapak sendirian. Hingga akhirnya datang telpon dari Adik saya yang lain, yang mengabarkan bahwa Bapak tidak ada.

Waktu sangat cepat. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan Jakarta pada pukul 22.00 pada hari itu, dua setengah jam setelah berita pertama saya terima tentang Bapak, menuju kampung kami dimana kami dibesarkan oleh orangtua kami. Di Desa Kuwojo Bagelen Purworejo Jawa Tengah.

Satu kenangan yang masih sangat jelas dalam ingatan saya adalah kala Bapak membelikan saya dan Adik laki-laki saya yang lain, baju batik motif bunga dengan warna cokelat muda di Pasar Punggur, Metro, Lampung menjelang Idul Fitri, saat usia kami menginjak di kelas 4 dan 5 sekolah dasar. Sebuah kenangan sangat indah. Mengingat Punggur adalah kota kecamatan yang harus kami tempuh lebih kurang 45 menit berkendara sepada dari Sritejo Kencono tempat kami tinggal dengan jalan yang masih tanah pada waktu itu.

Selamat tinggal Bapak...

Jakarta, 22 Oktober 2009.

14 October 2009

Terlambat Mengumpulkan Tugas

Saya yakin bahwa kita semua pernah mengalami peristiwa seperti ini. Terlambat mengumpulkan tugas. Baik saat dulu kita menjadi siswa atau bahkan saat sekarang kita sebagai pegawai. Tapi tunggu dulu, tugas terlambat kita kumpulkan bisa jadi karena kita memiliki alasan yang tepat selain karena perencanaan kita yang kurang matang dalam menyelesaikannya. Alasan inilah yang menurut saya harus selalu menjadi pertimbangan ketika kita sekarang pada posisi sebagai guru atau atasan yang akan menerima tugas-tugas tersebut.

Demikianlah setidaknya apa yang saya pernah alami, baik ketika menjadi guru, menjadi kepala sekolah atau ketika sekarang ini saya diamanahkan untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Keterlambatan ini masih sering saya jumpai. Tugas mengumpulkan revisi perencanaan untuk program sekolah tahun berikut, tugas untum mengumpulkan hasil rekapitulasi prestasi seluruh siswa atau tugas-tugas yang lain.

Untuk mengurangi keterlambatan, saya selalu membuat tenggat waktu. Dan sebelum tenggat yang telah ditentukan, hampir selalu saya mengingatkan teman yang saya tugasi tersebut dengan cara bertanya sudah sampai dimana tugas yang saya inginkan tersebut diselesaikan. Banyak teman yang telah merampungakan tugas yang diberikan tersebut dan memberikannya kepada saya saat saya mengingatkan. Ini dilakukan karena teman yang menerima tugas tersebut selain memiliki komitmen terhadap kewajibannya juga memang orang yang sadar bekerja.

Sadar bekerja artinya selalu menyatu antara jiwa dan raga pada setiap melakukan aktivitasnya di kantor. Kesadaran ini membentuk integritas kepribadian untuk menjadi lebih fokus dan lebih menghayati tentang apa yang dilakukannya. Ini bentuk manusia sukses, menurut saya.

Tapi masih ada juga teman yang kadang ketika tenggat sudah habis dan diminta tugasnya, justru berargumen: Maaf Pak, saya masih sibuk mengerjakan yang lain. Kalau alasan ini hanya dipakai sekali saja, saya memahami dengan setulus hati. Namun ada jenis teman yang nyaris menggunakan ini sebagai alasan ketika tugas-tugas yang diberikannya belum kelas. Dan saat itulah saya berpikir, kok justru saya yang tidak pernah merasa sibuk ya? Oleh karenanya saya jadi merenung dan berprasangka; jangan-jangan saya salah memberikan tugas. Atau bisa jadi saya menugasi orang yang semestinya tidak melakukannya?

Dan jika prasangka itu tidak tertahankan, saya akan memberikan tugas tersebut kepada teman yang lain, atau bahkan sering saya sendirilah yang mengerjakan dan menuntaskannya. Meski dengan demikian akhirnya saya membatin juga: Masih perlukan saya dengan teman yang punya model seperti ini?
Jakarta, 14 Oktober 2009

08 October 2009

Permohonan Maaf dari Bapak


Pagi hari Kamis, 8 Oktober 2009 pukul 10.00, melalui telepon dengan perantara Mamak saya, Bapak saya yang lemah karena usia dan kesehatannya yang terganggu menyampaikan permohonan maaf kepada anak-anaknya, termasuk saya, sisulungnya yang sedang memegang telepon.

Mamak saya menyampaikannya dengan suara yang tidak utuh lagi karena dibebani kesedihan. Saya mencoba untuk mengetahui lebih jauh berkenaan dengan kondisi Bapak sehingga beliau harus menelpon saya. Namun tekanan suaranya tidak mengijinkan bagi saya selain saya harus berjanji untuk segera memberikan kabar kepastian saya menengok Bapak.

Mengingat saya tinggal di Jakarta dan orangtua saya tinggal di Purworejo Jawa Tengah. Saya harus berbicara dengan istri dan membuat pertimbangan siapa saja yang harus pulang. Akhirnya siang itu juga saya bulat untuk sesegera mungkin menuju termilnal bus antar kota. Armada ini saya pilih selain praktis juga ringan biayanya.

Saya segera mengirim sms dan berbicara dengan adik untuk memberitahukan posisi terakhir saya. Dalam perjalanan, saya mencoba menghitung beberapa kemungkinan yang akan saya hadapi esok hari setibanya saya di kampung halaman. Tentu selalu dipenuhi doa dan harapan.

Foto ini adalah foto kali terakhir Bapak ketika masih mampu berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di Purworejo atau Kebumen sekitar tahun 2007 awal. Setelah perjalanan ini, liburan kami di Purworejo selalu tanpa Bapak ketika menengok Bu De dan Bu Lek. Bapak terlalu lelah jika berkendara. Meski hal itu saya coba untuk senyaman mungkin. Fisiknya cepat merasa capai. Napasnya sering dibantu dengan oksigen.

Permohonan maaf Bapak kali ini adalah untuk kali kedua. Karena pernah beliau harus dilarikan di Puskesmas dengan masalah yang relatif sama pada 26 Desember 2007 yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha. Namun saat itu posisi saya ada di Makassar bersama Al Biruni pada acara pelatihan guru. Dan setelah sampai Jakarta, saya lanjut dengan bus malam menuju Purworejo. Kali itu, Bapak masih cukup baik dan sehat untuk berkomunikasi. Tidak seperti yang saya temui pada Jumat, 9 Oktober 2009 ini.

Dan selain keikhlasan saya untuk memaafkan apa yang menjadi kekhilafan beliau, saya selalu berharap yang terbaik untuk Bapak. Yaitu mendapatkan ampunan Allah atas khilaf dan salah beliau. Mendapatkan hidayah Allah dan khusnul khatimah. Amien ya Allah.

Jakarta, 13 Oktober 2009.

07 October 2009

Mutasi dan Promosi

Mungkin ada yang alergi dengan kata mutasi. Karena kata ini berkait erat dengan penghukuman yang dialami seorang pekerja. Sebaliknya, ada kata yang disenangi oleh pekerja, yaitu promosi. Karena kata ini berkait dengan keberhasilan seseorang sehingga perlu jenjang yang lebih tinggi. Dan dalam konstelasi sosial dan tempat kerja tertentu dua kata itu menjadi kata ajaib.

Namun bagi saya, mutasi adalah harapan. Apalagi promosi. Saat menjadi guru, saya berharap untuk mendapat mutasi. Ini karena saya sudah bosan (Supaya dikira keren bisa dibaca: merasa stagnan) dengan situasi yang itu-itu saja untuk sekian lama. Jadi dengan mutasi tersebut saya berharap memperoleh suasana baru dan tentunya masalah yang berbeda pula. Tapi apa hendak dikata, karena sejak dari awal saya mengajar di lembaga pendidikan swasta, maka kata mutasi ini jarang menjadi bahan perbincangan. Apa lagi dilaksanakan. Harap tahu, bahwa semua lembaga pendidikan swasta yang pernah saya huni sebelumnya, adalah lembaga pendidikan swasta yang belum punya filial.

Mengapa mutasi dan promosi menjadi harapan bagi saya? Karena dua kata ini yang memungkinkan saya menerima sesuatu yang baru. Baru situasinya. Baru tantangannya. Baru problematikanya. Baru model dan cara menjadi gurunya. Dan selain etos kerja yang akan menjadi menu saya berikutnya tentunya juga baru pendapatannya.

Dan karena sebagai pegawai swasta, maka mutasi dan promosi tidak hanya menjadi pilihan atasan atau siapapun yang berada diluar diri kita. Sebagai guru di lembaga pendidikan swasta, mutasi dan promosi adalah hak bagi saya sendiri, kapanpun ketika ada peluang dan kemauan. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang memungkinkan bagi kita untuk pengembangan diri.

Dan mutasi dan atau promosi sebagai pengembangan diri, baik dalam satu lembaga ataupun harus bermigrasi ke sebuah lembaga yang lain, adalah sebentuk keberanian untuk memperbesar dan memperlebar peluang di masa depan. InsyaAllah.

Jakarta, 7 Oktober 2009

01 October 2009

Mewakili Kepala Sekolah Rapat


Sebagai guru muda, di sekitar tahun 1988, saya diminta oleh Kepala Sekolah saya waktu itu, yang kebetulan berusia 4-5 tahun lebih tua dari saya, untuk mewakili rapat dinas Kepala Sekolah di rayon kecamatan. Kegiatan ini berlangsung tidak hanya sekali.

Mewakili Kepala Sekolah rapat pada saat setiap Kepala dan Wakil Kepala Sekolah saya kurang sehat sehingga berhalangan hadir di sekolah, dan kebetulan pada waktu yang sama ada undangan rapat dinas K3S (kelompok kerja kepala sekolah).

Saya tidak mengetahui apa yang menjadi motivasi atasan saya waktu itu memilih saya sebagai wakil mereka. Karena jika dihitung dari usia dan masa kerja, saya tergolong guru muda yang belum cukup waktu untuk diorbitkan. Oleh karenanya saya menjalani amanah itu selayaknya ketika memegang amanah sebagai ketua panitia di sekolah.

Saya tidak menganggap hal ini sebagai pengkaderan, maka ketika ada guru yang merasa lebih 'pantas' menggantikan posisi saya sebagai wakilnya Kepala Sekolah dalam rapat K3S membahas hal ini secara informal di ruang guru, tidak ada rasa tersinggungpun sedikitpun. Belakangan saya paham betapa tidak enaknya menjadi mereka. Ketika Kepala dan Wakil Kepala Sekolah berhalangan mengapa bukan the next leader yang diminta menggantikannya?

Saya nikmat-nikmat saja. Mungkin teman lain yang menganggap diri mereka lebih pantas akan menilai ini sebuah bentuk pilih kasih. Tapi saya pribadi toh tidak menjadikan ini sebagai gangguan dalam beraktivitas dimasa berikutnya.

Dari sinilah saya belajar dan tahu apa itu organisasi K3S, Kelompok Kerja Kepala Sekolah. Belajar bagaimana Pengawas Sekolah atau saat itu disebut sebagai Penilik Sekolah memimpin setiap rapat. Belajar bagaimana para Kepala Sekolah dari sekolah lain bertemu dan berdialog sepanjang rapat berlangsung. Belajar bagaimana aura kerja mereka sebagai pemimpin di sekolah mereka masing-masing, baik yang sekolah negeri atau swasta seperti sekolah saya. Dan pastinya belajar istilah-istilah yang berkenaan dengan kedinasan serta hal ihwal di Depdikbud (sebelum berganti menjadi Depdiknas).

Dan ilmu pengetahuan itu saya rasakan manfaatnya ketika sembilan tahun berikutnya saya menjadi ban serep untuk menggantikan Kepala Sekolah saya yang resign pada tahun 1997. Sebuah rentetan sejarah yang sinergis.

Dari sinilah saya memetik pelajaran untuk tidak pernah menolak pekerjaan apapun yang diamanahkan. Karena atasan yang baik selalu menakar antara beban yang akan diamanahkan dengan kompetensi kita. Dan ketika amanah tersebut telah kita pegang, maka tunaikan secara total.

Saya juga mensyukuri keberanian atasan saya waktu itu untuk memberikan kesempatan kepada saya mewakilinya dalam rapat dinas. Saya tahu keberaniannya itu melahirkan prasangka.

Jakarta, 1 Oktober 2009

30 September 2009

Warung Ibu Gun

Saya sudah tidak tahu lagi apakah Warung Ibu Gun sekarang ini masih ada atau sudah pindah atau justru sudah berkembang membangun ruko. Karena saya sendiri terakhir kali mengunjungi warung itu, sebagai kebiasaan saya dan teman-teman sekantor, adalah pada tahun 2003 yang lalu. Dengan perkembangan pemukiman yang begitu pesat, saya tidak yakin lagi akan keajegan dari penampilan warung itu. Maksud saya, apakah warung itu tetap menjadi bagian dari teman-teman yang masih bekerja di sekitar itu.

Kami mengunjungi hampir setiap waktu disaat makan siang. Selain jus yang segar, warung itu juga menyediakan gudeg dengan cita rasa Yogja. Namun selain dari menu yang tersedia di sana, pertemuan antara kami di tempat itu dengan suasana bebas, justru yang menjadi seru. Seolah menu itulah yang paling utama.

Kami bisa bercengkerama tentang apa saja termasuk tentang hal yang ada diluar kerjaan. Bahkan ngrumpi atau sering juga sebagai bagian dari rapat informal. Artinya, materi rapatnya bisa formal sekali tetapi dalam situasi dan tempat yang informal.

Pernah juga sebagai tempat curhat. Baik curhat diantara kami sesama teman kerja atau pernah juga sekali suami Bu Gun yang curhat tentang masa lalunya yang PNS di BPK RI. Yaitu bagaimana beliau bekerja dibawah Bapak M Yusuf selaku ketua BPK kala itu. Tentang kebenaran dari apa yang diceritakan kepada kami, Allahu a'lam.

Pernah pula saya menyampaikan kata-kata pedas kepada teman ketika teman tersebut telah keluar dari tempat kerja dimana kami waktu itu masih berada dan bertemu kami saat makan siang di Warung Bu Gun. Pertemuan yang menyenangkan semestinya. Tetapi menjadi pertemuan yang mambuat kami jengah hanya karena teman saya itu menjelek-jelekkan apa yang dirasa kurang di bekas tempat kerjanya dihadapan kami.

Meski kami sendiri juga sebagai karyawan dan bukan pemilik kantor, tapi perilaku merendahkan mantan kantornya sendiri, menurut saya pribadi, adalah sebuah budi perkerti yang buruk. Disaat seperti itulah saya berkomentar pedas kepadanya. Karena saya meyakini bahwa apa yang ada pada kita sekarang ini antara lain adalah kontribusi masa lalu.

Dan sekelimut masa lalu saya, antara lain adalah kontribusi dari cengkerama antara kami di Warung Bu Gun tersebut.

Jakarta, 30 September 2009.

Memilih KS dengan Diskusi Panel

Dalam sebuah wawancara untuk menentukan siapakah yang akan menggantikan jabatan kepala sekolah atau wakilnya, yang kebetulan penjabatan sebelumnya mengundurkan diri, saya dan teman-teman selalu mengajak komunitas sekolah tersebut berdialog. Dialog inilah yang kemudian kita formulasikan sebagai diskusi panel. Kita sebut demikian karena peserta dialog tidak hanya terdiri satu orang. Tetapi lebih dari satu. Maka kita sebut panel.

Kandidat yang menjadi peserta diskusi adalah para guru yang memiliki reputasi dan kinerja baik, yang, katakanlah telah lulus uji administrasi. Forum itu menjadi sebagai pengayaan bagi kami untuk membuat kami yakin kepada siapakah amanah akan disandarkan.

Pelaksanaan diskusi kami lakukan saat sebelum kepala sekolah meninggalkan kami. Sehingga ia merupakan bagian dari panel tersebut.

Kami akan berbicara tentang sekolah, tentang persaingan dengan seklah lain karena kami adalah sekolah swasta, tentang guru, tentang bagaimana pembelajaran berlangsung di kelas, tentang pembelajaran karakter, tentang masyarakat sekolah lainnya seperti orangtua siswa. Komplit. Dan karena begitu luas bahan yang menjadi pembahasan dalam diskusi, maka jatah waktu yang semestinya satu jam bisa diperpanjang. Fleksibel.

Dalam diskusi ini, kami banyak menemukan mutiara yang kadang selama ini tidak muncul dipermukaan. Mutiara inilah yang nantinya menjadi bahan kajian kita selanjutnya. Kita juga bisa menangkap model manajemen seperti apa dari para peserta diskusi. Namun untuk menentukan satu dari sekian pilihan yang ada, kami masih melanjutkan diskusi internal.

Diskusi internal adalah diskusi tentang hasil dari diskusi panel para kandidat. Peserta diskusi ini adalah kepala sekolah yang akan meninggalkan kami ditambah pihak yayasan. Saya biasanya akan bertanya kepada kepala sekolah yang akan meninggalkan kami:

Dari kandidat yang Ibu rekomendasikan dan telah mengikuti diskusi panel tadi, apa pendapat Ibu tentang mereka masing-masing?

Dan sebelum diskusi ditutup, biasanya kami telah memperoleh gambaran siapa dari orang yang ada tersebut untuk menggantikan kepala sekolah yang resign.

Pola pemilihan kepala sekolah seperti ini, berdasarkan pengalaman kami, lebih memberikan ketenteraman dalam perjalan sekolah berikutnya. Bila dalam perjalanan masih ditemukan beberapa hal yang mengganjal, kami biasanya memberikan dorongan dalam bentuk dialog dan pertemanan sebelum penilaian kinerja.

Jakarta, 05 November 2009.

27 September 2009

Penilaian dan Pengembangan Diri


Self assessment atau penilaian diri, menjadi bagian penting dalam rangka pengembangan diri atau pengembangan lembaga sekolah. Termasuk pula dalam proses akreditasi sekolah, penilaian diri adalah prasyarat sebelum visitasi dilakukan oleh asesor.

Namun penilaian diri yang dilakukan diri sendiri seringkali membuat diri kita kurang berkata apa adanya. Tentu tidak sampai pada titik tidak apa adanya. Padahal jika penilaian diri itu berkait dengan pengembangan diri atau pengembangan sekolah berikutnya, maka penilaian diri adalah acuan kemana kita akan bergerak tumbuh.

Maksudnya, dalam kerangka pengembangan diri atau lembaga yang didahului dengan self assessment, maka temuan dari penilaian diri itu adalah bahan masukan bagi arah pengembangan berikutnya. Semakin jujur kita dalam melakukan, memberikan dan membuat penilaian diri, maka semakin valid dan reliabel data yang dibutuhkan bagi arah pengembangan berikutnya. Demikian pula sebaliknya.

Oleh karenanya, seberapa tuluskah kita ketika berhadapan dengan penilaian diri dalam semua kebutuhan baik yag menyangkut diri atau lembaga?

Tulisan ini memberikan satu bentuk perilaku yang kadang menjadi hambatan bagi langkah pengembangan diri atau lembaga. Paling tidak seperti apa yang pernah saya alami di beberapa lembaga yang selama ini menjadi sahabat saya dalam menumbuhkan diri. Hambatan itu bermuara pada tingkat ketulusan untuk berkata apa adanya. Motivasi utamanya bagi kita untuk tidak mengemukakan apa adanya tentang diri kita adalah karena harga diri.

Kadang, dalam sebuah proses penilaian diri, ada dalam benak sebagian kita yang mendorong kita untuk tidak terlalu vulgar. Tidak terlalu apa yang ada ya itu yang ditulis atau dikemukakan. Hal ini mengingat kerahasiaan diri atau lembaga. Karena jika dalam komponen dan aspek pinilaian diri tersebut saya menuliskan apa adanya tentang saya, tentang lembaga dimana saya berada, bukankah itu merupakah hasil penilaian saya? Yang berarti bahwa atasan atau lembaga penilai akan mengetahui siapa saya? Siapa kita? Dan jika pengetahuan ini dimiliki bukankah ini justru akan berimplikasi pada citra tidak baik tentang saya? Tentang kita?

Maka untuk alasan pengembangan diri atau pengembangan lembaga sekalipun, yang membutuhkan data valid tentang saya atau tentang kita hari ini, saya atau kita perlu berlaku sedikit menjaga harga diri dengan tidak serta merta mengatakan saya atau kita seperti apa adanya.

Padahal sekali lagi, bagi sebuah pengembangan ke arah yang lebih maju, kejujuran dalam mengatakan dan mengetahui telah sejauh mana saya atau kita berjalan adalah unsur yang paling utama. Dan tanpa kejujuran serta ketuluan pada unsur ini, pengembangan akan selalu menjauhkan kita dengan realita yang ada.

Oleh karenanya, perlu kita semua sadari bahwa, penyakit ini lebih sering terjadi pada kita yang telah terlanjut establis. Dan inilah saat dimana kita harus selalu menakar diri dengan satu kalimat tanya: Berada dimanakah zona aman kita? Bagimanakah dengan apa yang ada pada kita sekarang ini?
Mintalah sahabat memberikan jawaban. Atau lihatlah bagaimana lingkungan memberikan tanda-tanda pada diri kita. Meski itu juga perlu sebuah perjuangan untuk jujur dan tulus...


Jakarta, 24 September 2009/5Syawal 1430H.

Mudik: Berebut Tempat untuk Tidur

Bagi pemudik, menjadi bagian dari sebuah kemacetan panjang yang memakan waktu dan menguras tenaga, sungguh-sungguh membutuhkan kesabaran, ketabahan, ketahanan dan stamina yang luar biasa. Namun kemudian akan menjadi cerita tersendiri saat kita berjumpa saudara ketika sampai tujuan. Itu antara lain yang saya dengar dari beberapa saudara dalam perjuangannya untuk menunaikan silaturahim dan reuni mudik Idul Fitri.

Ya saya dengar dari cerita saudara. Karena mereka berangkat selalu mepet dengan hari Idul Fitri 1 Syawal. Sedang saya, karena harus bersilaturahim dengan Ibu dari pihak istri yang ada di Jakarta, maka selalu menunaikan mudik setelah 1 Syawal. Dan terjebak macet yang tidak terlalu berarti. Tapi setelah semua bertemu di kampung halaman, kisah itu menjadi bumbu dari keseluruhan kisah perjuangan.

Kami sama-sama melihat fenomena tersebut sebagai romantika yang selalu siap kami tempuh pada mudik tahun berikutnya. Tak akan pernah kami kapok malakoni mudik satu milimeter pun!

Siang hari di kampung di masa mudik, kami selalu bercengkerama dengan sanak famili dan handaitualan yang mungkin setahun lalu kami terakhir bertemu. Hampir penghuni di satu kampung kami adalah bersaudara. Kami memanggil mereka dengan sebutan Mbah (simbah atau kakek), Pak dan Bu De, Pak dan Bu Lek (paman atau tante), Kakak, Adik dan mungkin juga cucu. Kamipun dipanggilnya Mbah, Pak De, Om, Mas, atau Adik. Butuh waktu khusus untuk benar-benar menyelesaikan seluruh kunjungan.

Dan karena istri sejak lahir tinggal di kota, biasanya kami akan pergi ke kota sebagai penutup hari itu.

Dan untuk memastikan seluruh anggota keluarga yang berkumpul terjamin konsumsinya, maka orangtua dan sebagian dari kami mengambil bagian untuk berjibaku memasak. Orangtua selalu menawarkan untuk memotong ayam atau peliharaan lain. Sedang kami yang datang dari kota akan meminta dipetikkan daun singkong dan kadang pula minta direbuskan gembili yang kami dapat di pasar (yang hanya buka dengan ketentuan hari). Boleh dikata, bagian dapur adalah bagian yang selalu sibuk hampir sepanjang hari.

Di malam hari, anak-anak kami yang sudah remaja kadang akan membuat makanan dari ayam bakar. Mereka akan memiliki pengalaman menyembelih ayam, membersihkan ayam dari bulu dan kotorannya, membuat bumbu, membuat perapian, dan membakarnya. Tentu dibawah panduan dari Om-nya yang tinggal di kampung.

Hari belum berakhir hingga kami semua disibukkan mencari tempat tidur. Dan bagi yang terlalu asyik ngobrol di depan tv, sangat boleh jadi dia akan sulit untuk mencari tempat mengistirahatkan badannya. Seluruh tempat di rumah kami nyaris terisi penuh. Kami tidak bicara dimana kamar yang kosong. Mengingat rumah orangtua kami hanya memiliki 5 bilik yang dapat dikatakan sebagai kamar. Dan tempat itu sudah ada jatah kepemilikannnya masing-masing. Kesulitan mendapatkan tempat tidur ini bagi keluarga kami memang khas masalah laki-laki, karena seluruh kamar menjadi jatah kaum hawa.

Inilah situasi mudik di rumah orangtua kami di Bagelen, Purworejo Jawa Tengah. Tapi ini yang selalu membuat kami rindu. Idul Fitri, adalah waktu yang membuat itu semua terjadi...

Jakarta, 24 September 2009/5 Syawal 1430 H.

Refleksi Sebuah Reuni


Ada hubungan erat antara Idul Fitri dan Reuni. Paling tidak ini yang saya alami. Karena dalam dua kali Id saya ikut dalam perhetan reuni. Id 2008 saya hadir dalam reuni sekolah. Dan Id 2009 saya ikut reuni tempat kerja.
Id 2008 atau 1429 H, kami berkumpul di sekolah pendidikan guru (SPG) Bruderan di Purworejo dalam rangka reuni, atau saya lebih suka menyebut sebagai silaturahim. Saat itu tepat tanggal 7 Oktober 2008 yang juga Id hari ke-7. Panitia berpikir akan banyak yang akan datang jika bersamaan dengan waktu Idul Fitri. Benar saja, menurut pengakuan beberapa teman yang lebih dari sekali datang saat reuni, reuni tahun 2008 adalah reuni yang paling berhasil mengumpulkan banyak alumni untuk datang. Sebelumnya, reuni diselenggarakan pada saat leburan sekolah diluar hari Idul Fitri.

Ya, bagi saya sendiri, sebagai bagian dari orang yang dibesarkan di kampung, dan orangtua masih lengkap dan setia dengan kampung halamannya, pulang bersilaturahim pada hari Idul Fitri adalah sebuah dorongan yang luar biasa dahsyatnya. Dan karena di Jakarta juga tinggal seluruh keluarga Istri, maka pulang selalu di Id hari ke-2 atau ke-3. Sehingga kemacetan sudah berlalu. Terlebih pada Id tahun 2008 kala itu.

Banyak teman yang membuat saya harus melakukan tebak muka. Karena kami terpisah oleh waktu lebih kurang 24 tahun. Diamana sebagaian kami tidak saling berjumpa lagi setelah kami lulus pada Juni tahun 1984.

Namun saat itu ada juga rasa menyesal, karena ada diantara sahabat kami yang tidak atau berhalangan atau bahkan ada dengan sengaja tidak menghadiri penggilan persahabatan dalam reuni itu.

Saya Gus, tidak peduli meski baru saja diangkat sebagai PNS setelah menjadi honor selama nyaris 2o tahun! Dan mungkin diantara teman SPG, sayalah yang paling belakangan menerima pengangkatan. Tapi saya datang. Karena momen ini adalah momen persahabatan. Saya tidak akan malu kepada sahabat bahwa saya yang paling terakhir diangkat. Itu yang ada dipikiran saya. Sedang mereka (teman yang tidak hadir dalam reuni), merasa malu karena masih naik sepeda motor (...).
Tutur sahabat karib saya, Saridi, yang tinggal di Krendetan, Bagelen, Purworejo.

Apa yang disampaikan teman saya itu, menjadi sebuah refleksi bagi saya setelah pertemuan di aula sekolah kami tahun 1981-1984 itu. Saya berpikir bahwa, kadang kita masih terperosok pada fenomena siapakah saya. Sehingga karena saya belum menjadi siapa-siapa, maka lebih baik saya menunda bertemu sahabat.

Padahal, dalam persahabatan yang dilandasi rasa tulus pertemanan, siapa saya menjadi tidak berharga.

Demikian pula dengan reuni saya pada Id 1430 H atau 2009. Jauh hari sebelum Ramadhan datang, ada sahabat saya dari UK yang kebetulan mudik mengajak kita bertemu di sebuah warung yang ada di Mal di daerah Cilandak Jakarta Selatan. Saat itu disepakati kalau kita akan bertemu kembali saat buka puasa di almamater kita di Bintaro. Tetapi hingga sahabat kami kembali ke UK, undangan itu tidak terjadi juga. Hingga pada akhirnya seorang dari kami berprakarsa untuk silaturahim bersama di rumah yang saya tempati di Slipi.

Dan dari pertemuan kami, ada rasa tulus. Yang adalah tali persahabatan untuk selalu mengikat pertalian kita bersama. Dan pertemuan dengan berbagi cerita tentang perjalanan kami masing-masing akan menguatkan persahabatan berikutnya.

Cipete 3, Cilandak, Jakarta Selatan, 27 September 2009.

10 September 2009

Cerita Alumni


Setelah sekolah memasuki beberapa pekan di tahun pelajaran ini, datang beberapa alumni sekolah kami yang kangen dengan teman-teman sekolahnya, yang terpaksa harus berpisah karena mereka melanjutkan ke sekolah yang berbeda-beda. Juga kangen dengan Bapak dan Ibu Gurunya serta dengan atmosfer sekolahnya yang sudah menjadi kenangan.

Ya, setelah harus melanjutkan ke sekolah lain, mungkin diantara mereka ada perasaan kehilangan. Beginilah awal-awal mereka berpisah dengan teman satu kelas selama lebih kurang tiga tahun.
Maka bertemulah kami dengan mereka yang sekarang sudah mengenakan pakaian seragam berbeda. Banyak cerita mengalir dari apa yang telah mereka alami di sekolah baru. Tentang jumlah siswanya satu kelas yang lebih dari 25, tentang 'kehangatan' gurunya ketika bertegur sapa dengan siswanya, tentang wcnya, tentang cat sekolah barunya, bahkan tentang bagaimana pelajaran berlangsung di dalam kelasnya. Mereka, para alumni ini bercerita dan menyita perhatian kami sebagai mantan gurunya.

Bu, saya punya cerita aneh. Kata salah satu dari mereka. Kami semua memperhatikan cerita aneh macam apa yang akan ia sampaikan.

Ada pelajaran Bahasa Inggris, dan guru meminta kita untuk membuat greeting. dalam 10 menit saya telah menyelesaikan tugas itu. Karena saya anggap ini pelajaran gampang sekali. Maka setelah selesai, saya diam saja. Lalu guru bertanya: siapa yang beum selesai? Salah satunya adalah teman yang duduk di depan bangku saya. Dan benar. Anak itu asli belum selesai. Padahal tahu ngak Bu, teman yang belum selesai itu nilai UN-nya jauh lebih tinggi dari saya. Kok saya yang lebih jelek nilai UNnya justru mudah saja mengerjakan tugas itu. Jadi aneh kan Bu? Begitu cerita menggebu-gebu alumni kami ini. Kami diam sejenak.

Nah, itulah kejujuran. Nilai kamu yang lebih rendah itu adalah nilai asli kamu. Jadi kamu harus mensyukuri bahwa sekolah kita ini adalah sekolah yang berprinsip jujur dan terhormat. Dan kamu telah membuktikannya dengan nilai ujian asli. Oleh karenanya, pegang teguh prinsip hidup untuk selalu berlaku jujur dan terhormat. Kata salah satu dari kami tidak kalah semangatnya.

Masih banyak cerita ajaib lainnya yang disampaikan alumni itu kepada kami semua. Namun sekelumit cerita tentang nilai itu, cukuplah bagi kita untuk melihat bagaimana kejujuran masih menjadi barang yang selalu berharga untuk terus diperjuangkan.

Ini karena, meski pada saat Ujian Nasional yang diawasi dan dipantau oleh pihak independen, tetapi indikasi tidak jujur terus saja masih terjadi. Dan untuk menjadi jujur dan tidak jujur, itu semua kembali kepada kita sebagai insan pendidikan bagi generasi masa depan bangsa. Insan yang mempunyai peran paling sentral dalam menegakkan nurani dan nilai luhur kehidupan.

Pulomas Jakarta, 10 September 2009.

08 September 2009

Guru yang Beda

Ada pengalaman menarik yang membuat saya saat itu, Maret 1996 lalu, terperangah. Yaitu saat diajak keliling, Pak Joni, sekretaris di sekolah tersebut, yang mengajak dan mendampingi saya untuk berkeliling, menyebut apa yang sedang kami jalani dengan kata touring untuk melihat kelas-kelas yang ada sebelum saya akhirnya saya di interview untuk posisi menjadi guru di sekolah tersebut.
Terperangah, karena baru kali pertama saya melihat sebuah sekolah yang setiap dinding kelas, dinding koridor sekolah, dan seluruh wilayah yang terbuka diberi papan pajangan yang dipenuhi oleh tempelan karya siswa. Banyak sekali papan pajangan itu menggugah saya dan mengajak saya berpikir; Bagaimana para guru mengajar dan melakukan ini semua di sekolah ini? Sebuah pertanyaan lugu yang apa adanya.
Lugu karena saya sendiri guru yang berada dalam ranah yang berbeda dengan apa yang ada dihadapan saya kala itu. Saya kemukakan pertanyaan lugu saya itu, dan diberikan gambaran bahwa guru di sekolah ini mengajar dengan pendekatan dan metode yang berbeda.
Jawaban yang mestinya memberikan sedikit gambaran tersebut masih tetap belum memberikan penjelasan. Harap Anda maklum, bahwa saat touring tersebut saya sudah didewasakan selama 11 tahun sebagai guru kelas di tingkat sekolah dasar. Maka gambaran pendekatan dan metode yang berbeda, belum memberikan gambaran konkrit seperti apa berbedanya.
Dan selama 11 tahun tersebut, saya di kelas dengan 40 siswa, akan memberikan penjelasan terhadap materi pelajaran dan diakhir sesi siswa akan saya berikan soal latihan. Demikian pula jika materi pelajaran yang ada dalam satu bab telah selesai, maka saya akan membuat soal ulangan untuk mereka. Begitulah rutinitas saya mengajar sebagai guru kelas.
Tentang pajangan? Di kelas saya memiliki gambar Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden serta Pahlawan Nasional. Gambar-gambar itu hampir tidak berganti sepanjang tahun atau bahkan lebih dari itu. Dan sekarang? Seluruh dinding pajangan dipenuhi karya siswa.
Bagaimana pendapat Bapak tentang sekolah kami? Tanya Pak Carl di ruang interview. Saya menjawab jujur; Luar biasa!
Jawaban jujur saya tersebut, harap dimaklumi mengingat pada tahun 1996 kala itu, sekolah itu adalah bentuk sekolah yang total berbeda dengan apa yang sudah kami jalani sebagai guru. Dimana kami juga mengikuti pelatihan tentang bagaimana membuat tema, bagaimana belajar dengan CBSA, juga bagaimana Bapak dan Ibu guru membelajarkan siswanya di SD N di Cianjur yang menerapkan CBSA tersebut, namun semua itu belum mampu memberikan kompetensi dan keterampilan bagi saya untuk merealisasikan pengetahuan tersebut ke dalam interaksi saya dengan siswa di kelas.

Maka disinilah awal saya belajar menjadi guru yang beda.

Dan untuk menjadi guru yang beda, adalah bukan suatu hal yang tanpa pengorbanan. Dan pengorbanan terbesar yang saya harus berikan, adalah pengorbanan bahwa saya harus melupakan kalau saya pernah menjadi guru selama 11 tahun sebelumnya.
Slipi Jakarta, 8 September 2009.

06 September 2009

Akreditasi dan UAN


13-14 Agustus dan 11-12 September 2009, sekolah kami dijadwalkan untuk di re-akreditasi oleh Badan Akreditasi Sekolah, Depdiknas. Yaitu untuk unit SD dan SMP. Mengingat ini adalah re-akreditasi, mestinya kami tidak se-megap-megap kala kali pertama diakreditasi. Namun pada kenyataannya, hal itu tidak terjadi. Karena ternyata komponen dan indikator yang akan menjadi penilaian dalam akreditasi kali ini berbeda dengan komponen dan indikator yang ada pada akreditasi sebelumnya, maka kami sekali lagi mengerahkan segala daya upaya untuk akreditasi ini agar optimal dihadapan asesor.

Dan sebagai insan pendidikan yang peduli terhadap kualitas, perbedaan itu justru kami syukuri. Mengapa? Karena komponen yang ada dalam Perangkat Akreditasi pada kali ini benar-benar cerminan dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yang artinya secara konseptual antara visi yang ada di dalam Undang-Undang sinergi dengan aplikasi di lapangan.

Komponen akreditasi tersebut terdiri dari: (1). Standar isi; (2). Standar proses, (3). Standar kompetensi lulusan; (4). Standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5). Standar sarana dan prasarana; (6). Standar pengelolaan; (7). Standar pembiayaan; dan (8). Standar penilaian.

Delapan komponen tersebut adalah cerminan dari cita-cita sekolah berkualitas menurut UU Sisdiknas, karena setiap sekolah pada akhirnya akan dikualifikasikan dengan apa yang divisikan sebagai sekolah berkualitas dalam UU tersebut. Dengan kata lain bahwa, hasil dari akreditasi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah di setiap Provinsi nantinya adalah pemetaan kualitas lembaga pendidikan yang ada. Ini adalah bentuk penjaminan awal dari sebuah kualitas pendidikan.

Dan tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan dari kareditasi tersebut. Setidaknya ada perubahan menuju kualitas yang baik secara signifikan. Dimana asesor datang ke sekolah tidak saja memferifikasi data dan fakta yang terdapat dalam Instrumen Akreditai yang disi Kepala Sekolah dan di kirim ke Badan Akreditasi Sekolah dengan cara melakukan observasi dan interviu ke lokasi sekolah.

Lalu apa hubungannya dengan Ujian Nasional? Tentunya, jika semua sistem berjalan dengan sebaik konsepnya, pada akhir tahun pelajaran kita semua dapat melihat korelasi hasil UAN setiap sekolah yang telah distandarisasi oleh BAS Depdiknas melalui akreditasi. Dan jika informasi hasil akreditasi tersebut dapat diakses oleh masyarakat luas, maka sesungguhnya khalayak dapat jauh lebih mudah menentukan pilihan sekolah bagi putra-putrinya.

Pemerintah dan masyarakat juga akan mudah menduga apa yang sebenarnya terjadi jika ada sekolah yang kualifikasi akreditasinya kurang maksimal tetapi siswanya memperoleh hasil UAN yang mencolok bagus. Demikian juga sebaliknya. Bahkan masyarakat luas juga bisa memprediksi akan seperti apa hasil UAN dari sekolah yang terakreditasi bagus.
Implikasi lebih lanjutnya adalah, sejauh mana kita, sekolah dan masyarakat memberikan jaminan akan proses pendidikan yang berbasis kejujuran.

Jakarta, 7 September 2009


01 September 2009

Pemudik itu, Mulia

Idul Fitri 1430 H ini, kemungkinan saya tidak akan mudik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pas hari pertama Idul Fitri tanggal 1 Syawal, saya bersama keluarga akan ngumpul di Jakarta bersama keluarga besar. Pagi hingga siang saya akan berada di Bekasi bersama keluarga saya, lalu lanjut siang harinya di keluarga istri.
Jika ada rencana mudik, maka akan saya pilih berangkat dari Jakarta paling cepat pada tanggal 2 Syawal. Pilihan ini selain untuk membagi waktu dengan keluarga besara istri yang seluruhnya tinggal di Jakarta, juga sebagai strategi memilih jalanan yang longgar. Yang tidak perlu bermacet-macet parah di jalan.
Mengapa Mudik?
Mungkin ada diantara Anda yang bertanya hal ini kepada saya? Maka jawaban paling esensi adalah karena saya dari Udik. Maka saya mudik. Jawaban ini tak mungkin terbantah oleh siapapun. Di mana-mana di penjuru dunia ini ada budaya mudik. Kalau saya mudik saat Idul Fitri, sedang teman-teman yang pernah satu kerjaan dulu di bulan Desember. Tak peduli kemana lokasi mudik mereka.
Mudik adalah silaturahim. Karena pada saat itu situasi yang mengemuka adalah menjalin silaturahim. Setelah sekian lama tidak bertemu muka, maka silaturahim di saat mudik memungkinkan bagi masing-masing kita mengenal dan mempererat kembali jalinan saudara. Tanpa silaturahim, masing-masing kita akan diputus hubungannya dengan lupa. Lupa kalau Pak Ahmad adalah masih memiliki hubungan family, misalnya.
Mudik adalah reuni. Mengingat banyak atau sebagian besar orang melakukan silaturahim hanya pada saat mudik di hari Idul Fitri, maka mudik Idul Fitri adalah waktu dan saat yang paling tepat untuk mempererat kembali jalinan persahabatan di masa lalu diantara kita setelah sekian lama tidak berjumpa.
Mudik adalah perjalanan wisata. Ini paling tidak berlaku bagi kami sekeluarga. Minimnya kegiatan tamasya yang khusus bagi keluarga, maka kegiatan mudik adalah juga sebagai perjalanan tamasya keluarga saya. Menikmati setiap kilo meter jalan yang membawa makna serta ketakjuban akan bumi Allah.
Sebagai perjalanan wisata, kami tidak memiliki target harus sampai tujuan dengan lama perjalanan sekian jam. Perjalanan kami adalah perjalanan santai yang tidak segan-segan untuk berhenti setiap 2 jam. Juga ruas jalan yang kami lalui. Jika berangkat kami memilih jalur Cikampek, Indramayu, Palimanan, Kanci, Losari, Ketanggungan, Bumiayu, Wangon, Buntu, Kebumen dan Purworejo, maka kembali ke Jakarta kami bisa pilih ruas jalan Purworejo, Prembun, Wadaslintang, Banjarnegara, Karangkobar, Kajen, Pekalongan, lalu lanjut Jakarta lewat Pantura. Pedek kata, kami ingin benar-benar menikmati indahnya bumi Allah di sepanjang perjalanan.
Mudik adalah bagi-bagi. Kami harus menyediakan sebagaian pengalaman, cerita dan mungkin rezki untuk Bapak dan Mamak kami, untuk suadara kami dan mungkin juga untuk tetangga dan sahabat kami.
Maka jangan pernah larang kami untuk mudik jika kerangkan berpikirnya bukan pemudik. Bagi kami pemudik, harapan terbesarnya adalah tersedianya kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman sepanjang perjalanan yang kami lalui. Hanya itu.

Maka, hormatilah kami sebagai pemudik.
Selamat mudik 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Jakarta, 5 September 2009.