Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label UJIAN NASIONAL. Show all posts
Showing posts with label UJIAN NASIONAL. Show all posts

18 May 2015

UN 2015 #5; Tamu Istimewa

Senin, 18 Mei 2015, menjadi hari pertama pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah. Yaitu Ujian Nasionalnya tingkat pendidikan SD. Mata Pelajaran yang diujikan pada hari pertama adalah Bahasa Indonesia.  Dan pada saat saya hadir di ruang Pengawas Ujian yang berasal dari SD luar yang ada di lantai tiga sekolah, untuk menemani pengawas yang telah hadir, saya mendapat kabar bahwa akan hadir di sekolah sekitar pukul 09.00  pejabat dari Kecamatan. Tentu tidak ada persiapan yang macam-macam di sekolah di pagi itu. Karena memang fokus kami adalah peserta ujian.

Alhamdulillah bahwa seluruh peserta ujian hadir semua, dan bahkan sebagian besar dari mereka telah hadir dan bersiap sejak pukul 06.30 di ruang Musholah sekolah. Anak-anak dipandu dan didampingi ibu dan bapak guru melakukan afirmasi. Kegiatan ini sebagai penyemangat agar dalam melaksanakan ujian anak-anak dapat berkonsentrasi dengan optimal.

Seperti yang berlangsung di tahun-tahun sebelumnya, anak-anak selalu kami persiapkan secara mental untuk dapat berkonsentrasi penuh pada saat mengerjakan soal-soal ujian. Untuk itulah, beberapa guru yang bertugas secara bergantian akan menemani anak-anak yang telah hadir di sekolah sepagi apapun. Dan pada waktu itulah anak dan guru akan berkumpul di ruang Musholah. Kita berharap bahwa upaya terakhir kami dalam mendampingi anak bermanfaat bagi keberhasilan anak-anak itu sendiri kelak. amin.

Tetapi ada yang berbeda dengan pelaksanaan kegiatan ujian di tahun ini. Terutama di ruang pengawas. Yaitu dengan kehadiran tamu istimewa, yang sebelumnya tidak terbayang akan hadir di sekolah dalam sebuah hajatan, Ujian Nasional SD. Merekla adalah Pak Camat, Pak Lurah, Pak Kasi Dikdas Kecamatan, da juga seorang Pengawas Pendidikan.


Jangan salah, bahwa kehadiran Pak Camat dan Pak Lurah ke sekolah kami adalah untuk bersilaturahim. Hanya memang momentumnya pada saat pelaksanaan UN. Sebagaimana yang beiau sampaikan saat dialog dengan teman-teman guru tentang bagaimana penataan PKL dan masalah sampah. Sedang Pak Kasi Dikdas dan Pak Pengawas Pendidikan memang bertujuan untuk melakukan monitoring pelaksanaan UN SD. Meski punya tujuan yang berbeda, toh kami tetap gembira atas kehadiran Bapak-Bapak itu di lokasi dimana kami sehari-hari menunaikan tugas sebagai pendidik. 

Jakarta, 18 Mei 2015

17 May 2015

UN 2015 #4; Peristiwa Keramat

Dalam sebuah kegiatan para Kepala Sekolah tingkat Sekolah Dasar di sebuah sanggar di kecamatan di wilayah Jakarta, teman saya mengunggah foto bersama teman-temannya. Terlihat lima Kepala Sekolah di foto yang unggahnya. Mereka adalah Kepala Sekolah swasta yang berdekatan. Dan untuk hajatan Ujian Sekolah Berstandar Daerah tingkat SD yang jatuh pada Senin-Rabu tanggal 18 sampai 20 Mei 2015, teman-teman itu disibukkan dengan hajatan tahunannya tersebut.

Dan bila pada tahun-tahun sebelumnya semua berjalan relatif dengan kondisi dan POS yang normal, maka berbeda dengan apa yang terjadi di tahun 2015 ini untuk ujian di tingkat SD dan di wilayah dimana kami berada. Satu hal yang berbeda adalah kerelaan sebuah sekolah untuk mempersiapkan ruangan menginap bagi Kepala Sekolah yang mendapat jatah piket menunggui soal yang akan diujikan esok harinya.

Tentunya bukan setiap sekolah. Karena untuk kami yang sekolah swasta yang ada di satu kecamatan,  terdapat beberapa sekolah. Maka salah satu dari kamilah yang ditunjuk pihak kecamatan untuk bersama dalam satu payung. Dan dengan konsep seperti ini, bagi saya sendiri, lengkaplah proses keramatisasi Ujian Nasional dengan standar daerah untuk tingkat SD.

Jakarta, 17.05.2015.

10 May 2015

UN 2015 #3; Ada Anak Nyontek!

Ketika hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMP sederajat, tepatnya pada hari Kamis, 7 Mei 2015 lalu, saya mendapatkan cerita dari teman-teman guru di sekolah tentang bagaimana ia mengawasi anak-anak yang menyontek ketika UN berlangsung. Dan karena ini menjadi sebuah pelanggaran, maka ia meminta anak tersebut untuk bekerja tanpa harus melihat alat komunikasinya.

Dia, teman saya itu, tidak menyangka kalau semua anak di ruangan yang diawasinya boleh membawa serta telepon selulernya ke dalam kelas. Dan itu tidak tampak ketika hari pertama hingga hari ketika pelaksanaan UN. Tetapi pada hari terakhir pelaksanaan UN, yang mengujikan Mata Pelajaran IPA, ia sebagai pengawas Ujian Nasional yang bertugas mengawas di sekolah lain, menjadi terusik dengan anak-anak yang memegang alat komunikasi ketika ujian masih berlangsung.

Di sekolahnya, anak-anak akan mengumpulkan semua alat komunikasinya ketika selesai mlakuakan kegiatan afirmasi di ruang bersama sebelum UN dimulai. HP itu akan dikumpulkan oleh guru kelasnya masing-masing dan hanya dikembalikan ketika anak-anak tersebut telah usai melaksanakan UN dan pulang sekolah.

Untuk ia, teman saya itu, lumayan kaget ketika anak-anak yang diawasinya memegang HP di tangannya sementara waktu ujian masih berjalan setengah main. Alhasil ia meminta salah satu anak yang sedang asyik melihat layar HPnya. Dan sebagai bukti ceritanya, ia memfoto layar HP tersebut untuk kemudian dia bagikan kepada saya.

Kira-kira, apa hasil belajar dari anak-anak yang ketika pada tahapannya ia menyontek?

Jakarta, 10 Mei 2015.

07 May 2015

UN 2015 #2; Ujian Paling Lebay

Ujian Nasional untuk tingkat SMA dan sederajat telah berlalu,  sementara Ujian Nasional untuk tingkat SMP dan sederajat hari ini, 7 Mei 2015 adalah hari terakhir pelaksanaan ujian. Sedang untuk tingkat Sekolah Dasar dan sederajat yang bernama Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah baru akan berjalan nanti mulai hari Senin, 18 Mei 2015.  Pelaksanaan ujian SD di wilayah DKI Jakarta akan bersambung ke US atau Ujian Sekolah untuk mata pelajaran yang tidak diujikan di USB/MD.

Yang Lebay

Ini meminjam istilah gaul anak sekarang. Lebay karena, untuk ujian tingkat SMA dan SMP sederajat, pelaksanaan Ujian Nasional normal saja pelaksanaan. Paling tidak dalam segi pengawasan. Dimana hanya pada saat pelaksanaan Ujian Nasional saja pengawas ujiannya silang. Satu sekolah akan kedatangan dua pengawas ujian untuk satu ruang ujian yang berasal dari luar sekolah. Sementara ketika Ujian Sekolah, yaitu ujian yang diselenggarakan oleh sekolah, maka tidak ada pengawas ujian dari sekolah lain. Semua berlangsung secara internal sekolah.

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan ujian di tingkat Sekolah Dasar di Daerah Jakarta? Inilah yang lebay. Model silang pengawas untuk tingkat SD berlangsung tidak saja di saat pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah Bersrtandar Daerah saja, tetapi [ada saat try out atau TO, sekolah sudah diwajibkan untuk melakukan pengawasan silang.

Saya, ketika membuat catatan ini, tidak memahami apa motivasi dibalik pelaksanaan USB/MD dengan model yang demikian. Tetapi sebagai guru saya ingin menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan itu sesungguhnya karena kita sedang terjangkit penyakit 'seolah-olah'. Karena dengan maksud ujian adalah tahapan akhir anak bersekolah maka ujian harus dibuat angker. Meski baru ada di tingkat SD. 

Seolah-oleh SD adalah jenjang pendidikan yang menjadi kawah candradimuka...

Jakarta, 7 Mei 2015

UN 2015 #1; Terlambat Masuk Ujian

Apa yang dapat kita katakan sebagai guru di sekolah ketika melihat peserta didik kita yang datang terlambat ke sekolah pada saat UN ketika teman-temannya sedang menuliskan nama dan nomor ujian di kertas jawaban ujian? Tentu beragam. Ada yang sabar, ada yang langsung memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang miring dan pasti ada nada kesal. Dan itu semua, dalam situasi senyap sebagaimana saat pelaksanaan UN menjadi wajar. Paling tidak ini tanggapan saya terhadap realitas seperti itu. 

Prioritas

Paling tidak itulah yang menjadi kenyataan pada hari-hari UN yag berlangsung di sekolah di Indonesia sejak April lalu dan Mei sekarang ini. Sekolah dan orangtua sibuk bukan main dalam menyelenggarakan hajat besar pendidikan Indonesia, termasuk juga anak-anak yang akan menjalaninya. Dan itulah maka setia sekolah, setiap orangtua, dan peserta didiknya menjadikan hajat UN sebagai bagian prioritas dalam kalender kegiatan mereka. 

Apa bentuk prioritas tersebut? Tidak lain adalah menyediakan budget, waktu, perhatian, dan ikhtiar. Meski Pak Menteri mengingatkan bahwa hasil UN bukan menjadi prasyarat kelulusan seorang peserta didik. Namun UN tetap menjadi prioritas.

Sekolah akan mengerahkan daya upayanya untuk mempersiapkan peserta didiknya berhasil dalam UN dengan hasil yang baik-baiknya. Maka di tahun terakhir anak-anak di jenjang sekolah masing-masing akan sibuk mengatur jadwal bimbingan. Pun lembaga bimbingan belajar. Ada berbagai program untuk mempersiapkan diri lolos dan lulus UN dengan angka bagus di lembaga-lembaga semacam itu.

Orangtua dan anak juga setali tiga uang. Semua sepakat memaknai UN sebagai pintu gerbang sejarah perjalanan. Dan tidak heran jika daya dan dana tercurah kepada anak yang duduk di kelas terakhir di jenjang pendidikan mereka.

Saya sendiri di hari terakhir menjelang UN, wanti-wanti agar anak-anak mengatur dengan cermat irama hidup di saat menjelang UN ini. Jaga makanan, jaga pola istirahat, dan tentunya mengatur jadwal belajar. Ini tidak lain agar ketika hari H pelaksanaan UN anak pada kondisi sehat dan penuh konsentrasi.

Bagaimana dengan anak yang terlambat datang di ruang UN? Tidak lain karena masih ada beberapa orangtua yang kurang terlibat dalam mengatur irama anak. Ini karena dari kasus yang ada di sekolah saya, keterlambatan mereka lebih disebabkan oleh faktor terlambat berangkat dari rumah ke sekolah. Meski ada bumbu macet di jalan atau argumentasi yang lain.

Bagaimana jika anak yang terlambat adalah anak yang kalau dalam kurva normal kemampuan akademik di kelas berada di awal kurva? Kompetensi yang telah berhasil ia himpun di minggu, hari, atau bahkan jam sebelumnya pasti akan terhambat ketika ia harus tidak nyaman ketika pengawas UN memberinya lembar soal dan jawaban. Sementara teman di kelasnya sudah mulai mengerjakan soal-soal? Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 7 Mei 2015.

24 May 2014

UN 2014 #8; US/M BD Padahal UN

Ini adalah catatan saya dalam halaman ini mengenai Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah atau disingkat US/M BD, yang dilaksanakan pada Senin, 19 sampai dengan Rabu, 21 Mei 2014 yang lalu.  Sebuah pelaksanaan evaluasi hasil belajar siswa di akhir mereka bersekolah di tingkat SD. Ini pelaksanaan pertama sejak Pemerintah meniadakan Ujian Nasional untuk tingkat sekolah dasar.

Dan karena memang bukan benar-benar ketiadaan Ujian Nasional, maka sebagaimana juga yang dilakukan oleh seluruh Pemda di Indonesia, dan pasti dengan mengajukan argumentasi sebagai menjaga kualitas sebuah lulusan, tahun ini keputusan akan ketiadaan UN di tingkat pusat menjadi Ujian 'Nasional' di tingkat daerah. Maka sah lah jika ujian untuk tingkat SD menjadi Ujian Sekolah atau Ujian Madrasah Berstandar daerah.

Atau kalau menurut saya, setelah berada di ruang pengawas dan membaca POS US/M BD, maka sesungguhnya Ujian Sekolah sebagaimana yang dilaksanakan di tingkat pendidikan sekolah dasar tahun pelajaran 2013/2014 ini adalah ujian nasional juga. 

Bahkan, ditangan 'daerah' pula, untuk selain tiga mata pelajaran yang dulu masuk Ujian Nasional SD, seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA, harus 'berstandar' kecamatan. Sekedar informasi bahwa, di daerah DKI Jakarta, untuk ketiga mata pelajaran yang sebelumnya di UNkan tersebut pelaksanaannya berstandar DKI Jakarta. Sedang yang bukan daerah tersebut menjadi standar tingkat kecamatan.

Meskipun untuk operasional pembuatan soal dan pengandaannya tetap menjadi kewajiban dari setiap sekolah, setelah sebelumnya kisi-kisi dari soal-soal yang akan diujikan tersebut harus lolos  koreksi dari pengawas sekolahnya masing-masing, namun jadwal yang seragam kadang menjadi kendala bagi sekolah swasta yang pada hari Sabtunya memang menjadi hari libur.

Apa yang menjadi kekawatiran bagi kami yang berada di sekolah swasta atas kebijakan seperti ini? Tidak lain adalah perubahan kebijakan daerah di masa mendatang tentang keseragaman dalam hal soal, waktu pelaksanaan, dan juga pengolahan nilai. Karena jika hal ini nantinya yang masif di lakukan demi mengejar 'kualitas' daerah yang diinginkan, maka sesungguhnya secara tidak sadar, sekolah swasta yang 'patuh' akan kebijakan tersebut, pelan tetapi pasti, akan kehilangan daya saingnya. Dan itu berarti pintu gerbang bagi kematian sekolah swasta.

Dan dalam cacatan saya ini, mudah-mudahan kreatifitas daerah akan yang namanya Ujian Sekolah, tidak semakin membuat difersivikasi masing-masing sekolah menjadi tipis menuju keseragaman. Semoga.

Jakarta, 23-24 Mei 2014.

09 May 2014

UN 2014 #7; Jalan-Jalan Naik Bus Trans Usai UN

Setelah usai mengerjakan UN untuk Mata Pelajaran Matematika pada hari kedua ujian nasional SMP pada Selasa, 6 Mei 2014 lalu, dan khusus di sekolah kami, maka seusai pelaksanaan UN terseut akan ada kegiatan untuk bimbingan dari guru sebagai persiapan untuk UN hari berikutnya, terdapat satu anak didik kami yang melakukan rekreasi dengan berkeliling Jakarta dengan naik bus way. Inilah yang menjadi catatan saya kali ini. Catatan ini saya dapatkan dari cerita pengawas UN di sekolah kami yang ketika di tengah jalan bertemu dan bahkan satu kendaraan dengan anak didik kami tersebut.

Ini memang cara unik anak didik kami yang sungguh berbeda dari yang lainnya. Jika ada siswa kami yang meminta izin untuk bermain piano sebagai upaya agar kepalanya enteng, maka khusus anak didik saya itu melakukannya dengan berkeliling Jakarta dengan menumpang bus tranjakarta. Meski begitu, saya melihatnya sebagai hal yang berbada dan unik.

Hafal Rute dan Peta Kota

Kekaguman saya kepada anak istimewa kami itu, yang pertama adalah keyakinan dan kepercayaan dari kedua orangtuanya kepada ananda untuk 'blusukan' dengan kendaraan umum secara mandiri. Tanpa pendamping, pengawalan, atau bahkan dengan uang yang secukupnya. Rasa percaya dari kedua orangtua ini menjadi modal yang paling berharga untuk seorang remaja di usia 15!

Anehnya, meski anak itu telah berkeliling-keliling kota dengan menumpang kendaraan umum, namun ia akan kembali lagi ke sekolah untuk janjian dengan supir yang akan menjemputnya nanti di sekolah sesuai dengan perjanjian antar mereka. terdengar aneh, tetapi memang seperti itu yang terjadi.

Dan karena hobinya untuk menggunakan kendaraan umum dalam menyusuri jalanan kota Jakarta, di tambah kegetolannya dalam googling tentang berbadai informasi Jakarta, transportasi umum, dan juga map, maka di usianya itu, ia telah mampu mengetahui, menghafalkan, dan memahami berbagai jalanan yang ada di Jakarta dan trayek untuk kendaraan umum. Jangan heran jika ia akan memberikan penjelasan kepada kita ketika kita menginginkan informasi tentang jalur kendaraan umum yang kita inginkan.

"Mengapa Bapak tidak mencoba APTP 13? Itu trayek APTB baru yang melalui jalur ke rumah Bapak." Jelasnya suatu hari beberapa bulan lalu kepada saya. Sebuah informasi yang benar-benar membuat saya kagum. Karena keberadaan APTB jalur baru itu sungguh-sungguh beum saya ketahui. Dan ketika pulang kantar pada sore harinya, saya benar-benar menggunakan transportasi tersebut. Luar biasa.

"Mengapa Bapak tidak mencoba jalur Sunter, terus lanjut sampai Kemayoran, kemudian Bapak baru masuk TOL melalui pintu GT Ancol? Mungkin dari situ Bapak bisa memotong kemacetan di jalan TOL dari Sunter sampai Ancol yang menjadi langanan macet?" demikian ia berpendapat ketika saya bercerita tentang macetnya jalan Tol ke Bandara Soeta suatu hari.

Begitulah anak didik saya yang sering saya dan teman-teman menyebutnya sebagai Guru Bsar Transportasi. Hebat luar biasa.

Jakarta, 7-9 Mei 2014.

07 May 2014

UN 2014 #6; Siswa: "Supaya Kepala Saya Enteng Pak."

Siang itu, sekita pukul 10, tepatnya setelah 30 menit ujian nasional untuk Mapel Bahasa Inggris usia, ada seorang siswa saya yang masuk ruangan dan menyampaikan keinginannya untuk bermain piano. Yang kebetulan untuk siang itu, posisi piano yang kami simpan di ruang bersama lantai III terkunci.

"Apa yang ingin kamu lakukan dengan piano Bram? Ingin bermain?" tanya saya kepada anak bongsor itu, yang kalau saja saya bertemu di pusat perbelanjaan pasti pangling dan tidak akan pernah memiliki prasangka bahwa anak itu masih usia 15 tahun.

"Iya Pak. Saya ingin main piano Pak. Saya belum bisa pulang karena jam 12.30 nanti saya harus ikut dalam bimbingan di kelas. Supaya kepala saya enteng Pak. Saya pusing mikirin soal ujian terus." Jelasnya dengan penuh kesungguhan. Saya dengan senang hati memberikan kunci piano yang memang hanya ada satu-satunya dan hanya saya yang menyimpan. 

Bukan karena anak-anak atau siapa saja dilarang memainkan piano sekolah yang berada di ruang bersama itu sehingga kami harus menguncinya, ini karena supaya piano kami itu tidak menjadi korban dari perilaku vandal. Jadi itu saya lakukan supaya semua aman dan tetap terjaga, sehingga seluruh komponen yang ingin menggunakannya selalu bisa. Tidak hanya guru musik saja. Dan semua siswa saya, begitu juga guru, termasuk guru musik yang kami punya, mengetahui bagaimana prosedur yang harus ditempuh jika mereka akan menggunakan piano untuk mengajar, tetapi untuk sekedar bermain sebagaimana yang anak didik saya tersebut lakukan.

"Bagaimana Pak permainan piano Bram sebelum ikut bimbingan belajar tadi?" tanya saya kepada seorang guru yang kami tahu selalu berada di sebelah anak-anak. Dan kebetulan Pk Guru saya itu adalah bagian penting dalam kegiatan UN SMP kami ini.

"Bagus Pak. Ya... kuaitas remaja Pak. Tadi yang main bergantian. Bram dan kedua temannya. Mereka bermain piano dan bernyanyi bersama sebelum bimbel berlangsung." jelas guru saya itu. 

Saya bertanya kepada guru itu karena memang saya tadi tidak sempat melihat atau mendengar permainan piano Bram dan teman-temannya. Bahkan sampai ketika Bram mengembalikan kunci piano itu, saya tentunya tidak pada tempatnya jika harus bertanya bagaimana permainannya. 

Saya hanya mengajukan pertanyaan kepadanya; "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sekarang kamu rasa lebih fresh dari sebelumnya?"

"Betul Pak. Saya merasa enteng kepala saya Pak. Saya sekarang lebih siap untuk belajar lagi pak. Terima kasih ya Pak." begitu jelas anak didik saya yang pada hari itu mengenakan pakaian seragam Pramuka. Membanggakan. 

Jakarta, 7 Mei 2014.

UN 2014 #5; UN SMP Hari ke-3

Hari ini, Rabu, 7 Mei 2014, adalah pelaksanaan Ujian Nasional untuk tingkat SMP dan sederajat,  Mata Pelajaran  yang diujikan adalah Bahasa Inggris. Ketika pelaksanaan ujian berakhir pada pukul 09.30, saya tidak bertemu dengan anak-anak didik saya. Meski saya melihat mereka keluar dari lingkungan sekolah melalui kamera CCTV di ruangan. Sehingga tidak ada cerita dari mereka yang saya dapatkan. Karena seperti hari-hari sebelumnya, saya dan juga guru yang lainnya, akan bertanya tentang bagaimana keadaan soal yang telah mereka kerjakan. Saya dan teman yang lain juga akan bertanya prakira mereka terhadap tingkat kebenaran jawaban yang anak-anak kerjakan di LJUN. Dan dari situlah saya banyak mendapatkan feedback berkenaan dengan soal-soal yang anak-anak telah kerjakan.

"Bapak, saya baru sadar Pak, kalau soal yang tidak bersampul (Mata Pelajaran Bahasa Indonesia), dari nomor 1-12 dan nomor 39-50 kemarin itu sama semua." Begitu kata seorang siswa saya siang kemarin setelah pelajaran Matematika dia selesaikan. Saya tidak mengejar apa yang dimaksdukan dengan soal yang sama diantara mereka semua. Apakah itu maksudnya ia ingin menyampaikan bahwa mereka rugi karena tidak bertanya dengan teman sebelahnya saat mengerjakan ujian? Semoga tidak.

(Perlu disampaikan bahwa untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang diujkan pada Senin, 5 Mei 2014 lalu pengawas dan panitia ujian sekolah dibuat bingung karena adanya soal. Yaitu soal yang DISAMPUL dan soal YANG TIDAK BERSAMPUL). Dan hingga akhir ujian untuk Mapel Bahasa Indonesia itu, kami tidak mengetahui mengapa harus ada soal BERSAMPUL dan soal YANG TIDAK BERSAMPUL.)

"Saya tidak yakin kalau jawaban saya benar semua Pak. Tetapi saya perkirakan nilai Matematika saya paling tidak 7 Pak." begitu pernyataan salah seorang anak didik saya kemarin sore saat saya tanya pendapatnya tentang soal Matematika yang baru saja mereka selesaikan. Senang juga mereka bisa percaya diri mengatakan mampu setelah selesai mengerjakan Mata Pelaran yang selama ini begitu sulit dalam pikirannya.

Terlebih, anak yang memberikan opininya itu adalah anak yang secara akademis berada pada tataran rata-rata kelas. Tetapi saya mencoba untuk mengerem dan memeberikan pendapat atau sekedar komentar balik atas pernyataannya optimismenya itu. Saya hanya mengucapkan kata; Amin.

Namun setidaknya ada yang membuat kami semua, panitia dan pengawas ujian di ruang pantia ujian, gembira. Ini ketika tidak mendapati aturan tambahan sebagaimana yang kami dapatkan ketika Mapel Bahasa Indonesia. 

Mengapa kami begitu khawatir sehingga kami menduga kan ada aturan tambahan pada hari ini, Rabu, 7 Mei 2014, karena Mapel yang akan diujikan adalah Bahasa Inggris. Bukankah pada saat UN untuk jenjang pedidikan SMA dan sederajat fenomena orang terhebat di Indonesia muncul dalam soal UN mereka di Mapel Bahasa? 

Dan pada UN SMP hari ke-3 yang mengujikan Mapel Bahasa Inggris, fenomena soal BERSAMPUL dan soal YANG TIDAK BERSAMPUL tidak ada lagi. Mudah-mudahan ini karena pihak BNSP selaku penyelenggara UN mengetahui bahwa kami muak!

Jakarta, 7 Mei 2014.

06 May 2014

UN 2014 #4; Masuknya Jam Tujuh ya Pak?

Ujian Nasional untuk jenjang SMP yang berlangsung sejak kemarin, Senin, 5 Mei, hari ini memasuki hari kedua. Mata Pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Sejak pagi saya datang ke sekolah, dan bertemu dengan panitia ujian serta pengawas di ruang pengawas, tidak ada kehebohan sebagaimana dengan apa yang terjadi kemarin sebelum UN Mapel Bahasa Indonesia berlangsung. Tidak ada pebicaraan berkenaan dengan apa yang menjadi bahan kebingungan kami semua sebagai pengawas atau panitia UN dengan adanya aturan anulir soal nomor 1-12 dan nomor 39-50 dengan lembaran soal baru yang TIDAK BERSAMPUL. Ini karena semua berjalan normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua lancar tidak ada kendala.

Jauh sebelum pukul 07.00, di ruang bersama yang ada di dekat ruang ujian, anak-anak berkumpul untuk sekadar bercengkerama, mengulang materi pelajaran dengan bertanya jawab diantara anak-anak itu, atau mengambil air mineral, dengan ditemani oleh tiga orang teman kami yang kebetulan sebagai penjaga anak-anak pada saat UN kali ini. Pendek kata, sebelum bel pertama berbunyi sebagai tanda peserta UN masuk ruangan UN, semua berjalan relatif enak dan lancar.

Datang Terlambat

Namun ketika bel pertama berbunyi itulah justru kami mulai ada rasa was-was, karena terdapat tiga orang siswa kami  yang hingga seluruh peserta UN masuk, belum datang juga. Guru kami sibuk mencoba mencri tahu mengapa ada 3 orang siswanya belum sampai sekolah ketika peserta yang lain sudah memulai menuliskan identitas di LJUNnya masing-masing.

"Bagaimana dengan kompetenasi ketiga anak itu Pak?" tanya saya kepada Pak Guru yang masih sibuk mengecek keberadaan ketiga anak tersebut. Sudah berada dimana posisi mereka masing-masing.

"Dua anak masuk dalam rata-rata Pak. Yang satunya memang di atas rata-rata di kelas."

"Dimana posisi mereka sekarang. Dimana lokasi rumahnya Pak?"

"Masih OTW Pak. Rumahnya di Rawamangun juga Pak." Jawab teman saya itu dengan tidak memalingkan muka ke hadapan saya yang menjadi lawan bicaranya. Ia begitu serius membaca layar selulernya. Mungkin menunggu status pesan yang dikirimnya melalui whats app. 

Waktu terus berjalan, anak-anak di dalam kelas terus begitu serius dalam mengisi data-data dirinya di LJUN dengan pinsil tulis 2 B. Dan ketiga anak kami belum juga sampai. Saya sendiri hanya berkata kepada teman saya itu, agar menghubungi orangtuanya langsung. 

"Katakan bahwa sekarang hingga Kamis nanti adalah Ujian Nasional. Dan ananda diminta sampai sekolah sebelum pukul 7." Kata saya. Yang hanya dijawab oleh teman saya itu tidak begitu semangat.

"Iya Pak. Saya hubungi ibundanya di rumah. Bundanya malah bertanya; Masuknya Jam Tujuh ya Pak?"

Saya hanya tersenyum kecut atas laporan guru tersebut. Dalam hati berpkir kalau orangtua siswa saya benar-benar telah berhasil untuk tidak melhat hasil UN sebagai satu-satunya hasil belajar siswa. Oleh karenanya hingga anaknya terlambat masuk sekolah untuk mata pelajaran yang harus sudah dimulai pukul 07.30!

Jakarta, 6 Mei 2014.

05 May 2014

UN 2014 #3; Misterinya tidak Terungkap Jelas

Seperti pada catatan saya sebelumnya, yang mencatat adanya dugaan yang menjadi misteri pada UN SMP untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Misteri ini lahir karena sekolah dan pengawas diamanahi untuk menyampaikan kepada siswa agar tidak mengerjakan soal yang ada di dalam sampul, secara berurutan setelah pengawas membagikan. Namun masih ada soal yang lain lagi, yang berada tidak di dalam sampul.

"Bagaimana agar siswa tidak konsentrasi dan menjadi lupa sehingga mengerjakan mengerjakan soal  tidak sesuai dengan yang seharusnya?" kata seorang pengawas di ruang pengawas ketika kepala sekolah sedang melakukan breafing. Pendapat ini benar sekali. Bukankah ketika nantu sudah di lembar jawaban ujian nasional, LJUN, korektor tidak akan melihat soal yang dikerjakan siswa? Bagaimana jika ada seorang siswa yang terjebak mengerjakan soal secara berurut dari soal yang berasal dari dalam SAMPUL atau dari yang TIDAK BERSAMPUL? Pusing bukan?

"Kalau begitu, bagaimana jika ketika pertama kali masuk kita langsung fokus kepada dua soal yang ada di dalam atau di luar sampul itu terlebih dahulu yang dibahas? Sehingga siswa langsung mencoret saja soal-soal yang tidak seharusnya dikerjakan. Sehingga mereka tidak ada yang keliru mengerjakan soal mana?" pendapat pengawas yang satu lagi. Singkat cerita, kami menyepakati pendapat pengawas terakhir itu. 

Misteri yang Tidak Terungkap

Lalu, apa sebenarnya harus ada soal bersampul dan soal yang tidak bersampul? Karena sangka buruk pertama yang lahir di semua yang hadir dalam pertemuan kepala sekolah penyelenggara UN adalah akan munculnya soal bernuansa politik sebagaimana yang terjadi di soal Bahasa di UN SMA? Namun ketika ujian Bahasa Indonesia SMP hari berakhir, kami tidak menemukan soal  titipan yang berbau politik?

"Mungkin ini salah satu cara agar mengacaukan kunci jawaban yang seharusnya dapat dengan udah didistribusikan?" pendapat seorang pengawas sebelum meninggalkan ruangan pengawas.

"Mungkin juga sebagai ralat atas soal yang ada, yang berada di dalam sampul, karena alasan tertentu, seperti kekeliraun?" pendapat pengawas yang lain lagi.

Pendek kata, misteri yang pagi hari ini, ketika UN akan berlangsung, sudah tidak terbukti. Dan ketika UN untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pun telah berakhir, sangka buruk yang sempat berkembang dalam pikiran kita juga ternyata tidak terbukti, maka misteri yang tadi berkembang, tetap akan menjadi misteri yang tidak terungkap.

Jakarta, 5 Mei 2014.

UN 2014 #2; Menebak Misteri

Ahad, 4 Mei 2014, pukul 18.30, saya mendapatkan kiriman foto dari kepala sekolah setelah mengikuti breafing di sanggar berkenaan dengan revisi aturan Ujian Nasional SMP yang akan berlangsung pada Senin, 5 Mei 2014 esok harinya. Ujian Nasional masih akan berlangsung pada H-1. Saya coba buka, tetapi tidak atau kurang bermakna, sehingga saya menutup kembali foto yang teah saya buka. Meski di zoom, foto itu tetap kurang terbaca. Saya pun segera bersiap dengan kegiatan rumah yang lain di ujung akhir pekan tersebut.

Senin, 5 Mei 2014, menjelang pelaksanaan UN pada pukul 07.30, saya bertemu kepala sekolah di halaan depan sekolah ketika jam masih menunjukkan pukul 05.20. Kembali berita tentang apa yang telah disampaikan sebelumnya berkenaan dengan revisi aturan pengerjaan soal disampaikan. Tetap saja saya tidak terlalu memahami apa yang disampaikan tersebut. Hingga kami sampai di ruangannya, dan juga disampaikan lembaran aturan revisi yang dimaksudkan.

"Kami kemarin dipusingkan dengan ketentuan revisi berkenaan dengan soal yang DISAMPUL dan soal yang TIDAK BERSAMPUL. Ini adalah aturan tambahan yang benar-benar baru kali ini kami semua alami dalam pelaksanaan UN SMP. Oleh karenanya kami benar-benar bingung dan dihantui misteri." begitu kepala sekolah bercerita kepada saya. Pelan-pelan  saya mencoba memahami apa yang maksud dengan DISAMPUL dan TIDAK BERSAMPUL. Dan tentunya dengan ada misteri di balik aturan baru dan tambahan tersebut yang sepertinya ujug-ujug datangnya.

Dan karena UN hari ini untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia itu sedang berlangsung, dan posisi saya berada di luar ruangan ujian, maka misteri itu belum saya dan teman-teman dapati.

Namun sekedar membagikan kebingungan, berikut saya sampaikan aturan tersebut: 
Aturan tambahan yang membuat sedikit bingung buat kami.

Jadi, siswa mengerjakan soal UN No. 1-50 dengan melihat aturan ini.


Jakarta, 5 Mei 2014.

30 April 2014

UN 2014 #1; Hasil UN dengan Nyontek, tidak Membanggakan

Dalam pelaksanaan UN tingkat SMA dan sederajat pada tahun ini, teman saya yang adalah aktifitis di organisasi keguruan rajin meng-up load berita-berita berkenaan dengan UN SMA dan sederajat pada tahun yang berhasil dibocorkan. Dan salah satu dari apa yang di up load tersebut, adalah foto dari lembaran-lembaran kunci jawaban yang bocor dan berhasil di foto.

Mengapa bocor? Bagi saya sendiri, bocor hanya terjadi ketika memang ada motivasi ekonomi. Paling tidak pendapat  ini yang menjadi pendapat saya dengan mencermati terjadinya beberapa peristiwa dari bisik-bisik tentang UN yang bocor. 

Dan dengan motivasi ekonomi itu ga yang menjadikan para petualang itu sudah mampu mengirimkan, tidak tangung-tanggung, keduapuluh model soal UN yang ada di dalam ruangan sekaligus via SMS sekitar pukul 06.00! Ini adalah prestai luar biasa bagi sebuah kecepatan dan ketepatan. Sayangnya pada hal yang ilegal dan haram!

Tidak Membanggakan

Dan karena ingin mendapatkan sesuatu yang baik tetapi dengan mudah juga, maka anak-anak peserta UN, yang tentunya tanpa restu ortu, secara bergotong-royong, berpatungan, mengumpulkan sekian ratus ribu rupiah untuk mendapatkan kiriman SMS dari mata pelajaran UN yang akan diujikan pada hari tersebut.  Tapi sadarkah anak-anak muda itu bahwa hasil baik yang mereka dapatkan juga benar-benar tidak dapat menjadi hal yang membanggakannya?

Dan untuk hasil UN tinggi tetapi tidak membanggakannya itu, saya memiliki dua hal yang pernah saya alami, atau setidaknya yang pernah saya lihat dan dengar langsung. Pertama, tedapat seorang yang lulus dari jenjang pendidikan SMP, yang hasil UN untuk mata pelajaran Matematikanya mendapat nilai sempurna, 10! Tetapi apa alasannya ketika menginjakkan kaki di bangku pendidikan SMA, dia begitu ngotot untuk tidak masuk dalam program atau jurusan IPA? Bukankah hasil Matematikanya yang sempurna tersebut merupakan prasyarat baginya untuk secara mulus masuk ke juruan IPA? 

Dan kalau saja dia yang dengan nilai UN di Matematikanya sempurna ersebut menghindari masuk jurusan IPA ketika SMA, maka bagaimana jika mereka yang mendapatkan nilai di bawah itu? Dimanakah logika sehatnya? Dan jawaban secara gamblangnya, hanya Allah dan dia sendiri yang tahu persis apa yang menjadi tidak logisnya atas pemilihan jurusan di SMAnya. 

Kedua, Ketika ada seorang dari para penyontek kunci jawaban tersebut mendapatkan hasil UN yang tinggi, maka mau tidak mau ia akan menjadi siswa yang secara mendadak akan memperoleh ranking tinggi di sekolahnya. Malah kadang ada yang rankingnya melampai teman-temannya yang memang terkenal cerdas sejak semester I.

Dan bisakah kita membayangkan ketika acara perpisahan, kepala sekolah memanggil siswa-siswanya yang memiliki nilai UN tinggi itu ke panggung? Bagaimana jika ada si fulan yang pada semester I-V memiliki rata-rata nilai 7 atau 8, namun pada saat UN itu ternyata memperoleh nilai rata-rata 9,75?

Dari dua anekdot itu, cukuplah bagi kita, sebagai orang dewasa, bagaimana memberikan pengajaran kepada anak-anak kita untuk bisa merasa bangga atas prestasi yang mereka ukir sendiri secara jujur. 

Paling tidak itulh mengapa saya melihat betapa pentingnya bagi kita semua untuk melakukan yang jujur dan bukan hanya sekedar memperoleh hasil yang baik tetapi dengan jalan yang merusak tatanan kelogisan akal sehat. Semoga!

Jakarta, 30 April 2014.

10 May 2013

UN 2013; Kisi-Kisi atau Air Putih untuk Sukses?

Berita Selasa, 7 Mei 2013 dari; http://krjogja.com/read/171803/agar-lulus-un-siswa-minum-air-putih-berkhasiat.kr
Itu adalah copi sebagain dari berita yang saya dapat di sebuah berita dari dunia maya yang berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional, UN untuk tingkat pendidikan di SD pada tahun ini. Sebuah berita yang sungguh menggugah pemikiran kita betapa beragamnya model  kreativitas para tim sukses UN. Dan dari berita yang saya dapat tersebut, saya semakin yakin bahwa usaha tersebut adalah bentuk-bentuk usaha yang sudah diluar apa yang normalnya terjadi. Sungguh juga membuat kita berpikir; apakah hanya di Indonesia untuk mencapai sukses UN harus dengan cara dan model sebagaimana yang dilaporkan dalam berita tersebut di atas?

Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 10 Mei 2013.

07 May 2013

UN 2013; Membangun Optimisme

Suanan dimana anak-anak dengan dipandu oleh guru, berdoa sebelum UN berlangsung, untuk keberhasilannya.
Setiap pagi, setengah jam sebelum anak-anak masuk ke ruang UN, selalu berkumpul bersama semua guru kelasnya untuk melakukan kegiatan ikrar dan afirmasi. Sebuah kegiatan uang bertujuan agar anak-anak dapat melaksanakan UN dengan hati yang nyaman dan konsentrasi yang penuh. Ini sebagai bagian dari usaha guru-guru untuk memandu anak-anak didiknya memperoleh hasil UN yang sebaik-baiknya dan optimal.

Bagaimana Persiapan Itu?

Pagi hari sebelum jam pelaksanaan UN, dimana anak-anak untuk tingkat SD, akan masuk ke dalam kelas atau ruangan UNnya pada pukul 07.45, mereka berkumpul di ruangan bersama bersama guru kelasnya. Setelah selesai anak-anak itu melakukan ikrar pagi, maka Bapak da Ibu guru meminta anak-anak untuk khusuk memanjatkan doa. Bapak atau Ibu guru akan mengajak memandu anak-anak itu dengan kesungguhan menghayati apa yang menjadi visi mereka masing-masing dalam memperoleh nilai yang optimal. Agar anak-anak sadar bahwa hasil akhir dari keseluruhan ikhtiar mereka selama ini tidak sia-sia oleh keteledoran, dan tentunya adalah kekuatan dan izin dari Allah Swt. Itulah inti dari apa yang anak-anak itu lakuan setengah jam sebelum pelaksanaan UN dimuali.

Sebuah persiapan yang saya sendiri kagum terhadap apa yang disiapkan dan dilakukan teman-teman tersebut dalam mengoptimalkan hasil belajar para peserta didiknya. Sebuah kompetensi yang tidak hanya 'menceramahi' para peserta didiknya meski anak-anak itu tidak memperhatikan apa yang disampaikannya. Dan pada sisi inilah saya mengaguminya. Semog sukses! Amin.

Jakarta, 7 Mei 2013.

UN 2013; TIPs Anak tidak Stres Ikut UN

Ini mungkin catatan saya yang dapat menjadi cermin bagi para orangtua yang putra-putrinya akan menjalani UN di tahun-tahun depan. Karena memang hari ini adalah hari kedua pelaksanaan UN di tingkat SD dan sederajat. Maka agak terlambat apa yang akan saya sampaikan ini. Catatan ini juga merupakan pengalaman yang kebetulan saya dapatkan selama pelaksanaan UN, baik SMA, SMP, dan SD sederajat. Pengalama yang saya dapatkan dari cerita anak-anak, teman, dan tentunya apa yang saya lihat sendiri. Tentunya juga tidak hanya dalam pelaksanaan UN, karena sebelum UN berlangsung, pemerintah dan sekolah sama-sama membuat jadwal try out sebagai persiapan UN.

Catatan ini saya buat karena adanya beberapa oranttua siswa, terutama bagi mereka yang putra-putrinya sedang menghadapi UN SD. Mungkin ini adalah peristiwa kai pertama bagi mereka. Sehingga mereka begitu khawatir dengan apa yang akan dilakukan putra-putrinya. Namun dengan sikap khawatir tersebutlah sebenarnya yang sering beresonansi kepada sang anak. Sehingga sang anakpun menjadi terjangkiti sakit was-was.

Untuk itulah, saya mencoba merumuskannya dalam bentuk Tips agar selama pelaksanaan UN atau ujian, anak-anakkita dapat melakukannya dengan perasaan rileks dan percaya diri. Tips itu antara lain adalah; Satu, yakin akan persiapan yang dilakukan. Dua, Yakin pada kemampuan anak. Ketiga, berprasangka baik terhadap kemampuan anak. Keempat, cermat dalam melihat jadwal pelaksanaan ujian.

Yakin akan Persiapan

Harus benar-benar kita yakin akan persiapan yang sudah dijalani oleh anak kita. Proses peguasaan materi yang akan keluar dalam UN dengan panduan utamanya adalah kisi-kisi UN atau Standar Kelulusan atau SKL. Dengan panduan itu, maka kita dapat benar-benar memstikan tidak ada satu Kompetensipun yang anak kita belum phami secara penuh. Tentu dengan cara pemahaman yang berproses, bertahap, dan bukan dengan model sistem kebut semalam. Dengan model belajar seperti ini, dibarengi kesungguhan belajar, maka kita sedang melakukan persiapan UN dengan cerdas dan sekaligus sungguh-sungguh.

Yakin Mampu

Setelah mengikuti atau menemani anak belajar dalam rangka mempersiapkan UN sebagaimana yang saya kemukakan di atas, maka kita akan dapat menarik kesimpulan seberapa jauh tau juga seberapa dalam potensi anak yang telah kita persiapkan? Tolok ukurnya apa? Menurut saya SKL atau kisi-kisi tersebut, selain mungkin sebagai gambaran kita adalah hasil-hasil TO atau try out yang telah dijalani ananda.

Berprasangka Baik

Langkah berikutnya setelah ikhtiar dan kerja keras kita lakoni bersama, maka keyakinan kita terhadap kemampuan anak harus mebar-benar mampu memberikan dan melahirkan prasangka yang baik serta positif terhadap kemampuan ananda dalam melaksanakan UN dengan sebik-baiknya. Prasangka ini harus tetap dilihat oleh kita dari kaca mata ananda sendiri. Dan jangan tergoda untuk membandingkannya dengan siapapun.

Cermat dengan Jadwal

Tips terakhir ini adalah yang sering terjadi dari pihak orangtua. Kadang karena mungkin kesibukan, kita tidak mengetahui jadwal deyil dalam pelaksanaan UN itu sendiri. Misalnya yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Dimana seorang anak yang sensitif harus datang terlambat masuk ketika UN hari pertama dimulai. Bayangkan, anak datang pukul 07.30 dinama pada jam itulah UN dimulai!

Itulah barangkali catatan saya. Semoga menjadi catatan kita bersama.

Jakarta, 7 Mei 2013.

06 May 2013

UN 2013; Kesiapan Hari Pertama UN SD

Hari pertama pelaksanaan UN SD di sekolah kami hingga saya menuliskan catatan ini, berjalan dengan lancar. Meski sebelum pelaksanaan dimualai ada beberapa hal yang lahir karena rasa panik yang seharusnya tidak perlu terjadi. Misalnya ketika pagi hari pada pukul 06.30, ternyata kunci sekolah terbawa oleh salah seorang dari teman kami yang kebetulan masuk pada akhir pekan lalu. Dengan itu, maka harus ada satu teman kami untuk menjemput kunci tersebut.

Selain itu, juga ada beberapa orangtua siswa, semua kaum Ibu, Yang karena ingin mendukung dan mensupport anandanya, ia datang ke sekolah dan menunggui di Mushola untuk memanjatkan doa. Juga ada seorang siswa kami, peserta UN, yang memohon kepada Ibu guru untuk boleh menggunakan pensil yang telah disiapkan oleh bundanya dari rumah. Karena sekolah telah mempersiapkan seluruh perlengkapan UN, dalam bentuk alat tulis di meja anak-anak. Kebijakan ini untuk mengantisipasi siswa yang salah pensil atau lupa kartu UNnya, atau mungkin ada yang menempelkan sesuatu di papan sebagai meja perjalannya.

Atau juga ada SMS dari salah satu orangtua siswa yang menyampaikan kabar bahwa anandanya benar-benar tidak sedang dalam kondisi tubuh yang fit. Diceritakan bahwa, malam sebelumnya, anandanya itu terserang demam dan bahkan sempat muntah-muntah. Namun karena harus menjalani UN, maka dalam kondisi tubuh tidak fit sekalipun harus dan dipaksakan hadir ke sekolah.
Berita yang dimuat; http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/13/05/06/mmcto9-nuh-un-sd-lancar

Juga ada beberapa anak, yang  meski tidak ada keterangan tidak sehat dari para orantuanya, namun pagi hari ketika bertemu dengan guru telah menunjukkan aura muka yang tidak sepenuhnya sehat. Dari pancaran wajahnya itu, justru menyiratkan rasa was-was yang semestinya tidak boleh lagi terjadi.

Mengapa? Di ruang pengawas, kami berdiskusi tentang kondisi-kondisi yang ada tersebut sebagai bagian dari refleksi kami. dan dari diskusi tersebut, kami sepakat bahwa aura kekhawatiran dari rumah, sangat mendominasi atas keceriaan anak-anak itu ketika pagi hari hadir di sekolah. 

Dari asumsi itu juga kami mencoba untuk mengantisipasi apa yang harus dilakukan pada tahapan beriktunya. Khusus untuk pelaksanaan UN di tahun berikutnya, saya menyampaikan bahwa sekolah, guru, orangtua, dan rumah, harus benar-benar menjadikan kisi-kisi UN sebagai peta dan sekaligus panduan bagi kita untuk menuju sukses. Dan dengan kisi-kisi itu pulalah semestinya kita merancang ikhtiar, menjalaninya dengan kesungguhan total, sehingga pada hari H, tidak akan lahir lagi aura khawatir dari guru, sekolah dan orangtua, atau rumah, yang  pada akhirnya akan beresonansi kepada kesiapan mental anak sebagai peserta UN. Semoga.

Jakarta, 6 Mei 2013.

05 May 2013

UN 2013; Untuk apa Bocoran?

Senin tanggal 6 Mei hingga Rabu, 8 Mei 2013, yang adalah hari pelaksanaan Ujian Nasional. UN untuk tingkat Sekolah Dasar di Indonesia, akan menjadi babak terakhir bagi pelaksanaan Ujian Nasional, UN tahun 2013. Tshun dimana pelaksanaan UNnya tercatat dalam sejarah pendidikan kita, karena adanya carut marut dalam pelaksanaan UN tingkat SMA dan sederajat. Maka menjadi istimewa pelaksanaan tahun ini.

Selain karena ketidakserentakan pelaksanaan UN, pada tahun ini juga terdapat untuk kali pertama model soal yang dikerjakan anak-anak dalam standar satu ruangan ujian berbeda satu dengan lainnya. Ini karena pemerintah membuat 20 model soal. Sedang jumlah siswa maksimal dalam satu ruang ujian adalah 20 peserta ujian. Bahkan untuk alasan keamanan, soal-soal tersebut juga diberikan barcode. Istimewa bukan? 

Mengapa lahir ide seperti itu? TIdak lain adalah untuk keamanan soal dari kebocoran. Bocor? Betul kebocoran sering menjadi masalah dalam setiap pelaksanaan UN. Untuk itulah membuat model soal sebanyak peserta dalam satu ruangan tentu akan menyulitkan para kreator intelektual busuk. Alhasil? Teman-teman yang peduli pelaksanaan Ujian Nasional yang bersih dan jujur tetap mendapatkan lembaran kunci jawaban. Dan tidak tanggung-tanggung, kunci jawaban itu bukan untuk satu atau dua model soal yang tersedia. Tetapi untuk 20 model soal sekaligus! Dahsyat bukan?
Lembaran 'kunci' UN SMA, yang ditemukan pengawas UN dan di upload di FB.

Pintar tapi Tidak PD

Fenomena bocoran soal UN dalam bentuk kunci jawaban ini, menurut saya, karena bangsa kita sedang dilanda virus tidak percaya diri dan bodoh.

Tidak percaya diri? Karena jauh hari sebelum UN dilaksanakan, pemerintah dalam hal ini Kemdikbud, sudah mengeluarkan panduan Ujian Nasional secara lengkap. Disana ada Prosedur Operasional Standar atau POS, dan juga adalah kisi-kisi UN atau SKL, Standar Kelulusan. Di dalam SKL itulah kompetensi yang akan diujikan disebutkan. Artinya, kalau saja sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat kecamatan adati kabupaten/kodya memahami makna SKL, maka untuk apa khawatir dengan hasil UN? Bukankah dengan kisi-kisi atau SKL tersebut kita dapat menentukan akan mendapat angka berapa ketika UN dilaksanakan jika memang angka yang menjadi target kita?

Bagi saya, bila kita menjadi tidak percaya diri melaksanakan UN yang rambu-rambu soal yang akan keluar telah disampaikan dalam bentuk SKL sebagaimana yang saya sampaikan itu, maka itu karena kita tidak menjadikan SKL atau kisi-kisi sebagai panduan belajar. Sehingga kita gamang. Dalam kegamangan akan proses belajar efektif yang berlangsung  itulah, lahirlah rasa khawatir. Yaitu khawatir akan angka jelek yang akan diperoleh. Dan angka jelek dari hasil UN, akan mencoreng harga diri individu peserta UN, sekolah, atau bahkan pemerintah daerah (?).

Bagaimana juga dengan bodoh? Inilah dialog saya dengan seorang anak yang melaksanakan UN pada tahun 2009 yang lalu, setelah hari pertama UN berlangsung.;

"Bagaimana Mas, tadi terima SMS kunci jawaban?" 
"Terima Yah. Pagi-pagi sebelum UN berlangsung."
"Sekarang belajar apa kamu?"
"Mata Pelajaran yang akan diUNkan besoklah."
"Loh, buat apa harus buang waktu untuk buka buka, membaca, dan belajar? Bukankah besok pagi dapat SMS juga?"
"Jangan buang-buang waktumu."
"SMS hanya buat cadangan Yah. Kalau cocok baru diikutin. Kalau tidak yang jangan." 

Kalau benar bahwa setiap pagi sebelum pelaksanaan UN, para peserta akan menjadapatkan bocoran, maka pertanyaannya, buat apa belajar di hari atau malam sebelum pelaksanaan UN? Kalau boleh saya simpulkan, itulah yang namanya bodoh!

Jakarta, 5 Mei 2013.

UN 2013; Untuk apa UN?

Pada masa-masa UN tahun ini berlangsung, dimana Kemendikbud telah menunjukkan bagaimana pelaksanaan UN SMA dan sederajat sebagai UN yang bersejarah, karena UN dilaksanakan tidak dengan waktu yang serentak, dan juga tidak dengan soal yang tercetak lengkap sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, juga UN SMP dan sederajat dimana masih terdapat soal UN yang harus difoto copi, ada tulisan pembelaan yang dilakukan oleh pengagas UN, yaitu mantan Wakil Presiden RI, Bapak JK. Tulisan Pak JK itu pulalah yang banyak dikupas dan didiskusikan oleh teman-teman yang aktif terlibat dalam milis IGI, Ikatan Guru Indonesia.

Lebih kurangnya, Pak JK dalam tulisannya tersebut menyatakan bahwa dengan UN maka para siswa menjadi semangat belajar. Sebab kalau tidak UN, apa yang dikejar? 

Bagi saya, apa yang disampaikan itu benar dan sekaligus keliru. Mengapa? Karena UN hanyalah salah satu alat untuk evaluasi. Jangan salah, selain UN, kita juga dapat mengevaluasi hasil belajar siswa. Mungkin dengan meminta anak-anak memainkan drama dengan skenario yang dibuatnya sendiri setelah guru memberikan outline berupa tema? Mungkin dengan tes yang diselenggarakan tidak serentak semacam UN itu? Atau bentuk lain yang memang harus dipelajari lagi oleh 'penggagas' UN? Juga, harus kita ketahui bahwa tidak semua negara melaksanakan evaluasi yang serentak dan secara nasional semacam UN di Indonesia untuk setiap akhir  jenjang pendidikannya yang ada? 

Pertnyaannya, apakah negara yang tidak menyelenggarakan UN tersebut prestasi akademiknya tidak lebih bagus dari negara kita tercinta ini? Bukankah kita ketahui bersama dimana posisi negara kita dalam ranking TIMSS? Mungkinkah kita harus bangga karena peringkat terbaik kita adalah pada tataran korupsi?

Apa yang ingin saya sampaikan dalam catatan saya ini adalah tidak untuk menolak UN. Karena harus saya sadari bahwa UN tidak mungkin ditolak hanya oleh seorang guru sekolah dasar!

Saya hanya ingin mengajak berpikir labih logis kepada semua agar kita benar-benar melihat secara jernih tentang manfaat pelaksanaan UN untuk tingkat SD, atau mungkin juga SMP. Dan kalaupun negara masih melihat itu sebagai manfaat, maka harus juga dipikirkan efek buruk dari pelaksanaan UN selama ini. Seperti bocoran soal, kualitas soal untuk dapat mengukur tingkat berpikir siswa pada tataran berpikir tingkat tinggi atau kritis.

Mungkin, jika memang kita jernih berpikir bagi kemajuan bangsa 15 atau 20 tahun mendatang!

Jakart, 5 Mei 2013.

22 April 2013

UN 2013; Generasi Para Juara 100%!

Menghadapi UN 2013 ini, tentunya dengan generasi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, saya justru melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Juga karena pada tahun ini, selain anak-anak didik sya untuk tingkat SD dan SMP, juga kebetulan anak di rumah juga menghadapi UN untuk tingkat SMA. Maka dapat saya ambil pelajaran dari berbagai cerita dan pengalaman dari semua peristiwa gelaran tersebut.

Ada banyak ceriota menarik yang kadang membuat saya sungguh-sungguh gemas dan kesal yang teramatsangat. Dan pada sisi berbeda, dari peristiwa yang kurang membuat enak hati itu terbit sebuah kenangan yang mengagumkan akan tekad beberapa anak-anak bermental juara.

Tentu, apa yang saya sampaikan ini bukan sesuatu yang berkait dengan karut marut pelaksanaan UN SMA tempo hari. Juga bukan karena saya menjadi bagian dari orang-orang menentang UN. Namun lebih karena sata melihat dan bergaul langsung dengan anak-anak yang sedang menghadapi UN itu sendiri. Spebagaimana yang saya kemukakan tadi, baik di sekolah atau juga di rumah.

Pada awal April, beberapa hari sebelum UN SMA dan sederajat dilaksanakan, saya mendapat cerita menjengkelkan dari anak sendiri tentang niat teman-temannya untuk ikut serta bergotong royong 'patungan' membeli kunci jawaban. Dan karena saya saat itu tidak terlalu percaya dan yakin akan bagaimana bentuk operasionalisasi pelaksanaan bocor tersebut, maka saya katakan kepada anak saat itu; "Terlalu sulit untuk bocor nak. Karena ada 20 model soal. Bahkan untuk memastikan bahwa salah satu kunci dari 20 kunci yang teman-temanmu akan terima nanti masih membutuhkan kepintaran. Jadi, biar saja teman-teman itu terjebak kebodohannya sejak dari start sebelum UN dimulai!" 

Tapi argumen saya belum meredakan amarah anak saya akan kenyataan yang dia alami. Lalu sebagai pamungkas saya katakan kepadanya bahwa; "Pembocor soal UN, penjual bocoran soal UN dalam bentuk menjual kunci jawaban UN, pembelinya, dan pemakainya, ada dalam ranah kebodohan yang berlapis. Mereka generasi yang terjangkiti kebodohan murokab, berlapis."

Generasi Juara!

Itu juga yang dapat kita liat bersama di sekolah-sekolah yang terdapat anak-anak yang mengkonsumsi bocoran soal UN. Mereka adalah yang ketika datang ke sekolah masih menyisakan 'kelelahannya' karena tidak tampa semangat sebagai siswa yang berhak akan piala kejuaraan yang menjadi miliknya. Perilaku santai yang melewati batas kewajaran, yang sama sekali tidak menerbitkan sikap kebanggaan sebagai pelajar. Mengapa?

Itulah yang menjadi perenungan saya. Mungkinkah sikap dan perilaku demikian itu adalah resonansi dari knerja kami sebagai gurunya di sekolah? Dan inilah yang selalu menghentak-hentak dalam batin saya. Sehingga berbagai skenario sebagai guru, saya benar-benar memperoleh beban yang amat berat.

Boleh jadi saya bukan menjadi bagian dari konspirasi dari kebocoran UN. Namun mengapa anak didik kami masih mau mengeluarkan uang untuk ikut serta menggunakan kunci bocoran itu benar-benar menjadi refleksi saya. Karena itu, pantaslah kalau perjuangan untuk mendidik anak-anak kami sebagai generasi juara, belum cukup. Tetapi mendidik anak-anak itu sebagai 100% generasi juara tanpa kekecualian, itu menjadi visi kami selanjutnya. Semoga!

Jakarta, 22 April 2013.