Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 March 2018

Pak Agus, Saya Tutup Pintunya ya...

Pagi ini, beberapa siswa dari kelas Bahasa Inggris datang ke ruangan saya untuk memberikan interviu berkenaan dengan perasaan saya hari ini dengan memberikan alasan. Tentunya dalam Bahasa Inggris karena mereka memang sedang dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dengan Bapak Gurunya yang mondar-mandir mengiuti pergerakan para siswa dan siswinya di sepanjang koridor kelas lantai 1.

Juga ada beberapa anak yang kelasnya sedang menjalani pelajaran olahraga. Satu kelas ada di halaman luar sekolah yang pada pagi ini cerah dengan matahari yang tegas sehingga cepat membuat badan mereka berkeringat. Dan yang satu kelas lagi sedang melakukan aktivitas olah raga di hall sekolah yang ada di dalam gedung. Namun dua-duanya memberikan aura semangat kepada saya yang hanya dapat memantau mereka semua lewat CCTV yang layarnya saya pasang di salah satu meja saya.

Dan diantara situasi yang seperti itulah ada tiga anak laki-laki yang mengenakan seragam olah raga dengan memegangi bola muncul di pintu ruangan kerja  saya. Saya semula berpikir bahwa anak ini akan masuk mendekati saya yang sedang mengetik di depan komputer untuk meminta waktu guna mengetahui aspirasi saya melalui wawancara. tetapi setelah saya benar-benar dapat mengenali siswa saya yang datang dan berdiri di pintu masuk ruangan, dia segera mengemukakan maksud dan tujuannya mengapa ia berada di depan pintu ruangan saya tersebut.

"Pak Agus, bolehkah pintunya saya tutup?" Katanya dengan santun. Membuat saya senang dan bahagia sebelum akhirnya saya sampaikan:

"Boleh Nak. Boleh ditutup pintu Pak Agus. Terimakasih banyak ya."

Jakarta, 28 Maret 2018.

22 March 2018

Alor Food Corner

Teman merekomendasikan agar kami datang tidak terlalu malam di Alor Food Corner. Karena memang tidak punya ide, maka sebagian besar kami mengikuti saja saran tersebut, sekaligus mempersiapkan diri untuk tidak menjadi penyebab bagi keterlambatan keberangkatan kami dari hotel.  Dan setelah sebelumnya memutar-mutar, sampai jugalah lokasi dimana kami tuju. 

"Nanti jangan lupa memilih makanan yang halal ya. Lihat yang dijual dan para penjualnya. Harganya miring." Begitu teman saya yang kali itu menjadi pemandu perjalanan kami. Tidak ada yang berkomentar atas apa yang menjadi pendapatnya selain memang mengiyakan. Hingga pertama kami menjejakkan kaki di ujung jalan tersebut, saya pribadi merasa kurang nyaman karena situasinya memang terlalu ramai oleh pejalan kaki yang berseliweran, suara bising orang-orang berbicara, juga pengamen dengan pengeras suara. Saya merasa bukan menjadi bagian komunitas seperti itu sehingga rasa kurang nyaman itu yang membuat saya kurang menikmati ada disitu.

Lalu, ketika semua telah selesai dan harus membayar, semua terbelalak bahwa makanan yangkami pesan tersebut jika harus dibebankan ke masing-masing kami, maka angkanya jauh melebihi apa yang kami sangka. Meski demikian, saya dan kami semua tetap menikmati perjalanan tersebut. Karena ada yang berbeda dari yang ada di tanah air.

Jakarta, 22 Maret 2018

21 March 2018

Geng Mabotik

Beberapa peserta didik saya bermain bola anak-anak TK, yang kecil warna-warni yang peruntukannya untuk mandi bola, di plasa atau di hall sekolah pada waktu sepulang sekolah. Dan ini telah menjadi perhatian kami semua agar mereka berhenti bermain bola dan mengembalikan bola tersebut ke lokasi dimana mereka ambil bola itu. Dan usaha ini memang terus menerus kami lakukan. Oleh siapa saja yang kebetulan pada hari itu bertugas sebagai guru piket. Anehnya, temuan kami tersebut memang terus menerus berulang terjadi. Dan para pemainnya, adalah mereka-mereka saja. 

Karenanya, pada suatu waktu, ketika saya menemukan mereka sedang bermain di plasa SD yang ada di bagian belakang sekolah, saya sampaikan kepada lima orang diantara mereka yang memang sebagai pemain tetap, yang selalu saya tegur pada hari-hari sebelumnya. 

"Kok kalian lagi kalian lagi yang menjadi pemain bola TK? Apakah bahasa Pak Agus ini sangat sulit dipahami oleh kalian atau mungkin bahasa kita berbeda sehingga apa yang telah Pak Agus sampaikan memang tidak dapat kalian mengerti?" Kata saya kala itu. Dan anak-anak itu tidak ada satupun yang mengomentari atas apa yang saya sampaikan selain tersenyum dan saling berpandangan diantara mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Mereka selalu saja bermain ketika kami benar-benar sedang fokus hanya mengawasi hall dan lapangan luar. Mereka akan bermain di Plasa SD atau Plasa TK atau pendopo kantin lantai dua. Lokasi terakhir adalah lokasi yang paling kami tidak duga. Tetapi jika ada penjemput siswa yang adalah satu diantara mereka dan ami telah berkeliling tempat bermain yang ada dan belum juga ketemu, maka lokasi pendopo kantin menjadi lokasi akhir pencaraian kami.

Dan karena reputasinya itulah, maka kami semua, yang memiliki jam piket antara pukul 15.00-15.45, hafal akan aktivitas mereka. Hingga akhirnya kami berdialog dengan mereka ketika mereka terperangkap sedang bermain bola TK di Plasa TK. Akhirnya mereka mengaku bahwa mereka memang megelompokkan diri sebagai kelompok mabotik. Mabotik merupakan kependekan dari main bola TK!

Jakarta, 21 Maret 2018.

Naik MRT

Bersama teman-teman dari MIS, kami menggunakan transportasi umum yang ada di Kuala Lumpur. Tujuannya hanya satu, jalan-jalan. Karena bukan destinasi yang akan menjadi target kami ketika kami mengisi waktu week end kala itu, tetapi ingin sekali merasakan aura jalan-jalan dengan keliling kota menggunakan kendaraan yang berbiaya murah atau bahkan gratis seperti yang sebelumnya kami telah coba menggunakan GoKL.

Sebagaimana kita juga telah ketahui bersama, bahwa alat transportasi ini sekarang sedang digarap ngebut di negeri kita. Semoga segera kelar dan masyarakat dapat menikmatinya dengan nyaman dan aman serta terjangkau. Termasuk diantaranya berharap agar semua kendaraan Transjakarta sepenuhnya atas biaya Negara dengan APBN-nya atau Daerah atau dengan APBD-nya. Sehingga seluruh masyarakat dan pengunjungnya tidak membutuhkan lagi biaya transportasi. Semoga.

Kita bersyukur bahwa apa yang menjadi aturan dan tata cara ketika kami naik MRT dan monorail tidak gagap-gagap sekali. Ini karena memang setiap hari kami adalah pengguna CL yang menghubungkan rumah kami yang ada di luar Jakarta menuju kantor yang lokasinya ada di tengah-tengah kita.

Video itulah yang mungkin Anda akan ma\elihat bagaimana suasa perjalanan kami di KL dengan moda transportasi MRT dan LRT.

Jakarta, 21 Maret 2018.

20 March 2018

Naik GoKL

Naik GoKL, nama bis gratis dengan berbagai rute atau jurusan, yang rangkaiannya juga terdapat di peta jaringan yang lengkap dan luas, sebagaimana juga jaringan MRT dan kereta ringan yang ada di kota Kuala Lumpur, memudahkan bagi saya untuk jalan-jalan. Betul jalan-jalan yang sesungguhnya. Ini perjalanan yang mirip saya lakukan di sekitar akhir tahun 1984 ketika tiba di Jakarta. Bedanya, perjalanan saya di Jakarta di akhir tahun 1984, harus dengan membeli tiket. Dimana kala itu saya berangkat dari terminal bis Mangarai menuju ke Grogol. Kemudian dari Grogol saya memilih bis tujuan Blok M. Dari dari terminal Blok M saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Rumput. Dan Jakarta hari ini jika menggunakan Tranjakarta, tiket tetap harus saya bayar bila perjalanannya sebagaimana yang pernah saya jalani puluhan tahun lalu itu. Meski kalau sekarang cukup membayar satu kali untuk semua rute yang ingin saya lakukan jika tidak keluar dari terminal.


Di Jakarta hari ini, ada tersedia bis gratis untuk keliling Jakarta tetapi bukan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang kita ingnkan. Bis gratis Jakarta memiliki rute tersendiri. Berangkat dari depan Balaikota dan kembali lagi nanti ke Balaikota setalah mengitari tempat-tempat penting di Jakarta.

Sementara dengan GoKL, saya dapat mencapat berbagai lkasi yang saya inginkan setelah terlebih dahulu saya memperlajari jaringan GoKL yang ada. Kita berharap ke depan di Jakarta atau kota besar lainnya di NKRI, pemerintah memikirkan dan memanjkan patra tamunya yag sedang berkunjung. Semoga.

Jakarta, 20 Maret 2018.

19 March 2018

Malioboro

Setelah hari Sabtunya saya berada di Purworejo untuk bersilaturahim dengan keluarga yang tinggal disna, dan juga undangan khusus dari teman untuk datang langsung ke Somongari, Kaligesing, Purworejo, untuk menemukan langsung durian dari petaninya, maka pada malam harinya, dengan menumpang bis AKAP, saya menuju Jogjakarta. Kehadiran saya di Jogja, mengingat telah relatif malam, maka tidak ada lokasi yang menjadi janjian saya selain langsung beristirahat.

Hari Minggunya, saya telah berada di pusat Jogjakarta, yaitu Malioboro dengan menumpang kendaraan on line, saya minta diantar langsung ke kios buku yang lokasinya bersebelahan dengan Taman Budaya Jogjakarta untuk mencari koleksi buku saya yang kurang lengkap. Beberapa jilid buku telah saya punya, dan sekarang waktunya untuk mencari beberapa jilid yang belum saya miliki. Alhamdulillah koleksi tersebut saya temukan di toko deretan belakang di gerbang masuk utama sebelah kiri.

Dengan menenteng buku yang ada di dalam plastik, saya mengantar istri untuk membeli sesuatu di salah satu sisi di Jalan Malioboro, yang menjadi tujuan utama dari banyak wisatawan ketika berkunjung di Jogja, termasuk saya pada hari itu.

Saya memang tidak akan pergi kemana-mana di Jogja saat itu selain mengajak berenang dan dilanjutkan makan siang cucu. Karena malam harinya saya harus kembali ke Jakarta untuk masuk kantor. Maka memang jalan yang menjadi icon-nya kota Jogja itulah yang menjadi tujuan saya. Meski sebenarnya saya ingin sekali minta diantar untuk minum teh di kebun teh yang ada di Kabupaten Kokap. Tapi dengan sedikitnya waktu, maka niatan itu harus saya tunda.

Jakarta, 19 Maret 2018.

05 March 2018

Durian di Musim Durian

Sabtu, 3 Maret 2018 saya berkunjung ke desa Somongari yang ada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ini kunjungan saya untuk kali kedua setelah sebelumnya bersama rombongan teman sekolah datang ke Somongari untuk berkunjung ke Air Terjun yang lokasinya lebih kurang dua kilomater dari pusat desa pada tahun 1984!


Untuk itu, maka kehadiran saya dan teman-teman ke Somongari yang kedua itu setelah 34 tahun. Waktu yang sangat lama untuk melihat betapa berubahnya Somongari. Jalan yang kami lalui dari Cangkrep Kidul hingga Somongari dapat dikatakan baik. Dan ketika mendekati Somongari, yang berada di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sebagai penanda adanya tebing dan jurang diberikan batas besi dengan spot ligth juga marka jalan.

Dari desa Somongari, kami masih melanjutkan perjalanan menuju dukuh Harjo. Lokasinya menyusuri jalan Kaliharjo-Somongari. Yang kalau jalan itu saya teruskan, maka saya akan sampai ke desa sebelah, Hulosobo.

Di sepanjang jalan yang kami lalui itu, di tepi-tepi jalan kami temui Bapak atau Ibu dengan sepeda motor atau pikulan-nya, plus keranjang yang berisi durian atau duku atau manggis. Karena memang pada saat itu para petani di Somongari sedang panen buah khas mereka. Para petani itu sedang menanti pedagang yang akan membawa hasil panenannya. Saya sekali mencoba untuk bertanya kepada mereka apakah bisa duriannya kami beli. Mereka menjawab kalau buah yang ada di bawaan mereka sudah milik orang. Dan sekarang mereka menunggu pemiliknya datang.

Dan kepada kami ditunjukkan sekelompok durian yang bebas untuk dibeli. "Silahkan Pak diborong saja." Kata Ibu yang lokasi rumahnya bersebelhan dengan lokasi pegepulan durian, manggis, dan duku. "Semua diborong saja seratus lima puluh ribu." Lanjutnya sembari menunjukkan tumpukan durian sebanyak 11 buah. Tidak terlalu banyak. Tetapi cukup untuk kami makan ber-empat!

Jakarta, 5 Maret 2018.

Curug Cisurian

Perjalanan berikut setelah kami makan siang dengan menu bebek goreng dengan sambalnya yang pedas serta minum penutupnya segelas kopi Waja di Bubulak Resto yang maknyus, di bawah Sukageuri View, lokasi masih di wilayah Cigugur, Kuningan, adalah air terjun atau Curug Cisurian. Yang lokasinya dari Bubulak Resto tidak lebih dari 20 menit. Dengan jalanan desa yang menanjak.

Curug yang kami tuju di lokasi tersebut adalah curug yang paling dekat. Karena selain curug Cisurian, ada curug lain yang perjalananya mekakan waktu lebih lama karena jaraknya lebih jauh. Ini mengingat waktu kami di Kuningan harus berakhir pukul 16.00.

Dan tidak mengecewakan. Air curug yang kami kunjungi rellatif deras. Dengan lingkungan hutan yang relatif terpelihara. Kawanan monyet juga tidak ada yang mendekati kami untuk sekedar meminta limpahan makanan dari kami atau pengunjung lain. Ini mungkin juga dapat menjadi indikasi ekosistem bagi penyedia makanan kawanan tersebut masih lestari. Semoga.

Jakarta, 5 Maret 2018.

28 February 2018

Sukageuri View, Kuningan

Ini adalah rangkaian perjalanan kami, dari Pulomas, Jakarta. Setelah pagi kami sampai di terapi ikan Cigugur untuk beberapa lama, perjalanan kami lanjutkan ke bukit Sukageuri, yang lokasinya masih di kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Lokasi ini kami tempuh lebih kurang 20 menit dari terapi ikan Cigugur.

"Ini seperti di Bandung Pak Agus." Jelas salah seorang teman saya menjelaskan. Dia sedang menunggu giliran untuk naik ayunan dan sedikit pengambilan foto. Mungkin untuk up date sosmed yang dimilikinya.

"Beberapa teman kita kan sudah  pasang foto mereka di lokasi seperti ini Pak di Bandung. Bedanya, yang di Bandung selain harus membayar pada setiap spotnya juga harus mengantri." Lanjut teman yang lain lagi. Saya manggut-manggut karena memang tidak begitu keranjingan dengan sosial media. Maka akun yang saya miliki selain catatan ini yang hanya You tube.



Jangan ditanya bagaimana kondisi udara yang sejuk bahkan cenderung dingin, angin yang berhembus, langit yang penuh kabut, serta panorama yang hijau degan berselimutkan kapas-kapas putih. Juga spot foto yang kelihatannya sedang ada proses pembangunan. Termasuk juga adalah jalan di lingkungan lokasi wisata ini. Ini yang dalam benak saya, yang membedakan antara Bandung dengan Kuningan. Kelihatan sekali bahwa di Bandung padat modal sehingga pengunjung harus mengeluarkan biaya berlipat di banding yang ada disini.

Jakarta, 28 Februari 2018.

27 February 2018

Ke Cirebon

Kami telah merencanakan untuk dapat rihlah, pergi bersama-sama teman satu tim, sebagai penyegaran dan mempererat persahabatan. Meski kami tiap hari bertemu dengan teman-teman kantor tersebut, maka kebersamaan di luar ruang dinas segera kami rancang. Dalam rencana, berbagai destinasi menjadi pertimbangan kami untuk kami kunjungi. Dan ketika semua hal telah kami pertimbangkan, termasuk di dalamnya adalah urusan peserta dan biaya, maka pilihan jatuh untuk datang ke Cirebon.

Karena mempertimbangkan urusan transportasi yang cepat dan lancar, Cirebon relatif banyak yang dapat kita kunjungi. Karena selain Cirebon, kami dapat juga mengunjungi tetangganya yang relatif berhimpitan. Seperti Kuningan dan juga Majalengka. Maka tidak salah jika Cirebon menjadi destinasi pilihan kami untuk waktu yang singkat.

Benar saja, ketika panitia memberikan penawaran tentang destinasi dan waktu berangkat, maka kami semua semangat untuk mengumpulkan nomor KTP yang menjadi sarana buat memesan tiket Gambir-Cirebon-Gambir. Meski teman yang ada di Cirebon memberikan penawaran untuk mengantar dari Cirebon menuju Jakarta sehingga kami tidak memerlukan tiket kereta kembali ke Gambir, kami tetap memesan tiket dan berterimakasih atas tawaran untuk diantar. Ini tidak lain karena alasan kemacaten di jalan bebas hambatan ketika kembali ke Jakarta. 



Dan alhamdulillah. Kami datang juga ke Cirebon untuk makan empal gentongnya Haji Apud dengan menu sate kambing muda, serta mencari cindera mata dan bahan batik di Mall Batik Cirebon di Trusmi.

Jakarta, 27 Februari 2018.

22 February 2018

Sabar Pak Agus...

Pada saat saya menemani siswa yang sedang bersiap-siap bermain futsal di lapangan sekolah, saya sedikit meminta kepada anak-anak untuk sepakat membuat tim futsal. Dengan anggota yang tidak terlalu banyak, saya meminta supaya anak-anak cukup membuat tiga tim, yang akhirnya nanti akan bermain. Tim yang memang anak memperoleh kesempatan untuk bermain dua kali.

Semula saya yang membuat tim dengan berdasarkan pada asal kelas mereka. Tetapi mereka meminta agar diberikan kesempatan membentuk tim masing-masing. Dan usulam itu saya setujui. Hanya yang menjadi patokan untuk pembuatan tim adalah terbentuknya tiga tim. Namun setelah ditunggu beberapa menit, nampaknya anak-anak tidak mudah menemukan kata sepakat. Dengan berbagai dalih dan argumennya masing-masing, akhirnya kesepakatan malah memakan waktu. Saya masih memberikan waktu kepada mereka. Hanya mengingatkan bahwa waktu bermain mereka dibatasi hingga pukul 15.30. Artinya, waktu bermain mereka akan terpotong oleh waktu yang mereka butuhkan untuk menyepakati tiga tim yang menjadi acuannya.

"Baik, Pak Agus harus segera menentukan para anggota untuk tiga tim yang kita inginkan ya. Karena cukup memakan waktu ketika anggota tim diserahkan kepada kalian." Kata saya menengahi silang pendapat yang terjadi pada anak-anak tersebut di pinggir lapangan. Saya berpikir harus melakukan pembentukan tim agar waktu bermain tidak terbuang begitu saja. Dan itu akan menjadi pengaruh berikutnya jika waktu bermain mereka terpotong. Seperti misalnya mereka akan tetap meminta masing-masing tim bertanding selama waktu normal sehingga kepulangan mereka menjadi terlambat. Dan ketika kepulangan mereka molor, maka penjemput yang akan gusar. Mengingat anak-anak tersebut beberapanya masing memiliki agenda kegiatan di luar lapangan setelah permainan ini selesai.

"Tidak Pak Agus. Beri kami waktu sedikit lagi. Bapak harus sabar menghadapi tugas Bapak." Tiba-tiba ada seorang anak yang nampak tidak terlibat atau dilibatkan dalam diskusi penentuan tim itu keluar dari serombongan anak-anak dan mendekati saya sembari mendorong-dorong tangan saya dengan mengemukakan kata-kata tersebut.

Saya akhirnya memberikan kesempatan dan toleransi bagi anak-anak untuk terus melanjutkan diskusi mereka. Tetapi anak yang meminta saya sabar tetap berada di dekat saya dengan terus menyampaikan kata-kata. Mungkin maksudnya adalah agar saya tidak terlalu ambil pusing dengan waktu yang dibutuhkan anak-anak ketika menyepakati kesepakatan mereka. 

"Mengapa Pak Agus harus bersabar dengan waktu yang kalian butuhkan untuk berdiskusi tentang tim?" Kata saya di depan anak tersebut. Ia memang anak yang saya kenal karakternya. Anak bontot dari tiga bersaudara yang ketiganya ada di sekolah kami.

"Karena sabar akan di sayang Allah. Jadi Pak Agus memang harus bersabar. Pak Agus tidak perlu terburu-buru. Nanti mereka pasti bisa menemukan kesepakatan. Jadi Sabar ya Pak Agus..."

Jakarta, 22 Februari 2018

21 February 2018

Pulpen Saya (#Lagi)

Sungguh. Ini hanyalah catatan yang sangat biasa sekali. Tidak ada hal yang menjadi sesuatu sekali. Karena apa yang istimewa dari catatan sebuah pulpen? Tetapi saya ingin sekali mencatatnya di sini. Setidaknya ada yang perlu saya ingat meski itu hanyalah tentang pulpen!

"Pak Agus, anak-anak di refleksi mereka setelah interviu Bapak adalah terkesan degan pulpen Bapak. Pulpennya mahal kata anak-anak. Pulpen unik dan langka." Begitu kata serang teman ketika bertemu di ruang kantin sekolah saat istirahat pagi. Kami berada di kantin juga untuk membeli sarapan atau sekaligus juga makan siang karena jam istirahatnya sudah menjelang siang hari. Dan masih ada beberapa teman selain kami yang ada di kantin dan sedang menyantap makanan pesanan. Menyenangkan sekali.

"Mereka bilang pulpen Pak Agus adalah model pulpen yang baru mereka liat selama ini. Mereka juga menunjukkan tulisan Pak Agus di kertasnya masing-masing. Katanya keren Pak." Begitu lanjut teman saya itu memberikan ulasan atas apa yang disampaikan peserta didiknya setelah mewawancarai saya dan meminta saya untuk membubuhkan tandatangan saya.
Pulpen yang saya punya yang menurut peserta didik saya pulpen unik.

Terus terang, ini adalah komentar berikutnya ketika anak-anak peserta didik melihat secara langsung saya menggunakan pulpen saya untuk menulis didepan mereka. Ini juga yang disampaikan oleh anak-anak SMP ketika saya menemani anak-anak di kegiatan pagi mereka, tilawah Al Qur'an. Pada saat di SMP itu, ada anak yang berkeras meminjam pulpen saya yang uni tersebut. Dan setelah mencobanya untuk menulis, ternyata tidak semudah ketika ia menggunakan bolpoin.

Jakarta, 21 Februari 2018.

20 February 2018

Tas Terbawa Ayah

Beberapa waktu yang lalu, juga seperti hari-hari sebelumnya dimana saya sedang touring di sekolahan sekedar untuk melihat-lihat sisi sekolahan pada hari itu, bertemu dengan seorang driver siswa di pintu keluar sekolah. Dan setelah kami bertegur sapa, maka driver tersebut menyampaikan berita kepada saya bahwa ananda yang diantar jemputnya yang sudah di bangku SD hari ini tidak masuk sekolah. Sehingga dia hari ini hanya mengantar dan menunggui serta menjemput adiknya. Karena hanya adik yang diantar jemput, maka  jam kepulangannya tidak akan terlalu siang. 

Beberapa kali saya sempat bercengkerama dengan Bapak Driver tersebut sekedar bertukar pengalaman. Dan dari cerita-cerita tersebut saya mengenalnya lebih dari sebagai sosok driver peserta didik saya. Saya mengenal beberapa sisi hidupnya yang bisa menjadi bagian yang saya sendiri harus mengangkat topi dan mengapresiasinya. 

"Sakit apa Pak kok sampai tidak masuk sekolah?" Kata saya kepadanya. Karena nananda yang diantarnya adalah ananda yang sangat enerjik. Menyimpan banyak sekali tenaga untuk bergerak. Maka ketika mendengar beritanya tidak masuk sekolah saya mencoba mencari tahu sakit apa gerangan?

"Tidak sakit Pak. Dia kecewa sekali dengan tas sekolahnya yang tidak ada di rumah." Jelasnya. Yang justru membuat saya menjadi bingung. Betapa tidak, bukankah anak-anak tidak hanya punya satu tas?

"Jadi tas sekolah yang biasa dia bawa, tadi pagi terbawa oleh ayahnya ke kantor. Ini karena tas sekolahnya ketika sampai rumah kemarin tidak langsung diturunkan. Saya sendiri benar-benar lupa ketika sampai rumah tidak langsung menurunkan tas sekolahnya. Maka dia ngambek dan tidak mau ke sekolah." Jelas Pak Driver tersebut. Saya mangggut-manggut mendengar penjelasan tersebut.

Wah, saya jadi mendapat ilmu baru dengan cerita tersebut. Bahwa tas sekolah juga bisa menjadi pemicu anak didik saya memutuskan diri untuk tidak masuk sekolah...

Jakarta, 20 Februari 2018.

19 February 2018

Tempat Sembunyi Favorit

Saya sedang berdiskusi dengan bagian security ketika seorang guru memanggil-manggil nama peserta didik kami yang ketika jam itu, telah lebih dari 60 menit berada di sekolah dari jadwal kepulangannya. Ini berarti, pemanggilan yang melibatkan guru tersebut menjadi jalan paling terakhir. Karena biasanya penjemput cukup meminta salah seorang dari anggota security yang ada di depan, baik di pintu masuk atau pintu keluar sekolah untuk kemudian anggota security tersebut  memberikan pesan berantai kepada anggota security yang lain via HT.

Dan pada saat itu, posisi saya sedang berada di lantai basement sekolahan tempat dimana kendaraan guru dan karyawan parkir. Maka saya segera beranjak dari lokasi diskusi tersebut menuju ke ruangan guna berkoordinasi dengan guru yang mencari. Dalam benak saya, segera tervisualisasi beberapa lokasi favoritnya untuk bersembunyi.

Peserta didik saya ini adalah ia yang pernah saya temukan ketika kami memintanya menuju ke penjemputnya yang telah menunggu di pintu hall sekolah. Tetapi saat itu ia bukan segera bertemu penjemputnya dengan membawa tas untuk pulang ke rumah, justru sembunyi di lokasi yang sebelumnya tidak saya duga. Maka ketika hari ini guru disibukkan dengan persoalan yang sama, saya segera memvisualisasikan lokasi-lokasi favorit untuk sembunyinya.

Benar saja. Alhamdulillah. Beberapa langkah saya beranjak dari lokasi disuksi, saya berpapasan dengan anak tersebut ketika ia sedang berlari untuk mencari lokasi sembunyi yang baru. Saya ajak dia bertanya jawab. Termasuk memintanya memberikan alasan mengapa tidak segera menemui penjemputnya. Dan melalui HT, saya informasikan kepada anggota security lainnya guna datang di lokasi dimana saya dan siswa saya berada.

Penemuan itu, sekaligus mengakhiri petualangannya untuk mencari lokasi sembunyi yang baru di sekolah, untuk menunda kepulangannya. Alhamdulillah.

Jakarta, 19 Februari  2018.

15 February 2018

Berebut Koran Pagi

Seperti hari-hari sebelumnya di waktu sekolah, pagi ini bersamaan dengan waktu istirahat pertama sekolah, kami bertemu dengan siswa kami di Perpustakaan sekolah untuk bergantian membaca koran pagi. Bergantian karena kebetulan saya datang lebih kurang sepuluh menit terlebih dahulu. Oleh karenanya ketika dia datang, saya telah menyelesaikan membaca judul-judul berita yang tersaji pada hari itu. Siswa saya datang di pertengahan waktu istirahatnya. Ini karena ia datang seusai melakukan latihan sinkronisasi Ujian Nasional Berbasis Komputer, atau UNBK. 

"Apa berita besar hari ini Pak Agus?" Kata murid saya mendekati meja dimana koran baru saja saya lipat.

"Masih sama dengan hari kemarin. Tapi mungkin kami lebih tertarik dengan berita-berita yang ada di bagian dalam? Silahkan dinikmati ya." Kata saya sembari menggeser koran yang telah saya lipat mendekat ke meja bagian dimana dia duduk.

Saya dan dua teman yang berada di Perpustakaan selalu berkoordinasi untuk sesegera mungkin mengambil koran pagi yang oleh agen dikirim ke sekolah dengan meletakkannya di Pos Satpam sekolah, dan membawanya ke ruang baca di Perpustakaan. Ini kami lakukan untuk menghindari koran pagi tidak sampai ke lokasi membaca.

Dan ketika koran pagi terlambat sampai di ruang baca yang ada di Perpustakaan, maka kami mencarinya kalau tidak di meja guru piket SMP lantai dua, yang di ruang bersama dimana semua siswa SMP akan melakukan Dhuha terl;ebih dahulu. Dan kalau ini yang terjadi, maka koran telah terlebih dahulu diambil oleh ananda siswa saya tersebut...

Jakarta, 15 Februari 2018.

Ruangan Saya

Pada saat beberapa siswa datang secara bergilir ke ruangan saya untuk tujuan bertemu saya dan mewawancarai, saya menemukan berbagai aneka karakter anak. Ada beberapa diantaranya menggunakan bahasa yang lurus-lurus saja ketika memulai wawancara atau etika mengajukan pertanyaan- pertanyaan. Ada yang begitu lurus dan amat sangat santun dalam tutur katanya. Tertata begitu rapi kata dan klimat yang dikemukakannya seperti tulisan karangan yang enak dibaca. Ada pula yang begitu cair, santai, dan tetap fokus kepada apa yang harus didapatnya.

Pendek kata, peserta didik saya itu adalah generasi yang memiliki visi bagus dan berada di atas rata-rata kalau saya melihatnya dari tutur kata dan bahasa yang mereka gunakan. Saya memperoleh indikasi adanya pola berbicara dengan orang lain yang terlebih dahulu mereka pelajari. Semoga ini dapat menjadi bagian penting dalam menumbuhkan potensi mereka yang unggul dan baik sebagai investasi suksesnya di masa depan. Amin.

Dan beberapa diantara mereka yang tetap cair misalnya ketika ada diantara mereka yang mengemukakan tentang ruangan saya seperti apa. Ada yang berkomentar karena suhu ruangan-nya yang adem. Ada pula yang mengomentari layar cctv yang tetap menyala sepanjang wawancara berlangsung. Ada juga yang berkomentar tentang pulpen saya yang unik dan antik. Dan berbagai komentar lainnya.

"Saya baru kali ini dapat masuk ke ruangan Pak Agus. Beneran Pak. Padahal setiap hari saya liat ruangan Pak Agus." Komentar seorang siswa saya ketika wawancara telah selesai. Ia bersama temannya yang juga berkomentar sama; "Kalau saya ini pengalaman yang ke kali ke sini. Yang pertama dulu waktu saya masih di kelas satu. Saya mendapat pertolongan Pak Agus saat itu." Timpal temannya.

Saya apa yang mereka kemukakan, saya melihat keduanya sembari mengucap syukur di dalam batin saya. Bersyukur bahwa saya mendapat kesempatan yang begitu berharga dan menarik bagi pertumbuhan batin saya. Alhamdulillah.

Jakarta, 15 Februari 2018.

14 February 2018

Pinjam Pulpen Saya

Beberapa siswa saya, baik yang duduk di SD atau yang di SMP, yang kebetulan menyaksikan saya menggunakan pena saya ketika menulis, maka mereka akan berkomentar yang nadanya adalah keheranan.

"Ballpoint-nya aneh."
"Pulpen-nya lucu."
"Pulpen-nya seperti punya nenek saya Pak Agus."

Dan berbagai macam yang lain. Pendek kata, semua melihat apa yang saya gunakan untuk menulis sehari-hari itu adalah alat tulis aneh.

Bahkan ada di SMP, ketika saya sedang beraktivitas mengajar kelas pagi dengan lima siswa saya, ada seorang diantaranya yang meminjam pulpen saya itu untuk menulis namanya di buku barunya. Dan ketika saya berikan kepadanya ballpoint biru yang ada di tangan saya, dia menunjuk untuk menggunakan pulpen yang ada di kantong saya.

"Kamu nanti kesulitan menggunakan pulpen Pak Agus ini." Kata saya memberikan alasan mengapa bukan pulpen yang di kantong yang saya akan berikan pinjam kepadanya. Tetapi ballpoint yang memang ada di tangan saya.

"Tidak mungkin Pak Agus. Saya akan coba." Kata anak itu. Dan benar saja, ia harus menggerakkan beberapa kali ujung pulpen saya ke atas kertas di  halaman depan bukunya yang baru dengan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Maka teman-teman yang ada di sekitar kami tertawa.

Jakarta, 14 Februari 2018.

12 February 2018

Klakson

Kita semua maklum kalau pabrik selalu membekali klakson di kendaraannya yang dilepas di pasar. Tidak hanya untuk kendaraan roda 4, tetapi semua jenis kendaraan bermotor dibekali alat tersebut. Juga seperti lampu sign. Dan dalam buku manualnya juga juga disampaikan bagaimana klakson dinyalakan. Sedang penggunaannya di jalan raya, umumnya digunakan untuk memberikan tanda keberadaannya. Sehingga pengguna jalan yang lain yang ada di depan atau di sampingnya menyadari dan dapat memberikan jalan jika memang akan mendahului.

Tetapi ada yang kurang jika kita menengok apa yang terjadi di jalanan kita sekarang ini. Sulit bagi kita untuk tidak mendengarkan klakson jika kita berada di jalan raya. Klakson sekarang berfungsi todak saja pada memberikan tanda atas keberadaan kendaraannya atau pemberitahuan kalau akan mendahului, klakson juga adalah alat untuk menyampaikan amarah.

Jakarta, 12 Februari 2018.

09 February 2018

'Buku Lama' Siswa Saya

Usai kegiatan rutin pagi di ruang bersama di lantai 3, anak-anak akan melanjutkan dengan membaca tenang atau silent reading. Hari itu, Kamis, 7 Februari 2018. Saya berada di antara anak-anak karena kebetulan saya mendapat tugas untuk mendengarkan 5 peserta didik saya membaca Al Qur'an. 

Dan pada saat kegiatan silent reading tersebut saya mendapati seorang anak yang sedang tekun membaca buku yang relatif tebal dengan  hard cover warna biru kusam. Tidak tahu, mengapa saya begitu tertarik untuk memperhatikan buku yang sedang dibaca oleh anak didik saya tersebut. Mungkin karena tampilan bukunya yang tidak biasa. Karena anak-anak yang lain semua membaca buku dengan sampul buku yang mengkilap bergambar menarik.

Setelah sekian lama saya memperhatikan tampilan buku yang sungguh tidak biasa itu, maka saya sampaikan pertanyaan saya kepadanya;

"Buku apa yang sedang kamu baca itu?" kata saya begitu kegiatan membaca berakhir. Nampaknya pertanyaan ini menjadi daya tarik bagi beberapa anak yang duduk berdampingan dengan anak tersebut. Dan mereka juga memiliki rasa penasaran yang sama dengan saya atas penampilan buku kuno tersebut.

"Buku saya Pak Agus. Baru saja saya beli di on line shop." Jelasnya. Dan ketika saya mendekatinya, jelas bahwa buku tersebut memang buku lama. Buku yang pernah saya kutip dalam cerita saya kepada anak-anak beberapa waktu lalu. Dan nampaknya anak tersebut penasaran untuk juga memiliki bukunya. Buku yang judulnya adalah Dunia Baru Islam yang ditulis oleh L Stoddart. Edisi Indonesia-nya di terbitkan atas instruksi Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

"Ini bukunya orisinil nak. Di dalamnya ada surat perintah dari Presiden Soekarno." Jelas saya. 
"Surat tersebut ada di halaman buku bagian depan." Lanjut saya lagi.

"Betul Pak Agus. Tapi suratnya saya lepas. Saya simpan. Karena kemarin sudah robek. Dan supaya tidak hilang maka saya melepasnya dan menyimpannya." Jelasnya lebih lanjut.

Saya senang sekali bahwa ada anak peserta didik saya yang membeli buku yang menjadi referensi dari apa yang pernah saya ceritakan kepada mereka. Bahagia sekali.

Jakarta, 8 Februari 2018.

07 February 2018

Bermain Bola TK

Saya selalu mendapati beberapa kali bola-bola milik anak-anak Taman Kanak-kanak digunakan untuk bermain futsal anak-anak kelas III SD yang kebetulan sedang menunggu penjemputnya datang. Mereka mengambil bola itu di tempat bermain TK yang ruangannya menyatu dalam satu gedung dengan SD. Meski ukuran bola itu hanya sebesar bola kasti atau bola tenis, tetapi selalu menarik bagi kakak-kakak SD kelas III mengambilnya sebagai pengganti bola futsal mereka. Dan mereka bermain dengan bola-bola yang diambilnya itu di sembarang lokasi, dimana yang menurut mereka memungkinkan. Kadang di hall sekolah, kadang di plasa SD, atau kadang di plasa TK. Namun beberapa waktu lalu kami sempat kelabakan mencari anak-anak yang penjemputnya sudah datang namun menemukan anaknya tidak ditemukan. Alhamdulillah, setelah kami kehilangan akal akan lokasi yang memungkinkan untuk bermain, maka masih ada satu lokasi bermain futsal, yaitu di ruang katarsis lantai II, yang bersebelahan dengan kantin sekolah.

Mengapa kami menyebutnya sebagai ruang katarsis? Karena dengan argumentasi sempit dan terbatasnya ruang bermain siswa, maka kami 'menciptakan ruangan sebelah kantin sebagai ruangan untuk anak-anak remaja kami mengeluarkan keringat. Mereka bida melakukan kegiatan futsal, tenis meja, bahkan kami sediakan pula sangsak. Itulah maka kami menyebutnya ruangan itu sebagai ruang katarsis.

Kembali ke anak-anak yang bermain bola TK. Jadi setelah saya selesai rapat kepala sekolah, saya bermaksud melanjutkan rapat saya dengan bagian lain untuk mendiskusikan jalan keluar bagi staf kami yang kesehatannya sedang tidak fit. Saya meminta pertemuan dilakukan di tempat makan anak-anak TK. Namun ketika saya sampai di lokasi tersebut, ada dua anak kelas III SD yang sedang asyik bermain futsal dengan menggunakan biola milik TK. Melihat kehadiran saya, dua anak tersebut sedang memperagakan dua gerakan yang berbeda. 

Anak pertama begitu melihat saya langsung melakukan joget baby shark. Sedang anak kedua begitu melihat saya langsung tertelungkup dan melakukan push up. Tentunya sembari tertawa-tertawa dengan pandangan mata ke arah saya.

Pertama saya melihat anak-anak itu dengan memperagakan dua gerakan tersebut, tidak ada dalam benak saya selain anak itu melucu untuk sispa ya? Namun ketika saya melihat sekitar bahwa tidak ada orang lain selaun mereka kecuali saya, dan mereka berada diantara 3 bola kecil milik dik-adik TK, lahir kesimpulan saya bahwa dua anak tersebut sedang mengalihkan perhatian saya tidak lagi bermain futsal dengan menggunakan bola milik TK, tetapi dengan dua gerakan mereka yang berbeda tersebut.

Cerdas. Pikir saya. 

Jakarta, 7 Februari 2018