Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 January 2010

Guru Inspiratif, Catatan Saya tentang: UN, Catatan Anak SMA

Apa yang ditulis dalam catatan saya sebelumnya yang berjudul; UN, Catatan Anak SMA, adalah tulisan anak saya sendiri saat yang bersangkutan duduk di bangku kelas XII SMA, yang saya ambil dari blog saya dan juga blog anak saya. Ditulis olehnya pada akhir Maret 2009.
Apa yang dia tulis itu adalah kekecewaan dia atas ketidakbisaberlanjutnya kepesertaannya dalam kompetisi-uji untuk menjadi bagian dari pemain Persija Junior. Mengapa gagal? Karena dalam waktu 3 bulan, Januari hingga akhir Maret dia harus berada di lapangan untuk siap berlatih pada pukul 14.00 hampir setiap hari. Dan menginjak bulan kedua ia tidak lagi dapat hadir di lapangan untuk berlatih.
Karena untuk latihan ia harus meninggalkan kelas satu jam lebih awal. Tentu dengan menggunakan permohonan izin dari saya sebagai orangtuanya, baik secara lisan dan tulis dalam bentuk surat. Namun menginjak bulan kedua, penolakan guru dan lembaganya sudah tidak mungkin dia hindari. Kata: pilih main bola atau lulus ujian? Nyaris dikumandangkan oleh guru. Dan bagi saya, yang kebetulan juga guru, apa yang guru sampaikan adalah wajar. Tapi solusi tegas untuk memilih satu dari dua pilihan yang disampaikan tersebut adalah ungkapan tidak bijak.
Saya membayangkan kalau ini yang dihadapi oleh siswa saya di sekolah, maka saya akan meminta anak dan kedua orangtuanya bertemu dengan kami. Berdiskusi tentang solusi apa? Dan menemukan solusi yang berkait dengan masa depan anak, maka harus melibatkan anak yang bersangkutan sekaligus menyampaikan pandangan kita sebagai pendidik? Bukankah saat itu kalau anak gagal di UN masih ada paket C? Dan jikapun anak memilih untuk menjadi pemain bola tetapi masih juga mungkin untuk tetap bersekolah dan lulus UN? Bukankah jika anak dan orangtua ketika dalam diskusi tersebut, tetap memilih dua pilihan yang ada dan kemudian kita sebagai pihak sekolah khawatir anak tersebut akan gagal UN sehingga muka kita sebagai guru atau sekolah akan tercoreng maka kita bisa meminta anak dan orangtua membuat komitmen tertulis?
Ini adalah cara pandang saya. Saya akan memilih pilihan itu sebagai bagian dari mengukir sejarah positif pada masa depan anak atau siswa saya. Bukan sebaliknya.
Dan akhir cerita anak saya memilih untuk konsentrasi bersekolah. Lalu ia tumpahkan kesumpekan hatinya itu dalam bentuk artikel yang dibeberapa bagiannya diluar EYD.
Dari pengalaman seperti inilah saya mengajak semua teman pendidik untuk tidak memaksakan cara pandangnya kepada siswanya. Buatlah sejarah yang baik bagi masa depan mereka. Jadilah guru yang inspiratif bagi mereka!
Jakarta, 24 Januari 2010.

21 January 2010

Ketika Anak Memilih Tempat Kuliah


Alhamdulillah. Dua anakku yang sama-sama duduk di kelas XII telah menyelesaikan SMA-nya tahun pelajaran 2008/2009 lalu. Mereka senang sekali. Mereka senang karena sudah tidak lagi mengenakan pakaian seragam. Juga sudah tidak akan sering-sering mengikuti upacara di sekolah lagi. Juga sudah tidak akan selalu masuk sekolah pada jam yang rutin sama. Senang karena, kata mereka sendiri, tidak anak kecil lagi. Kami sebagai orangtuanya juga gembira.
Lulus SMA, berarti juga adalah memilih tempat belajar yang baru. Banyak prediksi dan argumentasi yang kita gunakan sebagai penentu bagi pembuatan keputusan Ya atau Tidak. Saya jadi ingat ketika Si Sulung masuk SMA beberapa tahun lalu. Orang bilang SMA-nya dulu adalah sekolah untuk para pemakai. dan lain-lain. Maka kami ajak dia bicara.
Saya tanya padanya:

· Mantap kamu memilih sekolah ini?
. Mantap Yah. Jawabnya tanpa ragu.
. OK. Kata saya. Sehari-hari kamu di sekolah itu, adalah menjadi tanggung jawabmu. Ayah dan Ibu selalu akan mendoakan akan kesuksesanmu. Tetapi Ayah tidak bisa memberikan proteksi pada dirimu akan sesuatu yang tidak menjadi kehendak kita. Oleh karenanya, semua ada pada otonomimu untuk melakukan proteksi. Dan Ayah percaya bahwa kamu adalah anak baik. Amin. Kata saya disaksikan oleh Ibunya yang ada di sebelah saya. Dalam hati saya bermohon kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada putra saya ini.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.

Kebingungan si sulung itu berlarut hingga awal Juli 2009. Dan ketika didesak lagi untuk segera menentukan pilihan kuliah dimana, dia menjawab: Kita sedang liburan. Jawaban ini dia sampaikan ketika kami sedang berada di Yogyakarta. Kalau ditanyanya sekarang, saya malah pusing. Lanjutnya.

Saya maklum. Dan saya selalu memiliki keyakinan bahwa anak-anak akan sukses dengan jalan yang dipilih dan dilaluinya. Dan sebagai orangtua mereka, keyakinan ini selalu saya visualisasikan. Tanpa ragu sekalipun. Ia sedang menggeluti bisnis bersama teman-temannya (Sukses Mas!).

Kami desak, akan menjadi apa kelak setelah lulus kuliah nanti? Pertanyaan ini kami maksudkan agar memudahkannya dalam menentukan pilihan. Tetapi tetap saja mereka berdua menjawab belum tahu. Si Sulung, setelah bingung mau meneruskan kuliah dimana, akhirnya memutuskan untuk belajar komputer di STIMK Jakarta.

Berbeda dengan si sulung, nomor dua saya, meski belum tahu ingin menjadi apa kelak setelah lulus kuliah, tetapi mantap untuk mengambil Bahasa Jepang. Saya mencoba untuk membujuk memilih jurusan sebagai guru. Ya seperti profesi ayahnya. Tetapi dia tegas memilih jalan yang diyakininya akan mengantarkan mimpinya belajar ke negeri Sakura.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.
Alhamdulillah, hari ini, mereka telah memasuki gerbang perguruan tinggi. Jenjang bagi merealisasikan mimpinya untuk menjadi manusia sukses dalam Ridho Allah Swt. Amin.

Jakarta, 21 Januari 2010.

20 January 2010

UN, Sebuah Catatan dari Anak Saya

Setiap orang pasti punya keinginan atau impian. Tidak peduli siapa orang itu, dari strata mana orang itu berasal, apa latar belakang pendidikannya dan dimana pun mereka berada, yang pasti dia pasti memiliki angan-angan dan keinginan atau impian yang ingin diraihnya.
Tapi pernahkah anda merasakan impian anda putus di tengah jalan padahal impian tersebut sudah ada di depan mata anda. Menyesal, pasti itu yang anda rasakan. Atau menyesakkan dada, itu lebih parah lagi. Ini terjadi pada seseorang yang tengah mengejar impiannya, sudah berada di tengah perjalanan dan tiba-tiba di paksa untuk berhenti dengan alasan dia harus fokus pada ujian nasional atau UN yang harus dijalaninya. Fokus, mengingat UN membutuhkan daya dan upaya yang begitu besar dan total. Sehingga untuk membagi waktu bagi pengejaran mimpi untuk sementara harus dihentikan.
Mengapa UN menjadi begitu sangat pentingnya di negara ini? Seberapa pentingnyakah UN bagi kehdiupan seseorang yang sedang mengejar mimpi? Apakah dengan ada UN negara ini bisa maju?
Apapun jawabanya yang jelas UN telah meneggelamkan impian anak tersebut. Belum lagi perilaku gurunya yang enggan memberinya izin untuk mengejar impianya tersebut. Guru di sekolah masih sering tidak melihat potensi siswanya secara jujur dan sabar. Guru di sekolah masih sering melihat rendah atau meremehkan siswanya. Terlebih dengan siswa yang memang memiliki kondisi akademis yang kurang baik. Padahal keberhasilan hidup tidak saka dan tidak hanya bergantung kepada cacatan nilai akademik semata. Ok, anak itu fokus pada UN tapi apabila anak itu tidak lulus apakah pihak sekolah akan bertanggung jawab karena telah merebut impian anak itu?. Saya pikir sekolah akan semakin meremehkan anak itu. Padahal pihak sekolahlah yang seharusnya bertanggung jawab dan bukan malah meremehkan anak itu.
Pihak sekolah terkadang menyuruh anak anaknya belajar dan belajar. Ingat jaman sekarang yang paling di butuhkan adalah skill. Lulusan S1 pun belum tentu dapat kerja. Tapi ad lulusan SMA langsung dapat kerja, bahkan belum lulus saja sudah di buking orang untuk bekerja di tempatnya. Kenapa bisa gitu ya? Padahal lebih pitar lulusan S1 dari pada lulusan SMA apalagi yang belum lulus SMA. Tapi yang SMA bisa langsung kerja gajinya pun sama dengan orang yang lulusan S1. Dia bisa main bulu tangkis langsung di buking buat kerja. Kalau kita berprestasi kerja akan mencari kita bukan kita nyari kerja. Yang penting Skill bukan pintar atau enggaknya. Artinya anak itu tidak lulus UN tapi bisa saja anak itu lebih sukses dari pada guru guru yang ada di sekolah itu.
Anak yang rangking satu pun itu bukan jaminan untuk menjadi orang yang sukses nantinya. Murid murid sekarang saja pergi ke sekolah bukan mencari ilmu melainkan hanyalah sebuah nilai. Sangat menyedihkanya bangsa ini. Pantas saja orang bule datang ke sini menjadi majikan tapi kalau dari sini ke sana hanya menjadi pembantu. Apa itu impian kita ?. Harusnya sekolah mencari apa sebenarnya bakat murid muridnya dan memberinya motivasi agar murid muridnya itu terus fokus pada impianya tesebut. Bukan malah mengubur impian murid muridnya apalagi meremehkan murid muridnya. Apa sebenarnya yang di harapkan guru guru tersebut kalau murid muridnya saja tidak mempunyai impian hanya mengikuti air mengalir biarpun keruh tidak apa apa gak masalah. Kalo tuh air ngalirnya ke laut sih masih mending, tapi kalo ngalirnya ke sapitank gimana?. Andalah sebagai gurunya yang akan malu nantinya. Tapi kalau murid muridnya sukses anda juga ikut bahagia nantinya.
Mari bapak ibu sekalian kita ubahlah paradigma kita yang hanya memandang orang pintar itu adalah orang yang sukses nantinya. Orang yang sukses adalah orang yang mempengaruhi lingkungan sekitar dan punya impian yang kuat itulah orang yang sukses nantinya. Kalau anda memang punya murid yang seperti itu selamat terus memberi beri anak itu motivasi di saat ia sedang down. Asalkan anda tidak mengubur impianya saja dia akan sukses nantinya.
Ikhwan A. Rahman: Siswa SMA Kelas XII, di Jakarta

Sumber: http://ikhwanarahman.blogspot.com

15 January 2010

TUGASKU Talent Show 2010!


Jumat, 8 Januari 2010 lalu, kami, guru dan karyawan dari Sekolah Islam TUGASKU secara berkelompok maupun sendiri-sendiri tampil di panggung pertunjukkan lebih kurang 7 menit. Tidak ada yang tidak tampil menunjukkan kebolehannya. Kami menyebut acara itu sebagai Teachers Talent Show.

Ini adalah acara untuk kedua kali sejak kami tinggal di Pulomas. Kegiatan pertama kami laksanakan pada tahun 2007. Yang formatnya seperti Gong Show. Kita meminta kesediaan Ketua POMG TK, SD dan SMP sebagai komentator atas penampilan kami. Dan siswa yang masih tinggal di sekolah sebagai penonton. Acara saat itu berlangsung pada hari Jumat pukul 14.00-17.00.

Namun pada pada Jumat, 8 Januari 2010 itu tanpa komentator dan hanya sedikit penonton. Penonton hanya diantara kami sendiri serta Pengurus OSIS SMP Islam TUGASKU. Namun demikian, kami mengagumi apa yang telah kami dan teman-teman kami perlihatkan di panggung. kami menakar bahwa pebnampilan kami yang kedua itu memiliki kualitas yang luar biasa melesat dibanding dengan penampilan kami pada dua tahun yang lewat.

Membuang-Buang Waktu?

Kegiatan yang kami lakukan pada saat hari kerja itu tidak kami hitung sebagai membuang-buang waktu. Kami melakukan itu sebagai rangkaian professional development. Kami memaknai seluruh aktivitas di hari itu sebagai bagian dari proses belajar kami. Karena dengan kegiatan ini, kami berdiskusi dan merancang skenario untuk menjadi pemain di panggung, belajar menghargai bagaimana teman atau kelompok lain menampilkan sesuatu yang masih rahasia bagi kami.

Ya kegiatan itu memang rangkaian PD, karena dua hari sebelumnya kami telah menjalani rangkaian awalnya. Rabu, 6 Januari, kami merefleksi apa yang telah kami capai pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Sekaligus memperkuat komitmen kami semua untuk menempuh semester 2 ini. Sedang hari keduanya kami belajar tentang mind map. Dan secara khusus saya menyampaikan kepada semua guru yang hadir, agar keterampilan ini kita pakai dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan seperti ini, keterampilan itu akan menjadi melekat. Dan ketika melekat, saya berasumsi mereka akan menginspirasi kepada orang disekelilingnya. Termasuk kepada siswa di kelasnya. Alhamdulillah setelah satu pekan semester 2 ini berjalan, saya melihat semangat itu dalam interaksi guru dengan siswanya di kelas.

Dan pelajaran lain dari kegiatan ini selain kami senang dan terhibur oleh teman, kami belajar terbuka dan juga belajar dalam memperkokoh kebersamaan. Kebersamaan dalam menuju menjadi lebih baik. Itulah argumentasi nyata bagi sesuatu kegiatan yang tampaknya membuang-buang waktu.


Jakarta, 16 Januari 2010.

14 January 2010

Melihat Tata Tertib sebagai Investasi

Pada hampir semua pertemuan yang membahas tata tertib bekerja di sebuah lembaga, maka selalu muncul dua sumbu. Yaitu sumbu yang berdiri dibarisan pekerja dan sumbu lainnya yang berdiri sebagai wakil pemberi kerja. 
Dalam pasal tertentu, mereka akan berjalan saling beriringan dan pada pasal lainnya akan berdiri saling berlawanan. Dalam posisi berseberangan inilah yang sering berujung pada cara pandang buruk sangka.


Dari sisi pekerja, pada pasal-pasal tentang tuntutan atau kewajiban bekerja pada tata tertib dilihat sebagai penghambat dan tekanan. Meski hal ini telah mengacu kepada peraturan lebih tinggi yang ada dan masih berlaku. Namun pada sisi pemberi kerja, pasal-pasal seperti itu justru dibuat untuk memberikan pagar dan sekaligus kepastian bagi keterlaksanaan pola kerja optimal yang diinginkan.

Para pemberi kerja beralasan bahwa tuntutan kerja yang terdapat itu dibuat sebagai penjamin bagi tumbuhnya etos kerja. Mereka berargumentasi bahwa dengan lehirnya etos kerja maka akan lahir budaya kerja. Dan budaya kerja dapat pula menjadi simpul bagi daya saing. Dan daya saing akan melahirkan kesejahteraan. Dan seterusnya-seterusnya.
Dengan pola dan cara pandang seperti itu, memang akan melahirkan perasaan nyaman yang berkeadilan. Adil bagi yang memberikan pekerjaan maupun bagi yang melaksanakan pekerjaan. Tata tertib menempati pakem yang semestinya. Yaitu garis komitmen dalam hubungan pemberi kerja dan pelaksana kerja.

Cara Lihat yang Berbeda

Dari pengalaman ikut dalam sebuah pertemuan tersebut saya merefleksikan diri pada posisi sebagai pekerja. Yang melihat semua tuntutan kewajiban dan pemberian hak yang terdapat dalam pasal-pasal tata terti pekerjaan tersebut tidak saja sebagai rambu bagi rasa aman, nyaman dan adil, tetapi lebih dari itu, sebagai investasi. Investasi bagi saya untuk kehidupan saya yang lebih baik pada lima, delapan atau sepuluh tahun ke depan.

Bahwa tuntutan pekerjaan dalam tata tertib tersebut akan memola saya untuk bekerja memenuhi tuntutan atau target standar yang digariskan, adalah sesuatu yang normatif. Namun dengan cara melihat tata tertib sebagai investasi, maka pemolaan tersebut sangat saya sadari. Dan dengan demikian maka akan lahirlah saya dengan etos dan budaya kerja yang diharapkan. Dan dari kaca mata ini saya melihat bahwa semakin berkualitas tata tertib lembaga dimana saya ikut didalamnya, maka akan memungkinkan saya untuk menjadi bertambah berkualitasnya saya. Inilah yang saya sebut pengembangan diri dengan menjadikan tata tertib lembaga sebagai investasi.

Bahwa usaha keras dan usaha tekun saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, telah berkontruibudsi bagi peningkatan kualitas diri saya. Sebaliknya, jika lemahnya saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, maka sosok yang lemah pula yang akan saya dapati meski bertambah tahun saya melakukan dan menjalani pekerjaan. Sahabat saya mengistilahkan hal ini sebagai year of experiance. Sedang untuk istilah bagi fenomena yang pertama sebagai year of learning.

Tapi, apakah mudah melihat tata tertib kerja sebagai investasi masa depan kita bila kita berposisi sebagai pekerja? Sulit memang. Tetapi dengan melihatnya sebagai investasi, saya dapat meningkatkan etos dan budaya kerja saya untuk lebih memiliki daya saing. Dan ketika komptensi daya saing saya tinggi, saya akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk memilih posisi kerja atau tempat kerja yang lebih baik dari sebelumnya.

Bagaimana dengan Anda sendiri?

Jakarta, 13 Januari 2010.

11 January 2010

UN Jujur, Jauh Lebih Penting

Tulisan ini bukan tulisan baru saya. Yaitu revisi dari tulisan yang pernah dimuat di Harian Pelita pada Selasa, 14 November 2006 dengan judul UN yang Jujur. Namun karena isu Ujian Nasional jujur tetap menjadi pokok dari pelaksanaan Ujian Nasional yang diselenggarakan di SMP dan SMA serta UASBN untuk SD, maka tulisan di Harian Pelita ini saya menerbitkan dalam blog saya dengan membuat beberapa bagiannya menjadi aktual.

UN yang Jujur
Pelaksanaan UN/UASBN yang jujur di semua sektor dan tingkatan institusi pendidikan adalah yang paling utama. Ini adalah jalan paling terhormat dan bermartabat bagi peningkatan kualitas pendidikan yang sesungguhnya.

Pelaksanaan UN/UASBN dapat dikatakan jujur bilamana tidak terdengar lagi bau tidak sedap tehadap pelaksanaan UN/UASBN itu sendiri. Mengingat dalam setiap pelaksanaan UN/UASBN yang lalu, yang melibatkan banyak unsur, masih juga muncul berita ketidakpatutan di surat kabar. Ini bukan tendensius, tetapi merupakan rahasia umum.

Sebagaimana pernah terjadi pengungkapan terjadinya ‘ketidakberesan UN’ pada tahun 2006 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Misalnya saja apa yang diungkap oleh Mumul –salah seorang guru di Bogor Jawa Barat- dalam kesaksiannya di pengadilan mengungkapkan tentang briefing Kepala Sekolah agar guru menyiasati soal-soal UN antara lain dengan dengan memberitahukan jawaban disekolah tempat guru mengawas (Kompas, 8 Desember 2006). Dalam berita tersebut, diceritakan pula bahwa Mumul, sempat bertanya kepada siswanya apakah mereka sudah belajar. Namun siswanya justru menjawab; ”ngapain belajar, nanti juga jawabannya dikasih tahu. Mendingan main remi”. Meski hal ini sedang terjadi di pengadilan dalam tataran proses, karena baru memasuki pemeriksaan saksi, namun kita sebagai guru di sekolah, mengerti sekali apa maknanya.

Juga apa yang saya pernah ceritakan pengalaman yang menimpa seorang guru yang kebetuan juga teman sejawat, bahwa keponakannya memintanya untuk dibelikan telephone seluler sebagai bagian dari persiapan UN tahun 2006 yang lalu (Pelita, 23 Mei 2006). Dalam logika orang normal, apakah ada hubungan antara telephone seluler dengan UN? Tetapi dalam realita yang dihadapi keponakan teman itu, itulah letak normalnya. Jadi Abnormal sebagai kenormalan! Atau jika kita masih butuh bukti empiris, simak saja misalnya kasus oknum guru di provinsi Banten yang harus memberikan ”pembinaan” kepada siswanya karena tak tahu diuntung harus meminta kunci jawaban UN tahun 2006 lalu melalui SMS?

Pertanyaannya adalah, mengapa strategi busuk tersebut masih menjadi pilihan bagi sebagian kita untuk mencapai keberhasilan? Apakah karena siswa yang ada di sekolah kita adalah mereka yang memiliki kekurangan sehingga begitu sulitnya untuk mencapai target keberhasilan yang dicanangkan? Pendapat saya tidak. Coba kita renungkan jawaban siswa rekan kita Mumul sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini. Dimana siswa tersebut menyampaikan argumentasi mengapa harus belajar kalau saat UN berlangsung siswa diberikan kunci jawaban? Apakah ini kalimat siswa yang memiliki hambatan pemahaman dalam menguasai materi pelajaran? Kalimat itu adalah kalimat analisa. Sehingga setidaknya ia adalah siswa yang masuk dalam taraf rata-rata siswa yang ada di sekolah kita.

Jadi mengapa strategi kotor masih terjadi disetiap tahunnya di sebagian sekolah, sebagai bagian dari pencapaian target UN? Salah satu penyebabnya, menurut saya, adalah karena betapa saktinya nilai hasil UN ini bagi martabat sebuah instutisi.

Bagi masyarakat pada umumnya, hasil UN menjadi dasar satu-satunya untuk melihat kualitas sebuah sekolah. Masyarakat sering tidak peduli bahwa setidaknya hingga tahun 2010 ini, untuk masuk perguruan tinggi negeri, putra-putrinya harus berjuang kembali mengerjakan tes masuk. Sehingga hasil UN SMA yang bagus sekalipun tidak dapat menjadi kunci pembuka gerbang memasuki perguruan tinggi yang diinginkannya secara otomatis. Artinya, sesama institusi pendidikan di dalam negeri pun PTN masih belum menjadikan hasil ujian nasional bagi siswa SMA sebagai prasyarat utama untuk menjadi seorang mahasiswa di lembaganya.

Tetapi karena cara pandang tersebut terlanjur mengakar. Akhirnya sekolah berjuang sekuat tenaga dalam membangun citra sebagai sekolah berkualitas dengan target memperoleh nilai rata-rata UN yang tinggi.

Dengan melihat itu semua, maka seyogyanya hanya melalui strategi kerja keras dan sungguh-sungguh sajalah kita dapat mencapai keberhasilan. Mengapa kita optimis? Karena soal ujian nasional yang berjumlah 30-40 soal, dengan persiapan selama tiga tahun pelajaran dan SKL yang telah disampaikan lebih kurang 6 bulan sebelum pelaksanaan UN/UASBN, adalah senjata sekaligus peta perjalan keberhasilan.

Inilah jalan satu-satunya menjadikan UN/UASBN berlangsung jujur. Sekaligus ’menjaga’ martabat kita sebagai guru.


Sumber: Harian Pelita, 14 Nopember 2006, dengan revisi.

05 January 2010

Membangun Komunitas atau Etos

Sekolah sebagai komunitas sosial, menuntut untuk berhubungan satu sama lainnya. Saling hubung, saling melihat, saling bertemu, saling betukar pikiran. Pendek kata sulit bagi sekolah untuk menyembunyikan kekhasannya hanya menjadi milik sendiri. Walau harus saya akui, ada beberapa sekolah yang tampaknya begitu pelit dengan apa yang mereka miliki atau mereka capai untuk kemudian dibagi kepada kita yang menjadi pengagumnya, sahabatnya atau mungkin tetangganya.

Tapi saya mencobanya untuk memahami argumentasi mereka. Karena mungkin sekali apa yang mereka capai dan miliki sekarang ini adalah akibat dari perjuangan sebelumnya. Baik perjuangan material dan atau perjuangan immaterial. Semua menjadi logis untuk tertutup dan pelit.

Namun saya melihat dengan cara yang berbeda. Saya berpikir bahwa sebuah pencapaian atau hasil memang benar sebuah akhir proses perjuangan. Tetapi jika ruh perjuangan dan pergerakan proses yang menjadi inti dari sebuah pencapaian, bukankah hasil akhir itu adalah relatif? Dan ini yang menjadi keyakinan saya.

Karena hasil akhir dari sebuah perjalan tersebut adalah relatif dan karena ruh perjuangan adalah inti dari sebuah proses yang kemudian saya sebut sebagai etos, maka hasil kami pada tahun pelajaran ini tentu akan bergeser koordinatnya pada hasil dan kualitas kami pada tahun pelajaran berikutnya. Dan tentunya titik koordinat tersebut bukan memburuk atau degradasi tetapi membaik ke arah positif.

Dan kalau demikian, maka teman, sahabat, tetangga atau tamu yang tiba-tiba datang di sekolah kami selalu kami sambut dengan tangan terbuka. Mereka bahkan hingga tahu dimana kami memesan barang yang kami perlukan.

Dan dari hal ini juga saya menerima masukan dari tamu tentang apa yang dapat kami rengkuh untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Inilah yang saya maksudkan dengan ETOS.

Untuk itulah semua hal ihwal yang berkenaan dengan kebaikan yang ingin kami capai, saya mengajak seluruh teman untuk seing. Dan dari seing saya minta mereka untuk bergerak menuju dan menjadi believing. Dan ketika tahapan ini selesai, kami akan bersama-sama merekonstruksi perjalanan. Nyaris tidak ada pola copy dan paste dalam melahirkan etos. Karena copy dan paste merupakan budaya instan. Dan budaya instan hanya melahirkan kebohongan serta ketidakjujuran.

Etos yang lahir dari sebuah proses perjuangan inilah yang menjadi impian saya dalam membentuk komunitas. Saya yakin, dengan kelahiran etos melalui proses ini, ia menjadi kekuatan yang tidak akan menimbulkan ketakutan bagi perilaku mencontek. Tidak pelit ketika tamu datang dan meminta keterangan tentang bagaimana cara membuat ini atau itu. Terbuka dalam bersahabat.

Setidaknya, inilah yang saya yakini pada hari ini tentang membangun sebuah komunitas.

Jakarta, 5 Januari 2010.

04 January 2010

Mengapa Berubah?


Sebagai praktisi di sekolah swasta, berubah adalah spirit untuk menjadi berusia panjang. Dan inilah jawaban jitu bagi pertanyaan di atas. Sementara argumentasi lainnya adalah karena kondisi sosial yang terus bergerak maju dan naik tanpa dapat diprediksi secara tepat. Hanya dapat diduga.


Seperti lahirnya sekolah swasta bertaraf internasional (sekolah nasional plus) pada pertengahan tahun 95’an yang dilihat sebagai sekolah ‘aneh’ oleh masyarakat sekolah pada waktu itu. Dan pada tahun 2009 beberapa sekolah itu telah 'merubah diri' menjadi benar-benar Sekolah Internasional. Sementara sekolah tersebut diadopsi menjadi konsep SBI.


Dan perubahan ini memiliki implikasi. Yaitu implikasi pada seluruh sendi kehidupan sekolah. Mulai dari siswa, kurikulum, guru, kesejahteraan dan lain-lain.


Jikapun kita (sekolah, manajemen, guru) tidak siap untuk menikmati perubahan (contoh di atas tentang sekolah) maka orang lainlah yang pasti menikmatinya. Mengapa? Karena lembaga itu memerlukan mereka yang siap untuk memenuhi keperluannya. Dan kita mungkin akan menjadi penonton atau mungkin sebagai komentatornya.


Siapa yang Harus Berubah?


Dalam konstelasi yang bernama sekolah, maka pranata yang harus berubah adalah stakeholder yang terdiri dari: Pertama: Lembaga, perubahan dalam tataran sistem (visi, misi, struktural). Kedua: Manajemen, perubahan dalam bentuk mengaktualisasikan komitmen dalam menjalankan visi dan misi lembaga. Ketiga: Guru, mengoperasionalkan komitmen manajemen dalam proses pembelajaran dalam kelas. Keempat: Masyarakatnya. Kelima: Perangkatnya.


Hambatannya?


Dalam pandangan saya ada beberapa hambatan yang berasal dari luar atau dari dalam diri kita. Yaitu Pertama: Sikap dasar kita: malu dan sombong. Malu untuk merubah atau berubah (bandingkan sikap ini dengan sikap seorang anak saat melakukan kesalahan dalam permainan bersama temannya, mereka tidak sungkan untuk segera berkata MAAF). Sombong untuk mengikuti atau mengakui keberadaan supremasi orang diluar dirinya.


Kedua: Sikap establishment. Rhenald Khasali menuliskan tentang ini (2005: xxxv-xxxvi): …ini adalah sebutan untuk kelompok mapan …setiap perubahan akan dianggap sebagai ancaman, dan change maker’s akan diberi ruang yang sangat sempit untuk bergerak. Langkah-langkah change maker’s di gugat dan selalu dikembalikan kepada bayang-bayang kesuksesan di masa lalu.


Ketiga: Cepat lahirnya rasa puas diri. Mereka pikir apa yang telah mereka peroleh hari ini adalah prestasi paling tinggi baginya. Padahal sangat boleh jadi jika mereka terus menerus mereformasi diri, kemungkinan untuk mendapatkan prestasi yang lebih dahsyat yang akan mereka temui. Mereka inilah yang oleh Paul G. Stolz disebut sebagai orang-orang yang berkemah (camper’s). Orang yang meresa sepat puas.


Keempat: Belum lahirnya sikap pembelajar sepanjang hayat. Hal ini juga berkait dengan sikap orang cepat merasa puas dengan apa yang didapatnya sekarang. Manusia pembelajar sepanjang hayat tidak mengenal sama sekali kamus ‘pandai’ atau ‘pintar’. Mereka tidak ada kata berhenti untuk belajar, belajar dan belajar!


Paradigma yang dikumandangkan Aa’ Gym berkenaan dengan perubahan, mengubah diri dengan 3 M (Mulai). Yaitu: Perubahan harus dilakukan mulai dari diri sendiri. Perubahan dari mulai hal-hal kecil. Dan perubahan mulai sekarang juga.

Jakarta, 4 Januari 2010.

03 January 2010

Esensi UASBN 2010?

Ini adalah komentar dan pernyataan salah seorang dari orangtua siswa kelas 6, saat kami selesai memaparkan UASBN, kisi-kisi soal dan batas minimal kelulusan di sekolah kami kepada seluruh orangtua siswa kelas 6 pada akhir Desember 2009 yang lalu.

Dimana dalam forum tersebut Kepala Sekolah memaparkan nilai minimal kelulusan tahun sebelumnya dan dengan melihat lebih dan kurangnya potensi akademik dari para siswa kelas 6 tahun ini, maka Kepala Sekolah mengusulkan untuk nilai minmal sebagai syarat lulus di tahun ini.

Beberapa orangtua yang mengetahui potensi akademik putra-putrinya di atas rata-rata kelas mengusulkan agar supaya nilai minimal kelulusan itu dibuat dan diputuskan untuk lebih tinggi lagi. Agar dengan nilai tersebut harga diri sekolah dapat lebih baik lagi dibanding sekolah lain atau dibanding tahun pelajaran sebelumnya.

Disini ada sedikit diskusi mengingat dengan nilai minimal yang dia sampaikan pada akhirnya nanti akan menyulitkan beberapa siswa yang memang memiliki kesulitan akademis atau mereka yang nilai akademisnya berada di bawah nilai rata-rata kelas. Ini harus dipahami karena sekolah kami adalah sekolah yang tidak keseluruhan siswanya adalah cerdas akademik. Sekolah kami adalah sekolah untuk semua siswa dengan keberagaman potensi akademik, sikap dan perilaku.

Dan dari diskusi tersebut akhirnya disepakati sebuah angka minimal untuk syarat lulus. Nilai inilah yang nantinya oleh Kepala Sekolah akan sampaikan kepada Dinas Pendidikan Nasional yang ada di Kecamatan. Tentu setelah mendapat persetujuan dari orangtua siswa kelas 6.

Namun meski keputusan berkenaan nilai minimal telah disepakati, masih ada beberapa orangtua yang belum utuh pemahamannya tentang nilai minimal yang masih dibawah angka 5 itu. Bahkan masih ada yang bertanya mengapa nilai kelulusan ditentukan oleh sekolah?

Saya mencoba memberikan tambahan keterangan. Bahwa inilah salah satu yang membedakan antara UN di SMA dan SMP dengan UASBN di SD. UN di SMA dan SMP, nilai minimal sebagai syarat kelulusan menjadi keputusan BNSP, Badan Nasional Standar Pendidikan. Sedang UASBN di SD nilai minimal itu masih menjadi tanggungjawab sekolah, tentunya dengan melihat potensi akademik siswa yang ada.

Maka setelah selasai pertemuan itu, datang seorang Bapak kepada saya dan menyatakan kesimpulannya bahwa; Kalau demikian uraiannya, menurut saya UASBN merupakan keputusan politis. Dan lulus atau tidak lulus juga politis semata. Mengapa? Bukankah semua sekolah akan membuat nilai minimal sebagai syarat untuk lulus dengan memprediksi agar semua siswanya lulus? Lalu dimana esensi dari UASBN itu?

Saya diam. Lalu mengangguk. Benar!

Jakarta, 3 Januarui 2010.

02 January 2010

Perubahan Itu = Melakukan Sesuatu yang Berbeda


Apakah perubahan itu? Tanpa mengacu kepada Kamus, saya mencoba untuk membuat rumusan sederhananya; perubahan adalah melakukan sesuatu yang berbeda. Berbeda mengingat ia dilakukan bukan merupakan sebuah rutinitas.


Untuk memberikan gambaran berkenaan dengan perubahan ini, saya akan menguaraikan dua kisah pribadi.


Kisah pertama adalah kisah pada sebuah masa ketika hidup bersama keluarga di Sritejokencono, Punggur, Lampung, tahun 1972. Almarhum ayah saya yang bertugas sebagai seorang pengairan di DPU mengajari para tetangga bagaimana bertani di lahan basah. Sawah. Ini dia lakukan ketika desa dimana kami ditempatkan di rumah dinas, yang sebelumnya merupakan lahan perladangan harus berubah manakala daerah kami dialiri irigasi. Maka lahan kering yang berupa ladang tersebut menjadi lahan sawah yang penuh air.


Para tetangga tidak saja belajar bagaimana menanam padi, tetapi bahkan sejak dari membuat pematang, mencangkul di tanah yang berair, menanam padi dengan gerak mundur, menyirami tanaman dengan pupuk, menyiangi, menyemprot obat anti hama, memanen padi, dan seterusnya.


Meski setelah padi selesai dijemur, para tetangga tersebut menjual seluruh padinya dan membelanjakan sebagaian hasilnya itu untuk membeli gaplek sebagai makanan pokok mereka pada waktu itu. Gaplek mereka olah menjadi tiwul yang ketika masak berwarna hitam.


Dalam periode berikut, Mamak saya mengajarkan bagaimana nasi tiwul yang berwarna hitam di oplos dengan nasi dari beras yang kemudian disebut sebagai nasi putih. Dan setelah sekian tahun berlalu di desa kami ini tidak ada lagi nasi hitam atau nasi putih. Sekarang semua nasi dari beras. Nasi gaplek hanya diolah menjadi gatot dan atau tiwul telah menjadi jajanan pasar dan bukan makanan pokok.


Dan selama dua hingga tiga kali musim tanam para tetangga masih mengalami semacam gegar budaya sebagai petani berladang menjadi bersawah. Sehingga aliran irigasi yang menyediakan berkilo-kilo ikan tawar berbagai jenis tidak sempat mereka petik kecuali oleh saya sendiri yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD dengan jala. Dan para anak petani menjadikan itu sebagai tontonan.


Ini adalah bentuk perubahan yang sangat mendasar dan dahsyat menurut apa yang pernah saya lihat dan alami sendiri.


Kisah saya yang kedua adalah kisah tentang perjalanan pulang kampung. Sebagaimana yang sering saya tulis sebelumnya bahwa, pulang kampung adalah rutinitas keluarga kami. Namun bagaimana menarik perhatian anak dan istri saya untuk senang menengok Kakek dan Nenek mereka di kampung karena mereka hidup dan besar di kota yang siangnya sibuk dan malamnya terang benderang, adalah bentuk perjuangan saya.


Maka saya membuat peta perjalanan pulang kampung sebagai perjalanan petualangan. Saya membuat difinisi pulang kampung sebagai perjalanan wisata, menikmati jalan yang menganugerahkan pesona alam di kiri dan kanannya, kuliner, ini khususnya untuk istri saya, mengunjungi tempat unik untuk belanja, hiking ketika sampai di kampung. dengan mengajak mereka untuk mengitari pekarangan, desa, hingga ke gunung, berendam di sungai untuk anak lelaki saya dan melepas rutinitas.


Untuk semua itulah saya menyiapkan stamina bagi terwujudnya kegembiraan pulang kampung. Dan perubahan yang saya lakukan adalah selalu menggunakan jalan atau mengunjungi tempat yang tidak sama dari waktu ke waktu. Dan perubahan bentuk ini sesungguhnya membuat saya kawatir. Kawatir untuk kesasar. kawatir kalau terjadi sesuatu.


Tapi satu keyakinan yang selalu saya tanamkan pada diri saya bahwa jalan atau tempat yang baru, selalu akan menghadirkan pengalaman luar biasa mengesankannya. Di sana akan saya temukan situasi dan pengalaman baru. Dan di sinilah lahir keyakinan saya untuk selalu bersiap menikmati bumi Allah yang tidak terduga menakjubkannya. Maka hampir setiap ruas keindahan dan tempat ,menyenagkan nyaris kami singgahi di jalur pulang kampung kami.


Dan saya meyakini ini adalah implikasi dari keberanian kami dalam menempuh sesuatu yang selalu berbeda dalam setiap perjalanan pulang kampung kami. Dan pulang kampung menjadi sesuatu yang menggairahkan bagi kami. Dan tidak saja bagi saya yang memang dari sananya adalah anak kampung. Tapi juga bagi istri dan anak-anak saya yang lahir dan besar di situasi Jakarta!


Jakarta, 2 Januari 2010.

01 January 2010

Mendadak Konser Musik RAN


Menggeser apalagi merubah jadwal konser, merupakan pilihan kontraproduktif untuk sebuah proses pendidikan bagi pengurus OSIS SMP kami. Dan oleh karenanya, itu bukan merupakan bagian solusi yang apik dan strategis bagi masalah kami saat itu. Inilah pikiran saya saat harus menemukan kenyataan bahwa OSIS SMP kami membuat kejutan untuk mengundang kelompok musik RAN di acara Panggung Ekspresi yang bertajuk Friendship Festival pada Kamis, 24 Desember 2009.

Saya katakan kejutan karena kegiatan tersebut semula dirancang dengan semangat dari mereka untuk mereka. Dan dalam benak saya jika ini yang menjadi temanya, maka tidak perlu adanya antisipasi penonton yang lebih serius mengingat kegiatan ini telah berlangsung secara rutin hamoir selama dua periode kepengurusan OSIS SMP kami.
Namun ketika ditengah persiapan kegiatan dan muncul ide untuk menghadirkan RAN yang memiliki fans tersendiri tetapi pada saat bersamaan sedikitnya 4 mata acara di lokasi yang sama yang akan menyedot perhatian publik, yaitu terima rapot semester, bazar, pertemuan orangtua SMP, pemilihan POMG SMP dan panggung ekspresi tersebut, tak pelak lagi menjadi pemikiran kami untuk benar-benar merealisasi kegiatan ini secara terencana dalam segi keamanan.
Terlebih lagi jika hal ini dikaitkan dengan sekolah kami yang hanya memiliki lapangan yang telah habis untuk panggung serta lapangan parkir yang hanya cukup untuk 50-an kendaraan roda empat. Sementara rencara kejutan itu baru resmi saya terima 4 hari kerja sebelum hari H.

Maka yang seketika hadir di kepala saya adalah (1). Tidak menggagalkan rencana kejutan remaja kami yang tengah bersemangat. Karena jika ini solusi yang kami pilih, kami akan memetik hasil yang kontraproduktif. Namun demikian saya berpikir agar mereka juga bekajar tentang RENCANA. Oleh karenanya kami ajak mereka berpikir bagaimana rekayasa keamanan di saat pelaksanaan konser?

(2). Saya mengundang penanggungjawab keamanan disertai Kepala Sekolah, Pembina OSIS dan Penanggungjawab keamanan. Kami berdiskusi dari segi atau cara pandang kami masing-masing dan mencoba membuat prediksi tentang teknis pelaksanaan di hari H. Semua dapat mengutarakan pendapat dan diakhiri dengan konsepsi kesimpulan tentang kegiatan hari H-nya.

Saya segera menyebarkan informsi hasil pertemuan itu kepada seluruh komunitas sekolah. Demikian juga kepada penanggungjawab keamanan serta crew-nya, masing-masing melakukan persiapan sesuai hasil rapat.
Alhamdulillah, atas pertolongan dan petunjuk dari Allah, semua skenario kami coba jalani dengan sepenuh komitmen yang kami miliki. Tidak ada satu unsurpun dari kami yang tidak berkontribusi. semua menyatu membentuk puzzle yang utuh. Semua penampil naik panggung dengan penuh percaya diri. Mereka adalah para siswa dari TK, SD, SMP dan bahkan alumni.

Dan sebagai puncak dari kegiatan itu adalah enam (6) lagu dari RAN yang disimak oleh lebih kurang 150-an penonton dengan tertib tidak kurang sedikitpun. 

Dan peristiwa ini mengguratkan pengalaman berharga bagi saya sendiri: Jangan pernah mematahkan semangat yang tengah tumbuh penuh keyakinan meski hal itu tidak disertai prediksi di tingkat operasionalnya. Tugas kita sebagai pembimbing adalah menyertainya dengan peta perjalanan yang jelas koordinatnya!

Jakarta, 1 Januari 2010

23 December 2009

UN, Pengalaman sebagai Pengelola Sekolah

Pelaksanaan Ujian Nasional atau UN bagi sebuah sekolah swasta nasional, dengan bagaimanapun bentuk dan afiliasinya tetap dipandang penting. Paling tidak bagi sekolah saya, dimana saya sendiri mendapatkan amanah dari Yayasan sebagai pengelolanya. Namun demikian, kami sebagai komunitas dari sekolah ini bersepakat dalam melihat hasil belajar siswa, bahwa UN bukanlah satu-satu hasil pendidikan. Ini adalah pengejawantahan dari prinsip pendidikan yang menjadi anutan kita bahwa terdapat tiga (3) ranah hasil belajar yang antara lain adalah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dan dari sinilah kami bangun bersama kesepakatan untuk menjadikan proses pencapaian UN berbasis kepada moto yang dikembangkan oleh para pendiri, yaitu: Ya Allah bimbing kami menjadi orang yang jujur dan terhormat.
Dua kata, Jujur dan Terhormat, menjadi dasar kami mengejar mimpi. Dengannya, kami mencoba merumuskan strategi pencapaian UN yang baik namun tetap menegakkan holistisitas dari seluruh pembelajaran. Oleh karenanya konsep ini harus mengalir deras pada seluruh komponen UN yang ada di sekolah kami. Dan konsep ini melahirkan semangat untuk bersama-sama bekerja dengan cerdas, keras dan penuh komitmen.

Ikhtiar itu kami lakukan hingga sampai pada pintu gerbang pelaksanaan UN. Dimana saya yang mendapatkan amanah ini harus benar-benar yakin akan proses yang Jujur dan Terhormat. Di depan, kita sudah kibarkan semangat bekerja yang keras, cerdas dan penuh komitmen. Maka diakhir kalinya saya memastikan bahwa semua dilandasi kesadaran untuk bekerja secara jujur dan terhormat.

Pagi setelah subuh, saya sudah sampai di ruang Kepala Sekolah. Bertemu guru dan Kepala Sekolah yang pulang mengambil soal UN. Menemani mereka bekerja. Menyambut dan berbasa-basi dengan para tamu yang akan menjadi pengawas UN. Melepas kepergian guru yang bertugas mengantar nahkas jawaban UN di siang harinya.

Kepastian untuk bekerja secara jujur dan terhormat tersebut harus saya lakukan sebagai jaminan bahwa sekolah kami adalah sekolah yang tidak menjadikan komitmen dan mimpi sekedar menjadi slogan. Ini sebagai bukti pula bahwa tim sukses UN berhenti dan berakhir masa dinasnya persis saat pintu gerbang UN dimulai.

22 December 2009

UN, Sebuah Pengalaman sebagai Orangtua


Benar. Ini adalah tulisan tentang UN dilihat dari pengalaman yang anak-anak saya sendiri alami tahun pelajaran 2008/2009. Sangat kebetulan dua anak saya, yang pertama dan yang kedua, sama-sama duduk di kelas XII SMA tahun pelajaran yang lalu. Jadi UN tahun 2009, di SMA yang berbeda. Anak pertama di SMA swasta di Jakarta Barat dan anak yang kedua di SMA swasta di Jakarta Selatan.

Persiapan

Untuk lulus ujian, hasil diskusi kami memutuskan agar mereka melakukan persiapan sebaik mungkin. Anak yang pertama memilih memanggil teman saya yang, alhamdulillah dapat membantu memberikan materi pengayaan di mata pelajaran Matematika, pelajaran Kimia, Fisika dan Biologi, dengan durasi dua kali sepekan. Sedang anak ke-dua memilih ikut pengayaan di bimbingan belajar yang berlangsung satu hari di hari Sabtu dan separuh hari di hari Minggu. Mereka menjalani itu semua dengan penuh konsekuensi. Tekun.

Juga buku soal-soal UN yang telah lalu dan prediksi soal yang akan datang. Dan buku-buku itu bahkan ada yang memprediksi soal UN yang akan keluar berdasarkan SKL yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional. Canggih!

Membahas soal, sepertinya menjadi bagian yang amat sangat penting bagi mereka. Dari manapun soal itu berasal. Dan saya sendiri melihat apa yang sedang mereka pelajari dengan SKL itu. Kompetensi apa saja yang harus dikuasai mereka. Dan dari kompetensi tersebut, saya coba melihat indikatornya. Dan dari indikator itu saya bertanya kepada anak saya sejauh mana materi pelajaran tersebut mereka kuasai.

Di bulan Februari, Maret, April, anak-anak saya itu disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi negeri, yang setiap perguruan tinggi itu menyelenggarakan ujian masuk secara mandiri. Anak saya yang pertama memilih untuk mendaftar di dua perguruan tinggi negeri yang lokasinya dekat dengan domisili kami. Sedang anak yang kedua mendaftarkan diri untuk masuk di tiga perguruan tinggi negeri.

Karena tes masuk perguruan tinggi negeri ini lebih awal dibanding dengan pelaksanaan Ujian Nasional, maka ketika anak kedua saya telah mendapatkan kursi di salah satu PTN yang didaftarnya di bulan April, ia lalu menurunkan standar dan ekspektasinya terhadap UN. Yang penting aku lulus UN ya Ayah? Demikian katanya pada saya.

Pelaksanaan UN

Setelah semua ikhtiar ditunaikan, datang pula hari pelaksanaan UN yang mereka tunggu-tunggu itu. Kami hantar anak kami untuk berangkat ke sekolah dengan segunung doa sukses dari kami.

Sebagai orangtua yang bekerja di institusi pendidikan yang bernama sekolah, beberapa hal berkenaan dengan fenomena negatif bagi pelaksanaan UN di tahun sebelumnya serta sepak terjang 'tim sukses' yang dibentuk oleh beberapa sekolah sudah bukan rahasia umum. Namun bagaimana bentuk dan strategi serta tata cara 'tim sukses' tersebut bekerja terhadap anak saya, suatu hal yang sama sekali saya tidak pikirkan sebelumnya.

Sore hari setelah hari pertama UN, menjelang hari kedua UN, di rumah terjadi dialog antara saya dengan anak pertama dan kedua saya.

  • Terima SMS Mas? Kata saya pendek dan singkat pada anak pertama saya.
  • Terima dong. Jawabnya ringan.
  • Bagaimana dengan Adik, terima juga?
  • Terima. Jawab anak kedua saya.
  • Lalu bagaimana kesan kalian ketika terima sms jawaban UN di pagi hari sebelum UN berlangsung? Tanya saya memancing pendapat anak-anak.
  • Sebagai pembanding Yah. Jawab sulung saya. Saya tidak paham apa yang dia maksud dengan pembanding. Oleh karenanya saya coba bertanya memutar.
  • Sekarang kalian belajar. Sementara besok pagi pasti akan terima jawaban UN lewat sms. Menurut logika ayah, kalau kalian pintar, ngapain harus belajar malam ini. Main games atau baca novel saja.
  • Justru karena Aku pintar Yah, sms itu sebagai alternatif terakhirku. Jelas anak sulung saya.
  • Maksudmu? Desak saya, yang belum juga mudeng.
  • Biasanya, ada beberapa soal UN yang Aku bisa jawab dengan benar. Nah berikutnya Aku akan bisa cek apakah kunci dari sms itu adalah kunci jawaban UN untuk soal yang sama? Jelas si sulung.
  • Sama. Aku juga hanya jadikan kunci dari sms itu sebagai cadangan jika aku kepentok ngak bisa jawab. Jelas sang adik.
Nah, inilah realita UN yang anak-anak alami di tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah, kedua anak saya itu lolos lubang jarum dari syarat kelulusan dan lulus. Pertanyaan selanjutnya? Mengapa ada sebagaian dari kita yang menjadikan UN menjadi momok yang menakutkan dan sakral?

Pengalaman teman anak saya yang tidak lulus saat ujian di tahun pelajaran lalu, ia tetap dapat ikut ujian persamaan paket C di tahun yang sama. Dan sah.

Lalu? Untuk apa berpayah-payah menahan stres dan takut jikapun tidak lulus ujian di tahap pertama tetap saja lolos dengan uper paket C?

Jakarta, 22 Desember 2009.


11 December 2009

UN dan Belajar Holistik


Tulisan ini akan saya awali dengan pertanyaan salah satu orangtua siswa kepada guru kami berkenaan dengan kegiatan spesial yang menjadi agenda rutin sekolah, yang pelaksanaannya dilakukan pada setiap pertengahan semester. Dimana pada bulan Oktober 2009 lalu kami mengadakan even spesial dengan tema Pekan Legenda. Pada Pekan Legenda tersebut setiap kelas akan memiliki topik bahasan yang lebih spesifik. Misalnya Lutung Kasarung. Maka kelas akan mengeksplorasi legenda ini sebagai topik bahasan dalam satu pekan bersamaan dengan kelas-kelas yang lain. 

Pertanyaan orangtua tersebut adalah: Ada berapa soal yang keluar di Ujian Nasional (UN) nanti dari kegiatan selama satu pekan ini Bu? Kalau yang keluar hanya 1 atau 2 soal saja, menurut saya kegiatan ini hanya buang-buang waktu?

Dari pertanyaan ini berikut adalah hikmah yang dapat kita ambil: Pertama, Paradigma belajar. Sebagian kita memahami bahwa belajar hanyalah ketika siswa membuka buku pelajaran sekolah yang berupa buku paket atau buku sumber. Maka ketika siswa sedang membaca buku cerita, membaca fiksi, membaca ensiklopedia, membaca kamus, mambaca majalah remaja atau bahkan mengisi TTS di surat kabar, maka siswa tidak sedang belajar?

Bahwa belajar dimaknai ketika siswa mendapat tugas dari guru berupa pekerjaan rumah. Maka ketika siswa sedang tidak diberikan pekerjaan rumah maka berarti siswa tidak belajar? Maka sekolah yang gurunya selalu memberikan banyak pekerjaan rumah kepada siswanya adalah sekolah yang baik karena menuntut siswanya untuk belajar terus menerus? Dan sebaliknya sekolah yang tidak pernah ada pekerjaan rumah adalah bentuk sekolah jelek?

Bahwa belajar berarti siswa duduk manis di bangku kelasnya dan memperhatikan gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran saja. Maka ketika siswa sedang bermain drama di plasa sekolah karena setelah mempelajari Lutung Kasarung siswa diminta menuliskan kembali cerita tersebut dalam bentuk teks drama yang kemudian harus didramatisasikan dalam kelompok bukan sebagai kegiatan belajar?

Begitu sempitkah arti belajar? Bagi saya, belajar adalah seluruh aktivitas yang siswa lakukan kapan saja dan dimana saja dan dengan siapa saja yang kemudian ada proses pengambilan hikmah setelah kegiatan tersebut dilakukannya.

Kedua, Paradigma hasil belajar dan UN. Bagi saya, Ujian Nasional atau UN yang terdiri dari 3 mata pelajaran di SD (UASBN) atau 4 mata pelajaran di SMP atau 6 mata pelajaran di tingkat SMA adalah salah satu hasil belajar. Dan bukan satu-satunya hasil belajar. Karena menurut Bloom, terdapat 3 ranah hasil belajar. Yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dan UASBN atau UN hanya mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Itupun tidak mengukur 6 aspek yang terdapat dalam ranah tersebut. Yang ketiga asopek itu adalah aspek mengingat, aspek memahami dan aspek aplikasi. Sedang tiga aspek yang tidak diukur adalah aspek aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Dimana ketiga aspek terakhir masuk dalam tataran berpikir tingkat dalam.

Untuk itulah maka ketika menjadikan UASBN atau UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa atau sekolah, berarti kita teah terjerembab pada fatamorgana.

Ketiga, Belajar yang holistik. Dengan melihat bahwa terdapat tiga ranah belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Bloom tersebut, maka seharusnyalah kita memaknai bahwa mendidik adalah membuat siswa menjadi cerdas kognitif atau cerdas akademik, cerdas afektif atau cerdas afeksi dan cerdas psikomotorik. Inilah hasil belajar holistik.

Belajar yang holistik tidak melihat bahwa UASBN/UN tidak penting. Ia sebagai salah satu uinstrumen keberhasilan dalam belajar tetap dipandang sebagai proses yang penting. Tetapi pengembangan afektif dan psikomotorik tetap tidak dilupakan. Bentuknya pengembangan pada ranah tersebut salah satuinya adalah melalui kegiatan drama, pertujukan kelas, kegiatan luar ruang kelas, dan lain-lain.

Jakarta, 11 Desember 2009.

Guru yang Intelektual

Beberapa waktu yang lalu, Selasa, 24 November 2009, saya mengikuti kegiatan seminar di SFTI Jakarta yang mengusung tema Guru Bersertifikat vs Guru Intelektual. Bahasan ini menarik tidak saja bahwa bagi yang telah tersertifikasi maka pemerintah akan memberinya tambahan penghasilan yang berupa tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji pokok, tetapi karena mengangkat topik tentang guru berkualitas atau guru profesional atau guru intelektual dengan guru yang telah bersertifikasi.

Pada tanggal 25 November 2009, bertepatan dengan hari guru, Ahus Suwignyo, yang pedagog dari FIB UGM menulis di Kompas dengan bahasan yang hampir sama yaitu tentang Guru yang Intelektual. Dimana dikisahkan bahwa gagasan pemerintah untuk mencetak guru yang intelektual dimulai dengan dileburnya Sekolah Pendidikan Guru atau SPG menjadi LPTK dan kemudian berlanjut dengan diperluasnya IKIP menjadi Universitas. Dimana diharapkan dengan hal tersebut akan dapat dilahirkan sosok ilmuwan yang guru dan guru yang ilmuwan.


Setelah sekian lama gagasan penghapusan SPG dan juga perluasan IKIP menjadi Universitas tersebut berlangsung, dan sekarang dengan lahirnya kebijakan sertifikasi guru sebagai bagian dari amanat UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen, telah terlahirkan sosok guru yang intelektual atau guru yang ilmuwan itu?


Guru yang Ilmuwan
Apa, bagaimana, dan siapakah guru yang ilmuwan itu? Lodi Paat, Dosen UNJ dalam diskusi di SFTI tersebut mengemukakan bahwa mereka adalah sosok guru yang priyayi. Hal ini dirujuknya dalam fiksinya Umar Kayam dalam judul Para Priyayi yang menokohkan priyayi pemula sebagai guru yang bernama Sastrodarsono.

Bagi Anda yang telah membaca buku itu, maka Sastrodarsono yang berasal dari Kedungsimo itu menapaki kepriyayiannya dengan menjadi guru. Sosoknya sebagai seorang guru yang priyayi inilah yang pada ujungnya memperoleh pengakuan dari masyarakat dimana ia berada untuk menjadi panutan.

Berikut saya kutipkan tentang sosok Pak Guru Sastrodarsono itu dalam Novel Jalan Menikung, Para Priyayi 2, halaman 148:

...meskipun dulu hanya menjabat kepala sekolah desa dan petani priyayi kecil saja, tetapi terkenal diantara penduduk Wanagalih kerena luas pergaulannya. Teman-teman main kartunya adalah pejabat-pejabat teras Kabupaten, seperti dokter, asisten wedana, jaksa, mantri polisi, dan sebagainya lagi. Dan bermain kartu bersama-sama tokoh masyarakat Wanagalih itu berarti Pak Sastrodarsono sudah diterima sebagai pemimpin masyarakat yang terpandang juga. Pendapat-pendapatnya yang secara tidak resmi terlontar dalam pergunjingan permainan kartu itu sering juga dipertimbangkan sebagai masukan-masukan bagi pemimpin masyarakat resmi itu. Dengan begitu, Sastrodarsono juga menikmati kedudukan terhormat di masyarakat Wanagalih.

Guru yang ilmuwan juga adalah guru yang mampu menginspirasi siswanya sebagaimana Pak Guru Balia yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Bukan Main-nya Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi.


Jakarta, 25 November-11 Desember 2009.

(Masih) Senior-Junior


Ada seorang teman guru yang memberikan komentar panjang lebar lewat e-mail terhadap satu tulisan di saya blog ini. Sebuah artikel yang berisi tentang hubungan kerja antara senior-junior, yang kebetulan pernah dimuat di Harian Pelita.

Selain komentar terhadap tulisan saya, teman saya ini juga mengungkapkan kegetiran yang pernah dia alami sendiri ketika menjadi menjadi guru baru di sebuah sekolah swasta. Katanya dalam email yang dikirim kepada saya begini: Pak, saya berpikir jika ospek yang saya alami saat saya masuk kuliah adalah ospek yang paling terakhir dalam hidup saya. Ternyata ketika masuk kerja pun saya masih di-ospek juga! Begitu salah satu kalimat yang dia kirim kepada saya. Apa yang ditulis teman ini adalah bentuk ketidakberdayaan bagi kelompok junior dihadapan seniornya.

Fakta lain tentang ketidaknyamanan sebagai guru baru yang harus menerima kenyataan yang kurang nyaman dari teman yang terlebih dahulu menjadi pegawai.

Saya sebagai orang normal, tentunya juga mengalami masa-masa awal memasuki sebuah lembaga sebagai pegawai baru. Dan tahapan ini pasti pernah menjadi milik kita semua. Pada masa seperti ini, sebagai anggota baru di sebuah lembaga, kita punya keinginan untuk mendapat gambaran dan pemahaman yang holistik tentang bagaimana, seperti apa, dan apa saja yang harus menjadi pegangan kita selama menjadi pegawai baru tersebut.

Namun ‘pencerahan’ yang dirahapkan akan datang dari kolega kita yang terlebih dulu menjadi pegawai kadang lenyap begitu saja ketika hal sebaliknya yang justru terjadi. Dimana diantara mereka ada yang bersikap arogan atau bahkan berlagak dan mempersonofikasikan seperti si pemilik lembaga. Inilah bentuk dan tatanan sosial dimana kita berada. Pengkastaan antara junior dan senior.

Mengembangkan Pola Saling Menghargai

Ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan, jika kita adalah bagian dari pemegang otoritas sebuah lembaga. Pertama, Perubahan paradigma. Kepada mereka, junior-senior, bersama-sama kita kembangkan paradigma baru dalam menyusun dan mengusahakan bagi ketercapaian tujuan bersama. Dalam ranah ini, mereka bisa menyampaikan ide dan gagasan yang kemudian dapat kita jadikan sebagai komitmen bersama. Komitmen inilah yang menjadi tolak ukur bagi kinerja mereka sesudahnya.


Paradigma juga penting untuk kita sebagai pemegang otoritas. Yaitu pemahaman kita bahwa tidak semua senior tidak mau berubah dan juga sebaliknya tidak semua junior adalah yang mau berubah. Disini kita dituntut untuk berpikir dan berpandangan saling menghargai dan adil. Kita harus memiliki prinsip bahwa semua kita adalah makhluk yang selalu berkeinginan maju. Oleh karena menjadi bagian tugas dari kita adalah menemukan dan menggali potensi itu dan membuat strategi akan paradigma yang lebih baik dan saling menghargai.

Kedua, Melakukan kontrol dan pendampingan. Sama halnya dengan apa yang terjadi di kalangan siswa. Bullying senior hanya dapat dilakukan manakala pengawasan pemegang otoritas lemah. Untuk itulah perlunya kita bekerja secara berdampingan dengan mereka. Selain melakukan pengawasan atas keterlaksanaan komitmen yang telah dicanangkan, pengawasan ini juga dapat menjadi bagian dari bentuk pelatihan dan pendampingan. Sehingga apa yang menjadi keperluan mereka saat menyusun dan mengusahakan dalam mencapai tujuan.

Ketiga, Dibutuhan pemegang otoritas yang pemberani. Yang saya maksud dengan berani bagi pemegang otoritas adalah kemampuan, kesanggupan dan ketegaran untuk menentukan kebijakan dengan dasar yang telah disepakati.


Misalnya pengangkatan pejabat di lembaganya dengan pertimbangan prestasi, dan bukan senior-junior. Dan apabila sipemangku jabatan adalah mereka yang kebetulan masuk dalam kasta junior, kita perlu berikan dukungan, sokongan dan pengawalan secara penuh dalam menjalankan tugasnya.


Pejabat yang memiliki kompetensi unggul meski ia masih junior dengan back up kita yang kuat adalah bentuk nyata bagi merealisasikan masyarakat yang saling menghormati.

Jakarta, 11 Desember 2009

09 December 2009

Tulis Apa yang Telah, Sedang dan Akan


Kalimat inilah yang saya jadikan kalimat provokasi bagi orang yang ada di lingkungan saya. Mereka ada anak-anak saya dan istri di rumah serta ada teman-teman kerja di sekolah. Saya mengajak mereka menulis bukan karena saya sendiri merasa hebat dalam menulis. Atau karena saya sudah punya blog. Juga bukan karena saya memiliki beberapa tulisan yang sudah dimuat di koran.

Saya memprovokasi dengan judul ini karena saya ingin agar mereka, semua orang yang ada di sekeliling saya, gemar mencatat apa yang telah, sedang dan yang akan dilakukannya, agar supaya mereka dan kita semua dapat mengingat secara detil tentang masa lalu, masa kini dan impian di masa mendatang.

Menuliskan apa yang telah dilakukannya, akan membantu kita untuk melihat masa lalu dengan penuh makna. Dan karenanya kita dapat memperoleh hikmah darinya. Karena dalam pandangan saya, dengan menuliskan apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan, kita sedang membuat rekam jejak dalam kehidupan kita sejarah jelas, transparan. Dan dengan jejak itulah orang akan melihat keberadaan dan eksistensi kita.

Untuk itulah, maka pada awal tahun pelajaran 2009/2010 lalu, saya meminta seluruh guru yang ada di lingkungan kerja saya untuk membuat dan menggunakan e-mail. Dan berangkat dari e-mail tersebut, saya dorong mereka untuk memiliki account di jejaring sosial. Dan berangkat dari e-mail itu juga kepada mereka saya bertanya apakah alamat blog telah mereka miliki.?Dan dari blog merekalah saya melihat isi kepala, angan-angan dan sejarah yang mereka tuangkan. Meski hingga kini mereka masih membiarkan halaman blognya kosong, namun saya selalu berkeyakinan suatu saat nanti mereka terdorong untuk menulis.

Suatu saat, saya melihat status on line diantara teman saya, yang masih membiarkan halaman blognya telantar untuk sementara, ketika saya membuka e-mail, lalu serta merta saya menyapanya dan menuliskan: OL terus, kok blognya belum ada isinya juga? Beberapa saat kemudian dia menjawab: Iya Pak. Sedang cari ide.

Karena keisengan saya, saya meneruskan dengan pemikiran saya tentang menulis. Kalau saja teman saya itu tahu bagaimana sulitnya menemukan ide sehingga dengannya ia menjadi buntu dan sulit memulai menulis, mengapa tidak kebuntuannya itu saja yang menjadi bahan tulisannya? Sehingga ia menulis tentang sulitnya membuat tulisan katrena ide yang ditunggu-tunggunya tidak pernah muncul? Mungkin ini malah menjadi bahan tulisan bagus. Siapa tahu?

Jadi untuk keluarga dan semua teman, menulislah apa yang telah Anda alami, sehingga saya menjadi tahu apa yang telah dan sedang Anda alami. Juga saya menjadi faham mengapa Anda melakukan sesuatu? Beritahukan siapa, mengapa, bagaimana Anda kepada saya dan kepada dunia melalui apa yang Anda tulis.

Jakarta, 9 Desember 2009.

08 December 2009

Berkontribusi untuk Orang Lain

Jika mengingat tetangga sebelah rumah saya waktu di desa, saya selalu menggumankan terima kasih dan syukur. Syukur akan kontribusinya terhadap perjalanan hidup saya berikutnya.

Karena dialah orang yang pertama sekali, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, diajaknya pergi ke sawah untuk menjadi buruh cangkul. Petani.

Dan setelah sekian kali bersamanya, saya diberikannya uang sebagai upah kerja. Dan karena saya juga harus bersekolah di siang hari, maka pekerjaan mencangkul di sawah hanya saya jalani di pagi hari hingga menjelang bedug (istilah untuk waktu Dzuhur).

Bekerja dalam paruh waktu memang bukan menjadi pilihan saya, meski keluarga saya berasal dari desa yang sama, dan ketika kembali ke desa setelah ayah mengajak kami merantau di Punggur, Metro, Lampung Tengah, tanpa memiliki lahan persawahan. Namun kepedulian tetangga saya untuk 'memberikan' jalan agar saya memiliki pendapatan tambahan uang dan juga kemahiran dalam berjuang, adalah bentuk kontribusi yang selalu saya syukuri. Sebuah bentuk nyata kepedulian dalam momen perjalanan hidup yang tidak akan mungkin saya lupakan hingga sekarang.

Kemurahan hati dan pemahaman dia untuk memberikan kesempatan kepada saya mencangkul di sawahnya dengan kualitas cangkulan yang sangat mungkin belum baik dan kemampuan serta ketahanan yang belum juga pantas diberikan bayaran bagi petani pemula seperti saya kala itu, adalah pengambilan keputusan yang berani.

Mengapa? Menurut saya, jika tanpa kemurahan hati dan pemahaman, dia tentu tidak akan memilih saya yang pemula ini untuk mengerjakan sawahnya. Selain kualitas tanah yang dicangkul juga ketahanan fisik saya yang masih lemah. Fisik saya yang tidak pernah mencangkul secara profesional tentu tidak mendukung untuk menghasilkan tenaga yang baik. Juga alat yang saya punya, adalah cangkul untuk perladangan dan bukan persawahan. Cangkul saya akan selalu menimbulkan cipratan air, yang kadang muncrat hingga ke muka saya sendiri. Ini karena cangkul saya tidak dilapisi baja supaya kalis hingga tanah selalu menempel di ujung cangkul ketika cangkul itu saya tarik.

Dan dalam kadar yang berbeda, guru muda, yaitu guru yang belum memiliki jam terbang yang cukup juga memiliki indikasi seperti kala saya menjadi buruh tani waktu itu. Dan ketika saya merefleksikan dengan apa yang pernah saya alami sendiri puluhan tahun yang lalu, maka pemahaman dan keterbukaan hati atas kekurangan terhadap dirinya yang sedang tumbuh, yang dapat menjadi kunci bagi kemajuan dan keberhasilan perjalanan hidup mereka.

Tanpa itu, mereka akan pergi dan mungkin akan menjadi guru atau pekerja handal di kemudian hari, dan kita tidak memiliki kontribusi bagi kesuksesan mereka. Inilah buah yang dapat kita dapatkan ketika kita memberikan kesempatan, keluasan pemahaman, dan kecukupan bantuan bagi yang sedang mengembangkan kehidupan.

Jakarta, 8 Desember 2009.

07 December 2009

Pembanding


Sabtu, 5 Desember 2009, saya bertemu dan berdiskusi panjang lebar tentang pendidikan dengan Bapak Raja Sofyan yang adalah Pengawas SMP di Tanjung Pinang. Beliau menceritakan bagaimana waktu awal menjadi guru Agama puluhan tahun yang lalu. Cerita tentang para kepala sekolahnya.

Ada kepala sekolahnya yang baik dan sukses membawa sekolah yang disiplin dan 'berbeda' meski untuk berbeda tersebut sang kepala sekolah sering harus berkorban secara pribadi. Namun sebaik apapun prestasi tersebut tetap saja ada guru yang tidak memahaminya atau bahkan kurang menyukainya.
Lalu datang lagi kapala sekolah baru yang menurutnya memiliki kompetensi di bawah dari kepala sekolah sebelumnya. Lalu, datang lagi model kepala sekolah lain di sekolahnya. Hingga akhirnya para guru berpikir bahwa kepala sekolahnya yang pertama adalah kepala sekolah terbaik bagi mereka. Dan mereka sadar bahwa baik dan tidak, bagus dan tidak, profesional dan tidak, setelah mereka memiliki tiga kepala sekolah yang berbeda. Setelah mereka memiliki pembanding.

Ada lagi cerita yang berbeda, yaitu perbandingan antara teman guru yang telah memiliki pengalaman sebagai guru yang mengajar di beberapa sekolah, tetapi bukan model guru kutu loncat yang berpindah setiap tahun pelajaran baru, dengan guru yang menetap di satu sekolah untuk kurun waktu yang panjang, dalam mensyukuri apa yang ada.

Teman yang pernah bekerja di institusi berbeda akan memiliki kemampuan lebih mudah memahami situasi terhadap sekolahnya. Dan menurut pendapat saya hal ini karena mereka telah memiliki pembanding. Sehingga pemahaman terhadap plus dan minus yang lahir dalam sebuah lembaga dapat segera diperbandingkan. Sedang bagi yang tidak memiliki pembanding sedikit sulit membuat tolok ukur obyektif. Semua dilihatnya dari kaca mata yang lurus.

Dan dalam pengembangan sekolah pun, pembanding merupakan suatu hal yang luar biasa penting. Sekolah, guru, orangtua siswa atau siapa saja yang menilai diri tanpa membuat pembanding ( dalam ranah penilitian, pembanding harus yang setara ), akan mengalami situasi bangga diri yang tidak pada lokasinya. Karena ia merasakan sesuatu hanya dalam angan-angan sendiri. Padahal dalam waktu yang bersamaan orang sedang melihat dia dalam situasi keprihatinan.

Inilah yang oleh beberapa manajemen sekolah menjadikan studi banding sebagai bagian dari pengembangan sebuah sekolah. Karena dari kunjungan tersebut kita akan dimampukan untuk melihat bagaimana sekolah lain atau orang lain berusaha dan berikhtiar menjalani program yang menurut mereka unggul.

Untuk itulah maka penting bagi kita melihat semua situasi yang ada dengan tolok ukur dan pembanding yang relevan. Dan jangan sampai kita sedang membandingkan sekolah yang jumlah siswanya 25 setiap kelas dengan sekolah dengan jumlah siswa 34 tiap kelasnya dalam soal uang sekolah, misalnya. Karena itu sama saja kita membandingkan buah durian dengan buah jeruk.

Jakarta, 7 Desember 2009.

Tengleng Jalan Nayu


Bersamaan dengan libur Idul Adha 1430 H yang lalu, niat semula saya dan istri untuk menengok putri kami di Yogyakarta, akhirnya bersama keluarga besar bertambah agenda. Yaitu selain menengok anak juga wisata kuliner di Yogyakarta dan Solo. Dan salah satu tempat dari wisata itu adalah tengkleng di Jalan Nayu Solo. Lokasinya lebih kurang 500 meter dari Terminal Bus Tirtonadi.

Tempat ini direkomendasikan oleh kakak saya yang tinggal di Jakarta, yang saat mengetahui keberadaan kami di Solo untuk ke Pasar Klewer, kakak serta merta mendorong kami mengunjungi jalan Nayu dan menyantap tengleng langganannya, makanan khas Solo sejenis tongseng, yang seluruh materinya terdiri dari tetelan dan daging yang ada di kepala kambing. Rekomendasi ini dia berikan, tentunya, karena setiap kunjung ke kota ini Jalan Nayu selalu menjadi agenda utamanya.

Dan setelah empat kali bertanya, warung tengleng itupun kami temukan. Dan kami semua nyaris terperangah bukan pada tenglengnya, tetapi pada tongkrongan warungnya. Warung itu berupa emperan rumah yang dibuat seperti pendopo. Untuk para tamunya disediakan tiga deret meja kayu panjang sederhana. Di depan warung, untuk menghindari tetesan air hujan dan teriknya matahari ditutup dengan plastik bekas spanduk operator telpon warna biru.

Kami berpikir. Bagaimana mungkin kakak saya yang tinggal di Jakarta merekomendasikan kami untuk makan siang di Jalan Nayu yang ternyata seperti ini tongkrongannya? Dan untuk menilai enak dan tidaknya, saya bukan orang yang pas untuk itu. Soal makanan, saya hanya punya 2 kosa kata rasa. Yaitu enak dan uenak!

Tapi dari sini, saya sebagai praktisi di sekolah sekolah swasta mencoba untuk menarik hikmah. Karena sedikit banyaknya, pola berpikir pengembangan dan kompetisi menjadi bagian dari eksistensi sebuah sekolah.

Hikmah yang dapat saya petik untuk yang Pertama, Bahwa untuk menjadi dikenal dan didatangi orang, kualitas adalah nomor pertama. Lokasi di pelosok sekalipun tetap jaminan untuk menjadi dikenal orang. Karena kualitas akan berbuah menjadi loyalitas. Dan loyalitas memberi semangat kepada kita untuk mengeksplorasi. Tengkleng jalan Nayu tersebut adalah bukti konkrit apa yang saya sampaikan ini.

Bagaimana tidak loyal, wong tadinya saya ke Solo untuk makan di sekitar Pasar Klewer, e malah kakak ngotot merekomendasi yang berbeda. Hebatnya lagi kok ya kita terdorong untuk mengikuti. Dan kagetnya ternyata yang direkomendasikan itu berupa warung yang kalau di Jakarta disebut sebagai warung Tegal.

Kedua, Menjadi berbeda. Kadang selain kualitas, orang menjadi loyal dan tetap bersemangat untuk menemukan kita karena kita berbeda. Dalam suatu program, kadang apa yang terdapat di lembaga ini menjadi trend dan secara generik di kopi dan tiru oleh lembaga lain. Kopi dan tiru ini hanya akan melemahkan daya saing dari masing-masing lembaga atau masing-masing barang jualan.

Sedang menjadi berkemampuan untuk berbeda, adalah kemampuan untuk mencipta. Dan mencipta sesuatu yang berbeda, hanya terjadi jika telah melalui tahap menjadi tahu, fenjadi faham, menemukan aplikasinya di lapangan, melakukan evaluasi dari berbagai sisi dan membuat analisa.

Dan pengalaman Jalan Nayu, bagi saya telah membelajarkan bagaimana saya yang berada di sebuah sekolah untuk terus menjadi berkualitas dan berbeda.

Jakarta, Yogya-Solo, 27-30 November 2009.