Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 March 2014

Untuk Musim Pemilu

Ini hanya kebetulan sekali. Bahwa saya baru saja membaca kalimat-kalimat dari Buku Saduran Negarakertagama dalam mengisi waktu-waktu saya di kendaraan yang mengantar perjalanan saya. Sebuah buku kecil terbitan PT Tiga Serangkai, Solo.

Sebuah kebetulan, karena sesungguhnya buku saku ini telah ada beberapa lama di lemari buku saya yang ada di kantor. Sebuah buku yang saya peroleh ketika membeli buku tetraloginya Langit Kresna Hariadi, berjudul Gajah Mada.

Artinya, karena buku ini bukan baru, maka sesungguhnya kebetulan sekali jika kalimat-kalimat yang saya peroleh dalam rangkaian Pupuh. Seperti dalam Pupuh LXXXVIII, pasal (?) 2, yang berbunyi; 

Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan pebesar dan wedana:
"Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Baginda raja
Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu
Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina

Juga dalam pasal selanjutnya;

Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah
Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh ke petani besar
Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga
Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar

Dua pasal dalam kutipan tersebut benar-benar kebetulan sekali saya baca di musim kampanye dan Pemilu tahun ini. Sungguh, menjadi butiran pencerahan bagi saya, tentunya karena saya melihatnya pada musim menjelang demokrasi ini. Meski, saya menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa. 

Atau apa yang dituliskan dalam Pupuh selanjutnya, Pupuh LXXXIX, pasal 2;

Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan
Jika desa rusak, negara akan kekuragan bahan makanan
Kalau tidak ada tentara, negara lain akan mudah menyerang kita
Karenanya perihalarah keduanya, itu perintah saya!

Pada pasal 3;

Begitu peritah Baginda kepada wedana, yang tunduk mengangguk
Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau
(...)

Untaian kalimat dalam pupuh itu belum berakhir. Masih panjang dan terlalu memperjelas akan apa dan bagaimana seharusnya. Sekali lagi, ini menjadi bahan refleksi saya sebagai bagian dari 'butiran angka' yang bernama 'suara' di TPS pada Pemilu tahun ini.

Jakarta, 21 Maret 2014.

17 March 2014

Kemapanan VS Perubahan

Beberapa hari lalu, saya menerima email dari teman. Dan ini bukan email formal masalah yang berkait dengan pekerjaan, meski yang mengirim dan menerima adalah teman-teman kantor juga. Ini karena email dikirim dengan isi yang lebih tentang diskusi dan tukar pikiran antara kami tentang situasi yang sedang kami alami bersama. Yaitu tentang pengembangan lembaga dengan bekejasama dengan sebuah lembaga konsultan.

Jadi, arah diskusinya tentang situasi mapan, tentang kondisi lembaga yang seolah menjadi stagnan, tentang kondisi penerimaan siswa didik baru yang menunjukkan arah kurang menggembirakan, tentang kualitas SD yang sepertinya bukan lagi menjadi pilihan bagi calon orangtua siswa, tentang sekolah dan semua perlengkapannya yang memang bukan menjadi pilihan.

Dan seperti dalam pikiran kami semua, itu barangkali masih fenomena, atau fakta, karena perjalanan waktu untuk sebuah tahun pelajaran baru baru saja akan berakhir dan saat penerimaan peserta didik baru juga baru berjalan di seperempat awal perjalanan. 

Dan yang lebih kami semua belum ketahui secara pasti adalah, apakah perilaku dan kinerja yang selama ini menjadi pakaian kami sehari-hari adalah indikator atau menjadi bagian dari apa yang dinamakan mapan atau masuk dalam kategori kepamapanan?

Lalu, apa lebih kurang isi dari email yang saya terima itu? Tidak lain adalah bahwa saya mendapat apresiasi dari teman tentang sebuah langkah yang sedang kami lakukan dan jalani bersama untuk sebuah pengembangan bagi lembaga kami. Dan karena email itu antaralain mengandung  kata-kata kemapanan dan perubahan, maka saya kemudian menjadi berpikir; jangan-jangan saya dan teman-teman faham tentang kata mapan dan berubah, tetapi sungguh blank jika itu menyangkut dengan apa yang menjadi bagian dari kemapanan dari keseharian saya dan kami semua, serta apa yang harus kemi lakukan dengan perubahan sebagaimana yang dimaksudkan sebagai lawan dari kemapanan itu?

Dal kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya saya dan teman-teman sesungguhnya sedang mengalami kefakuman makna. Saya tahu tentang maksud dari kata itu, namun buta ketika kata itu harus terwujud dalam perilaku sehari-hari. Tentunya kalau saya sebagai guru, maka apa saja yang dimaksud dengan kata mapan dalam tataran perilaku saya, yang harus menjadi fokus saya untuk saya lakukan perubahan dalam bentuk perilaku yang tidak mapan?

"Mungkin harus ada yang menjadi cermin  bagi kita bersama. Benchmark, sekolah kompetitor, barangkali bisa kita jadikan sebagai cermin. Kita eksplor bagaimana guru di sekolah tersebut menhabiskan waktu dan berkomunikasi bersama peserta didiknya di sekolah?" Demikian yang sahabat saya sampaikan dalam kalimat emailnya yang terakhir.

Diskusi dalam email itu harus berhenti. Karena memang tidak ada satu dari kami yang paling mujarab memberikan jalan keluar...

Jakarta, 17.03.2014.

15 March 2014

Wisata Kantor, Destinasi atau Silaturahim?

Ada bagian dari kami yang mempertanyakan kepergian kami bersama seluruh komponen pegawai dan pengelola ke Bromo dan Malang beberapa waktu yang lalu. Karena mempertanyakan, tetntunya sesuatu yang patut sekali saya membuatkannya penjelasan dan bukan sama sekali sebagai pembelaan. Karena apa yang saya sampaikan adalah kenyataan yang kami alami.

Pergi Bersama?

Ini adalah pernyataan yang menurut saya sendiri sebagai pertanyaan orang-orang yang sok profesional. Sungguh pertanyaan dan pernyataan yang benar-benar tidak memiliki keyakinan atas Penguasa dari semua penguasa! 

Mengapa? Beginilah apa yang disampaikan orang modern ini kepada kami; "Di kantor suami saya, tidak boleh seluruh pegawai pergi bersaa-sama dengan manajemen atau pengelola dalam waktu bersamaan."

Saya paham apa yang dimaksudkan dari yang diungkapkannya. Ini jika terjadi semacam kecelakaan fatal, maka fatal pula lembaga yang mereka ampu. Masuk di  akal sebagian kita barang kali tentang apa yang disampaikan. Tapi bukan untuk otak saya. 

Karena tujuan kepergiannya adalah untuk membangun kebersamaan dan sinergitas, maka tidak mungkin untuk tidak bersama-sama. Fatal? Itu adalah pikiran negatif. Wasangka akan masa depan. Karenanya, saya yakin bahwa kepergian kami adalah untuk membangun kebersamaan diantara kami. Bukan sebuah kejadian fatal. Pikiran positif saya dilandasi oleh apa yang tertera dalam dasar keyakinan saya bahwa: Aku (Allah Swt.) adalah bagaimana hamba-Ku berprasangka kepada-Ku.
 
Boros?

Bukankah menjadi terau mahal jika waktu tempuh perjalanan kami, kami perpanjang yaitu dengan misalnya, menggunakan kendaraan yang lebih murah? Juga, berapakah biaya untuk sebuah komunitas yang tidak memiliki kedekatan satu sama lainnya sehingga dengannya akan melahirkan perilaku saling tak acuh dan tidak sinergi? Lebih lagi jika ini adalah sebuah lembaga swasta yang peredaran uangnya bukan dari APBN?

Artinya, jangan pernah menghitung pengeluaran dari angka yang keluar saja. Tetapi berhitunglah dari logika sebab dan akibat. Berhitunglah dengan akal yang panjang. Karena hanya dengan cara berpikir seperti itulah sebuah lembaga dapat eksis dan berusia panjang.

Dan dengan logika semacam inilah maka tidak dapat kita memberikan kesimpulan boros, mahal, atau bahkan murah hanya dengan menyebutkan angka. Terlalu cetek jika investasi kesadara untuk berprestasi disebut sebagai boros.

Manfaat; Destinasi atau Silaturahim?

Lalu untuk apa m,enempuh destinasi jauh? Inilah yang saya sampaikan sebagai penjelasan. Bahwa destinasi dari sebuah wisata kantor, buat saya yang melihatnya bahwa wisata sebagai  wahana silaturahim, tidak menjadi begitu penting. Namun memang tetap menarik sebagai loikasi yang dituju. Karena ketika kami sampai ke destinasi yang ditentukan, kami semua akan disibukkan oleh kamera dan seluler masing-masing. Tidak ada gesekan yang membuat sesama kami  untuk saling bergandengan tangan kecuali ketika kami akan mengambil gambar foto.

Rombongan berfoto di depan bukit Teletabies
Tetapi perjalanan menuju lokasi, waktu ketika kami sedang bersiap menuju kendaraan yang akan membawa kami, sarapan atau makan bersama di meja-meja yang tersedia, adalah waktu-waktu emas untuk saya dan pengelola lainnya untuk mendengar cerita dan getaran hati dari para pegawai yang bersama kami. Ini adalah waktu-waktu bagi  kita semua menjadi setara. Juga melihat bagaimana teman-teman itu dapat melakukan kegiatan sesuai dengan perannya masing-masing. Dan pada sisi inilah, kami benar-benar mengucapkan terima kasih atas  daya dan upaya sehingga wisata kantor tahun 2014 ini terwujud dan spektakuler!

Kepada yang menjadi panitia, kami dapat melihatnya bagaimana mereka bersikap baik selama membantu kami semua melakukan perjalanan. Kami dapat melihatnya dari sisi kepemimpinan, keluasan pandangan, dan juga cara dan model mereka dalam membuat keputusan.

Kepada peserta, kami pun dapat memnajdikannya pelajaran. Bagaimana teman-teman itu ada yang selalu disiplin, atau sebaliknya, selalu terlambat ketika kendaraan harus berangkat. Ata perilaku lainnya yang dapat menjadi masukan kami dalam membuat rancangan pelatihan di kantor ketika kami kembali bekerja.

Jakarta, 15 Maret 2014.

Absensi VS Kompetensi

Ketika di sebuah kantor sedang sibuk memperbincangkan absensi keterlambatan para pegawainya, atau juga tentang keterlambatan atas kehadiran oleh beberapa staf saja namun dalam intensitas sering, maka keluarlah aturan baru sebagaimana antisipasi agar perilaku tersebut tidak berkelanjutan. Demikian juga dengan apa yang terjadi di sebuah lembaga yang kebetulan teman saya berada di bagian dari lembaga tersebut.

Apakah berhenti hingga disitu berkenaan dengan cerita absensi pegawai tersebut? Tentunya tidak. Karena, meski mesin absensi kehadiran talah memberikan catatan kepada akan waktu kedatangan di pagi hari dan waktu kepulangan di sore hari bagi seorang pegawai, bukankah itu belum memberikan jaminan akan keberadaan pegawai tersebut sepanjang jam datang dan jam pulangnya?

Apakah catatan saya ini menjadi sak wasangka akan komitmen seorang pegawai dengan kredibilitas absensinya yang dilaporkan oleh mesin absensi tersebut? Tidak juga. Namun dalam realitanya bahwa, sahabat saya itu masih mendapati area kerja yang benar-benar kosong dari para penanggungjawabnya. Pekerjaan tertinggal begitu saja tanpa ada pegawai yang seharusnya berada di tempat yang sudah ditentukan tersebut. 

Dan setelah berputar di lokasi yang seharusnya keberadaan pegawai itu dapat ditemukan, kosong. Bahkan untuk mempercepat pencarian, dibantu stafnya, dihubungilah nomor-nomor kontak yang seharusnya menjadi bagian inheren dari identitasnya sebagai pegawai, kosong juga. Bahkan nomor selularnya berada pada posisi off!

Tentu belum berhenti di situ saja. Karena kondisi ini benar-benar memberikan implikasi pengaruh kepada lini yang berbeda di lokasi kerja tersebut. Beberapa rekan sejawat, memberikan masukan agar ada tindakan nyata atas apa yang terjadi. 

"Apa yang harus saya lakukan Pak Agus?" Ucapnya kepada saya.
"Masukkan dalam anecdotal record Bu." Jawab saya."Kumpulkan catatan-catatan itu, dan carilah acuan untuk melakukan tahapan berikutnya."

Pertama, adalah Kehadiran!

Aneh memang kalau ada seseorang yang masih menyimpan ambisi untuk menjadi bagian dari manajemen di lembaganya sendiri, namun tidak menunjukkan kesungguhannya dalam membuat jenjang anak tangga menuju ke arah yang dijadikannya kiblat. 

Aneh? Benar sekali anehnya. Karena ia hanya menggantungkan kiblat dan keinginannya sekedar sebagai panorama yang menghiasi seluruh potensi yang dimilikinya. Dan potensi itu tetap tidak menjadikan langkah nyata dalam bentuk pencapaian menuju. Aneh bukan?

Dan sesungguhnya ada yang lebih aneh menurut saya. Ini karena ia adalah seorang sarjana yang berpikiran cerdas dan penuh gagasan bagus. Juga bahkan, dalam lingkungannya, ialah motivator.

Namun hanya karena catatan di mesin absennya yang sungguh buruk, maka potensi yang dia miliki, baru menjadi bagian yang memberikan asesoris di lingkungan kerjanya sebagai pegawai. Karena kehadirannya di kantor menjadi bagian paling penting bagi apa yang dinamakan kompetensi!

Jakarta, 15 Maret 2013.

12 March 2014

Perbandingan Teks

Menarik sekali membandingkan teks sejarah yang ditulis oleh orang yang berbeda. Meski ini bukan hal yang baru saya temukan. Namun saya benar-benar tertarik untuk mentatatnya di sini. Mungkin sekali ini terjadi karena teks yang saya baca adalah teks sejarah yang runtutan atau kronologi perjalanannya selalu sama, sehingga ketika saya ingin membacanya dalah satu topik kecilnya, menjadi tampak sekali perbedaan itu. 

Beberapa waktu  ini, saya sedang gandrung dan tertarik untuk membaca pegalan sejarah nasional, yang selain saya baca dari teks sejarah hingga buku putihnya, tak luput pula saya membcanya dari teks fiksi yang kebetulan memiliki setting waktu yag bersamaan dengan pada saat perjalanan sejaran tersebut berlangsung. Jadilah saya melihat diorama yang berbeda-beda. Tetapi tetap menarik.

Dan dari membaca itu, saya kemudian mengetahui tujuan  para penulis sejarah itu. Pada sisi ini, buat saya menarik sekali. Ada yang berusaha untuk tidak memperlihatkan semua yang terjadi pada masa tersebut, seperti misalnya dengan cara memenggal awal, atau tengah, atau akhir perjalanan sejarah tersebut. Tentu ini sebuah cara untuk mencapai tujuan yang bisa jadi ia sendiri yang mengetahuinya. Ada juga yang memang menguasai perjaanan pada sisi yang berbeda sehingga 'laporan pandangan mata'nya menjadi berbeda pula. Meski tetap memiliki titik kebersinggungan.

Bahira

Akan halnya dengan  bagian kisah yang ini. Ini adalah kisah yang jauh menjadi menarik ketika saya melihatnya dari buku yang berbeda. Dari buku yang ditulis oleh seorag yang asli Indonesia, dengan dua buku yang dialihbahasakan. Ketiganya menarik. Dan karena hanya pada satu titik yang saya coba ihat, maka dari dinilah saya benar-benar dapat menikmati apa dan bagaimana para penulis tersebut memaparkan kepada saya tentang sebuah peristiwa.

Pada satui titik ini pulalah saya dapat belajar tentang bagaimana penulis mengutarakan dengan gaya bahasa, atau dengan ketelitian, atau kehati-hatian sesuatu yang dia pelajari dari bahan riset kepada saya melalui tulisan di buku.  Dan meski bukan buku baru, tetapi informasi yang ditorehkan dalam narasi tersebut membuat saya merasakan adanya jarak waktu yang tidak begitu lama. 

Dari satu titik itu juga, saya dapat belajar tentang kejujuran. Karena ada penulis yang benar-benar merangkai hasil temuannya dalam kalimat-kalimat yang dia susun di dalam bukunya itu. Tidak terlalu banyak kata atau kalimat yag dibuat penulis dalam mengetengahkan informasi tersebut kepada saya.

Setidaknya itulah yang saya dapatkan dari beberapa halaman buku yang mampu saya baca beberapa waktu belakangan ini. Tentu, antara lain ini karena saya membaca sebuah titik dari buku yang berbeda. Itulah yang dalam catatan ini saya sebut sebagai 'perbandigan teks'.

Jakarta, 12 Maret 2014.

11 March 2014

'Membangun' Anak Tangga

Untuk istilah anak tangga bagi sebuah perjalanan kesuksesan seseorang, saya mengambilnya dari kolumnis asal Yogyakarta, Cak Nun. Dan saya merasa cocok serta pas menggunakan frasa anak tangga ini, untuk memberikan gambaran kepada seseorang yang berangkat menuju keberhasilan dalam karir. 

Itu juga yang saya saksikan dengan orang-orang yang berada di sekeliling saya. Termasuk diantaranya adalah teman-teman saya. Mereka begitu sibuk dengan agenda pengembangan dirinya. Tidak saja dengan menempuh sekolah dan kuliah untuk jenjang yang lebih tinggi, dan di tempat yang prestisius, tetapi juga pengembangan diri di lokasi non formal, atau bahkan dengan cara swadaya yang antara lain dengan membaca.

Aka adanya situasi yang demikian itu, saya merasa mendapat vibrasi positif dari mereka itu. Dan itu saya lakukan sesuai dengan apa yang saya bisa lakukan. Meski sejengkal, semangat itu menjadi bagian penting dalam ikut serta mengalir.

Kalau ada motivator yang mengatakan bahwa, sukses berangkat dari mimpi, barangkali itulah yang teman saya yakini,  jalani, dan perjuangkan. Misalnya, sebagaimana yang saya selalu lihat, dia selalu mempersiapkan diri untuk selalu sibuk dengan hal-hal yang berbau pengembangan diri. Juga selalu menjadi bagian individu yang begitu on time serta full time dalam mengemban tugasnya. Etos kerja inilah yang diyakininya sebagai bagian inheren dari ketercapaian apa yang ingin di raihnya di masa-masa berikutnya.

Sikap, keyakinan, dan etos kerja yang seperti itulah, yang menjadikannya sebagai anak tangga bagi ketercapaian mimpinya. Itulah yang saya maksudkan sebagai 'membangun' anak tangga.

Benar saja, ketika kami bertemu di beberapa tahun berikutnya, ia telah berada di suatu tempat kerja yang memiliki beban tugas lebih banyak. Hingga terus berkelanjutan. 

Mimpi Tinggalah Mimpi

Bagaimana dengan teman-teman lain yang juga punya mimpi menjadi apa yang diingini tetapi dalam mengejawntahkan tugasnya sehari-hari tidak melakukan sebagaimana dengan teman saya yang benar-benar melakukan tahapan 'membangun' anak tangga? Ya itulah yang terjadi. Mimpinya hanyalah tinggal mimpi. Karena pada realitanya kawan saya ini justru bukan semakin mendekat dengan apa yang diingininya, akan tetapi justru semakin menjauh dari apa yang diimpikanya. 

Jakarta, 11 Maret 2014.

09 March 2014

Komputer sebagai Fesyien

Belakangan ini saya mulai teracuni dengan istilah fasyien untuk pengguna komputer. Baik tablet atau lap top. Apa yang saya maksudkan dengan komputer sebagai fasyien? Ini jarena ada beberapa teman yang saya benar-benar kesulitan berkomunikasi dengannya kecuali dengan teleponan atau SMSan. Padahal di lokasi kerjanya terhampar alat komunikasi yang memungkinkannya untuk berhubungan dengan lingkungannya secara cepat, efektif, dan murah. Selulernya sendiri saya pastikan jika tidak menggunakan teknologi Android atau jaringan BB. Tetapi ya itulah kenyataannya. Seluler yang smart pun tidak mereka maksimalkan sebagaimana fungsi bawaannya.

Pada titik inilah kemudian kami berpikir adanya dua kemungkinan. Kemungkinanan yang pertama adalah ketidak mauan para pemegang smartphone itu untuk membeli paket internet yang ditawarkan. Alasan ini bisa jadi karena keterbatasan dana. Tapi dengan posisinya di lembaga yang dipimpinnya, apakah kemungkinan tersebut layak untuk saya kedepankan?

Kemungkinan yang kedua adalah karena adanya jarak antara kompetensi diasebagai pengguna dengan  seluler atau peralatan komputer yang ada dan dimilikinya. Kemungkinanan ini tidak lain karena masalah kegagapan teknologi. Meski tersedia tetapi tidak digunakannya.

Dan ketika datang kepada saya seorang teman yang bergerak di bidang perkomputeran, ia menyampaikan bahwa  ada sebagian besar orang, uatamanya yang sejak awal adalah mereka yang tidak mau ikut serta dalam kegairahan dalam menggunakan dan menikmati perkembangan teknologi komputer termasuk di dalamnya adalah jeringan internet.

Jangan ditanyakan kepada mereka bagaimana membuat deretan angka dari sebuah data menjadi deretan informasi yang mempu memberikannya pandangan bagaimana yang akan terjadi di kemudian. Ini karena ketidak mampuannya menyusun angka-angka tersebut dalam format apapun di dalam komputernya. Demikian pula dengan presentasi.

Hal ini, salah satunya, karena selama ini mereka dininabobokkan dengan semua bantuan yang begitu membuatnya merasa nyaman. Tampil sebagai presenter tanpa harus melakukan persiapan dari pikiran dan keterampilannya sendiri. Inilah bentuk rasa percaya diri yang semu. Kelihatan gagah dan pintar di depan, padahal tumpul dalam mengasah keterampilan membuat, meramu, dan mengutak-atik alat teknologi.

Karena mereka adalah pemilik alat-alat teknologi canggih tersebut namun buka sebagai pengguna yang aktif, menyebabkan alat genget yang dimilikinya hanya difungsikan sekitar kisaran 30 %. Inilah posisi yang oleh kawan saya sebut sebagai fasyien. Alat dan perlengkapan yang dimiliki dan ditentengnya, apapun bentuk dan ragamnya, tidak lebih baru sebagai fasyien.

Jakarta, 9 Maret 2014.

07 March 2014

Move On...

"Pak Agus, Dea itu belum juga move on Pak..." begitu kalimat yang saya dengar dari seorang remaja putri kelas IX, yang adalah peserta didik kami di sekolah. Sebuah kalimat yang sesungguhnya menjadi pemberitahuan kepada saya dan sekaligus meledek temannya yang ada di sampingnya pada saat mereka berdua bertemu saya di tangga keluar sekolah. Seperti gaya remaja biasanya, maka kalimat itu segera menjadi bahan diskusi yang berbau kalah menang.

Apa sesungguhnya yang mereka maksudkan dengan move on itu? Dari informasi berikut yang saya dapatkan, bahwa anak yang dipanggil Dea itu sedang putus dengan cowok yang disukainya. Namun status putus tersebut dirasakan oleh Dea dengan berkepanjngan. Maka sahabatnya itu mengatakan kepada saya bahwa Dea belum ingin move on dari situasi putus itu.

Itulah setidaknya makna dari istilah move on yang disampaikan peserta didik saya tersebut. Bagaimana juga jika saya menggunakan istilah yang bagus itu dalam ranah saya sebagai guru? Ini karena pengertian yang saya tangkap dari istilah siswi saya tersebut benar-benar pararel.

Saya menemukan pengalaman yang sepertinya pas. Ini berkenaan dengan peristiwa yang baru saja saya alami. Move on pada tararan pengalaman saya itu saya dapat artikan sebagai berpikir ke depan. Bergerak maju. Tidak menunggu. Atau jika menggunakan bahasa Stephen R Covey dalam Kebiasaan Efektif, maka move on bermakna proaktif.

Teman di Infus

Beberapa pekan lalu, saya masuk melakukan pejalanan bersama teman-teman yang lainnya. Kami harus terhenti untuk sebuah urusan yang memang benar-benar emerjensi. Ini karena satu dari kami harus mendapatkan perawatan yang lumayan serius. Dan sebagai bagian dari peserta, maka saya menunggu instruksi dari panitia akan kelanjutan penanganan dan perjalanan. Tentunya, karena tidak ingin dirugikan oleh situasi, maka sembari menungu perawatan, saya membaringkan badan untuk mengusir penat yang bergelayut sejak kemarin malam. Jadilah saya tidur.

Namun setelah terbangun pada satu setengah jam kemudian, saya mencoba untuk mencari informasi tentang sahabat saya yang mendapatkan perawatan dari teman-teman yang menunggui di dekatnya. Dan karena tidak satupun dari teman yang mampu memberikan gambaran jelas mengenai kondisi sahabat saya yang sedang di rawat tersebut, jadilah saya diajak oleh teman yang lain bertemu dengan penanggungjawab dari penanganan sahabat saya itu.

"Tidak apa-apa. Sejauh ini perkembangannya baik. Bapak dapat membawa teman Bapak untuk melanjutkan perjalanan setelah usai dengan cairan infus itu." Jelas Ibu Dokter di ruang perawatan.

Maka dengan bekal penjelasan dokter tersebut, kami memecah rombongan menjadi dua bagian. Dan itu adalah kesimpulan setelah menunggu sekian waktu. Maka pertanyaan berikut yang lahir dari kami adalah; 

"Mengapa tidak sedari tadi kami mencoba untuk menemukan informasi tentang kondisi teman?"

"Bukankah jika informasi tersebut kami dapatkan lebih awal, maka keputusan terbaik dapat kami ambil dengan lebih cepat?"

Dan seperti pembukaan catatan saya di atas, ini semua karena kami kurang memiliki semangat untuk move on...

Jakarta, 7 Maret 2014.

Hati-Hati dengan Komentar

Dalam sebuah rubrik tetapnya, di hari Sabtu di koran Kompas, Eileen Rachman dan Sylvina Savitri menulis mengenai komentar yang tidak efektif yang dilakukan oleh pelaku yang seharusnya menjadi role model di sebuah lembaga. Karena tidak efektif, maka perilakunya itu akan menjadi mudah tersebar sebagai bentuk sikap yang kontra produktif (Kompas, Sabtu, 1 Maret 2014). Setidaknya itulah yang saya tangkap dari artikel tersebut.  Tulisan itu sendiri mengupas tentang role model.

Saya tertarik sekali dengan apa  yang dikemukakannya. Ini tidak lain karena setiap tulisan beliau selalu dapat memberikan kepada saya pengetahuan dan sekaligus pemahaman terhadap sebuah perilaku atau terminologi dari sebuah transformasi perilaku dan budaya kerja atau lembaga pada tataran praktek. Itulah sebabnya, mengapa saya selalu  menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan yang hanya hadir di koran tersebut setiap hari Sabtu.

Akan halnya pengalaman saya yang bersinggungan dengan tulisan tersebut, yang saya alami pada saat saya menyampaikan struktur baru di sebuah lembaga pendidikan, yang mana saya menjadi bagian. Maka pada saat itulah saya mendengar komentar yang sungguh mengagetkan saya. sebuah komentar yang sungguh tidak perlu dikemukakan. Karena selain negatif justru berimplikasi kepada taraf pemahaman yang kurang baik bagi yang berkomentar.

Ini karena tidak saja pada bagaimana komentar itu. Tetapi juga oleh siapa komentar  itu berasal. Dua hal yang menjadikan saya memberikan ponten amat tidak bagus untuknya. Meski ia adalah bagian dari manajemen yang merupakan bagian dari mereka yang mendapat jatah untuk menjadi lulusan megister.

Mengada-ada

Itulah komentar yang dia sampaikan di sebauh forum sosialisasi yang kebetulan saya yang harus menyampaikannya. Tentu komentar buruk itu menjadi konsumsi langsung bagi mereka yang  duduk di sekitar meja makan dimana kami mengadakan sosialisasi tersebut.

Sebuah struktur yang memang baru di lingkungan kami, yang kami adopsi dari lembaga pendidikan modern. Namun dengan mengadopsi sesuatu yang modern di lokasi atau di lembaga pendidikan semacam yang kami diamanahi tersebut,  antara lain justru mendapat komentar yang sangat tidak pantas, yang disampaikan oleh bagian dari manajemen lembaga.

Apa langkah berikutnya yang harus saya sampaikan? Maka sebuah presentasi kecil menjadi sosialisasi baru. Sebuah oresentasi yang merupakan kumpulan halaman depan dari web lembaga yang saya maksudkan. Dimana strutur baru tersebut nempel di halaman depan web sehingga apa yang kami adopsi sesungguhnya adalah sesuatu yang telah menjadi barang lama di sekolah lain.

Artinya? Komentar teman saya itu justru sebagai pembuktian bahwa tingkat pengetahuan, pemahaman, dan wawasan yang masih terbatas. So, hati-hatilah dengan komentar yang negatif.

Jakarta, 7 Maret 2014.

05 March 2014

Ada Masjid 'Dijual'

Dalam perjalanan kami dari kota Malang ke kota Batu, saya tentunya tidak tahu persis lokasinya, disebelah kiri jalan kami ada masjid yang memasang reklame untuk menjadi donatur bagi pengembangan masjid dengan pilihan kata yang memang sungguh berbeda, dan menarik perhatian para pelitas jalanan itu.

Perlu kecerdasan dan keberanian dari pengurus masjid ini untuk memasang himbauan seperti ini. Hebat!
Sebagai orang yang datang dari luar kota, realitas itu sungguh menarik perhatian kami, para rombongan, termasuk saya. Meskipun ini adalah pejalanan saya kali kedua melewati lokasi itu. Dan dengan demikian, saya telah bersiap untuk mengambil gambar dan kemudian mencoba membaca kata-kata yag tertera dalam spanduk secara lebih jelas dan teliti.

Keren. Inilah penampakan masjid yang 'dijual'.
Dalam perjalanan saya kali pertama di bulan Nopember  2013 lalu, yang tertangkap oleh mata saya saat melintas di lokasi tersebut hanyalah kalimat Masjid Dijual. Dan kendaraan yang tidak berhenti untuk memberikan kesempatan kepada kami sehingga kami menjadi lebih paham akan apa yang dimaksudkan, menjadikan saya penasaran. Apa gerangan maksudnya. Apakah benar-benar masjid itu 'dijual' ?

Maka untuk perjalanan kali kedua kemarin, dengan tidak mengurangi kenyamanan teman lain dalam rombongan, saya jauh sebelum melintas di lokasi tersebut, telah mempersiapkan kamera guna mengabadikan spanduk tersebut. 

Jadi, dengan melihat hasil jepretan saya ketika berada di atas kendaraan rombongan, saya justru menyimpulakan bahwa DKM masjid itu berani dan sekaligur cerdas! Itulah dua kata yang saya dapat belajar dari mereka. Bukankah itu baru kali pertama saya dapatkan  pengetahuan dan pengalaman sepanjang hidup saya?

Jakarta, 5 Maret 2014.

04 March 2014

Mensyukuri Anugerah di Bromo

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menemani teman-teman yang akan ber-rihlah ke Jawa Timur. Ini yang saya maksudkan dengan mendapatkan anugerah. Karena kesempatan ini menjadi pengalaman kali pertama bagi saya jalan keluar kota mengunjungi distinasi wisat yang memang belum pernah saya datangi sebelumnya. Jadilah itu pengalaman pertama yang pastinya menyenangkan.

Meski dalam pengalaman tersebut ada beberapa yang kami alami diluar dari apa yang kami rencanakan semua. Yang pertama adalah adanya anggota rihlah yang harus mendapat asupan dari cairan infus di salah satu RSUD di daerah Tongas, Jatim. Dan juga adanya satu dari kami yang pada hari berikutnya harus kembali ke Jakarta lebih cepat untuk menghadiri pemakaman ayahndanya tercinta yang meninggal di pagi harinya.

Namun dengan dua pengalaman yang diluar rencana kami itulah yang membuat soliditas dan sikap tanggap dari para panitia pelaksana kegiatan menjadi terlihat. Dan dengan dua kejadian tambahan itu pulalah kami menjadi memiliki tambahan ilmu dan pengalaman.

Mengintip Matahari Pagi

Inilah momen awal yang ditunggu-tunggu pengunjung di Pananjakan I. Matahari terbit!
Inilah yang menjadi destinasi paling penting dan sekaligus paling ditunggu oleh seluruh rombongan. Tidak saja pada lanskap pemandangannya yang ingin dilihat oleh semua rombongan, tetapi juga perjalanan awal dari kemunculan matahari pagi.

Rombongan pengunjung asyik berfoto ria dengan latar belakang bukit indah.
Jadilah kami dari bandara langsung menuju desa Sukapura sebagai transit terakhir bagi bus-bus wisata yang membawa kami selama keberadaan kami di Jawa Timur tersebut. Saat itu waktu masih menunjukan sekitar  pukul 02.00 dini hari. Akan tetapi, suasana pagi itu di 'terminal' Sukapura sudah sibuk, antara lain oleh rombongan kami. 

Udara tentu jauh sekali berbeda dengan asal daerah kami berada selama ini. Oleh karenanya di pagi buta itu sudah banyak penawran dari para pedagang pakaian hangat seperti; jaket tebal, kaos kaki dan sarung tangan juga tebal, kupluk untuk penutup kepala yang tebal, juga slayer.

Deretan jeep angkutan pengunjung dengan latar bukit yang penuh dengan kabut.
Toilet adalah tempat pertama yang menjadi pilihan bagi kami begitu bus selesai parkir. Jeep dengan identitas nomor sesuai dengan bagian kami masing-masing, yang oleh panitia telah ditentukan dan tertera dalam buku panduan kami, belum menjadi perhatian.

Dan ketika waktu bergerak ke pukul 03.00, jeep-jeep dengan usia lebih kurang 35 tahunan itu bergerak secara berobongan menuju lokasi Penanjakan I, yang menjadi lokasi bagi kami, seluruh pengunjung, untuk mengintip 'bangunnya' matahari pagi. Tentunya dengan berbagai alat penjepret.

Bromo

Pemandangan dataran Bromo dilihat dari tepi kawah Bromo yang ada di atas.
Melihat kawah dari Gunung Bromo, adalah distinasi berikutnya. Di sinilah kami mengalami sendiri apa yag oleh teman-teman lainnya telah lebih dahulu datang ke tempat wisata ini, yang sudah di up load ke media sosial. Naik kuda dari tempat parkir jeep hingga tangga menuju kawah Bromo PP, berfoto ria di bukit Teletabis dan juga Pasir Berbisik. 

Terima kasih untuk semua kesempatan yang sudah saya nikmati.

Jakarta, 4.03.2014.

26 February 2014

Potongan Rambutnya menjadi Personal Brand-nya

Personal brand. Ya, seperti orang-orang yang berkecimpung di dunia penjualan. Namun bagi saya, ada ranah berbeda yang maknanya mirip dengan apa yang dimaksud dengan para aktivis di dunia penjualan tersebut. 

Beginilah ceritanya;

Pagi ini, saya bertemu dan sempat dialog singkat dengan seorang anak yang sejak awal tahun pelajaran 2013/2014 ini memiliki gaya potongan rambut necis yang selalu sama. Dan pada awal pekan ini, saya melihatnya gaya rambutnya dengan model potongan yang sama, tetapi tampak masih baru dipotong.

"Week end kemarin ya dipotongnya?" sapa saya di depan tangga menuju lantai 3 sekolah kami.
"Iya Pak. Hari Jumat yang lalu Pak." jawab anak itu sambil senyum-senyum.
"Di Hawai lagi?" lanjut saya.
"Tidaklah Pak. Di mal Pak. Di Jakarta." jelasnya. 

Perlu saya jelaskan, bahwa anak didik kami ini masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ia adalah anak yang berbakat dalam hal audio dan video. Ini karena beberapa waktu lalu, saat pelajaran sejarang, ada proyek yang anak-anak harus buat. Yaitu mebuat film untuk peristiwa sejarah. Dan kelompok anak itu membuat adegan tokoh nasional muda sebelum kemerdaan, Soekarno, yang diculik oleh pemuda-pemuda untuk dibawa ke Rengasdengklok, dalam rangka mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan.

Dan kelompok inilah yang mengajukan izin kepada saya waktu itu untuk melakukan pengambilan gambar  di ruangan-ruangan yang memiliki perabotan rotan. Karena menurutnya cocok. Dan saat  pengambilan gambar berlangsung, maka anak inilah yang menjadi sutradara, pemain, dan sekaligus kameramen.

Kembali kepada model potongan rambut anak tersebut, saya menjadi hafal karena memang dialah satu-satunya di sekolah kami yang menggunakan model potongan rambut seperti itu. Dan hebatnya lagi, itu menjadi trade mark-nya. karena setiap bulan ia selalu memangkas rambutnya dengan model yang itu-itu juga. Tidak pernah berganti.

Maka kepada guru yang lain yang berada di samping saya saat itu, saya katakan bahwa;
"Di saat anak-anak lain di kelas 6 belum menyadari akan keberadaan diri mereka, anak itu telah menemukan jati dirinya di rambutnya. Dan model rambutnya itu adalah bentuk personal brand-nya. Hebat bukan?"

Teman guru yang berada di sebelah saya itu hanya mengiyakan. Meski begitu, saya pribadi terus berpikir dan kagum akan apa yang sudah dioilihnya sebagai ciri khas dalam berpenampilan. Maka sekali lagi hebat. Salut!

Jakarta, 26 Februari 2014.

24 February 2014

Menjadi Petani?

Apa yang patut dibanggakan di negeri agraris ini untuk menjadi atau memilih profesi petani? Atau jangan-jangan memang tidak ada profesi yang bernama petani? Setidaknya inilah yang pernah diungkap oleh Mas Slamet, ketua komunitas petani organik Brenjonk, Trawas, Mojokerto, pertengahan November 2013 lalu.

Seperti lelucon bila seorang dari generasi muda, meski ia berasal dari daerah pedesaan untuk mencita-citakan masa depannya sebagai petani dan bukan pegawai. Apalagi jika mereka adalah generasi yang menuntut ilmu di kota-kota atau bahkan di metropolitan, Dan dengan itu kemudian ia mendapatkan gelar kesarjanaan di bidang yang wah dari perguruan tinggi negeri wah pula? Pasti tidak menjadi hal yang patut dibanggakan. Karena itu adalah mimpi yang tidak patut diangankan.

Bahkan seorang petani pun tidak mengangan-angankan anak keturunannya menjadi seorang petani guna mengolah lahan yang dimilikinya atau meneruskan perjuangannya. Pun juga kelakar anggota dewan yang tenar lewat istilahnya yang cerdas; "ngeri-ngeri sedap.", beberapa waktu itu saat dirinya santer disebut-sebut menjadi bagian dari masalah yang sedang di tangani KPK. Dimana si anggota dewan berkalakar kalau hidup aman-aman saja, tanpa menanggung resiko, maka jadilah petani!

Namun dalam catatan saya ini, saya justru akan uraikan keinginan saya untuk menjadi seorang petani. Ya, menjadi seorang petani. Tentunya kondisi yang sekarang ini saya miliki. Dimana lahan dan waktu yang saya miliki terbatas. Juga dengan lokasi yang kurang mendukung. Namun mimpi itulah yang begitu kuat mengakar pada diri saya menjelang hari-hari belakangan ini.

Tidak Keren

Padi dalam pot percobaan. Saya butuh 40 pot jika hasil padinya untuk konsumsi sendiri.
Itulah paradogsal yang benar-benar menjadi sebuah realita yang ironi di sebuah wilayah negara agraris tersebut. Menjadi petani sebagai cita-cita adalah sebuah keganjilan. Keanehan atau bahkan membingungkan. Apalagi jika itu  lahir sebagai tekad dari anak muda.

Dan karena itu pulalah yang justru menguatkan niat saya untuk benar-benar menjadi petani. Sebuah mimpi yang masih dalam tataran konsep. Namun harus tetap saya perjuangkan. Setidaknya sebagai bagian usaha untuk memberikan keyakinan kepada siapapun yang berada di lingkungan terdekat saya.

Ini penting, karena ketika saya deklarasikan mimpi tersebut, maka lingkungan terdekat saya langsung berpikir tentang pendapatan bulanan. Dan ini memang menjadi masalah. Oleh karena itulah untuk tahap awal saya akan memilih jalur menjadi petani secara part timer.

Petani di wilayah Malang yang adalah seorang pensiunan. Menyewa lahan di perumahan untuk bertanam sayuran. 
Ini, sekali lagi, bukan olok-olok saya. Tahap pertama sebagai goal-nya adalah kemandirian sayuran untuk keluarga. Dan ini akan menjadi pijakan pertama dalam rangka swasembada pangan bagi keluarga kami. Beras, kangkung, bayam, cabe, bawang,  terong, kacang-kacangan, atau sayuran yang dapat tumbuh di atap rumah.

Lalu bagaimana langkah berikut yang saya lakukan? Saya masih menunggu benih-benih percobaan saya itu tumbuh dan memberikan harapan. 

Jakarta, 24 Februari 2014.

23 February 2014

Buffet Memilih Sederhana?

Apakah dengan tampilan sederhana menjadikan kita tidak berwibawa? Lebih kurang itulah yang saya dapatkan dari kalimat-kalimat motivasi  seorang pimpinan KPK kita, Pak Busro Muqoddas di salah satu rubrik Kompas, 1 Februari 2014, tentang menjalani hidup.

Wibawa? Atau mungkin saya dapat sederhanakan dengan kata lain yang serupa, harga diri. Bagaimana kita sebagai sosok yang dihargai sebagaimana mestinya. Dihargai dengan tidak melihat apa yang sedang saya kenakan, atau bahkan apa yang saya miliki.

Lalu apakah ini tidak bertentangan dengan apa yang saya dapatkan selama ini bahwa ajining rogo ono ing busono? Sebuah istilah yang mengakar kuat pada diri saya. Dinyatakan bahwa harga diri seseorang juga adalah implikasi dari apa yang dikenakannya.

Sederhana

Mungkin sosok ini yang dapat menjadi pembanding disaat sekarang ini.
Inspirasi untuk memilih sederhana ini justru tidak saja datang dari mereka yang memang menjalani hidup dengan begitu-begitu saja meski ditopang dengan kondisi ekonomi yang begitu bagus. Tetapi juga oleh yang saya dapatkan dari berita yang saya follow di twitter. Dan itu menjadi motivasi. Bukan untuk memilih sederhana karena bagi saya pribadi memang harus sederhana mengingat topangan ekonomi yang nyata.

Sekali lagi, memilih sederhana menjadi begitu mudah untuk orang seperti saya. Tapi bagaimana dengan Anda yang terlanjur memiliki apa yang memungkinkan untuk berada pada tataran jauh dari pada lebih? Atau misalnya, Warren Buffett? 

Mungkin itu yang saya dapat petik dari apa yang Pak Busro Muqaddas maksudkan. Allahu a'alam bishawab.

Jakarta, 23 Februari 2014.

Dua Tamu Istimewa Saya

Sebuah Jumat, hanya beberapa menit sebelum shalat Jumat dimulai, ada dua tamu kecil di ruangan kerja saya. Mereka adalah anak-anak didik kami yang memiliki perhatian pada hal tertentu yang baik. Keduanya adalah anak-anak yang akrab mendatangi ruangan saya dan mengajak saya untuk berdiskusi atau sekedar bertukar informasi yang menjadi ketertarikannya.

Anak didik yang kecil, yang duduk di bangku kelas 5 SD, memiliki minat yang begitu besar dan sekaligus mendalam pada keterampilan digital. Termasuk di dalamnya adalah komputer. Maka tidak heran bila dia akan menyarankan kepada saya tentang aplikasi tertentu yang layak untuk saya jadikan pilihan. Namun karena komputer yang saya punya adalah komputer dulu dengan fungsi untuk tulis menulis masalah kantor, jadi saya tidak tertarik akan apa yang menjadi sarannya.

Selain komputer, adalah juga seluler. Perhatian dan kemampuannya dalam dua hal itu yang membuat kami semua takjub. Mungkin karena rasa ingin tahunya yang begitu tinggi, maka anak seusia kelas 5 itu menjadi mahir dalam utak-atik.

Sedang anak didik yang satunya lagi, adalah anak didik kami yang duduk di bangku kelas 9 SMP. Yang adalah pengamat transfortasi. Khususnya jaringan transfortasi darat yang menjadi andalan DKI Jakarta. Termasuk di dalamnya adalah informasi terbaru yang dimilikinya, tentang armada bus gandeng impor dari negeri China, dimana dari bus-bus baru yang yang telah beroperasi di jalanan itu, diantaranya sudah karatan.

Tamu Istimewa

Itulah dua tamu istimewa saya menjelang saat shalat Jumat dimulai. 

"Loh, Pak Agus masih ada tamu?" Kata seorang guru di ruangan saya diikuti oleh tiga guru kelas 1 lainnya. Memang, kami berjanji untuk bertemu sebentar guna membahas waktu pertemuan kami. Dan ketika mereka masuk ruangan saya, mereka sedikit kaget kalau saya masih punya dua tamu yang duduk mengitari meja kerja saya.

"Benar. Kami sedang diskusi masalah komputer dan sekaligus bus gandeng."

Maka dengan bahasa yang baik, saya sampaikan kepada dua tamu istimewa saya itu untuk segera menuju mushola tempat dimana kita akan melaksanakan shalat Jumat. Sehingga memungkinkan kami berdiskusi tentang pengaturan jadwal pertemuan.

Jakarta, 23 Februari 2014.

Belajar Naik Kelas

Bertemu teman-teman sejawat dalam sebuah forum pertemuan rutin pembelajaran di sekolah, adalah komitmen kami di sebuah lembaga pendidikan, tentunya bersama dengan mereka semua, komunitas sekolah itu, secara rutin dan reguler. Mungkin inilah yang kami sebut sebagai konsep dari apa yang orang sebut membangun sinergi.

Kumpul Mingguan

Memang ada komentar dari teman-teman yang ada di luar tentang apa yang kami lakukan secara rutin mingguan ini. "Kalau sering berkumpul sebenarnya bisa menjadi kontra produktif." Demikian disampaikan kepada saya suatu kali. Dan saya berpikirnya justru kebalikannya. Ini tidak lain adalah pengalaman yang selama ini menjadikan kami memilih untuk terus membangun komunikasi.

Saya sendiri sempat pula berpikir bahwa, inilah bagian penting dari konsep tanggung jawab. Dan ini menjadi penting untuk saya benar-benar jadikan tekad. Karena apapun warna yang akan terjadi belakangan, semua tidak akan dilepaskan begitu saja dengan si penanggungjawabnya. Oleh karena itu, dengan berbagai masukan, saya tetap mengajak teman-teman untuk fokus kepada hasil yang positif dari semua ikhtiar yang kita canangkan.

Maka konsep berkomunikasi secara menyeluruh disemua unsur dan komunitas tersebut menjadi tekad kami bersama. Yang tujuannya tidak lain selain membangun komunikasi seerat mungkin. Karena dengan komunikasi yang mengalirlah, yang lancarlah, maka kami akan dieratkan satu sama lain dengan tujuan yang sama.

Belajar Naik Kelas

Inilah tekad lain yang ingin kami ajak kepada semua teman-teman dalam komunitas pembelajar tersebut. Bahwa dengan bertemu secara reguler, berbagi pengalaman dan pandangan,  adalah bentuk-bentuk menakar diri kami masing-masing kepada 'dunia luar'. Karena dengan tetap melihat dalam diri kita, dunia luar yang berlari kencang, dan melakukan sinkronisasi pada dua sisi tersebut, akan menjadikan kami semua menjadi pribadi yang selalu bisa masuk dalam kategori kompetitif. Iilah yang kami sebut sebagai belajar untuk dapat naik kelas selalu. Semoga!

Jakarta, 23 Februari 2014.

12 February 2014

Memelihara Akal

Menonton tayangan tv tentang seorang pasien RS yang dibuang di daerah Lampung pada Selasa, 11 Februari 2014 mlam kemarin, saya dihadapkan lagi kepada fenomena untuk memelihara akal saya dalam menjalani kerja penalaran. Ini menjadi penting saya jadikan catatan, mengingat kenyataan bahwa kejadian ini memang benar-benar mengganggu kestabilan bernalar bagi akal semua manusia.

Seperti dalam tayangan itu, bagaimana kasus yang hanya ada di Indonesia itu dilakukan oleh sebuah RS yang konon pernah mendapatkan prestasi di tahun sebelumnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh pemandu acaranya, Pak Karni Ilyas; "Kalau rumah sakit yang terbaik saja membuang pasien , bagaimana dengan rumah sakit terburuk?"

Penuh Resiko

Apa yang dilakukan oleh RS tersebut adalah sebuah tindakan yang amat sangat serampangan. Mereka barangkali berfikir ketidakterlacakan apa yang dilakukan.Tetapi benarkah asumsi itu? Nalar saya berkata tidak. Karena semua apa yang sudah terjadi, selalu meninggalkan jejak.

Apakah tindakan itu dilakukan untuk mengurangi kerepotan, yang mungkin saja menjadi pembengkakan biaya? Akal yang normal tentu akan memilih cara-cara normal untuk mengurangi pengeluaran anggaran yang lebih banyak. Efisiensi tidak mungkin dapat dilakukan dengan cara-cara yang tidak normatif.

Maka dengan alasan yang saya sampaikan di atas, saatnya sekarang ini menjadikannya sebagai bahan bagi saya untuk menghindarkan diri kepada hal-hal yang dapat merusak akal saya sebagai media fikir yang normatif. Itulah yang saya anggap sebagai momentum bagi pemeliharaan akal.

Jakarta, 12.02.2014

Libur Sekolah karena Hujan

Lagi, bahwa kami harus memulangkan anak-anak sebelum waktu belajar usai. Bukan karena hujan yang menjadi begitu lebat sesungguhnya yang membuat kami membuat keputusan itu. Tetapi lebih karena hujan tersebut benar-benar membuat semua dari kami takut. Takut akan suitnya menembus jalanan saat berkendaraan. Maka pilihan yang diambil adalah meminta anak-anak untuk pulang dan dijemput sebelum jam belajar usai. 

Tetapi muluskah keputusan kami tentang apa yang telah ambil itu? Beberapa bagian dari pihak orangtua siswa sepakat bulat dengan apa yang kami telah putuskan itu. Sebagian lainnya bertanya; "Mengapa harus pulang?"

Atas dasar untuk mengakomodasi apa yang disampaikan oleh kelompok kedua di atas itu, maka kami harus benar-benar mempersiapkan informasi berkenaan dengan cuaca, khususnya yang berdekatan dengan lokasi sekolah kami berada. Termasuk diantara membangun komunikasi dengan teman-teman seperjuangan di sekolah lain.

Bersama dengan teman-teman yang ada di sekolah lain, yang posisinya berbeda dalam radius 5 kilometer dari kami, kami mencoba untuk membangun cara pandang dan suara yang sama. Dan nampaknya, kami memiliki kesamaan pengalaman dalam hal meliburkan sekolah karena hujan. Kesamaan itu sesungguhnya tidak efektif jika dilihat dari sisi operasional. 

Kondisi hujan yang lebat di sekolah pagi hari.
Ketidakefektivan itu antara lain karena riilnya sekolah libur tetapi tidak juga. Misalnya ada kelas yang seharusnya dengan 25 siswa, pada hari itu hanya masuk 10 hingga 15 siswa. Bahkan adayang 7 siswa. Demikian juga guru yang mayoritas mengendarai kendaraan roda 2 dan umum, yang pastinya juga terkendala dengan jalanan yang tergenang atau hujan lebat di pagi hari.
Kondisi jalan akses ke sekolah pada hari yang sama pukul 09.40.

Namun semua itu untuk menghindari pertanyaan orangtua "Mengapa sekolah libur?" Kami, bersama teman-teman bersepakat untuk tetap masuk. Dengan kondisi apapun sekolah tetap masuk. Datang ke sekolah atau tidak, kami kembalikan kepda para orangtua masing-masing.

Jakarta, 6-12 Februari 2014.

Membeli Solar Singapura

Beberapa waktu yang lalu, kami harus membeli bahan kabar solar untuk kebutuhan genset kami yang telah dipakai sejak 2003 yang lalu. Kebutuhan yang kami perlukan adalah 5000 liter. Maka seperti biasanya, permohonan segera kami sampaikan kepada pihak Yayasan.

Setelah menemukan provider yang dapat memenuhi kebutahan kami itu, maka datanglah suatu sore truk minyak bakar tersebut di halaman sekolah kami. Ada rasa kagum lahir pada diri saya. Ini karena tidak biasanya sebuah institusi pendidikan membutuhkan solar sebanyak satu truk tangki tersebut. Tetapi dengan kebutuhan yang ada, memang suatu yang biasa. Sangat biasa.

Benar saja. Ketika tangki itu datang di halaman, banyak orang yang menyampaikan perganyaan bernada keheranan. Gerangan untuk apa tangki solar itu datang. Kami jelaskan. Namun justru ada pertanyaan berikut. "Apakah ada tempat yang mampu menampung solar sebanyak itu?"
Penampakan truk solar dan dua ember kelebihannya.

Pertanyaan itu lahir hanya karena selama ini teman kami itu tidak memperhatikan lingkungan kerjanya secara sungguh-sungguh. Sehingga hingga bertahun -tahun bekerja, tidak mengetahui detil lokasi kerjanya sendiri.

Lalu bagaimana dengan asal usul minyak solar yang kami beli itu?

Pada saat Pak Supir dan kernetnya mempersiapkan  selang panjangnya untuk melakukan pengisian solar tersebut, saatnya saya melakukan dialog. Hal ini memang menjadi kegemaran saya untuk mengatahui apa yang terjadi dengan pemindahan solar 5000 liter itu dari tangki di truk ke tangki yang kami punya. Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. Sangat singkat.

"Pangkalannya  dimana Pak? Di Prumpung?"

"Bukan Pak. Kami biasa mensuplai solar untuk kebutuhan kapal laut."

"O... Jadi solar ini sudah jalan kemana-mana ya. Awal dari Prumpung lanjut ke lokasi Bapak lalu balik lagi ke Jakarta?"

"Bukan juga Pak. Solar kami impor dari Singapura."

"Singapura?" Terus terang saya kaget atas jawaban tersebut. Jawaban yang sungguh tidak kami harap.

Kaget akan fakta bahwa Indonesia adalah importir solar dari Singapira. Kaget bahwa akal saya sudah tidak normal lagi untuk dapat menerima kanyataan itu. Saya mengeluyur pergi meninggalkan truk tangki solar yang baru kami beli yang berasal dari Singapura!

Jakarta, 11 Februari 2014.

10 February 2014

Terkecoh Berita

Beberapa hari lalu datang kepada saya untuk meminta dicarikan berita tentang air laut yang surut hinggak 1 kilometer di suatu daerah di Provinsi Banten. 

"Apa yang menarik dari berita itu?" Begitu pertama kali saya menanggapi apa yang yang disampaikan oleh seorang teman tersebut.

" Ingin tahu saja Pak. Mengapa ada ada kejadian seperti itu. Apa ada hubungannya dengan kondisi Provinsi Banten sekarang ini." Kata teman itu. Mesi demikian, saya tetap tidak mau bergeming dengan apa yang disampaikannya untuk buru-buru membuka link berita di internet. Ini karena saya berkeyakinan bahwa jika berita itu benar, pastilah sudah menjadi head line koran. Toh tidak?

Beberapa hari kemudian memang saya membaca berita tersebut. Namun bukan fenomena alam sebagaimana yang saya persepsikan ketika kali pertama mendengar dari cerita teman tersebut. Tetapi justru koreksi atas apa yang disampaikan oleh pewarta dan dimuat lewat medianya.

Koreksi bahwa pewarta tidak membuat kesimpulan yang benar-benar berdasarkan fakta apa yang terjadi di lapangan. Mungkin karena mencari sensasi. Seperti apa yang disampaikan dalam media on line ini, saya kutip dari http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/02/08/n0nrbu-pengunjung-hotel-di-anyer-menurun-drastis-karena-isu-tsunami. Dijelaskan bahwa: "Kasapolair Polres Serang AKP Gusti Nyoman Sudarsana, meminta media agar mencari berita seakurat mungkin. "Crosscheck kebenarannya," katanya.

Saya berpikir bahwa, ternyata tidak saja kepada SMS gelap saja kita harus waspada, dari berita tersebut, saya belajar juga untuk tidak mengambil apa yang disampaikannya sebagai yang memang benar terjadi. Luar biasa. Sikap ini jika tidak ingin terkecoh oleh berita.

Jakarta, 10 Februari 2014.

Bangkai itu Apa?

Pagi ini, tidak seperti biasanya, saya meyalakajn lampu-lampu kelas yang baru saja dibuka oleh tsf kami yang memiliki tugas membuka dan mengunci ruang-ruang yang ada d sekolah. Ketika beberapa kelas itu saya nyalakan lampu dengan kondisi normal, maka tidak ketika saya berada di salah satu kelas yang berada di lantai dasar sekolah kami. Ini tidak lain karena di ruangan itu langsung menyergap di hidung saya bau busuk yang tidak mengenakkan.

Saat itu juga saya minta staf sekolah untuk mencari sumber bau tidak sedap tersebut. Di sela-sela lemari dn perabotan kelas yang ada. Siapa tahu di selipan-selipan tersebut terjepit atau tergencet cicak atau sejenisnya yang ketika mati mengeluarkan bau tidak sedap.

Alhasil, hingga beberapa anak yang berada di ruangan tersebut berdatangan, sumber bau itu tetap saja belum ditemukan. Namun karena anak-anak itu tidak mengetahui jenis bau dan asalnya, maka mereka santai saja. Justru kesibukan kami yang menggeser-geser rak buku dan meja guru yang berada di pinggir ruanganlah yang menjadi perhatian mereka.

Mereka bertanya mengapa kami menggeser-geser letak properti di kelasnya. Kami jelaskan bahwa kami sedang mancari sumber bau yang tidak sedap ini. Mungkin sumber bau itu dari bangkai yang terjepit lemari?

Anak-anak itu terdiam mendengar penjelasan salah seorang dari kami. Hingga kami memastikan bahwa usaha kami gagal dalam mencari sumber bau itu, anak-anak tetap belum ada reaksi. 

Namun ketika saya meninggalkan seorang staf di ruangan tersebut  menju koridor sekolah, saya mendengar seorang anak bertanya kepada seorang staf kami; "Mbak Winwin, bangkai itu apa sih?"

Saya tidak mendengar lagi apa yag menjadi penjelasan orang yang dipanggilnya Mbak Winwin itu karena posisi saya menjauh dari lokasi. Namun saya belajar tentang bagaimana anak-anak itu belajar menambah kosa kata...

Jakarta, 10 Februari 2014.