Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label TRANSFORMASI ORGANISASI. Show all posts
Showing posts with label TRANSFORMASI ORGANISASI. Show all posts

29 October 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #36; Apa Apresiasi Sekolah Kepada Saya?

"Kalau kekeliruan yang telah saya perbuat ini menjadi bagian penting di mata sekolah, maka apakah sesungguhnya apresiasi sekolah kepada saya selama ini? Bahwa sekolah namanya terangkat karena beberapa prestasi yang saya kontribusikan dengan kegiatan bagus untuk dan atas nama sekolah?" Demikian kata-kata yang keluar dari anak muda, guru saya suatu ketika ketika saya harus menyampaikan konsekuensi yang didapatnya. Agak kecewa saya dengan pernyataan yang begitu ketus. Sebuah pendapat yang sungguh saya sendiri tidak menyangka.

Bagaimana bisa bahwa kekeliruan yang dia telah lakukan harus saya toleransi hanya karena dia selama ini memang berkontribusi positif terhadap sekolah? Ini sebuah kenyataan yang amat sering dilakukan oleh para teman guru di mana saja. Bahkan termasuk diantaranya saya sendiri ketika belum pernah berada pada posisi sebagai pimpinan sekolah.

Dan inilah yang harus menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah untuk tetap mampu memberikan koordinat positif bagi teman-teman guru yang memang membutuhkan informasi atau cara pandang yang lain, dimensi berpikir yang berbeda. Meski logikanya tidak harus selalu dari sisi disiplin!

Banyak jendela disiplin ilmu yang dapat memberikan logika bahwa kalau berjasa maka saya boleh apa saja di sekolah, termasuk diantaranya terlambat masuk kelas atau bahkan tidak masuk sekolah sekalian. Tentu dengan argumentasi bahwa saya sedang berada di luar sekolah untuk dan atas nama sekolah.

Jakarta, 29 Oktober 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #35; Menentukan Guru Kelas

Hal penting menjelang akhir tahun pelajaran, paling terlambat, atau menginjak di awal atau palin terlambat pada  akhir semester II, adalah sekenario penentuan guru kelas. Utamanya yang menjadi bagian amat penting di lembaga sekolah formal yang saya ikut serta berada di dalamnya adalah untuk tigkat KB/TK dan SD. Penting karena guru kelas adalah guru yang memang berdomisili nyaris sepanjang hari di kelas tersebut. Hal ini karena untuk unit sekolah KB/TK dan SD guru mengampu mata pelajaran inti yang ada unit tersebut. Berbeda untuk tingkat sekolah lanjutan, dimana guru wali kelas bertanggungjawab edukasi dan administrasi di kelas tersebut dengan tetap mengampu mata pelajarannya sendiri.

Lalu apa yang membuatnya penting posisi guru kelas? Karena beliau-beliau adalah representasi unit dan sekaligus lembaga pendidikannya. Khusus di sekolah sawasta, keberadaan beliau dengan kualifikasi yang memuaskan atau bahkan yang out standing, adalah harapan bagi semua pihak yang menjadi stake holder di kelasnya tersebut. Baik yang menjadi peserta didiknya di dalam kelas, bagi kepala sekolahnya, bagi rekan pararelnya, dan utamanya bagi masyarakat yang menjadi orangtua dari peserta didiknya.

Lalu bagaimana jika kualifikasi yang dianggap penting bagi Bapak dan Ibu Guru di posisi guru kelas tersebut justru memiliki kualifikasi yang kurang? Maka inilah masalah yang akan saya saya catat dalam 'cerita perjalanan' saya ini. Karena teman-teman yang seperti ini yang benar-benar membutuhan bantuan,  sokongan, atau bahkan pemahaman bagi lingkungannya. Bantuan dan sokongan terutama dari teman pararel dan pimpinan di unit sekolahnya, juga pengertian bagi teman-temannya.

Lalu bagaimana kita sebagai bagian dari unit sekolah, seperti pimpinan sekolah, mengetahui berada di mana teman-teman kita yang berada pada posisi guru kelas tersebut berkualifikasi? Tidak lain dan tidak bukan, terutama yang saya alami di sekolah swasta, adalah masukan dari lingkungannya. Ya dari teman koleganya, dari siswanya, dan utamanya dari orangtua peserta didiknya.

Akan tetapi, semua bentuk bantuan, sokongan, dan pengertian itu menjadi tidak relevan lagi manakala teman tersebut justru memberikan resistensi terhadap apa yang disampaikan oleh lingungannya. Meski, sekalilagi, bahwa informasi atas kekuranganya telah bertebaran di grup WA dari orangtua peserta didiknya.

Namun dengan mengambil pekajaran dan masukan yang ada, saya selalu menyarankan kepada para impinan sekolah agar menentukan guru-gurunya untuk menempati posisi guru kelas dengan pertimbangan yang utama adalah kemampuan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didiknya. Dan ini dapat dilihat dari rekam jejak sebelumnya. Dengan memegang teguh prinsip utama ialah, tidak ingin direpotkan dengan komplain pada perjalanan pembelajaran di kemudian hari. Meski guru yang bersangkutan adalah guru yang telah memiliki jam terbang tinggi atau meski guru itu adalah guru yang telah tersertifikasi sebagai Guru Profesional dari pemerintah. Sekalipun!

Jakarta, 29 Oktober 2016.

13 October 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #34; Memilih Guru

Katika kalender pendidikan sudah menginjak pada Desember, sebagai bagian dari lembaga pendidikan swasta yag harus menghidup diri sepenuhnya dari masyarakat, maka kesibukan kami tidak saja pada persiapan penerimaan siswa baru, tetapi juga pada penilaian kinerja guru. Sebuah kegiatan rutin yang penuh tantangan. Dimana ending dari kegiatan penilaian kinerja adalah penentuan atau pengambilan keputusan untuk guru dalam kenaikan gaji, peningkatan status kepegawaiannya, dan juga sebagai feedback bagi manajemen sekolah untuk menentukan arah sekolah berikutnya.

Maka pada catatan saya kali ini akan fokus kepada peningkatan status kepegawaian guru, seperti status guru yang dalam posisi kontrak menjadi tetap. Dan ini sama pengertiannya dengan memilih guru-guru terbaik bagi sekolah. Dan yang terbaik adalah mereka yang memenuhi standar yang telah dijadikan bagi standar di sekolah kami. Tujuannya tidak lain adalah memastikan bahwa mereka nantinya menjadi pengganti handal atau yang akan membawa lembaga sekolah kami yang, sekali lagi, sekolah swasta, tetap menjadi pilihan bagi warga masyarakat karena memberikan sesuatu yang dibutuhkannya. Semoga.

Jika demikian, maka tidak sulit bagi Kepala Sekolah memberikan rekomendasi guru yang mana yang sekarang masih dalam posisi kontrak untuk diangkat sebagai guru dalam posisi tetap oleh Yayasan. Namun dalam kajian realistis, sesuatu yang tidak sulit tersebut sering menjadi batu sandungan bagi pengambilan keputusannya.

Kendala yang sering muncul bagi sekolah dalam memilih guru-guru pilihannya antara lain adalah; Pertama, adanya ikatan darah antara guru yang akan dipilih dengan salah satu anggota manajemen yang ada di sekolah tersebut. Kendala ini berada di bagian non teknis, yang kadang membutuhkan strategi bagaimana mengkomunikasikan. Pada posisi saya sebagai penerima rekomendasi, biasanya saya akan mengajak Kepala Sekolah untuk menggali lebih dalam lagi berkenaan dengan rekomendasi yang dibuatnya. Seperti bertanya apakah Bapak/Ibu yakin bahwa rekomendasi yang tertuang dalam suratnya 100% valid?

Dengan data yang benar-benar meyakinkan akan membuat kami semakin mudah berkomunikasi dengan guru yang akan kami pilih. Tetapi jika memang sejak mengumpulkan data dari penilaian kinerja ada bagian yang ragu-ragu, maka saya akan mengusulkan agar kesimpulan diambil dari data yang tidak meragukan lagi. Artinya di[perlukan proses untuk membuat bahwa hasil B adalah memang benar-benar B.

Kedua, hasil kinerja yang mendekati B, jika B adalah standar minimal bagi memilih guru, tetapi pihak Kepala Sekolah mengeluhkan akan kesulitannya mencari kandidat baru. Namun pada masalah ini jauh lebih mudah menentukan kesimpulannya. Tidak terlalu sulit. Namun tetap sering menjadi bagian kendala pada tataran operasional.

Lalu apa kemudian yang akan menjadi langkah kami berikutnya setelah hasil kinerja tersaji dan kendala telah dapat disingkirkan? Adalah menyampaikan keputusan ke[ada yang bersangkutan. Apakah dengan hasil yang disajikan tersebut memberikan peluang bagi Yayasan untuk mengangkat guru menjadi guru dengan status tetap atau tidak.

Meski dengan proses pengambilan keputusan seperti ini tetap saja tercium rumor di tataran operasional bahwa pengangkatan atau perpanjangan kontrak kepada para guru tersebut tidak berdasarkan dalil yang argumentatif. Namun sebagai penjaga gawang, saya biasanya tidak terlampau memusingkan akan hal yang menjadi rumor di lapangan, setelah sebelumnya saya berkomunikasi dengan para penanggung jawab unit yang ada atau bahkan kepada floor.

Jakarta, 13.10.2016

12 October 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #33; Antara Memberi atau tidak Sebuah Jabatan

"Apa saran atau paling tidak pendapat Bapak dengan kasus dan permasalahan guru yang seperti itu?" Tanya teman saya kepada setelah ia menguraikan secara panjang dan lebar akan stafnya yang harus kembali menjadi guru setelah masa jabatannya sebagai Kepala Sekolah berakhir. Dan ini masa yang bukan pendek lagi, tetapi sudah selama sembilan tahun memegang amanah sebagai Kepala Sekolah. Selama tiga periode jabatan di lembaganya. 

Perlu pula saya sampaikan disini bahwa teman saya menyampaikan betapa sedikit dibuat tidak enak manakala ia melihat performa mantan Kepala Sekolahnya yang telah mencapai tiga periode jabatannya namun justru tidak membaik. Padahal sangat menjadi harapan baginya dan lembaga agar temannya itu mampu mengampu amanah lebih besar lagi. Tidak saja sebagai Kepala Sekolah di unit sekolah yang ada di lembaganya, tetapi menjadi Kepala dari sekolah-sekolah yang ada di dalam lembaganya.

Namun dengan performa yang kurang menggembirakan tersebut, maka keputusan seperti berbelok arah. Tidak jatuh kepada temannya teman saya itu, namun kepada sahabatnya yang lain, yang dalam forum diskusi sebelumnya memberikan cara pandang, memposisikan diri, dan kompetensi sebagai manajer yang berada di dalam lingkungan pendidikan swasta lebih mumpuni. Plus, tentunya, attitude yang baik.

"Buat saya, sependapat dengan apa yang telah kamu kemukakan. Yaitu untuk tidak memberikan amanah kepada mereka yang memang tidak sesuai kompetensinya dengan apa yang menjadi kualifikasi. Karena kalau memaksakan, maka perlahan kemunduran yang terjadi, dan yang menjadi lebih berat lagi adalah perjalanan sekolahmu hanya akan membuang waktu dengan sia-sia." Jelas saya sebagai masukan atas apa yang teman saya inginkan. 

"Bagaimana dengan resiko bahwa ia akan mengundurkan diri saja jika lembaga memang tidak mengangkatnya pada posisi yang setara?" Jelasnya lagi.

"Mungkin lebih baik pilihan itu yang kamu dan lembagamu ambil. Bukan berarti untuk tidak menghargai beliau yang telah sekian lama menjadi manajer di sekolah Anda, tetapi juga sebagai kausalitas bahwa sekolahmu membutuhkan kualifikasi manajer sebagaimana yang telah dikemukakan di depan." kata saya.

Jakarta, 12.10.2016.

06 September 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #32; Menolak Ikut Forum Diskusi

Beberapa waktu lalu saya harus kecewa terhadap apa ketidaksiapan teman-teman dalam mengikuti sebuah ajakan kemajuan yang ditawarkan oleh lembaga lain kepada saya secara gratis. Penawaran berupa forum diskusi calon pemimpin sekolah, yang mana saya benar-benar menginginkan forum semacam itu, yang pastinya akan memberikan manfaat besar bagi para guru-guru bagus di lembaga dimana saya berada untuk ikut serta dalam forum tersebut. Namun harapan saya harus terkubur satu hari sebelum hari pelaksanaan kegiatan tersebut berlangsung.

Hal ini karena pada beberapa hari sebelumnya saya telah menyampaikan berita berupa penawaran kegiatan yang dimaksud kepada para calon pemimpin sekolah di lembaga saya, untuk dapat hadir. Dan karena forum tersebut akan dihadiri oleh orang-orang prosfektif dan kompetitif bagi sekolah swasta seperti kami, maka saya berharap sekali ada beberapa teman yang dapat ikut serta.

Tampaknya, harapan saya untuk dapat mengikutsertakan teman-teman yang saya anggap memungkinkan untuk dapat menerima estafet kepemimpinan di sekolah pada tahun-tahun berikutnya tinggal harapan. Sebagaimana yang saya sampaikan di atas, maka satu demi satu dari teman-teman yang direkomendasikan datang dengan membawa argumentasi bahwa ia tidak dapat hadir dalam forum yang saya tawarkan. 

Saya mengangguk atas apa yang disampaikan mereka satu persatu. Dan saya menangkap dengan jelas apa yang sesungguhnya ada di balik argumentasi tersebut. Saya mencoba memahami alasan mereka. Sekaligus berfikir siapa lagi teman-teman guru yang layak menggantikan kami di bagian pimpinan sekolah. Tentunya sekolah yang memiliki daya saing yang kompetitif.

Saya jadi teringat apa yang dijalani teman saya di awal karir dia, di waktu usianya masih di bawah 35 tahun, sehingga sekarang ia mampu mengelola pembangunan gedung 7 lantai! Teman saya yang di usia itu telah mampu membuat orang lain iri karena dengki atas tambahan pekerjaan yang dilakukannya atas nama tugas. Teman yang orang lain jarang mampu melihatnya kalau ia tidak pernah menolak tugas yang padahal dia sendiripun tidak tahu bagaimana menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.

Namun dengan jalan seperti itulah ia sekarang diberikan kapasitas untuk membangun gedung 7 lantai! Lalu bagaimana dengan teman-teman saya yang menolak untuk menghadiri forum diskusi para calon pemimpin sekolah?

Saya berpikir untuk mencari kandidat lain yang dapat saya kader sebagai calon pemimpin sekolah kami di masa depan.

Jakarta, 6.09.2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #31; Harus Berkoordinat

Ini adalah hasil diskusi saya dengan beberapa teman yang menjabat sebagai pemimpin di unit sekolahnya masing-masing. Ada yang sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah dan wakil lebih dari lima tahun, ada yang baru menjabat sebagai Kepala Sekolah, ada pula yang baru menjabat jabatannya beberapa bulan. Karena baru diangkat pada awal Juli 2016 lalu. Maka pada saat pertemuan dengan mereka beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan dialog dengan mereka secara terbuka dan menyenangkan. Paling tidak buat saya sendiri yang telah lama tidak berkecimpung dengan kepemimpinan di sekolah secara struktural. 

"Pak Agus, ada diantara kami yang hari ini masih sering tersengal-sengal napasnya ketika dapat tamu." kata salah satu teman di tengah-tengah waktu diskusi sedang berlangsung. Lalu kami semua berpaling kepadanya untuk mendapatkan rangkaian cerita yang sedikit utuh.

"Terutama ketika tamunya adalah teman sendiri yang menjadi seniornya di sekolah, yang menjadi bagian dari tanggungjawabnya." Lanjut teman itu dengan nada yang serius. Lalu kami sembari tersenyum-senyum ketika ungkapannya selesai dan saling pandang. Mimik tersebut seolah memberikan isyarat kepada saya bahwa beberapa teman masih menyimpan rasa sungkan ketika menunaikan tugasnya di lapangan. Dan rasa sungkan ini yang membuat teman itu harus mengatur nafas ketika menghadapi seniornya.

"Saya faham. Karena memang begitu lumrahnya. Namun jangan terlalu lama di atur oleh perasaan yang bernama sungkan. Jadi cara yang paling pas dalam menghadapinya adalah melawan perasaan itu sendiri. Tidak ada cara lain yang paling mujarab untuk menghilangkannya."  Kata saya memberikan pendapat dalam diskusi itu. Semua mencoba mencerna apa yang saya maksudkan. Saya juga menyadari bahwa pengalaman saya sendiri sangat mungkin tidak cocok menjadi jalan keluar dari teman tersebut. Namun saya ingin memberikan pemahaman bahwa sebagai pemimpin, meski perlu waktu, dan meski hanya sebagai pemimpin di unit sekolah, harus memberikan sinyal berkenaan dengan koordinat sikapnya kepada teman-teman yang dipimpinnya. Dan melawan sungkan, menurut saya adalah bagian penting dalam memberikan sinyal kepada 'masyarakat' yang dipimpinnya, adalah bentuk dari sinyal berkenaan dengan koordinat yang saya maksudkan.

Misalnya dalam hal masukan yang datang dari teman-teman senior terhadap sebuah keputusan yang sudah menjadi kesepakatan dan sudah juga tersosialisasikan dalam bentuk surat, maka masukan tentunya tetap diterima, namun tidak untuk mengubah keputusan yang sudah diambil. Maka ini juga akan menjadi bagian dari refleksi dari koordinat kepribadian sebagai pemimpin. 

Jakarta, 5-6.09.2016.

29 August 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #29; Resign

Setiap di akhir tahun pelajaran, di sekolah selalu ada sahabat, teman, atau bahkan juga guru saya sendiri, yang mengajukan surat pengunduran diri sebagai guru atau karyawan per tahun pelajaran baru nanti, yang akan mulai di bulan Juli setiap tahunnya. Kenyataan ini memang tidak bisa dicegah mengingat, sebagai lembaga pendidikan formal swasta, teman-teman dimungkinkan untuk mengundurkan diri.

Dan buat saya, apa yang menjadi penyebab teman kerja itu mengundurkan diri yang layak kami dengar. Ada yang mengundurkan diri karena memang di tahun pelajaran baru nanti ia akan mendapat amanah yang lebih besar, yang tentunya kesempatan yang lebih banyak juga, di lembaga  lain. Dan ini yang membuat kami bangga. Karena ia telah bersama kami dalam bertumbuh. Dan kepadanya kami akan sampaikan harapan kami, agar ia tetap mendapatkan kebaikan. 

Ada pula karena alasan keluarga, sehingga teman itu harus mengundurkan diri. Karena selama ini harus meninggalkan anak-anak mereka yang masih relatif kecil untuk diajak prihatin dengan eyang-nya atau hanya dengan asisten rumah tangganya yang telah menginjak usia lanjut. Dan ini tentunya alasan yang paling rasional mereka ambil mengingat ia sendiri tidak terlalu memungkinkan untuk maksimal sebagai profesional di kantornya atau juga menjaga balitanya di rumah. Atau ada pula yang harus mengundurkan diri dengan alasan yang bukan seperti apa yang tertera di atas tersebut. Alasan pribadi.

"Jadi apakah masih memungkinkan bila Bapak mempertimbangkan saya untuk mutasi di bagian lain agar saya tidak dalam satu bagian kerja dengan pasangan Pak?" Demikian pernah dia menyampaikan hal seperti itu kepada atasannya. Namun Pak atasan sepertinya memiliki alasan yang berbeda mengapa dia tidak bisa menerima permohonan karyawannya. Alhasil, hingga akhirnya datang surat pengunduran diri yang disampaikan ke lembaga karena keinginan untuk tidak dalam satu bagan dengan istri tidak dapat diterima oleh ketua lembaga.

"Apakah ada alasan yang bisa saya tahu mengapa teman itu harus tidak memperoleh persetujuan untuk pindah di bagian lain Pak." Demikian saya mencoba menemukan apa yang menjadi dasar pertimbangan teman itu harus tidak berada di bagian lain setelah mereka melangsungkan pernikahan. Tentunya adalah selain alasan yang pernah disampaikan bahwa itu adalah amanat peraturan lembaga. 

Dalam catatan ini saya sedikit akan menuliskan mengapa teman saya tersebut tidak memberikan sinyal hijau atas permohonan pendidiknya yang mengajukan agar dapat berpindah ke bagian lain. Dan meski telah berkembang rumor yang tidak enak, maka teman saya menceritakan kepada saya duduk dari permohonan yang tidak disetujui itu.

"Jadi begini Gus, lambaga memahami sekali akan kepentingannya, selain kepentingan the couple tersebut. Dan karenanya lembaga memberikan jalan tengah yang baik. Mereka tetap tidak dalam satu bagian dan juga  tetap berada dalam lembaga. Namun entah bagaimana mereka datang kepada kami dan mengajukan proposal yang hanya memihak kepada mereka berdua. Kami jelaskan, tetapi justru mereka memilih untuk resign." 

Cerita teman itu sekaligus menambah data buat saya berkenaan degan 'perubahan' yang ada di sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya teman yang mengundurkan diri dari lembaga berarti juga akan meninggalkan lowongan kerja. Dan ketika ada pendidik yang baru, yang datang sebagai pengganti, maka pada sisi ini kita sedang dalam dua mata yang saling memungkinkan. Itu karena pengganti akan lebih baik dari yang resign, atau kebalikannya...

Jakarta, 19-29.08.2016.

12 August 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #30; Bolehkah Mulai Besok Saya Datang Pukul 08.00?

Dalam suasana pengembangan sekolah yang membutuhkan beberapa posisi yang harus bertukar, berubah, atau rotasi, maka ada beberapa teman yang semula ada di bagian manajemen harus kembali ke staf pendidik, atau demikian pula ada pula yang sebelumnya sebagai full time pendidik kemudian kami berikan tugas tambahan sebagai manajemen. Ada pula yang hanya bergeser menempati unit kerja yang berbeda meski jabatan teman itu tetap sama, yaitu sebagai Kepala Sekolah. Ini semua kami butuhkan setelah perjalanan waktu memberikan kepada kami umpan balik untuk melakukan sesuatu yang berbeda atas nama pengembangan lembaga sekolah kami.

Dan tujuan pengembangan bagi sekolah kami, yang adalah merupakan lembaga pendidikan formal swasta, tidak lain adalah sebagai upaya agar kami dapat terus memberikan kontribusi terbaik bagi generasi bangsa. Dengan cita-cita ini, maka kami dimungkinkan untuk terus berkembang secara berkelanjutan. Dan itu semua kami yakini berawal dari mengembangkan guru dan pendidik kami secara optimal.

Namun dalam salah satu usaha yang kami terus lakukan itu, ada salah seorang teman yang ketika harus berpindah dari satu unit kerja ke unit kerja yang lain, meski tetap dalam strata manajemen, menyampaikan kepada saya sebuah permohonan, dalam sebuah forum resmi manajemen. Dimana di forum tersebut hadir penentu kebijakan yang ada di lembaga kami.

"Pak Agus, kalau begitu, mulai besok senin saya boleh datang ke sekolah jam 08.00? Kan saya sudah tidak berhadapan langsung dengan siswa?" Demikian permohonannya. Saya, dan saya meyakini yang ada di forum itu, terkaget dengan kalimat yang disampaikan oleh salah satu dari manajer kami itu. Dan karena kalimat yang disampaikan langsung ditujukan kepada saya, maka saya mencoba sigap mencari kalimat jawaban yang intinya adalah TIDAK.

"Tidak bisa Ibu. Kalau  itu yang Ibu lakukan, maka kesaktian Ibu sebagai manajemen di lembaga ini akan langsung lenyap." Kata saya memberikan jawaban awal. Saya melihat perubahan situasi dalam forum tersebut. Termasuk melihat kepada raut muka Ibu tersebut dan juga kepada wajah wakil saya yang sehari-hari selalu siap dan sedia menjadi tangan kanan lembaga.

Nampaknya yang berkembang kemudian adalah sulitnya sebagian orang yang ada di dalam forum itu menerjemahkan apa yang saya maksudkan dengan sakti. Beberapa teman sulit memaknai secara hakiki apa yang saya maksudkan. Selain tentunya kalimat pertamanya; tidak bisa.

Maka saya sampaikan dalam forum bahwa, sebagai manajemen, hal utama yag harus menjadi pegangan kita adalah teladan. Dan hal krusial yang nantinya menjadi patokan adalah jadwal kerja kita. Maka kalau manajemen datangnya sering terlambat menuju ke kantor, jangan pernah berharap jika menyampaikan sesuatu kepada stafnya akan benar-benar akan dijalankan. Itulah yang saya maksudkan dengan sakti. begitu sederhana. 

Jakarta, 12.08.2016.

09 August 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #28; Dimana Harga Diri Saya Pak?

Rotasi guru dalam proses untuk mencapai kebaikan individu dan juga lembaga secara keseluruhan, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Biasa jadi kegiatan pergeseran atau sering disebut sebagai mutasi tersebut karena kita ingin memberikan kesempatan kepada individu yang bagus untuk berkembang lebih baik lagi, ada pula kalanya kita 'menyimpan' individu yang memang sering kita menerima masukan baik dari teman yang ada pada posisi horisontal atau juga yang berada di vertikal. Bahkan tidak jarang, bagi kami yang bergerak di dunia pendidikan formal, sekolah, masukan paling gencar adalah dari pihak orangtua siswa.

Khusus untuk mutasi individu, hal ini dilakukan antara lain kerena atau atas dasar dari masukan orangtua, dan itulah yang menjadi catatan saya kali ini. Ini karena telah berulang kali kami mencoba menetralkan masalah yang tumbuh dan berkembang berkenaan dengan perilaku dan kesungguhan dari teman kami di dalam menangani peserta didiknya di dalam kelas, juga tidak jarang kami harus mencoba secara persuasif memberikan masukan kepada individu dimaksud atas masukan yang kami terima, yang jika kami amati sumber masalahnya ada karena tidak totalnya teman kami tersebut dalam mengemban amanah keguruannya di hadapan peserta didiknya.

Diantara hal yang menjadi ketidaktotalan dalam merealisasikan amanah keguruan tersebut adalah membawa masalah kehidupan pribadinya ke dalam ranah profesi yang diembannya. Hal ini menjadikan kerancuan pikir yang pada ujungnya berdampak kepada situasi batin yang sering melahirkan amarah yang tidak pada tempatnya. Atau juga pada ranah semangat dirinya dalam mengemban tugas. Terlalu terbawa suasana hati yang malas. Ujungnya adalah pekerjaan yang dijalaninya dilakukan tidak dalam kecermatan dan ketelitian. Juga pada akhirnya pengembangan diri menjadi hal yang tidak masuk dalam skala prioritasnya.

Dengan hal-hal yang demikian itu, maka kunjungan dari pihak orangtua atau juga melalui pesan di seluler datang kepada Kepala Sekolah untuk mempertimbangkan masukannya sebagai bagian dari pengambilan keputusan. Maka tahapan-tahapan pembinaan dicoba untuk disampaikan dengan tata kerama yang se-santun-santunnya. Termasuk di dalamnya adalah pilihan kata yang akan disampaikan.

Namun jika pun apa yang telah diupayakan sebagai bahan perbaikan individu juga telah berlangsung dan proses perbaikan memang tidak tampak secara signifikan, maka standar lembaga akan menjadi indikasi bagi Kepala Sekolah untuk menemukan solusi atas semua itu. Maka kepada individu tersebut bisa jadi masuk dalam proses mutasi. Dan karena posisi  guru hanya ada pada posisi guru utama, guru pendamping, dan guru spesialis, maka pada posisi-posisi yang ada itulah kami menentukan dimana paling pas kepada individu yang kami maksudkan.

Lalu ketika posisi telah diputuskan oleh Kepala Sekolah bersama kami sebagai bagian dari strategi sukses pada tataran lembaga, maka menjelang liburan yang lalu ada pesan seluler yang masuk di Kepala Sekolah bahwa salah satu individu yang terdampak mutasi menyatakan kalau dirinya tidak mendapat penghargaan yang selayaknya dari lembaga.

"Dimana harga diri saya Pak?" Demikian lebih kurangnya apa yang kami baca di layar seluler kami. Dan kalimat ini membuat kami termenung, mengapa individu kadang merasa dirinya begitu layak mendapat penghormatan sementara kinerja riilnya begitu tidak dijadikannya pertimbangan untuk menakar harga dirinya?

Maka inilah yang menjadi agenda professional development di lembaga kami untuk mengawali tahun pelajaran baru dalam langkah kami melakukan pengembangan diri dan pengembangan lembaga, sebagaimana semangat kami untuk melakukan transformasi...

Jakarta, 8-9.08.2016

08 August 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #27; Mengapa Kami Berbenah?

Mengapa kami begitu giat melakukan transformasi di sekolah kami yang swasta? Meski sekolah kami adalah sekolah swasta yang dari awal berdiri hingga dekade 2010 memiliki siswa yang selalu penuh di kelas-kelas kami yang ada. Meski beberapa hal yang memberikan indikasi sesuatu yang 'berubah' pada perjalanan siswa baru sejak dekade 2000-an. Indikasi tersebut antara lain adalah tentang pergeseran demografi, sosial, dan ekonomi terhadap generasi yang masuk sebagai siswa kami jika kami melihatnya di era kami sejak sekolah kami berdiri hingga dekade 2000-an tersebut. Meski hingga tahun 2010-an sekolah kami masih belum memperlihatkan data siswa yang mengalami penurunan.

Namun sejak tahun pelajaran 2011 hingga tahun ini, 2016, data mengenai jumlah siswa kami yang menurun tidak dapat dipungkiri. Hal inilah yang membuat kami semua berbenah diri. Mencari tahu mengapa kami kekurangan siswa untuk memenuhi bangku kelas yang ada di ruang kelas kami.

Dan karena penurunan jumlah siswa tersebut juga menjadikan penurunan kepada jumlah kelas yang ada di sekolah kami, maka sebagai jalan keluar untuk menjaga kelebihan tenaga pendidik, maka beberapa langkah telah kami jalani. Seperti misalnya, tidak merekrut guru baru sebagai pengganti guru kami yang memasuki pensiun. Atau juga memberikan penawaran kepada Bapak atau Ibu guru yang memilih untuk pensiun lebih awal.

Mengapa keterpenuhan bangku siswa di kelas menjadi tolok ukur bagi kami? Ini karena kami adalah sekolah swasta yang sebagian besar biaya operasionalnya bersumber dari peserta didik yang ada. Untuk itu, tidak bisa tidak maka keterpenuhan bangku siswa menjadi impian kami.

Mengapa ada perubahan latar belakang keluarga yang masuk di sekolah kami belakangan ini? Karena perkembangan keluarga mampu yang ada di sekitar sekolah kami memungkinkan anggota masyarakat tersebut memilih sekolah yang sesuai dengan harapan mereka yang tentunya telah berubah dengan generasi masyarakat sebelumnya. Dan ini juga berarti masyarakat telah memiliki benchmark bagi sekolah yang berkualitas.

Setidaknya dengan beberapa hal tersebut diatas, maka kami sepakat untuk melakukan transformasi diri. Bahwa tidak dapat dipungkiri, masa lalu dan apa yang sedang kami terima sekarang ini adalah cermin untuk kami melakukan pembenahan, perbaikan, pembelajaran, dan transformasi.

Harapan dari semua itu tidak lain adalah eksistensi kami untuk dimasa-masa mendatang. Eksistensi yang panjang. Tentunya jika kami berkomitmen menjadi motivasi untuk terus  berbenah, berubah dan bertransformasi. Dan kami meyakini bahwa keberhasilan hanya kami dapat jika kami benar-benar dapat menjadikan diri-diri kami sebagai pribadi yang berdaya saing. Karena dengan demikian kami akan menjadi sebuah lembaga yang berdaya saing.

Dan berbenah menuju lembaga yang memiliki daya saing tidak lain jika kami secara jujur menemukan koordinat persaingan yang sekarang ini sedang menjadi tolok ukur masyarakat. Dan kami menemukan hal itu, yaitu dengan menjadikan kami, guru, sebagai pribadi yang memang unggul. Tentunya, sekali lagi, dengan parameter yang diyakini masyarakat sekarang ini. Semoga.

Jakarta, 8 Agustus 2016.

30 June 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #26; SMS dan Surat Kaleng

"Menyampakan keberatan dan masukan untuk pengelola sekolah. Bahwa ada Kepala Sekolah yang terpilih, yang sebelumnya bukan sebagai Wakil Kepala Sekolah? Apakah ini yang namanya kaderasasi?" Demikian SMS yag diterima teman dari nomor yang selama ini tidak tercatat di seluler kami semua. Saya pribadi setelah mendapat forward dari teman yang mendapat SMS tersebut mencoba mengecek kepada teman yang lain tentang nomor asing tersebut. Tetapi semuanya tidak pernah mencatat dengan nomor yang ada. Akhirnya kami sepakat untuk tidak perlu menjadikan SMS tersebut sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Kaderisasi? Memang seharusnya demikian. Ketika seorang Kepala Sekolah karena suatu hal apa dan mengharuskannya untuk bertukar tempat atau mutasi atau bahkan pensiun, maka penggantinya yang paling dekat adalah salah satu dari wakilnya yang ada. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua para wakil kepala sekolah, meski menduduki jabatannya tersebut lebih dari lima tahun, tidak semuanya memiliki kompetensi untuk memimpin sebuah sekolah.

Itu jugalah yang antara lain menjadi kendala bagi kami yang mengelola sekolah swasta. Pemilihan akhirnya kami buka untuk guru selain  yang mendapat tugas sebagai Kepala Sekolah. Ada yang masih posisi guru, bahkan guru muda dengan pengalaman bekerja pada posisi guru lebih kurangnya 10 tahun.

Maka ketika dalam panel diskusi yang kami gelar secara terbuka, termasuk diantaranya adalah memberikan kesempatan kepada semua Wakil Kepala Sekolah dan juga para guru-guru untuk mengajukan tulisan yang memberi isyarat untuk mau terlibat dalam audisi yang kami gelar.

Dan ketika audisi berakhir, kemudian kami harus mendiskusikan untuk mengumpulkan semua informasi yang ada guna mengambil kesimpulan, maka justru semua Wakil berguguran dikalahkan oleh seorang guru yang berkobar semangatnya, jelas strategi penerapannya, serta fokus kepada penanganan operasional sebuah sekolah.

"Kami menyayangkan atas terpilihnya si A karena sebelumnya si A bukankah adalah seorang Wakil Kepala Sekolah?" Demikian antara lain bunyi sebuah kalimat yang saya terima langsung dari pengirim via pos surat. Surat tanpa nama lengkap pengirim selain hanya mencantumkan inisial. Yang sekali lagi sulit bagi kami untuk dapat menemukan siapakah orang tersebut?

Dan sama penanganannya. Kami tidak terlalu  menjadikan SMS dan surat kaleng tersebut sebagai masukan berharga. Hasil rapat kami tetap pada keputusan awal kami untuk emilih mereka yang telah memberikan keyakinan kepada kami sebagai pengeliola tentang bagaimana melakukan pengelolaan sekolah swasta yang baik.

Mungkin orang dalam yang telah membuat surat kaleng dan mengirimkan SMS itu memiliki keyakinan akan efektivitas atas apa yang dimintanya, untuk kemudian kami terpengaruh sehingga keputusan yang kami ambil bisa fatal. Namun kami justru meyakinkan diri bahwa apa yang telah kami diskusikan dan kami simpulkan tersebut adalah suatu hal yang baik, Demikian.

Jakarta, 30 Juni 2016.

29 June 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #25; Pemimpin di Sekolah

Dalam sebuah perjalanan sekolah yang sedang giat melakukan pembelajaran diri secara internal, maka kepada kami disadarkan akan adanya sosok yang telah atau setidaknya sedang melakukan perjalanan dalam menginternalisasi semangat perubahan itu sendiri. Dan tokoh seperti ini menjadi keberuntungan buat kami ketika ada unit sekolah di bawah kami yang telah memilikinya. Namun bagaimana jika di unit sekolah ternyata tokoh itu justru tidak berada di jajaran pimpinan yang ada?

Terhadap yang telah ada, kami mensyukurinya. Kami mengajak yang bersangkutan untuk kembali menata dan kemudian membuat atau menyusun peta perjalanan menuju arah yang kita inginkan bersama sesuai dengan semangat lingkungan yang menuntut kami untuk melakukan pergerakan yang lebih cepat dan signifikan. Juga kami pastikan apa yang memang seharusnya kami jalani bersama-sama dengan guru. Termasuk di dalamnya mendiskusikan bagaimana jalan yang ingin kami lalui. 

Kami buat bersama-sama parameter impian yang sama-sama kami pahami bersama. Jika keberangkatan kami itu terasa berat dan menyesakkan hati, kami akan menemui teman-teman di luar sekolah, baik kami undang beliau untuk sharing dengan kami, atau kami sendiri yang melakukan kunjungan ke beliau dalam format benchmarking, sebagai cara atau wahana bagi kami untuk terus berjalan maju. Karena dengan dua kegiatan semacam itu akan memungkinkan bagi kami mengukur diri atas koordinat sosial yang ada. Dan pengetahuan kami terhadap pada posisi mana kami berada di koordinat sosial tersebut akan memberikan semangat baru.

Kami juga mendengarkan apa yang seharusnya ada di dalam sekolah. Dan pemimpin di unit sekolah kami akan benar-benar menjadi narasumber bagi kami dalam mengambil kesimpulan dan keputusan untuk sebuah keberhasilan. 

Lalu bagaimana dengan unit sekolah yang memang sosok yang dibutuhkan belum pada tataran tersebut? Tidak bisa tidak, kami harus terus bergerilya, serta memacu waktu untuk pencapaian tersebut.

Kami meminta masukan di lapangan akan seperti apakah langkah yang harus kami jalani. Bagaimana tahapan yang harus kami pilih. Apa yang sesungguhnya memang harus kami simpulkan.

Masukan-masukan tersebut kami perlukan untuk langkah berikut. Dan ketika langkah berikut telah kami pilih sebagai kesepakatan, maka itulah yang akan menjadi fokus dan komitmen kami hingga diujung perjalanan nanti kami harus berakhir. Semoga.

Setidaknya, bagi kami, sosok yang akan kami pilih sebagai pemimpin di sekolah adalah sosok yang mampu, atau setidaknya tokoh yang memiliki keinginan sangat kuat dalam menginternalisasikan visi kami dalam perjalanan membangun budaya di sekolah. Membangun visi tersebut ke dalam individunya, lingkungannya, terutama kepada seluruh guru-gurunya, yang pada akhirnya kepada seluruh masyarakat sekolahnya.

Jakarta, 29 Juni 2016.

03 June 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #24; Berubah itu Bertahap

Sekali lagi tentang perubahan yang harus dan mau tidak mau kami lakukan di sekolahan. Baik pada tataran sistem atau juga pada tataran operasional. Dan dalam pelaksanaannya maka ia berlaku rumus setapak demi setapak. Setidaknya itulah yang kami alami dalam perjalanan memberikan pelayanan kepada generasi penerus yang duduk di dalam kelas di sekolah kami. Semoga perjalanan ini terus diberikan dan dilimpahi kekuatan dan keberkahan Allah SWT. Amin.

Bertahap? Seperti beberapa kali kami sampaian kepada teman-teman berkenaan dengan pertunjukkan kelas, dalam bentuk Assembly, atau juga pertunjukkan sekolah dalam bentuk Pentas Kesenian, hal yang disampaikan yang menurut saya telah tuntas sehingga dikemudiannya hanya menemani perjalanan pelaksanaannya, namun dalam beberapa kali perjalanan itu terdapat deviasi atau setidaknya perbedaan persepsi antara apa yang saya sampaikan kepada mereka dengan apa yang mereka tangkap.

Perbedaan ini menipis dalam perjalanan waktunya, dan secara bertahap saya mengajak teman-teman berdiskusi berkenaan dengan standar yang disepakati. Dan alhamdulillah setelah beberapa kali pelaksanaan tersebut kami ulang dan ulang di tahun-tahun sesudahnya, persepsi dan anggapan antara saya yang mengajak dengan teman-teman di lapangan yang mengejawantahkan ajakan saya dalam bentuk program pelaksanaan kegiatan di kelasnya menjadi benar-benar sinkron dan klop. 

Kenyataan ini pararel dengan seorang yang mengemudikan kendaraan. Di awal kita bisa dan berani mengendarai kendaraan di jalanan umum, maka kekurangan yang nyata dari kita adalah kemampuan untuk melihat dan menjadikan perhatian apa yang terdapat di sekeliling kita selain memandang lurus ke depan. Namun selang beberapa waktu setelah jam terbang kita naik, maka hal yang sebelumnya tidak termonitor karena posisinya berada di sekeliling kita, menjadi terkontrol. Karena kita menjadi bertambah mampu  dalam mendistribusikan perhatian.

Atas keyakinan seperti inilah kami mengusahakan untuk terus menerus mendiskusikan apa yang telah kami jalani dalam program kegiatan sekolah hingga sampai kepada esensi dari kegiatan yang dimaksud. Diskusi tersebut menghasilkan penarikan hikmah dalam setiap program kegiatan yang telah berlangsung. Dan penarikan hikmah tersebut sma artinya dengan menemukan kebermaknaan. Semoga.

Jakarta, 3 Juni 2016.

30 May 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #23; Mendorong Keberanian

Dalam sebuah perubahan yang memang harus dilakukan di tataran operasional di lembaga pendidikan formal swasta, sering sekali terhambat oleh kapasitas tingkat kenekatan atau keberanian pimpinan di lapangan. Misalnya saja pada hal yang berkenaan dengan absensi. Maka sulit bahwa tingkat keterlambatan atau ketidakhadiran teman-teman guru di kelas dengan tepat waktu atau bahkan sebelum waktu memulai mengajar di jam pelajaran yang ada.

Ini karena kehadiran seorang guru menjadi titik utama bagi keberhasilan di mata pelajaran yang diampunya. Keberhasilan di mata pelajarannya akan memiliki kontribusi kepada keberhasilan kelasnya. Demikian selanjutnya. Oleh karena itu maka kepastian bahwa semua e\warga sekolah hadir di sekolah sebelum waktu memulai aktivitas dimulai, menjadi konci keberhasilan. Dan inilah yang menjadi konsen bagi kami untuk meminta kepada para pimpinan operasional di unit-unit sekolah yang ada untuk terus memberikan patauan dan perhatian pada hal kedisiplinan seperti ini. 

Karena bila ada satu saja unsur yang benar-benar tidak memberikan perhatian kepada hal seperti ini, maka inilah yang kami namakan sebagai pembiaran. Dan kalau proses ini berlanjut, maka akan menjadi kebiasaan yang kemudian menjadi budaya. Atas pemikiran inilah maka kami benar-benar meminta agar para pimpinan operasional memulai dari titik ini.

Alhamdulillah bahwa ini menjadi usaha yang disepakati di awal kami melakukan transformasi. Walau bagaimanapun kami sendiri yang seharusnya berada -ada posisi sistemik, harus juga melakukan tidak saja pemantauan, tetapi sering pula memberikan konsep langkah sebagai tahapan untuk mengekskusi suatu hal. Bahkan termasuk memberikan pemantauan terhadap surat 'tanda mata' bagi satu atau dua guru yang harus diberikan 'tanda mata'. Inilah yang saya sebutkan sebagai dorongan.

"Untuk kali pertama mungkin memang diperlukan konsep, motivasi, juga arahan, serta diringan kepada pimpinan operasional dalam menjaga kedisiplinan di wilayahnya masing-masing Pak Agus. Tetapi ke depan mereka yang harus berani mengekskusi bersama-sama dengan pimpinan operasional tertingginya. Kalau harus selalu kita yang menyampaikan dan memulai dalam melakukan, ya meringankan beban kerja dan porsi kerja mereka." 

Demikian antara lain pendapat teman kolega saya. "Semoga." kata saya singkat.

Jakarta, 30 Mei 2016.

25 May 2016

Harus Memilih

"Apakah itu tidak berarti habis manis sepah dibuang?" Begitu kalimat yang keluar dari teman diskusi ketika kami memilih pilihan bagi teman-teman yang pada akhir tahun pelajaran ini menunggu surat keputusan untuk menjadi CPNS. Teman diskusi ini adalah temannya teman yang akan menjadi bagian dari CPNS, yang karena satu dan lain hal, kok seperti di-PHPin oleh Pemda.

SK yang kabarnya akan keluar Agustus mundur September. Tapi mundur lagi Desember. Kabar di koran mundur lagi Februari, April, dan sekarang sudah masuk akhir Mei, berita akan keluarnya SK tetap tidak jelas. Semua tidak bisa diprediksi.

"Karena mereka telah berada di lembaga ini bersama kita tidak sekedar lima sepuluh tahun. Mereka sudah berada di lembaga ini tidak kurang dari dua puluh lima tahun. Jadi bagaimana lembaga ini membalas jasa-jasa mereka? Dan kalau awal tahun pelajaran baru nanti mereka tidak dipromosikan untuk menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah lagi, tidak menjadi guru kelas, tetapi hanya sebagai guru pendamping, apakah nanti tidak ada suara seperti apa yang saya sampaikan di awal itu?" Jelas Ibu yang berkewajiban untuk menyampaikan apa yang menjadi persfektif guru.

Lalu saya mencoba memberikan pengetahuan  yang saya tahu berkenaan dengan lembaga pendidikan lain yang juga mengalami hal sama. Dimana di lembaga tersebut, lembaga langsung memberikan keputusan terhadap teman-teman guru yang sedang menunggu SK pengangkatan CPNS dengan sama sekali tidak memberikan jam mengajar. Artinya, lembaga memilih untuk meniadakan mereka di awal tahun pelajaran baru.

Hanya perlu gambaran bahwa lembaga tersebut memang lembaga pendidikan swasta, dan dalam gelombang CPNS sebelumnya pernah terjadi di lembaga yang sama 7 orang harus secara bersama-sama meninggalkan lembaga. Ujungnya adalah beratnya lembaga dalam menemukan pengganti dalam tempo yang amat sangat singkat. Dan ini, bagi lembaga swasta, menjadi bagian yang lumayan berat.

Dan kita mengambil jalan tengah dari jalan-jalan yang ada. Yaitu dengan tetap mengakomodasi keberadaan teman-teman meski meminta keikhlasannya untuk hanya mengampu mata pelajaran yang menjadi pilihannya. Tidak memberatkannya dengan tugas tambahan sebagai wali atau guru kelas, atau sebagai apa saja yang menadi tambahan tugas sebagai guru.

Dengan posisi semacam itu, sekolah akan lebih ringan bila suatu saat nanti SK CPNS benar-benar keluar untuk mereka?

Jakarta, 25 Juni 2016

02 May 2016

Menemani "Perubahan' Guru #22; Persepsi Para Pengelola

Sebagai badan pendidikan formal swasta, maka keberadaan Yayasan sebagai bagian dari unsur pengelola sekolah menjadi tidak dapat dipisahkan terhadap sekolah itu sendiri. Meski antara Yayasan dan Sekolah memiliki sisi yang amat berbeda. Tetapi keduanya memiliki hubungan yang harus saling memberikan kontribusi dan dukungan secara intens dan terus menerus. 

Yayasan harus benar-benar memahami spesifikasi dari lembaga sekolah yang ada di bawah naungannya, meski para pengurus, pengawas, dan pembina yang ada di dalam unsur Yayasan bergantian. Tetapi postur sekolah yang menjadi impiannya, operasional sekolah yang merupakan pengejawantahan dari impiannya, serta faktor-faktor yang mendukung dan yang menjadi hambatan, benar-benar harus dipahami dengan sedetil-detilnya.

Tidak saja bagian keuangan dan pengembangan infrastruktur sekolah yang menjadi perhatian bagi Yayasan, tetapi juga pengembangan para pendidik yang menjadi tumpuan terbesar bagi pengembangan sekolah secara berkesinambungan. Guru dan SDM pendukung harus menjadi perhatian penting selain produk dari sekolah itu sendiri.

Dengan cara melihat seperti inilah maka saya sebagai bagian dari pihak Yayasan di sebuah sekolah swasta selalu melihat peluang dan operasinal sekolah seteliti dan secermat mungkin. Semua ni bertujuan untuk memberikan kepastian bagi keberlangsungan dan kelanggengan lembaga.

Demikian pula dengan anggota Yayasan yang lain, semua memiliki kacamata pandang dan persepsi yang sama untuk sebuah kepastian bagi keberlangsungan.  Dan selain pertemuan fisik yang memang harus selalu ada diantara kami, kebaradaan kami yang secara sendiri-sendiri, membagi informasi terhadap apa yang telah terjadi di sekolah, yang sedang berlangsung, atau bahkan yang akan segera berlangsung, sebagai bagian dari menyatukan pemahaman dan persepsi.

Kenyataan ini memang harus menjadi kesadaran kami bersama-sama sehingga tidak akan pernah terjadi, semoga, kekagetan diantara kami ketika harus menemukan informasi atau fenomena deviasi antara apa yang menjadi impian kami bersama dengan bentuk operasional di lapangan.

Semoga.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Jakarta, 2 Mei 2016.

30 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #21; Menentukan Arah

Ketika kami mencoba duduk bersama untuk mendiskuikan akan seperti apa wujud dan operasional dari sekolah yang kita impikan, maka semua peserta diskusi memiliki gambaran impian yang berbeda-beda. Namun demikian, semua sepakat bahwa sekolah yang diimpikan adalah sekolah yang berkualifikasi nasional plus. Maksudnya adalah sekolah yang barada pada level di atas sekolah dengan standar nasional. Maka seperti apa sekolah tersebut?

Masing-masing masih memiliki gambaran sendiri wujudnya. Sampai akhirnya disepakati bahwa sekolah impian tersebut harus berawal dari pemahaman yang sama tentang apa itu sekolah dengan standar nasional. Maka kesepakatan tersebut mengerucut kepada penugasn saya untuk mempersiapkan presentasi ringkas berkenaan dengan Sekolah Standar Nasional dalam pertemuan rapat berikutnya. Jadilah presentasi tersebut dengan acuan pokoknya adalah ketentuan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lalu apa tahapan berikut setelah pemahaman yang sama yang diinginkan pemerintah berkenaan dengan sekolah nasional tersebut? Kami harus melakukan peninjauan ke lapangan terhadap sekolah-sekolah yang ada. Kami pilihlah sekolah-sekolah, utamanya sekolah dengan status sebagai sekolah swasta, untuk melakukan pembandingan. Hal ini perlu sekali mengingat apa yang ada dan terdapat dalam ketentuan sebagai sekolah standar nasional menitik beratkan tentang keberadaan fisik sekolah. Padahal kami juga menginginkan bagaimana postur SDM dan oprasionalisasi sebagai standar nasional sekolah tersebut.

Dalam peninjauan tersebut kami banyak sekali mendapat peandangan yang lebih kepada proses operasional, selain fisik sekolah. Informasi ini justru menjadi bagian yang sangat menunjang pemahaman kami terhadap sekolah impian kami tersebut.

Selain melakukan kunjungan langsung kepada lembaga sekolah yang kami inginkan, kami juga melakukan sedikit penelitian terhadap lembaga sekolah swasta lain secara virtual. Dan ini menjadi bahan bantuan yang luar biasa berharganya. 

Pengetahuan dan pemahaman yang telah sama-sama kami kumpulkan tersebut akhirnya memberikan kepada kami bayangan dan gambaran yang relatif sama terhadap profile sekolah impian kami. Dan dari sinilah kami mencoba membuat parameter-parameter. Baik yang berkaitan dengan aspek sarana dan prasaranya, serta yang lebih penting dari semuanya adalah model dan arah.

Dalam tahap arah dan modelnya, maka dirumuskan bagaimana profile guru dan juga bagaimana profile siswa. Dan dalam dua hal inilah kami benar-benar membuat pembanding untuk menentukan bahwa koordinat yang memang impian kami adalah titik dimana memang yang menjadi tujuan bagi semua sekolah yang ada dalam koridor nasional.

Dalam dan dari dua aspek itu juga akhirnya kami dapat merumuskan profile sekolah impian. Lalu bagaimana merealisasikannya? Ini menjadi bagian penting lain yang ada dalam agenda kami, yang ternyata justru meminta perhatian kami lebih besar dan lebih intens. Semoga.

Jakarta, 30 April 2016.

25 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #20; Membuat KPI

Dalam sebuah sesi pertemuan rutin yang kami gelar bersama manajemen sekolah, dimana hadir antara lain selain adalah bagian pengelola operasional sekolah, Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, kami mendiskusikan tentang hasil KPI, Key Performance Indicator sekolah kami, yang hasilnya melampaui target yang dicanangkan dalam satu tahun pelajaran yang lalu, tetapi ketika melihat pada tataran di lapangan ada yang kurang dalam pelaksanaannya? Maka kami mengajak teman-teman di manajeman sekolah untuk menengok apa yang sebenarnya terjadi terhadap KPI yang telah dilaporkan kepada kami, pihak Yayasan, mengingat sekolah dimana kami berada adalah sekolah swasta.

Beberapa dari kami mencoba melihat dari data-data yang terlampir dalam laporan tersebut. Dengan tujuan adalah menemukan apakah ada pengumpulan data yang tidak reliabel sehingga menghasilkan hitungan yang kurang pas, sehingga berujung kepada nilai yang melampaui target yang telah bersama kami tentukan?

Teman yang lain melihat apakah ada indikator yang terdapat dalam aspek yang seharusnya dinilai tidak pas sehingga mengakibatkan apa yang seharusnya dinilai justru tidak dinilai, tetapi apa yang seharusnya tidak perlu atau tidak harus dinilai justru menjadi bagian penting yang masuk dalam aspek yang dinilai atau bahkan dia mendapat bobot penilaian yang lebih tinggi dibandingkan aspek penilaian yang lain?

Lalu bersama kami mencermati apa yang sesungguhnya kurang pas dalam apa yang telah kami selesaikan pekerjaan besar tersebut dalam kurun satu tahun. Setelah bersama-sama kami diskusi dan cermati apa yang telah kami lakukan, kami menyimpulkan bahwa untuk tahap sekarang, demikian pemikiran kami, yang harus menjadi poin terpenting dalam aspek penilaian adalah aspek keguruan atau SDM.

Maka kami sepakati bahwa Guru adalah bagian paling penting dan utama dalam [perjalanan sukses sekolah kami. Dan dari sinilah kami mencoba menyusun aspek-aspek penilaian dalam KPI yang baru dengan memberikan bobot kepada aspek keguruan atau SDM sekolah. 

Sepakatlah kami dengan kembali merekonstruksi KPI sekolah kami di tahun yang akan datang, dimana menempatkan Guru sebagai sebab dari semua fenomena yang terjadi di lembaga sekolah kami. Dari sanalah kemudian kami mencoba membuat BSC untuk menentukan bobot dari semua aspek yang telah kami sepakati. 

Hasil diskusi ini kemudian menjadi tugas utama teman kami yang mendapat amanah sebagai penjaga gawang sekolah kami sehari-hari untuk menyampaikan dan mengajarkan kepada semua lini dan semua unit sekolah yang ada di bawah bendera kami. Semoga.

Jakarta, 25 April 2016

20 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #19; Kandidat Terpilih?

Dalam catatan sebelumnya berkenaan dengan 3 model kandidat yang ada dan kami temukan dalam forum diskusi panel para kandidat, maka tidak bisa-tidak kami pun harus melakukan penentuan kandidat yang mana yang akan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Meski tapi telah menyepakati siapa saya yang terbaik dari yang ada, untuk kemudian melanjutkan kepada tahap berikutnya, maka kami harus juga berkoordinasi dengan Kepala Sekolah yang akan menjadi pemandu para wakilnya yang baru. 

Untuk itulah maka kami merancang pertemuan dengan Kepala Sekolah untuk mendiskusikan satu [persatu kandidat yang telah ikut serta dalam tahap diskusi panel. Dan karena Kepala Sekolah juga adalah orang yang ada dalam diskusi panel, selain juga adalah para peserta merupakan para gurunya, maka pemahaman terhadap para kandidat dalam keseharian menjadi pertimbangan tersendiri. Bahkan ada beberapa informasi yang memang kami tidak mengetahuinya. Ini karena kami hanya melihat bagaimana para kandidat tersebut mengemukakan pendapat. 

"Pak Tono itu bagus memang apa yang disampaikan dalam forum-forum semacam ini. Tapi dalam kesehariannya saya hampir frustasi memberikan semangat kepada dia untuk mengejar target yang dia juga ikut terlibat menentukan. Dan ini menjadi karakternya. Maka apa yang disampaikan dalam forum diskusi panel ini saya tidak heran." Kata Kepala Sekolah di awal diskusi kami mengenai para kandidat.

Apa yang disampaikan oleh Kepala Sekolah atas performa salah satu kandidat tersebut juga memberikan kepastian buat kami bahwa memang itulah jenis karakter para kandidat. Bahwa ada 3 model itu memang benar-benar terjadi dan berlangsung di lapangan.  Yaitu kandidat yang tukang komplain, kandidat yang menjadi pengamat atau komentator, dan kandidat yang memang fisik dan pikirannya menyatu dan menginjak bumi.

"Maka dengan apa yang telah Ibu uraikan itu apakah Ibu berarti memilih Pak Alfi dan Ibu Beta yang mendampingi Ibu sebagai Wakil Kepala Sekolah?" Begitu pertanyaan saya kepada Ibu Kepala Sekolah setelah diskusi berjalan kurang lebih 1 jam. Pertanyaan saya untuk mempertegas bahwa memang Ibu tersebut memilih sebagaimana yang kami juga rekomendasikan.

Jakarta, 20 April 2016.

19 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #18; 3 Model Kandidat

Pemilihan kandidat Wakil Kepala Sekolah dengan cara seperti ini setidaknya memberikan kepada kami pelajaran untuk saling percaya, terbuka, berbagi, dan sekaligus melihat serta menyaksikan bersama kehebatan para kandidat yang ada di institusi kita. Dan ini bagian dari kebanggaan kami.

3 Model Kandidat

Dan untuk saya jadikan catatan disini, bahwa saya setidaknya menemukan 3 model kandidat setelah forum diskusi panel tersebut kami lakukan. Ketiga model kandidat itu tidak lain karena mereka memposisikan dirinya sebagai kandidat wakil Kepala Sekolah. Dan ini menjadi penting juga buat kami dalam mengambil keputusan. Tidak perduli apakah mereka, para kandidat tersebut memiliki strata pendidikan sarjana atau megister. Nampaknya justru kepatangan cara berpikirlSebagaimana yang pernah saya catat di halaman ini, bahwa dalam melakukan pemilihan pengganti Wakil Kepala Sekolah, kami mengundang para kandidat wakil untuk sebuah diskusi panel bersama-sama. Kepada mereka kami persilahkan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, bahkan juga tekad dalam membawa sekolah lebih baik lagi. Maka dalam forum ini tugas kami adalah menyampaikan pertanyaan untuk mendapat tanggapan dari para kandidat secara bergantian.

Dalam forum ini nanti kami akan dapat menemukan karakter, kekuatan, dan cara pandang para kandidat tersebut. Dan dalam dua jam kegiatan diskusi panel tersebut, kami mampu menjadi empat atau lima putaran pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu dibuat oleh saya dan teman-teman dari Yayasan dan manajemen sekolah yang lebih tinggi dai posisi kandidat. Hal ini untuk menyamakan persepsi dalam pengambilan keputusan. Terutama ketika forum telah selesai, maka kami diskusi internal untuk menentukan kandidat mana yang ingin kami lanjutkan pada tahapan berikutnya. Tentunya kami telah menyepakati hal-hal yang memang sedang kami search dari para kandidat yang ada.

ah yang mempengarui 'nilai' dari masing-masing mereka. Mungkin juga mereka tidak menyadari kalau cara pandang mereka justru yang menjadi catatan penting kami dalam diskusi panel tersebut.

Model Satu, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai kritikus. Kandidat yang posisi dirinya berada di ranah ini selalu mengatakan jawaban sebagai pendapat atau tanggapannya terhadap pertanyaan kami dengan nada kritikan, menilai, komplain, atau juga menuntut kepada pihak lain. 

"Saya melihat bahwa keberhasilan sebuah organisasi seperti sekolah kita berhasil dalam regenerasinya adalah peran pimpinan untuk mengkader para gurunya yang potensial. Dan saya merasakan hal inilah yang tidak pernah dilakuan pimpinan sepanjang waktu saya bergabung di sekolah ini." Katanya dengan percaya diri dan tidak ragu.

Atau juga pendapatnya tentang bagaimana agar pola komunikasi menjadi lancar di dalam unit sekolah; "Saya berpendapat bahwa pola komunikasi itu menjadi bagian penting bagi pimpinan sekolah untuk memberikan teladan kepada kami semua."

Kami, terutama saya sebagai bagian yang memberikan penilaian dan catatan, tentu saja jengah mendengar pernyataan kandidat model seperti ini. Karena bukankah mereka diminta untuk menyampaikan visinya berkenaan dengan pertanyaan yang kami sampaikan?

Model Kedua, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai pengamat. Kandidat seperti ini selalu menyampaikan gagasannya dalam format sebagai pengamat. Yaitu orang yang merasa berada di luar pagar. Seperti juga para penonton. Maka kami juga menjadi berpikir seperti apa kalau nanti punya wakil Kepala Sekolah yang seharusnya mengekskusi suatu keputusan malah hanya mampu memberikan ulasan dan komentar atas keputusan yang seharusnya dia ambil? Aneh bukan?

Model Ketiga, adalah mereka yang memposisikan dirinya berada sebagai bagian dari lembaga. Ini adalah model kandidat yang akhirnya menjadi pilihan kami. Tidak ada yang tidak sepakat atas orang-orang model seperti ini ketika kami memanggil semua kandidat untuk melakukan diskusi panel.

"Saya kira semua bermuara kepada kami sendiri Pak. Kami sebagai guru di sekolahlah yang harus mengambil bagian penting bagi sebuah sekolah masa depan sebagaimana yang kita impikan. Memang belum tergambar bagi saya langkah yang harus kita lakukan selain berikhtiar menjadi guru terbaik di kelas kita masing-masing. Namun saya memastikan bahwa semua itu muaranya guru yang memiliki komitmen dan kosisten dalam menjalankan tugas."

Jakarta, 19 April 2016.