Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 July 2011

Ramadhan, Waktunya 'Bercocok Tanam'

Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau sekolah di daerah ini mengurangi kegiatan fisik guna menghindari penurunan stamina siswa selama Ramadhan. Hal itu dikatakan Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi Bina Program Dinas Pendidikan Dasar Bantul, Juwahir, Sabtu (30/7/2011). Begitu berita yang saya baca di http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/31.

Tentunya Pak Juwahir tidak sendirian di negeri ini. Sebelumnya terbit pula berita dari pemerintah daerah yang mengurangi jam kerja bagi karyawannya.

Adalah sebuah realita yang selalu hadir dikala Ramadhan tiba. Dan kenyataan itu tidak saja menjadi milik mereka yang berada di sekolah, nahkan di kantor-kantorpun demikian adanya. Adalah sebuah bentuk toleransi bagi mereka dan kita semua untuk lebih memanfaatkan waktu dalam menjalankan Ramadhan. Terutama dalam sisi kualitas. Oleh karenanya kebijakan itu dapat juga dimaknai sebagai bentuk dorongan bagi kita untuk menjadikan waktu sisa dalam melakukan kegiatan pemaknaan Ramadhan dalam sisi kualitas.

Sebuah kondisi dan situasi yang sangat kondusif bagi peningkatan warna serta kebermaknaan dalam meningkatkan keberagamaan. Baik bagi siswa dan guru di sekolah, mahasiswa dan dosennya di tempat kuliah, dan juga para pegawai dan birokrat di kantor serta para pedagang di pasar-pasar, dan juga para pengusahanya. Dan jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya Ramadhan ini kita sedang menanam masa depan bangsa yang lebih baik.

Jangan sampai waktu yang telah terkurangi keberadaan di kantor atau tempat kerja, namun tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya ketika sedang berada di luar jam dan tempat kerja. Misalnya justru menjadi semakin turunnya efektifitas dan etos kerja, karena puasa Ramadhan telah menjadikannya kurang energi saat melakukan amanah kerja. Inilah yang akan melahirkan penilaian kurang kepada mereka yang berpuasa Ramadhan.

Namun bagi yang berfalsafah hidup hanya pada muara untung-rugi, maka kenyataan ini akan menjadi kendala besar. Meski sebenarnya tetap saja selalu ada kompromi bagi kepentingan seperti itu tanpa mengorbankan sisi silaturahim dan toleransi. Seperti apa yang dilakukan kantor sahabat saya. Dimana jam masuk dimajukan satu jam lebih awal, sehingga jam kerja akan selesai juga lebih awal.

Semoga Ramadhan ini adalah Ramadhan dimana kita semua sedang melakukan cocok tanam. Dengan begitu maka selalu akan lahir harapan untuk memetik panen kelak di kemudian hari. Dengan konsep ini semoga saya dan Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada sebagai ikhtiar bagi peningkatan kualitas cocok tanam. Tentu untuk tujuan akhir yang menguntungkan. Semoga. Amin.

Jakarta, 31 Juli 2011.

Catatan Perjalanan, Angklung Mang Udjo


Berkunjung ke saung angklung Mang Udjo, menjadi bagian utama bagi perjalanan kami ketika ke Bandung pada Juli tahun 2010 yang lalu. Dengan uang masuk lima puluh ribu rupiah, kami ikut sesi pertama pertunjukkan, yaitu jam 10.00 pagi. Pengalaman pertama bagi saya berkunjung dan ikut bermain angklung di Padasuka itu.

Seperti tampak pada gambar, adalah salah satu atraksi dari serangkaian pertunjukkan yang disajikan kepada pononton, yang terdiri dari pengunjung lokal, seperti saya, dan juga para pengunjung asing. Anak-anak adalah bagian dari pertunjukkan itu.

Pertunjukkan yang menampilkan beragam generasi dalam menguasai dan menikmati alat musik dari bambu itu, juga dalam berbagai ragam irama. Mereka semua memainkannya dengan penuh rasa dan bangga. Persis seperti kami yang menjadi penonton. Tidak lupa pula, sebelum acar selesai, kami semua diberikan alat musik bambu itu masing-masing satu buah. Menghafal nada masing-masing dan memainkannya pada saat tanda dari dirijen meminta nada kita untuk dimainkan.

Sebuah alat musik yang juga membuat para pelatih pentas kesenian dari TK dimana saya sekarang ikut serta memegang amanah, tertarik dan memesannya langsung dari Bandung untuk kemudian dimainkan oleh para siswa kelas TK B dalam dua lagu secara apik dan penuh gaung keindahan. Luar biasa.

Dari Tradisi ke Modernisasi

Alat musik tradisi ini secara jelas memberikan gambaran kepada kita tentang jati diri kita di era modern seperti sekarang ini. Musik tradisi yang membangkitkan rasa nasionalisme dan persatuan yang teramat sangat kental. Ia menjadi pengikat kebersamaan kita yang berbeda-beda, bersama semua kekayaan tradisi kita yang kita miliki. Seperti bagaimana rasanya pengalaman yang pernah menghampiri manakala sebuah kagiatan akbar di sekolah menampilkan anak-anak usia lima hingga enam tahun memainkan lagu Tanah Air dengan instrumental angklung.

Apakah itu yang dinamakan cinta tanah air? Mungkin itu kurang lebihnya. Perasaan untuk mensyukuri tentang bagaimana rasa senang dan bahagianya tinggal bersama di sebuah wilayah Indonesia.

Musik tradisi itu jugalah yang anak-anak dan generasi muda Indonesia bawa ke seluruh penjuru dunia untuk mengabarkan betapa harmoni dan indahnya sebuah negara yang bernama Indonesia dalam berbagai bentuk misi keseniannya.

Dari sini pula saya berasumsi bahwa penguasaan tradisi yang kita miliki adalah juga kapital dalam menapakkan diri pada jati diri dalam kehidupan modern seperti saat ini.

Jakarta-Bandung-Jakarta, Juli 2010- Juli 2011.

Catatan Perjalanan, Jakarta-Yogya-Jakarta



Mungkin inilah perjalanan paling menantang untuk saya yang telah relatif berumur ini. Dalam hal perjalanan ini yang saya maksudkan tidak hanya selalu saya sebagai individu, tetapi juga kendaraan yang saya pakai dan durasi yang kita alikasikan. Tiga hal pokok yang menjadi pemikiran dan akhirnya kenyataan pada perjalanan yang kami lakukan pada akhir Juni 2011 lalu. Dan sebagai orang ndeso, tiga hal itulah yang selalu menantang.


Berumur dan Durasi

Sebuah realita yang tidak dapat dipandang biasa saja atau sama saja. Maksud saya, ketika masih usia muda, melakukan perjalanan sejauh itu, saya lakukan dengan penuh semangat dan kecepatan penuh. Tak perduli jalanan yang penuh tambalan atau kendaraan yang telah berusia atau bahkan dengan durasi waktu yang tidak panjang sekalipun. Seingat  saya, saya pernah bersama satu anak dan ditemani adik, menmpuh perjalanan sejauh itu meski hanya libur di hari Senin atau hari Jumat saja. Dan anehnya tetap nikmat meski hari keempatnya, saya telah aktif berada di kantor.

Bagaimana dengan sekarang? Tidak jauh berbeda sebenarnya. Semangat untuk pulang kampung selalu saja menyala. Dengan apapun atau bagaimanapun. Namun penurunan daya tahan untuk terus 'menikmati' jalan, kadang saya sendiri merasakan untuk dipaksakan. Meski kesadaran untuk istirahat selalu menjadi menu. Tidur, misalnya. Jadi, ada perbedaan kan? Belum lagi jikalau jalanan yang tidak kondusif untuk sebuah perjalanan jauh serta kemacetan.

Satu hal yang menjadi catatan penting dalam setiap perjalanan, baik saat dulu atau sekarang, yaitu tidak grosa-grusu. Tidak biayaan. Tidak pecicilan. Tidak sembrono. Karena dalam setiap perjalanan itu, saya selalu menikmatinya tiap centinya. Tiap jengkalnya. Karena saya menyenangi proses selain tujuan. Jadi durasi waktu yang dialokasikan dalam perjalanan menjadi penting bagi saya.

Ideal bukan? Permasalahannya, durasi juga bergantung kepada waktu pakansi. Artinya seberapa lama kita memiliki hari bebas hingga kita dapat secara leluasa menggunakannya untuk sebuah perjalanan? Inilah yang juga membedakan saat saya banyak libur atau sedikit libur. Tapi inilah kenyataan yang ada, yang telah menjadi milik saya.

Jakarta-Yogya-Jakarta, Juli 2011.

Keterangan gambar: Salah satu sudut di Pantai Kukup, Wonosari, Yogyakarta.

Catatan Perjalanan, Ada Sandal...


Sekadar catatan perjalanan saya ketika saya diundang oleh kawan di Kayuagung, awal Juli 2011. Meski sesungguhnya kali itu adalah kali ketiga, saya berkunjung di kota ini.

Namun tampaknya, kunjungan ketiga itu memberikan kesan yang berbeda bagi saya. Mungkin karena kunjungan yang ketiga itu saya tidak 'dititipkan' di penginapan yang ada di kota itu, tapi bersama teman tinggal dan menginap di rumahnya. Ini yang membuat saya justru banyak melihat secara lebih dekat tentang beberapa hal yang akan menjadi catatan saya ini.

Seperti tampak pada gambar yang saya lampirkan di artikel ini, inilah masjid raya di kota Kayuagung. Sebuah masjid yang terawat baik, yang berada di tepian sungai Komering. Kebetulan saya berjamaah di sini bersama dengan beberapa orang yang berasal dari berbagai daerah. Antara lain dari Makassar, yang sempat saya ajak ngobrol seusai salat saat kami ada di pendopo tepian sungai.

Beberapa orang daerah tersebut berada di Kayuagung untuk menunaikan salat karena bertepatan yang bersangkutan sebagai anggota kontingen Pramuka yang kebetulan sedang mengikuti Jamnas. Jambore Nasional, yang tempat pelaksanaannya di Teluk Gelam, lebih kurang 20 km dari Kayuagung. Para anggota Pramuka itu mungkin sedang mencari udara yang berbeda di 'kota', yang kebetulan paling dekat adalah kota Kayuagung itu. 

Selain pertemuan saya dengan anggota Pramuka dari Makassar itu, saya sempat kaget saat pertama sekali memasuki masjid. Saat kumandang azan bergema melalui pengeras suara masjid. Yaitu saat baru saja saya berada di pintu masuk masjid. Karena di sebelah kanan dan kiri pintu masuk masjid, orang meletakkan sandalnya tanpa pembungkus atau dibungkus. Satu hal yang pasti tidak akan saya temui di tempat lain. Karena di tempat lain, selalu ada tulisan 'batas suci' di anak tangga paling bawah pintu masuk masjid. Selain sandal, saya juga melihat adanya tempat sampah kecil yang berdampingan dengan kotak amal. 

Apakah keberadaan sandal itu hanya terjadi di masjid yang saya kunjungi bersama teman dari Makassar itu? Pertanyaan inilah yang akhirnya terjawab oleh saya. Yaitu saat saya salat jamaah di masjid dekat rumah tinggal teman saya. Yaitu saat salat Magrib dan Isyak. Saya menemukan hal yang sama. Bahkan ada beberapa hal yang jauh lebih dari itu. Satu hal yang mungkin harus saya kemukakan kepada sahabat yang mengundang saya ke Kayuagung. 

Mungkinkah budaya seperti itu dapat menjadi koreksi di kelak kemudian hari? Pasti. Saya yakin sekali.

Kayuagung-Jakarta, Juli 2011.

Refleksi Lima Tahun, Agustus 2006-Juli 2011

Keistimewaan saya temukan pada Sabtu tanggal 30 Juli 2011, kemarin. Yang pertama adalah karena hari itu merupakan hari terakhir bagi kami menunaikan tugas setelah pelantikan pada tanggal 17 Agustus 2006, bersamaan, tentunya, dengan upacara bendera tujuhbelasan. Hari kemerdekaan RI. Lima tahun mengemban amanah bersama, tentu suatu hal yang membahagiakan bagi kami para 'pasukan sembilan'. Meski saya adalah bagian kecil dari gerbong tersebut, tetap saya ingin menjadikan hal itu sebagai sebuah kebahagiaan. Wa bil khusus bagi saya pribadi.

Yang kedua, karena hari itu juga saya menemukan bungkusan kado terletak di meja kerja saya. Kado itu langsung saya masukkan ke dalam barang pesanan istri, yang memang telah mewanti-wanti untuk membawa bungkusan yang terdapat di atas meja kerja saya. Jadi ketika menemukan ada bungkusan kado yang lain, saya menagnggapnya itu bagian dari pesanan istri. Jadilah saya langsung memasukkan bungkusan terpisah itu ke dalam plastik titipan istri tanpa terlebih dahulu membaca tulisan yang terdapat pada bungkus kado.

Baru setelah hari menjelang siang dan rapat terakhir kami akan dimulai, ada pesan yang sampai kepada saya agar membawa pulang kado tersebut. Disampaikan juga bahwa kado tersebut berasal dari partner saya yang selama lima (5) tahun ini menjadi teman kerja dan sahabat yang baik bagi saya.

Dan ketika rapat berlangsung, kami menyadari bahwa selama lima tahun ternyata tidak terlalu lama. Saya pribadi merasakan bahwa selama lima tahun itu banyak sekali momen yang tidak saya hadiri atau saksikan. Dan tahu-tahu waktu telah berjalan lima tahun. Waktu yang menjadi durasi bagi kami untuk mengabdi. Dan rapat pada hari itu adalah rapat penutup bagi durasi yang berjarak lima tahun tersebut.

Pernah dalam suatu saat di waktu itu saya menyesali kesanggupan saya untuk ikut serta dalam gerbong 'pasukan sembilan' itu. Karena setelah ikut serta, saya sadar bahwa keberadaan saya dalam gerbong tersebut tidak memberikan warna yang signifikan. Katidak bermaknaan itu mengingat momen yang ada, yang telah mereka disain untuk terjadi, saya berhalangan untuk dapat menghadirinya. Itulah penyesalan saya.

Tetapi, lima tahun telah berakhir pada rapat akhir yang terjadi pada siang itu. Dan saya selain berucap alhamdulillah atas kurang dan mungkin lebihnya, yang telah Allah karuniakan kepada kami, kepada saya. Juga mohon maaf dan ampun atas kekurangan, khilaf, dan kesalahan.

2006-2011.

29 July 2011

Jemuran Baju di Minggu Pagi

Sore ini, saya pulang kantor dan terhambat macet di seputar taman kota yang ada di pangkal jalan Thamrin, Jakarta. Namun bukan jalanan yang penuh sesak oleh kendaraan yang menjadi perhatian saya kali itu, bukan sama sekali. Saya jauh lebih tertarik untuk memperhatikan bagaimana derasnya air memancar dari penyiram taman otomatis bergerak secara teratur ke arah kanan dan kiri dengan irama yang tetap. Dengannya, maka tanah yang ada pada lebih kurang radius empat (4) meter menjadi basah. Tampak sekali bahwa tanah basah itu telah membuat tanaman yang ada begitu hijau, sehat, dan segar. Menumbuhkan rasa sejuk ketika para penduduk kota, seperti saya, menatap dan berada di sekitar taman kota itu.

Keberadaan penyiram otomatis yang memancarkan air secara terus menerus dalam tempo yang relatif lama itu membangkitkan pengalaman buruk yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya. Ketika saya ikut tinggal bersama keluarga Australia yang tinggal di kota Adelide, South Australia. Pengalaman buruk yang pada akhirnya menjadi kenangan lucu buat saya pribadi. Kelucuan itu justru lahir saat saya menghubungkannya dengan perilaku ndeso yang tetap menjadi trade mark saya.

Beginilah lebih kurangnya cerita saya itu:

Pagi hari, pada sebuah hari Minggu, seingat saya itu adalah hari Minggu yang ketiga setelah saya tinggal di rumah keluarga tersebut, saya bangun paling padi di rumah itu. Maklum, selain harus menunaikan solat, saya kebetulan kedingingan dengan suhu yang ada. Meski sepanjang tidur, kasur yang kebetulan ada penghangatnya selalu saya posisikan on. Tapi tetap saja kedinginan. Dan ini mungkin juga bagian dari ke-ndeso-an saya yang lain.

Karena sudah minggu ke tiga, pasti terbayang berapa stel pakaian yang mesti saya cuci. Meski saya berprinsip berpakaian tidak boros. Tapi tetap saja hari itu jadwal harus saya adalah mencuci. Dan karena siang keluarga itu akan mengajak saya jogging di sekitar rumah yang kebetulan tidak jauh dari pantai, maka pagi adalah waktu yang peling tepat bagi saya untuk mencuci.

Beruntung, sehari sebelumnya Ibu yang saya tinggali telah memberikan kursus singkat kepada saya tentang bagaimana mencuci pakaian dengan mesin cuci yang dimilikinya. Oleh karenanya, sembari saya mengingat-ingat instruksi yang telah diberikan kemarin, pagi itu saya masukkan seluruh pakaian kotor saya ke dalam mesin cuci. Semua lancar saya kerjakan. Pakaian saya jemur di halaman belakang rumah yang berupa taman rumput. Tentu dengan menggunakan hangar yang tersedia di jemuran.

Beres mencuci dan menjemur pakaian, saya kembali ke kamar yang persis ada di samping halaman dimana saya menjemur pakaian tadi. Saya membuka kembali buku catatan dan meneruskan membaca novel yang saya bawa dari Jakarta. Hingga saya dikagetkan oleh suara air yang memancar keras dari arah taman di belakang kamar saya. Saya beri tanda berhenti membaca pada halaman buku yang sedang saya baca dan menengok keluar rumah melalui jendela kamar.

Dan saya terkejut luar biasa. Rupanya di halaman taman rumah itu terdapat penyiram tanaman otomatis yang tiba-tiba memancarkan air secara deras dan kencang. Dan air itu antara lain menyiram seluruh pakaian yang baru saja saya jemur. Alamak... pikir saya.

Reflek, saya segera keluar kamar dan mencoba menyelamatkan jemuran saya. Namun apa hendak dikata, sebelum saya berhasil menyelamatkan jemuran saya dari semprotan otomatis tersebut, semprotan itu telah kembali mengarah pada pakaian. Alhasil, saya pun tersiram. Maka saat itu juga saya tertawa sendirian di halaman belakang rumah sembari meninggalkan jemuran yang telah basah kuyup lagi. Termasuk pakaian yang saya kenakan.

Saya segera beranjak masuk rumah sebelum penghuni rumah yang lain memergoki kekonyolan saya di Minggu pagi itu.

2011-2000-2011.


Cerita Teman Saya, yang Kepala Sekolah

Saya membaca berita http://megapolitan.kompas.com/read/2011/07/29/10311085/Kepala.SD.Bekukan.Komite.Sekolah hari ini, Jumat tanggal 29 Juli 2011. "Kegiatan belajar mengajar di SDN Bambu Apus 04 Pagi di Jalan Laksamana VIII, Perumahan Padepokan TMII, Kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (28/7/2011), telah berjalan normal seperti biasa. Sebelumnya pada Rabu (27/7/2011), terjadi penyegelan yang dilakukan oleh wali murid. Aksi penyegelan ini terjadi karena adanya tuntutan para wali murid untuk mengganti Kepala Sekolah SDN Bambu Apus 04 Pagi..."
Berita itu masih berlanjut tentang dugaan korupsi yang dituduhkan oleh pihak orangtua siswa terhadap oknum kepala sekolah tersebut. Deg, saya jadi teringat dua teman baik saya yang menjadi guru dan kepala sekolah di sekolah negeri. Dua-duanya mejadi sahabat saya sejak masih di bangku Sekolah Pendidikan Guru. Keduanya juga adalah sosok guru yang pendidik. Setidaknya itulah keyakinan saya. Dan keyakinan itu juga memastikan (semoga Allah melindunginya dari perbuatan tercela. Amin), bahwa keduanya adalah sosok yang tidak korup.

Teman saya yang guru, sekarang sudah berada di golongan IV A. Mentok hingga ia berhasil membuat penelitian. Dengan golongannya itu, ia mendapat lebih dari dua kali untuk ikut serta menjadi peserta seleksi kepala sekolah yang diselenggarakan instansinya. Dua kali juga ia berada di urutan lima (5) besar kandidat di kecamatannya. Dari urutan itu, maka atasannya akan memberikan kesempatan untuk maju terlebih dahulu dan syukur-syukur nantinya terpilih sebagai kepala sekolah definitif. Namun dua kali juga ia menolak menjadi kepala sekolah. Penolakannya karena dirasakan dia tidak 'siap' sebagaimana isyarat yang diberikan oleh salah seorang selektor kepala sekolah.

Karena ia tidak akan 'siap', maka pengangkatan kepala sekolah jatuh kepada nama selain dia. Begitulah yang menjadi prinsip teman saya yang guru ini. Ia tidak akan 'siap' atau bahkan 'menyiapkan' sesuatu yang berada diluar kompetensi seorang kepala sekolah. Yang pada ujungnya, jabatan kepala sekolah itu tidak akan pernah menghampirinya.

Oleh karenanya, hingga detik ini, saat saya menulis artikel ini, ia tetaplah seorang guru. Meski golongan kepangkatannya, usianya, pendidikannya, kompetensinya, telah mencukupi untuk menjabata sebagai seorang kepala sekolah di sebuah sekolah negeri.

Teman saya yang lain adalah kepala sekolahdi tingkat sekolah dasar. Ia sekarang ini sedang sibuk luar biasa untuk berkompetisi menjadi pengawas pendidikan. Sebuah jabatan yang secara struktural lebih tinggi dari jabatanya sekarang ini.
  • Apa motivasi untuk menjadi pengawas sekolah? Bukankah pengawas sekolah tidak akan mengelola dana BOS atau dana APBN/D? Tanya saya suatu kali ketika kami berkumpul untuk saling berbagi cerita beberapa bulan yang telah lalu.
  • Disitulah nikmatnya Gus. Menjadi pengawas sekolah berarti adalah saya terbebas dari mempertanggungjawabkan dana yang memang sulit dipertanggungjawabkan. Jelasnya. Saya memang tidak berusaha untuk mengejar apa yang dia maksud dari kalimatnya tersebut. Namun teman lain yang berada di sebelah kami memberikan penjelasan betapa jabatan kepala sekolah juga menjadi 'mengerikan' bagi teman-teman saya itu.
Dari sinilah saya mencoba merefleksikan isi berita yang alinea pertamanya saya muat di awal tulisan saya ini. Yaitu cara pandang yang harus saya pegang pada saat membaca, melihat, mendengar berita atau kabar seperti itu dengan penuh kehati-hatian, cermat, holistik, dan sabar. Inilah prinsip saya. Prinsip ini penting buat saya sendiri karena saya tidak ingin menjadi bahan atau barang yang ringkih dan mudah terbakar. Mudah tersulut atau bahkan disulut.

Jakarta, 29 Juli 2011.

05 July 2011

Catatan Perjalanan

Sabtu, 2 Juli 2011, menjadi tanggal yang istimewa untuk adik saya. Karena pada tanggal itulah ia melangsungkan pernikahannya. Juga bagi kami sekeluarga, merasakan kebahagiaan itu. Karena pada hari itu kami semua berkumpul dari berbagai tempat dan dari berbagai generasi.

Saya sendiri, untuk menghadiri acara itu dengan serombongan keluarga besar. Yang selain bertujuan untuk menghadiri dan menyaksikan acara pernikahan juga untuk mengunjungi tempat yang saat itu kami anggap wajib kami kunjungi sebagai tempat rekreasi. Tentu tempat yang memiliki kedekatan dengan acara adik.

Perjalanan menuju lokasi dimana adik saya menikah, kami lalui dengan perjalanan lebih kurang 14 jam dari Jakarta, dimana kami tinggal. Menempuh jalur selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah. Alhamdulillah, tidak ada kendala yang kami jalani. Semua berjalan lancar. Jalanan yang sebelumnya kami perkirakan akan bertemu kemacetan, mengingat cerita beberapa teman yang dua pekan sebelumnya melalui jalur itu, tidak kami temui. Pukul 10.00 kai telah melewati Nagrek yang relatif lancar. Demikian juga pada saat kami melalui Malangbong. Semua kendaraan berjalan dengan baik dan lancar. Memang ada sedikit kendala yang berupa jalan rusak di daerah Karang Pucung, Jawa Tengah, tetapi kai sama sekali tidak menemui kesulitan, selain memang mengurangi kenyamanan dalam perjalan. Selebihnya lancar. Selepas waktu Isyak, kami telah sampai rumah tujuan kami di perbatasan Jawa Tengah dan DIY.

Selama perjalan kami menghadiri acara pernikahan adik saya, sempat kami berkunjung ke tempat wisata yang ada di daerah Gunung Kidul. Yaitu, Pantai Baron, Pantai, Kukup, Pantai Sepanjang, dan Pantai Krakal. Sebuah lokasi pantai yang beda dari pantai yang ada wilayah selatan Jawa. Karena daerah ini adalah daerah karst. Maka disitulah kekhasan dari pantai-pantai yang ada di daerah Gunung Kidul. Keempat pantai itu, ditampah satu lagi pantai Drini, adalah pantai-pantai yang berada saling berdekatan, dengan satu pintu masuk. Jarak antara Pantai Baron di arah barat dengan Pantai Krakal di arah timur, lebih kurang 8 kilometer.

Ada banyak penginapan terdapat di Pantai Baron, Kukup, dan Krakal, jika suatu kali Anda menginginkan bermalam di daerah pantai itu. Sememtara kami sekeluarga memilih bermalam di Kukup, setelah wisma yang kami inginkan sebelumnya penuh. Sebuah wisma yang bernama Kampoeng Baron, yang berada di bukit, setelah pintu masuk atau gerbang pantai.

Perjalanan kami di Gunung Kidul meninggalkan kesan yang menyenangkan. Selain infrastruktur jalan yang mulus, juga menemukan keindahan alam khas pegunungan. Bahkan jika Anda menginginkan berkunjung ke sana, sempatkan untuk singgah di Patuk, lebih kurang 4 atau 5 kilometer dari perempatan lampu merah Piyungan, yang menjadi pintu masuk ke Gunung Kidul dari Yogyakarta, untuk melihat kota Yogyakarta dari atas bukit. Malam hari akan menjadi waktu yang sangat memesona. Karena lampu kota akan meninggalkan kesan indah.

Pulang ke Jakarta, kami singgah ke Goa Jatijajar yang berada di perbatasan Kabupaten Kebumen dan Banyumas. Ada makanan khas yang kami ingini di lokasi ini. Yaitu pecel dengan tambahan kecombrangnya. Juga minuman tradisi yang bernama wedang uwuh. Lima ribu rupiah satu gelasnya.

Hambatan perjalanan baru kami temui ketika kami keluar dari Kabupaten Cirebon dan masuk di daerah Indramayu hingga Simpang Jomin. Ini karena ada beberapa titik jalan yang sedang di perbaiki sehingga jalan satu jalur harus dibagi menjadi dua arah.

Namun, dalam seluruh perjalanan yang kami lakukan itu, kami nilai sebagai perjalanan yang menyenangkan. Sebuah pengalaman yang baik bagi keeratan diantara kami sekeluarga.

Jakarta, 5 Juli 2011.

05 June 2011

Kejujuran dalam Hasil UN, Refleksi untuk UN SMP 2011

Keteguhan kami untuk tetap dan terus memegang kejujuran dalam pelaksanaan UN selalu diuji ketika UN masih kami persiapkan, dilaksanakan, hingga hasilnya keluar. Keteguhan ini tidak saja karena kebetulan saja motto sekolah kami adalah; jujur dan terhormat, yang selalu kami dan anak didik kami ikrarkan setiap pagi hari sebelum pelajaran dimulai. Tetapi karena kami yakin, seyakin-yakinnya bahwa, dengan menjadikan standar kompetensi lulusan (SKL) atau kisi-kisi Ujian Nasional dari BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan), yang kami jadikan sebagai peta belajar peserta didik kami dan peta bekerja kami sebagai guru di sekolah, jauh hari sebelum UN itu berlangsung, pasti akan berhasil.

Maka dari yakin itulah kami bertanya; Jadi untuk apa lagi kami harus melakukan ketidakjujuran dalam menghantarkan anak didik kami untuk sukses lulus, bahkan dengan nilai optimal, bila dengan jujurpun kami yakin bisa dapatkan itu? Inilah salah satu filosofi dasar kami untuk menghantarkan generasi di sekolah kami sebagai generasi yang jujur dan terhormat.

Karena SKL atau kisi-kisi adalah panduan bagi peserta ujian untuk menguasai apa yang akan diujikan. Dengan logika inilah kami justru dapat dengan gamblang membuat target seberapa persen keberhasilan yang kami inginkan. Logika ini juga membelajarkan kepada kami bahwa hasil Ujian Nasional hanyalah implikasi atau akibat atau konsekuensi dari ikhtiar cerdas dan keras kami.

Ketidakjujuran dalam memperoleh hasil ujian sebaik apapun, bagi kami, akan menjerumuskan kami Kepada lenyapnya percayadiri untuk yakin dapat berhasil. Juga akan menghilangkan etos kerja yang unggul pada diri kami. Dua bentuk perilaku yang justru merupakan pintu gerbang keberhasilan hidup yang sesungguhnya bagi kami dimasa nanti. Masa ketika peserta didik kami adalah penentu kehidupan diri mereka masing-masing dan lingkungannya.

Dan manakala percaya diri serta komitmen kerja keras dan cerdas yang merupakan benih bagi lahirnya etos kerja, maka berarti jalan kebohongan, ketidakjujuran, kelicikan, atau bentuk kerja yang tidak luhur lainnya, hanya akan melahirkan pola kerja atau etos kerja bobrok di masa berikutnya. Ia tidak akan berujung kepada keberkahan. Ia selalu akan melahirkan kesengsaraan dan ketidakbermaknaan hidup. Karena hidup telah teraliri oleh darah ketidaktentraman sejak dimulainya.

Hasil UN

Apa yang saya sampaikan di atas tidak lain dari kenyataan yang harus kami alami. Dimana dihari terakhir palaksanaan UN SMP pada Kamis, 28 April 2011, satu dari siswa kami memberikan testimoni bahwa jawaban yang didapatnya dari SMS adalah benar.

Tantu kami tidak percaya atas apa yang disampaikannya. Mengingat Ada 5 jenis soal UN dalam setiap ruangan ujian. Dengan dua pengawas ujian dari sekolah luar. Sehingga bilapun mendapat SMS tentu mereka harus benar-benar dituntut kepintaran juga untuk menentukan apakah kunci dari SMS tersebut cocok dengan model soal yang menjadi miliknya? Selain itu kami juga telah bersepakat bersama seluruh komponen sekolah untuk berpegang teguh kepada kejujuran. Namun itulah cerita yang tidak dapat kami percayai. Setidaknya ketika hasil UN belum dapat membuktikannya.

Dan kayakinan itupun datang bersamaan ketika kami terima daftar nilai hasil UN Kamis, 2 Juni 2011. Meski saat itu nilai masih menjadi rahasia kami, kami dibuatnya kaget, tidak percaya, dan gemes. Bahwa SMS yang semula tidak kami yakini, sedikit banyak telah membuat kami geleng-geleng kepala.

Bagaimana mungkin siswa yang sehari-hari berada di bagian tengah ke bawah, dalam nilai UN menjadi paling atas? Lalu kami berpikir, bagaiamana jika anak-anak itu nanti dipanggil untuk naik ke panggung atas 'keberhasilannya' itu saat pelepasan siswa kelas IX? Apa yang akan menjadi reaksi dari masing-masing pihak yang hadir.

Dengan kenyataan itulah saya membuat refleksi ini; Dimanakah kejujuran itu terlihat dalam hasil nilai UN peserta didik kita? Atau; Harus bagaimanakah kami berjuang mempertahankan prinsip hidup jujur dan terhormat itu dikemudian hari? Dan tanpa harus mengeluh, saya meminta semua dari kami, untuk tidak meninggalkan khittah perjuangan luhur kami. Meski udara tetap dipenuhi polusi kebohongan!

Jakarta, 5 Juni 2011

02 June 2011

Curug Cibogo, Cibodas


Perjalanan waktu telah merubah akses jalan menuju Curug Cibogo dari pintu gerbang masuk di Taman Cibodas tertata relatif baik. Meski akses jalan itu bukan merupakan konstruksi baru. Namun cukup membuat pengunjung, termasuk saya saat itu, merasakan kenyamanan saat memasukinya dan mengambil gambar sebagai kenangan.

Itulah yang saya alami saat mengunjungi lokasi wisata di Taman Cibodas yang berjarak tempuh lebih kurang tiga setengah jam perjalan dari Jakarta melalui jalur jalan tol Jagorawi, Puncak, hingga masuk di wilayah taman. Tentu dalam keadaan jalur lalu lintas ramai lancar.

Cahaya matahari yang terang tidak terasa hangat atau bahkan menyengat disini. Karena udara yang sangat sejuk membuat hangatnya matahari seperti tidak sampai di Cibodas. Saya harus berjalan lebih kurang 20 menit saja dari pintu gerbang taman. Jalan santai. Berdekatan dengan curug, terdapat pula Taman Sakura. Taman yang terlihat sangat jelas begitu kita memasuki jalan setapak menuju curug.

Namun seperti tempat wisata lain di tanah aor tercinta ini, yaitu keberadaan tempat jajanan atau warung yang beridiri baik secara legal atau mungkin ilegal, yang tidak bersinergi dengan kecantikan taman dan pesona alam yang disuguhkan. Seperti tampak pada gambar tersebut. Dimana warung tenda biru yang membuat pesona keindahan langsung lenyap begitu mata menatapnya.

Mungkinkah hal seperti ini tidak terjadi di masa mendatang saat anak atau bahkan cucu kita menjadi penguasa menggantikan kita di negeri tercinta ini? Atau mungkin justru sebaliknya yang akan terjadi? Semua bergantung kepada sejauh mana komitmen kita untuk menjaga 'tata krama' sosial yang dalam ranah ketatapemerintahan dinamakan peraturan. Mungkinkah? Semoga selalu mungkin. Amin.

Jakarta, 3 Juni 2011

01 June 2011

Di Manakah Jujur Berada?


Dimanakah jujur itu berada dalam khasanah hidup kita sekarang ini? Apakah masih berada dalam hati kita masing-masing sehingga masing-masing kita tidak mampu untuk saling mengintip? Apakah berada dalam buku catatan kita masing-masing. Apakah ada di dalam nilai ujian kita sehingga darinya akan tercermin dengan jelas pada angka-angka nilai ujian tersebut? Atau adakah jujur itu hanya tersimpan dengan apik di halaman kamus besar kita? Dimana? Bukankah jujur itu berada dalam ranah operasional kehidupan kita yang bernama amal?

Ini harus saya tanyakan karena saya merasa frustasi ketika menjadikan dan meyakini bahwa jujur adalah modal utama untuk mencapai kehebatan paripurna di kehidupan kita ke depan. Tapi dalam kenyataan hidup, jujur menjadi barang yang asing. Dimanapun di ranah hidup kita, hidup Anda, dan pastinya hidup saya. Jujur menjadi sulit kita jumpai tanpa terkontaminasi ketidakjujuran. Ia seperti menjadi satu.

Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya, belum selesai saya membaca halaman pertama dalam surat kabar, saya seperti mencium gelagat tidak jujur. Demikian juga dalam halaman-halaman berikutnya. Jikalau berita dalam koran atau surat kabar tersebut mempu bersaksi secara ‘live’ di hadapan kita, pasti gelagat itu akan menjadi semakin mudah saya tangkap. Dan kita semua menjadi pasti untuk memberikan ponten kepada pelakuknya.

Bahkan bukan saja ketidakjujuran itu hanya merambah di ranah politik, namun juga telah menghunjam dengan sangat dalam dan membekas dalam ranah kehidupan sekolah. Seperti juga proses pelaksanaan yang menggunakan dana atau bahkan untuk penilaian sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Pendek kata, jujur, menjadi barang yang sangat langka. Dan oleh karenanya, tidak perlu kita mengharap kebaikan bagi generasi penerus kita akan menjadi lebih baik, karena sekarang saja kita telah melihat betapa tidak jujur menjadi salah satu jalan atau indikator tersembunyi dari sebuah nilai di rapot dan atau ijazah keberhasilan anak-anak kita. Sikap seperti ini bukan berarti saya pesimis melihat masa depan, tapi inilah refleksi kengerian saya terhadap apa yang  dilakukan oleh sebagian dari kita. Betapa kita telah mengharapkan sesuatu yang baik dimasa depan namun kita upayakan hari ini dengan sesuatu usaha dan jalan yang tidak baik?

Sulit, karena ketikapun kita telah bertekad untuk melaksanakan proses jujur itu selama mempersiapkan anak-anak kita tumbuh, masih ada penetrasi ketidakjujuran itu dari pihak luar kita yang  juga, sangat sulit bagi kita memproteksinya. Apakah perlu di masa mendatang kita menyita seluruh seluler siswa menjelang dan hingga akhir pelaksanaan ujian nasional?

Tapi haruskah begitu protektifnya kita untuk supaya proses jujur itu dapat berlangsung dengan baik?

Jakarta, 30 Mei-1 Juni  2011.

Terserang Penyakit Berhenti Menulis


Saya beberapa waktu kemarin tiba-tiba merasa terserang penyakit berhenti menulis. Terutama sejak pertengan bula Mei hingga hari ini, Senin, 30 Mei 2011. Penyakit yang benar-benar menyerang jiwa dan raga saya dengan parah. Dengannya, saya dibuat tidak berkutik sama sekali. Jadilah selama waktu itu saya tidak membuat refleksi tertulis di ‘buku’ saya yang manapun. Buku harian, blog, catatan, dan juga halaman tercinta ini. Semua saya biarkan kosong. Tidak tercermin darinya suasana apa yang sedang saya rasakan.

Apakah karena tidak ada kejadian yang pantas saya buat tulisan selama waktu itu? Tidak juga. Ada. Bahkan terlalu banyak jika saya menyebutnya satu persatu. Baik yang berkait dengan apa yang ada dalam diri saya atau juga yang ada di luar diri saya.

Apakah malas yang menjadi virus dari penyakit berhenti menulis itu? Tidak juga. Saya dengan tekad bulat sudah menyingkirkan sejauh yang dapat saya lakukan keberadaan virus malas itu. Walau kadang memang masih datang menghampiri saya, tapi hasil terapi yang saya jalani telah mampu menyingkirkan dan mengkarantinakan virus malas itu.

Lalu apa penyebab terserangnya diri saya ini oleh penyakit berhenti menulis itu? Tidak lain adalah data yang dapat saya percayai bahwa saya menulis hanya menghasilkan bunyi sunyi, katarsis yang tanpa memberikan resonansi pada dunia di sekeliling saya. Data inilah yang meyakinkan pada diri saya untuk tidak perlu lagi menulis. Apapun bentuk tulisan itu.

Tapi hari ini, saya mencoba untuk berpikir yang berbeda. Saya harus membuang jauh motivasi menulis saya. Saya tidak memperdulikan apakah ada atau terjadinya resonansi di sekitar saya dengan tulisan saya itu? Saya mencoba untuk tidak merasa besar atau merasa penting. Tidak juga merasa pintar, merasa lihai, atau juga marasa diperlukan dengan atau dari tulisan saya itu. Saya harus merasa biasa saja.

Saya harus merasa cukup bila ketika berhasil menulis adalah berarti saya telah beroleh pikiran yang akan melahirkan kebugaran dalam ranah kejiwaan. Sehat jiwa inilah tujuan akhir yang harus saya gapai dari kegiatan yang selama ini saya lakuan.  Itulah tujuan baru dari kegiatan saya menulis ini. Bukan untuk yang lain.

Semoga bermanfaat.

Jakarta, 30 Mei - 1 Juni 2011

18 May 2011

Pak Menteri, Masih ada Hari 'Kejepit' Lagi!


Masih akan ada lagi hari 'kejepit nasional' lagi. Teman-teman sering menyebut dengan singkatan 'harpitnas', yang adalah akronim dari hari 'kejepit' nasional. Hari 'kejepit'? Ya memang itulah kenyataannya. Sebuah ungkapan yang kok ya ngak pas. Biasanya yang kejepit itu jari tangan (?). Ada juga istilah yang sebenarnya tidak pas. Misalnya ungkapan bahwa soal ulangan atau oal ujiannya 'bocor'. Kan yang bocor seharusnya ember, genting, tapi di masyarakat kita istilah soal ulangannya bocor atau ujian yang bocor, sudah menjadi maklum nasional.

Baiklah, terlepas dari ungkapan yang mungkin akan memancing Anda yag konsen kepada kebakuan dari istilah, saya akan kembali kepada persoalan yang sangat ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Yaitu ajakan kepada kita semua untuk sama-sama mengingatkan kepada Pak Menteri kita, apakah Jumat tanggal 3 Juni nanti akan menjadi hari libur atau hari cuti bersama?

Mohon maaf ini harus saya sampaikan, mengingat Senin tanggal 16 Mei lalu saya dengan amat sangat terpaksa tidak patuh kepada himbauan Bapak. Tidak ada maksud lain. Itu hanya kendala teknis yang saya alami. Karena saya baru mendapat berita sekitar pukul 16.00, pada hari Jumat tanggal 13 Mei, dimana seluruh siswa saya pada saay itu telah pulang semua. Dan sebagian besar guru kami juga telah pulang. Selain itu, perlu juga saya sampaikan disini bahwa Sabtu adalah hari libur kami.

Saya hanya berpikir, terlalu buruk jika untuk libur yang tidak dikarenakan sesuatu yang darurat, lalu kami umumkan Senin tanggal 16 Mei sebagai cuti bersama tidak melalui surat resmi sekolah tetapi melalu jaringan komunikasi seluler yang kami telah buat. Kecuali jika informasi libur mendadak tersebut karena sesuatu yang darurat.

Oleh karenanya, sekali lagi saya mohon maaf untuk tidak mematuhi SKB yang Bapak-Bapak Menteri sudah putuskan. Sekolah kami tetap masuk seperti biasa pada Senin tanggal 16 Mei lau. Kami amat sangat menghargai atas gerak cepat Bapak-Bapak yang meski dengan waktu yang mepet tetapi masih mampu membuat keputusan untuk kami.

Mengingat kejadian itulah, maka kami mengingatkan Bapak-Bapak, bahwa masih ada hari 'kejepit' lagi. Tepatnya pada Jumat, 3 Juni 2011. Apakah juga menjadi hari libur cuti bersama? Kami menunggu keputusan itu segera, tentunya sebelum hari Selasa, 31 Mei 2011, agar supaya kami bisa mengirim surat untuk para orangtua siswa, dan supaya kami juga dapat membuat rencana mau kemana liburan empat hari itu.

Jakarta, 18 Mei 2011

15 May 2011

Take the Glory, Apakah Termasuk Penyakit Gila Hormat?

Asli, ini istilah saya dapatkan dari teman satu ruangan di kantor saya yang lama. Ada beberapa istilah yang saya dapat ingat yang menjadi trade mark-nya selama empat tahun setengah kami satu kantor dan berhimpitan tanggung jawab. Maklum, saat itu saya sebagai Upper Primary Principal dan dia Expatriate Primary Principal. Jadi berdempetan tanggung jawab kami. Istilah take the glory ini menjadi kesimpulannya ketika saat ada seseorang yang selalu tampil di depan manakala sukses di dapatnya atau kelasnya raih. Dan biasanya mereka mengkomunikasikan dengan berbusa-busa. Istilah untuk mereka yang tidak ada matinya ketika harus tampil untuk keberhasilan temannya sekalipun. Tanpa rasa sungkan dan malu lagi, ia akan berdiri di depan.

Tokoh ini hanya mengakui keberhasilan, yang seolah-olah menjadi usaha kerasnya sendiri, tanpa mengakui kontribusi orang lain. Mungkin dalam kamusnya, keberhasilan adalah dirinya dan orang disekitarnya cukup sebagai pelengkap. Sedang ketidakberhasilan semua merupakan akibat dari orang lain. Tidak adil memang, tapi itulah kenyataan dari perilaku model manusia ini. Ungkapan teman itu pertama sekali saya dengar manakala ada staf kami yang berperilaku seprti itu dalam menyikapi performa kerjanya. Maka lahirnya julukan take the glory untuk perilaku yang dia tampilkan tersebut.

Istilah lain yang masih saya ingat antara lain adalah; The drama queen. Ini istilah untuk mereka yang ketika di depan kita selalu manis dan legit luar biasa. Namun di saat dan situasi berbeda, atau ketika berada di belakang kita, ia akan menyampaikan sesuatu yang buruk tentang kita di hadapan temannya. Mungkin singkat katanya adalah manis di depan kita dan tidak saat di belakang kita. Tapi karena sudah karakter, maka dua peran yang saling berlawanan itu selalu apik dijalaninya. Itulah the drama queen.

Take the Glory

Dalam perjalanan hidup saya berikutnya, saya masih dan selalu bertemu dengan dua sosok yang memiliki karakter sebagaimana saya sebutkan di atas. Tentu dengan kapasitas dan corak yang berbeda. Namun tetap dengan esensi sama.

Baru-baru ini misalnya, menimpa pada sahabat karib saya. Dimana dia marah terhadap seseorang karena telah berkontribusi pada lahirnya masalah di kantor. Padahal jika dirunut, masalah yang lahir tersebut menjadi bagian paling inheren yang harus ditanganinya. Namun anehnya, justru orang dan pihak atau bagian lain yang menjadi caci makinya. Maka teman saya bertanya balik kepadanya untuk 'menyehatkan' pikirannya dikala amarah sedang berkecamuk. Bukankah Andalah pemimpin untuk bagian yang tengah dilanda masalah itu? Mengapa harus menunjuk orang lain? Apakah seperti itu cara penyelesaian masalahnya?

Sebuah pertanyaan yang mungkin bermakna mendalam bila kita adalah staf atau pemimpin yang memang siap berkarya untuk situasi yang kondusif atau tidak. Karena hanya jenis manusia seperti itu yang keberhasilannya akan menjadi paripurna. Sedang bagi siapa saja yang hanya siap berkarya dan sukses dalam arena yang kondusif saja, maka ketahuilah bahwa sekeliling kita sesungguhnya sedang menertawakan kita. Tentu tanpa kita sendiri menyadarinya. Karena penyakit dari perilaku take the glory itu. Penyakit gila kedudukan atau juga gila hormat.

Jakarta, 15 Mei 2011.

13 May 2011

Dari HPnya, Saya Melihat Sosok yang Diteladaninya

Berikut adalah cerita tentang HP siswa di sekolah saya. Dan darinya, daya melihat dengan terang benderang bagaimana sosok yang menjadi panutan dan teladannya. Oleh karenanya, dari telepon seluler yang digunakan siswa saya di sekolah itu, saya melihat dan bisa bisa belajar katakter baik dan buruk. Tentu dari jenis seluler yang digunakannya serta cara pandangnya terhadap alat komunikasi nir kabel itu.

Sesuatu yang saya sendiri akhirnya dapat menghargai dan sekaligus mensyukuri apa yang menjadi karunia Allah Kepada saya dan keluarga. Itulah sekelimut motivasi mengapa saya harus menuliskan tentang hal ini. Khususnya yang berkenaan dengan jenis dan merek HP mereka dan bagaimana mereka memperlakukan serta menggunakannya. Meski saya hanya melihatnya dari lingkungan sekolah.

Sebagai guru, terus terang kadang saya cemburu dengan alat komunikasi seluler yang mereka pakai. Dan rasa cemburu itu tidak saja pada saat ini, tetapi sejak saya melihat bahwa siswa SMP kami diizinkan membawa HP ke sekolah, meski ditambahi syarat bahwa, selama jam sekolah HP-HP itu disimpan oleh guru kelas. Dan akan dikembalikan kembali setelah jam usai belajar sebelum siswa pulang.

Rasa iri kepada jenis HP yang sebagian siswa pakai itu, karena mereka menggunakan jenis seluler yang terkini dan jauh lebih modern dibanding yang saya pakai atau guru-guru pakai. Meski harus diakui bahwa kelas ekonomi kami memang berbeda. Pernah, suatu saat dulu, ketika saya melihat siswa sedang memainkan komunikator di halaman sekolah sesudah jam sekolah, rasa iri itu terbit. Dan saya meresa jauh tertinggal. Karena jenis HP itu adalah impian saya. Ini karena sesuai dengan kebutuhan saya dalam berkomunikasi dan membuat catatan dimanapun saya berada dan kapan saja. Namun impian itu sudah menjadi sejarah. Karena hingga kini belum juga terlaksana sementar jenis alat komunikasi itu sudah tidak produksi lagi.

Numun dilain pihak, saya juga kagum dengan sebagian dari mereka yang oleh orangtuanya dibekali alat komunikasi dengan tanpa kamera, tanpa koneksi internet. Seluluer dengan hanya memiliki fungsi pokoknya saja; telepon dan sms. Dan ini hanya sebagian kecilnya saja. Apakah siswa yang sebagain kecil itu menjadi tidak percaya diri ketika harus memegang seluler yang ‘berbeda’ dengan apa yang diopergunakan oleh teman-temannya yang canggih itu? Tidak sama sekali. Siswa itu tetap mengeluarkan selulernya di lapangan sekolah sebagai alat berkomunikasi tanpa rasa minder sedikitpun.

Sebagai ilustrasi rasa percaya diri itu, saya punya ceritanya. Suatu saat, dimana saya menjadi salah satu dari ‘pengawal’ anak-anak itu dalam perjalan perpisahan menjelang kelulusannya ke Yogyakarta dengan menumpang kereta api. Menjelang masuk kota Yogyakarta, seorang siswa tampak mengeluarkan HP ‘lokal’nya dan bertanya kepada saya yang duduk tidak jauh darinya;
· Bapak tahu ngak kode untuk Yogyakarta?
· Maaf, Pak Agus tidak tahu. Jawab saya.
· Kalau Yogyakarta pakai j atau y ya Pak?
· Pakai y. Yogyakarta. Kata saya.
· Terima kasih Pak Agus.

Saya kagum luar biasa dengan anak itu. Tidak lain karena percaya dirinya mengeluarkan HP ‘lokal’nya itu. Dua tahun sudah Ia meninggalkan bangku sekolah kami, dan saya sungguh merindukannya. Apakah ia sendirian? Tidak. Masih ada beberapa banyak diantara siswa kami sekarang ini yang memiliki prinsip hidup sederhana sepertinya.

Sebagai remaja yang tetap eksis dengan barang sederhana yang dimilikinya diantara berang-barang yang tergolong mewah yang dimiliki oleh sebagian besar temannya, adalah sebuah perilaku yang lahir tidak dengan sekonyong-konyong. Ia pasti lahir dari teladan yang juga tangguh dalam kesederhanaan dari rumah mereka masing-masing. Itulah yang saya maksud dengan dari HPnya, saya bisa melihat sosok yang diteladaninya di rumah. Pertanyaan saya; bagaimana dengan kita? Model apakah teladan yang kita berikan kepada putra-putri kita di rumah?

Cibodas, 11 Mei - Jakarta, 13 Mei 2011.

09 May 2011

Merencanakan Pulang ke Kampung

Saya harus merencanakan pulang ke kampung Juni ini. Bukan saja karena adanya akad nikah fdn walimah adik saya, yang menjadi amanah terakhir dari Bapak kepada saya sebelum Bapak meninggalkan kami anak-anaknya untuk selamanya, tetapi kareja dalam pulang kampung ini akan juga dibarengi dengan perjalanan pesiar bersama dengan keluarga kakak-kakak dari istri, yang memang tidak punya tradisi pulang kampung lagi. Sehingga pulang kampung bulan Juni ini harus saya diskusikan atau paparkan bersama kepada keluarga. Itulah maka kami bertemu dengan agenda tunggal, merencanakan pulang ke kampung.

Bersama keluarga yang berasal dari saya, pulang kampung bulan Juni akan menjadi sarana pemanasan sebelum pulang bersama Idul Fitri di akhir bulan Agustus nanti. Oleh karena itu pulang kampung akhir Juni ini, hanya memiliki tujuan utamanya, yaitu pernikahan adik.
Bersama keluarga istri, selain menghadiri walimahan pernikahan adalah pesiar keluarga. Itu momen tahunan yang seru menurut kami. Kami akan menggunakan transpotasi darat menggunakan kendaraan. Kami sekeluarga besar adalah penikmat jalan. hampir setiap dua jam dalam perjalanan, kami akan mencari tempat untuk beristirahat yang nyaman, meski hanya sekedar untuk membuang air kecil. Namun karena keterbatasan sarana, maka menggunakan kendaraan sewaan menjadi pilihan terbaik.

Kami merencanakan untuk berangkat dari Jakarta menuju Wojo, kampung kampung yang kami tuju, pada Rabu, 29 Juni 2011 pagi. Dalam agenda, hari berikutnya, Kamis, 30 Juni rombongan dari Wojo menuju Solo sebelum mampir untuk makan siang di Jejamuran atau makan ikan wader di Pakem, di Sleman.
Di Solo, tempat yang mungkin akan menjadi persinggahan adalah Laweyan, Arion, Klewer, Kauman, dan makan nasi liwet serta jangan ketinggalan mencicipi serabi dan tengkleng.

Jumat tanggal 1 Juli, perjalanan akan kami lanjutkan ke Gunung Kidul untuk melihat eksotika pantainya. Kami masih belum tentukan pantai yang mana yang akan kami kunjungi. Dari pantai, kami akan langsung menuju Kota Gede untuk melihat Perak dan coklat Monggo sebelum akhirnya bermalam di Yogyakarta hingga Minggu, 3 Juli. Yang rencananya kami akan berangkat kembali ke Jakarta.

Perjalanan Jakarta-Wojo-Jakarta, akan kami tempuh melalui rute selatan secara keseluruhan. Karena inilah jalanan yang paling kondusif untuk saat ini. Itu karena jalanan perbaikan di Subang, serta jalanan yang rusak di daerah Ketanggungan-Prupuk, serta Bumiayu yang akan menjebak kita dalam kemacetan.

Ini pilihan yang tidak biasanya untuk saya. Karena saya hampir selalu mengambil jalan menuju Wojo dari Jakarta melalui Pantura hingga Cirebon, untuk kemudian berhenti di Brebes guna membeli telur asin kesukaan saya, baru kemudian lanjut ke Bumiayu, Ajibarang, Purwokerto, Buntu, lanjut ke Wojo. Dan dari Wojo menuju Jakarta dari Wojo mengambil rute Wojo, Buntu, Wangon, Wanareja, Banjar, lanjut Bandung, Jakarta.

Kami berharap; Semoga kekuatan, kemudahan, dan keberkahan dari Allah untuk perjalanan kami sekeluarga nanti. Amin.

Jakarta, 8 Mei 2011.

08 May 2011

Saya Merasa Hebat, Refleksi Diri atas Realitas Sosial


Sungguh, perasaan bahwa saaya hebat, telah benar-benar merasuki kepala saya dan bahkan keyakinan itu mengendap begitu mendasar dalam batin saya.  Dan bukan tanpa alas an mengapa saya menjadi berkeyakinan seperti ini. Itu semua karena berulangnya perjalanan hidup yang membuat tesis saya semakin mendekati anomaly kebenaran bahwa saya hebat. Setidaknya itulah rekam jejak yang telah menjadi sejarah hidup saya sehingga sekarang ini.
Bagaimana tidak hebat jika saya mampu menjadi salah satu dari yang sedikit diantara generasi saya yang mampu keluar sebagai lulusan mumtaz di sebuah perguruan tinggi paling bergengsi di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika setelah itupun saya mampu masuk sebagai bagian dari staf pegawai di sebuah lembaga yang bonafid di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika sayapun, setelah menjadi salah satu pegawai, masih pula mampu menyelesaikan studi magister juga dengan nilai yang istimewa di sebuah lembaga pendidikan yang juga paling sulit dimasuki oleh calon mahasiswa tidak benar-benar pintar? Bagaimana tidak hebat jika saya juga akhirnya mampu mendepak orang yang sebelumnya diyakini sebagai pendiri dari lembaga yang semula menampung saya hanya sebagai staf dan kemudian mendapat amanah untuk memimpin lembaga tersebut?

Itulah deretan kehebatan saya sejauh perjalan hidup yang telah saya lalui ini. Kehebatan yang akhirnya menjadi kemantapan saya untuk mampu  menerima tantang di sebuah tempat yang sesungguhnya saya tidak atau belum mengetahui secara detil.

Rasa hebat itulah yang pada ujungnya menjadi kesulitan saya. Meski saya yakin benar bahwa apa yang saya lakukan untuk lembaga baru saya itu sebagai sebuah ikhtiar dalam menuju lembaga yang lebih modern, dinamis, dan eksis. Sebuah keyakinan hebat yang begitu berkobar, dan ternyata justru menjadikan halangan terbesar bagi saya untuk tidak mendapatkan predikat hebat selanjutnya?

Sebelum saya lanjutkan uraian ini, saya memohon kepada pembaca untuk tidak tidak menarik kesimpulan buruk tentang saya. Meski telah saya uraikan cukup jelas bahwa rekam jejak saya yang hebat di atas tersebut. Karena refleksi ini sangat boleh jadi akan menjadi peta sukses kita dalam menuju tujuan di masa depan yang jauh lebih bercahaya.

Hebat Paripurna

Pada akhirnya, setelah melalui etape refleksi diri yang jujur, saya menyadari bahwa kegagalan saya dalam menunaikan tugas sebagai komandan di sebuah lembaga tersebut, justru  berawal sekali dari keyakinan saya sendiri tentang betapa hebatnya saya. Itulah yang akhirnya menyadarkan diri saya untuk membuat keyakinan baru bahwa, hebatnya saya adalah sebuah kapital dan potensi. Namun bagaimana saya untuk mampu mengelaborasi lingkungan sekitar saya dalam menggapai mimpi lembaga yang diamanahkan kepada saya, adalah kehebatan yang saya anggap sebagai hebat yang sesungguhnya. Hebat yang paripurna.

Kehebatan pada tahap saya memperoleh ijazah dan sertifikat di dunia pendidikan atau dunia kerja, adalah hebat yang berada pada tahap dasar. Hebat yang dapat memojokkan kita pada rasa percaya diri tidak berkesudahan. Hebat yang justru menjerumuskan kita kepada watak angkuh. Sedang hebat paripurna adalah hebat ketika kehebatan itu justru memasukkan kita ke lokasi kerendahan hati.

Jakarta, 8 Mei 2011.

Komisidelapan et Yahoo dot Com


Inilah alamat email yang dikumandangkan oleh anggota komisi delapan DPR RI ketika berdialog dengan masyarakat Inondesia di KJRI di kota Melbourne. Alamat email yang akhirnya menjadi bagian dari penilaian masyarakat Indonesia terhadap para wakilnya di Senayan. Dan alamat email yang menjadikan berita hangat di hampir seluruh media, seperti apa yang saya saksikan di sebuah stasiun tv di akhir pekan ini, Minggu tanggal 8 Mei 2011. Setelah sebelumnya ramai menajdi perbincangan di berbagai komunitas dunia maya.

Kenyataan itu, bagi saya, menunjukkan bahwa betapa para pemangku kepentingan di negeri saya ini sebagai sosok yang terlanjur terserang virus kemanjon.

Kemanjon

Ini istilah Jawa, yang artinya lebih kurang adalah seseorang yang Jika pada realitasnya berada pada posisi 6, namun sepanjang perjalanan hidupnya yang tergambar pada pikirannya dan perilakunya berada pada posisi 9. Dan kronisnya dari penyakit ini adalah karena kita tahu dia berada dimana namun dia justru tidak tahu dan bahkan tidak sadari kenyataan itu.

Bagaimana tidak kemanjon, kalau memang tidak  punya alamat email, mengapa mesti ngotot menyebutkan sebuah alamat yang memang kosong? Dan mengapa pula kalau salah lalu beramai-ramai yang di Jakarta memberikan pembelaan? Apakah ini tidak meleset jika saya menyebutkannya sebagai penyakit kemanjon?

Apakah ini bukan sebuah fenomena ajaib? Jangankan kita berharap kepada mereka untuk berlaku jujur, tidak kkn, memegang teguh amanah, dan tuntutan untuk berperilaku surga, bahkan untuk menyebutkan alamat email saja mereka berbohong dan kemudian membelanya sebagai sebuah watak yang wajar?

Kecewa sebagai Simpatisan

Kecewa memang, tapi saya harus syukuri bahwa selama ini saya bukan sebagai kader. Oleh karenanya mudah bagi saya, yang hanya simpatisan ini, untuk tidak lagi berangkat ke TPS dan hanya fokus kepada pekerjaan saya saja.

Terlalu sakit hati hati saya jika saya harus membaca berita tentang situasi dan kondisi kehidupan politik negeri ini. Meski itu semua tidak akan menghapus rasa cinta saya kepada  tumpah dari saya ini.  Lebih menjadi sakit hati lagi jika saya selalu berprasangka baik selama  ada kesempatan untuk datang ke TPS.

Namun setelah ke sekian kalinya rasa sakit hati itu datang, maka saya tulis catatan ini sebagai katarsis jiwa yang amat sangat kecewa.

Jakarta, 8 Mei 2011.

03 May 2011

Upacara Bendera yang Bermakna


Upacara bendera akan menjadi kewajiban untuk semua sekolah di Indonesia, mulai tahun pelajaran 2011-2012. Demikian disampaikan oleh menteri Kemendiknas M Nuh (Kompas, 30 April 2011). Upacara bendera akan menjadi wajib bagi setiap sekolah setelah pemerintah menyadari bahwa ada beberapa sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera. Ketidakadanya pelaksanaan upacara bendera di beberapa sekolah tersebut diduga karena penghormatan terhadap bendera adalah sesuatu yang dianggap perbuatan terlarang.
Selain itu, adanya eskalasi kekerasan dan pengeboman dari golongan radikal yang tumbuh subur di kalangan generasi muda kita. Indikasinya antara lain adalah sedikitnya generasi penerus tersebut yang hafal akan lagu-lagu wajib nasional. Sebuah fenomena menurunnya rasa cinta tanah air dan lunturnya semangat kebersamaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

Kenyataan-kenyataan seperti itulah yang menjadi pemicu bagi ketentuan dari kemendiknas tentang wajibnya bagi semua sekolah dalam penyelenggaraan upacara bendera mulai tahun pelajaran depan. Namun demikian, agar keputusan itu nantinya tidak hanya berhenti kepada seremonial yang hanya menjadi rutinitas, maka diperlukan revitalisasi bagi pelaksanaan upacara bendera itu sendiri. Tulisan ini mencoba melihat beberapa hal yang mengurangi bobot kebermaknaan dari pelaksanaan upacara bendera tersebut.

Upacara Bendera yang Membosankan 

Upacara bendera sebagai salah satu wahana bagi penanaman rasa cinta tanah air dan nasionalisme, menjadi kesepakatan kita bersama. Namun efektifitas wahana tersebut masih membutuhkan kesungguhan dari kita yang berupa komitmen untuk melaksanakan dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan kehidmatan. 

Padahal, dalam pelaksanaan kegiatan sebuah upacara bendera sebagaimana selama ini kita lakukan, kegiatan ini masih menjadi bagian dari beban sekolah. Hal inilah yang harus menjadi catatan untuk kita semua di lapangan atau lembaga sekolah kita masing-masing agar, kegiatan upacara bendera dapat menjadi salah satu kegiatan yang populer di sekolah. Tidak saja bagi siswanya, tetapi juga untuk para gurunya, yang menjadi peserta upacara bendera. 

Mengapa? Beberapa penyebab akan tidak populernya kegiatan upacara bendera di sekolah antara lain adalah sebagai berikut; Pertama, Lamanya durasi waktu pelaksanaan upacara bendera. Durasi yang dirasa lama oleh peserta ini jika kita cermati justru berangkat tidak dari seremoni atau urut-urutan yang harus dilalui dalam kegiatan tersebut. Tetapi justru berawal dari guru mempersiapkan pera siswanya dalam barisan yang tertib. Dan juga gemarnya pembina upacara dalam menyampaikan amanat secara berpanjang-panjang. Dua hal yang sangat mungkin kita menimalisasi. Namun justru kadang sulit kita hindari hanya karena beberapa hal yang berkait dengan komitmen kita sendiri untuk mempersingkat hal-hal yang masih dapat kita persingkat.

Kedua, petugas upacara bendera yang itu lagi itu lagi. Sangat jarang sebuah sekolah yang menggilir seluruh siswanya untuk memperoleh bagian tugas dalam setiap pelaksanaan upacara bendera. Lumrahnya, yang menjadi petugas upacara adalah siswa yang itu-itu saja. Hal ini karena guru menghindari untuk memberikan pelatihan kepada siswa yang belum pernah menjadi petugas upacara. Selain karena membuat repot, biasanya guru wali kelas atau bahkan komunitas sekolah, juga menginginkan agar kualitas upacara bendera baik. Untuk itu maka petugas upacara bendera harus benar-benar yang pernah menjadi petugas upacara. Yang sudah memiliki pengalaman. Sudah punya jam terbang.

Padahal, jika dalam satu tahun pelajaran terdapat 40 pekan masuk sekolah, dan jika upacara bendera dilaksanakan dalam setiap pekannya, maka sedikitnya dalam satu tahun pelajaran akan ada 30 kali pelaksanaan upacara. Dan jika sekolah memiliki 15 romobongan belajar, maka setiap kelas akan mendapat dua kali giliran untuk menjadi petugas upacara. Dan jika setiap pelaksanaan upacara bendera membutuhkan 10 petugas upacara, maka akan ada 20 siswa dalam setiap kelasnya yang merasakan menjadi petugas upacara. Dengan komitmen guru (sekolah) untuk memberikan tugas secara bergilir seperti itu, maka setiap siswa dalam masa belajarnya akan merasakan menjadi petugas upacara. 

Ketiga, upacara bendera yang ketertiban pesertanya terfokus hanya kepada saat pelaksanaan upacara bendera berlangsung di lapangan sekolah. Mengapa tidak setiap guru kelas memiliki tanggungjawab bagi ketertiban pelaksanaan upacara bendera dengan cara mempersiapkan ketertiban tersebut berawal dari setiap kelas sebelum dan sesudah pelaksanaan upacara bendera berlangsung? Jika ini yang terjadi, maka setiap komponen sekolah akan memiliki kontribusi yang adil.

Revitalisasi

Ketiga penyebab dari tidak populernya kegiatan upacara bendera tersebut harus menjadi bahan evaluasi sekolah, sehingga kegiatan upacara bendera di sekolah dapat benar-benar mencapai tujuan utamanya, yaitu tumbuhnya rasa cinta kepada tanah air dan nasionalisme Indonesia pada setiap generasi bangsa.

Penulis khawatir bahwa, tanpa adanya evaluasi dan revitalisasi terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu, maka kegiatan upacara bendera yang merupakan kegiatan rutin pendidikan di sekolah nantinya hanya berhenti kepada rutinitas tanpa makna. Maka pertanyaanya adalah; cukup berkomitmenkah kita dalam melakukan revitalisasi kegiatan upacara bendera tersebut agar kegiatan upacara bendera nantinya benar-benar dapat menjadi wahana bagi penumbuhan rasa cinta kita kepada tanah air Indonesia? Semua terpulang kepada komitmen kita.

Jakarta, 30 April - 3 Mei 2011.