Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #17; Menjadi Pemandu

Menjadi pemandu dalam sebuah kegiatan perjalanan ke luar kota, sekaligus sebagai supir bagi keluarga besar saya, menjadi bagian yang paling menggembirakan untuk saya. Ini karena saya dapat mengajak sanak keluarga 'marasakan' apa yang terasa dalam diri saya. Oleh karenanya dalam setiap sisi atau ruas jalan yang saya lalui, saya akan menyampaikan 'rasa' apa yang ada di dalamnya. 

Sejauh ini, apa yang sampaikan atau utarakan, tidak menjadi persoalan untuk keluarga. Sebaliknya saya mendapatkan tanggapan baik dan positif dari mereka. "Jalan-jalan sama Dik Agus enak. Sepertinya setiap tempat menjadi berarti." Begitu salah satu kalimat yag disampaikan kakak saya. "Tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan jalanan jelek atau macet atau bahkan kesasar. Semua menjadi biasa dan normal adanya." Lanjut kakak saya memberikan pujian. Saya diam saja. 

Gunung Kidul

Misalnya ketika kami melakukan perjalanan ke Jogjakarta hingga menginap di sebuah penginapan senyap di Pantai Krakal di Gunung Kidul. Menempati rumah penginapan dengan berbagi menjadi suatu yang tetap nikmat dialami. Suatu pengalaman yang tidak ada duanya jika kita akan membandingkannya dengan menginap satu malam di hotel bintang dua atau tiga di jalan Taman Siswa yang ada di Jogjakarta.

Tidak ada suara yang dapat kita nikmati di malam hari selain hanyalah suara ombak yang terus berkejaran tiada hentinya. Sesekali memang da suara anak-anak muda yang mendirikan beberapa tenda di dekat bibir pantai. Namun suara mereka tenggelam oleh debur ombak yang selalu pecah ketika mencapai pasir putih yang ada di tepi pantai. 

Tidak ada warung yang buka sepanjang malam meski lampu yang tetap menyala dan tatanan makanan serta minuman yang tetap lengkap di atas meja. Semua telah kembali kepada dunia malam mereka masing-masing. Dan kami sebagai tamu hotel ditinggal di kamar tanpa harus diawasi oleh penjaga hotel yang kembali ke rumahnya. Juga di pagi harinya ketika kami keluar kamar dan menyusuri tebing karst, yang tetapi masih sepi. Namun semua anggota keluarga saya menikmati itu sebagai sesuatu anugerah yang bagus. 

Hingga akhirnya kami kembali ke Jakarta dengan rute yang berbeda ketika kami berangkat dari Jakarta. Dimana saya mengambil jalan dari Restoran jeJamuran yang ada di Sleman lanjut ke Secang kemudian masuk Temanggung dan tembus ke Waleri-Gringsing- Pekalongan-Brebes-Jakarta. 

Demikian juga halnya ketika saya mangajak serta seluruh keluarga besar berkereta api menuju Cirebon-Kuningan. Semua menjadikan paket perjalanan itu sebagai hal yang penuh nikmat bahagia.

Menjadi Pemandu

Begitu juga dengan apa yang saya sebutkan sebagai pemandu ketika saya berada di sebuah era transformasi di sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah. Tugas dan fungsi saya ketika berada di dalamnya adalah sebagai pemandu dalam sebuah perjalanan. Sering saya menggunakan efek kejut ketika kami melalui suatu tempat bagus. Ini tidak lain karena saya menunggu apa yang menjadi komentar anggota perjalanan. Dan dari komentar yang disampaikan itulah saya akan memberikan penekanan. Model seperti ini untuk memberikan tambahan rasa nikmat atas apa yang dilihat atau dialaminya. Saya ingin agar teman-teman menemikan sendiri kebermaknaan suatu hal yang sedang dan telah dijalaninya. 

Juga memberikan semangat atau solusi berupa kemungkinan-kemungkinan lainnya jika kegiatan itu baru akan berlangsung, bila mereka sendiri juga merasakan ada keraguan ketidakberhasilan akan program yang akan dijalani. Ini karena mereka memang belum pernah menjalini hal yang sama diwaktu sebelumnya.

Begitulah saya ketika menjadi seorang pemandu. Harus memahami selalu perjalanan batin teman-teman tentang kebutuhan yang mendesak sedang mereka perlukan... 

Jakarta, 14 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #16; Membandingkan

Dalam suatu kesempatan, saya meminta kepada teman-teman untuk semuanya mendampingi siswa yang akan menjadi peserta lomba. Dimana lomba tersebut diselenggarakan di sebuah sekolah, yang sedang melaksanakan kegiatan perlombaan olah raga dan seni. Maka serta merta kami mengirimkan sebanyak-banyaknya siswa yang dapat menjadi peserta lomba. Tujuannya selain untuk memberikan kepada siswa kami ajang untuk berprestasi juga agar guru-guru kami dapat melihat secara langsung bagaimana kegiatan itu diorganisir dan bagaimana sekolah tersebut melakukan kegiatan sehingga dapat berlangsung dengan baik. Termasuk juga para guru-gurunya untuk mengikuti perlombaan yang kebetulan juga memperlombakan keterampilan guru dalam membuat sarana belajar.

"Jadi kami semua nanti harus berangkat untuk mendampingi siswa lomba Pak?" Tanya seorang guru kepada saya. Ini karena sebenarnya guru pendamping yang kita plot berlebih dibandingkan dengan jumlah anak-anak kami yang mengikuti lomba. 

"Iya Bu. Sesuai dengan hasil diskusi kita beberapa waktu lalu, bahwa tujuan kita mengikuti lomba di sekolah tersebut, juga adalah memberi kesempatan kapada Ibu dan Bapak guru untuk melihat, menonton, dan mengambil hal yang positif dan hal yang berbeda yang ada di sekolah itu untuk kemudian dapat Bapak dan Ibu adopsi bagi kebaikan Bapak dan Ibu sendiri, kelas Bapak dan Ibu, dan tentunya juga untuk kebaikan sekolah kita." Jelas saya kepada mereka. Dan alhamdulillah bahwa semua menyadari itu dan bersemangat ketika kami mendampingi teman dan anak-anak untuk menjadi peserta lomba.

Jakarta, 14 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #15; Mendapat Bisikan

Sebelum pertemuan pertama dalam diskusi panel yang sudah kami rencanakan, duduk disebelah saya, salah satu pegawai operasional yang bertugas membuatkan catatan atau notulensi diskusi. Alhamdulillah bahwa diskusi yang meliputi tiga putaran tersebut sedikit banyak telah memberikan gambaran tentang postur masing-masing kandidat. 

"Pak Agus benar telah mengundang orang lain yang tidak masuk dalam kandidat yang direkomendasi. Karena ini berarti Pak Agus tidak hanya mengikuti alur cerita yang dirancang dari bawah." Begitu ia mengatakan kepada saya dengan volume suara yang diatur rendah. Saya agak sungkan juga ketika harus memperhatikan apa yang disampaikan sementara dalam forum tersebut masih ada yang berbicara. Karena ini tidak mencerminkan perilaku santun dalam berkomunikasi. Oleh karena itu saya tidak terlalu mendengarkan sepenuhnya apa yang disampaikannya.

"Karena begitu ada rekomendasi, maka beberapa orang telah menghubungi saya untuk mengetahui siapa saja yang masuk dalam daftarnya. Dan mereka baru mengetahuinya ketika undangan Bapak untuk datang dalam diskusi panel tersebut sampai kepada para kandidat." Demikian lanjutnya. Saya benar-benar jengah dengan model komunikasi bisik-bisik seperti ini. Terlebih karena forum diskusi panel belum benar-benar ditutup. Oleh karena itu saya melakukan trik dengan cara mendengar apa yang teman sebelah sampaikan sembari menghitung jumlah skor dari para kandidat.

Dan ketika forum itu benar-benar ditutup dan saya segera meninggalkan lokasi diskusi menuju ruangan saya untuk menyelesaikan verifikasi beberapa dokumen yang harus segera mendapat verifikasi dari saya, saya memastikan kebenaran tentang apa yang saya memang sudah duga sebelum proses diskusi panel tersebut berlangsung.

Saat itu saya mendapat kabar bahwa ada rekomendasi tentang beberapa kandidat yang harus ikut dalam diskusi panel guna menentukan siapa gerangan kandidat yang paling potensial, yang memang dapat ditunjuk sebagai pengganti pejabat lama yang telah habis waktu berlakunya. Namun si pemberi kabar tersebut sekaligus menyampaikan bahwa semua kandidat yang ada tersebut sama sekali tidak mencantumkan 3 nama kandidat yang beberapa waktu lalu menjadi 'ketua kelompok' dalam diskusi guru. Dimana 'ketua kelompok' tersebut dipilih secara aklamasi oleh para anggota kelompoknya.

Dalam hal ini, kebetulan saya berada diantara mereka serta benar-benar mengikuti proses yang terjadi. Saya benar-benar menyaksikan proses yang mereka jalani. Dan meski kedudukan sebagai 'ketua kelompok' tersebut bersifat 'lokal' dan sama sekali tidak mengikat, tetapi saya menangkap bahwa tiga orang tersebut mendapat mengakuan secara natural dari teman-temannya untuk menjadi bagian yang dapat dibebani tanggung jawab lebih. Atas dasar pertimbangan itulah maka saya berinisiatif untuk memanggil ketiganya sebagai bagian dari kandidat yang sedang kami undang untuk mengikuti diskusi panel bersama kami. 

Mengapa saya mengundang kandidat yang bukan menjadi bagian dari mereka yang mendapat rekomendasi? Tidak lain adalah untuk menghapus anggapan miring yang dituduhkan kepada si pembuat  rekomendasi. Anggapan bahwa seolah-oleh proses yang dilakukan dengan cara diskusi panel tersebut hanyalah sebuah proses yang formalitas. Karena sesungguhnya kandidat yang terpilih pastilah mereka yang memang sudah direncanakan.

Walaupun, dapat saya pastikan bahwa undangan bagi tiga orang yang tidak mendapat restu tersebut untuk ikut dalam bagian diskusi panel bukanlah jaminan bahwa salah satu dari mereka, atau dua dari mereka atau mungkin tiga-tiganya dari mereka akan terpilih sebagai kandidat terunggul?

Dan sebagai akhir dari usaha saya untuk memutus keberlanjutan bisikan dalam forum diskusi panel tersebut adalah kalimat pemutus yang saya sampaikan kepada teman di sebelah saya itu; "Terimakasih ya Bu atas informasi dan masukannya. Saya menjadi tahu hal dari sisi yang lain."

Jakarta, 14 April 2016.

13 April 2016

Anggrek Ulang Tahun, 2016

Untuk kesekian kalinya saya menerima lima tangkai bunga anggrek yang ditata di dalam pot yang bagus. Datang dengan diantar oleh supir direksi saya suatu sore beberapa waktu lalu. Dan harus menandatangani surat pengantar yang disertakannya. Bunga anggrek yang memang menjadi ucapan selamat dari Yayasan untuk saya. Alhamdulillah.

Jangan ditanya untuk hadiah ulang tahun yang keberapa? Ini karena memang sebuah hal yang memang saya sendiri selalu jengah manakala harus menerima hadiah berupa bunga anggrek mekar yang anggun dan tahan luar biasa lama. Jengah bukan saja karena saya sendiri tidak terlalu menjadi persoalan bila tanggal kelahirannya tidak diingat oleh siapapun. Tetapi juga ternyata tanggal kelahiran dimana saya menerima bunga anggrek sebagai ucapan selamat itu hanya sebatas administrasi belaka.

Mengapa? Ya karena memang itulah riwayat yang ada pada saya berkenaan dengan tanggal kelahiran. Ini karena berawal pada saat Bapak Guru saya yang akan menulis Ijazah SD saya tidak mengkonfirmasi tanggal kelahiran saya sebelum benar-benar menuliskannya. Alhasil, tanggal yang ditulisnya itu bukan tanggal yang seharusnya, sebagaimana yang tertera di surat lahir saya yang dikeluarkan oleh petugas rumah sakit di kota Metro sana.

Maka untuk alasan administrasi, seluruh tanggal lahir yang ada pada saya mengikuti apa yang tertera dalam ijazah SD tersebut. Konsekuensinya, saya memiliki dua tanggal lahir. Tanggal lahir asli saya diingat oleh sanak dan keluarga. Sedang tanggal lahir administrasi diingat oleh atasan dan petugas administrasi ketika nanti akan menghitung waktu pensiun saya.

Jakarta, 13 April 2016.

Buku Kumpulan Cerita Siswa

Akhir pekan yang lalu, saya diminta untuk memberikan kata pengantar atau sedikit catatan usai membaca karya anak-anak yang terkumpul dalam sebuah Buku Kumpulan Cerita Pendek. Ini adalah buku yang kedua, setelah tahun lalu anak-anak yang berbeda juga menuliskan karya-karyanya yang kemudian oleh guru Bahasa Indonesianya disatu bukukan. 

Namun karena terkendala teknologi, maka apa yang dikirimkan oleh guru tersebut kepada saya via email, tidak sampai juga hingga pada hari Seninnya, ketika kami bertemu di dalam kelas di lantai 3. Maka atas keterbatasan waktu dalam pertemuan tersebut, saya meminta untuk dipinjami flash disk. Tujuannya tidak lain agar semua artikel yang ada dalam kumpulan cerita pendek tersebut dapat saya baca di layar hand phone saya. Mengingat pada hari itu saya harus melakukan pertemuan setelah pulang sekolah. Artinya, saya berkeinginan untuk membaca cerpen tersebut diantara perjalanan dari sekolah menuju ke lokasi rapat dan dari lokasi rapat menuju ke rumah di malam harinya.

Alhamdulillah, cerita-cerita itu saya baca diantara waktu-waktu yang saya punya. "Kami tunggu komentar Bapak atas cerita anak-anak tersebut sebelum Selasa ya Pak." Demikian informasi yang saya terima dari guru Bahasa Indonesia. "Siap Pak." Jawab saya.

Dan inilah kaimat yang saya sampaikan dalam kumpulan cerita pendek yang akan diluncurkan bertepatan  dengan hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2016;

Memulai membaca judul judul cerita pendek  dalam Kumpulan Cerita Pendek ke-2, yang ditulis oleh anak-anak yang duduk di kelas IV hingga kelas VI SD tahun pelajaran 2016/2017 ini, sungguh mengundang penasaran yang meluap-luap bagi saya. Rasa penasaran ini tidak lain karena judul-judul yang ada tidak semua mudah ditebak akan seperti apa alur dan jalan cerita yang akan disajikan oleh para penulisnya.


Untuk itu, ketika naskah tersebut diberikan kepada saya untuk membacanya, cerpen-cerpen tersebut segera saya sergap. Dan benar, apa yang semula saya duga benar adanya. Anak-anak begitu pandai dan cerdas ketika harus membuat 'dunia baru' dalam cerita tersebut. Sebuah 'dunia' yang benar-benar memberikan cerminan bahwa mereka memang berasal dari kelompok generasi yang pintar.



Dari 'dunia' rekaannya, kita akan disuguhi semua detil kehidupan yang nyata dan dapat kita raba. Meski dunia yang disuguhkan dalam rekaannya ada dunia metafisika seperti kehidupan yang memang belum pernah hadir di kehidupan nyata.



'Dunia' rekaan anak anak dalam cerita pendeknya ini juga mempresentasikan seberapa banyak dan seberapa dalam pengamatan anak-anak tersebut terhadap dunia yang berjalan disekelilingnya. Mereka adalah cerminan anak-anak yang menaruh perhatian terhadap apa yang sehari-hari kita lakukan. Mereka adalah generasi yang mencintai budaya literasi dengan membaca dan menulis.



Dan dengan kompetensi menulisnya itu, anak-anak ini sedang menyampaikan kepada kita, pembaca, untuk melihat apa yang menjadi stetmen, harapan, impian, dan keinginannya. 



Semoga apa yang telah mereka tulis dalam cerita pendeknya, yang terkumpul dalam buku ini, menjadi bagian perjalanan hidupnya yang berkah. Amin.

Jakarta, 9-10 April 2016

09 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #14; Memvisualisasi sebuah Program

Setelah beberapa kali saya menyampaikan hal-hal baik yang bisa menjadi program sekolah namun belum juga mendapat tanggapan baik atau sambutan positif dari guru-guru di sekolah, maka ada jalan lain yang menjadi pintu solusi. Yaitu melihat langsung program tersebut di sekolah lain bertepatan dengan ketika sekolah tersebut melaksanakan programnya. Itulah yang kita lakukan dengan benchmarking.

"Menarik sekali ya Pak melihat betapa anak-anak sejak berada di kelas kecil mampu berkomunikasi dengan baik dengan mempresentasikan apa yang menjadi pengalaman belajarnya di dalam kelas serta menyampaikan visinya untuk masa depan?" Demikian seorang guru menyampaikan apa yang menjadi perhatiaannya ketika ia kembali ke ruangan berkumpul setelah menyelesaikan tour ke kelas-kelas.

Semua teman saya minta untuk menyampaikan apa yang didapatkan dengan kegiatan yang baru saja kami lakukan bersama. Melihat secara langsung tentang bagaimana kegiatan yang menjadi program sekolah tersebut. Ini menjadi penting karena ketika saya menyampaikan program tersebut untuk diadopsi di sekolah sendiri seperti ada nuansa tidak terkoneksi. Yang mengakibatkan ketidak adanya respon yang baik akan program tersebut.

Maka kalimat yang diungkap oleh seorang guru tersebut, juga oleh yang lain yang rata-rata menjadi kagum dan beruntung untuk dapat hadir dalam kegiatan kunjungan sekolah tersebut. Beruntung bahwa dengan melihat langsung tersebut mereka mendapat gambaran yang asli dan faktual. Sebuah gambaran yang memungkinkannya membuat pendapat atau pernyataan akan sebuah program yang sebelumnya pernah mereka dengar, lihat, dan ketahui ketika saya menyampaikannya dalam bentuk presentasi dan film. 

"Saya mendapat hal baru yang sebelumnya tidak tersirat dalam pikiran saya Pak. Meski saya telah menjadi guru hampir sepuluh tahun ini. Sebuah kegiatan yang menantang siswa untuk melakukan lompatan dalam pembelajaran berkomunikasi."  Kata teman yang lain lagi. Ini menjadikan dia memiliki gambaran yang utuh tentang program yang akan dilaksanakannya ke depan dengan tidak ada keraguan lagi.

"Saya menjadi faham dan sadar bahwa itu merupakan program yang bagus untuk masa depan anak didik kita." Lanjutnya dengan penuh percaya diri. Ia rupanya telah merubah cara berpikirnya 180 derajat dengan apa yang sebelumnya. Ini karena ia adalah salah satu guru yang meragukan bahwa program yang saya tawarkan merupakan program aneh, sulit, dan program ambisius. Yaitu program yang terlalu dini menuntut anak untuk lebih berpikir berbeda.

"Dengan apa yang Bapak Ibu lihat barusan, apakah memberikan gambaran atas program yang saya sampaikan sebelumnya?"  Tanya saya lebih lanjut. Memancing pernyataan mereka akan bagaimana nasib kegiatan yang telah ancang-ancang kita lakukan.

"Sangat jelas Pak. Dan dari apa yang saya telah lihat barusan, kami merasa percaya diri untuk menjalankan program tersebut secepat mungkin di semester yang akan datang." jelas teman saya dengan nada yang mantap tanpa ada keraguan. Pernyataannya itu, ditambah tekad teman-teman yang lainnya, cukup bagi saya untuk membesarkan hati dan tekad untuk melakukan perubahan dan transformasi diri. 

Oleh karena itu, benchmarking inilah  yang saya sebut sebagai kegiatan kunjungan untuk memberikan gambaran atau visualisasi akan apa yang sebelumnya sudah saya sampaikan dan dipahami oleh teman-teman, tetapi sulit untuk dibayangkannya. Semoga.

Jakarta, 9 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #13; Mendeskripsikan Sekolah Impian

Beberapa malam yang lalu, saya dan teman karib saya, mendapat undangan untuk mendeskripsikan sekolah impian di sebuah lembaga pendidikan yang ada di Jakarta. Pertemuan beberapa malam itu adalah pertemuan yang kesekian kalinya. Dimana kita masih berkutat dalam topik diskusi yang sama. Ini tidak lain karena diantara kita belum menyepakati seperti apa deskripsi sekolah impian itu. Malah pada diskusi beberapa malam itu kita terjebak kepada fenomena yang timbul dan tampak di sekolah teman  yang mengundang saya untuk diskusi. Dan juga mendiskusikan bagaimana kelanjutan dari penyelesaian masalah tersebut. 

Mengapa membutuhkan diskusi untuk mendeskripsikan seolah impian padahal teman saya itu telah mengelola sekolah yang sekarang ini total siswanya 1500? "Karena dari data yang ada, ada kecenderungan bahwa lambat tetapi pasti terjadi penurunan jumlah siswa baru. Dan ini harus dicari tahu apa yang menjadi sebabnya." Demikian yang disampaikan oleh salah satu pengurus sekolah yang kebetulan juga ada dalam diskusi kami.

"Terutama mereka yang sudah lulus dari jenjang pendidikan yang ada di bawahnya dan tidak melanjutkan di jenjang pendidikan selanjutnya di lembaga yang sama. Maka ini menjadi indikator bagi kami untuk mengetahui tentang daya saing dan daya kompetisi." Lanjut teman saya. Penjelasan itu cukup memberikan kepada saya dan teman gambaran tentang sekolah impian yang sedang mereka butuhkan.

"Anak-anak yang sudah lulus tersebut, melanjutkan ke sekolah dengan karakteristik yang lebih baik dari jenjang sekolah yang ada di sekolah kami, sekolah mereka." Jelas teman saya lagi. Membuat saya dan teman saya memahami persoalan yang memang sedang dan akan datang dan berimplikasi langsung terhadap lembaga pendidikannya.

"Bagaimana kalau kita bicara tentang kerangka sekolah, tentang konsepnya, sebelum kita bicara tentang fenomena sekarang, fenomena yang memang sedang Bapak-Bapak hadapi?" Sela saya di dalam forum. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan diskusi supaya topik bicaranya bisa lebih fokus dan tidak melebar kemana-mana. Dengan demikian, maka waktu saya untuk berada di dalam forum itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Supaya saya dan teman dapat meninggalkan diskusi sebelum malam bertambah larut.

"Bagaimana kalau saya ibaratkan rumah, maka lembaga yang bernama sekolah harus menjadi tempat yang bagus, nyaman, dan menyenangkan untuk semua yang berada di dalamnya. Sejak orang datang di halaman depan rumah, sejak diterima tuan rumah dan diajak ke ruang tamu. saat kemudian menumpang sholat di pojok salah satu kamar, atau ketika kita membutuhkan untuk berhajat di kamar belakang, dan juga ketika kita diminta untuk merasakan masakan ringan di ruang makan?" Kata saya ketika memberikan metapora bangunan yang bernama sekolah. Hal ini perlu saya sampaikan mengingat teman-teman saya itu adalah orang yang tergerak untuk berbagi pikiran dan tenaga meski latar belakang sebelumnya,adalah sebagai pengusaha atau teknokrat non kependidikan. 

"Bagaimana kalau dalam tataran itulah kita membuat deskripsi sekaligus standar dari masing-masing ruangannya?" Lanjut saya lagi sebagai usaha saya untuk meyakinkan akan kesamaan pembahasan antara saya sendiri dengan para peserta diskusi tersebut.

Maka, dengan kerangka itulah kami bergerak untuk membuat pemetaan akan apa saya yang menjadi standar di masing-masing aspek yang terdapat dalam sekolah impian. Bagaimana bentuk sarana dan infrasturuktur gedung yang dibutuhkan, bagaimana kerangka pendidikan yang diinginkan sekaligus seperti apa prototipe SDM yang harus mengemban amanah untuk pencapaian apa yang diimpikan. Harapan saya dan teman ketka usai pertemuan diskusi tersebut adalah segera terbentuk dan lahirnya lembaga pendidikan baru yang sejak hulu telah dipikirkan secara konseptual baik di lingkungan yang tidak jauh berada dari tempat tinggal saya. Semoga.

Jakarta, 9 April 2016

08 April 2016

Menemani "perubahan' Guru #12; Menyadarkan atau Membiarkan

"Kami harus terbuka dan saling memberi nasehat atau paling tidak untuk mengingatkan kepada teman kami yang kebetulan sedang tidak dalam kondisi yang baik." Begitu kalimat yang di sampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah ketika kami sedang berkunjung ke sekolahannya yang lumayan 'sederhana'. Saya mengingat betul kalimat itu karena kalimat itu tidak mungkin saya bisa ungkapkan jika saya kembali ke sekolah dimana saya kini berada. 

"Apa yang Ibu maksud dengan terbuka dan saling mengingatkan itu Ibu?" Tanya teman saya begitu Ibu Kepala Sekolah usai menyelesaikan kalimatnya. Ia tampak bingung dengan kalimat sederhana yang semestinya mudah dipahami itu. 

"Seperti ketika ada seorang guru yang tiba-tiba tidak bersemangat ketika sedang menghadapi peserta didiknya karena pada saat yang sama ia harus membuka dan menulis balasan di telepon smart-nya. Maka teman yang kebetulan ada di sebelahnya segera mengingatkan guru yang juga adalah temannya itu. Mengingatkan bahwa kehadirannya di sekolah adalah untuk sepenuhnya melayani peserta didik. Maka semua hal yang menghalangi hubungannya dengan peserta didik untuk dialihkan atau dikesampingkan terlebih dahulu." Jelas Ibu Kepala Sekolah dengan memberikan ilustrasi nyatanya.

"Apakah itu pernah terjadi disini Ibu?"
"Iya pernah."
"Tidak tersinggung kalau teman sejawatnya yang mengingatkan. Apa tetap menghargai?"
"Tidak ada tersinggung. Karena teman-teman disini sudah terbangun rasa untuk saling beterusterang dalam hal tugas. Juga tidak akan ada perasaan tidak enak untuk mengingatkan hal baik terhadap temannya yang sedang khilaf."

Percakapan-percakapan itu di dalam ruang diskusi antara Kepala Sekolah yang menjadi tuan rumah bersama kami yang menjadi tamu, membuat saya pribadi faham akan kultur yang tercipta di sekolah yang sedang kami kunjungi. Dan pada titik ini saya pribadi menjadi malu bahwa beberapa hal baik yang sederhana seperti saling terbuka dan tidak buruk sangka terhadap pihak yang berbuat baik semacam mengigatkan temannya masih sering muncul dalam hidup keseharian kami di sekolah.

Teman sungkan mengingatkan koleganya karena tidak ingin dianggap 'caper' atau 'tuduhan' lain yang justru tidak konstruktif. Akhirnya sering kami melakukan pembiaran atas kesalahan-kesalahan kecil yang kolega perbuat di hadapan kami sendiri, dan berharap agar Kepala Sekolah kami sendiri mengetahui kejadian tersebut.

Dan ketika kondisi sosial seperti itu, maka kesalahan teman dihadapan kita, dilema untuk melakukan penyadaran atau pembiaran, masih menjadi fenomena...

Jakarta, 8 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #11; Mengajak Eksploratif

Dalam sebuah kesempatan diskusi tentang program, saya baru menyadari bahwa selama ini kegiatan atau program sekolah yang telah dirancang dalam rapat kerja masing-masing unit sekolah dan telah disepakati oleh semua peserta raker, ditunjuk penanggung jawab di tiap-tiap program kegiatan yang ada. Dan dengan seperti itu, maka pihak Kepala Seklah akan memantau kegiatan tersebut sejak perencanaan program, di awal kegiatan akan berlangsung, hingga evaluasi kegiatannya, ketika kegiatan telah dilakukan. Namun bagaimana persisnya pola dan tahapan kerja itu, saya tidak punya gambaran selain meyakini bahwa kegiatan berlangsung dengan baik dan memiliki dampak kebermaknaan bagi peserta kegiatan, yaitu siswa. Hingga suatu saat dalam diskusi yang membuat saya tercengang. Ini pun disebabkan oleh adanya informasi dari lapangan yang tanpa merasa bersalah sedikitpun, Kepala Sekolah menceritakan apa yang selama ini menjadi budaya yang dijalaninya.

"Saya tunggu saja Pak Agus ketika rapat pertama kali panitia kegiatan yang ada di program sekolah yang dipimpin langsung oleh penanggung jawab program yang  sudah ditunjuk di awal tahun pelajaran." Cerita Kepala Sekolah kepada saya. Tentu apa yang disampaikan itu menjadi pertanda buat saya untuk melihat bagaimana disain program kegiatan yang selama ini dijalani. 

"Nah, biasanya penanggung jawab kegiatan akan menjadikan teman-teman yang satu barisan dengannya untuk menjadi panitia kegiatan." Jelasnya lebih lanjut, yang semakin membuat saya merasa mual dan sedikit pening. Mengapa? Kalau seperti itu pola kerjanya, kemudian dimana posisi Kepala Sekolah berfungsi sebagai peletak disain kegiatan yang dapat memberikan dampak positif kepada peserta didik? Karena bukankah kegiatan yang ada di sekolah hanya akan menjadi perulangan yang kurang berdampak? Bukankah kalau demikian maka sesungguhnya setiap kegiatan yang ada di sekolah hanya menjadi sebuah rutinitas? Dimana kegiatan tahun lalu dan tahun ini yang berbeda hanyalah plot tanggal, waktu, tempat berlangsungnya kegiatan, biaya  kegiatan, dan para pelaksana kegiatannya? Tanpa ada keinginan dari lembaga atau penanggung jawab atau pelaksana kegiatan untuk melakukan sesuatu yang 'beda' dan lebih memberikan tantangan-tantangan baru buat pelaksana dan peserta kegiatan? Apakah kegiatan sekolah hanya disusun untuk sesuatu yang biasa-biasa saja?

"Terus apa akhirnya ketika penanggung jawab kegiatan tersebut dibiarkan berlangsung tanpa kehadiran manajemen sekolah yang dapat berfungsi sebagai pengendali visi kegiatan?" Tanya saya kepada Kepala Sekolah dalam sebuah forum diskusi itu.

"Ya tidak ada Pak. Saya ingin memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada penanggung jawab dan panitia kegiatan Pak." Jelas Kepala Sekolah yang akhirnya saya pahami bahwa ia tidak sepenuhnya memahami harus bagaimana melakukan  sebuah gerakan  transformasi di sekolah. Dari titi inilah saya akhirnya meminta semua yang hadir dalam forum diskusi tersebut untuk bisa melihat bahwa ada cara kita sebagai manajemen sekolah untuk dapat mengajak teman-teman guru melakukan sesuatu yang eksploratif.

"Bapak Ibu Kepala Sekolah, bahwa transformasi sekolah yang kita canangkan menuntut kita untuk mahir dalam mengkomunikasikan. Seperti guru di kelas, kita juga dituntut untuk melakukan 'pembelajaran'  yang melibatkan peserta didik. Artinya, kita tidak bisa melepas para penanggung jawab kegiatan dalam setiap program sekolah tanpa pengawalan kita. Karena yang memahami transformasi sekolah adalah kita." Demikian kalimat pembuka saya dalam forum diskusi tersebut. 

Saya mengajak para Kepala Sekolah untuk sejak awal menemani para penanggung jawab kegiatan sejak konsep program kegiatan tersebut ditetapkan sebagai program sekolah. Kepala Sekolah harus mengajak para penanggung jawab program tersebut untuk melihat bagaimana pelaksanaan kegiatan tersebut di tahun yang lalu. Melihat apa yang mungkin di revisi dari kegiatan tersebut. Bagaimana kalau kegiatan tersebut dilakukan dengan strategi kegiatan yang berbeda. Bagaimana kalau mengajak guru untuk bereksperimen dengan bentuk kegiatan yang baru dengan tetap mempertimbangkan  peserta kegiatan yang tertantang ketika menjalani kegiatan, menikmati, dan eksploratif. 

Dengan demikian maka kehadiran manajemen sekolah memang ada sejak awal kegiatan itu hingga kegiatan itu benar-benar terlaksana dengan format strategi yang selalu berubah. Semoga...

Jakarta, 8 April 2016.

07 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #10; 360 Derajat Menilai Guru

Pagi itu saya harus meminta kepada seseorang yang menjadi kolega di sekolah untuk maksud bertanya tentang beberapa hal yang berkenaan dengan seorang guru di sekolah kami. Hal ini harus saya lakukan guna 'mempertemukan'  informasi berkenaan dengan penilaian yang sedang saya lakukan. Dan alhamdulillah, informasi itu akhirnya saya dapatkan.

"Bagaimana nilai yang pas yang ibu berikan untuk indikator komunikasi?" Demikian kurang lebih pertanyaan yang tertera di lembar penilaian yang kami sodorkan. Dan teman itu cukup hanya memberikan tanda centang dalam kolom skor. Aapakah 1 untuk kategori sempurna, 2 untuk baik sekali, 3 untuk baik, 4 untuk cukup, dan 5 untuk kurang?

Nilai yang saya dapatkan dari teman itu akan menjadi pelengkap untuk lembar penilaian yang telah masuk sebelumnya kepada saya. Antara lain dari guru yang bersangkutan, yang memberikan nilai paling besar, yaitu dengan rata-rata yang nyaris sempurna! Dari teman partnernya yang memberikan nilai tidak jauh dari apa nilai yang dilakukannya sendiri, dari tetanga pararel yang memberikan nilai nyaris bertolak belakang dengan peer dan self assessment yang ada. 

Sementara, ketika saya sendiri yang berada selalu di dalam unit kerjanya menilainya dalam kategori yang lumayan saja, maka saya membutuhkan penilaian berikut yang mampu membuat pemetaan akan kinerja riil teman tersebut.

"Dalam pararel saya, dia termasuk yang paling banyak penolakan ketika nanti di tahun pelajaran baru harus memilih pasangan mengajar. Baik yang generasi lama atau juga yang lebih junior, semua tidak menghendaki memiliki partner kerja dia Pak." Demikian lebih kurang ungkapan lisan yang datang kepada saya berkenaan dengan kinerja teman yang sedang kami lakukan penilaian tersebut.

Maka, informasi tersebut menjadi bagian penting buat saya untuk menempatkan posisi dalam kinerja tahunan secara tepat dengan memperbandingkan dia dengan teman-temannya di dalam unit kerja kami. Meski tidak mungkin menghilangkan sisi subyektifitas dalam memberikan penilaian, model ini memungkinkan kami untuk memperbesar sisi keadilan dan reliabilitas. Semoga. 

Jakarta, 7 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #9; Merubah Cara Pandang

Kemarin, setelah saya selesai mengirim surat undangan untuk teman-teman yang akan hadir dalam diskusi panel bagi kandidat Wakil Kepala Sekolah, saya kembali di'ingatkan' berkenanaan dengan regenerasi berjenjang. Mengingatkannya melalui SMS dengan nomor yang kami semua tidak mengetahui siapa yang mengirimkan SMS tersebut. Inti dari pesan yang dikirim oleh anonim tersebut adalah mempertanyakan mengapa harus ada diskusi panel untuk memilih Wakil Kepala Sekolah melalui jalur diskusi panel?

Inti dari pesan itu adalah agar kami tidak perlu lagi mencari kandidat pengganti Wakil Kepala Sekolah atau mengganti Kepala Sekolah melalui jalur 'menemukan' baru. Tetapi bukankah kalau melihat regenerasi yang ada secara struktural maka yang akan menggantikan Kepala Sekolah bilamana yang bersangkutan tidak menjabat lagi adalah para Wakil Kepala Sekolah yang terbaik dari yang ada? 

Demikian pula halnya dengan penggantian jabatan Wakil Kepala Sekolah, bukankah ada guru-guru koordinator yang ada, yang selama ini memberikan dukungan serta bantuan kepada para manajemen sekolah yang ada? Bukankah posisi para guru koordinator tersebut memungkinkannya untuk dapat dipilih karena telah teruji berada di bawah para Kepala dan Wakil Kepala Sekolah?

Tetapi benarkah demikian? Karena tidak sepenuhnya regenerasi dalam pelimpahan jabatan seperti itu, maka kami membuat cara yang berbeda. Pertama kami meminta agar semua guru membuat rekomendasi siapa saja teman-temannya yang dalam persepsinya layak menjadi bagian dari kandidat. Tahap berikutnya adalah meminta kesanggupan para kandidat yang direkomendasikan oleh teman-temannya untuk ikut serta dalam diskusi panel bersama kami. sebelum diskusi panel berlangsung, kami mengumpulkan track record para kandidat, termasuk yang paling penting adalah kehadiran mereka di sekolah. Dan juga tentang hasil kinerja dalam kurun waktu 3 tahun ke belakang.

Tahap-tahapan itu dimaksudkan untuk menemukan kandidat yang paling potensial sebagi pengganti Kepala atau Wakil Kepala Sekolah yang diinginkan. Dan karena prosesnya terbuka yang mengikutsertakan banyak orang dalam pengambilan keputusan, maka unsur subyektifitas dapat kami minimalisir, selain juga bahwa pengambilan keputusan kami terbuka.

Pola seperti ini memaksa kita semua untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan cara pandang yang berbeda. Maka konsep yang menjadi Kepala Sekolah adalah mereka yang sebelumnya sebagai Wakil Kepala Sekolah, tidak sepenuhnya dapat kami taati. 

Jakarta, 7 April 2016.

06 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #8; Diskusi Panel Kandidat

Pagi ini, saya kembali diingatkan oleh tim bahwa akan ada diskusi panel untuk para kandidat Wakil Kepala Sekolah. Sesuai dengan surat yang masuk kepada saya dari Kepala Sekolah, bahwa ada beberapa kandidat wakil yang dapat mengikuti diskusi panel bersama kami. Yaitu mereka yang selama ini sudah kita ajak dan ikut sertakan dalam program rutin berupa pelatihan.

Dimana dalam pelatihan tersebut, kami sengaja mengajak beberapa teman yang direkomendasikan oleh teman-teman lainnya guna menjadi peserta pelatihan. Dan mereka yang ikut dan telah beberapa kali ikut serta, telah bersama kami untuk 'melihat' sebuah fakta dari gambar yang berbeda, dari dari sudut pandang yang beragam. Ini harus menjadi penekanan kami mengingat ketika nanti diantara mereka ada yang kami pilih untuk menjadi pemangku amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah, misalnya, maka mereka harus berada tidak pada posisi sebagai apa yang selama ini mereka berada, yaitu sebagai guru.

Dan selain cara pandang, maka kami juga membutuhkan sosok yang memiliki ketenangan pikiran, sabar sekaligus juga tabah. Ketenangan pikiran utamanya ketika mereka harus menghadapi masalah yang kadang tidak kondusif. Oleh karenanya ketenangan pikiran akan membantu ia menemukan jalan tembus dalam masalah yang sedang dihadapinya. Namun jika memang jalan tembus tidak terlihat dan ditemui, maka modal sabar dan ketabahan harus menjadi jurus berikutnya. Dan pasti dengan pengharapan yang selalu baru sehingga meski berliku dan butuh waktu, jalan keluar itu sebagai akhir dalam perjalanannya.

Kembali kepada masalah yang saya sampaikan dalam catatan ini, bahwa kebutuhan untuk melakukan diskusi panel tersebut adalah untuk melihat dan menemukan secara terbuka dan bersama-sama siapa kandidat yang paling wajib kita sampaikan amanah kepadanya. Karena dalam forum diskusi tersebut, kami akan mengajukan sebuah masalah untuk kemudian menjadi bahan diskusi kita bersama. Maka dalam diskusi itulah kami apat menemukan logika argumentasi yang santun, cerdas, take a risk, dan pandai memposisikan diri sebagaimana seharusnya mereka berada.

Ini karena seusai diskusi, kami, teman-teman yang menjadi pengamat diskusi, akan bersama-sama merumuskan hasil dari forum panel yang kita saksikan dan ikuti bersama. Jika kami membuatkan koordinat, maka kami meletakkan masing-masing peserta diskusi panel dalam titik koordinatnya masing-masing. Dengan demikian maka langkah kami untuk menentukan siapa yang memang paling kayak diantara yang layak menjadi transparan.

"Apakah saya harus mengirimkan orang-orang saya saja untuk ikut serta dalam diskusi panel nanti Pak Agus?" Demikian kata Kepala Sekolah kepada saya. Ini karena saya memintanya untuk mengirimkan juga teman-teman di unitnya yang mendapat apresiasi dari teman-teman sejawatnya ketika ada kegiatan sosialisasi meski di mata lembaga guru-gruru tersebut tidak atau belum dapat menunjukkan kehadirannya yang tepat waktu.

"Tidak apa-apa Bu. Ikut sertakan saja mereka. Karena mereka dianggap mampu oleh teman-temannya. Sedang kita tahu kalau mereka-mereka itu akan sulit menunujukan keteladananya ketika nanti menjadi Kepala Sekolah. Toh, bukankah kalau mereka ikut sekalipun mereka belum tentu yang kita pilih?" Demikian penjelasan saya kepada Kepala Sekolah. Pertimbangan saya selain bahwa mereka belum tentu yang terbaik dari yang ada, adalah untuk mengusir penilaian bahwa para peserta diskusi panel  kandidat Wakil Kepala Sekolah hanyalah mereka yang satu barisan dengan Kepala Sekolah. Nah...

Jakarta, 5-6 April 2016.

29 March 2016

Mudik 2016 #4; Bacem Kaki Kambing

Jogja selepas magrib pada Sabtu, 26 Maret 2016 lalu diguyur hujan. Tidak lebat tetapi mengharuskan saya untuk mengurungkan niat pergi ke Pasar Colombo di Jakal Km 7 dengan mengendarai sepeda motor. Saya dan anak sulung menunggu mantu di emperan penginapan yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan kos anak bungsu di dekap kampus UGM.  Kami sedang menimbang-nimbang untuk memilih moda transportasi apa guna menuju lokasi makan malam kami. Karena ini menjadi pengalaman pertama untuk kedua anak laki-laki saya. Sajian khas yang dikenalkan oleh kakak ipar saya yang dulu lama tinggal di Pasturan yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Pasar Colombo itu. Menu makan kami adalah bacem kepala kambing.
Yang belum pernah mencoba, saya merekomendasikan untuk membuktikannya.
Waktu semakin malam hingga azan Isyak berkumandang. Aplikasi taksi lokal sudah selesai daya download. Dan mencobanya untuk melakukan order. Namun karena kesulitas dengan sinyal hp, maka akhirnya saya meminta supaya anak mantu memarkirkan R2nya dan kami sepakat untuk berjalan menuju arah jalan Kaliurang guna mencegat taksi yang kebetulan lewat. 

Dan untuk beraga-jaga supaya kedatangan kami bertiga tidak sia-sia karena nanti kehabisan stok atau warung tutup, saya menghubungi via wa. Karena jawaban lama, maka saya juga menghubungi via telpon. Alhasil, wa belu juga terjawab dan telepon juga tidak mendapat jawaban yang sempurna. Akhirnya kami naik taksi dengan penuh doa semoga kedua anak saya itu datang dan mendapat pengalaman pertama yang  mengesankan.

"Pasar Colombo km 7 Mas." Kata saya yang duduk di bangku depan kepada supir taksi Mobilio. 

"Bukan Colombo Gejayan ya Mas. Colombo pasar di Jakal  km 7." Kata saya lebih lanjut untuk memberi ketegasan. Takut salah alamat dan membuang waktu. Mengingat libur akhir pekan ini ada 3 hari yang membuat banyak pendatang untuk berwisata sepanjang jalan di kota Jogjakarta.

"Tarif minimal 25 ribu ya Pak." Kata supir taksi. Maksudnya kalaupun pakai argo dan tarif di argo kurang dari 25 ribu, misalnya 12 ribu, maka saya, penumpang harus membayar 25 ribu. Sama artinya kalau saya mendonasikan 13 ribu kepada armada yang saya tumpangi. Entah uang kelebihan itu untuk didonasikan kepada supirnya atau kepada korporasinya. Ini memang usaha jasa pasti untung!

Alhamdulillah, sampai di rumah makan, sekitar pukul 20.00, yang posisinya berada persis di pojok pertigaan setelah masuk ke pasar dari Jakal, masih tersedia bacem kikil kaki kambing dan jeroan, sementara bacem kepala kambing sudah habis. Mau apa lagi? 

"Bagaimana pendapat kalian dengan makan bacem ini?"Tanya saya ketika kami selesai dan berjalan menuju Jakal. Saya ingin tahu apa pendapat anak-anak tentang jenis makanan yang kebetulan saya sukai itu.

"Enak dan Unik. Layak makan kepala kambingnya kalau ke Jogja lagi." Jawab anak saya. Saya ikut senang dengan jawaban itu. Artinya anak setuju dengan apa yang saya suka dan rekomendasikan. 

Jakarta, 29 Maret 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #7; Disiplin

Dalam sekian program yang dicanangkan untuk bagian pengembangan guru dan SDM di lembaga pendidikan formal yang bernama sekolah, saya benar-benar terusik oleh seorang pembicara yang kami undang untuk memberikan pencerahan bagi perjalanan kami menuju transformasi. Terusik tidak saja karena di pembicara kebetulan selain adalah pakar manajemen perubahan juga adalah seorang orangtua siswa di sekolah kami sendiri. Tetapi oleh makna kalimat yang beliau sampaikan dalam presentasinya itu.

Walau saya sendiri belum mengkonfirmasi kepada teman yang lain yang ada dalam forum yang sama, apakah mereka juga menangkap sinyal yang disampaikan beliau? Mungkin ada juga selain saya yang menangkap sinyal ketidakpuasan atas fakta yang selama ini menjadi pengalaman anandanya di sekolah? Sehinga ketika beliau menyampaikan presentasi buat kami beliau, pasti tidak bermaksud menyinggung namun justru mengungkapkan kenyataan, atas kondisi yang seharusnya TIDAK terjadi. Pasti sebuah fakta yang seharusnya menjadi hal yang positif. Yaitu fakta  tentang disiplin guru dan SDM yang ada di lembaga dimana anandanya berada sehari-hari dengan menjadi siswa kami. Dimana agar disiplin justru menjadi titik awal untuk membuat program unggulan yang menarik siswa untuk giat dan tekun belajar di sekolah.

"Bapak dan Ibu sekalian, mungkin saatnya kita sekarang membuat analisa dan berfikir apa yang menjadi penyebab mengapa lembaga kita ini menjadi kekurangan jumlah siswa. Apakah mungkin karena program pembelajaran yang kita lakukan selama ini biasa-biasa saja seperti juga sekolah-sekolah yang dibiayai sepenuhnya oleh APBN dan APBD? Sehingga dengan demikian maka sekolah menjadi tidak memiliki daya pembeda dan daya saing? Atau jangan-jangan bukan program sekolah yang harus kita bangun menjadi program yang berdaya saing, tetapi justru disiplin kita? Disiplin kehadiran guru dan karyawan? disiplin guru hadir di dalam kelas dengan tepat waktu? Disiplin dalam menerapkan rencana atau program yang telah dikomunikasikan kepada para siswa dan orangtua siswa untuk menjadi kegiatan yang baik?" Demikian antara lain kalimat yang beliau sampaikan yang hingga sekarang esensi dari kalimat-kalimat beliau tetap hidup dan terngiang dalam benak saya. 

Dan atas apa yang menjadi masukan itu, kami bertemu untuk mendiskusikan apa yang menjadi langkah kita berikutnya. Maka kami menyepakati untuk membuat penilaian kinerja yang menitik beratkan kepada elemen disiplin. Disiplin kehadiran di sekolah. Disiplin kehadiran di lokasi mengajar dari jam pertama mengajar hingga jam terakhir. Disiplin administrasi sebagaimana yang dilakukan oleh guru-guru yang tersertifikasi ketika melakukan pemberkasan. Disiplin berkomunikasi baik dengan siswa, rekan kerja, dan juga orangtua peserta didik, secara lisan ataupun ketika menulis pesan melalui telepon pintarnya.

Lalu bagaimana dengan elemen lain yang selama ini telah menjadi bagian dari penilaian kinerja? Tetap kami masukkan dalam elemen penilaian, tetapi disiplin menjadi titik pusat dari kinerja kami di tahun ini. 

Lalu apa implikasi dari hasil kinerja yang di akhir tahun ini? Tidak lain adalah prosentasi kenaikan gaji. Dan ini menjadi pegangan kami sejak awal durasi penilaian kami jalani. Dan selain hasil kinerja yang merupakan hasil terakhir dalam penilaian kinerja, maka keseharian di sekolah, pada tingkat operasional, teman-teman di lapangan benar-benar akan melihat langsung di lokasi akan kesepakatan kami itu. 

Tujuannya hanya satu; bahwa disiplin kami, mudah-mudahan, menjadi titik awal bagi sekolah kami untuk meraih nilai daya saing yang tinggi yang ujungnya mendapat kepercayaan masyarakat kembali. Semoga. 

Jakarta, 29 Maret 2016.

28 March 2016

Transportasi On Line?

Malas sekali membicarakan transportasi on line yang belakangan ini, mungkin sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, keberadaan dan 'keberhasilan' menguasai minat pengguna mereka, sedang menjadi masalah buat para transportasi konvensional. Walaupun saya sendiri menjadi bingung apakah yang dirugikan oleh keberadaan dan 'keberhasilan' transportasi berbasis aplikasi itu merugikan para supir transportasi resmi saja, atau juga sebenarnya karena korporasinya yang juga menanggung kemerosotan income.

Ini karena saya berangkat dari sisi pandang sebagai pengguna. Namun ketika hari Minggu lalu, tanggal 27 Maret 2016, secara kebetulan komik harian Kompas menurunkan cerita yang bertopik sama, transportasi on line. Maka untuk kenang-kenangan, saya  menyimpannya dalam catatan harian saya ini.


Saya tidak tahu apakah mereka janjian untuk membahas topik yang sama? Saya hanya menduga, ketiga komikus ini memang sedang dilanda galau yang sama. Terutama ketika ada demo menolak transportasi on line. Demo para supir yang sekarang tidak pernah di awe-awe penumpang di bawah terik matahari di pinggir jalan.



Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #3; Honje = Kecombrang

"Jadi ibu memang sering ya masak pakai honje?" Tanya anak sulung kami ketika kami duduk di sebuah rumah makan di Jalan Mangkubumi, Jogjakarta pada akhir pekan lalu. Kami tidak memesan makanan. Hanya minuman dan dua jenis makanan kecil. Ini karena kebetulan juga kami harus menghabiskan waktu lebih kurang satu jam untuk pesanan kacamata si bungsu yang baru saja kami pesan di optik yang ada di pojokan jalan tersebut.

Dan kebetulan di tengah-tengah meja kami duduk, ada bunga warna merah sangat muda dengan tangkai yang lumayan besar diletakkan di dalam gelas dengan air. Karena cukup air, maka bunga itu tampak awet segar dan terlihat mekar teratur.


"Sering sekali. Terutama kalau Ibu sedang masak ikan sayur. Honje atau kecombrang itu sebagai pelengkap rasa." Jelas istri saya. Maklum, anak sekarang kurang tahu dan mengenal nama flora yang ada. Meski itu ada yang di dalam sayuran yang mereka nikmati.

"Kita foto di kursi ujung itu supaya icon Jogjakarta tampak sebagai latar foto kita." Kata anak saya sembari mengatur kursi yang ada di ujung teras rumah makan klasik dan homy tersebut. Benar saja, karena lokasi teras yang ada di pojok perempatan Tugu, maka foto-foto kami berlatar Tugu dari arah atas.

"Pak Satpam, apakah ini pohon honje yang kemudian menjadi nama restoran ini?" tanya seorang anak saya yang lain kepada Satpam yang sedang bertugas di pos. Satpam tersebut keluar pos dan berjalan mendekati dua pot yang ditumbuhi tanaman kecombrang alias honje tersebut.

"Betul mas. Hanya tanaman ini tidak berbunga. Ini karena media tanamannya hanya dalam pot. Sehingga kemungkinan pohon itu kurang nutrisi untuk berbunga." jelas Pak Satpam.

Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #2; Keliling Naik Sepeda

"Mudik berikut kita musti keliling naik sepeda." Begitu kalimat yang disampaikan anak sulung saya ketika kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas sekaligus melihat dan menyaksikan percakapan seorang  ibu yang memetik bunga turi dan seorang bapak yang memelihara dan menjual tanaman dalam polibek di sekitar Selokan Mataram, Jogja. Kami beristirahat setelah lebih kurang 5 kilometer berboncengan.

Dan ini menjadi pengalaman pertama kali untuk saya mengayuh sepeda setelah lebih kurag dua tahun mengistirahatkan sepeda di rumah hingga banya kempes kehabisan angin. Dan ketika mudik akhir pekan  tahun ini, Saya kembali memompa sepeda anak di bengkel dekat penginapan mereka, yang dia beri nama Gemmy, yang kebetulan sekali juga kekurangan angin. 

Saat itu kota Jogja lumayan panas di waktu seputar pukul 10.00. Maka istirahat di bawah pohon kersen dengan beberapa sangkar burung prenjak yang tergantung di dahannya menjadi pelepas keringat yang mengasyikkan. Sesekali dialog seorang bapak pejual tanaman tadi dengan seorang ibu pemetik bunga turi itu terus berlanjut.

"Ini pohon cincau Bu. Monggo menawi ngersani. Saya jual. Pohon ini nanti sampai rumah ibu hanya perlu memindahkan ke tanah. Karena pohon ini sudah tumbuh bagus di dalam polibek. Ibu hanya perlu memberi air secukutnya sampai pohon ini benar-benar tumbuh. Selanjutnya daunnya tinggal dipetik untuk dibuat cincau." Kata Bapak itu kepada seorang ibu. Kami duduk di kanstein pinggir jalan yang menjadi pembatas tanggul selokan.

Dalam waktu istirahat itu juga saya manfaatkan dengan mengirim pesan kepada istri dan anak-anak tentang alamat lokasi kami janjian makan. Karena sejak kami berpisah di penginapan tadi, hanya arahnya saja yang saya tahu. Lokasi persisnya saya masih mengira-ira.

"Perempatan warung Soto ambil jalan arah yang ke kanan. Persis di perempatan stadion. Ikuti saja jalan itu nanti ketemu angkringannya." Begitu balasana pesan dari anak. Kami masih mendiskusikan dengan anak sulung rute yang akan kami ambil. Dari masukan Bapak Penjual tanaman, kami akhirnya menyusuri sepanjang jalan selokan tersebut hingga ketemu perempatan yang dimaksud.

Pengalaman naik sepeda dengan tujuan bukan untuk berolah raga tiba-tiba menjadi bagian dari aktivitas kegiatan mudik kami. Ini tidak lain karena moda transportasi kami ketika mudik ini adalah kendaraan umum. Sementara kami butuh bergerak. Maka sepeda menjadi pilihan untuk berkeliling di seputar Selokan Mataram...

Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #1: 3 Kenangan Mudik di Musim Buah

Dalam kunjungan saya untuk menengok keluarga yang tinggal di Purworejo dan Jogjakarta kemarin, menjadi kenangan baik buat saya dan keluarga besar. Ini tidak lain karena mudik kemarin menjadi mudik dengan anggota keluarga saya yang lengkap tidak ada yang harus absen karena alasan tertentu. Itulah yang menjadi kenangan tersendiri. 

Pertama, bagaimana susahnya memilih waktu yang pas dengan harga tiket yang tersedia dan masih terjangkau. Ini mengingat akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang panjang dengan 3 hari merah. Dan meski satu bulan sebelumnya saya memesan tiketnya, tetapi tetap juga harus naik ekonomi dengan harga tiket yang paling mahal. Itu juga dengan keberangkatan yang mengharuskan saya mengambil cuti setengah hari.

Mengendarai kendaraan sendiri atau memilih armada bus malam dalam perjalanan yang hanya ada 3 hari 3 malam, pada saat ini sudah bukan menjadi pilihan yang cocok untuk segi waktu. Ini tidak lain karena kondisi jalanan pada saat libur akhir pekan yang sedikit panjang, yang dipenuhi kendaraan. Dan dengan kondisi yang tidak pasti seperti itu, maka memilih selain jalur kendaraan non rel, menjadi tidak pasti dan bisa jadi melelahkan.

Maka kereta api dan pesawat adalah pilihannya. Kereta api selalu terkendala dengan ketersediaan tiket dan jam serta waktu keberangkatannya. Sedang pesawat terkendala dengan harganya. Demikian juga dengan kepulangan kembali ke Jakarta. Menjadi persoalan yang sama dengan keberangkatan saya ke Jogjakarta.

Menyepakati memilih moda transportasi dalam kegiatan mudik akhir pekan dengan berbagai kondisi dan pertimbangan sebagaimana di atas, menjadi hal yang juga tidak kalah serunya. Meski keterlibatan dunia maya sangat memberikan kemudahan bagi kita untuk lebih cepat dan cepat dalam menentukan pilihan.

Kedua, menjadi pengalaman bagi saya dan anak sulung ketika kami 'terpaksa' harus dijemput oleh adek saya yang defabel, sehingga harus mengendarai R3 dengan jarak tempuh rumah-stasiun kereta dimana kami turun lebih kurang 25 kilometer.

Dan kami bersyukur bahwa kami sampai stasiun kereta sudah pukul 21.00. Sehingga persaingan sesama pengguna jalanan Nasional tidak begitu kami rasakan. Ini karena tidak lain dengan kendaraan R3, yaitu R2 yang dimodifikasi untuk kami bertiga, laju kendaraan harus benar-benar sabar dan santai. 

Dan kami tetap menikmati perjalanan yang relatif panjang tersebut. Terlebih dengan 'hidangan' buah durian yang berjejer di sepanjang jalan daerah Bayan dan Bagelen, yang diterangi oleh lampu listrik yang terang. 
Main di pantai di kala mudik, menjadi syarat sejak dia balita.

Ketiga, kami menengok kampung halaman, dan juga menjenguk keluarga dan anak-anak saya yang tinggal di Purworejo bertepatan dengan musim beberapa buah yang sedang masak-masaknya. Ini menjadi hiburan tersendiri buat saya dan si sulung. Dan selain durian, buah yang sedang masak adalah jeruk, kepel, dan duku. 

Hiburan karena setelah sekian puluh tahun anak saya mudik dengan 'hidangan' buah yang ada di pekarangan rumah tersebut, menjadi hiburan dan kenangan tersendiri. Sebuah pengalaman yang memang saya rencanakan agar anak-anak saya yang kelahiran Jakarta, tetap senang dan terkenang dengan kampung atau udik orangtuanya. Setidaknya dengan buah-buahan yang langsung dapat mereka petik dari pohon halaman depan rumah. Semoga.

Jakarta, 28 Maret 2016

22 March 2016

Sekolah Sehat dan Puntung Rokok

Beberapa waktu lalu, dalam grup sosial media, ada teman yang menulis pesan kepada kami semua atas temuan dari pihak Dinas Kesehatan Kota Madya, atas temuan di taman rumput yang ada di halaman sekolah beberapa puntung rokok. Temuan ini menjadi masalah bagi kami karena sekolah akan menjadi duta Kota dalam Lomba Sekolah Sehat untuk jenjang atau tingkat yang lebih tinggi lagi. Maka temuan untung rokok tersebut yang masih masuk dalam kawasan sekolah menjadi temuan yang kurang baik.

Setidaknya itulah yang menjadi rekomendasi dari para tamu pihak Kota ketika melakukan kunjungan untuk pengecekan kesiapan kami dalam ajang Lomba Sekolah Sehat tersebut. "Ini harus benar-benar tidak ada lagi ada di lingkungan sekolah ya Pak. Karena ini sudah melanggar Perda. Bahwa lingkungan sekolah adalah lingkungan yang harus steril dari rokok. Dan puntung rokok ini menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah masih mentolerir ada yang merokok." Demikian yang disampaikan oleh Kapala Dinas Kesehatan Kota kepada kami. Saya sendiri ini menjadi hal yang mengagetkan. Karena memang itulah yang kami pasang di spanduk agar lingkungan sekolah benar-benar bebas dari rokok. Tetapi temuan itu membuktikan kepada kami semua bahwa bebas itu belum menjadi kenyataan. 

Pada tahap berikutnya, temuan dalam inspeksi tersebut dan ditulis sebagai laporan kemudian menjadi topik diskusi buat kami, para pengambil kebijakan di lembaga yang sedang bersiap sebagai Sekolah Sehat Provinsi, atau bahkan pada tingkat Nasional.

Lalu bagaimana akhirnya kami semua menyikapi atas saran dan masukan dari Ibu Kepala Dinas tersebut? Yaitu menyepakati agar sesama kami dan teman-teman yang ada di lapangan benar-benar menegakkan Perda tentang lingkungan sekolah yang bebas rokok dan juga ketentuan bahwa sekolah kita adalah sebagai kandidat juara Sekolah Sehat, maka tidak bisa tidak budaya tidak merokok di lingkungan sekolah harus benar-benar dipatuhi. Semoga.

Walau sejujurnya, dalam hati kecil saya memprotes atas kesepakatan dan komitmen itu. Karena bukan saja bebas rokok di lingkungan sekolah, tetapi justru pola hidup sehat yang menjadi tujuan akhir dari pencapaian sekolah sebagai kandidat sekolah sehat. Jadi bukan sekedar tidak merokok atau tidak membuang puntung rokok di lingkungan sekolah.

Jakarta, 22 Maret 2016.

Menjadi 'Orang Baru'

"Saya baru diangkat dan di tempatkan di sekolah ini Pak. Sebelumnya saya sebagai guru di daerah yang lumayan 'kota', yang siswanya ada sekitar 300an. Biasa Pak sebagai 'orang baru', maka saya seperti mendapat training. Mendapat amanah baru sebagai Kepala Sekolah setelah lulus tes, dan di tempatkan di sebuah SD yang siswanya tidak lebih dari 100 siswa." Komentar seorang Kepala Sekolah dimana saya dan teman-teman berkunjung ke lokasi dimana beliau bertugas untuk melakukan kegiatan berbagi dengan para peserta didiknya. Kedatangan saya dan teman-teman sesungguhnya untuk berkoordinasi tentang kegiatan kami di sekolah beliau. Tetapi entah dari mana tadi awalnya ceritanya, sehingga beliau kemudian mengungkapkan beberapa cerita seputar tugasnya sebagai Kepala Sekolah.

Usia beliau belum setengah abad. Dan sepanjang kami melakukan tukar pendapat di ruangan yang beliau sebut sebagai ruang guru dan ruang untuk menerima tamu, nampak beberapa ide yang relatif segar. Ini jika saya ingin memperbandingkan dengan beberapa Kepala Sekolah di Sekolah Pemerintah yang telah memiliki jam terbang lama. Dengan kondisi seperti itulah kami sebagai tamu merasa nyaman untuk berlama-lama berada di ruangannya. Tidak ada niatan dari kami untuk memutus komunikasi dan segera beranjak meninggalkan ruangan.

"Sebagai orang baru, saya banyak punya gagasan yang bermaksud untuk memajukan sekolah ini. Terlebih dengan keterbatasan yang ada di sekolah ini. Lokal hanya ada 8. 5 lokal untuk ruang kelas, dimana kelas dan kelas duanya bergantian mengunakan ruangan. 1 lokal untuk perpustakaan dengan koleksi buku yang masih sangat standar.  dan 1 lokal untuk ruang guru dan ruang Kepala Sekolah serta ruang tamu, dan 1 lokal dengan ukuran sepertiga ruangan kelas untuk ruang administrasi. Kami juga masih memiliki 3 guru, termasuk saya dalam status sebagai PNS sedang 4 lainnya dengan status honorer." Jelasnya. 

Saya dan teman-teman tetap berada di dalam ruangan itu dengan beberapa guru yang menemani serta menjadi saksi percakapan kami. Dengan penjelasan yang panjang lebar seperti itu, kami berada di pihak yang menunggu untuk diberi kesempatan menyampaikan apa yang memang beliau ingin ketahui dari keberadaan kami di situ.

"Pertama kali datang disini, saya sudah dihadapkan pada masalah rumah dinas yang ditempati oleh anak yatim dan piatu dari mantan Kepala Sekolah. Kami ingin sekali selesaikan masalahnya karena kebutuhan rumah bagi guru kami yang lokasi rumahnya jauh. Juga kami sudah tawarkan kepada yang bersangkutan untuk tetap tinggal di rumah dinas tersebut dan mau berperan sebagai penjaga sekolah. Tetapi yang pertama kali disampaikan ketika tawaran kami berikan adalah permintaan gaji." 

Saya dan teman-teman sempat juga tertegun dengan masalah yang satu ini. Menempati rumah dinas dengan tanpa memberikan kontribusi apapun? Tetapi sekali lagi, posisi kami adalah sebagai tamu. Maka kami hanya mendengar apa yang menjadi pemikiran ibu Kepala Sekolah tersebut.

"Alhamdulillah, sebagai orang baru, semua kondisi itu menjadi tantangan buat saya. Dan  di bulan Maret ini, dimana saya akan memasuki tahun kedua bertugas disini, saya mendapat banyak dukungan dari masyarakat sekitar sekolah setelah kami bertemu dengan semua unsur yang ada disini. Kami berharap supaya titik ini menjadikan masyarakat lebih percaya dengan sekolah ini. Mudah-mudahan dengan begitu, jumlah siswa sekolah kami dapat lebih meningkat. Doakan Pak." Kata Ibu Kepala Sekolah kepada kami.

Jakarta, 22 Maret 2016.