Hanya beberapa sebelum kami berangkat ke bandara, karena memang masa liburan kami segera berakhir, kami sengaja berikhtiar untuk membakar kalori sarapan pagi. Yaitu dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Somba Opu dari arah RS Stella Maris di Pantai Losari. Apa yang menjadi tujuan kami di Jalan Somba Opu tersebut? Tidak lain adalah salam perpisahan dengan para penjaga di Toko Kerajinan. Mengingat ada beberapa hal yang harus terpenuhi sebagai pelengkap dari Makassar.
Demikian pula pungnya. Saat kembali ke penginapan, mengingat waktu masih relatif pagi, maka kami berjalan kaki kembali dengan mengambil rute yang berbeda, yaitu menyusuri jalan Pantai Losari. Hingga seluruh pakaian kami harus basah oleh keringat. Dan ini membuat kami lebih percaya diri untuk kemudian pergi ke warung makan H Daeng Tayang yang berlokasi di Jalan Hasanuddin, yang dari penginapan dimana kami tinggali berjarak tidak lebih dari dua kilometer.
Selepas belanja di Toko Kerajinan dan minum kopi di Kopi Ujung, di jalan Somba Opu, Makassar, kami meluncur ke arah Karebosi untuk menjajal iga bakar di Konro Karebosi. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sam[ai di lokasi konro tersebut. Karena memang tidak terlalu jauh antara lokasi yang kami tuju dari posisi saya di Somba Opu. Ini sekali lagi guna membuktikan apa yang teman-teman di dunia maya telah sampaikan berkeaan dengan iga bakar Konro Karebosi yang menurut informasi saya dapatkan berporsi besar dengan daging iganya yang bertekstur lembut. Kami memesan untuk dua porsi plus air jeruk panas, dan tentunya cukup dengan satu porsi saja, nasi.
Dan ketika makanan terhidang, maka kesan pertama yang kami tangkap adalah ukuran porsi yang banyak dan gede. Langsung dalam pikiran saya, akan mendapat limpahan atau tambahan makanan dari istri yang kemungkinanan besar tidak akan selesai dimakannya.
Alhamdulillah, apa yang menjadi bayangan saya sebelumnya tentang iga bakar di Konro Karebosi, musnah begitu kami mendatanginya untuk mencicipi. Yang terbersit dalam pikiran saya berikutnya adalah, semoga saya dapat kembali lagi...
Hari kedua kami berada di Makassar, Suawesi Selatan, tepatnya pada Sabtu, 6 Oktober 2018, tujuan untuk makan ikan bakar setelah Lae-Lae adalah ikan bakar di Rumah Makan Paotere. Informasi ini kami dapatkan dari teman-teman di dunia maya yang mengunggah rumah makan ini di blog atau vlog mereka setaah mereka berkunjung di rumah makan ini. Maka dari penginapan di daerah Pantai Losari pukul 11.00 meluncur ke lokasi dengan bantuan angkutan on line.
Rumah Makan Paotere berlkasi di seberang jalan pelabuhan tradisional dan pelelangan ikan Paotere. Dengan begitu, maka jlan depan rumah makan ini kadang sedikit tersendat. Maklum, selain daerah pelabuhan juga adalah karena jaanannya hanya muat untuk dua lajur kendaraan.
Ikan bakar baronang, dan ikan bakar ayam-ayaman menjadi menu kami siang itu. Plus sayur bayam untuk menambah suasana segar pada siang hari tersebut. Dengan tiga model sambal sebagaimana yang disuguhkan di Rumah Makan Lae-Lae, yaitu sambal kacang, sambal dabu-dabu, dan sambal mangga. Alhamdulillah semua yang kami pesan habis kami makan dengan lahap.
Begitu sampai di Makassar, maka pertma kali makanan yang saya tawarkan kepada istri saya adalah ikan bakar dari Rumah Makan Lae-Lae yang lokasinya persis di pojok jalan Daeng Tompo dan Datu Museng, Maloku, Makassar. Lokasinya juga sangat dekat dengan antai Losari. Sebelum kesini, saya sudah memberitahukan beberapa hal yang saya sukai dari ikan bakar Lae-Lae ini. Yang terakhir saya kunjungi di sekitar bulan Agustus tahun 2010, ketika ada sebuh sekolah yang mengundang saya pada kala itu.
Kebetulan pula, saya memilih penginapan yang dekat dengan beberapa lkasi penting bagi kami, utamanya yang dekat dekat Pantai Losari. Sehingga cukup buat kami tidak lebih dari 3 menit melangkah berjalan ke lokasi rumah makan tersebut. Menu yang kami pesan adalah ikan bakar dan pepes telur ikan. Sedang sayirnya adalah sayur pare yang di dalamnya telah diisi parutan kelapa.
Alhamdulillah, istri saya cocok dengan apa yang dipesannya. dan semua hidangan yang kami pesan habis maki santap. Alhamdulillah.
Selepas Subuh, saya berangkat dari hotel untuk menuju Pantai Losari yang hanya berjarak tidak lebih dari 100 meter. Temaram lampu di sepanjang pantai masih mengalahkan gelapnya waktu pagi itu. Debur ombak laut nyaris tidak terdengar karena Pantai Losari pagi itu telah menjadi bagian dari sebuah telak yang dikelilingi oleh tanjung reklamasi. Sampai di Losari saya menuju ke arah Jalan Tanjung Bunga didekat Pantai Bugis untuk melihat langsung Masjid Apung, yang pintu gerbangnya masih terbuka. "Ditutup nanti pukul enam Pak." Kata petugas yang berjaga di halaman masjid ketika kami bertanya kepadanya tentang jadwal buka atau tutupnya.
Masjid Apung yang saya abadikan dalam video dari wilayah pantai depanmasjid.
Saya berdua istri mencoba mamasuki beberapa bagian dari masjid yang keren ini. Menjadi ikon di Losari sekaligus sebagai bagian penting bagi umat Islam yang ada di sekitar lokasi bila waktu shalat tiba. Manaiki tangga-tanggadengan desain memutar setengah lingkaran, yang ada hingga di lantai tiga masjid.
Akses jalan menuju masjid dari pantai. Indah sekali.
Pada waktu Magrib esok harinya, kami benar-benar mempersiapkan diri untuk berada di dalamnya dan bersama-sama dengan saudara kami guna menjalankan shalat. Alhamdulillah.
Saya memesan kopi hitam sembari menunggu waktunya makan siang di kedai Kopi Ujung, yang lokasinya ada di Jalan Somba Opu, seberang toko oleh-oleh Kerajinan, di Makassar. Saya memilih kopi hitam dan istri memesan kapucino. Saat itu, Sabtu tanggal 6 Oktober 2018, dan kami baru saja keluar dari toko Kerajinan setelah sebelumnya dari keliling tiga pulau dan masuk Fort Rotterdam. Waktu masih pukul 10.00.
Semesntara acara berikut yang akan kami kunjungi adalah Rumah Makan Paotere yang berlokasi di seberang pelelangan ikan di pelabuhan tradisional Paotere.
Jumat, 5 Oktober 2018 malam, kami tiba di Makassar untuk menengok kembali setelah terakhir kali saya berkunjung di tahun 2010 untuk sebuah keperluan. Dan mengingat tujuan kedatangan kami kali ini adalah untuk keperluan pribadi, maka lokasi menginap kami pilih di dekat pantai losari. Tepatnya di Jalan Daeng Tompo, yang juga dekat dengan Rumah Makan Lae-Lae, coto H Daeng Tayang, toko oleh-oleh Kerajinan di jalan Somba Opu yang bersebarangan dengan kedai Kopi Ujung, dan tentunya Masjid Apung.
"Bapak ada di kamar lantai 10 ya Pak. Saya pilihkan view ke pantai." Demikian pesan penjaga hotel ketika memberikan kunci kamar kepada saya. Dan ini menjadi keberuntungan bagi saya dan istri untuk sesering mungkin melihat pemandangan laut Pantai Losari dengan berbagai aktivitas pengunjungnya.
Keriuhan disetiap sore hingga malam hari yang nyaris tanpa jeda. Bahkan beberapa tenta stand pameran yang mengokupasi lahan di pantai menutupi tulisan Pantai Losari yang menjadi perburuaan para swafoto. Juga suara dari berbagai musik sebagai bagian dari kegiatan yang selain menyemarakkan suasna pantai juga menjadi hiruk pikuk. Plus asa rokok yang terus menerus, serta berbagai sampah dan bekas cairan yang tumpah di hamparan pantai hasil reklamasi ini.
Dan kesemarakkan berganti di pagi hari dengan tujuan yang berbeda, seperti untuk sekedar jalan-jalan atau melihat suasana berbeda seperti yang saya lakukan ketika berjalan dari ujung Jalan Tanjung Bunga hingga di depan Rumah Makan Tjomot.
Kami memulai hari selama tiga pagi di Makassar sejak awal seusai sarapan di hotel. Dalam rencana kami, pukul 08.00 kami sudah keluar hotel menuju destinasi pertama. Seperti pagi pertama kami berada di Makassar, maka tujuan awalnya adalah mengelingi pulau yang ada di dekat kota Makassar tersebut.
Maka pagi itu kami minta diantar oleh tukang becak menuju benteng Fort Rotterdam dimana seberang benteng akan ada beberapa perahu yang punya tujuan ke menuju Pulau Kayangan. Namun begitu becak sampai di depan benteng, seorang bapak, yang kemudian saya ketahui bernama Daeng Nai, menawari saya untuk mengelilingi 3 pulau dengan biaya 350 ribu rupiah. Dan tanpa menawar lagi saya langsung menyetujui rencana dia dengan memberikan beberapa catatan. Dan setelah sepakat, maka berangkatlah kami berdua menuju ke laut.
Penampakan pantai dari Pulau Kayangan. Masih tetap cantik, tetapi sepi pengunjung.
Yang pertama kami lintasi adalah Lae-Lae, nama yang sama dengan nama rumah makan di Jalan Datu Museng. Pulau ini merupakan pulau terbesar dari tiga pulau yang kami lintasi. Dengan bangunan menara masjid yang menjadi bangunan paling tinggi di pulau tersebut. Sedang Pulau Gusung menjadi pulau yang paling sempit. Yang tampak oleh kami dari kapal adalah warung makan.
Pulau Lae-Lae yang penuh dengan gambaran kesibukan. Karena bangunan dan jumlah kapal yang bersandar begitu banyak.
Saat melintas di Pulau Kayangan, saya kenangka hal yang berbalik pada saat saya pertama kali berkunjung ke pulau ini tahun 2005 yang lalu. Perbedaan yang kontras adalah keramaian. Pada tahun 2005, saya masih bertemu banyak pengunjung yang datang dan pergi ke pulau ini. Sementara pada saat ini, 2018, saya hanya melihat beberapa pemancing yang berada di anjungan pulau itu.
Jajaran kapal nelayanm yang siap melayani pelancong. Termasuk yang bermaksud ingin snorkling.
Kembali dari melintasi tiga pulau tersebut, Daeng Nai membawa kami melintasi tepi dermaga Makassar. Mulai dari sisi dermaga penumpang hingga di dermaga peti kemas.
Beberapa waktu lalu, ketika saya mudik ke kampung halaman, mendapatkan oleh-oleh dari teman satu paket lumayan besar dan banyak, berupa geblek. Geblek oleh-oleh ini masih berupa adonan yang telah berbentu lingkaran. Dengan demikian, nantinya jika kami ingin menyantapnya, maka kami tinggal memasaknya dengan cara menggoreng dengan menggunakan minyak yang lumayan banyak agar pada saat di goreng geblek tersebut tidak meledak-ledak.
Geblek makanan khas daerah kami yang berada di wilayah Kedu bagian selatan. Terbuat dari tepung tapioka atau tepung singkong. jika telah dimasak, makanan itu mirip dengan kerimpying. Bedanya, kalau kerimpying disajikan ketika digorengnya hingga matang dan kering. Sementara geblek digoreng matang tetapi asih relatif basah atau belum sampai kering.
Manikmati geblek oleh-oleh Purworejo.
Geblek yang menjadi oleh-oleh teman tersebut telah tersimpan di dalam kulkas rumah. Pernah dua kali saya menggorengnya di rumah untuk disantap pada sore hari sebagai teman menum teh sereh yang saya buat. Namun setelah itu saya lupa bahwa masih ada geblek di kulkas. Sampai suatu saat istri saya mengeluarkan semua geblek oleh-oleh tersebut dari kulkas dan meletakkannya di atas meja makan. Sehingga saya berpesan agar menyimpannya kembali untuk kemudian meminta agar bisa saya bawa ke sekolah guna dimasak dan dirasakan oleh teman-teman.
Benar saja, berbagai pernyataan dan rasa penasaran datang kepada saya melalui pesan wa, setelah saya mengirimkan gambar sedang makan geblek bersama teman di ruang masak sekolah dengan ditemani oleh dua siswa saya. Pertanyaan da rasa penasaran itu datang karena mereka rata-rata baru keli pertama makan makanan geblek yang saya bawa.
Kamis, 13 September 2018, saya menerima dua eksemplar buku kumpulan cerita pendek, ynag terdiri 61 cerita pendek. Buku itu merupakan buku kumpulan cerita pendek yang ke-13 dan ke-14, yang diterbitklan oleh Penerbit Bestari. Cerita-cerita pendek tersebut merupakan karya dari anak-anak sekolah dasar di Jakarta, Tangerang, dan Depok, yang ikut serta dalam program menuisnya Kak Lala Elmira, One Day to Write. Dimana Kak Lala secara rutin memberikan bimbingan kepada anak-anak untuk menulis cerita. Dan dari sekian anak yang menjadi peserta menulisnya, 61 anak tersebut yang tulisannya masuk dalam dua buku yang ada di tangan saya.
Dan bersamaan dengan berlangsungnya IIBF, International Indonesia Book Fair, di Jakarta, pada 12-23 September 2018, maka Rabu, 12 September 2018, 7 (tujuh) siswa dari SD dimna saya berada, terpilih menjadi penulis berbakat dalam launching buku berjudul Dunia Senyum dan Serbuk Waktu yang diterbitkan oleh penerbit buku Bestari Jakarta.
Tujuh penulis dari peserta didik di sekolah dmna saya ada adalah;
Aisyah Nur Zahiyah, dengan cerita berjudul Aku Bisa Menari.
Andi Alyssha Aurelia, dengan cerita berjudul Misteri Pintu ke-2000.
Chaerannisa Syahira F, dengan cerita berjudul Antara Dia dan Aku.
Dayanara Ardanari, dengan cerita berjudul Kuda Impian.
Fadhila Zahra Laksanadewi, dengan cerita berjudul Dhildul: Si Ngak Bisa Diam.
M Alif Fatif Ferdiansyah, dengan cerita berjudul Petualangan di Pulau Misterius.
Nada Kirana Raseesha, dengan cerita berjudul Toko Buku Ajaib.
Atas prestasi menulisnya sehingga tulisannya berhasil dimuat dan terbit dalam buku Dunia Senyum dan Serbuk Waktu, kita sampaikan ucapan selamat kepada tujuh peserta didik tersebut. Dan ini menjadi buku ke-13 dan buku ke-14.
Sejak masa sekolah, saya sudah begitu menyenangi pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru sejarah kami yang bernama Pak Soekirno. Beliau yang juga adalah mantan sukarelawan angkatan Laut di masa kolonial, yag kemudian mengabdikan dirinya sebagai guru sekolah, menjadi begitu hidup ketika merangkai tanggal-tangga peristima di perang kemerdekaan. Dan mencongak, adalah bagian dari aktivitas yang beliau sampaikan kepada kami di sekolah. Dan saya bersyukur bahwa nilai mencongak saya selalu bagus hingga di ijazah. Alhamdulillah.
Dan ketika lanjut di sastra, membaca saya beralih ke cerita-cerita monumental Indonesia, yang meski berlatar cerita kehidupan, namun selalu tersirat atmosfir sejarah di benak saya. Paling tidak memberikan sejarah hidup para tokohnya. Karena para tkohnya memang menjalani kehidupannya bersama-sama masyarakat yang ada di sekitar mereka dengan berbagai permasalahan yang ada di masa mereka ada.
Salah satu ilustrasi yang terdapat dalam buku Atlas Budaya Islam karya Islam Raji' Al Faruqi dan istrinya.
Dan menjelang usia bertambah, saya begitu terkesimanya dengan sejarah kehidupan yang berkaitan dengan agama. Dan dari lembaran sejarah yang berupa perca-perca karena ditulis dengan topik yang singkat, saya mencoba menulusurinya melalui kisah yag lebih detil. Maka beberapa buku satu tema menjadi bagian dari semangat saya untuk mengetahui sejarah secara lebih detil.
Banyak hal yang saya temukan setelah saya bertemu dengan berbagai buku tersebut. Banyakhalnya justru hal-hal yang sebelumnya sumir dalam pengetahuan saya. Namun setelah membacanya, saya melihat betapa sejarah yang saya baca memberikan gambaran yang sempurna tentang perjuangan masa-masa awal agama saya.
Memang masih ada satu yang menjadi kepinginan saya untuk tahap selanjutnya selain saya membacakan kalimat-kalimat sejarah yang ada di buku saya kepada orang-orang disekitarnya, adalah membuat dokumentasi yang membantu orang auditori bisa terkesima dan tekun menyimak sejarah. Semoga.
Ketika ditanyakan kepada saya tentang nomor passport, maka segera saja saya mengirim fotonya kepada yang bertanya. Berharap diajak piknik, atau setidaknya menemani. Ini berlagsung sepekan sebelum semuanya akan dilaksanakan. Dan alhamdulillah, akhirnya memang jalan juga saya bersama teman-teman ngajar. Seperti halnya pada waktu-waktu ketika saya menjadi bagian dari rombongan, bahwa piknik ini hanya memakan waktutiga hari tig malam. Jadi kalaupun harus bertamasya, maka tidak semua lokasi kunjungan yang terhitung bagus dapat kami kunjungi. Demikian pula halnya dalam perjlnan kali itu.
Inilah lebih kurang perjalanan saya bersama teman di KL selama tiga hari tiga malam tersebut;
Ini lokasi belanja ibu-ibu yang kata pengunjunga asal Indonesia harganya miring.
Ngukur jalan yang ada di Bukit Bintang Street selepas waktu Isya.
Berkunjung di Masjid Putra di Putrajaya.
Foto di parkiran Lapangan Merdeka.
Mejeng di pinggir Sungai Melaka sebelu nantinya naik perahu.
Mendapat tawaran bagus dari Jakarta untuk mampir di restoran di salah satu mall di KL.
Saat mudik, menjadi momentum buat saya untuk bertemu dengan teman sekolah. Seperti juga pada mudik Idul Adha 1439 H yang lalu. Tepatnya pada Rabu, 22 Agustus 2018. Menjadi penting saya catat disini mengingat teman lama saya yang saya kunjungi adalah teman ketika saay sekolah berkontribusi banyak hal kepada saya. Baik berkain masalah bantuan pangan dan transportasi. Maka ketika dia, yang pada saat ini telah bertempat tinggal di provinsi yang ada di Sumatera, maka kunjungan dan pertemuan saya sebagai melepas kangen dan ucapan terimakasih. Inilah motivasi saya ketika bertemu dengan teman-teman sekolah saya di kota kampung halaman saya.
Heri, Eny, Niken, Tuti, Juwita, dan Tarno. Foto diambil pada Kamis, 23 Agustus 2018 dimana Ngadat, Suryono, Tomo, dan Puji telah pulang lebih awal.
Dan bertemu dengan teman sekolah di saat saya muda, menjadi penting buat saya. Meski dalam setiap pertemuan saya hampir-hampir hanya sebagai pendengar. Karena memang itu kapasitas saya ketika muda. Tidak memiliki cerita yang berlembar-lembar di masa itu. Sementara teman-teman akan saling saut dalam menyampaikan ceritanya di hadapan kami. Tentunya cerita di kala kami semua bersama muda dan bersekolah.
Dalam kegiatan mudik saya yang hanya empat hari tiga malam bersama bontot, selain bertemu teman-teman di kala muda, kegiatan saya lainnya adalah menyusuri setiap jengkal tanah pekarangan di sekitar rumah orangtua. Saya mencoba menemukan beberapa tanaman yang telah saya tanam pada mudik sebelumnya dan melihat perkembangannya. Ada dua pohon durian cabang tiga yang pada saat mudik sebelumnya telah berhasil tumbuh kala itu saya temukan telah kering, mati karena kekeringan tidak ada suplai air. Juga ada beberapa tanaman saya lainnya saya temukan tidak dalam kondisi yang tumbuh segar. Saya masih bersyukur bahwa dua pohon cengkih dan pohon gaharu yang masih tumbuh dengan tunas-tunas muda yang hijau muda mengkilat. Maka pada saat berada di kampung itulah saya menggelontorkan suplai air kepada tanaman-tanaman masa depan itu dan juga sekaligus membuat delapan lubang baru untuk menjadi lokasi penanaman kecombrang yang saya bawa serta dari Jakarta.
Sebagai gambaran saja, bahwa pekarangan rumah yang ada di kampung halaman saya tersedia pohon kelapa sebagai pohon utama. Ini karena ketika kami masih kecil dan membutuhkan biaya untuk bersekolah, maka pohon kepala itulah yang menjadi tulang punggung keberlangsungan keluarga kami.
Dan ketika waktu berjalan maju, maka diantara pohon-pohon kepala kami tanami berbagai tanaman keras jangka panjang seperti mahoni, jati, dan pastinya sengon. Tiga jenis pohon inilah yang menjadi tabungan jangka panjang keluarga kami ketika harus ada dana yang dikeluarkan.
Dan sekarang, tanaman-tanaman baru yang kami tanam selain tiga jenis pohon keras tersebut, adalah berbagai pohon buah. Dan ketika harga buah kelapa tidak lagi bisa menjadi tumpuan penda[patan karena harganya tidak lagi menarik, kelapa-kelapa kering yang tersisa dan ada di rumah mejadi tunas. Dan ini selalu saya tamui ketika saya sedang mudik. Jadilah kelapa tunas itu saya pecah untuk diambil kentosnya, dan buah kelapanya untuk kami jadikan minyak kelapa.
Setelah saya mematikan bahwa anak bontot sepakat untuk mengabil cuti kerja diantara Idul Adha 1439 H yang jatuh pada hari Rabu, 22 Agustus 2018 dan week end, maka segera pula saya memesan tiket kereta api untuk pergi dan pulang ke kampung halaman, alias mudik. Ya kami hanya berdua ke kampung, mengingat di Jakarta sedang ada tamu istimewa kami yang selama ini mereka tinggal di perantauan. Maka keuarga kami terbagi dalam dua kelompok. Dan saya dengan bontot yang memiliki acara keluar kota tersebut.
Tampaknya memesan tiket perjalanan untuk waktu yang tidak lama sebelum keberangkatan membuat sediitnya pilihan. Pilihan untuk mendapat jadwal keberangkatan yang pas di hari kerja, dan juga kesempatan untuk mendapatkan harga tiket yang miring serta terjangkau. Dan dengan keterbatasan itulah akhirnya kami memilih kereta yang jadwal di stasiun kedatangannya kurang pas. Ini karena memang sulit meminta bantuan kepada adik yang ada di kampung halaman mengingat kami berdua dari Jakarta.
Hingga akhirnya teman yang menawarkan untuk menjemput di stasiun dan kemudian memberikan pinjam kendaraannya kepada saya hingga kegiatan di kampung halaman saya kelar. sebuah kemuliaan hati sahabat. Dan dengan kendaraan itulah kami melakukan mobilitas yang tinggi selama emat hari tiga malam di kampung halaman. Terimakasih sahabatku.
Beberapa waktu lalu, saya telah membawa pulang ke rumah, lemari mainan Abqari, yang berupa mobil-mobilan dari berbagai ukuran, yang panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Jadi mobil-mobilan yang mungkin setipe dengan modelnya.
Lemari ini saya pesan dari pegawai kantor yang tangannya kriting untuk megerjakan hal ihwal yang berkenaan dengan kayu dan kertas. Jadilah saya mencoba untuk memberikan spesifikasi 'lemari' pajangan. Dan itu dia imajinasikan dengan bentuk dan berbagai warna yang sebelumnya saya kurang begitu mengetahuinya sampai kemudian menjadi bentuknya.
Sedang mobil-mobilan yang sudah dimiliki Abqari semakin hari semakin bertambah. Ini karena keinginannya untuk memiliki mobil-mobilan yang dipanajng di warung tetangga begitu menggebu. Juga ada beberapa yang dibelikan oleh Pakde atau Budenya sebagai oleh-oleh kagetan.
Dan alhamdulillah lemari pajangan itu benar-benar telah digunakan untuk memajang dan memarkir mobil mainan Abqari.
Pada pekan yang lalu, atau persisnya hari umat, 10 Agustus 2018, saya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Taman Kanak-kanak dimana saya terlibat di dalamnya, kegiatan yang luamayan spartan tetapi menyenangkan sekaligus memberikan rasa bangga. Ini karena kegiatan yang melibatkan anak-anak pra sekolah dasar tersebut dibuat bersambung. Berikut adalah kegiatan yang saya maksudkan.
Kegiatan pertama adalah kegiatan parade kebangsaan yang diikuti oleh semua siswa yag ada di Kelompok Bermain dan TK. Rutenya adalah sejak keluar dari kelas mereka menuju hall sekolah sebagai lokasi upacara bendera. Berikut adalah penampakan kegiatan parade tersebut;
Kedua adalah kegiatan upacara bendera. Kegiatan upacara bendera anak TK untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun. Menarik sekali karena pemimpin upacara, Kenzi, dan semua petugasnya terdiri dari anak-anak yang masih duduk di kelompok TK B. Demikian pula dengan para peserta upacara. Membangkitkan rasa kagum. Selain peserta upacaranya adalah anak-anak, ada juga tamu undangan yang menjadi peserta kehormatan. Mereka adalah dua asesor dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi DKI Jakarta, yaitu Ibu Kristiana Wuryani, M.Pd. dan Ibu Eva Yasmin Abas, SE. Juga anggota TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur dibawah Komandan Ramill, Kapten Elba.
Kegiatan upacara bendera anak TK untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun. Menarik sekali karena pemimpin upacara, Kenzi, dan semua petugasnya terdiri dari anak-anak yang masih duduk di kelompok TK B. Demikian pula dengan para peserta upacara. Membangkitkan rasa kagum.
Kegiatan ketiganya adalah menonton kegiatan baris berbaris yang didemokan oleh Bapak-Bapak TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur.
Kegiatan ketiganya adalah menonton kegiatan baris berbaris yang didemokan oleh Bapak-Bapak TNI dari Koramil Pulogadung, Jakarta Timur.
Kegiatan keempat adalah menghadiri kegiatan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi DKI Jakarta untuk unit TK, dengan asesornya adalah Ibu Kristiana Wuryani, M.Pd. dan Ibu Eva Yasmin Abas, SE.
Saya merasa beruntung sekali ketika membuka file lama menemukan beberapa video yang sempat saya ambil ketika saya berkunjung ke lkasi kerja teman di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau beberapa tahun silam. Video yang tetap sama ketika saya mengambilnya pada saat datang di pelabuhan Djago, Dabo, Pulau Singkep sekitar pukul 17.00 dan hingga sampai Pancur, dimana kami janjian menginap di sana selepas Isyak dengan air pasang yang menyambut saya hingga saya tidak terlalu kepayahan ketika memanjat jembatan dermaga yang terbuat dari kayu.
Dari video yang ada, saya kompilasi dan saya simpan di sini;
Meski hingga sekarang, tetap saya saya merasakan ada yang kurang, ada yang tertinggal, ada yang menjadi hilang dalam dokumen, yaitu ketika dalam pengambilan video pada saat masih berada di sana. Yaitu momen dimana ketika saya menuju Pancur dengan kendaraan perahu selepas Magrib selepas hujan. Yaitu pemandangan jutaan kunang-kungang yang permukaan sungai yang kami lalui...
Ini menjadi hadiah bagi saya di pekan-pekan awal tahun pelajaran baru, 2018/2019. Yaitu undangan untuk menghadiri kegiatan launching buku kumpulan cerita yang antara lain ditulis oleh tujuh siswa saya yang telah duduk di bangku SMP. Ini menjadi buku pertama dan buku kedua bagi mereka dan jga bagi SMP saya yang benar-benar dibukukan dan dijual di toko buku. Saya bersyukur dengan ikhtiar yang telah mereka lakukan bersama guru dan penerbit.
Seperti biasanya, bahwa setiap pagi, sebelum teman-teman guru siap menyambut siswa di hlaman sekolah, maka saya terlebih dahulu mengawali berada di sana untuk bertemu para peserta didik yang berdatangan secara bergelombang. Seperti pagi itu. Saya sudah berada di lokasi ketika anak-anak berdatangan dengan semangat paginya yang mengesankan. Dengan berbagai model suka yang ditampilkan pada raut wajah mereka masing-masing yag ceria.
Saya, seperti biasa memanggil nama-nama mereka yang telah saya ingat. Ini juga sebagai usaha bagi saya untuk terus dapat mengingat nama-nama mereka. Ada nama-nama yang tetap melekat dalam ingatan saya. Dan bahkan beberapa nama yang lebetulan bersaudara diantara mereka, saya merasa begitu mudah ingat nama mereka beserta urutannya. Namun ada pula yang menjadi lupa. Maka mengucapkan satu persatu nama-nama ketika bertemu mereka di pagi hari adalah menjadi sarana bagi saya untuk terus ingat mereka.
Juga terhadap seorang peserta didik saya yang sekarang telah duduk di bangku kelas lima SD. Beberapa kali saya telah menemukan namanya dalam lembaran ingatan saya. Namun sampai sekarang saya masih belum dapat menyimpan ingatan tersebut dengan rapi. Inilah yang membuat saya sepertinya berhutang dengannya. Ini tidak lain karena pada pagi itu iyalah siswa saya satu-satunya yang mengingatkan saya akan baju baru yang saya kenakan pada hari tersebut.
"Baju baru ya Pak Agus?" Demikian tiba-tiba ia katakan sesuatu yang saya sama sekali tidak menyangkanya. Ia katakan ketika akan bersalaman dengan saya di hall sekolah.
Benar bahwa saya memang mengenakan baju yang meski bukan baru sekali, namun saya memang baru mengenakan baju itu untuk ketiga kalinya. Dan kata-kata baju baru yang [peserta didik saya sampaikan itu menjadi perhatian yang menakjubkan saya. Terimakasih...
Berlokasi di MPR sekolah lantai 3, pada Senin, 28 Mei 2018, SD
Islam Tugasku meluncurkan buku kumpulan cerita pendek siswa yang merupakan buku
ke-10 dan ke-11 mereka. Buku kumpulan cerpen kesepuluh berjudul Lisan Sebuah
Batu yang berisi 15 cerita pendek siswa. Sedang buku kesebelas berjudul Tikus
Kecil dan Penebang Pohon yang berisi 27 cerita pendek.Kegiatan menulis ini merupakan program one day to write yang diinisiasi oleh Kak Lala Elmira.
Membaca
dua buku cerita pendek anak-anak dan cerita pendek anak dan bunda yang
merupakan hasil dari kegiatan one day to write itu, memberikan kepada saya banyak
kesan. Semua kesan menyenangkan dan membanggakan. Karena dengan cerita pendek
yang dibuat memberikan wahana belajar baru bagi saya. Cerita pendek mereka
memberikan kepada saya untuk bisa melihat dunia imajinasi yang telah diuraikan
dalam plot ceritanya masing-masing.
Lisan Sebuah Batu, cerita pendek yang menjadi judul buku kumpulan cerpen tersebut, merupakan kisah tentang seorang anak yang selalu abai dengan
nasehat baik hingga harus menemui kejadian yang tidak menguntungkan. Hingga
pada suatu peristiwa ia menyadari bahwa apa yang ia abaikan selama ini adalah
karena sikap kepala batu untuk menerima nasehat.
Sedang buku Tikus Kecil dan Penebang Pohon, cerpen yang menjadi judul buku kumpulan cerita pendek kolaborasi anak dan bunda, bertutur tentang perilaku penduduk
dalam memanfaatkan lingkungan dengan tidak terkontrol yang mengakibatkan kepada
kerusakan lingkungan. Penebang pohon harus mengalami sebuah peristiwa dimana
penolongnya justru tikus yang pada masa lalunya harus terusir dari rumahnya
yang ada di pohon yang ia tebang.
Jika buku Lisan Sebuah Batu merupakan hasil karya siswa yang menjadi peserta
ekskul menulis, maka buku Tikus Kecil dan Penebang Pohon merupakan buku
kumpulan cerita pendek kolaborasi Ibu dan anak. Dimana anak akan bersama-sama dengan bundanya membuat satu cerita. Ini menjadi sesuatu yang unik dalam sebuah kegiatan di sekolah.
Saya
mensyukuri bahwa ada event seperti ini yang diinisiasi oleh ekskul menulis.
Sebuah ide cermerlang. Memberikan kesempatan dan peluang untuk bunda dapat
bersama dengan buah hatinya bercengkerama tentang hal yang monumental secara
bersama dan kolaboratif. Sebagai sarana untuk saling berbagi, saling menerima,
saling memahami, berdialog, dan bersama mengambil keputusan.
Dari
27 cerita yang ada di dalam buku Tikus Kecil dan Tukang Kayu, memberikan kepada
saya tren imajinasi yang ada. Diantaranya adalah tentang ke-ajaiban. Seperti
keajaiban pada sepasang sepatu. Keajaiban serangkaian kereta api. Keajaiban
pintu. Dimana dalam keajaiban yang disampaikan akan menghantarkan kepada dunia
lain. Dunia petualangan yang penuh kepahlawanan dan kegembiraan. Menghibur.
Beberapa
kali saya kedatangan tamu kecil saya. Mereka ada yang masih duduk di bangku
sekolah dasar atau juga yang sudah di bangku SMP. Tamu saya datang bukan untuk
kepentingan dinas tentunya. Karena mereka masuk ke ruangan saya tanpa agenda
yang harus menjadi bahasan diskusi. Juga tidak pernah formal. Saya juga
menerima mereka dengan biasa saja. Meski demikian selalu saya tanya apa
kepentingannya.
Kadang
sering juga mereka datang dengan terlebih dulu ngintip ke dalam ruangan. Ini
karena tinggi badan mereka yang belum sampai untuk melihat ke dalam ruangan
melalui kaca tengah yang memang sengaja untuk melihat. Kadang juga mereka
membuka pintu ruangan dan mendapati saya sedang rapat.
"Siapa
Pak Agus?" Kata teman rapat saya ketika ada diantara tamu informal saya
itu tiba-tiba membuka pintu ruangan.
"Fulan.
Apakah ada perlu dengan Pak Agus?" Begitu saya biasa menegur tamu itu
ketika pintu ruangan terbuka. Dan tamu itu kembali dia tutup setelah mengetahui
bahwa saya sedang ada pertemuan.
"Maaf
Pak Agus. Saya pikir Bapak sedang tidak rapat." Begitu keramahan peserta
didik saya pada waktu-waktu kerja saya di ruangan.
"Mengapa
anak-anak itu datang ke sini Pak Agus?" Tanya rekan rapat saya keheranan.
Saya memahami karena selama ini teman saya bekerja di ranah perkantoran yang
mengurusi dokumen. Berbeda dengan saya yang sepanjang hari bertemankan para
siswa yang ada di lembaga pendidikan ini.
"Tidak
apa-apa. Biasanya mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Sesuatu yang
mereka anggap penting. Tetapi lebih seringnya yang mereka inginkan ketika
sampai ke ruangan saya adalah ngadem setelah mereka berkeringat main bola di
lapangan..." kata saya.
Sepanjang
tahun pelajaran 2017/2018 ini saya mendapat lima siswa talaqi, dan mereka semua
adalah siswa kelas IX. Yang berarti mereka akan meninggalkan jenjang pendidikan
menengah pertamanya. Artinya bagi saya dengan kelimanya adalah usainya waktu
bertemu bersama mereka di saat selesai shalat Dhuha, berbaris kebelakang dan
maju bergantian untuk membacakan kepada saya satu, dua, bahkan empat halaman Al
Qur'an.
Itu
juga dapat saya artikan bahwa kedepan saya sudah sedikit sekali
kemungkinan mendengar mereka tilawah dengan mushafnya, memberikan masukan
jika dibutuhkan, dan memberikan dorongan. Juga sudah tidak akan lagi bersama
mereka seperti ketika sesekali saya meminta mereka untuk membuka kembali Al
Qur'an-nya dan memperdengarkan terjemahan ayat-ayat. Tahun depan, di tahun pelajaran 2018/2019, saya akan
mendapat siswa baru yang pasti berbeda keunikannya dibanding tahun ini. Inilah
yang menjadi waktu sekarang ini, sebagai waktu akhir tahun pelajaran, menjadi waktu pembatas buat saya untuk mengakhiri yang lalu dan bersiap menyambut sesuatu yang baru di pertengahan Juli nanti sebagai awal tahun pelajaran baru.
Ini menjadi penting untuk saya buat catatan agar saya dapat mengingat selalu dengan pengalaman bersama lima peserta didik saya dalam talaqi Al Qur'an. Bahwa kelimanya dari mereka memiliki keunikan yang luar biasa berkesan dalam diri saya. Kelimanya juga d\menjadi cermin untuk saya sendiri dalam hal kebisaan dan kebiasaan saya dalam membaca Al Qur'an.
Ada yang sejak awal tahun pelajaran ketika tilawah Al Qur'an dapat saya ibaratkan sebagai kemampuan berlari begitu kencangnya, faham sekali kapan istrirahat, pelan sementara, dan kemudian melakukan sprint. Yang dari Senin hingga Kamis ia telah menyajikan bacaannya di hadapan saya tidak kurang dari 20 halaman atau 10 lembar, atau satu juz. Sehingga dalam kurun waktu tahun pelajaran kemarin ia berhasil khatam satu kali dan yang berikutnya sudah masuk di juz ke-10.
Ada juga yang tidak berlari tetapi berjalan begitu cepat degan alunan merdu suaranya yang benar-benar keren, dan saya selalu memberinya kesempatan untuk menyelesaikan dua halaman sekali pertemuan. Juga ada tiga siswa saya lainnya yang meski baru berjalan tetapi langkahnya langkah tegap teratur. Yang ketika awal pertemuan di awal tahun pelajaran kadang masih tersendat. Dan kepada mereka menyajikan bacaan satu halaman setiap harinya. Mereka semua, kelimanya, memberikan warna tersendiri kepada saya. Sungguh!
Pagi
itu, setelah saya merasa cukup keberadaan beberapa guru yang menyambut siswa di
halaman sekolah, saya meminta izin kepada teman yang ada di lapangan sekolah untuk berpindah lokasi ke arah pintu masuk Taman Kanak-kanak. Tujuannya tetap sama, yaitu melihat keadaan dan situasi di jalur masuk yang khusus untuk anak-anak yang ada di TK kami. Selain juga beberapa siswa dan staf guru. Pagi hari menyambut kedatangan siswa bagi saya adalah membuka halaman demi
halaman buku. Yang setiap halamannya itu bertahap satu demi satu saya mencoba
menghafalkannya. Agar setiap halaman yang ada di buku dalam benak saya itu lebih bermakna
bagi perjalanan saya.
Ada
beberapa nama berhasil saya rekam dengan baik dan saya lekatkan pada halaman
yang tersedia. Bahkan hingga lima, empat, tiga, dua, atau tunggal yang ada di
dalam keluarga saya belajar mengingatnya. Ada mereka yang sudah di kelas IX
dengan adik di kelas lima. Ada yang di kelas IX dengan adik di kelas VI dan
juga kelas Kelompok B. Atau ada kakak yang kembar di kelas VI dan adiknya yang
juga kembar. Alhamdulillah. Dan terus terang, jika ada UKK-nya, atau Ulangannya, maka kemampuan saya untuk dalam mengahafal nama-nama saya yang ada di Kelompok Bermain hingga kelas IX SMP, masih terhitung sedikit. Dan iji menjadi ukuran saya bahwa saya harus lebih bekerja keras keliling ke kelas dan lorong sekolah, termasuk di kantin, agar waktu perjumpaan saya dengan peserta didik saya lebih panjang. Sehingga jumlah siswa yang namanya mampu saya ingat lebih baik.
Pada saat 'perjalanan' saya sampai di pendopo sekolah yang difungsikan sebagai shelter bagi penjemput di sekolahan masuk ke suasana sepi karena libur sekolah menjelang Ramadhan di hari Jumat, 18 Mei 2018 lalu, sekedar menyempatkan diri untuk mengecek barang apa saja yang masih ada dan mungkin perlu dibereskan sebelum sekolah benar-benar libur akhir tahun pelajaran ini, saya menemukan hal yang sangat mengagetkan. Karena ada map sekolah yang terletak di atas kulkas, yang setelah saya cek isinya ijazah sekolah asli dan foto kopi-nya! Bagi saya, ini adalah penemuan terbesar! Karenanya wajar bila saya kaget.
"Pak, Ini sudah berapa lama kira-kira barang ini tertinggal atau diletakkan disini?" Kata saya kepada salah seorang anggota security sekolah yang berada di lokasi tersebut. Tentu ia tidak dapat memberikan jawaban atau informasi. Sementara kepada penjaga pendopo, yaitu orang yang sehari-hari berada di situ, memasuki Ramadhan ini mereka telah pulang ke kampung halamannya. Meski demikian, saya tetap bersyukur bahwa ijazah yang ada di dalam map tersebut semua masih utuh dan tetap terjaga dengan baik.
Atas penemuan tersebut maka saya menemui beberapa orang yang berkepentingan baik di SD atau di SMP. Karena si pemilik ijazah tersebut kini sudah duduk di bangku kelas XI SMA! Kepada guru SMP yang informasikan temuan tersebut dan menyampaikan bahwa si empunya ijazah pada saat itu kebingungan dan mencarinya di SMP tetapi tidak ditemukan. Juga ketika di SD, maka orang di SD juga pernah didatangi pemilik ijazah tersebut dan memang tidak menyimpannya setelah bukti kelulusan tersebut di serah terimakan.
Atas penemuan tersebut, saya sampaikan kepada sekretaris sekolah untuk segera mencari nomor kontak orangtua pemilik ijazah tersebut dan sesegera mungkin menghubunginya guna diambil. Sampaikan kronologi penemuannya jika yang bersangkutan membutuhkan informasinya.
Peserta didik saya ini luar biasa perhatiannya dengan lingkungan sekitarnya. Baik dengan teman atau guru yang ada di sekitarnya, juga dengan benda yang dalam jangkauan perhatiannya. Seperti yang saya temui ketika itu.
Pagi hari. Jam masuk sekolah belum.dimulai. Dan tas sekolahnya masih ada di punggungnya. Saya bertemu setelah berputar-putar di lingkungan sekolah sebagaimana aktivitas pagi saya sembari menyapa semua yang ada di sekolahan sebelum memulai hari. Beberapa peserta didik yang di SD bersama barisan kelasnya sudah mulai menuju hall sekolah untuk kegiatan pertama mereka, ikrar pagi dan affirmasi.
Dan pada saat perjalanan pagi saya sampai di plasa SD, saya menjumpai seorang siswa sedang berjongkok mengahadap tanaman yang ada di delat pagar samping belakang sekolah. Atas apa yang saya lihat itu, saya mencoba untuk mengetahui kegiatan apa yang siswa saya sedang lakukan tersebut sehingga ia begitu asyik sendirian.
Beberapa saat kemudian baru saya mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah mengumpulkan benang sari bunga di telapak tangan kananya. Sementara jemari tangan kirinya mengurut mulai dari pangkal bunga hingga ujungnya. Saya tetap ada di kejauhan jarak tiga meter darinya sebelum akhirnya ia menyadari akan keberadaan saya.
"Asyik sekali. Sedang apa gerangan siswa Pak Agus sehingga berhenti disini sebelum masuk kelas?" Kata saya memulai percakapan dan pingin tahu.
"Aku sedang mengumpulkan biji bunga Pak.Agus." katanya sembari menunjukkan hasil kumpulan biji bunga di telapak tangannya di hadapan saya. Saya melihat bubuk-bubuk putih sari bunga di telapak tangannya yang dia sebut sebagai biji bunga.
"Oh iya... benar. Tapi itu bukan biji bunga. Itu sari bunga." Kata saya mengiringi perjalanan anak didik saya itu menuju kelasnya yang ada di lantai II.
Saya bersyukur bisa berjumpa dengan siswa saya itu di awal hari. Alhamdulillah.